Monday, June 8, 2020

Pertama Sekolah

Usianya menjelang empat tahun saat ia mulai sekolah di TKIT Annida. Pagi-pagi sekitar pukul 6, ia sudah harus siap menunggu jemputan. Letak sekolahnya memang lumayan jauh. Kalau naik jemputan bisa ditempuh sekitar satu jam. Kalau naik motor sekitar 30-45 menit.


Hari pertama sekolah, saya mengantarnya dengan sambil menggendong adiknya. Kami ikut mobil abinya yang sekalian berangkat kerja.


Sampai di sekolah, ia disambut Bu gurunya dan diajak masuk ke dalam kelas. Saya menunggu di koridor, melihatnya dari kaca jendela. Terlihat betapa senangnya  ia bertemu guru dan teman-teman baru. Dia sangat menikmati, meskipun baru saja menempuh perjalanan yang tidak sebentar. Biasanya, kalau baru sekolah TK, orang tua cukup menyekolahkannya di TK dekat rumah yang hanya beberapa menit saja jaraknya.


Saat acara pembukaan, semua siswa dan guru berbaris di halaman sekolah. Guru-gurunya sibuk menenangkan beberapa siswa yang rewel. Maklum, anak TK, hari pertama masih banyak yang menangis. Saat itu, terlihat betapa mandirinya ia. Meski tanpa guru yang memerhatikannya -karena sibuk dengan yang rewel- dia tetap anteng, tidak ikut-ikutan rewel.


Tibalah waktu pulang. Ia datang menghampiri saya dengan wajah lelah namun terlihat bahagia. Ya, hari ini memang cukup melelahkan baginya. Hari pertama sekolah. Banyak hal baru yang ia temui dan pelajari. Guru baru, teman baru, sekolah baru, benda-benda baru yang sebelumnya tidak pernah dilihat. Melelahkan tubuh kecilnya yang memang tak pernah berhenti untuk bereksplorasi.


Saat di mobil jemputan, ia banyak bercerita tentang apa saja yang ia alami hari ini. Penuh semangat dan tak kenal lelah. Justru uminya yang kecapean menunggu sambil momong adiknya. Di sela-sela ceritanya, ia berkata, “Umi, besok nggak usah nganterin ya. Aku mau sekolah sendiri.”
“Sendiri? Mbak Nisa berani?” tanyaku ragu.
“Iya. Aku berani. Kan, udah gede!” serunya mantap.
“Alhamdulillaah, Mbak Nisa sudah besar dan berani sekolah sendiri. Anak hebat!”


Maka, di hari kedua sekolah, Nisa sudah berangkat sendiri dengan jemputannya.
Dalam hati saya bersyukur, satu karena ini berarti mengurangi satu pekerjaan, sehingga saya bisa fokus dengan adiknya. Kedua, saya bersyukur dengan sikapnya yang mandiri dan berani. Terlihat sekali sebagai anak sulung yang bisa diandalkan. Baarakallahu fiik, anakku, Khoirunnisa Mufidah.

No comments: