Monday, June 27, 2022

Madinah City Tour

Bismillah


Hari Rabu, 15 Juni 2022, agenda kami adalah jalan-jalan ke sekitar kota Madinah. Pukul 06.30 kami berangkat dari hotel dengan menaiki bus. Tujuan pertama adalah Masjid Quba.


Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam ketika hijrah ke Madinah. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke masjid ini setiap hari Sabtu. Saat ziarah ke sana, kita disunnahkan untuk shalat dua rakaat, yang pahalanya setara dengan ibadah umroh. MasyaaAllah.


Dari Usaid bin Zhuhair Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلاَةُ فِى مَسْجِدِ قُبَاءٍ كَعُمْرَةٍ

“Shalat di Masjid Quba’, (pahalanya) seperti umrah.”(HR. Tirmidzi, no. 324 dan Ibnu Majah, no. 1411. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).



(Sumber https://rumaysho.com/20047-kumpulan-amalan-ringan-19-pahala-shalat-di-masjid-quba-seperti-umrah.html)



Masjid berikutnya yang kami kunjungi adalah Masjid Qiblatain. Sayangnya, kami tidak berhenti di sana. Masjid ini tidak bisa dikunjungi karena selama pandemi, masjid tersebut ditutup untuk umum. Jadi, kami hanya lewat saja. 


Di masjid inilah terjadi peristiwa pengalihan arah kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Oleh karena itulah, disebut Qiblatain, dua kiblat.



Selanjutnya, kami tiba di Khandaq. Khandaq artinya parit. Di tempat inilah Nabi dan para sahabat menggali parit atas saran Salman Al Farisi. Parit ini digunakan sebagai benteng pertahanan dari serangan kaum musyrikin. Namun saat ini, paritnya sudah tidak ada karena dibuat bangunan. Hanya tersisa beberapa pos jaga.

Di Khandaq ini dibangun sebuah masjid yaitu Masjid Khamsah, atau dikenal juga dengan nama Masjid Salman Al Farisi atau Jami' Al Kandaq.



Destinasi berikutnya adalah kebun kurma. Dalam benak saya, namanya wisata kebun kurma, kami akan diajak berkeliling kebun, lalu boleh memetik buah kurma sepuasnya. Ternyata tidak. Di sana kami langsung diarahkan ke sebuah gedung tempat penjualan aneka macam kurma dan oleh-oleh khas Arab lainnya, seperti kacang-kacangan dan coklat. Meskipun di daerah kebun kurma, tetapi harganya tidak lebih murah dari harga pasaran. Jadi, saya tidak beli.


Tujuan terakhir City Tour ini adalah Jabal Uhud. Di Jabal Uhud ini, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersama 700 pasukan muslimin memerangi 10.000 kaum musyrikin. Pada awalnya, kaum muslimin sudah berhasil memenangkan peperangan. Namun, karena ketidakdisiplinan pasukan pemanah, akhirnya justru pasukan kaum muslimin yang mengalami kekalahan.


Di Jabal Uhud ini, 70 syuhada dimakamkan, termasuk paman Rasul, Hamzah bin Abdul Muthalib dan Sahabat Mush'ab bin Umair. 

Di Jabal Uhud ini banyak pedagang oleh-oleh. Harganya pun lebih murah daripada yang dijual di kebun kurma. Misalnya saja kacang almond. Dengan bungkusan yang sama -tidak disebutkan berapa gramnya-, harganya lebih murah 10 riyal daripada di kebun kurma. Di kebun kurma 35 riyal, di sini hanya 25 riyal. Alhamdulillaah, masih ditambah bonus sebuah tasbih. 

Sunday, June 19, 2022

Raudhah

Hadis dari Abdullah bin Zaid al-Mazinni radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا بَيْنَ بَيْتِى وَمِنْبَرِى رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ

“Antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman surga.” (HR. Bukhari 1195 & Muslim 3434).



Referensi: https://konsultasisyariah.com/30901-ada-apa-di-raudhah.html


Bismillah


Kamis, 16 Juni 2022
Pukul 2 pagi, kami bangun dan bersiap pergi ke Masjid Nabawi. Sampai di masjid sekitar pukul 3 pagi. Alhamdulillaah masih bisa masuk ke dalam masjid, meskipun mendapatkan tempat yang tanpa karpet.



Pukul 04.01 Shalat Subuh didirikan. Dilanjutkan dengan shalat jenazah. Setelah itu kami langsung bersiap ke Raudhah.



Untuk bisa ke Raudhah, kami masuk melalui pintu 25. Sedangkan tempat kami shalat Subuh berada di pintu 13. Kami berjalan memutar.


Begitu masuk melalui pintu 25, kami duduk terlebih dahulu menunggu pintu menuju ruangan Raudhah dibuka. Menjelang waktu syuruq, pukul ...., pintu pertama dibuka. 



Lalu kami mengantre lagi di pintu kedua karena ruang Raudhah penuh. Setelah beberapa saat, kami dipersilakan masuk. Begitu banyaknya muslimah yang ingin masuk ke Raudhah dan berziarah ke makam Rasulullah, membuat jalan kami tersendat.



Alhamdulillaah, sampai juga kami di Raudhah.

سلام عليك يا رسول الله

MasyaaAllah, keharuan memenuhi rongga dada, air mata mengalir tanpa henti. Kerinduan ini begitu menggelora, menyesakkan dada. Tak henti, doa terus menderas dari mulut-mulut kami. 



Alhamdulillaah, dengan dijaga oleh teman-teman, saya bisa melaksanakan shalat dua rakaat. Kami bergantian saling menjaga. Kalau tidak dijaga, kami akan ditabrak oleh penziarah lainnya. Alhamdulillaah, Allah mudahkan kami.




Sabtu, 18 Juni 2022

Pagi ini, saya kembali masuk ke Raudhah. Bedanya, kali ini, saya pergi dengan rombongan muslimah Kloter 10, dikoordinir oleh pengurus kloter. Kami masuk melalui pintu yang berbeda saat pergi ke sana sendiri, tanpa rombongan.


Alhamdulillaah wa syukurillah, meskipun berjalan cukup jauh, dengan mengelilingi Masjid Nabawi, kami masuk tanpa berdesakan. Saat itu, yang masuk ke Raudhah hanya muslimah Kloter 10. Jadinya, lega dan tenang.



Kami diberi waktu selama 10 menit untuk shalat dan berdoa. Shalat pun bisa dilakukan dengan khusyuk karena tidak perlu berdesakan. Kami membuat shaf seperti shalat berjamaah lima waktu. MasyaaAllah, sungguh luar biasa pengalaman ini. Alhamdulillaah Allah berikan kesempatan yang sangat istimewa ini. Ya Allah, semoga saya bisa berkunjung lagi ke Raudhah bersama keluarga, aamiin.


Begitu istimewanya Raudhah. Apa sebenarnya Raudhah? Seperti hadits yang ada di awal tulisan ini, Raudhah adalah tempat istimewa karena merupakan salah satu tempat mustajab. Bila kita berdoa di sana, insyaaAllah akan dikabulkan oleh Allah. Itulah sebabnya mengapa kaum muslim sampai rela berdesak-desakan agar bisa masuk ke sana. 


Selain merupakan salah satu tempat mustajab, di sana juga ada makam Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. Jadi, kita bisa ziarah ke makam Rasulullah sekaligus bisa berkesempatan berdoa di tempat mustajab. Oleh karena itu, tidak lengkap rasanya, bila pergi ke Madinah tanpa berkunjung ke makam Rasulullah dan berdoa di Raudhah. 

Friday, June 17, 2022

Masjid Nabawi

Bismillah

Selasa, 14 Juni 2022.

Hari ini, hari pertama saya pergi ke Masjid Nabawi. Jarak dari hotel ke Masjid Nabawi hanya sekitar 850 m. Dari hotel pun, menara masjid sudah terlihat. Hanya dengan berjalan lurus dari depan hotel, kami langsung masuk melalui gerbang 314, 315, dan 316 yang bersebelahan. 


Pelataran Masjid Nabawi sangat luas, sehingga kita tidak perlu khawatir tidak akan mendapatkan tempat shalat. Namun, bila ingin bisa masuk ke dalam masjid, kita harus datang lebih awal. Minimal satu jam sebelum waktu shalat. Setelah ruangan masjid penuh, pagar akan dipasang di depan pintu dan diikat. Kita pun tidak bisa masuk. Walaupun begitu, ada saja jamaah yang nekat melompati pagar. Astaghfirullah. 


Kami, para muslimah masuk ke masjid melalui pintu 13. Di pintu sudah menunggu Askar akhwat yang akan memeriksa tas. Masuk ke dalam masjid, kita akan diarahkan ke bagian yang masih kosong. 


Di dalam masjid, tersedia galon-galon air zamzam beserta gelas plastik. Ada dua macam air zamzam: dingin dan tidak dingin. Kalau saya lebih suka yang tidak dingin karena kalau dingin tidak terasa air zamzam, hanya seperti air biasa. Selain itu, untuk menghindari sakit tenggorokan, lebih baik minum yang tidak dingin. 


Selain disediakan air zamzam di antara shaf-shaf, air minum juga tersedia di samping tempat mengambil air wudhu. Hanya saja, yang di sini berupa kran air, dan hanya tersedia air dingin. Sangat cocok diminum saat udara panas. Tapi ya itu, khawatir sakit tenggorokan dan batuk. Apalagi untuk yang sudah berusia di atas 40 tahun. Lebih baik menghindari yang dingin. Tapi, katanya, air yang ada di samping tempat wudhu itu hanya air biasa, bukan zamzam. 

       Atap/kubah yang terbuka saat syuruq 

Di dalam masjid juga terdapat atap yang akan terbuka bila waktu syuruq (matahari terbit) tiba. Sedangkan di pelataran masjid, ada payung yang siap terbuka saat syuruq. Dengan adanya payung ini, jamaah yang berada di pelataran cukup terlindung dari sinar matahari. Namun, hawa panasnya masih terasa. Apalagi saat ini memang sedang musim yang suhunya antara 40-50 derajat Celcius.

  Atap payung yang terbuka saat syuruq dan 
        menutup kembali menjelang Maghrib.



Untuk mengurangi hawa panas tersebut, di setiap tiang payung terdapat dua kipas (blower) yang ketika beroperasi akan menyemprotkan air. Namun, bagi kita, orang Indonesia, yang tidak terbiasa di udara panas, kipas angin tersebut kurang terasa efeknya. Oleh karena itu, banyak yang lebih suka berada di dalam masjid. Di dalam masjid, banyak tiang, yang di sekeliling tiang tersebut terpasang AC (air conditioner). 



Kran air di Masjid Nabawi diatur secara otomatis, terutama kran air di tempat wudhu. Setiap 1-15 detik, air akan berhenti sendiri. Oleh karena itu, kita harus memencet lagi tombolnya. Jadi, sekali wudhu bisa beberapa kali memencet tombol. Berbeda dengan kran biasa yang mengalir terus kalau tidak ditutup. Kran seperti ini sangat membantu kita untuk menghemat air. Dan, tidak ada lagi yang akan lupa menutup kran. Karena dia akan berhenti mengalir secara otomatis. MasyaaAllah.



Tuesday, June 14, 2022

Manazil Al Rahma

Bismillah


Dari bandara menuju hotel, kami melewati Masjid Nabawi. Air mata langsung turun tanpa izin. Teringat, di sanalah Rasulullah tinggal, beribadah, dan berdakwah. Di sini, di Madinah, tempat Rasulullah bersama para sahabat Muhajirin dan Anshar mendakwahkan Islam. Berjuang menegakkan kalimat Allah. MasyaaAllah, bersyukur sekali bisa menapakkan kaki di negeri Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. 

اللهم صل على محمد وعلى ال محمد

            Salah satu sudut kota Madinah
                         Al  Munawwarah


Sampai di Manazil Al Rahma, kami langsung diminta untuk mencari lantai sesuai nomor rombongan. Karena saya rombongan 5, kamar saya ada di lantai 7. 


Sesampainya di lantai 7, kami menunggu pembagian kunci yang masih dipegang oleh ketua rombongan, Pak Jalaludin Madhuri. Setelah beliau datang, kami pun masuk ke kamar. Nomor kamarnya 714. Ada lima orang dalam satu kamar: saya, Bu Yayuk (teman duduk di pesawat), Bu Widya (sama-sama pergi sendiri tanpa suami), Bu Dyah Nastiti alias Bu Dani (putranya seangkatan dengan Hakim di SDIT Annida), dan Bu Siti Ngati... (Tidak hafal namanya).


Alhamdulillaah, teman-teman sekamar baik hati semua, tidak ada yang sok senior. InsyaaAllah kami cocok dan sreg. Selalu bercanda dan berbagi apa pun. Sudah seperti saudara. Walaupun memang kita bersaudara, saudara seiman. Sungguh beruntung, di negeri orang mendapatkan teman-teman yang baik hati. Alhamdulillaah alhamdulillaah.


Setelah istirahat sebentar, kami mendapatkan jatah makan siang. Selain nasi dan lauk pauknya serta buah dan air mineral, kami juga mendapat tambahan. Tambahannya berupa satu botol saus sambal, satu botol kecap, beberapa sachet kopi, teh, gula, dan satu gelas beserta satu sendok teh. MasyaaAllah, benar-benar tidak menyangka. Suami sempat khawatir dengan menu makanan yang akan saya dapatkan sehingga membekali saya dengan saus sambal, kecap, abon, dan bawang goreng serta teh. Ternyata di sini sudah lengkap.


Hotel Manazil Al Rahma ini dikelilingi oleh hotel-hotel yang lain. Memang, informasi yang kami dapatkan, Masjid Nabawi dikelilingi oleh hotel-hotel sehingga kita tidak perlu berjalan jauh untuk menuju ke sana. Jarak dari hotel ke Masjid Nabawi sekitar 1 km saja. Hotel ini tidak terlalu besar dan tidak terlalu tinggi. Standar. 

                      View dari kamar 714 


Kamarnya nyaman dan lengkap, standar hotel bintang tiga. Ada lima tempat tidur, dua lemari yang tersambung dengan meja, tiga nakas, satu sofa, satu kursi, kulkas kecil, wastafel, dan alat pemanas air yang ternyata tidak berfungsi. Kamar mandinya juga standar. Hanya saja, bathtub-nya pendek. Jadi, kalau mau berendam hanya bisa duduk, tidak bisa rebahan. Dan, sayang sekali shower-nya tidak bisa digunakan. Secara garis besar, fasilitas hotelnya sangat bagus dan memuaskan. Oiya, untuk air panas, kita bisa mengambil dari dispenser yang disediakan di lorong hotel. 



Tiga ranjang sengaja dirapatkan agar ada space untuk shalat dan makan bersama. Ini idenya Bu Widya yang terinspirasi dari vlog yang ditontonnya. 

Monday, June 13, 2022

Pertama Terbang

      Bandara Soekarno-Hatta di malam hari 


Bismillah

Sabtu, 11 Juni 2022 merupakan sejarah penting dalam hidup saya. Hari ini, pertama kali saya naik pesawat. Hari ini, pertama kali saya pergi ke luar negeri. Hari ini, pertama kali saya menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Semoga hari ini akan terulang lagi tiap tahun untuk beribadah umroh bersama keluarga. Aamiin aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻.


Ada rasa senang, bahagia, haru. Namun, ada juga sedih, takut, dan khawatir. Saya berusaha menenangkan diri dengan banyak berdoa dan memasrahkan diri kepada Allah. Apa pun kehendak-Nya, saya berusaha mempersiapkan diri agar bisa ikhlas menerima dan menjalani. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Tak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.


Sekitar pukul 1.30 dini hari, kami sampai di bandara Soekarno-Hatta. Turun dari bus, kami berbaris menuju pengecekan visa. Di sana kami dicek sidik jari dan difoto. Setelah itu kami menuju ruang tunggu untuk boarding. Satu jam lebih kami di ruang tunggu. Ada yang tidur, ada yang mengobrol, ada juga yang fokus dengan hpnya.

   Pengecekan visa oleh petugas Arab Saudi


Sekitar pukul 4.30 kami mulai masuk ke pesawat Saudia. Alhamdulillaah, tempat duduk saya pas di samping jendela, nomor 203. Sebelah saya perempuan, Bu Yayuk. Alhamdulillaah. Tadinya, kalau sebelah saya laki-laki, saya sudah berniat akan minta pindah. Alhamdulillaah, Allah memudahkan segalanya. Dengan segala keterbatasan saya yang pergi tanpa suami, Allah berikan banyak kemudahan, itu merupakan rezeki yang tak ada bandingannya. 

                          Sayap pesawat


Tepat pukul 05.40, pesawat take off. Selamat tinggal keluarga dan teman-teman tercinta. Selamat tinggal Indonesia. Semoga kita akan bertemu lagi bulan depan. Aamiin.


Saat take off adalah saat yang menegangkan. Tapi, saat landing, ternyata lebih menegangkan lagi. Berkali-kali suara takbir dan tasbih menggema di dalam ruang pesawat. Selama perjalanan yang berlangsung sekitar 9 jam itu pun, beberapa kali kami bertemu dengan cuaca yang kurang bersahabat sehingga harus mengenakan seat belt dan tidak boleh ke mana-mana. Guncangannya pun terasa sekali. Seperti melewati jalanan berbatu. Tak heran bila banyak yang berkomentar, naik pesawat serasa naik angkot.


Saat di pesawat, kami mendapatkan dua kali makan. Menu makanan pertama terdiri dari nasi, lauk (lupa, antara daging atau ayam, ya), sayur, salad, roti, dan puding. Sepertinya makanan besar dan snack dijadikan satu. Minumannya, kami boleh memilih: kopi, teh, air bening. Ketika baru duduk, di depan bangku kami sudah tersedia dua botol mineral ukuran sekitar 300 ml dan kantong sampah dari kertas. 


Menu makanan kedua, nasi, lauk, sayur, dan buah. Tak lupa pula kerupuk. Pada menu makanan pertama pun terdapat kerupuk. Indonesia banget ya. 


Di sela-sela kedua makanan besar tersebut, kami diberi minuman kopi/teh. Lalu ada jus/air mineral juga. Ketika mau turun, kami dibagi snack yang isinya minuman sari kacang hijau, roti, cupcake, dan jenang kudus. Wah, di Cikarang saja sudah lama tidak makan jenang kudus, di Madinah malah ketemu. Alhamdulillaah.


Alhamdulillaah, sekitar pukul 10.40 waktu Madinah, kami mendarat dengan selamat tidak kurang suatu apapun. Bahagia rasanya. Pertama karena telah melewati penerbangan panjang dengan selamat. Kedua, bisa ziarah ke Madinah, negeri tempat tinggal Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. MasyaaAllah. Seperti mimpi, ternyata akhirnya saya bisa sampai ke sini. Allahu Akbar!


Turun dari pesawat, sudah ada bus yang menunggu. Kami menuju gedung bandara dengan menumpang bus tersebut. Sampai di dalam gedung, kami disambut para petugas yang ramah dan juga dua orang Arab yang membagikan penghitung tasbih digital dan kayu siwak. 


Di depan gedung, sudah ada bus lainnya yang menunggu. Kami naik bus tersebut menuju hotel. Nama hotelnya adalah Manazil Arrahmah di sektor 2. Di kursi penumpang telah tersedia box yang berisi satu botol air mineral, satu botol jus, dan dua bungkus kurma ajwa yang masing-masing berisi tiga kurma. MasyaaAllah tabarakallah. Benar-benar luar biasa penyambutannya. 


اللهم صل على محمد وعلى ال محمد

Kami datang ya Rasulullah. Kami datang dengan kerinduan yang menggunung. Kami rindu kepadamu yaa habiballah.

Sunday, June 12, 2022

Let's Go

Bismillah


Akhirnya, tibalah hari keberangkatan. Jumat pukul 03.30 kami berangkat dari rumah. Namun sayang, tidak semua anak ikut mengantar. Mufid tidak pulang karena pondoknya jauh, di Sukabumi dan sedang PAT (Penilaian Akhir Tahun). Nafa juga tidak ikut karena sedang PAT. Dia tidak mau ikut susulan karena kalau tes susulan tempatnya di ruang guru. Ya sudahlah, itu menjadi pilihannya. Meskipun Mba Azmi sudah mencoba merayu dengan menjelaskan bahwa dia yang jauh saja bela-belain pulang, yang di rumah malah tidak ikut. 


Sampai di Gedung Swatantra Wibawa Mukti, Kompleks Perkantoran Pemda (Pemerintah Daerah) Kabupaten Bekasi, Sukamahi, Cikarang Pusat,  ternyata dijaga ketat oleh polisi dan Satpol PP. Hanya mobil yang ada calon jamaah haji yang boleh masuk. Setelah mengantarkan, mobil harus langsung keluar. Waktu suami mau masuk lagi -jalan kaki- ternyata tidak boleh. Akhirnya saya yang harus keluar menemui beliau untuk berpamitan.


Rencananya, acara pelepasan dimulai pada pukul 06.20. Tapi, realitanya mundur beberapa menit, itu pun bukan Pak Bupati langsung. Ada yang mewakili, yaitu Sekretaris Daerah, Bapak Dedy Supriyadi. Selesai acara, kami naik bus menuju asrama haji di Bekasi Barat. Alhamdulillaah perjalanan dari Cikarang ke Bekasi lancar. 

Setelah acara serah terima dari Kemenag Kabupaten Bekasi kepada pihak Asrama Haji, kami menyerahkan dokumen kelengkapan seperti hasil tes urin (kehamilan), tes PCR, surat istito'ah kesehatan, dan lain-lain. 


Lalu menuju kamar yang telah disediakan. Alhamdulillah, para petugas hajinya ramah-ramah dan sangat memuliakan tamu. Jadi, merasa seperti tamu agung.


Pada saat menunggu itulah, koper besar kami dicek. Ternyata ada beberapa barang temuan yang tidak seharusnya berada di sana. Kebanyakan adalah power bank. Ada juga yang membawa setrika dan alat pemanas air. Alhamdulillaah, koper saya selamat.


Sore harinya, kami kembali berkumpul di aula. Kali ini, kami dibagi paspor, gelang haji sebagai identitas saat di tanah suci, dan uang sebesar 1.500 riyal. Alhamdulillaah. Sempat terdengar isu bahwa uang cash yang diberikan hanya 800 riyal, sisanya ditransfer. Ternyata itu berita hoax. Selain itu, kami juga mendapatkan satu goody bag yang berisi 4 pak  masker sekali pakai, dua masker kain, 6 botol hand sanitizer, satu kantong kencing, oralit, hansaplas, satu botol spray, dan satu pak tisu basah.


Selama di asrama haji, kami mendapatkan tiga kali makan berat dan dua kali snack. Sedangkan saat pelepasan di Pemda, kami sudah mendapatkan sarapan dan Snack. Jadi, hari itu, kami makan sebanyak empat kali. MasyaaAllah. Alhamdulillaah, makan siang dan malam disajikan secara prasmanan. Jadi, saya hanya mengambil sedikit nasi, supaya tidak over weight 🤭.


Alhamdulillah, seperti yang disampaikan Pak Kemenag, H. Ahmad Sanukri, bahwa rasa masakan yang disajikan kepada jamaah haji hanya ada dua, yaitu enak dan enak sekali. Dan, memang itulah yang kami konsumsi. Alhamdulillah, benar-benar suatu anugerah yang luar biasa. 


Pukul 10 malam kami bersiap ke bandara. Karena menggunakan sistem fast track, pemeriksaan tas dan para jamaah dilakukan di asrama haji, bukan di bandara. Maka, kami pun berbaris antri. Saya sempat khawatir kalau minyak kayu putih dan deodoran akan disita karena berbentuk cairan. Alhamdulillaah, ternyata lolos. 


Jadwal seharusnya, kami berangkat ke bandara pada pukul 01.40 tanggal 11 Juni 2022. Tetapi, ternyata kami berangkat lebih awal, sekitar pukul 12.00 dini hari. Alhamdulillaah, perjalanan lancar, tidak macet.