Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Wednesday, July 31, 2024

Citaku Citamu, Cita Kita

Bismillah


Apa cita-cita anak-anakku? 
Pertanyaan itu membuatku merasa sangat bersalah. Apa pasal? Aku merasa, anak-aankku tidak bisa merumuskan sendiri cita-citanya karena kami mengharuskan mereka untuk masuk pesantren semua. 



Hal itu bermula dari cita-cita kami, orang tuanya, yang ingin menjadikan mereka para penghafal Al-Qur'an. Kami ingin mereka menghafal Al-Qur'an terlebih dahulu sebagai bekal mereka, seperti para ulama dan cendikiawan Islam dahulu, dan seperti anak-anak Gaza yang telah hafal Al-Qur'an sebelum mereka mempelajari ilmu pengetahuan yang lain.
 
 
 
Walaupun demikian, masing-masing anak boleh memiliki cita-cita sendiri, di luar menghafal Al-Qur'an. Cita-cita saat mereka kecil, ternyata berubah setelah mereka dewasa dan tahu bagaimana jalan mewujudkan impian itu.



Misalnya si sulung. Ketika SMA, dia bercita-cita ingin menjadi duta besar, bisa berkeliling dunia. Dia pun sempat bertanya-tanya kalau duta besar kuliahnya ambil jurusan apa. Hubungan Internasional, tentu saja. Lalu, dia pun Googling apa saja yang dipelajari di sana. Setelah tahu bahwa di sana banyak mempelajari politik, dia pun mundur teratur dan berganti haluan. Manajemen bisnis. Alhamdulillah sudah lulus.


Anak nomor dua, sejak kecil tertutup sehingga kami pun tidak tahu apa cita-citanya. Menjelang kuliah, sempat terungkap ingin kuliah di jurusan akuntansi. Tapi atas masukan dan saran dari Abinya, akhirnya tidak jadi akuntansi. Lalu, dia pun memutuskan untuk ambil jurusan agroteknologi. Kami pun searching,  kampus mana saja yang ada jurusan tersebut. Alhamdulillah, diterima di Universitas Pajajaran, Jatinangor.



Anak ketiga, dulu saat kecil ingin menjadi profesor, ilmuwan. Seharusnya, saat SMA dia mengambil jurusan IPA. Qadarullah di pesantrennya hanya ada jurusan IPS. Ketika ditawari pindah pesantren, dia tidak mau. Sekarang sedang pengabdian dan belum tahu nanti mau kuliah di jurusan apa. 



Dia sempat cerita ingin melanjutkan ke jurusan hukum, tetapi juga ingin belajar tafsir. Kalau tafsir, dia ingin melanjutkan ke pesantren, bukan ke perguruan tinggi. Apa pun cita-citanya, kami, orang tua, hanya bisa mendoakan semoga Allah memberikan yang terbaik. Memang, Abinya membebaskan anak-anak untuk mengambil jurusan apa saja, yang penting menghafal Al-Qur'an terlebih dahulu. Dan semoga mereka tetap istiqamah menghafal dan memurojaah Al-Qur'an, juga mengamalkan dan mendakwahkannya. 



Sedangkan anak keempat bercita-cita ingin menjadi ulama dan melanjutkan kuliah ke Universitas Islam Madinah. Semoga Allah ridhoi dan mudahkan jalannya, aamiin.



Bagaimana dengan si bungsu? Kalau yang ini, lebih terbuka dan suka bercerita. Katanya dia ingin menjadi hafidz Qur'an dan pelukis. Pelukis yang islami, insyaaAllah. Walaupun agak di luar dugaan dan ekspektasi, tapi nggak apa-apa lah. Semoga nanti akan berubah menjadi profesi yang lebih bermanfaat.



Semoga Allah kabulkan cita-cita mereka yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan juga bagi umat Islam, aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻.

Friday, May 24, 2024

Pertama yang Amazing

Bismillah


Di tengah barisan itu, dia berdiri dengan tenang, tak terganggu dengan teman-temannya yang rewel, menangis. Bu Guru pun tak terlalu memperhatikannya karena sibuk menenangkan anak-anak yang menangis. Suasana agak riuh. 



"Umi besok nggak usah nganter aku. Aku sekolah sendiri aja", begitu ucapmu tadi saat jam istirahat. 



Ada rasa haru sekaligus bangga mendengar tuturnya. Di usia empat tahun, engkau sudah menunjukkan kemandirian. Mungkin karena ada dua adik yang harus diurus ibumu, maka kau menjadi dewasa lebih cepat. Tidak takut dan manja seperti balita kebanyakan. MaasyaaAllah, alhamdulillaah. 



Maka, hari kedua sekolah, gadis kecilku tak lagi diantar. Ia berangkat bersama teman-temannya dengan mobil jemputan. Ada rasa tak tega, melepasnya sendiri di antara teman-teman yang belum dikenalnya. Sedangkan ia masih terlalu kecil. Hebat sekali, engkau, Nak.


Itu pula yang ibu guru ungkapkan saat pengambilan rapor. Nisa hebat, pergi sekolah dengan naik jemputan, tidak diantar orang tua, padahal rumahnya jauh. Ya, waktu itu, perjalanan sekitar 30 menit bila tidak macet. Dan, anak sekecil itu harus duduk berdesakan dengan kakak-kakak SD. Sedih bila mengenangnya.


Tak berlebihan, bila keberaniannya itu amazing banget buat saya. Tak salah bila kami menyekolahkan dia di sekolah yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Sedangkan anak-anak lain, sekolah di dekat rumahnya, dan masih ditunggui oleh orang tuanya. Alhamdulillaah, alhamdulillaah.


Walaupun begitu, perjalanan tak selalu mulus. Karena sekolah jauh, otomatis harus berangkat pagi-pagi, hampir sama dengan waktu abinya berangkat kerja. Kadang rewel. Tetapi, itu hanya kadang-kadang terjadi. Hampir jarang. Namun, kadang saat pulang, dia menangis bila telah sampai rumah. Mungkin capai dengan perjalanan di mobil jemputan. 



Alhamdulillaah, masa itu sudah terlewati. Bahkan delapan tahun, ia melewati masa-masa TK dan SD yang harus bangun pagi-pagi dan berangkat sekolah pagi-pagi. Dan, alhamdulillaah, tidak pernah mogok sekolah. Karena memang suasana sekolah yang menyenangkan, guru-guru yang menyenangkan, membuatnya enjoy dan tidak berat dengan perjalanan yang jauh dan macet. 


Ternyata, tidak hanya awal masuk TK saja yang membuat saya takjub dengan keberaniannya. Saat kelas 6, ketika dia harus bimbingan belajar setiap Sabtu dan tidak ada mobil jemputan, dengan beraninya dia pulang naik angkot. Padahal sudah dilarang juga. Memang dasarnya pemberani, biasa saja dia naik angkot. Malah terlihat happy dan enjoy banget. Orang tua di rumah yang menunggu kedatangannya yang was-was. 


Hingga kini, setelah dewasa. Dia memang lebih pemberani. Termasuk berani berbicara di depan publik. Bahkan ketika baru setahun kuliah, dia sudah menjadi pembicara di sebuah seminar, di depan para mahasiswa. MaasyaaAllah. Semoga sifat pemberaninya itu bermanfaat tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain, terutama untuk kemaslahatan umat. Menjadi pembela Islam, menjadi Mujahidah Allah yang siap menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini. Aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻




Sunday, April 21, 2024

Semoga Istiqamah



Bismillaah

Ramadan telah pergi. Entah kapan dia akan menemui kita lagi. Masihkah ada kesempatan di tahun depan? Wallahu a'lam. Namun kita tak henti memohon kepada-Nya agar bisa bertemu lagi dengannya.

Ramadan yang hadir setiap tahun, selalu meninggalkan kenangan indah yang selalu tak sama. Kenangan manis yang mengusik kalbu dan menggetarkan ruhiyah.


Ramadan tahun ini, alhamdulillaah Allah berikan banyak ilmu dan kesempatan untuk lebih banyak merenung dan bermunajat. Kesempatan menimba ilmu dari para masyaikh langsung dari Arab Saudi, meskipun hanya melalui Zoom meeting. MaasyaaAllah, nikmat yang sangat luar biasa. Gratis, pula. Sayangnya, saya tidak bisa mengikuti semua kajiannya. 



Di Ramadan tahun ini pula, saya mendapatkan semangat yang lebih tinggi untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir dan memperbanyak tilawah. Namun, qadarullah, justru capaiannya menurun dibandingkan tahun lalu. Tahun ini hanya bisa khatam 2,5 kali padahal tahun kemarin bisa 3 kali. Alhamdulillaah 'alaa kulli haal. 



Ramadan tahun ini, anak-anak sudah mulai semangat i'tikaf, walaupun belum semuanya dan belum full. Tetapi, itu juga patut disyukuri. Semoga tahun depan, Allah berikan nikmat bertemu dengan Ramadan kembali dan kami bisa beri'tikaf sekeluarga bersama-sama. Aamiin yaa mujibassaailin. 🤲🏻



Sedihnya, Ramadan tahun ini, kami ditinggalkan oleh orang tua kami tercinta. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau, Allah terima amal ibadah beliau, dan Allah tempatkan beliau di tempat yang mulia di sisi-Nya. Aamiin.


Ramadan telah pergi, tetapi ibadah tak boleh kendor. 

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali berkata:

"Siapa yang selesai melakukan suatu ketaatan maka tanda diterimanya ketaatan tersebut adalah dilanjutkannya ketaatan tersebut dengan ketaatan yang lain. Sedangkan tanda ditolaknya ketaatan tersebut adalah dilakukannya kemaksiatan setelah ketaatan tersebut. Kebaikan yang paling baik adalah kebaikan yang dilakukan setelah keburukan sehingga menghapus dosanya. Keburukan yang paling buruk adalah keburukan yang dilakukan setelah kebaikan sehingga bisa menghapusnya."


Ya Allah, mudahkanlah kami agar selalu berada dalam ketaatan kepada-Mu. Terimalah amal ibadah kami, puasa kami, shalat kami, tilawah kami, sedekah kami, dan semua amal ibadah karena kami, aamiin yaa rabbal'aalamiin 🤲🏻

Friday, April 19, 2024

Pedas Itu Enak?


Sumber: https://hellosehat.com/gigi-mulut/cara-lidah-mengenal-rasa-makanan/

Bismillah


Saat ini, makanan pedas sedang menjamur. Dilihat dari tersedianya makanan tertentu dengan level kepedasan yang bermacam-macam. Dan, banyak makanan yang ditawarkan ke konsumen, merupakan makanan pedas yang juga diembel-embeli dengan challenge kepedasannya. Seolah-olah nggak keren kalau nggak makan yang pedas-pedas.



Di balik itu, memang banyak orang yang suka dengan makanan pedas. Beberapa teman saya bahkan, sangat suka pedas. Sampai-sampai, saat makan bakso, saking banyaknya sambal yang dituangkan ke mangkuknya, maka dijuluki "sambel dibaksoin", bukan bakso disambelin. Dan, warna kuahnya pun sangat merah, karena sambal yang dituangkan sangat banyak. 



Memang enak sih, makan makanan pedas. Sering, kita kurang berselera makan bila tidak ada rasa pedas. Dan, memang pedas menjadi mood booster tersendiri agar nafsu makan bertambah. 



Saya sendiri juga suka pedas. Bahkan, bila makan nasi tidak ada sambal, saya pun akan makan dengan cabai utuh, langsung digigit bersama nasinya. Demi ada rasa pedas. 



Namun, sekarang saya agak mengurangi makanan pedas karena pernah sakit diare dan sampai dirawat di rumah sakit. Ternyata hal itu bisa menyebabkan trauma sehingga saya bisa menahan diri untuk tidak makan makanan yang terlalu pedas, sewajarnya saja. 



Walaupun begitu, saat pergi haji, makanan pedas menjadi makanan yang paling dicari. Karena menu makanan di Makkah dan Madinah memang rata-rata plain, tidak seperti di Indonesia. Oleh karena itu, saos sambal menjadi barang yang sangat dicari-cari. Bahkan, banyak jamaah haji yang membawa bekal sambal dari Indonesia, seperti saya. Waktu itu saya bawa sambal pecel yang dalam waktu singkat langsung habis. 


Bagaimana dengan keluarga saya? Sama seperti mayoritas masyarakat Indonesia, mereka pun suka pedas walaupun berbeda-beda level. Tapi, rata-rata, kami suka yang sedang saja, bukan yang level tinggi. Kecuali anak nomor tiga. Dari kecil suka pedas, bahkan ketika pertama kali mondok, salah satu item yang tidak boleh ketinggalan saat menyiapkan bekal adalah saos sambal. Sampai sekarang, kalau makan mie, pasti yang pedas-pedas, yang buat saya sendiri kadang tidak sanggup dan tidak berani memakannya. 



Menurut https://www.gramedia.com/literasi/pedas-bukanlah-rasa-tetapi/, pedas ternyata bukan merupakan rasa, tetapi sensasi. 


"Cabai atau tumbuhan lain yang meninggalkan sensasi pedas mengeluarkan zat kimia bernama kapsaisin. Kapsaisin sendiri merupakan komponen aktif dari cabai atau tumbuhan lain yang sejenis. Kapsaisin akan menyebabkan iritasi atau sensasi terbakar bila dikonsumsi atau sekadar bersentuhan dengan jaringan manapun."


MaasyaaAllah, saya baru tahu, kalau pedas bukan rasa, tapi sensasi. Karena rasa yang bisa diindera oleh lidah hanya empat, yaitu manis, asam, asin, dan pahit seperti yang terlihat di gambar.




Thursday, April 18, 2024

Perempuan Hebat Itu Telah Pergi



Bismillah


Ahad, 7 April 2024 atau 27 Ramadan 1445 H, menjadi hari terakhir kami bersamanya. Setelah sakit sejak hari Senin sebelumnya, berarti sekitar enam hari, kini, beliau tidak merasakan sakit lagi. Allah telah memanggilnya untuk selama-lamanya. 



Beliau, Ibu Sujiati, ibu mertuaku, ibu suamiku, nenek anak-anakku. Salah satu perempuan hebat yang pernah ada dalam hidupku. Perempuan hebat yang telah membuatku mampu menjalani kehidupan dengan lima anak. Tanpanya, aku bukan apa-apa. 



Beliau sangat menyayangi kami, bahkan cenderung memanjakan. Ya, bukan hanya cucunya, anak dan menantunya pun dimanjakan. Dari segi makanan maupun pekerjaan. Beliau lebih suka sibuk sendiri dan tidak ingin melihat kami mengerjakan hal-hal yang masih bisa beliau lakukan. Bahkan, beliau pernah merasa tidak berguna saat kami mencoba mengambil alih pekerjaannya. Alhasil, kami pun membiarkan beliau bekerja sesuai keinginannya, daripada beliau merasa tak bermanfaat.



Dari segi makanan, beliau paling tahu makanan favorit kami masing-masing. Dari anaknya, menantunya, hingga kelima cucunya. Beliau hafal semua dan selalu berusaha memasakkannya untuk kami. Namun, jadinya ada sisi negatifnya. Anak-anak jadi ada yang pilih-pilih makanan. Bahkan, mereka tidak mau mengonsumsi makanan tersebut karena bukan embahnya yang membuat. Padahal, rasanya juga standar. 



Ya, ibu memang jago masak. Beliau membuka katering dan sangat hobi memasak. Sakit pun tidak dirasakan bila ada aktivitas memasak. Bisa dua hari tidak tidur, bila sedang sibuk memasak. Dan, rasa masakannya tidak ada duanya. Itu karena, beliau memasak dengan hati, kata suamiku, anaknya. Bumbunya pun, bumbu asli, bukan instan. Jadi, tak heran, bila rasanya juga mantap. Sedangkan, zaman sekarang ini, restoran pun banyak yang hanya menggunakan bumbu instan bukan yang diracik sendiri dari bahan-bahan yang masih segar. Makanya, rasanya tak seenak dan sesedap masakan perempuan hebat itu. MaasyaaAllah.



Kini, kami tak lagi bisa menikmati semua itu. Tepatnya, sejak kurang lebih empat tahun yang lalu, saat beliau terkena stroke dan tidak bisa beraktivitas lagi. Beliau hanya bisa berbaring di tempat tidur. Makan, minum, mandi, buang hajat, semua harus dibantu. Dan, semua itu dilakukan oleh laki-laki hebatku, suamiku, anak pertamanya. 


Laki-laki hebat itu terlahir dari perempuan hebat tersebut. MaasyaaAllah alhamdulillaah, aku dikelilingi oleh orang-orang hebat. 


Saat ibu meninggal, semua diurus oleh laki-laki hebatku itu. Dia yang memandikan, mengafani, menyolatkan, dan memakamkan. Walaupun, memang, ada yang membantu. Tapi, semua berjalan di bawah kendalinya. MaasyaaAllah, bi idznillah. Semua berjalan dengan lancar. 


Kini, perempuan hebat itu telah pergi dan tak lagi di sisi. Bisakah diri ini sehebat dirinya? Mendidik anak-anak sehebat lelaki hebat yang telah dilahirkannya itu?
Hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan, ya Allah. Mampukan, mudahkan aku agar dapat mendidik anak menjadi anak-anak yang taat kepada-Mu dan kepada kami orang tuanya. Aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻

Monday, March 4, 2024

Ngangeni

Bismillah


Menjadi ibu dari lima orang anak, adalah sesuatu yang luar biasa dan amazing. Namun, saya sadar sesadar-sadarnya, semua ini tidak akan dengan mudah saya lalui kalau tidak dibantu oleh ibu mertua. Beliau yang sangat luar biasa, membantu saya membesarkan kelima buah hati. 


Sebenarnya, terbersit rasa bersalah saat melibatkan beliau dalam keriuhan dan kerepotan ini. Tetapi, mungkin karena memang beliau orang yang tidak suka menganggur dan berdiam diri saja, maka saya pun terpaksa membiarkan beliau ikut repot. Yang penting beliau senang. Karena kalau diminta istirahat saja, beliau merasa tidak dianggap. Aduh 🤦


Alhamdulillah, dengan adanya lima buah hati kami, suasana rumah jadi ramai terus. Namun, itu tak berlangsung lama. Satu per satu, anak-anak harus belajar di pondok, menghafal Al-Qur'an. Maklum, kami, orang tuanya belum bisa mengajari sendiri. Jadi, ya, kami minta tolong ustadz ustadzah yang lebih berkompeten. 


Kini, kelimanya sedang belajar, tidak di rumah. Yang dua sedang kuliah di Jakarta dan Jatinangor, yang tiga masih di pondok. Tinggallah saya berdua dengan suami. Sepi, rumah ini, juga hati ini. Tapi demi kebaikan mereka, demi masa depan mereka, kami harus ikhlas. 


Dalam kesepian ini, sering terbayang saat-saat bersama mereka. Tak terasa, kenangan itu menciptakan rindu yang membiru, hingga menetes air mata. Ada terselip rasa bersalah, saat ingat, betapa kadang saya marah dan terlalu keras kepada mereka. Ingin rasanya berlari dan merengkuh mereka dalam pelukan.


Salah satu kenangan yang tak pernah terlupakan adalah saat kami jalan pagi keliling perumahan, lalu saya belanja sayuran dan anak-anak beli jajanan pasar. Lalu mereka bahu-membahu membawakan barang belanjaan.


Sampai di rumah, setelah makan jajanan tadi, kami pun bergerak ke dapur. Masak kolaborasi, deh. Ada yang menyiangi bayam, mengupas wortel dan jagung putren. Kadang mereka berebut memilih pekerjaan yang mereka sukai. Senang melihatnya. Walaupun, setelahnya, dapur jadi berantakan. Tak apa, bisa dirapikan. 


Kebersamaan itu yang penting. Mereka belajar memasak, belajar berbagi pekerjaan, belajar mengalah, belajar tanggung jawab dengan pekerjaannya, dan, serunya memasak bersama keluarga. 


Sebentar lagi Ramadhan tiba, berarti, sebentar lagi mereka pulang libur lebaran. Meskipun masih satu bulan lagi, rasanya seperti sudah di depan mata. Tak sabar untuk mengulang kembali kenangan indah itu. Dan, sekarang, mereka lah yang akan memasak, bukan belajar lagi. Mereka sudah harus diberi kepercayaan untuk membuat masakan sendiri. 


اللهم بارك لنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان 



Wednesday, February 28, 2024

Selalu Ada Bahagia di Balik Duka

Bismillah


"Abi, umi badannya panas!" Seru si bungsu sambil berlari ke abinya yang sedang duduk di ruang tamu. 


Tak berapa lama, ia kembali bersama abinya yang langsung memegang dahi saya. 

"Iya, panas, Dek. Bikinin teh manis, Dek, buat Umi," pinta si Abi. 
"Siap!" Seru si bungsu penuh semangat.

"Dikerokin, ya Mi?" tanya si Abi.


Begitulah sekelumit kisah saat diri ini terbaring di tempat tidur, tak berdaya. Perhatian yang suami dan anak-anak berikan, seperti obat mujarab yang membuat penyakit tak bertahan lama di badan ini. Terharu! Rasa syukur semakin memenuhi rongga dada ini. Alhamdulillaah, Allah karuniakan keluarga yang begitu menyayangi saya.


Perhatian yang kecil dan sepele, namun bagi saya berdampak luar biasa. Saya merasa menjadi manusia berharga, karena dikhawatirkan dan diperhatikan. 


Demikian pula saat kami baru pulih dari serangan Covid-19. Saat itu, kami sekeluarga terkena virus Corona dan sudah melewati masa inkubasi. Rencananya, hari itu kami akan melakukan sweb antigen untuk memastikan bahwa kami sudah benar-benar sembuh. Tapi, saya malah merasa seluruh badan kaku dan sakit jika digerakkan. Alhasil, saya hanya mampu tiduran. 


Dengan sigap, suami dan anak-anak menyiapkan segala keperluan dan kebutuhan saya. Saya dilayani dengan fasilitas full serviced😍. MaasyaaAllah tabarakallah wal hamdulillahi robbil'aalamiin.


Namun, meskipun serba dilayani, tetap saja ada rasa tidak nyaman. Juga tidak betah, berada di kasur terus. Apalagi melihat pekerjaan rumah yang pastinya banyak yang terbengkalai. Mereka fokus merawat saya sehingga mengabaikan yang lain. Tak masalah. Nanti bisa diurus saat saya sudah sehat. Memang itu tugas saya.


Saat sakit, kita merasa tidak nyaman dan sedih. Merasa tidak berdaya karena tidak bisa berbuat dan bekerja seperti biasa. Tetapi, di sisi lain, saat sakit, kita bahagia karena ada yang merawat dan memperhatikan kita. Kepedulian dan perhatian mereka membuktikan bahwa kita ini istimewa dan berharga untuk mereka.


Bahagia yang lain, saat sakit, dosa-dosa kita gugur karena kesabaran kita dalam menahan sakit dan ikhlas menerima takdir Allah. 

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, mereka mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa melainkan dosa-dosanya akan diampuni” (HR. Muslim no. 2573).

(Sumber https://rumaysho.com/2286-musibah-datang-boleh-jadi-karena-dosa.html)


MaasyaaAllah, betapa indahnya Islam. Betapa bersyukurnya kita menjadi seorang muslim. Di saat kita menderita pun, ada kebahagiaan di sana. Ada imbalan yang luar biasa. Ya, karunia yang bagaimana lagi yang kita harapkan, selain terbebas dari dosa, terampuninya dosa-dosa, serta dimasukkan ke dalam surga-Nya?


Selalu ada hikmah di setiap peristiwa yang kita alami. Yang harus dilakukan adalah kita harus selalu husnudzon kepada Allah. Dan yakin bahwa Allah akan selalu menolong hamba-Nya.