Tuesday, January 30, 2024

Ojo Dumeh


Bismillah


Sejak mengajar kembali setelah cuti satu tahun, beberapa kesalahan yang cukup memalukan dan berakibat fatal, telah saya lakukan tanpa sengaja. Ini membuktikan betapa diri ini sangat jauh dari seseorang yang disebut baik, apalagi sempurna. Makanya, ojo dumeh. Jangan sombong! (sambil tepuk jidat sendiri 🤦)
Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullahal'adziim.


Tulisan ini dimaksudkan sebagai reminder, pengingat agar tidak terulang kembali. Juga, sebagai warning bahwa diri ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Jadi, tidak punya hak untuk berlaku sombong. Hanya Allah yang berhak, karena Dialah Yang Maha Segala, Yang Memiliki semua yang ada di bumi dan di langit. MaasyaaAllah.


Kesalahan pertama adalah saat menjadi panitia Family Day tahun kemarin (2022). Saat itu, saya sebagai perwakilan dari kelas 6, diminta untuk menyebarkan link pendaftaran kepada wali kelas lainnya. Eh, saya cuma share di grup kelas saya saja. Tiba hari terakhir pendaftaran, kok baru sedikit. Ternyata, saya belum melaksanakan tugas. Astaghfirullah, malunya, saya saat itu. Nggak becus, kerjanya.


Kesalahan kedua adalah saat pembagian rapor. Saya salah belum mengoreksi rumus nilai di format rapor. Alhasil, nilai anak-anak ada yang tidak sesuai dengan kesehariannya. Alhamdulillah, yang mengetahui pertama kali adalah rekan guru yang anaknya ada di kelas saya. Jadi bisa langsung diketahui dan langsung bisa diperbaiki. 


Saat pembagian rapor, saya harus menginformasikan kesalahan tersebut kepada seluruh wali murid. Satu per satu saya beritahukan kesalahannya, dan InsyaaAllah akan diperbaiki nanti saat masuk sekolah setelah liburan. 


Setelah selesai pembagian rapor, saat rekan-rekan guru yang lain pulang dan istirahat di rumah, saya masih harus menge-print ulang halaman rapor yang salah tadi. Sebenarnya bisa dilakukan nanti setelah liburan. Toh, rapornya juga sudah dibagikan. Tetapi, saya takut, kalau umur saya tidak sampai. Alhamdulillah, selesai juga. Sampai-sampai, saya pulang sekolah terakhir, kayaknya. 


Tahun ini, belajar dari pengalaman tersebut, saya ekstra hati-hati saat membuat rapor. Saya cek semua rumusnya, saya lihat rapor masing-masing anak, satu per satu. Banyak berdoa saat menge-print, semoga tidak ada yang salah.



Qadarullah, walaupun sudah hati-hati, bahkan sudah minta tolong teman untuk mengecek juga, ternyata masih ada yang salah. Bukan salah rumus atau salah ketik, tapi terlewat, belum diisi. Jadi, saat itu ada satu siswa yang nilainya 0. Saat dikonfirmasi kepada guru mata pelajarannya, beliau menyebutkan nilai tertentu. Alhamdulillah, jadinya tidak kosong lagi. Lalu, apa masalahnya?



Masalahnya, saat guru tersebut memberikan nilai, tidak langsung saya input di laptop. Jadinya saya kelupaan, dan sampai dibagikan ke orang tua, nilainya masih 0. Astaghfirullah. Ini jadi pelajaran penting buat saya, jangan menunda-nunda pekerjaan. Seharusnya, saat guru tersebut memberikan nilai, langsung dimasukkan ke rapor supaya tidak lupa.



Tetapi, selalu ada hikmah pada setiap kejadian yang kita alami. Lalu, hikmah apa yang terdapat pada peristiwa ini?
Sebenarnya bukan hikmah sih, tapi bisa juga dikatakan hikmah, tergantung persepsi kita, bagaimana memandang suatu masalah.



Hikmahnya, menurut saya, kejadian ini jadi diketahui oleh kepala sekolah. Tadinya, tak ada yang tahu selain guru yang bersangkutan dan saya. Tapi, karena keteledoran saya, jadi terungkap dan diketahui oleh beberapa orang, termasuk wali murid dan yayasan. 


Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran untuk semua guru. Jangan pernah memberikan nilai 0 kepada siswa. Kalau sampai ada, berarti salah guru. Ngapain aja selama ini? Kesannya guru tidak melakukan apa-apa untuk membuat siswa bisa mengikuti pelajaran dan mengerjakan tugas. Karena nilai tidak diambil dari hasilnya saja, tapi bisa dilihat dari proses dan usaha siswa. 



Semoga saya tidak melakukan kesalahan yang fatal lagi, setelah ini. Harus lebih hati-hati, lebih teliti, lebih banyak berdoa mohon bimbingan Allah, ojo dumeh. 
Bismillah, tolong bimbing hamba, ya Allah 🤲🏻


Sunday, January 28, 2024

Terhempas


Bismillah


Tadi pagi, ada pertemuan kedua GML (Guru Motivator Literasi). Hari ini adalah "Training of Coach". Dengan penuh semangat, saya bergabung di ruang Zoom beberapa menit sebelum waktunya. Acara dimulai pukul 08.30, tertulis di undangan. Semangat banget, ya. Iya. Dan, ternyata, di Zoom sudah banyak peserta yang hadir dan sedang mengobrol dengan riang gembira. Wajar sih, kami begitu senang dan bersemangat. Bayangkan, dari 7.000 pendaftar, yang lolos 1.209. Dan, kami termasuk yang lolos. Rasanya, luar biasa bangga. Astaghfirullah, padahal tidak boleh, ya, berbangga diri. Jatuhnya jadi ujub, ya.



Kali ini ada dua materi. Yang pertama disampaikan oleh Kak Aswan, yang kedua oleh Kak Digna, seharusnya. Tetapi karena Kak Digna terkendala sinyal dan tidak bisa bergabung lagi di ruang Zoom, akhirnya digantikan oleh Kak Fachrul, sang pemimpin sekaligus founder Forum Indonesia Menulis (FIM) yang menyelenggarakan Guru Motivator Literasi ini. 



Kak Aswan memaparkan tentang format penulisan yang harus dibuat. Pertama, Wisata Literasi Siswa (WLS). Tulisannya bisa berupa cerpen, puisi, atau pantun yang ditulis menggunakan kertas ukuran A5 dan cukup satu halaman saja. Temanya adalah Ungkapan Cinta untuk Sang Guru. Semua peserta sangat antusias mengikuti materi ini. Bahkan, sampai tidak sabar untuk bertanya, sehingga ruang Zoom menjadi riuh seperti suara lebah. Pusing, mendengarnya.



Yang kedua adalah Wisata Literasi Guru (WLG), dan yang ketiga Wisata Literasi Kepala Sekolah (WLK). Jenis tulisan untuk keduanya ini sama, yaitu esai berupa gagasan atau pengalaman. Hanya temanya saja yang berbeda. Kalau guru bertema Mendidik dengan Cinta, sedangkan kepala sekolah Memimpin dengan Cinta. Tulisannya diketik pada kertas ukuran A4 dengan panjang boleh 3-4 yg halaman. 



Sambil mendengarkan, saya sambil merenung, bagaimana caranya nanti bicara dengan siswa, rekan-rekan guru, dan kepala sekolah. Siapa saja yang akan saya ajak dalam proyek ini. Kalau siswa, sudah pasti, anak kelas 6. Kalau guru? Oh, mungkin rekan-rekan guru yang selama ini cukup dekat dengan saya, ditambah lagi dengan mereka yang suka menulis, walaupun tidak terlalu dekat. 



Terbayang dalam benak saya, antologi siswa nanti pastinya sangat seru. Saya juga membayangkan, bagaimana reaksi anak-anak. Sebagian besar mereka tidak suka menulis. Tetapi saya akan berusaha membujuk mereka. Apalagi, saya berharap, buku antologi ini nantinya bisa menjadi suvenir saat kelulusan mereka. MaasyaaAllah. 😍 Terbayang deh, suvenir kali ini, spesial dan eksklusif.


Tibalah pada pemateri kedua, Kak Digna. Baru sesi perkenalan, tiba-tiba beliau menghilang. Terpental dari ruang Zoom. Setelah ditunggu beberapa saat ternyata tidak ada tanda-tanda beliau masuk lagi, akhirnya digantikan oleh Kak Fachrul. Beliau memaparkan tentang juknis dan buku panduan yang akan digunakan dalam program diseminasi. Dalam KBBI, diseminasi artinya penyebarluasan ide, gagasan, dan sebagainya. Dalam hal ini, adalah cara-cara bagaimana kami memperkenalkan program literasi ini kepada siswa, rekan guru, dan kepala sekolah, serta mendampingi mereka dalam menulis antologi. 



Nah, di sinilah, kami semua merasa terhempas. Kecewa. Kami yang sudah merasa senang karena lolos seleksi, tiba-tiba dihadapkan dengan realita, bahwa untuk program ini, setiap siswa atau guru yang berpartisipasi dikenakan biaya. Siswa dikenakan biaya Rp85.000,00 per siswa, sedangkan guru dan kepala sekolah Rp100.000,00 per orang. 


Langsung saja, ruang Zoom kembali riuh dengan komentar di kolom chat. Sebagian merasa kecewa. Apalagi saat sosialisasi satu pekan yang lalu, dikatakan bahwa kami hanya perlu membayar dengan 
Komitmen
Semangat
Tuntas.



Ternyata, oh ternyata. Berbagai komentar langsung memenuhi kolom chat. Ada yang mengatakan, ini bisnis. Disuruh menulis saja susah, apalagi jika harus membayar. Hanya sekolah sultan, yang bisa seperti itu. Dan, beraneka komentar lainnya. Saya pun, terdiam. Memang dari tadi saya juga diam, hanya menyimak. Sekarang, diamnya saya itu, bingung. Kok, jadi begini, ya? 



Kalau di sekolah saya, wah, susah juga. Harus izin kepala sekolah, yayasan, orang tua, juga. Ribet, kayaknya. Dan, sepertinya saya tidak akan melanjutkan program ini. Salah, nggak, sih🤔





Friday, January 26, 2024

Review "Sesuk"




Judul buku: Sesuk
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabakgrip
Cetakan: - (terbit 2022, kalau tidak salah)
ISBN: 978-623-99878-8-6
Tebal buku: 329 hlm


Bismillah 


Tokoh utama buku ini memang seorang anak perempuan kelas 6 SD. Namun, sejatinya novel ini, menurut saya, merupakan sentilan buat para orang tua. Jadi, saya pun merasa begitu, diingatkan secara halus melalui novel ini. Astaghfirullah. 


Gadis, anak perempuan itu, tinggal bersama ayah, ibu, dan dua adiknya; Bagus dan Ragil. Ayahnya seorang pengusaha sukses yang selalu sibuk sehingga jarang berkumpul dengan anak-anaknya. Ibunya? Sama saja sibuknya karena dia seorang aktris sekaligus penyanyi terkenal yang memiliki jutaan follower. 


Karena suatu hal, keluarga itu harus pindah rumah ke sebuah kampung, tepatnya di sebuah rumah kuno di sebuah bukit di atas perkampungan. Rumah itu besar dan memiliki dua lantai, serta pekarangan yang luas, layaknya sebuah villa atau rumah-rumah di desa.



Meskipun terbiasa hidup di kota dengan fasilitas yang serba mewah dan lengkap, Gadis tidak sulit beradaptasi di lingkungan barunya. Segera saja, ia memiliki teman baru. Apalagi, Gadis adalah anak yang sopan dan santun. Siapa pun pasti suka berteman dengannya. 


Kenyataannya, setelah beberapa waktu tinggal di sana, tak semua orang menyukainya. Apalagi setelah beberapa kejadian yang membuat para warga marah. Gadis dan keluarganya, yang terkenal ramah itu, mulai dibenci beberapa warga. Bahkan, mereka ingin keluarga tersebut meninggalkan desa mereka. Mereka dianggap sebagai pembawa sial dan malapetaka.


Kejadian-kejadian aneh itu berawal dari kemunculan seorang anak laki-laki kecil, seumuran adiknya, Bagus. Bahkan perawakannya pun sangat mirip, sehingga para warga yakin bahwa Bagus lah sang pembawa masalah itu. 


Lalu, berbagai kejadian aneh pun mulai bermunculan. Namun, Gadis justru merasa tertantang untuk mencari tahu penyebab semua keanehan itu. Walaupun para warga bersikeras untuk mengusir mereka, Gadis dan keluarganya tetap ingin bertahan di desa itu. Nah, akankah mereka bisa mengatasi semua masalah itu dan tetap diizinkan tinggal di desa tersebut?


Silakan baca bukunya, ya. Dijamin tidak mau berhenti membaca sebelum sampai halaman terakhir. Hati-hati, ada aroma horor di buku ini. Meskipun bukan karena hantu atau setan seperti di buku-buku horor lainnya. Selamat membaca dan bersiap untuk uji adrenalin 😍



Wednesday, January 24, 2024

Guru Motivator Literasi

 


Bismillah

 

Mencoba aktif lagi di bidang kepenulisan, saya mencoba mengikuti seleksi Guru Motivator Literasi. Tadinya, saya ingin mendaftar sekadar ingin tahu dan menambah ilmu tentang literasi dan bagaimana menumbuhkan semangat literasi kepada siswa.



Ternyata, memang seleksinya cukup menantang, yaitu dengan menulis esai tentang kondisi literasi di sekolah tempat kita mengajar. Dan, alhamdulillaah, saya bisa mendaftar, walaupun hampir terlambat. Atas izin Allah, pendaftaran diundur hingga tanggal 15 Januari 2024. Saya baru baca pengumumannya tanggal 11. Alhamdulillah, masih ada waktu dan rezeki untuk mencoba.



Setelah mendaftar, saya dihubungi sekaligus diundang untuk mengikuti sosialisasi program ini. Undangan ini ternyata hanya diberikan kepada pendaftar yang sudah melengkapi persyaratan, yang salah satunya adalah menulis esai. Berikut ini adalah esai yang saya tulis untuk memenuhi persyaratan tersebut.



Tantangan dan Peluang Meningkatkan Literasi Sekolah

Oleh: Nindyah Widyastuti

 

Saya, Nindyah Widyastuti, adalah seorang guru di SDIT Al Hidayah, Lippo Cikarang, Bekasi atau Al Hidayah Islamic School (AHIS). AHIS memiliki perpustakaan yang sangat memadai karena memiliki koleksi buku yang cukup banyak dan ruangan yang nyaman, yang membuat para siswa betah berada di sana untuk membaca atau bermain permainan edukatif.

 

Walaupun fasilitas perpustakaan sudah sangat memadai, ditambah lagi dengan adanya pojok buku di setiap ruang kelas, ternyata tidak membuat para siswa otomatis suka membaca buku. Kurangnya minat baca dan menulis siswa, sangat dipengaruhi oleh adanya gawai yang sudah menjadi teman meraka sehari-hari sehingga membaca menjadi aktivitas yang kurang seru dan asyik.

 

Untuk mendorong siswa agar lebih melek literasi, selain melibatkan para guru, AHIS juga mengadakan festival literasi setiap enam bulan sekali. Aneka lomba yang berkaitan dengan literasi sudah diselenggarakan untuk menumbuhkan minat literasi siswa. Tetapi, animo siswa untuk berpartisipasi masih kurang, terutama siswa laki-laki.

 

Supaya para siswa lebih bersemangat dalam membaca dan menulis, maka kegiatan yang sudah berjalan perlu ditambah dengan beberapa program baru. Praktik baik yang bisa dilaksanakan misalnya reading challenge atau bedah buku. Semoga dengan kegiatan itu semakin menambah semangat siswa untuk suka membaca.  

***



Alhamdulillah, hari ini pengumumannya sudah ada. Dan, saya termasuk yang lolos. Kabarnya, ada sekitar 7.000 pendaftar dan yang lolos sekitar 1.209 orang. MaasyaaAllah, saingannya banyak sekali. Benar-benar rezeki dari Allah yang tiada terkira.



Semoga kesempatan ini bisa saya gunakan sebaik-baiknya dan saya bisa benar-benar menjadi motivator dalam bidang literasi, aamiin yaa rabbal'aalamiin 🤲🏻.

Sunday, January 21, 2024

Reviu "Surat dari Anak-anak Gaza"


Judul buku: Surat dari Anak-anak Gaza
Penyusun: Soeripto, S.H.
Penerbit: Kayyis
Cetakan: 2023
ISBN: 978-623-09-6962-1
Tebal buku: xiv + 114 hlm.


Bismillah


Hari ini, sudah 100 hari lebih, Palestina dihancurluluhkan oleh Israel. Ribuan anak dan warga syahid, menjemput surga Allah.
Masjid, rumah sakit, kamp pengungsian hancur tak pandang bulu. Entah apa yang ada dalam pikiran Israel laknatullah 'alaih.


Sedih dan tak berdaya, saat melihat pemberitaan tentang apa yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina. Hanya bisa mendoakan, semoga Allah segera memberikan kemerdekaan kepada mereka. Terbebas dari serangan Israel, hidup damai bersama Masjid Al Aqsha tercinta.


Buku Surat dari Anak-anak Gaza ini, sebagaimana judulnya, berisi sekitar 100 surat dari anak-anak Gaza. Penyusunan suratnya dibagi ke dalam 4 bab, yaitu Kondisi, Perasaan, Harapan, dan Cita-cita.


Meskipun dibagi ke dalam beberapa bab, secara garis besar, isi suratnya sama. Tentang harapan dan cita-cita mereka. Sebagian besar mereka ingin menjadi syuhada dan penghafal Al-Qur'an. MaasyaaAllah. Tak heran bila di saat kondisi yang tidak sedang baik-baik saja, mereka tetap semangat menghafal Al-Qur'an. Duh, apa kabar kita di sini? Di negara yang aman dan damai, tapi belum juga tergerak untuk menghafal Al-Qur'an. Astaghfirullah.


Sesuai dengan judul babnya, Kondisi menceritakan keadaan dan situasi mereka dan juga negeri mereka saat ini. Yang pastinya, ancaman bom dan rudal ada setiap saat. Namun, mungkin karena sudah terbiasa, mereka bahkan tidak takut. Seperti bunyi salah satu surat pada halaman 6.


"Pesawat-pesawat F-16, pesawat pengintai, dan pesawat Apache selalu menginspeksi kami, menghujani kami dengan bom fosfor mematikan, melempari kami dengan rudal dan mortir.

Aku benci Zionis. Mereka menghancurkan masjid-masjid tempat kami menghafal Al-Qur'an."


Pada bab Perasaan,  di sana diceritakan bagaimana perasaan anak-anak Gaza selama ini. Hidup dalam ketakutan, kesedihan, dan juga kelaparan. Dikabarkan, saat ini penduduk Gaza tidak hanya menghadapi ancaman bombardir, tetapi juga ancaman kelaparan. 


Namun, ada juga yang merasa bangga, seperti diungkapkan oleh Muhammad Alyan. 


"Aku bangga, tenang, dan merasa terhormat ketika Zionis menyerang kami di Gaza. Sebab, kami berada di bumi tempat Rasulullah melakukan Isra' Mi'raj. Aku bangga karena aku sedang membela kehormatan umat Islam. Aku juga merasa terhormat karena dari sekian banyak umat Islam, Allah memilih kami untuk mempertahankan Masjidil Aqsha."


MaasyaaAllah, perasaan yang sangat luar biasa, muncul dari keimanan yang luar biasa juga, tentunya. Memang, anak-anak Gaza, tidak sama dengan anak-anak di bumi mana pun. Mereka memiliki keimanan yang sangat kuat, ketabahan yang sangat luar biasa. Itu semua hasil didikan dari para ibu yang juga sangat luar biasa. 


Ya, ibu-ibu Gaza sangat berbeda juga. Walaupun dalam keadaan tidak baik-baik saja, dalam ancaman bombardir dan juga kelaparan, serta kedinginan, mereka tetap semangat menghafal Al-Qur'an. Mereka tetap semangat mendidik anak-anak mereka untuk menghafal Al-Qur'an. Tak heran, bila mereka sangat kuat dan tangguh. Semoga kita, terutama saya, bisa meniru mereka. Aamiin yaa rabbal'aalamiin.

Tuesday, January 16, 2024

Upgrade Diri

Bismillah


Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah tulisan di sebuah buku yang saya lupa judulnya. Tulisan itu kira-kira berbunyi, bahwa seorang guru akan dikatakan berhasil apabila ia di sekolah itu tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar. Nah, lho. Hal ini relevan sekali dengan semboyan favorit saya dari Pak Fadhil Gufron. Seorang guru adalah seorang pembelajar. Guru hebat adalah guru pembelajar.


Memang, benar sekali. Alhamdulillah, saya pun merasakan demikian saat mengajar. Apalagi mengajar di AHIS (Al Hidayah Islamic School). Di sini, saya tidak hanya mengajar, tapi juga belajar. Dan, rasanya saya lebih banyak belajar daripada mengajar. Jadi merasa bersalah. Saya kan, digaji untuk mengajar ya, bukan belajar. Apakah AHIS tidak rugi, tuh?


Sekilas, kelihatannya, sekolah merugi, ya. Tapi, ternyata tidak. Guru yang semangat belajar, radiasinya akan menular kepada siswa. Bila gurunya semangat dalam mengajar sekaligus belajar, insyaaAllah, siswanya pun semangat dalam belajar. 


Selain itu, dengan memiliki guru-guru yang semangat belajar, maka sekolah akan selalu mempunyai SDM yang up-to-date, tidak ketinggalan zaman. Mereka selalu mengikuti dan menerapkan ilmu-ilmu baru, yang tentunya sangat berpengaruh terhadap anak didik. 


Demikian pula yang dilakukan AHIS. Kami, para guru didorong untuk selalu meng-upgrade diri dengan mengikuti pelatihan, baik online maupun offline. Selain itu, sekolah pun, kadang-kadang mengadakan in-house training. Seperti yang baru saja saya ikuti. Selama dua hari ini, Sabtu dan Ahad (13 dan 14 Januari), kami mengikuti Sertifikasi Guru Metode Ummi. Sehari lagi akan dilaksanakan Sabtu depan tanggal 20 Januari 2024. 


Menurut teman-teman dari luar AHIS, biaya mengikuti sertifikasi ini tidak murah. Dan, mereka yang ingin mengikuti pelatihan ini, harus datang ke kantor Ummi di GCC, Cikarang. Jarak yang tidak dekat, dari sekolah kami. Sedangkan, kami di sini, sudah dibiayai sekolah, tutornya pun datang ke sekolah. Kami tidak perlu jauh-jauh datang ke kantornya. Alhamdulillah bini'matihi tatimushsholihat. Nikmat mana lagi, yang engkau dustakan?


Dengan adanya pelatihan ini, sekolah berharap, mutu guru-guru dalam bidang Al-Qur'an, terutama membaca dan mengajarkannya, akan semakin bagus. Yang tadinya tidak tahu -seperti saya-, jadi tahu. Yang sudah tahu, semakin mengerti dan hafal. 


Dan, belajar Al-Qur'an, adalah sebaik-baik aktivitas. Orang yang mempelajarinya, adalah sebaik-baik manusia. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita untuk selalu belajar dan mengajarkan Al-Qur'an dan memasukkan kita sebagai ahlul Qur'an. Aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻




Friday, January 12, 2024

Review "Si Anak Savana"

Judul buku: Si Anak Savana
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabakgrip
ISBN: 978-623-97262-2-5
Cetakan: Agustus 2022
Tebal buku: 382 hlm

Bismillah


Satu kata untuk buku ini. Seru! 
Alhamdulillah, tidak menyesal sudah bela-belain membeli buku ini untuk menemani liburan anak-anak. Selain buku ini, saya juga membeli "Bibi Gill". Tapi, tetap, buku ini yang paling seru.


Dari awal cerita saja, kita sudah dibuat penasaran dengan hilangnya sapi Loka Nara yang tanpa jejak. Misterius. Dan, kejadian itu diikuti dengan kehilangan sapi-sapi yang lain, yang semuanya juga misterius. Hilang begitu saja. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Tidak ada jejak pula yang bisa memberikan petunjuk ke mana sapi-sapi itu dibawa pergi oleh si pencuri.


Itu masalah pokok yang sepertinya jadi masalah sampingan bila kita mengikuti tiap bab. Dalam setiap bab ada masalah tersendiri yang juga seru sehingga kadang lupa dengan pokok permasalahan; sapi hilang. 


Yang membuat buku ini seru, tentu kehidupan anak-anak Savana yang diangkat ke dalam cerita ini. Bagaimana persahabatan Ahmad Wanga, sang tokoh utama, bersama teman-teman sekelasnya sekaligus sepermainan. 


Tak kalah seru pula, bagaimana mereka bertahan hidup di Padang Savana. Mencari air ke telaga yang jauh dari perkampungan mereka, menonton balap kuda yang tak sekadar balapan pada umumnya. 


Selain seru, buku ini juga bermutu dan bergizi karena tak melupakan adab dan akhlak seorang muslim. Juga bagaimana seharusnya kita memegang prinsip keislaman kita. Tidak hanya dalam beribadah kepada Allah, tetapi juga dalam segala aktivitas kehidupan kita, tidak dipisah-pisahkan. 


Semua cerita dalam buku ini, terwakili dalam puisi yang, dalam cerita itu, ditulis oleh Sedo. Salah seorang teman Wanga yang telah yatim piatu dan hidup hanya berdua dengan adiknya. 

Anak Savana

Apa yang kau lihat di savana?
Rerumputan?
Satu-dua pohon yang meranggas?
Atau sapi dan kuda yang tengah merumput?

Apa yang kaurasakan ketika di savana?
Panas?
Udara kering yang membuat dahaga?
Atau semilir angin yang membuai?

Kalau kau tanya aku
Maka aku jawab begini:
Aku melihat ketangguhan di savana
Pada rumput yang kering, berwarna cokelat, terinjak
Tapi besok-besok tetap ada, menghijau kembali saat diguyur hujan

Aku merasakan hidup yang bermanfaat
Menghidupi sapi dan kuda
Membuat kau bisa duduk memandang
Keindahannya

Kalau kau tanya aku,
Aku melihat dan merasakan itu
Adalah masa depanku
Karena aku anak savana


Tuesday, January 9, 2024

Rizq Palace




Jamaah haji Indonesia tahun ini ada 100.000 lebih. Mereka tinggal di beberapa sektor. Saya tinggal di sektor 5, daerah Misfalah, di hotel Rizq Palace nomor 505. Maktabnya nomor 38. Jarak dari hotel ke Masjidil Haram sekitar 2 km. Bila ditempuh dengan berjalan kaki, memerlukan waktu sekitar 30 menit dengan berjalan santai. Sedangkan bila kita naik bus, membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit.  Sepuluh menit naik bus, disambung 5 menit berjalan kaki dari terminal bus menuju Masjidil Haram.


Saya tinggal di kamar 908. Kali ini kami hanya berempat. Bu Siti terpisah dari kelompok kami. Tetapi kamarnya masih berdekatan. Dan, kami pun masih sering ngobrol bersama. Kebersamaan yang pernah terjalin di kamar 714, terus merekat seperti saudara. Padahal kami baru bertemu.


Hotel Rizq Palace levelnya lebih rendah daripada Manazil Al Rahma. Walaupun begitu, tetap nyaman dan menyenangkan. Di sisi lain, Rizq Palace lebih lengkap karena ada mesin cuci di setiap lantai. Sedangkan untuk menjemur pakaian, tersedia di roof top. Enaknya di Makkah, menjemur sebentar, tidak perlu seharian seperti di Indonesia, pakaian langsung kering. Bahkan, sering juga kami menjemur di  kamar mandi atau di balik gorden. Walaupun membutuhkan waktu agak lama, tapi lumayan lah. Daripada harus naik ke roof top.


Meskipun ada beberapa hal yang tidak sebagus di hotel Manazil Al Rahma, kami mendapat pelayanan yang baik dari Rizq Palace. Selain itu, kami pun memperoleh hadiah dari pihak manajemen hotel. Kami yang berjumlah sekitar 2.000, semua mendapatkan sebuah jubah khas Arab Saudi. 


Menjelang pulang ke Indonesia, kami mendapat hadiah lagi. Tetapi, kali ini tidak semua orang mendapatkannya. Dari satu rombongan, tersedia 6 hadiah berupa handphone. Hadiahnya pun diundi. Alhamdulillaah, saya tidak termasuk yang mendapatkannya. 


Satu lagi hadiah yang kami dapatkan. Kali ini dari Shireen, salah seorang admin hotel yang masih muda dan cantik. Shireen ini keturunan Indonesia Arab. Ibunya asli Lombok, ayahnya Mekah. Shireen memberi kami, masing-masing sebuah gantungan kunci bergambar Ka'bah, Masjidil Haram,  atau Masjid Nabawi.


MasyaaAllah tabarakallah. Benar-benar kenikmatan luar biasa, menjadi jamaah haji. Semoga nanti Allah izinkan kembali saya dan keluarga untuk menjadi tamu Allah. Aamiin yaa rabbal'aalamiin 🤲🏻

Thursday, January 4, 2024

Menulis Lagi




Bismillah


Hari ini, setelah satu tahun lebih, saya bertekad untuk rutin menulis lagi dengan mengikuti KLIP. Sebenarnya saya sudah pernah ikut KLIP ini beberapa kali. Dan, terakhir kali ikut, kalau tidak salah tahun 2022. Sayang sekali, saya gagal di babak awal karena setoran tulisan saya kurang dari target. Nah, sekarang saya akan mencoba lagi. Bismillah ... Semoga bisa sampai finish.


Saya tidak menulis selama setahun lebih, bukan karena tidak ada topik. Tetapi, yang pertama sih, karena malas, ya. Ini sesuatu yang sangat buruk dan tidak boleh terulang lagi. Kemalasan itu datang berawal dari kritikan suami terhadap tulisan saya. Ternyata, berdampak sangat buruk terhadap mood menulis saya. Akibatnya, blog ini kosong melompong. Untung nggak hilang. 


Faktor lain yang menyebabkan saya tidak menulis, biasa, karena keriweuhan dunia nyata. Mengajar kembali, setelah satu tahun vakum, ternyata membuat saya harus belajar lagi dan bekerja ekstra keras dibandingkan sebelumnya. Belum lagi tambahan tugas untuk mengajar SMP. Jadilah, kepala pusing karena harus memikirkan banyak hal.


Nah, mengapa sekarang saya menulis lagi? Alasan pertama sebenarnya, karena saya melihat postingan pendaftaran KLIP yang lewat di beranda Instagram. Padahal, dulu, saya kenal KLIP dari Facebook. Sekarang melalui Ig karena saya lebih sering membuka Ig daripada FB. 


Beberapa hari ini, saya memang mencari pelatihan tentang mengajar karena ada target dari sekolah untuk memiliki sertifikat pelatihan minimal satu dalam satu tahun. Qadarullah, yang saya lihat di Ig itu, kebanyakan pelatihan menulis dan hampir semua berbayar. Makanya, saat lihat pendaftaran KLIP, jadi tertarik. Menulis itu kan, memang harus banyak latihan. Sekarang, kita latihan sendiri dulu. Nanti kalau ada rezeki baru ikut yang serius dan berbayar. 


Sebenarnya, saya ingin ikut yang berbayar karena saya ingin meningkatkan kemampuan menulis saya dalam bidang yang lebih serius seperti artikel ilmiah. Selain ini memang saya perlukan untuk diri sendiri -ingin nyoba bikin seperti itu-, insyaaAllah ini juga bermanfaat untuk siswa SMP. Salah satu target literasi anak SMP adalah membuat karya ilmiah. Oleh karena itu, salah satu target tahun ini, ingin bisa belajar dan menulis literatur yang lebih baik dan lebih ilmiah.

Bismillah
Ya Allah, mudahkan saya agar bisa berdakwah dan menebar kebaikan melalui tulisan. Aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻