Monday, June 1, 2026

Memahami Luka Pengasuhan


*WEBINAR DAY 1 ISLAMIC PARENTING DI ERA ANXIETY AND ADDICTION*

*_Memahami Luka Pengasuhan di Balik Adiksi Game & Pornografi_*

🎙: Ustadzah Tika Faiza, M. Psi
📝 : Salsabilla dakwah, Dakwah corner, Catatan jariah dan Cahaya kehidupan
🗓: 30 Mei 2026

⚠️ Free to share dengan tetap mencantumkan sumber resume. ⚠️

━━━━━━━━━━━━━━━

📌 Memahami Luka Pengasuhan dan Adiksi Game/Pornografi

Luka pengasuhan (parenting wounds) merupakan luka emosional atau psikologis yang muncul akibat hubungan yang tidak sehat antara anak dan orang tua. Luka ini sering kali menjadi akar dari berbagai masalah psikologis, termasuk adiksi game dan pornografi sebagai bentuk pelarian dari rasa sakit yang tidak terselesaikan.

1. Bentuk-Bentuk Luka Pengasuhan

• Ketidakhadiran atau pengabaian orang tua, baik secara fisik maupun emosional.
• Ekspektasi berlebihan dan tuntutan yang terlalu tinggi.
• Kekerasan fisik maupun emosional.
• Konflik keluarga seperti perselingkuhan dan perceraian.
• Kebiasaan membanding-bandingkan anak dengan saudara atau orang lain.
• Kritik tajam tanpa apresiasi dan empati.
• Pemaknaan negatif terhadap takdir, seperti kematian orang tua.

2. Dampak Luka Pengasuhan

Luka pengasuhan dapat menimbulkan berbagai dampak pada kehidupan seseorang, di antaranya:

• Merasa kesepian dan rendah diri.
• Mengalami kecemasan (anxiety) dan serangan panik.
• Kebingungan identitas dan kehilangan arah hidup.
• Merasa tidak dicintai atau tidak dihargai.
• Terjebak dalam relasi yang tidak sehat (toxic relationship).
• Munculnya perilaku ketergantungan atau pelarian melalui adiksi.
• Kesulitan mengenali dan mengelola emosi.

3. Empat Pola Pengasuhan

Pengasuhan memiliki dua dimensi utama, yaitu responsivitas (kehangatan dan respons orang tua terhadap anak) serta tuntutan (harapan yang diberikan kepada anak).

▪ Permisif (You Are The Boss)
Responsivitas tinggi, tuntutan rendah. Anak diterima apa adanya, namun sering kurang terlatih menghadapi masalah dan konflik.

▪ Otoritatif (Let's Talk About It)
Responsivitas tinggi, tuntutan tinggi. Orang tua hangat namun tetap memiliki aturan yang jelas. Pola ini cenderung menghasilkan anak yang mandiri, percaya diri, dan berprestasi.

▪ Neglectful (Pengabaian)
Responsivitas rendah, tuntutan rendah. Orang tua tidak hadir secara emosional sehingga anak rentan mengalami masalah harga diri dan kesehatan mental.

▪ Otoriter (Because I Said So)
Responsivitas rendah, tuntutan tinggi. Orang tua sangat menuntut namun minim kehangatan. Anak mungkin patuh, tetapi rentan mengalami depresi dan kurang percaya diri.

4. Adiksi sebagai Bentuk Pelarian

Luka pengasuhan menciptakan kekosongan jiwa yang membuat seseorang mencari kenyamanan secara instan.

• Game memberikan rasa berhasil, diterima, dihargai, dan diakui.
• Pornografi menawarkan kenikmatan sesaat yang tampak mampu mengisi kekosongan emosional.
• Keduanya merupakan bentuk maladaptive coping, yaitu cara yang keliru dalam menghadapi luka batin dan ketidaknyamanan emosional.

5. Banjir Dopamin dan Dampaknya

Dopamin merupakan neurotransmitter yang berperan dalam sistem penghargaan, motivasi, fokus, dan suasana hati.

✓ Aktivitas positif seperti olahraga, belajar, dan ibadah dapat meningkatkan dopamin secara sehat.
✓ Aktivitas instan seperti scroll media sosial berlebihan, game, dan pornografi dapat memicu banjir dopamin.

Akibatnya, tubuh mengalami defisit dopamin yang menyebabkan:

• Kehilangan motivasi.
• Kebingungan arah hidup.
• Kehampaan dan kehilangan makna hidup (meaningless).
• Kebingungan identitas (identity confusion).
• Sulit merasakan kebahagiaan dari aktivitas normal.

6. Memutus Lingkaran Setan Adiksi

Pola pengasuhan yang tidak sehat dapat melahirkan jiwa yang terluka. Luka tersebut mendorong seseorang mencari pelarian melalui adiksi, yang kemudian memperparah kondisi jiwa dan berpotensi diwariskan kepada generasi berikutnya.

Untuk memutus lingkaran tersebut, Al-Qur'an memberikan tahapan penyembuhan:

1️⃣ Maw'izhah (penyegaran dan sentuhan hati)
Menyadari masalah melalui nasihat, ilmu, dan pengingat dari Al-Qur'an.

2️⃣ Syifa' lima fis shudur (penyembuhan luka batin)
Melakukan proses penyembuhan terhadap luka emosional dan psikologis.

3️⃣ Hudan (penataan arah hidup)
Membangun kembali kehidupan sesuai petunjuk Allah dan menjauhi kebiasaan yang merusak.

4️⃣ Rahmatal lil mu'minin (meraih rahmat Allah)
Tahap tertinggi, ketika seseorang merasakan ketenangan bersama Allah dan memperoleh keselamatan dunia serta akhirat.

✨ Kesimpulan

Adiksi game dan pornografi sering kali bukan masalah utama, melainkan gejala dari luka pengasuhan yang belum terselesaikan. Karena itu, solusi yang dibutuhkan bukan hanya menghentikan perilaku adiksi, tetapi juga menyembuhkan luka batin, memperbaiki pola hidup, dan mendekatkan diri kepada Allah agar memperoleh ketenangan yang hakiki.

⚠️ Free to share dengan tetap mencantumkan sumber resume. ⚠️




📍 YouTube Private: 
https://www.youtube.com/live/a7y9qIfOndo?si=m7WgdsShIDObwfPW





Tips Menulis

Tendi Murti
*Istilah 3: Sudut Pandang (POV)*

Guys, punya ide tulisan bagus itu baru setengah jalan. Kalau cara menyampaikannya salah, tulisan yang isinya "daging" sekalipun bisa kerasa kaku dan berjarak. 

Ibarat lagi ngobrol sama teman di warung kopi, tapi dia ngomongnya pakai bahasa proposal skripsi. Nggak asik.
Banyak banget penulis yang mentok di fase ini.

Udah capek-capek mikir, ngetik panjang lebar, tapi pas dibaca ulang besok paginya kok rasanya hambar. 

Biasanya, ujung-ujungnya kita langsung nyalahin ide tulisan yang dianggap jelek, atau ngerasa kosakata kita kurang banyak.

Padahal, akar masalahnya seringkali jauh lebih sepele: kalian salah milih Sudut Pandang (POV).

POV itu sederhana. Ini cuma soal dari posisi mana kalian mau bercerita.

Secara garis besar, ada tiga pilihan utama:

• Orang Pertama (Saya): Dipakai buat cerita pengalaman pribadi. Kesannya intim dan personal. (Contoh: "Saya pernah gagal nulis berbulan-bulan...")

• Orang Kedua (Kalian): Dipakai buat ngajak pembaca ngobrol langsung. Lebih interaktif. (Contoh: "Kalian pasti pernah ngerasa malas nulis...")

• Orang Ketiga (Dia/Mereka): Dipakai kalau kalian mau nyeritain orang lain dari kacamata pengamat. (Contoh: "Dia cuma duduk diam menatap layar...")

Blunder paling fatal yang sering kejadian adalah mencampur ketiga POV ini tanpa sadar dalam satu tulisan.

Paragraf pertama asik cerita pakai "saya". Masuk ke tengah tiba-tiba nyeramahin "kalian". Eh pas mau closing, malah sibuk ngebahas "mereka".

Hasilnya? Pembaca bingung. Tembok kedekatan yang udah dibangun di awal langsung rontok di tengah jalan.

POV itu bukan sekadar teori bahasa. POV adalah alat untuk menentukan seberapa dekat kalian mau duduk dengan pembaca.

Sebuah ide tulisan yang sama persis bisa punya impact yang sangat berbeda, hanya karena sudut pandangnya digeser.

Jadi, sebelum mulai ngetik kalimat pertama, coba tanya dulu ke diri sendiri: "Di tulisan ini, saya mau bicara sebagai siapa?"

*Istilah 4: Tujuan Menulis*

Guys, pernah nggak kalian nonton film di bioskop yang visualnya mewah, efeknya canggih, dan akting aktornya keren, tapi ketika filmnya selesai kalian malah ngebatin: "Ini film sebenarnya ceritanya tentang apa sih?" 

Kalau kalian sufi alias suka film, harusnya pernah ngerasain kayak gitu.

Gambarnya memang memanjakan mata, tapi ujung-ujungnya kerasa kosong dan bikin bingung.

Kejadian kayak gitu sering banget kita alami ketika nulis. Kalian udah ngetik panjang lebar, bahasanya rapi, susunan kalimatnya enak dibaca, tapi ketika dibaca ulang dari atas ke bawah, kalian malah mikir: "Ini tulisan sebenarnya arahnya mau ke mana, ya?"

Rasanya pasti geregetan. Udah buang energi buat mikir dan nyusun kata, tapi hasilnya malah ngambang. Pembaca yang baca sampai akhir pun ngerasa digantung. 

Masalahnya di sini bukan karena kalian nggak jago merangkai kalimat. Penyakitnya cuma satu: tujuan tulisan kalian dari awal memang nggak jelas.

Menulis tanpa arah itu bikin draf jadi campur aduk. Niat awalnya mau ngasih inspirasi, eh di tengah tulisan malah berubah jadi ceramah panjang. Niatnya mau ngajak orang ngelakuin sesuatu, tapi di akhir tulisan nggak ada kalimat ajakan apa-apa. Akhirnya pembaca selesai baca, lalu ya sudah, lewat begitu saja.

Biar nggak kejadian lagi, sebelum mulai ngetik, pastikan tulisan kalian mengunci minimal satu dari empat tujuan ini:

• Menginformasikan: Memberi pengetahuan baru. (Fokus: Pembaca jadi tahu).

• Menginspirasi: Menyentuh emosi. (Fokus: Pembaca merasa terhubung).

• Meyakinkan: Mengubah cara pikir. (Fokus: Pembaca setuju dengan argumen kalian).

• Mengajak (CTA): Mendorong tindakan nyata. (Fokus: Pembaca langsung bergerak).

Misal, kalian nulis soal pentingnya nulis setiap hari. Kalau tujuannya memang mengajak (CTA), maka di paragraf penutup harus ada instruksi yang tegas: "Mulai hari ini, coba paksakan nulis satu paragraf aja."

Jadi, biasakan tanya ini ke diri sendiri sebelum memulai kalimat pertama: "Setelah selesai baca tulisan ini, saya mau pembaca ngapain?"

Karena tulisan yang kuat bukan cuma sekadar asik dibaca, tapi tulisan yang punya arah pasti. 

Penulis pemula menulis sekadar untuk menghabiskan kata-kata, tapi penulis profesional selalu tahu persis ke mana tulisannya akan bermuara.

 *Istilah 5: Target Pembaca*

Banyak tulisan gagal bukan karena jelek,
tapi karena nggak jelas lagi tulisan itu ditulis buat siapa.

Kalian mungkin sudah nulis dengan serius. Kata-katanya rapi, idenya bagus.
Tapi tetap nggak ada yang baca. Nggak ada yang benar-benar merasa “ini gue banget.”

Tahu kenapa? kalian menulis untuk semua orang.

Padahal dalam dunia menulis, “semua orang” itu nggak ada.
Yang ada adalah orang-orang spesifik dengan masalah spesifik.

Itulah kenapa target pembaca jadi penting.

Karena tulisan yang kuat selalu terasa seperti ngobrol ke satu orang, bukan ke kerumunan.

Bandingkan ini:

👉 “Menulis itu penting untuk semua orang.”

👉 “Buat kalian yang pengen nulis tapi selalu nunda karena takut jelek…”

Yang kedua langsung terasa lebih kena, kan?

Kenapa?
Karena dia tahu siapa yang dia ajak bicara.

Semakin jelas target kalian, semakin tajam tulisan kalian.
Bahasa jadi lebih hidup, contoh jadi lebih relevan, dan pembaca merasa,
“Ini kayaknya ditulis buat saya.”

Jadi sebelum mulai nulis, jangan langsung buka laptop.
Tanya dulu ke diri sendiri:
“Tulisan ini sebenarnya saya tujukan ke siapa?”

Karena tulisan yang kuat bukan cuma tentang apa yang disampaikan,
tapi tentang siapa yang diajak bicara.


*Istilah 6: Hook (Kalimat Pembuka yang Menarik)*

Dulu, saya pernah buka cafe sebelum cafe serama kayak sekarang.

Menunya fokus ke susu murni. Konsep di dalamnya sudah bagus. Kelemahannya satu, nggak nyiapin neon box yang bagus. Spanduk juga ngasal. Saya mikirnya yang penting enak. Tapi lupa kalau neon box dan spanduk juga punya peranan penting.

Hasilnya? Cuma bertahan beberapa bulan saja. Habis itu saya tutup permanen karena rugi.🫣😂

Sama persis kayak nulis. Kalian bisa punya ide tulisan yang "daging" banget, riset berhari-hari, sampai ngetik berhalaman-halaman. Tapi kalau satu kalimat pertama kalian gagal bikin penasaran, pembaca udah kabur duluan sebelum nyentuh paragraf kedua.

Banyak penulis yang sakit hati di titik ini. Ngerasa udah capek-capek nulis konten yang bagus dan bermanfaat, tapi kok yang baca sepi? 

Ujung-ujungnya nyerah, ngerasa nggak bakat, atau nyalahin algoritma.
Padahal, penyakitnya seringkali bukan di kualitas ide kalian. Masalahnya murni karena kalian gagal "menahan" pembaca di detik pertama.

Di dunia konten yang berisik ini, perhatian itu harganya mahal. Jempol netizen itu kejam. Mereka cuma butuh hitungan detik buat mutusin buat lanjut baca atau skip. Kalian nggak punya kemewahan waktu untuk ngasih "pemanasan" panjang lebar.
Itulah kenapa Hook itu jadi nyawa dari tulisan kalian.

Hook bukan sekadar kalimat pembuka. Ia adalah "rem" yang memaksa jempol pembaca berhenti scrolling. Biar nggak zonk, ini empat cara meracik hook yang mematikan:

• Pernyataan Tajam: Langsung tembak inti masalah tanpa basa-basi. (Contoh: "Menulis itu bukan soal bakat, tapi seberapa tahan pantat kalian duduk di kursi.")

• Kontras yang Nyeleneh: Benturkan dua hal yang bikin otak pembaca mikir. (Contoh: "Semakin kalian menunggu inspirasi datang, semakin tulisan kalian nggak bakal pernah jadi.")

• Tamparan Realita: Angkat kenyataan pahit yang sering dialami tapi jarang diakui. (Contoh: "Banyak orang ngaku ingin jadi penulis, tapi nyatanya mereka berhenti cuma di niat.")

• Cerita Singkat: Pancing rasa penasaran lewat pengalaman personal. (Contoh: "Dulu saya pernah berhenti nulis hampir enam bulan gara-gara...")

Mulai sekarang, jangan gampang puas sama kalimat pembuka pertama yang kalian ketik. Hapus, ulangi, perbaiki, dan pertajam lagi.
Karena pembaca nggak punya kewajiban buat peduli pada tulisan kalian sampai kalian berhasil merebut perhatian mereka di kalimat pertama.

Seringkali, jurang pemisah antara tulisan yang viral dan tulisan yang sepi kayak kuburan, cuma ditentukan oleh satu kalimat di awal.


*Istilah 7: Lead (Pengantar yang Mengikat Pembaca)*

Beberapa waktu lalu kita bahas tentang kalimat pembuka. Kalimat pembuka atau hook ini seru kalo kita bahas lebih dalam. Dan saya yakin di antara kalian ada yang sudah jago bikin hook dalam sebuah tulisan.

Sayangnya setelah punya hook yang bagus, malah ada juga yang kesulitan pengembangan tulisannya. Tulisannya terasa kosong.

Hook-nya bikin berhenti.
Tapi tidak bikin lanjut baca.

Karena mereka lupa satu hal penting: lead.

Lead adalah pengantar setelah hook yang membuat pembaca merasa, “Oke, saya mau lanjut baca.”

Biar gampang paham, coba lihat contoh ini 👇

❌ Contoh Hook TANPA Lead

“Menulis itu bukan soal bakat, tapi soal disiplin.”

Kalimat ini bagus. Tapi kalau setelah itu langsung masuk ceramah panjang, pembaca bisa cepat lepas.

✅ Contoh Hook + Lead

“Menulis itu bukan soal bakat, tapi soal disiplin.”

Banyak orang sebenarnya punya ide bagus. Mereka juga pengen punya buku. Tapi baru mulai dua halaman, langsung berhenti karena merasa tulisannya jelek. Besoknya niat lagi. Besoknya hilang lagi.

Akhirnya bukan karena tidak bisa menulis… tapi karena tidak berhasil menjaga ritme.

Nah, bagian setelah hook itulah yang disebut lead.

Lead membuat pembaca:

* merasa relate
* merasa dipahami
* dan penasaran ke mana tulisan ini akan dibawa

Contoh lain 👇

❌ Hook Saja

“Banyak penulis gagal karena terlalu perfeksionis.”

Bagus. Tapi masih terasa “dingin”.

✅ Hook + Lead

“Banyak penulis gagal karena terlalu perfeksionis.”

Mereka sibuk memperbaiki kalimat pertama sampai lupa menyelesaikan tulisan. Padahal pembaca tidak butuh tulisan sempurna. Pembaca butuh tulisan yang selesai.

Terasa lebih hidup, kan?

Jadi mulai sekarang, jangan cuma fokus bikin pembuka yang keren. Belajar juga bikin pembaca merasa:

“Ini kayaknya penting buat saya baca sampai habis.”

Karena hook membuat orang berhenti.
Tapi lead membuat orang bertahan.


*Istilah 8: Body / Isi Tulisan*


Guys, kita udah belajar tentang hook dan lead. Pembuka tulisan itu penting banget.

Namun nggak cukup. Kenapa? Karena setelah pembaca tertarik, mereka butuh isi yang benar-benar bernilai.

Di sinilah fungsi *body.*

Body adalah bagian utama dari tulisan.
Di bagian ini kalian menjelaskan ide, memberi contoh, menyusun argumen, bercerita, atau menyampaikan data.

Perumpamaannya:

- Kalau hook itu pintu masuk,
- lead itu lorong pengantar,
- maka body adalah ruangan utamanya.

Tantangannya, banyak tulisan punya pembuka menarik, tapi isinya berantakan.

Awalnya bahas disiplin menulis.
Tengahnya pindah ke motivasi hidup.
Akhirnya malah curhat panjang tentang masa lalu.

Boleh saja cerita.
Tapi cerita harus tetap mendukung ide utama.

Contoh sederhana:

*Ide pokok:*
“Menulis setiap hari lebih penting daripada menunggu inspirasi.”

*Maka body-nya bisa berisi:*

1. Kenapa inspirasi tidak bisa diandalkan
2. Kenapa kebiasaan lebih penting
3. Contoh menulis 10 menit sehari
4. Ajakan untuk mulai dari satu paragraf

Nah, isi seperti ini punya arah.
Pembaca nggak diajak jalan-jalan tanpa tujuan.

Body yang kuat biasanya punya tiga hal:

*Pertama, fokus.*
Jangan bahas terlalu banyak hal dalam satu tulisan.

*Kedua, contoh.*
Pembaca lebih mudah paham kalau kalian kasih gambaran nyata.

*Ketiga, alur.*
Pastikan satu paragraf nyambung ke paragraf berikutnya.

Jadi, jangan hanya sibuk memikirkan kalimat pembuka.
Pikirkan juga: setelah pembaca masuk, kalian mau memberi mereka apa?

Guys, tulisan yang baik nggak cuma bikin orang berhenti membaca di awal,
tapi membuat mereka merasa mendapat sesuatu setelah selesai membaca.

Sunday, May 17, 2026

Kelahiran Sang Utusan

 

KELAHIRAN SANG UTUSAN

PADA HARI SENIN TANGGAL 9 RABIUL AWAL TAHUN 1 GAJAH/ BERTEPATAN DENGAN 20 APRIL 571 MASEHI/ AMINAH MELAHIRKAN PUTRANYA DAN ABDULLAH DI MAKKAH// SAAT MELAHIRKAN ITU/ AMINAH MELIHAT CAHAYA KELUAR DARI RAHIMNYA// CAHAYA ITU MENERANGI SAMPAI KE ISTANA-ISTANA DI NEGERI SYAM//

BAYI ITU SEHAT DAN TAMPAN//KULITNYA CERAH/ RAMBUT DAN BOLA MATANYA HITAM/ ALISNYA MELENGKUNG/ DAN BULU MATANYA LENTIK// DI TENGKUKNYA/ DI ANTARA DUA BAHU/ ADA TANDA KECOKELATAN// BAYI ITU JUGA MEMILIKI SILSILAH YANG MULIA//

“TOLONG KIRIMKAN SESEORANG/ UNTUK MEMBERI KABAR KEPADA ABDUL MUTHALIB/ KAKEKNYA/” PINTA AMINAH//

ABDUL MUTHALIB YANG SEDANG BERTAWAF DI KA’BAH/ LANGSUNG BERGEGAS DATANG/ BEGITU MENDAPAT KABAR BAHAGIA ITU// DENGAN LEMBUT/ DIA DEKAP BAYI ITU/ DAN MEMBAWANYA MASUK KE DALAM KA’BAH// LALU DIA BERDOA DAN MEMANJATKAN SYUKUR KEPADA ALLAH SWT//

TSUWAIBAH, HAMBA SAHAYA ABU LAHAB BIN ABDUL MUTHALIB/ JUGA BERGEGAS MENEMUI TUANNYA/ UNTUK MENGABARKAN BERITA BAHAGIA ITU.  ABU LAHAB SANGAT BAHAGIA / SEHINGGA LANGSUNG MEMERDEKAKAN TSUWAIBAH//

BETAPA KELAHIRAN BAYI ITU/ MEMBAWA KEBAHAGIAAN DI KELUARGA BESAR ABDUL MUTHALIB//

SUMBER: MUHAMMAD TELADAN SEPANJANG ZAMAN JILID 2 “KELAHIRAN SANG UTUSAN” DARI SYGMA DAYA INSANI


Belajar jadi Sirah Influencer

Akhlak Rasulullah

 

Seperti apa, sih, akhlak Rasulullah? Yuk, kita cari tahu!

Inilah tiga Fakta Menarik tentang akhlak Rasulullah

Pertama, Rasulullah adalah orang yang pemaaf kepada siapa pun. Ketika Abdullah bin Ubay memfitnah Rasulullah, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sangat marah dan ingin menghabisinya. Tapi, Rasulullah melarang dengan alasan, beliau tidak ingin orang-orang mengatakan bahwa beliau menghilangkan nyawa sahabat-sahabatnya.

Kedua, Raulullah adalah pemimpin yang sangat pemberani, tidak pernah gentar menghadapi musuh. Saat pemimpin kafir Quraisy, Abu Sufyan, menantang beliau untuk berperang lagi di Badar, Rasulullah bersabda, “Demi Zat yang menguasai diriku dengan kekuatan-Nya. Sungguh, aku akan berangkat sekalipun tidak ada seorang pun yang ikut bersamaku.”

Ketiga, Rasulullah sangat murah hati. Salah satu bukti kemurahan hati beliau adalah membebaskan seorang tawanan bernama Tsumamah. Karena kebaikan Rasulullah tersebut, Tsumamah langsung bersyahadat. MaasyaaAllah. Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad.



Belajar jadi Sirah Influencer

Thursday, July 31, 2025

Memupuk Kecintaan Anak pada Allah sejak Kecil


Topik ini menjadi pembahasan yang bagi saya pribadi, refleksinya sangat dalam. Saya seorang ibu dari dua orang putra yang lahir dari rahim saya. Pertama akan masuk usia 7 tahun dan kedua usia 4 tahun. Selain itu, saya memiliki adik bungsu kandung yang rentang usianya selisih 18 tahun dengan saya, sehingga saya mendapat bagian untuk mendidik adik bungsu saya atau bisa diibaratkan menjadi Ibu lebih awal melalui trial.


Dalam proses pengasuhan, ternyata ada rasa yang berbeda ketika mengasuh anak-anak kecil dan mendidik calon pemuda. Ketika kita berhasil memegang seorang anak di 7 tahun pertamanya, maka akan jauh lebih mudah melekatkan antara jiwa ke jiwa, hati ke hati, dan mendidiknya ke depan, di usia selanjutnya. Usia 7 tahun pertama adalah penentu. Apabila kita mengenal _golden age_ pada usia 5 tahun, ternyata dalam Islam sebenarnya seluruh rentang usia manusia merupakan _golden age_. Bedanya adalah _golden age_ untuk setiap kondisi-kondisi tertentu. 

Misalnya untuk keimanan golden age 7 tahun pertama, untuk bahasa golden age 7 tahun pertama. Kemudian 7 tahun berikutnya ada lagi, ada lagi, dan seterusnya.


Sebagai orang tua, ternyata keilmuan-keilmuan tentang menjadi orang tua terhadap anak usia dini ataupun orang tua terhadap anak calon pemuda itu memiliki dinamikanya masing-masing. Hari ini kita akan membahas tentang memupuk kecintaan anak pada Allah dari usia kecil.


Saya merasakan betul tantangannya yang lebih besar dalam menanamkan keimanan,  apabila 7 tahun pertamanya tidak dipegang dengan baik. Sebab, 7 tahun pertama adalah usia emas tentang keimanan.


Islam memiliki timeline dalam mendidik dan mengasuh anak yaitu mulai 15 tahun awal, di mana anak lahir 0 tahun sampai dengan batasnya dia aqil baligh. Aqil baligh memiliki dua frasa yang digabungkan aqiil artinya dewasa secara mental, dewasa secara akal berfikir, dan sanggup untuk memikul beban. Kemudian baligh, yaitu dewasa atau matang secara biologis. 

Sehingga makna aqil baligh adalah dewasa keseluruhan, baik secara mental maupun dewasa secara biologis, yang tentunya sudah matang.


Tanda anak sudah masuk usia baligh atau dewasa secara biologis adalah, apabila perempuan dengan haidh, sedangkan laki-laki ditandai dengan mimpi basah.


Kedua frasa aqiil dan baligh harus sepaket, sebab tantangan hari ini, banyak orang yang kondisi biologisnya sudah matang yang apabila tidak dibarengi dengan kematangan berpikir, maka akan dengan mudah senang terhadap hal-hal yang menggairahkan dan mudah juga untuk disalurkan karena ia tidak memikirkan konsekuensi. Oleh sebab itu, aqil dan baligh harus selalu disatukan.


Pendidikan yang selaras fitrah ini merupakan konsep pendidikan yang selaras dengan Islam yang mengantarkan anak menjadi pemuda atau syabab.  Dalam Islam, identik dengan karya, kontribusi, dan dedikasi sehingga  diharapkan tidak banyak rentang peralihan dan supaya menjadi sosok yang berkarya, berdedikasi, juga berkontribusi.



Kenapa timelinenya adalah 15 tahun? Karena ini nanti akan dipakai untuk mempelajari bagaimana menumbuhkan rasa kecintaan anak pada Allah di rentang masa anak  0-15 tahun. Dalam prosesnya dibagi-bagi lagi menjadi: 0-2 tahun, 2-7 tahun, 7-10 tahun, 10 sampai 15 tahun. 


Jadi, yang dilakukan di setiap rentang usia adalah berbeda-beda: 
Pada usia 0-2 tahun, sebagaimana landasan ayat Qurannya susuilah anakmu dimaksimalkan sampai 2 tahun, maka usia 0 - 2 tahun ini dijadikan acuan untuk melakukan sesuatu berhubungan dengan keimanan, memupuk keimanan anak untuk cinta kepada Allah.


Lalu usia 2-7 tahun ini adalah pra-tamyiz atau sebelum tamyiz. Masuk usia 7 tahun adalah fase tamyiz. Pada fase tamyiz ini, anak dianggap sudah bisa mulai diisi, mulai berpikir logis, bernalar, dan sudah bisa berpikir runut untuk siap belajar. 


Setelah tamyiz, anak akan masuk fase mumayyiz yaitu orang yang bisa membedakan harapannya, minimal membedakan baik - buruk, benar - salah dalam level-level sederhana. Itu tanda bahwa anak kita sudah masuk mumayyiz yang sudah bisa membedakan hal-hal sederhana.


Kemudian usia 7 - 10 tahun.  Ini ada proses lagi dan usia 10-15 tahun ada proses lagi. Timeline ini Insya  Allah sudah ada landasannya yang dirumuskan oleh almarhum Ustad Hari Santoso Hasan dalam literatur pendidikan berbasis fitrah. Jadi, Insya Allah ini memudahkan untuk cepat dipahami bagi kita dalam proses mendidik anak. 


Apabila pendidikan anak kita belum terpenuhi pada usia tersebut, maka kita bisa evaluasi pembelajaran di hari ini, apa yang sudah dan apa yang belum diberikan kepada anak, padahal itu adalah hak mereka sebagai bentuk pendidikan keimanan.


Terdapat satu quotes yang mengikat pembelajaran kita hari ini yaitu ”cinta dapat melahirkan rasa takut, tapi takut tidak dapat melahirkan rasa cinta”.  


Contoh saja, kecintaan kita dengan pasangan kita yang membuat kita takut mencederai hatinya, takut mencederai kepercayaannya. 


Jadi, rasa takut itu bisa lahir dari perasaan cinta. Namun, jika sudah takut lebih dulu, maka belum tentu akan lahir rasa cinta.


Perkara cinta kepada Allah menjadi yang paling awal. Ketika bicara memupuk kecintaan Allah sejak kecil, maka fokusnya memang betul memupuk cinta. Karena nantinya, cinta itulah yang ada pada diri anak kepada Allah,  yang akan melahirkan rasa takut untuk berkhianat pada amanah kehidupan yang Allah berikan pada dirinya, rasa takut untuk mencederai perintah Allah, rasa takut untuk kepeleset berbuat maksiat. Itu semuai rasa takut yang lahir dari rasa cinta.


Dan biasanya, takut yang lahir dari rasa cinta akan membuatnya lebih menjaga sikap, lebih menjaga akhlak, dan lebih menjaga adab.


Namun, apabila kita menakut-nakuti sedari kecil untuk takut dengan zat Allah, biasanya orang tua menggunakan Allah untuk mewakili kemarahan dirinya. Misalnya,  _”jangan rebutan ya, nanti Allah marah”_. Orang tua menggambarkan Allah sebagai zat pemarah, zat yang penghukum sehingga anak akan takut.


Anak yang tumbuh dengan imaji bahwa Allah adalah zat yang menakutkan sehingga lahir rasa takut dalam dirinya itu, sulit untuk menumbuhkan rasa cinta dalam dirinya pada Allah. Sedangkan motor dari penghambaan itu harus komplit: ada cinta, ada takut. Nah, ini salah kaprahnya. Biasanya anak harus takut sama Allah jadi ditakut-takutin dan memang menakut-nakuti anak itu lebih efektif membuat dia mengikuti keinginan orang tua.


Itulah makna cinta dapat melahirkan rasa takut, tapi takut tidak dapat melahirkan rasa cinta dan itu kata kunci kita terkait menumbuhkan kecintaan anak pada Allah sedari kecil.


Pada Quran surat Ibrahim ayat 24-26 ini menjadi ayat yang membuat, kalau di saya sih, efeknya menjadi menjadi sabar. Lebih sabar ketika mengasuh dan mendidik 15 tahun itu berlaku untuk setiap anak ya, bukan hanya anak yang pertama lahir. 


_”Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan; kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh, dan cabangnya menjulang ke langit.  Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Robb-nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia, supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap tegak sedikitpun.”_


Dalam ayat ini, secara sederhana Allah mengumpamakan seorang manusia  dengan pohon. Dan pohon yang digambarkan adalah salah satunya pohon yang baik. Maksudnya yang baik di sini adalah akarnya teguh, cabangnya menjulang ke langit, dan memberikan buah pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. 


Apabila manusia itu diibaratkan pohon, maka pohon yang baik ini adalah manusia yang baik, manusia yang bagus kualitasnya. Manusia yang bagus kualitasnya akarnya teguh, akar ini serupa dengan keimanannya, keimanannya kokoh, cabangnya menjulang ke langit, pohonnya memberikan buah kepada setiap musim. 


Buah itu karya, kontribusi, dan dedikasi pada setiap musim. Artinya dia tidak kenal waktu, setiap ada kesempatan selalu memberikan manfaat dan itulah manusia yang paripurna, memiliki manfaat untuk orang lain.


Pohon yang dimaksud dalam Quran surat Ibrahim ini ayat 24-26 ini adalah pohon yang berbuah setiap musim. Manusia yang baik itu yang berbuah setiap musim. Yang berbuah setiap musim itu adalah pohon-pohon yang rata-rata tumbuhnya lama, butuh jangka waktu panjang, maintenancenya cukup effort. Hanya petani atau perkebun atau hanya yang telaten, hanya yang mau sabar yang akan bisa membantu menumbuhkan pohon dengan jangka waktu yang lama sampai dengan tumbuh buahnya. Apabila sudah tumbuh buah pertama, biasanya dia tidak bisa dihentikan, berikutnya berbuah dan berbuah. 


Artinya adalah kalau kita mau menumbuhkan manusia kecil di rumah kita, anak-anak kita yang insya Allah harapannya kelak jadi manusia terbaik, sebaiknya kita optimalkan semampu kita. Berarti kita bersiap dalam jangka waktu yang panjang dengan effort yang nggak sedikit.


Berbicara tentang memupuk kecintaan pada Allah berarti membicarakan tentang fitrah keimanan, karena yang bisa menumbuhkan rasa cinta kepada Allah itu karena ada fitrah,  khususnya fitrah keimanan. 


Setiap anak lahir dalam keadaan keimanannya yang ia pernah bersaksi bahwa Allah adalah Robnya. Tidak ada anak yang tidak cinta kepada Allah. Semua anak itu pada dasarnya cinta kepada Allah dan cinta kepada kebenaran.


Ayah dan ibu memiliki peran yang berbeda terkait dengan pendidikan fitrah keimanan. Ayah adalah pendidik akidah dan keimanan, dan ibu pendidikan akhlak. Dalam Quran,  terkait aqidah itu diwakili cuplikan kalimat atau dialognya itu oleh tokoh laki-laki. Contohnya Lukmanul Hakim. Dalam Al-Qur'an Allah sampaikan bahwa Lukmanul Hakim berkata kepada anaknya, _”Yaa Bunayya, (wahai anakku) janganlah engkau menyekutukan Allah.” Kalimat tersebut adalah kalimat aqidah yang pendidiknya  disandarkan pada ayah. 


Aqidah adalah hitam-putih, benar-salah, halal-haram, tidak ada tengah-tengah, tidak ada abu-abu. Akidah itu kaku dan harus tegas. Ayah memiliki profil yang tegas dan cenderung lebih kaku daripada ibu.


Sedangkan ibu khasnya adalah cerewet dan kecerawatan ibu hadir secara  natural. Harapannya kecerawatan ini diberikan oleh Allah kepada ibu untuk mendidik akhlak dan akhlak itu butuh pengulangan. 


Misalnya kita sebagai ibu yang mengingatkan anak untuk makan pakai tangan kanan, atau saat menguap harus ditutup. Kadang juga mengingatkan kepada anak untuk bersalaman pada om, tante, kakek atau nenek. Kecerewetan tersebut diaplikasikan untuk mendidik akhlak anak.


Membahas anak usia 0-2 tahun. Rawatlah rasa cinta dan imaji positif anak. Bahwa Rabb Allah adalah Rabb (Pencipta, Pemberi Rezeki, Pengatur alam semesta). 


Anak melihat perwakilan Allah itu dari orang tuanya. Jadi sebelum anak kenal Allah, anak kenal kita dulu sebagai orang tuannya. Bayi melihat ibunya terlebih dulu, lalu ayahnya. 


Nah, apabila ibu dan ayahnya baik maka penciptanya pasti baik. Sehingga, ketika ibu dan ayah tidak berperan baik atau banyak galaknya, sebenarnya yang paling dikhawatirkan adalah imaji anak kepada Allah sebagai penciptanya. 


Jadi, pasanglah mimik wajah yang nyaman dan ada suara yang nyaman kepada anak.


Berikutnya tentang anak yang rentang usia 3-7 tahun. Pada usia ini masih mengajarkan sama, yaitu mengenalkan kecintaan pada Allah dan ditambah mulai mengenalkan Nabi Muhammad  ﷺ adalah utusan Allah dan Islam adalah agama atau jalan hidup keselamatan, dengan cara penyampaian yang bisa diterima oleh anak, bukan cara orang dewasa. 


Beri kabar gembira kepada anak sebanyak-banyaknya, beri kabar gembira pahala atau nanti Allah akan memberi kebaikan. 


Berikan cerita kisah-kisah yang imajinya positif terhadap Allah dan Rasulullah ﷺ, dan  hindarkan dulu kisah-kisah terkait neraka, azab, Dajjal, atau kiamat. Walaupun benar, namun dahulukan cinta dulu pada Allah.

Wednesday, February 5, 2025

Terulang Lagi



"Ini aturan siapa? Apa Bapak sendiri, yang bikin aturan?" tanya sesebapak dengan angkuhnya kepada Pak Suami. Paksu yang lagi ribet melayani pembeli yang rebutan ingin segera mendapatkan gas, jadi emosi juga. Dari tadi dia sudah berusaha bersabar dengan orang-orang yang memaksa agar bisa beli padahal stok sudah habis. Eh, ini orang datang-datang malah bikin emosi. Jadi tersulut deh, gara-gara orang itu.


Ya, sore ini, kejadian yang sudah terjadi di mana-mana, orang banyak mengantre untuk beli gas melon (5 kg), akhirnya terjadi juga di rumah saya. Tadi saat pulang mengajar, hampir saja saya tidak bisa masuk ke halaman rumah sendiri gara-gara penuh motor dan orang yang antre gas. Ternyata, mereka sudah antre sejak pagi. 


Tak hanya di rumah. Tadi saat masih di sekolah, hp saya pun berdenting terus karena banyak yang menanyakan gas. Bahkan ada yang pesan juga untuk disisakan. Lha, saya mana tahu, kalau keadaan di rumah sudah se-hectic itu. Teh suami pun sampai belum habis diminum gara-gara sibuk sama orang-orang. Biasanya sudah habis dua gelas. Ini, satu saja belum habis. MaasyaaAllah.


Kami memang memiliki usaha pangkalan gas. Kejadian ini sudah yang kedua kali; banyak pembeli yang berdatangan, semua ingin mendapatkan meski hanya 1 tabung. Sedangkan stok kami hanya 300, itu pun dua hari sekali. Kemarin saja, pelanggan baru, artinya selama ini mereka tidak beli ke rumah kami, ada 200 orang. Padahal selama ini, 300 tabung itu cukup untuk para pelanggan lama saja. Dengan adanya tambahan itu, pelanggan lama jadi tertunda penyediaannya.


Banyak cerita di balik sulitnya gas ini. Kalau masyarakat menyebutnya 'langka'. Sebenarnya tidak langka, hanya saja tidak bisa dibeli di warung-warung seperti biasa. Peraturan pemerintah melarang warung menjual gas. Masyarakat harus beli langsung ke pangkalan yang sudah ditunjuk resmi. Akibat aturan ini, ada yang sampai tiga hari tidak masak, jadi harus beli lauk matang. Ada yang sampai memelas, sehingga tabung gas di dapur kami pun harus dikeluarkan. Alhasil, tukang gas tapi malah tidak punya gas dan tidak bisa masak. 



Kabar terakhir, di TV dan media sosial, Presiden memerintahkan agar peraturan itu dihapus. Apa alasannya, kurang jelas juga. Mungkin karena sudah ada kasus yang meninggal dunia saat mengantre gas. Innalillahi wa innailaihi rooji'uun. 


Walaupun media sudah mewartakan peraturan terbaru tersebut, namun di lapangan realitanya berbeda. Karena belum ada surat resmi dari pemerintah, maka banyak pangkalan gas yang belum berani menjual ke warung-warung, seperti tempat kami. Akhirnya, di sini masyarakat masih berbondong-bondong ke pangkalan. Walaupun tidak se-riweuh hari Senin, tetap saja rumah kami harus terbuka seharian, bahkan sampai malam untuk melayani masyarakat yang ingin membeli gas.


Untuk mengatur antrean, akhirnya suami membuat nomor antrean, sama seperti dulu. Yang punya nomor, berarti bisa mendapatkan gas. Dengan demikian, pelanggan lebih tertib dan lebih terpantau. Seandainya sudah melebihi kuota, maka antrean dihentikan.


Begitulah dinamika kehidupan kita di Indonesia tercinta. Semoga segala kesulitan maupun kesusahan yang kita alami, dapat menjadikan kita lebih dewasa, lebih tangguh, lebih bijaksana. Apa yang kita alami hari ini, belum seberapa dibandingkan saudara-saudara kita di Palestina. Semoga Allah selalu memudahkan urusan kita semua, memberikan kekuatan kepada kita dalam menghadapi dan menjalani segala ketentuannya. Aamiin yaa rabbal'aalamiin 🤲🏻.







Monday, February 3, 2025

Review "Rasa"



Judul buku: Rasa
Penulis: Tere Liye 
Penerbit: Sabakgrip
Cetakan: 12, Mei 2012
ISBN: 978-623-97262-3-2
Tebal buku: 421 hlm.


Bismillah 



Lin, yang nama lengkapnya Linda, adalah seorang gadis SMA yang tidak biasa. Selain belajar, dia pun harus berjuang untuk bekerja part time karena ayahnya tidak ada. Kemana ayahnya? Itulah yang menjadi salah satu rahasia di buku ini.



Walaupun sambil bekerja, Lin tetap berprestasi di sekolahnya, bahkan selalu menduduki ranking 2. Ranking satunya sudah menjadi jatah tetap sahabatnya, Jo. Ya, mereka tetap bersahabat walaupun dalam nilai rapor, mereka bersaing. Persahabatan mereka sudah terkenal di seluruh warga sekolah mereka. Bila di sana Lin, pasti ada Jo.



Namun, hidup tak selamanya mulus. Begitu pun kehidupan Lin. Walaupun memang selama ini, kehidupannya bisa dibilang sudah penuh dengan persoalan hidup, kini persahabatan mereka yang diuji.



Lin bertemu sahabat kecilnya. Dua orang sekaligus. Pastinya bikin Lin bahagia. Yang satu perempuan, yang sekarang juga satu kelas dengannya. Satu lagi laki-laki, yang sekarang ternyata sudah lebih dewasa dan tentu saja, tampan. 



Ternyata pertemuan kembali itu, tidak hanya memberikan kebahagiaan, namun juga masalah. Masalah keluarga, juga masalah persahabatan. 



Namanya juga hidup, pasti penuh masalah. Sudah pusing dengan kedua masalah tersebut, masih ditambah lagi dengan masalah pekerjaan. Walaupun begitu, Lin tetap menjalani hidup dan berusaha profesional. Dan akhirnya, masalah pekerjaan bisa dia lalui dengan selamat dan sukses. Bahkan dia diangkat menjadi murid seseorang yang telah diidolakan sejak kecil, sejak ia menekuni hobi yang kini menjadi pekerjaannya.



Selalu keren, buku Tere Liye ini. Lin seakan menjadi embun di kegersangan dunia remaja yang lebih banyak berita negatif daripada positifnya. Semoga banyak pembaca yang bisa belajar dari keteguhan dan semangat Lin. Ketidakutuhan keluarga bukan menjadi rintangan untuk mendapatkan kesuksesan. Walaupun harus sekolah sambil bekerja, prestasi tetap bisa diraih, asal ada niat dan tekad, serta kemauan. 


Hidup memang harus berjuang, tidak bisa hanya sekadar rebahan dan scroll sosmed. 

"Nikmati proses belajarnya, bukan hasilnya." 
Salah satu quote yang keren dan sangat memotivasi. Terutama untuk mereka yang semangat belajarnya kurang. Belajar bukan sekadar untuk mendapatkan nilai dan ijazah. Lebih dari itu.