Showing posts with label Review Buku. Show all posts
Showing posts with label Review Buku. Show all posts

Monday, February 3, 2025

Review "Rasa"



Judul buku: Rasa
Penulis: Tere Liye 
Penerbit: Sabakgrip
Cetakan: 12, Mei 2012
ISBN: 978-623-97262-3-2
Tebal buku: 421 hlm.


Bismillah 



Lin, yang nama lengkapnya Linda, adalah seorang gadis SMA yang tidak biasa. Selain belajar, dia pun harus berjuang untuk bekerja part time karena ayahnya tidak ada. Kemana ayahnya? Itulah yang menjadi salah satu rahasia di buku ini.



Walaupun sambil bekerja, Lin tetap berprestasi di sekolahnya, bahkan selalu menduduki ranking 2. Ranking satunya sudah menjadi jatah tetap sahabatnya, Jo. Ya, mereka tetap bersahabat walaupun dalam nilai rapor, mereka bersaing. Persahabatan mereka sudah terkenal di seluruh warga sekolah mereka. Bila di sana Lin, pasti ada Jo.



Namun, hidup tak selamanya mulus. Begitu pun kehidupan Lin. Walaupun memang selama ini, kehidupannya bisa dibilang sudah penuh dengan persoalan hidup, kini persahabatan mereka yang diuji.



Lin bertemu sahabat kecilnya. Dua orang sekaligus. Pastinya bikin Lin bahagia. Yang satu perempuan, yang sekarang juga satu kelas dengannya. Satu lagi laki-laki, yang sekarang ternyata sudah lebih dewasa dan tentu saja, tampan. 



Ternyata pertemuan kembali itu, tidak hanya memberikan kebahagiaan, namun juga masalah. Masalah keluarga, juga masalah persahabatan. 



Namanya juga hidup, pasti penuh masalah. Sudah pusing dengan kedua masalah tersebut, masih ditambah lagi dengan masalah pekerjaan. Walaupun begitu, Lin tetap menjalani hidup dan berusaha profesional. Dan akhirnya, masalah pekerjaan bisa dia lalui dengan selamat dan sukses. Bahkan dia diangkat menjadi murid seseorang yang telah diidolakan sejak kecil, sejak ia menekuni hobi yang kini menjadi pekerjaannya.



Selalu keren, buku Tere Liye ini. Lin seakan menjadi embun di kegersangan dunia remaja yang lebih banyak berita negatif daripada positifnya. Semoga banyak pembaca yang bisa belajar dari keteguhan dan semangat Lin. Ketidakutuhan keluarga bukan menjadi rintangan untuk mendapatkan kesuksesan. Walaupun harus sekolah sambil bekerja, prestasi tetap bisa diraih, asal ada niat dan tekad, serta kemauan. 


Hidup memang harus berjuang, tidak bisa hanya sekadar rebahan dan scroll sosmed. 

"Nikmati proses belajarnya, bukan hasilnya." 
Salah satu quote yang keren dan sangat memotivasi. Terutama untuk mereka yang semangat belajarnya kurang. Belajar bukan sekadar untuk mendapatkan nilai dan ijazah. Lebih dari itu.


Tuesday, July 23, 2024

Review "Rindu"

Judul buku: Rindu
Penulis: Tere Liye
Penerbit:
Cetakan:
ISBN:
Tebal buku:



Bismillah



Novel ini bukan yang terbaru, tetapi saya baru berkesempatan untuk membacanya sekarang. Sebenarnya sudah lama sekali ingin membacanya. Alhamdulillaah, akhirnya kesampaian juga. 


Novel ini termasuk novel religi, menurut saya. Banyak nasihat agama yang akan kita temui di dalamnya. Selain itu, mengapa religi, karena cerita yang diangkat tentang perjalanan menunaikan ibadah haji dengan kapal laut, dengan latar belakang tahun 1930-an. Perjalanan yang panjang dan lama karena memerlukan waktu 9 bulan. MaasyaaAllah.



Banyak tokoh yang disorot dalam "Rindu" ini. Ada tokoh anak-anak seperti Anna dan Elsa,  tokoh pemuda seperti Om Kelasi, juga tokoh agama yang dihormati oleh seluruh penghuni kapal, Tuan Gurutta Ahmad Karaeng. Yang akan dimintai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan para penumpang kapal. 



Ada empat pertanyaan besar yang dibawa dalam kapal itu. Pertanyaan yang ternyata mengganggu dan sempat membuat ragu sang empunya. Ragu, akankah ibadah haji mereka akan diterima Allah atau tidak. Ragu akan takdir yang telah ditetapkan kepada mereka.



Walau agak berat pertanyaan-pertanyaan tersebut, tetapi suasana terasa lebih cair dan ringan dengan kehadiran Anna dan Elsa yang selalu riang gembira, walaupun ada kalanya bertengkar juga. 



Selain pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban, perjalanan itu juga mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Misalnya saja saat mereka berlabuh di Surabaya. Ketika beberapa penumpang turun untuk berbelanja di salah satu pasar di Surabaya, ternyata ada serangan para pejuang yang menargetkan para tentara Belanda. Kejadian ini sempat merisaukan Daeng Andipati, ayah Anna, karena Anna sempat hilang.


Belum lagi ditambah masalah kerusakan mesin yang menyebabkan kapal harus mematikan mesinnya. Karena mesin kapal mati, maka mereka terpaksa terombang-ambing di lautan dan menunggu bantuan datang dari kapal di belakangnya yang menuju tujuan yang sama.



Alhamdulillah, matinya mesin akhirnya bisa diatasi. Ini berkat si Om Kelasi yang memang dari kecil sudah hidup di laut dan sudah punya jam berlayar yang tinggi.



Bahaya lainnya adalah saat kapal tersebut diserang oleh segerombolan bajak laut yang menyamar sebagai nelayan yang kecelakaan dan membutuhkan bantuan. Setelah dibantu dan dinaikkan ke atas kapal, ternyata mereka malah menyerang dan menguasai kapal yang penumpangnya lebih dari seribu. 



Sedangkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di antaranya berasal dari guru mengaji. Ya, saat berlayar itu, anak-anak yang ikut dalam perjalanan tersebut tetap mendapatkan kesempatan belajar. Di pagi hari, mereka sekolah dan belajar bahasa Belanda, ilmu sosial, ilmu alam, dan matematika. Di sore hari, mereka belajar mengaji. 



Pertanyaan juga muncul dari Daeng Andipati, seorang tokoh Makassar yang berpengaruh sehingga sering dimintai pendapat oleh penumpang yang lain dan kapten kapal. Dialah ayah Anna dan Elsa. Orang yang dari luarnya terlihat bahagia dan sempurna. Kaya, memiliki istri yang cantik, dan anak-anak yang sehat dan cerdas. Namun ternyata, dia pun menyimpan masalah yang tidak kecil. 



Pertanyaan lainnya justru muncul dari Sang Gurutta, sang ulama yang menjadi rujukan semua orang di kapal tersebut. Dia yang mempunyai kenangan pahit karena kehilangan orang-orang yang dicintainya, selalu berusaha menghindar kontak fisik dengan penjajah. Dia lebih suka berjuang secara damai, yaitu melalui tulisan. Melalui buku-buku yang ditulisnya. 



Bagaimanakah pertanyaan-pertanyaan itu terjawab? Bagaimanakah mereka mengatasi mesin yang mati dan para bajak laut? 
Temukan di novel "Rindu". Salah satu karya terbaik Tere Liye yang telah membuat saya terharu biru.





Monday, July 8, 2024

Review "Meet the Senna's"



Judul buku: Meet the Senna's; Bahkan Matematika pun Tak Serumit Cinta
Penulis: Orizuka
Penerbit: teen@noura
Cetakan: 2013
ISBN: 978-602-7816-66-4


Bismillah


Alhamdulillaah, bisa bertemu buku karya Orizuka lagi. Dan, alhamdulillaah bisa baca gratis di Ipusnas; perpustakaan digital. 



Saya senang membaca buku-buku Orizuka karena tulisannya renyah dan hampir tidak ada adegan berbahaya. Mirip buku-buku Tere Liye, aman untuk semua kalangan. Tapi memang, buku-bukunya lebih cocok untuk kalangan remaja. Meskipun begitu, saya masih bisa menikmatinya. Jadi berasa muda lagi.



Buku "Meet the Senna's" ini banyak humornya, tetapi juga banyak yang menegangkan. Kenapa? Karena si tokoh utama, yang katanya tidak terlalu cantik, harus les privat dengan mahasiswa. Guru privat itu teman kakaknya. Cowok ganteng tapi galaknya luar biasa, kalau sedang mengajar. Tetapi kalau berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain, dia sangat ramah. Sangat bertolak belakang.



Meskipun galak, Logan, nama guru privat itu, menjadi semangat tersendiri untuk Daza. Dia jadi semangat belajar matematika. Padahal gurunya galak, ya. Tapi, mungkin karena ketampanannya, jadi semangat. Bahkan, saat guru tersebut tidak datang mengajar dan hanya memberikan tugas, Daza mengerjakannya dengan semangat. Sampai-sampai, semua buku latihan soal dikerjakannya. Tadinya sih, karena ingin show up aja, biar dikira rajin. Eh, lama-kelamaan jadi ketagihan. Saat dia bengong, tidak ada kerjaan, maka mengerjakan soal matematika menjadi solusinya.



Keren, ya, bila semua pelajar seperti itu. Mengisi waktu luang dengan berlatih soal. Pasti jadi anak genius semua. 



Namanya juga novel remaja, pasti tak jauh dari jatuh cinta. Begitu pula novel ini. Di satu sisi, bagus ya, menjadi inspirasi bahwa kita tuh, harus pinter, biar siap menghadapi masa depan. Di sisi lain, memang, kehidupan remaja selalu dibumbui dengan cinta. Maklumlah, masa pubertas memang memiliki salah satu ciri, tertarik dengan lawan jenis. Alhamdulillaah, masih normal. Hanya, perlu diarahkan saja. 


Lama kelamaan, Daza suka dengan gurunya, Logan. Tapi, dia masih bisa menutupi perasaannya. Padahal, di sekolah, ada kakak kelas yang menyukainya. Hebatnya, kakak kelas yang bernama Dalas itu, rela melakukan apa pun demi mendapatkan Daza, termasuk melakukan ritual tes seleksi yang dilakukan oleh keluarga Daza. Ya, karena Daza anak perempuan satu-satunya, maka calon pacarnya pun harus yang terbaik. Jadi, harus diseleksi dulu oleh anggota keluarga yang lain. Wah, wah, wah, padahal cuma jadi pacar ya, belum ke jenjang pernikahan. Itulah salah satu kekonyolan keluarga Daza, di samping banyak kekonyolan lainnya. 



Ketika membaca novel ini, kita bisa tertawa karena Daza yang lucu, atau juga karena penulisnya yang lucu sehingga piawai merangkai kata-kata yang membuat pembaca bisa tertawa. Tetapi, kalau saya banyak tegangnya. Mungkin seperti perasaan Daza saat les matematika dengan Logan. Lebih banyak ketegangan yang terjadi, sehingga membuat Daza sering gagal fokus. 



Jadi, novel ini oke sih, untuk sekadar melepas penat, menjadi hiburan yang ringan. Apalagi halamannya tidak terlalu tebal, jadi bisa selesai dalam sekali duduk. 

Tuesday, May 28, 2024

Review "Ayah, Aku Rindu"




Judul buku: Ayah, Aku Rindu
Penulis: S. Gegge Mappangewa
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: Maret 2020
ISBN: 978-623-253-009-6
Tebal buku: 192 hlm.


Bismillah


Senang sekali bisa menemukan novel karya Gegge ini. Saya selalu suka dengan novel-novelnya. Selain berisi petuah-petuah yang bermanfaat, juga mengusung budaya Sulawesi sehingga saya pun bisa mengetahui adat istiadat di sana. Jadinya, membaca novel sekaligus belajar kebudayaan yang ada di Sulawesi. 


Selain kedua hal tersebut, membaca novel karya Gegge ini juga seru karena tokoh-tokohnya adalah remaja dan menceritakan kehidupan remaja. Walaupun bercerita tentang kehidupan remaja, tetapi tidak selalu tentang percintaan. Topik yang diusung biasanya tentang keluarga. Seperti novel yang satu ini. Dari judulnya saja, kita sudah bisa menebak bahwa novel ini pasti tentang seorang ayah.



Namanya Rudi, seorang siswa SMA kelas 12. Dia hidup bahagia dengan kedua orang tuanya di rumah yang penuh dengan cinta, kata ibunya. Memang, mereka keluarga bahagia dan hidup berkecukupan walaupun ayahnya hanya lulusan SMP. Tetapi, ayahnya adalah seorang pekerja keras sehingga sukses memiliki peternakan ayam petelur. Ayamnya ada ribuan. Setiap hari, ayahnya sibuk mengurusi bisnisnya, sedangkan ibunya sibuk melayani para pembeli telur.



Hingga datanglah bencana flu burung yang menyebabkan kematian ayam-ayam mereka. Kerugian pun tak dapat dielakkan. Tetapi, bencana itu belum seberapa dibandingkan musibah yang datang kemudian. Yaitu, meninggalnya ibu Rudi. Ibu yang memang sudah memiliki penyakit kanker itu, akhirnya kembali kepada Allah untuk selamanya.



Ujian yang datang bertubi-tubi itu ternyata melemahkan ayah Rudi, Pak Gilang. Mereka pun pindah ke rumah nenek Rudi karena ayahnya tidak ingin terus terkenang dengan mendiang istrinya. Sejak itulah, ayahnya berubah menjadi pendiam dan tidak peduli dengan Rudi. Puncaknya, ayahnya ingin membunuh Rudi karena ia dianggap sebagai pencuri.



Tentang anak yang dibunuh oleh ayahnya karena diduga mencuri ini, ada kaitannya dengan leluhur orang Sulawesi, yaitu Nenek Mallomo. Seorang yang sangat bijaksana dan bisa diandalkan. Bila ada Nenek Mallomo, segala kesulitan menjadi mudah. Nah, ayah Rudi seperti kesurupan menjadi Nenek Mallomo. Ternyata, depresi karena ditinggal istri tercinta, membuat ayahnya gila sehingga terobsesi untuk membunuh ayahnya sendiri.



Awalnya, Rudi tidak menganggap masalah penyakit ayahnya. Apa pun keadaan ayahnya, ia akan bersabar merawatnya asalkan bisa selalu bersama. Dia merasa sudah tidak punya siapa-siapa kecuali sang ayah. Tetapi karena ayahnya mulai membahayakan orang lain, orang yang juga dekat dengan Rudi dan telah banyak membantu Rudi, terpaksa ia merelakan ayahnya dibawa ke rumah sakit jiwa. 



Bagaimana kelanjutannya? Silakan baca sendiri, dijamin penasaran. Novel ini termasuk novel yang inginnya sekali duduk langsung selesai supaya tidak penasaran dengan ending-nya. Apakah happy ending atau sad ending



Novel ini tersedia di Ipusnas, perpustakaan digital gratis yang bisa dibaca kapan saja. Novel ini sangat cocok untuk para remaja, agar lebih mencintai dan menghormati orang tua serta gurunya. Bagaimana pun keadaan orang tua kita, mereka adalah orang yang telah banyak berjasa dan, tentu saja menjadi salah satu pintu surga kita. 














Tuesday, May 21, 2024

Review "Kepada Utara"





Judul buku: Kepada Utara
Penulis: Shabrina WS
Penerbit: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 
Cetakan: 2023
ISBN: 978-623-118-657-7
Tebal buku: 266 hlm


Bismillah



Seperti dapat durian runtuh, saat menemukan dan bisa membaca buku ini. Alhamdulillaah, lihat postingan Mba Shabrina di Facebook, padahal jarang buka medsos yang satu ini, membagikan link buku ini. Dan, ternyata bisa diunduh gratis. Benar-benar rezeki nomplok. MaasyaaAllah, alhamdulillaah. Apalagi sudah sebulan ini tidak baca novel. Seperti bertemu oase di tengah padang pasir yang sangat panas.



Dan, kalau membaca novel, saya suka yang happy ending, biar nggak sedih. Seperti novel "Kepada Utara" ini. Di tengah perjalanan, sempat pesimis karena hawa-hawanya mau sad ending. Tapi ... Baca sendiri lah ya, biar nggak penasaran. Dijamin ketagihan. Iya, buku ini membuat saya ketagihan baca dan enggan berhenti sebelum tamat. Alhasil, dalam waktu kurang dari dua hari, novel ini selesai saya baca. Tetapi juga karena bukunya tidak terlalu tebal, jadi cepat selesai. Mungkin karena ditujukan untuk pelajar, jadi tidak terlalu tebal. 



Setting cerita ini adalah kehidupan anak SMA. Je, yang memiliki nama lengkap Selena Jati, seorang siswa yang suka menulis dan bulu tangkis. Tapi, untuk yang terakhir ini, dia sekadar suka tetapi tidak bisa melakukannya. Tapi kalau menulis, dia jagonya. Puisi dan tulisannya banyak dimuat di majalah sekolahnya.



Tanpa diduga, ternyata Je satu sekolah dengan seseorang di masa lalunya, saat SMP. Dia adalah laki-laki yang diam-diam telah mengambil hatinya, padahal tak pernah ada komunikasi normal di antara mereka. Tak seperti mereka yang berteman atau bersahabat. Dingin. Dan, Je mengaguminya dalam diam. Hingga tiba saatnya, lelaki yang satu tahun di atasnya itu lulus sekolah dan melanjutkan SMA di luar kota. Saat itu, dia pun hanya bisa menangis dalam diam. 



Kini, dia bertemu kembali dengan lelaki itu, di SMA yang baru saja dia injak ini. Akankah pertemuan ini berdampak buruk pada niatnya yang benar-benar ingin serius belajar seperti pesan orang tuanya? Gemuruh rasa di dada Je. 



Namanya juga satu sekolah, perjumpaan pasti tak bisa dielakkan. Dari pertemuan yang tiba-tiba tanpa diduga dan disengaja, hingga akhirnya sering bertemu karena Je harus menemani temannya berlatih bulu tangkis di tempat yang sama dengan lelaki itu. Ya, lelaki itu memang salah seorang atlet bulu tangkis andalan sekolah mereka. 



Sebenarnya, lelaki yang bernama Utara itu, juga memendam rasa terhadap Je, yang sering dipanggilnya dengan "Sel". Namun, karena ketaatannya kepada Allah dan kepada kakaknya sebagai pengganti orang tua, dia pun menjaga diri dari berdekatan dengan lawan jenis. Sama seperti Je yang dilarang berpacaran oleh ayahnya. Mereka sama-sama menahan diri dan memendam rasa, entah sampai kapan.



Karena mereka semua hanya berkutat dengan perasaan masing-masing, tak ada orang lain yang tahu, Je pun harus menahan cemburu kepada temannya yang akhirnya menjadi pasangan Utara saat lomba Piala Kota. Dan, celakanya, teman Je yang bernama Greysia itu, sengaja bersekolah di sana karena ingin dekat dengan Utara. Konflik antara mereka pun harus terjadi, sampai-sampai memengaruhi penampilan Greysia saat lomba berpasangan dengan Utara. Betapa perasaan kita itu, sangat berpengaruh dengan kinerja kita. 


Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Tiba saatnya Utara lulus SMA. Akankah peristiwa saat SMP dulu, terulang kembali? Akankah Utara pergi begitu saja hingga meninggalkan Je yang hanya bisa menangis dalam diam?



Ah, tidak seru kalau tidak baca sendiri. Dijamin, nggak bisa tahan untuk tidak segera menyelesaikan bacaan. Karena setiap babnya selalu membuat penasaran. Apalagi, apalagi yang akan terjadi?



Oiya, Mba Shabrina ini nyastra banget, menurut saya. Bahasanya indah, penuh dengan majas yang kadang membuat kening berkerut saat mencernanya. Tapi, saya suka. Puisinya juga bagus-bagus. Eh, puisinya Je, maksudnya ya🤭



                  Sementara
Sementara menanti hujan tiba
ambil cangkirmu
kita seduh teh dan biarkan aromanya
menyatu dengan udara
hujan tak pernah salah alamat
karena kepergiannya adalah
alasan kedatangannya
Jadi, sementara menunggu hujan
 yang mencari hari baiknya mendatangi
kita pilih cangkirmu,
dan geser kursi kayu tua
ke dekat jendela
kita tunggu hujan tiba,
bersama-sama.








Saturday, February 3, 2024

Reviu "Teruslah Bodoh, Jangan Pintar"


Judul buku: Tetaplah Bodoh, Jangan Pintar
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabakgrip 
Cetakan: 2024
ISBN: 
Tebal buku:


Bismillah


Novel ini sarat dengan kritik sosial berkaitan dengan apa yang sedang terjadi di Indonesia saat ini. Tentang pilpres, hilirisasi nikel, meledaknya smelter. Benar-benar merupakan potret Indonesia hari ini. 



Dengan latar belakang sebuah ruangan yang dijadikan tempat persidangan tertutup dan rahasia, novel ini memang bukan sekadar cerita hiburan. Membacanya, membuat kening kita berkerut dan emosi kita pun ikut meningkat. Ketidakadilan dan kesewenang-wenangan begitu nyata digambarkan dalam setiap paragrafnya. Tak heran bila novel ini ditandai dengan 18+. Bukan dalam arti mengandung adegan yang tidak senonoh, seperti kebanyakan produk lain yang menggunakan label itu, tetapi karena alur dan cerita novel ini memerlukan pemikiran orang dewasa. Untuk anak kecil, tidak cocok dan belum waktunya. Mending baca serial petualangan Bumi atau anak-anak Mamak.


Diawali dengan kisah anak-anak sebuah desa yang baru pulang dari lomba sepak bola antarkampung, cerita ini dari pertama sudah membuat kita penasaran. Apa hubungannya dengan judul? Tapi, ya memang begitu, Bang Tere Liye ini. Pandai membuat pembaca penasaran, sehingga ingin cepat-cepat menyelesaikan bacaannya. 



Kisah tentang proyek penambangan yang, ternyata banyak kisah pilu di baliknya. Proyek yang sekilas seperti mendatangkan berbagai macam keuntungan seperti modernisasi, lapangan kerja, dan perbaikan ekonomi. Tetapi kenyataannya tidak seindah dan semanis itu. Banyak cerita pilu di balik gemerlapnya hasil tambang dari bumi Indonesia yang kaya raya.


Salah satunya adalah tenggelamnya sang anak berbakat di kolam bekas galian tambang yang sudah dipenuhi oleh air hujan. Hal ini terjadi juga di kampung saya. Di sini, banyak danau bekas galian pasir yang tidak diberi pagar pengaman. Sudah beberapa orang yang tenggelam dan berakhir meninggal. Dan, pihak pemerintah tidak melakukan tindakan apa pun untuk mencegah agar kecelakaan seperti itu tidak terjadi lagi. 


Kalau di novel tersebut, ada upaya penyelidikan yang dilakukan polisi. Namun, harus terhenti karena ulah beberapa oknum. Dan, agar warga tidak mengusut terus, maka berbagai bansos dan sembako digulirkan. Agar warga diam. Hanya segitu harga nyawa seorang generasi penerus bangsa. 



Dan, beberapa kisah lainnya. Juga tentang tenaga asing yang mendapatkan gaji beberapa kali lipat dibandingkan tenaga lokal. Pun, tentang diskriminasi dalam perlakuan dan perlindungan tenaga kerja. Kok bisa ya? Orang asing lebih diutamakan daripada bangsa sendiri, yang notabene juga saudara sendiri. 


Yang paling menarik, tentang smelter yang meledak. Tentang harga nikel di pasaran dunia. Kok ya sama dengan berita yang sedang trending topic saat ini. Ketika membaca berita itu, otomatis otak ini langsung mengaitkannya dengan cerita di novel ini. Semoga dengan membacanya, banyak orang yang tercerahkan dan banyak pejabat yang sadar serta segera bertindak memperbaiki keadaan negeri ini. Aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻







Friday, January 26, 2024

Review "Sesuk"




Judul buku: Sesuk
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabakgrip
Cetakan: - (terbit 2022, kalau tidak salah)
ISBN: 978-623-99878-8-6
Tebal buku: 329 hlm


Bismillah 


Tokoh utama buku ini memang seorang anak perempuan kelas 6 SD. Namun, sejatinya novel ini, menurut saya, merupakan sentilan buat para orang tua. Jadi, saya pun merasa begitu, diingatkan secara halus melalui novel ini. Astaghfirullah. 


Gadis, anak perempuan itu, tinggal bersama ayah, ibu, dan dua adiknya; Bagus dan Ragil. Ayahnya seorang pengusaha sukses yang selalu sibuk sehingga jarang berkumpul dengan anak-anaknya. Ibunya? Sama saja sibuknya karena dia seorang aktris sekaligus penyanyi terkenal yang memiliki jutaan follower. 


Karena suatu hal, keluarga itu harus pindah rumah ke sebuah kampung, tepatnya di sebuah rumah kuno di sebuah bukit di atas perkampungan. Rumah itu besar dan memiliki dua lantai, serta pekarangan yang luas, layaknya sebuah villa atau rumah-rumah di desa.



Meskipun terbiasa hidup di kota dengan fasilitas yang serba mewah dan lengkap, Gadis tidak sulit beradaptasi di lingkungan barunya. Segera saja, ia memiliki teman baru. Apalagi, Gadis adalah anak yang sopan dan santun. Siapa pun pasti suka berteman dengannya. 


Kenyataannya, setelah beberapa waktu tinggal di sana, tak semua orang menyukainya. Apalagi setelah beberapa kejadian yang membuat para warga marah. Gadis dan keluarganya, yang terkenal ramah itu, mulai dibenci beberapa warga. Bahkan, mereka ingin keluarga tersebut meninggalkan desa mereka. Mereka dianggap sebagai pembawa sial dan malapetaka.


Kejadian-kejadian aneh itu berawal dari kemunculan seorang anak laki-laki kecil, seumuran adiknya, Bagus. Bahkan perawakannya pun sangat mirip, sehingga para warga yakin bahwa Bagus lah sang pembawa masalah itu. 


Lalu, berbagai kejadian aneh pun mulai bermunculan. Namun, Gadis justru merasa tertantang untuk mencari tahu penyebab semua keanehan itu. Walaupun para warga bersikeras untuk mengusir mereka, Gadis dan keluarganya tetap ingin bertahan di desa itu. Nah, akankah mereka bisa mengatasi semua masalah itu dan tetap diizinkan tinggal di desa tersebut?


Silakan baca bukunya, ya. Dijamin tidak mau berhenti membaca sebelum sampai halaman terakhir. Hati-hati, ada aroma horor di buku ini. Meskipun bukan karena hantu atau setan seperti di buku-buku horor lainnya. Selamat membaca dan bersiap untuk uji adrenalin 😍



Sunday, January 21, 2024

Reviu "Surat dari Anak-anak Gaza"


Judul buku: Surat dari Anak-anak Gaza
Penyusun: Soeripto, S.H.
Penerbit: Kayyis
Cetakan: 2023
ISBN: 978-623-09-6962-1
Tebal buku: xiv + 114 hlm.


Bismillah


Hari ini, sudah 100 hari lebih, Palestina dihancurluluhkan oleh Israel. Ribuan anak dan warga syahid, menjemput surga Allah.
Masjid, rumah sakit, kamp pengungsian hancur tak pandang bulu. Entah apa yang ada dalam pikiran Israel laknatullah 'alaih.


Sedih dan tak berdaya, saat melihat pemberitaan tentang apa yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina. Hanya bisa mendoakan, semoga Allah segera memberikan kemerdekaan kepada mereka. Terbebas dari serangan Israel, hidup damai bersama Masjid Al Aqsha tercinta.


Buku Surat dari Anak-anak Gaza ini, sebagaimana judulnya, berisi sekitar 100 surat dari anak-anak Gaza. Penyusunan suratnya dibagi ke dalam 4 bab, yaitu Kondisi, Perasaan, Harapan, dan Cita-cita.


Meskipun dibagi ke dalam beberapa bab, secara garis besar, isi suratnya sama. Tentang harapan dan cita-cita mereka. Sebagian besar mereka ingin menjadi syuhada dan penghafal Al-Qur'an. MaasyaaAllah. Tak heran bila di saat kondisi yang tidak sedang baik-baik saja, mereka tetap semangat menghafal Al-Qur'an. Duh, apa kabar kita di sini? Di negara yang aman dan damai, tapi belum juga tergerak untuk menghafal Al-Qur'an. Astaghfirullah.


Sesuai dengan judul babnya, Kondisi menceritakan keadaan dan situasi mereka dan juga negeri mereka saat ini. Yang pastinya, ancaman bom dan rudal ada setiap saat. Namun, mungkin karena sudah terbiasa, mereka bahkan tidak takut. Seperti bunyi salah satu surat pada halaman 6.


"Pesawat-pesawat F-16, pesawat pengintai, dan pesawat Apache selalu menginspeksi kami, menghujani kami dengan bom fosfor mematikan, melempari kami dengan rudal dan mortir.

Aku benci Zionis. Mereka menghancurkan masjid-masjid tempat kami menghafal Al-Qur'an."


Pada bab Perasaan,  di sana diceritakan bagaimana perasaan anak-anak Gaza selama ini. Hidup dalam ketakutan, kesedihan, dan juga kelaparan. Dikabarkan, saat ini penduduk Gaza tidak hanya menghadapi ancaman bombardir, tetapi juga ancaman kelaparan. 


Namun, ada juga yang merasa bangga, seperti diungkapkan oleh Muhammad Alyan. 


"Aku bangga, tenang, dan merasa terhormat ketika Zionis menyerang kami di Gaza. Sebab, kami berada di bumi tempat Rasulullah melakukan Isra' Mi'raj. Aku bangga karena aku sedang membela kehormatan umat Islam. Aku juga merasa terhormat karena dari sekian banyak umat Islam, Allah memilih kami untuk mempertahankan Masjidil Aqsha."


MaasyaaAllah, perasaan yang sangat luar biasa, muncul dari keimanan yang luar biasa juga, tentunya. Memang, anak-anak Gaza, tidak sama dengan anak-anak di bumi mana pun. Mereka memiliki keimanan yang sangat kuat, ketabahan yang sangat luar biasa. Itu semua hasil didikan dari para ibu yang juga sangat luar biasa. 


Ya, ibu-ibu Gaza sangat berbeda juga. Walaupun dalam keadaan tidak baik-baik saja, dalam ancaman bombardir dan juga kelaparan, serta kedinginan, mereka tetap semangat menghafal Al-Qur'an. Mereka tetap semangat mendidik anak-anak mereka untuk menghafal Al-Qur'an. Tak heran, bila mereka sangat kuat dan tangguh. Semoga kita, terutama saya, bisa meniru mereka. Aamiin yaa rabbal'aalamiin.

Friday, January 12, 2024

Review "Si Anak Savana"

Judul buku: Si Anak Savana
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabakgrip
ISBN: 978-623-97262-2-5
Cetakan: Agustus 2022
Tebal buku: 382 hlm

Bismillah


Satu kata untuk buku ini. Seru! 
Alhamdulillah, tidak menyesal sudah bela-belain membeli buku ini untuk menemani liburan anak-anak. Selain buku ini, saya juga membeli "Bibi Gill". Tapi, tetap, buku ini yang paling seru.


Dari awal cerita saja, kita sudah dibuat penasaran dengan hilangnya sapi Loka Nara yang tanpa jejak. Misterius. Dan, kejadian itu diikuti dengan kehilangan sapi-sapi yang lain, yang semuanya juga misterius. Hilang begitu saja. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Tidak ada jejak pula yang bisa memberikan petunjuk ke mana sapi-sapi itu dibawa pergi oleh si pencuri.


Itu masalah pokok yang sepertinya jadi masalah sampingan bila kita mengikuti tiap bab. Dalam setiap bab ada masalah tersendiri yang juga seru sehingga kadang lupa dengan pokok permasalahan; sapi hilang. 


Yang membuat buku ini seru, tentu kehidupan anak-anak Savana yang diangkat ke dalam cerita ini. Bagaimana persahabatan Ahmad Wanga, sang tokoh utama, bersama teman-teman sekelasnya sekaligus sepermainan. 


Tak kalah seru pula, bagaimana mereka bertahan hidup di Padang Savana. Mencari air ke telaga yang jauh dari perkampungan mereka, menonton balap kuda yang tak sekadar balapan pada umumnya. 


Selain seru, buku ini juga bermutu dan bergizi karena tak melupakan adab dan akhlak seorang muslim. Juga bagaimana seharusnya kita memegang prinsip keislaman kita. Tidak hanya dalam beribadah kepada Allah, tetapi juga dalam segala aktivitas kehidupan kita, tidak dipisah-pisahkan. 


Semua cerita dalam buku ini, terwakili dalam puisi yang, dalam cerita itu, ditulis oleh Sedo. Salah seorang teman Wanga yang telah yatim piatu dan hidup hanya berdua dengan adiknya. 

Anak Savana

Apa yang kau lihat di savana?
Rerumputan?
Satu-dua pohon yang meranggas?
Atau sapi dan kuda yang tengah merumput?

Apa yang kaurasakan ketika di savana?
Panas?
Udara kering yang membuat dahaga?
Atau semilir angin yang membuai?

Kalau kau tanya aku
Maka aku jawab begini:
Aku melihat ketangguhan di savana
Pada rumput yang kering, berwarna cokelat, terinjak
Tapi besok-besok tetap ada, menghijau kembali saat diguyur hujan

Aku merasakan hidup yang bermanfaat
Menghidupi sapi dan kuda
Membuat kau bisa duduk memandang
Keindahannya

Kalau kau tanya aku,
Aku melihat dan merasakan itu
Adalah masa depanku
Karena aku anak savana


Tuesday, July 26, 2022

Review "Sagaras"

Judul buku: Sagaras
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabakgrip
Cetakan: 4, Mei 2022
ISBN: 978-623-97262-5-6
Tebal buku: 384 hlm


Bismillah


Buku ke-13 serial Bumi ini menceritakan tentang petualangan Ali, Raib, Seli, plus Master B alias Batozar dalam mengungkap misteri orang tua Ali. Siapa sebenarnya Ali, siapa orang tuanya dan ada di mana. Misteri itu membuat Ali nekat mendatangi tempat yang dihindari oleh petualang sekaliber Batozar.


Kata kuncinya adalah Sagaras. Namun, letak persisnya tidak ada yang tahu. Berdasarkan catatan perjalanan Batozar, Ali berusaha pergi sendiri mendatangi tempat antah berantah tersebut. Namun, dengan cepat, Batozar mengetahui kepergian Ali. Dia pun mengajak Raib dan Seli untuk mengejar Ali, dengan maksud menghentikan kenekatannya tersebut. Karena tempat itu memang sangat berbahaya dan mengancam nyawa.


Setelah mereka bertemu, ternyata Ali tidak mau membatalkan rencananya. Bahkan, dia siap mati demi bisa mengungkap misteri tersebut. Apalagi Raib pun bersedia ikut bersamanya karena perasaan senasib sepenanggungan. Raib pun pernah dan masih penasaran dengan keberadaan orang tuanya, terutama ayahnya. Maka, pergilah mereka berempat menghadapi segala tantangan dan rintangan yang benar-benar menguras tenaga dan juga mengancam jiwa mereka.



Dari badai tornado yang memporak-porandakan kapal kontainer yang super besar milik Ali, hujan yang mirip peluru air dan siap melubangi atap Ily; pesawat kapsul Ali yang super canggih. Hingga gurita raksasa yang menelan mereka mentah-mentah. 


Dengan perjuangan yang tak mudah, akhirnya mereka bisa melewati semua hambatan itu dan berhasil masuk ke gerbang Sagaras. Walaupun Ily hampir pecah karena saking dalamnya dasar laut yang mereka datangi. Tekanannya sudah melebihi ambang batas kemampuan Ily. Dengan tameng buatan Batozar, mereka pun bisa sampai dan masuk ke gerbang Sagaras.


Tentu saja, tak semudah itu melewati gerbang negeri yang masih belum bisa mereka bayangkan itu. Sagaras adalah tempat baru yang belum pernah mereka kenal. Tidak seperti Klan Bulan, Bintang, atau Komet. Tak ada informasi sedikit pun mengenai Sagaras. 


Saat tiba di sana, ternyata mereka berada  di pos penjaga, sebuah ruangan berbentuk kubus yang sangat besar dan berwarna serba putih. Beberapa saat setelah mereka mendarat, datanglah para Ksatria Sagaras. Mereka adalah yang pemimpin sekaligus pelindung dan pelayan rakyat Sagaras. Mereka menunggangi kuda-kuda yang juga berwarna putih. 



Sama seperti saat mereka masih di atas kapal, para Ksatria itu tetap menolak kedatangan Ali dan kawan-kawan. Mereka tidak diinginkan dan harus segera meninggalkan Sagaras. Tentu saja Ali tidak mau. Beruntung, Batozar bisa melakukan negosiasi. Akhirnya, para Ksatria itu mengizinkan mereka masuk Sagaras dengan syarat bisa memenangkan pertarungan melawan mereka. Pertarungan satu lawan satu sebanyak lima kali pertarungan.



Pertarungan pertama, Ali yang maju melawan Ksatria No. 13. Ali yang sudah kehilangan kekuatan, menggunakan teknologi baru yang diberikan Eins. Dengan susah payah, Ali berhasil memenangkan pertarungan meskipun hampir saja membunuh lawannya.



Pertarungan berikutnya adalah Seli, disusul Raib dan Batozar. Pada pertarungan kelima, Seli tidak ikut bergabung karena kekuatannya hilang untuk sementara waktu. Akankah mereka bertiga bisa melawan Ksatria No. 2? Yang, tentu saja, kekuatannya pasti jauh lebih hebat dibandingkan dengan para Ksatria sebelumnya. 

Sunday, May 29, 2022

Review "Responsimpel Parents"

                       Sumber: Google

Judul buku: Responsimpel Parents
Penulis: Kak Rio
Penerbit: One Peach Media
Cetakan: ketiga, Maret 2019
ISBN: 978-602-0767-04-8
Tebal buku: 144 halaman


Bismillaah


Membaca buku Kak Rio ini, kita tidak akan merasa seperti digurui. Bahasanya santai, seperti sedang bercakap-cakap, dan sangat menghargai kita sebagai pembaca yang sekaligus orang tua. Materinya pun disampaikan dengan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami tanpa mengerutkan kening.


Seperti buku-buku parenting lainnya, buku ini juga menyajikan cara-cara bagaimana mendidik anak. Terutama mendidik karakternya karena zaman sekarang ini, kita temukan, semakin hari, anak-anak kita semakin kurang berkarakter, kalau tidak bisa dikatakan kurang beradab. Tingkah laku mereka semakin kurang sopan santun kepada yang lebih tua, termasuk orang tuanya sendiri.



Mendidik itu tidak mendadak. Begitu jargon yang sering kita dengar. Ya, memang begitulah kenyataannya. Mendidik itu memerlukan proses yang panjang, bahkan sebelum seseorang memilih calon suami/istri. Agar memiliki keturunan yang baik, maka perlu benih yang baik. Maka, mendidik anak dimulai dengan mencari pasangan hidup yang shalih atau shalihah. Mengapa? Supaya anak-anak kita pun, nantinya menjadi anak yang shalih dan shalihah.



Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendidik anak adalah sebagai berikut.
1. Orang tua harus menentukan dulu visi dan misinya dalam mendidik anak. Anak seperti apa yang kita inginkan? Pasti, semua orang tua ingin anaknya shalih, pintar, berprestasi, taat dan patuh kepada orang tuanya. Perfect! 
Semakin banyak tuntutan orang tua, tentunya harus semakin banyak pula diperlukan peran orang tua. Namun, jangan sampai kita hanya menuntut tetapi tidak memberikan apa yang dibutuhkan anak. 
Lho, bukannya orang tua sudah mengeluarkan banyak biaya untuk sekolah, les tambahan, dan lain-lain?
Betul. Tapi, apakah itu yang dibutuhkan anak kita?

2. Anak butuh pujian, pelukan, senyuman, dan dukungan karena dengan sendirinya ia akan memberikan yang terbaik. Sebaik-baik dirinya sendiri yang tak bisa dibandingkan dengan anak lain. (hal. 12)
Mudah, membuat anak pintar dan berprestasi. Yang lebih sulit adalah menjadikannya berkarakter. Itulah mengapa, mendidik anak itu tidak sekadar urusan belajar dan sekolah, tetapi juga bagaimana orang tua memperlakukan anaknya. Bagaimana hubungan antara orang tua dan anak. Semakin kuat bonding mereka, insyaaAllah anaknya pun juga kuat karakternya, bagus karakternya.


3. Jadi, diawali dari rumah. Home sweet home. Bukan rumah sekadar tempat berteduh dan istirahat, tetapi rumah yang penuh dengan kehangatan dan kasih sayang sehingga menjadikan para penghuninya betah di dalamnya dan selalu rindu untuk pulang. 


4. Tidak membanding-bandingkan anak dengan siapa pun. Kakaknya, adiknya, temannya, atau anak tetangga. Setiap anak terlahir unik dan istimewa. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri, tidak bisa disamaratakan, tidak bisa dibanding-bandingkan. Terimalah kondisi anak kita apa adanya. Kita boleh membandingkan, tetapi dengan keadaan anak itu sendiri.
Misalnya, bulan lalu, ia masih belum bisa makan sendiri. Bulan ini, alhamdulillaah sudah bisa, bahkan sudah mampu menyiapkan bekal sendiri. 
Dengan demikian, kita akan selalu bisa melihat sisi positif anak kita sehingga bisa menghargai setiap usaha yang telah dilakukannya.


5. Nah, hargai seberapa kecil pun usaha anak untuk menjadi lebih baik. Jangan meremehkan. Apalagi sampai berkata, "Masak, gitu aja nggak bisa?"
Jangan. Itu hanya akan menyakiti hati anak dan malah membuatnya down. Bukannya semakin semangat, tetapi malah mutung. Tidak mau berusaha lagi. Menurutnya, percuma belajar mati-matian, kalau enggak ada hasilnya. Karena ayah ibunya tidak menghargai kerja kerasnya.


6. Memaafkan kesalahan anak. Memaafkan, bagi orang yang merasa lebih senior, lebih tua, mungkin akan sulit. Itu karena belum terbiasa. Padahal, kedudukan orang yang memaafkan itu sangat terpuji. Apalagi yang dimaafkan adalah anak kita sendiri. 
Anak juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Jangankan anak, yang masih kecil dan memang sedang dalam proses belajar. Kita, orang tua yang merasa sudah makan banyak asam garam saja, tak luput dari kesalahan.
Sepandai-pandai tupai melompat, suatu saat jatuh juga.
Wajar, bila manusia itu berbuat salah. Makanya, kita harus berlapang dada untuk memberikan maaf. Karena maaf itu bisa memberikan motivasi untuk berbuat lebih baik dan berusaha memperbaiki keadaan. 


"Anak bukan hanya butuh mainan, anak juga butuh pendampingan." (Hal. 84)


7. Tidak membebani anak dengan beban yang berat. 

"Dan janganlah kalian membebani mereka atas beban yang mereka tidak sanggup. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka." (HR. Bukhari Muslim) (Hal. 104)

Ketika kita menyuruh anak melakukan sesuatu, sudah seharusnya bila orang tua memberikan contoh terlebih dahulu. Memberikan teladan. Meskipun sudah memberikan teladan, kita pun perlu mempertimbangkan kemampuan anak. Jangan disamakan dengan kita, yang sudah tua dan sudah berpengalaman. 
Pasti ada kalanya, anak kurang sempurna dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Ya, kita maklumi saja, sambil kita bimbing agar bisa lebih baik.


8. Tidak memaki atau menyakiti anak. Bila anak berbuat salah, jangan dimaki. Doakanlah. Seperti Ibunda Syekh Sudais. Saat sang bunda kesal dengan perilaku sang anak, bukan makian yang dilontarkan, tetapi sumpah yang berisi doa. Sang ibu menyumpahi anaknya agar menjadi imam Masjidil Haram. MasyaaAllah, doa itu dikabulkan oleh Allah.
Memaki, di satu sisi bisa menyakiti hati anak. Di sisi lain, ucapan seseorang, apalagi seorang ibu, adalah doa. Kalau anak biasa dimaki dengan kata-kata yang tidak pantas, memorinya akan merekam dan suatu saat anggota tubuhnya akan merealisasikan makian tersebut. Na'udzubillahi min dzalik.
Mari, kita jaga lisan kita.


"Tiga doa yang pasti dikabulkan oleh Allah: doa orang yang terzalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua kepada anaknya." (HR. Ahmad) (hal. 127)


Friday, March 11, 2022

Review "Bersetia"


Bismillah


Lagi-lagi, saya harus kecewa saat membaca novel setebal 600 halaman lebih ini. Bagaimana tidak kecewa, saat saya sedang merasa "seru" dan deg-degan, eh, tiba-tiba selesai. Selesai begitu saja. Ending-nya itu tidak happy, sad juga tidak. Menggantung. Kesel nggak sih? Tapi, itu kan, hak penulis ya. Sebagai pembaca sih, kita hanya bisa menikmati. 


Novel perdana Benny Arnas ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang perempuan teh bernama asli Ratna. Setelah diserahkan oleh ibu kandungnya kepada Cece Po, majikannya, ia dipanggil Embun. Karena Ratna merupakan nama ibu kandung Cece Po, seorang Tionghoa yang memiliki lapak batik di pasar Jatinegara.


Cece Po menganggap Embun seperti anaknya sendiri, karena dia pun tidak memiliki anak. Suaminya pun telah meninggal. Jadilah ia sebatang kara, sama seperti Embun. Ayah ibunya tak tahu ada di mana. 


Sebelum ikut Cece Po, Ratna atau Embun tinggal bersama ayah ibunya di sebuah kontrakan sempit di daerah Semper Timur. Ayahnya seorang tukang ojek yang suka mabuk dan berjudi. Ibunya hanya seorang penjual gorengan, yang penghasilannya pun tak seberapa. Dibantu Embun yang bekerja sebagai pengemas teh. Kehidupan mereka benar-benar memprihatinkan. Lebih sengsara lagi karena kebiasaan buruk ayahnya yang tidak hanya menghabiskan uang namun juga sering menyakiti ibunya. 


Hingga suatu peristiwa yang menyakitkan terjadi, dan memaksa sang ibu untuk menitipkan Embun kepada seorang majikan. Bukan menitipkan sebenarnya, tetapi memaksa Embun untuk bekerja karena dia sudah lulus SD. Sejak itulah Embun tak pernah bertemu lagi dengan orang tuanya. 


Bersama Cece Po, Embun semakin giat membaca segala sesuatu tentang teh karena suami Cece Po juga penggemar teh dan memiliki banyak buku tentang seluk-beluk teh. Jadilah Embun seorang ahli teh, tidak hanya secara teoritis, tetapi juga dalam meracik dan menyajikan minuman teh. 


Selain ahli teh, Embun adalah seorang gadis pramuniaga yang sangat disayangi oleh Cece Po. Dia ramah dan sopan saat melayani pembeli. Juga kepada sesama pramuniaga dan pemilik lapak lainnya. Ditambah lagi penampilannya yang cantik namun sederhana. 


Kesederhanaannya inilah yang mengundang kekaguman sekaligus mempesona seorang fotografer bernama Brins, seorang indo. Mereka pun menikah dan hidup bahagia. Namun, menginjak tahun kedua, terjadilah tragedi itu. Peristiwa yang membuat Embun ingin menyendiri dari Brins. 


Bagian pelarian Embun inilah yang paling menegangkan. Kita yang membaca pun dibuat penasaran. Kalau saya sampai sedikit mengabaikan anak-anak, saking serunya dan penasaran dengan ending-nya. Tapi ya, itu. Di saat kita masih tegang, masih deg-degan, masih menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya, eh ... tetiba langsung tamat. Kesel sih. Tapi, itulah hebatnya penulis. Pembaca dipersilakan melanjutkan sendiri ceritanya sesuai keinginan masing-masing. 


Ya sudah. Saya berkhayal saja, Embun dan Brins punya anak, dan mereka hidup bahagia selamanya. Kayak di dongeng-dongeng 🤭



Monday, February 28, 2022

Review "Di Ujung Rindu"


Bismillah


Berawal dari keinginan untuk bisa membaca di KBM App (Komunitas Bisa Menulis), tetapi koin emas tidak punya, akhirnya saya cari novel gratis. Dari sekian banyak novel yang tersedia, saya tertarik dengan judul "Di Ujung Rindu" karya Wina Rahmania. 


Kebanyakan judul di KBM itu tentang pernikahan dan rumah tangga. Makanya, ketika membaca judul ini, saya berharap ceritanya di luar tema yang sudah sangat biasa tersebut. Dan, alhamdulillaah, dugaan saya benar. Meskipun, ujung-ujungnya menikah juga. Mungkin memang begitu ending dari setiap kisah asmara.


Novel ini merupakan kelanjutan dari novel sebelumnya yang berjudul "Rivat dan Rania". Oleh karenanya, tokoh utamanya pun Rivat dan Rania. Mereka bersekolah di sekolah yang sama, hanya berbeda satu tahun. Rivat kelas 12, Rania kelas 11.


Karena tidak ingin membuat Rania sedih, Rivat terpaksa harus melarikan diri ke London. Di sana dia kuliah dan menjadi dokter. Setelah enam tahun tinggal di sana tanpa pernah pulang ke Indonesia, akhirnya dia harus pulang karena omanya sakit. 



Kesempatan itu ia gunakan untuk sekadar mencari tahu tentang Rania. Ternyata, Rania sudah enam tahun koma karena kecelakaan. Rivat yang tadinya berniat kembali ke London, jadi membatalkan rencananya tersebut. Dia pun dengan setia menjaga dan merawat Rania.



Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Rivat tetap setia menunggu Rania bangun dari tidur panjangnya. Di saat penantian itulah Rivat menikahi Rania yang sedang koma. 


Hari yang dinantikan pun tiba. Rania bangun dari tidur panjangnya. Namun, dia menderita amnesia. Ingatannya hanya sampai saat dia SMP. Saat dia menjalin hubungan dengan lelaki lain sebelum dengan Rivat. Setiap hari yang diingat hanya lelaki itu. Sedangkan Rivat dia panggil Om. 


Dengan sabar dan telaten, Rivat merawat dan menjaga Rania, bahkan menyuapinya. Konflik pun mulai muncul saat Rania bertemu dengan lelaki masa lalunya. Hingga puncaknya, Rivat harus menceraikan Rania. Dia ingin kembali ke London, seperti niatnya dulu. Namun, kecelakaan kembali menimpa mereka berdua. 



Novel ini sangat menghibur. Tidak hanya dari segi alur, terapi juga dari dialog-dialog yang kadang lucu, kadang bikin sedih juga. Jadi, saat membacanya, antara gelak tawa dan cucuran air mata bergantian. 


Saya benar-benar salut. Meskipun ini novel gratis, tetapi kualitasnya super. Apalagi diselipi dengan pemahaman agama yang tidak berkesan menggurui. 

Thursday, July 16, 2020

Emak Sibuk Bagaimana Bisa Menulis Buku? (resume)



Judul buku: Emak Sibuk Bagaimana Bisa Menulis Buku?

Penulis: Cahyadi Takariawan

Penerbit: Wonderful Publishing

Cetakan: Juli 2020

"When you say you don't have the time, what you are really saying is: Something else is more important right now than writing." (Victoria Lynn Schmidt, Ph.D.)

Membaca kalimat itu, rasanya seperti di-skak mat. Tak berkutik. Ternyata kalau selama ini tak ada waktu untuk menulis, yang sebenarnya terjadi adalah menulis belum menjadi prioritas kegiatan. Belum menjadi sesuatu yang penting untuk dilakukan. Aktivitas lain lebih penting dan lebih utama. Padahal, katanya mau jadi penulis, tapi menulis masih dinomorsekiankan.

Setiap emak pasti banyak kesibukan. Tetapi itu tidak menjadi alasan untuk menulis. Bagi mereka yang ingin menjadi penulis. Lain halnya kalau ingin menjadi pebisnis.

Nah, biar buku yang digadang-gadang bisa terwujud dalam bentuk yang indah, kita perlu perhatikan beberapa poin ini. Pertama, tentukan dulu tema buku yang akan kita lahirkan. Setelah itu pilih jenis atau genre buku tersebut. Misalnya kita memilih jenis buku non-fiksi dengan genre kisah berhikmah.

Lalu, tetapkan juga segmen pembaca yang ingin kita bidik. Apakah anak-anak, pemuda, orang tua, guru, pebisnis, atau yang lainnya. Pilihan ini sangat bermanfaat untuk memilih diksi penulisan buku agar bahasanya _nyambung_.

Berikutnya, kita perlu merancang bentuk buku. Termasuk bentuk buku adalah ukuran buku, apakah A5, dan tebalnya berapa halaman.

Yang tak kalah pentingnya adalah menetapkan target penulisan buku. Empat hari (seperti Pak Cah), sebulan, dua bulan, atau setahun. Dengan menetapkan target, mudah-mudahan bisa membuat kita disiplin dan berusaha mencapai tujuan tepat pada waktunya.

Langkah selanjutnya adalah membuat outline buku. Outline ini, semacam kerangka atau garis besar buku yang akan ditulis. Terdiri dari berapa bab dan berapa sub-bab. Dengan membuat outline, diharapkan tulisan kita akan selalu berada di jalan yang benar, tidak menyimpang dari tema yang sudah dicanangkan di awal.

Dan yang terakhir, memiliki jadwal kerja harian. Bukan kerja kantor atau kerja nyuci, tetapi kerja menulis buku. Ada yang punya ide lancar saat pagi hari, ada pula yang di siang atau malam hari. Apa pun waktunya, intinya adalah disiplin.

Monday, February 17, 2020

Kekuatan Cinta



Bismillaah


Judul : Orang Lumpuh Naik Haji
Penulis : Mulyanto Utomo
Penerbit : PT Smart Media Prima
Cetakan : ke-1, 2019
Tebal :   184 halaman
ISBN : 978-602-51864-2-4


Ini adalah buku tentang cinta. Cinta seorang istri kepada suaminya. Cinta seorang muslim kepada saudaranya. Cinta seorang umat kepada panutannya. Cinta seorang hamba kepada Penciptanya.
Kalau bukan karena cinta, tentu sulit bagi seseorang yang menderita paraplegia inferi, kelumpuhan total dari pinggang hingga ujung kaki. Jangankan untuk berjalan thawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali, untuk menggerakkan kaki saja tidak bisa. Tetapi, kekuatan cinta memang dahsyat dan tak bisa diprediksi. Kekuatan itulah yang menyingkirkan segala kelemahan, yang menyingkirkan segala keraguan, yang menyingkirkan segala kemustahilan.
Itulah yang dialami oleh Pak Mulyanto Utomo, mantan kepala pimpinan sebuah koran ternama di Solo ini. Cintanya yang menggebu kepada Allah, menggelorakan semangatnya untuk bisa datang ke Baitullah, melaksanakan ritual haji, yang bagi orang sehat dan normal saja sungguh melelahkan dan sangat menguras tenaga. Tetapi dengan segala keterbatasannya, beliau bisa menjalani semua rukun dan sunnah haji, meski dengan tetap di atas kursi roda.


Pengalaman beliau ini, tentunya menjadi pelajaran buat kita agar bisa lebih kuat dan lebih maksimal dalam beribadah kepada Allah, terutama ibadah haji. Jangan sampai kita yang memiliki tubuh sempurna dan sehat walafiat, kalah semangat dan ghirah dengan beliau.

Wednesday, January 29, 2020

Adab Dulu, Ilmu Kemudian



  
Judul              : Ta’limul Muta’allim; Pentingnya Adab Sebelum Ilmu
Penulis            : Imam Az-Zarnuji
Penerbit          : Aqwam
Cetakan          : Juli 2019
Tebal              : 168 halaman
ISBN               : 978-979-039-734-7

            Fenomena saat ini, bila kita melihat generasi millenial, mereka terlihat cerdas dan pintar, selalu update dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru. Tetapi di sisi lain, terasa ada yang kurang bila memerhatikan mereka. Apakah itu? Adab. Ya, adab atau akhlak, tata krama mereka semakin menipis terkikis oleh kemajuan teknologi. Atau karena kita, sebagai orang tua yang mulai tidak memerhatikan pendidikan adab? Kita terlalu sibuk dan terlalu mementingkan kecerdasan intelektual mereka sehingga abai dengan yang satu ini?


            Sedangkan bila kita napak tilas perjuangan para ulama dan ilmuwan Islam dahulu dalam mengumpulkan dan mempelajari ilmu, mereka terlebih dahulu mempelajari adab. Sehingga, meskipun ilmu mereka banyak sekali, tidak menjadikan mereka kehilangan kesantunan dan ke-tawadhuan-nya terhadap guru-guru maupun orang tua mereka.


            Buku “Ta’limul Muta’allim” yang disusun oleh Imam Az-Zarnuji ini seolah mengingatkan kita kembali, para orang tua dan juga guru, agar sebelum mengajarkan ilmu terhadap anak-anak kita, terlebih dahulu kita harus mengajarkan adab kepada mereka. Dengan demikian, kita berharap, apa yang telah terjadi hari ini –minusnya adab anak-anak kita terhadap orang tua dan guru- bisa dikurangi atau pun dihilangkan. Sehingga kita akan dapati generasi Islam yang cerdas sekaligus beradab, berkarakter, seperti yang diinginkan oleh kurikulum pendidikan yang terbaru (Kurikulum 2013).


            Selain membahas tentang adab-adab bagi seorang penuntut ilmu, buku ini juga menjelaskan tentang definisi ilmu, fikih, dan keutamaannya, yang diuraikan dalam satu pasal tersendiri di awal pembahasan. Pada pasal lainnya, memuat tentang beberapa tips dalam belajar, seperti hal-hal yang mempermudah hafalan, hal-hal yang mendatangkan rezeki, menambah umur, dan menguranginya.


            Adapun adab menuntut ilmu, dapat kita temukan penjelasannya, di antaranya dalam pasal “Takzim terhadap Ilmu dan Ahli Ilmu”. Pasal ini diawali dengan
            “Penting diketahui bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh ilmu, dan tidak dapat mengambil manfaat dari ilmu itu, kecuali dengan menakzimkan ilmu dan para ahlinya; juga memuliakan dan menghormati para ustadz.” (hal. 65)


            Itulah kunci dalam menuntut ilmu, menghormati ilmu dan guru. Kita tidak akan mendapatkan keberkahan ilmu kalau kita hanya fokus dalam mengumpulkan ilmu namun mengabaikan bahkan tidak menghormati guru yang mengajarkannya. Tidak sedikit kita dapati, para penuntut ilmu yang berani membantah atau membentak gurunya. Tidak sedikit para penuntut ilmu yang berbicara dengan suara yang lebih keras daripada gurunya. Tidak sedikit pula para penuntut ilmu yang menjelek-jelekkan gurunya baik di depannya maupun di belakangnya. Astaghfirullaahal’adziim.


Sedangkan salah seorang sahabat sekaligus menantu Nabi , yaitu Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu berkata:
            “Aku adalah hamba sahaya bagi orang yang mengajariku satu huruf; jika mau ia boleh menjualku, dan jika mau ia membebaskanku.” (hal. 65)


Seorang penuntut ilmu bagaikan budak bagi gurunya. Sang guru bebas untuk menjualnya maupun membebaskannya. Begitu tingginya penghargaan bagi seorang ahli ilmu. Apabila penghormatan yang diberikan kepada guru sudah begitu tingginya, maka tidaklah mengherankan bila ilmu yang diperoleh pun akan berkah, dan sang penuntut ilmu pun menjadi orang yang beradab sekaligus berilmu.


            “Salah satu cara menghormati seorang alim adalah tidak berjalan di depannya, tidak menduduki tempat duduknya, tidak memulai pembicaraan di hadapannya kecuali atas izinnya, tidak banyak berbicara di hadapannya, tidak bertanya tentang sesuatu saat sedang bosan, memperhatikan waktu, dan tidak mengetuk pintunya tetapi sabar menantinya hingga ia keluar.”
            “Kesimpulannya: Seorang penuntut ilmu harus mencari rida gurunya, menjauhi kemurkaannya, melaksanakan perintahnya selama bukan maksiat karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Al-Khaliq (Pencipta).” (hal. 66-67)

Tuesday, January 28, 2020

Bahasa Menunjukkan Bangsa




Bismillaah


Judul : Bahasa Mencerdaskan Bangsa
Penulis: Yanto Musthofa
Penerbit: Yayasan Batutis Al-Ilmi Bekasi
Cetakan: kesatu (Januari 2017)
Tebal: 183 halaman
ISBN : 978-602-60854-0-5

Bahasa menunjukkan bangsa adalah pepatah leluhur yang sangat dalam maknanya. Betapa dengan bahasa, seseorang akan terlihat seberapa berilmunya dan beradabnya. Kalau dalam bahasa Jawa ada ungkapan "ajining diri ana ing lathi". Kemuliaan seseorang berdasarkan lisannya. Tidak jauh berbeda dengan pepatah di atas. Isi pikiran kita bisa dilihat dari bahasa yang terucap dari lisan kita. MasyaAllah.


Dalam buku "Bahasa Mencerdaskan Bangsa", semakin terkuak betapa dahsyat pengaruh bahasa. Ternyata bahasa sangat berpengaruh terhadap kecerdasan seseorang, kecerdasan suatu bangsa. Bahasa yang dimaksud di sini adalah bahasa yang baik dan benar, sesuai dengan kaidah dan struktur yang ada. Kalau sekarang ya, sesuai dengan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) yang telah menggantikan posisi EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).


Bahasa yang baik dan benar, apabila diterapkan dan diajarkan kepada anak-anak sejak dini, sejak balita, maka akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan otaknya. Penggunaan bahasa yang terstruktur membantu wiring syaraf-syaraf otak yang masih belum tersambung. Hebatnya, masa-masa keemasan ini, golden age, tidaklah terlalu lama. Karena ketika anak sudah memasuki masa pubertas, maka kemampuan penyerapan berbahasanya akan berkurang. Begitu juga saat memasuki usia dewasa, semakin sulit untuk dapat memaksimalkan kemampuan berbahasa. Tak heran bila kita jumpai orang yang belajar suatu bahasa di usia dewasa, waktu yang diperlukan untuk menguasai bahasa tersebut lebih lama dibandingkan anak-anak.


"Tiga tahun pertama kehidupan, saat otak sedang berkembang dan matang, adalah masa paling intensif perolehan kemampuan bahasa dan berbahasa bagi anak. Kemampuan terkait dengan kebahasaan ini bisa berkembang paling baik dalam lingkungan yang kaya akan suara, pemandangan, paparan konsisten terhadap aktivitas bahasa dan berbahasa orang lain.
Tampak ada periode kritis bagi perkembangan kebahasaan pada bayi dan anak kecil ketika otak dalam keadaan terbaik untuk menyerap bahasa. Jika periode kritis ini dibiarkan berlalu tanpa paparan bahasa, maka kelak akan lebih sulit bagi anak untuk belajar."
(Halaman 19)


Sering kita jumpai, bahkan pernah kita lakukan, bagaimana kita berbicara dengan bayi atau balita menggunakan bahasa yang di-cadel-cadelkan. Seolah-olah kita ini bayi juga. Padahal bayi atau anak kecil kita sedang belajar menyerap apa yang diberikan oleh orang-orang di sekitarnya. Kalau kita memberi contoh yang salah, maka akan sulit untuk meluruskannya.


Mari kita mulai dari saat ini, dari diri kita sendiri, untuk berbahasa yang baik dan benar, yang terstruktur. Agar otak kita khususnya, dan otak anak-anak kita pada umumnya, dapat berkembang dengan baik.
Aamiin ya rabbal'aalamiin.

Saturday, November 17, 2018

Review Buku "Membimbing Remaja dengan Cinta"

Bismillaah

Judul buku: Membimbing Remaja dengan Cinta, karena Remaja Hari Ini adalah Pemimpin di Masa Depan
Penulis : Irawati Istadi
Penerbit : Pro-U Media
Cetakan : I (2016)
Tebal buku: 368 hlm

Fase remaja adalah fase yang tidak mudah untuk dilalui bagi sebagian anak dan juga orang tua. Ketika masih anak-anak, seseorang lebih mudah untuk "diatur". Namun tidak demikian saat seseorang tumbuh menjadi remaja. Banyak hal yang tidak bisa dimengerti oleh orang tua dengan apa yang diinginkan dan dilakukan oleh sang remajanya. Hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman, yang ujung-ujungnya berakhir dengan konflik antara remaja dengan orang tua.

Maka, kehadiran buku ini bisa menjadi bahan rujukan orang tua, bagaimana sih, menghadapi anak yang menginjak remaja itu?
Disajikan dengan bahasa yang ringan dan disertai contoh-contoh riil yang dihadapi oleh orang tua sehari-hari, menjadikan buku ini sangat recommended.

Setelah sukses dengan buku "Mendidik dengan Cinta", kali ini Ibu Irawati Istadi kembali berbagi pengalamannya dalam mendidik remaja melalui "Membimbing Remaja dengan Cinta, karena Remaja Hari Ini adalah Pemimpin di Masa Depan".

Buku ini ditulis dalam delapan bagian, yaitu Remaja Dulu, Remaja Sekarang; Komunikasi dan Dialog Efektif; Membangun Konsep Diri; Menciptakan Lingkungan yang Baik; Mengarahkan Dunia Seksualitas; Kecerdasan Spiritual Remaja; Menumbuhkan Passion; dan Musuh Remaja.

Membaca buku ini, seperti membaca langkah hidup kita sendiri. Begitu nyata dan tak asing lagi. Masalah yang kita hadapi sehari-hari dalam menghadapi para remaja tersaji lengkap disertai dengan langkah-langkah solusi yang bisa kita terapkan. Saya pun sudah merasakan manfaatnya. Ketika menghadapi para siswi yang sedang keranjingan K-POP, saya sempat bingung harus bagaimana. Alhamdulillah, setelah baca buku ini, saya mendapatkan solusinya, dan langsung saya aplikasikan kepada anak didik saya yang memang mulai menginjak masa remaja.

Selain tulisan tentang remaja yang gandrung, bahkan cenderung kecanduan K-Pop, buku ini juga memuat banyak masalah yang sering kita jumpai dalam dunia remaja. Tentang krisis identitas, tawuran, masalah seksual, juga bagaimana membangun berbagai potensi yang mereka miliki. Termasuk bagaimana mencerdaskan spiritual remaja. Hal ini menjadi sesuatu yang tidak mudah karena godaan dan tantangan yang dihadapi remaja sangat bervariasi. Dari teman, tayangan TV, media sosial, dan sebagainya.

Yang tak kalah pentingnya, dalam buku ini dijelaskan pula tentang bahaya musik dan tarian, serta film/sinetron. Selama ini mungkin kita berpikir bahwa musik, tarian, dan film adalah hal-hal yang bisa membuat kita terhibur dan refreshing dari peliknya masalah kehidupan. Tapi ternyata di balik keindahan semu yang kita nikmati itu ada bahaya yang mengancam akidah kita dan anak-anak kita. Terutama para remaja. Dan ini yang mungkin luput dari perhatian kita sebagai orang tua.

Sebagai orang tua, kita harus bisa berupaya untuk terus mendampingi dan membersamai remaja kita agar tidak salah arah. Buku ini bisa dijadikan panduan untuk itu.

Sunday, May 13, 2018

Potret Lembaga Hukum Kita

Bismillaah

Untuk memenuhi tantangan RCO 3 level 4 ini,  saya membaca buku karya Okky Madasari versi bahasa Inggris. Buku setebal kurang lebih 248 halaman ini berkisah tentang seorang pegawai administrasi (clerk) di sebuah Pengadilan. Namanya Arimbi. Seorang gadis lugu anak sepasang petani yang telah menjadi pegawai negeri. Awalnya ia seorang yang jujur dan lugu. Dia sudah merasa puas dengan posisinya sebagai pegawai negeri. Meskipun dengan gajinya yang rendah, ia harus puas dengan tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana di sebuah gang kumuh di salah satu sudut kota Jakarta.

Arimbi yang tadinya seorang pegawai yang lugu dan jujur, akhirnya terkontaminasi juga oleh orang-orang di sekitarnya. Karena sebagian besar pegawai di kantor itu, termasuk bosnya, Mrs. Danti, mau menerima suap dan juga korupsi, Arimbi pun ikut terlibat juga. Awalnya ia merasa takut dan ada rasa bersalah, tapi karena hampir semua orang melakukannya, Arimbi jadi terbiasa. Bahkan ia pun aktif untuk mendapatkan tip yang mengarah kepada suap dan korupsi. Apalagi setelah ia menikah dengan Ananta yang hanya seorang karyawan swasta dengan gaji yang hanya cukup untuk dirinya sendiri, Arimbi merasa perlu mencari uangt tambahan agar bisa hidup lebih layak dan juga agar bisa menabung.

Singkat cerita, Arimbi  dan Mrs. Danti tertangkap karena terlibat korupsi. Mereka berdua masuk sel di penjara wanita. Di dalam penjara, hidup semakin sulit dan kejam. Ditambah lagi, ibunda Arimbi harus menjalani operasi ginjal. Untuk itu, ayahnya harus menjual kebun jeruk yang selama ini menjadi mata pencaharian keluarga mereka. Setelah operasi, ibunya harus kontrol ke dokter seminggu dua kali. Biaya yang dibutuhkan sangat besar. Arimbi tidak tahu bagaimana cara mendapatkan uang untuk pengobatan ibunya. Datanglah teman satu selnya, sekaligus pemimpin dalam sel tersebut, Tutik, menawarkan bantuan. Arimbi bisa mendapatkan biaya pengobatan ibunya dengan berjualan obat-obat terlarang. Obat-obat itu diperoleh dari penghuni sel lainnya yang dipenjara karena tertangkap sedang menjual barang terlarang tersebut, namanya Aling. Untuk mendistribusikan barang terlarang itu, Ananta menjadi kurir yang mengantarkan barang ke tempat pemesan yang berada di luar penjara.

Selain terlibat dalam perdagangan terlarang itu, Arimbi pun terlibat hubungan terlarang dengan Tutik. Mereka saling membutuhkan untuk memuaskan hawa nafsunya. Di sisi lain, Arimbi masih menjadi isteri Ananta. Benar-benar rusak keadaan di dalam penjara. Belum lagi tingkah laku oknum yang selalu memungut pungli dari orang-orang yang menjenguk. Di dalam penjara pun premanisme tumbuh subur. Astaghfirullah.

Bagaimana akhir cerita ini? Silakan baca selengkapnya di buku 86 karya Okky Madasari ini. Di dalamnya diungkap fakta-fakta yang miris dan menyedihkan. Gambaran kualitas penegakan hukum di Indonesia.
Di dalam lembaga pengadilan, praktik suap dan korupsi justru tumbuh subur. Padahal mereka lah harapan masyarakat, untuk bisa mendapatkan keadilan. Ternyata sama saja, praktik premanisme malah mendominasi. Di mana ada uang, di situ ada keadilan. Hanya orang-orang yang berduit saja yang bisa membeli keadilan. Yang tidak punya uang, harus rela masuk penjara meski tidak bersalah. Na'udzubillahi min dzalik. Memang hanya pengadilan Allah saja yang benar-benar adil, tidak pandang bulu, kaya atau miskin. Yang benar akan mendapatkan ganjarannya, yang salah akan mendapatkan balasannya.

Yang kurang saya sukai dari buku ini adalah, beberapa adegan vulgar yang diceritakan secara detail. Bagi saya, ini merusak selera dalam membaca. Selebihnya, buku ini sangat menarik untuk dibaca. Saya jadi tahu betapa bobroknya pengadilan di negeri ini. Saya jadi tahu betapa menyeramkannya tembok penjara itu.

Na'udzubillahi tsumma na'udzubillahi min dzalik.

#TugasRCO3Level4
#Tugas2
#OneDayOnePost

Thursday, May 3, 2018

Laskar Pelangi, dalam Buku dan Film

Bismillaah

Membaca novel Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata, membuat kita termotivasi sekaligus terhibur. Tidak hanya terhibur oleh dialog maupun tingkah laku para tokohnya yang lucu, tapi juga terhibur karena di bumi Indonesia yang kita cintai ini, masih ada generasi muda yang begitu cerdas dan bersemangat. Pantang menyerah kepada kemiskinan dan keterbatasan.

Membaca halaman demi halaman buku ini, terbayang di pelupuk mata, indahnya Pulau Belitung, sekaligus kerasnya kehidupan yang dilalui oleh anak-anak dan juga sebagian besar masyarakat yang bekerja sebagai buruh PN Timah. Di sisi lain, para staf PN Timah dan keluarganya hidup bergelimang harta dan kemewahan. Sungguh sebuah pemandangan yang memilukan. Namun keterbatasan dan kemiskinan tidak menghalangi semangat belajar kesepuluh anak-anak Laskar Pelangi. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan kreatif, dan bisa mengharumkan nama sekolah Muhammadiyah yang miskin.

Cerita yang dikisahkan dalam buku ini begitu terperinci dan teliti. Namun saat kita menonton filmnya, kita akan sedikit kecewa dengan adegan yang seperti terputus, tidak saling berkaitan.

Misalnya pada adegan saat Flo hilang di hutan. Di dalam novelnya, diceritakan bagaimana perjalanan dan perjuangan masyarakat beserta anggota Laskar Pelangi dalam upaya mereka untuk menemukan anak perempuan yang tomboi itu. Pencarian itu memakan waktu berhari-hari, sehingga mereka hampir menyerah, seandainya tidak ada rasa belas kasihan dalam dada mereka.

Sedangkan dalam versi layar lebarnya, adegan pencarian itu hanya divisualisasikan dengan aksi orang-orang yang berusaha mencari dalam kegelapan dengan hanya ditemani oleh cahaya obor dan suara mereka yang meneriakkan nama Flo. Setelah itu adegan langsung berganti suasana siang, saat seorang pegawai ayah Flo mendatangi dan meminta Pak Harfan dan Bu Mus untuk menerima Flo sebagai murid mereka. Pak Harfan adalah kepala sekolah Muhammadiyah, tempat anak-anak Laskar Pelangi menimba ilmu. Sedangkan Bu Mus adalah guru favorit mereka.

Meski tidak sedetil apa yang diceritakan di dalam novel, film Laskar Pelangi, tak dapat dipungkiri, adalah salah satu film yang bagus untuk ditonton. Tidak hanya oleh anak-anak, tapi juga untuk orang tua. Permainan akting para tokohnya terkesan lugas dan alami, tidak dibuat-buat. Sebut saja Bu Mus. Bu guru muda nan cantik ini begitu luwes dalam gerak juga ucapannya. Tak heran bila Cut Mini yang memerankannya kebanjiran penghargaan sebagai pemeran utama terpuji/terbaik pada Festival Film Bandung 2009 dan Indonesian Movie Awards 2009. Begitu pula film Laskar Pelangi itu sendiri. Selain mendapat penghargaan di dalam negeri, ia juga meraih penghargaan di luar negeri pada International Festival of Films for Children and Young Adults di Hamedan, Iran.

Penghargaan-penghargaan itu tidak akan diperoleh tanpa kerja keras sutradara dan seluruh kru-nya. Namun, di balik itu semua, ada sang penulis, Andrea Hirata, yang telah begitu apik menuangkan idenya dalam rangkaian kata-kata yang penuh makna. Membuat kita tersadar, bahwa segala keterbatasan dan juga kemiskinan yang menyelimuti kehidupan seseorang, ternyata tidak selalu menjadi penghalang bagi kesuksesannya. Semua kembali kepada bagaimana kita memandangnya dan menyikapinya. Kalau kita melihatnya sebagai musibah, kegagalan yang akan kita rasakan. Namun bila kita menganggapnya sebagai tantangan, kesuksesan telah menanti di depan mata.

Semoga kisah Laskar Pelangi ini bisa memotivasi generasi muda Indonesia agar tidak mudah menyerah dan menyalahkan keadaan. Dan semoga pula bisa memberikan kesadaran baru pada pihak-pihak yang berwenang, agar lebih memerhatikan kondisi anak bangsa yang hidup dalam keterbatasan. Mereka pun berhak menghirup wanginya pendidikan dan kesejahteraan, seperti yang telah dinikmati oleh segelintir penduduk negeri ini. Bukan kemewahan yang mereka impikan. Sedikit kesempatan pun, sudah sangat mereka syukuri.

#TugasRCO3
#Tugas2Level3
#OneDayOnePost