Monday, February 3, 2025
Review "Rasa"
Tuesday, July 23, 2024
Review "Rindu"
Monday, July 8, 2024
Review "Meet the Senna's"
Tuesday, May 28, 2024
Review "Ayah, Aku Rindu"
Tuesday, May 21, 2024
Review "Kepada Utara"
Saturday, February 3, 2024
Reviu "Teruslah Bodoh, Jangan Pintar"
Friday, January 26, 2024
Review "Sesuk"
Sunday, January 21, 2024
Reviu "Surat dari Anak-anak Gaza"
Friday, January 12, 2024
Review "Si Anak Savana"
Tuesday, July 26, 2022
Review "Sagaras"
Sunday, May 29, 2022
Review "Responsimpel Parents"
Friday, March 11, 2022
Review "Bersetia"
Monday, February 28, 2022
Review "Di Ujung Rindu"
Thursday, July 16, 2020
Emak Sibuk Bagaimana Bisa Menulis Buku? (resume)
Judul buku: Emak Sibuk Bagaimana Bisa Menulis Buku?
Penulis: Cahyadi Takariawan
Penerbit: Wonderful Publishing
Cetakan: Juli 2020
"When you say you don't have the time, what you are really saying is: Something else is more important right now than writing." (Victoria Lynn Schmidt, Ph.D.)
Membaca kalimat itu, rasanya seperti di-skak mat. Tak berkutik. Ternyata kalau selama ini tak ada waktu untuk menulis, yang sebenarnya terjadi adalah menulis belum menjadi prioritas kegiatan. Belum menjadi sesuatu yang penting untuk dilakukan. Aktivitas lain lebih penting dan lebih utama. Padahal, katanya mau jadi penulis, tapi menulis masih dinomorsekiankan.
Setiap emak pasti banyak kesibukan. Tetapi itu tidak menjadi alasan untuk menulis. Bagi mereka yang ingin menjadi penulis. Lain halnya kalau ingin menjadi pebisnis.
Nah, biar buku yang digadang-gadang bisa terwujud dalam bentuk yang indah, kita perlu perhatikan beberapa poin ini. Pertama, tentukan dulu tema buku yang akan kita lahirkan. Setelah itu pilih jenis atau genre buku tersebut. Misalnya kita memilih jenis buku non-fiksi dengan genre kisah berhikmah.
Lalu, tetapkan juga segmen pembaca yang ingin kita bidik. Apakah anak-anak, pemuda, orang tua, guru, pebisnis, atau yang lainnya. Pilihan ini sangat bermanfaat untuk memilih diksi penulisan buku agar bahasanya _nyambung_.
Berikutnya, kita perlu merancang bentuk buku. Termasuk bentuk buku adalah ukuran buku, apakah A5, dan tebalnya berapa halaman.
Yang tak kalah pentingnya adalah menetapkan target penulisan buku. Empat hari (seperti Pak Cah), sebulan, dua bulan, atau setahun. Dengan menetapkan target, mudah-mudahan bisa membuat kita disiplin dan berusaha mencapai tujuan tepat pada waktunya.
Langkah selanjutnya adalah membuat outline buku. Outline ini, semacam kerangka atau garis besar buku yang akan ditulis. Terdiri dari berapa bab dan berapa sub-bab. Dengan membuat outline, diharapkan tulisan kita akan selalu berada di jalan yang benar, tidak menyimpang dari tema yang sudah dicanangkan di awal.
Dan yang terakhir, memiliki jadwal kerja harian. Bukan kerja kantor atau kerja nyuci, tetapi kerja menulis buku. Ada yang punya ide lancar saat pagi hari, ada pula yang di siang atau malam hari. Apa pun waktunya, intinya adalah disiplin.
Monday, February 17, 2020
Kekuatan Cinta
Penulis : Mulyanto Utomo
Penerbit : PT Smart Media Prima
Cetakan : ke-1, 2019
Tebal : 184 halaman
ISBN : 978-602-51864-2-4
Wednesday, January 29, 2020
Adab Dulu, Ilmu Kemudian
Penerbit : Aqwam
Cetakan : Juli 2019
Tebal : 168 halaman
ISBN : 978-979-039-734-7
Tuesday, January 28, 2020
Bahasa Menunjukkan Bangsa
Penulis: Yanto Musthofa
Penerbit: Yayasan Batutis Al-Ilmi Bekasi
Cetakan: kesatu (Januari 2017)
Tebal: 183 halaman
ISBN : 978-602-60854-0-5
Bahasa yang baik dan benar, apabila diterapkan dan diajarkan kepada anak-anak sejak dini, sejak balita, maka akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan otaknya. Penggunaan bahasa yang terstruktur membantu wiring syaraf-syaraf otak yang masih belum tersambung. Hebatnya, masa-masa keemasan ini, golden age, tidaklah terlalu lama. Karena ketika anak sudah memasuki masa pubertas, maka kemampuan penyerapan berbahasanya akan berkurang. Begitu juga saat memasuki usia dewasa, semakin sulit untuk dapat memaksimalkan kemampuan berbahasa. Tak heran bila kita jumpai orang yang belajar suatu bahasa di usia dewasa, waktu yang diperlukan untuk menguasai bahasa tersebut lebih lama dibandingkan anak-anak.
(Halaman 19)
Aamiin ya rabbal'aalamiin.
Saturday, November 17, 2018
Review Buku "Membimbing Remaja dengan Cinta"
Bismillaah
Judul buku: Membimbing Remaja dengan Cinta, karena Remaja Hari Ini adalah Pemimpin di Masa Depan
Penulis : Irawati Istadi
Penerbit : Pro-U Media
Cetakan : I (2016)
Tebal buku: 368 hlm
Fase remaja adalah fase yang tidak mudah untuk dilalui bagi sebagian anak dan juga orang tua. Ketika masih anak-anak, seseorang lebih mudah untuk "diatur". Namun tidak demikian saat seseorang tumbuh menjadi remaja. Banyak hal yang tidak bisa dimengerti oleh orang tua dengan apa yang diinginkan dan dilakukan oleh sang remajanya. Hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman, yang ujung-ujungnya berakhir dengan konflik antara remaja dengan orang tua.
Maka, kehadiran buku ini bisa menjadi bahan rujukan orang tua, bagaimana sih, menghadapi anak yang menginjak remaja itu?
Disajikan dengan bahasa yang ringan dan disertai contoh-contoh riil yang dihadapi oleh orang tua sehari-hari, menjadikan buku ini sangat recommended.
Setelah sukses dengan buku "Mendidik dengan Cinta", kali ini Ibu Irawati Istadi kembali berbagi pengalamannya dalam mendidik remaja melalui "Membimbing Remaja dengan Cinta, karena Remaja Hari Ini adalah Pemimpin di Masa Depan".
Buku ini ditulis dalam delapan bagian, yaitu Remaja Dulu, Remaja Sekarang; Komunikasi dan Dialog Efektif; Membangun Konsep Diri; Menciptakan Lingkungan yang Baik; Mengarahkan Dunia Seksualitas; Kecerdasan Spiritual Remaja; Menumbuhkan Passion; dan Musuh Remaja.
Membaca buku ini, seperti membaca langkah hidup kita sendiri. Begitu nyata dan tak asing lagi. Masalah yang kita hadapi sehari-hari dalam menghadapi para remaja tersaji lengkap disertai dengan langkah-langkah solusi yang bisa kita terapkan. Saya pun sudah merasakan manfaatnya. Ketika menghadapi para siswi yang sedang keranjingan K-POP, saya sempat bingung harus bagaimana. Alhamdulillah, setelah baca buku ini, saya mendapatkan solusinya, dan langsung saya aplikasikan kepada anak didik saya yang memang mulai menginjak masa remaja.
Selain tulisan tentang remaja yang gandrung, bahkan cenderung kecanduan K-Pop, buku ini juga memuat banyak masalah yang sering kita jumpai dalam dunia remaja. Tentang krisis identitas, tawuran, masalah seksual, juga bagaimana membangun berbagai potensi yang mereka miliki. Termasuk bagaimana mencerdaskan spiritual remaja. Hal ini menjadi sesuatu yang tidak mudah karena godaan dan tantangan yang dihadapi remaja sangat bervariasi. Dari teman, tayangan TV, media sosial, dan sebagainya.
Yang tak kalah pentingnya, dalam buku ini dijelaskan pula tentang bahaya musik dan tarian, serta film/sinetron. Selama ini mungkin kita berpikir bahwa musik, tarian, dan film adalah hal-hal yang bisa membuat kita terhibur dan refreshing dari peliknya masalah kehidupan. Tapi ternyata di balik keindahan semu yang kita nikmati itu ada bahaya yang mengancam akidah kita dan anak-anak kita. Terutama para remaja. Dan ini yang mungkin luput dari perhatian kita sebagai orang tua.
Sebagai orang tua, kita harus bisa berupaya untuk terus mendampingi dan membersamai remaja kita agar tidak salah arah. Buku ini bisa dijadikan panduan untuk itu.
Sunday, May 13, 2018
Potret Lembaga Hukum Kita
Bismillaah
Untuk memenuhi tantangan RCO 3 level 4 ini, saya membaca buku karya Okky Madasari versi bahasa Inggris. Buku setebal kurang lebih 248 halaman ini berkisah tentang seorang pegawai administrasi (clerk) di sebuah Pengadilan. Namanya Arimbi. Seorang gadis lugu anak sepasang petani yang telah menjadi pegawai negeri. Awalnya ia seorang yang jujur dan lugu. Dia sudah merasa puas dengan posisinya sebagai pegawai negeri. Meskipun dengan gajinya yang rendah, ia harus puas dengan tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana di sebuah gang kumuh di salah satu sudut kota Jakarta.
Arimbi yang tadinya seorang pegawai yang lugu dan jujur, akhirnya terkontaminasi juga oleh orang-orang di sekitarnya. Karena sebagian besar pegawai di kantor itu, termasuk bosnya, Mrs. Danti, mau menerima suap dan juga korupsi, Arimbi pun ikut terlibat juga. Awalnya ia merasa takut dan ada rasa bersalah, tapi karena hampir semua orang melakukannya, Arimbi jadi terbiasa. Bahkan ia pun aktif untuk mendapatkan tip yang mengarah kepada suap dan korupsi. Apalagi setelah ia menikah dengan Ananta yang hanya seorang karyawan swasta dengan gaji yang hanya cukup untuk dirinya sendiri, Arimbi merasa perlu mencari uangt tambahan agar bisa hidup lebih layak dan juga agar bisa menabung.
Singkat cerita, Arimbi dan Mrs. Danti tertangkap karena terlibat korupsi. Mereka berdua masuk sel di penjara wanita. Di dalam penjara, hidup semakin sulit dan kejam. Ditambah lagi, ibunda Arimbi harus menjalani operasi ginjal. Untuk itu, ayahnya harus menjual kebun jeruk yang selama ini menjadi mata pencaharian keluarga mereka. Setelah operasi, ibunya harus kontrol ke dokter seminggu dua kali. Biaya yang dibutuhkan sangat besar. Arimbi tidak tahu bagaimana cara mendapatkan uang untuk pengobatan ibunya. Datanglah teman satu selnya, sekaligus pemimpin dalam sel tersebut, Tutik, menawarkan bantuan. Arimbi bisa mendapatkan biaya pengobatan ibunya dengan berjualan obat-obat terlarang. Obat-obat itu diperoleh dari penghuni sel lainnya yang dipenjara karena tertangkap sedang menjual barang terlarang tersebut, namanya Aling. Untuk mendistribusikan barang terlarang itu, Ananta menjadi kurir yang mengantarkan barang ke tempat pemesan yang berada di luar penjara.
Selain terlibat dalam perdagangan terlarang itu, Arimbi pun terlibat hubungan terlarang dengan Tutik. Mereka saling membutuhkan untuk memuaskan hawa nafsunya. Di sisi lain, Arimbi masih menjadi isteri Ananta. Benar-benar rusak keadaan di dalam penjara. Belum lagi tingkah laku oknum yang selalu memungut pungli dari orang-orang yang menjenguk. Di dalam penjara pun premanisme tumbuh subur. Astaghfirullah.
Bagaimana akhir cerita ini? Silakan baca selengkapnya di buku 86 karya Okky Madasari ini. Di dalamnya diungkap fakta-fakta yang miris dan menyedihkan. Gambaran kualitas penegakan hukum di Indonesia.
Di dalam lembaga pengadilan, praktik suap dan korupsi justru tumbuh subur. Padahal mereka lah harapan masyarakat, untuk bisa mendapatkan keadilan. Ternyata sama saja, praktik premanisme malah mendominasi. Di mana ada uang, di situ ada keadilan. Hanya orang-orang yang berduit saja yang bisa membeli keadilan. Yang tidak punya uang, harus rela masuk penjara meski tidak bersalah. Na'udzubillahi min dzalik. Memang hanya pengadilan Allah saja yang benar-benar adil, tidak pandang bulu, kaya atau miskin. Yang benar akan mendapatkan ganjarannya, yang salah akan mendapatkan balasannya.
Yang kurang saya sukai dari buku ini adalah, beberapa adegan vulgar yang diceritakan secara detail. Bagi saya, ini merusak selera dalam membaca. Selebihnya, buku ini sangat menarik untuk dibaca. Saya jadi tahu betapa bobroknya pengadilan di negeri ini. Saya jadi tahu betapa menyeramkannya tembok penjara itu.
Na'udzubillahi tsumma na'udzubillahi min dzalik.
#TugasRCO3Level4
#Tugas2
#OneDayOnePost
Thursday, May 3, 2018
Laskar Pelangi, dalam Buku dan Film
Bismillaah
Membaca novel Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata, membuat kita termotivasi sekaligus terhibur. Tidak hanya terhibur oleh dialog maupun tingkah laku para tokohnya yang lucu, tapi juga terhibur karena di bumi Indonesia yang kita cintai ini, masih ada generasi muda yang begitu cerdas dan bersemangat. Pantang menyerah kepada kemiskinan dan keterbatasan.
Membaca halaman demi halaman buku ini, terbayang di pelupuk mata, indahnya Pulau Belitung, sekaligus kerasnya kehidupan yang dilalui oleh anak-anak dan juga sebagian besar masyarakat yang bekerja sebagai buruh PN Timah. Di sisi lain, para staf PN Timah dan keluarganya hidup bergelimang harta dan kemewahan. Sungguh sebuah pemandangan yang memilukan. Namun keterbatasan dan kemiskinan tidak menghalangi semangat belajar kesepuluh anak-anak Laskar Pelangi. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan kreatif, dan bisa mengharumkan nama sekolah Muhammadiyah yang miskin.
Cerita yang dikisahkan dalam buku ini begitu terperinci dan teliti. Namun saat kita menonton filmnya, kita akan sedikit kecewa dengan adegan yang seperti terputus, tidak saling berkaitan.
Misalnya pada adegan saat Flo hilang di hutan. Di dalam novelnya, diceritakan bagaimana perjalanan dan perjuangan masyarakat beserta anggota Laskar Pelangi dalam upaya mereka untuk menemukan anak perempuan yang tomboi itu. Pencarian itu memakan waktu berhari-hari, sehingga mereka hampir menyerah, seandainya tidak ada rasa belas kasihan dalam dada mereka.
Sedangkan dalam versi layar lebarnya, adegan pencarian itu hanya divisualisasikan dengan aksi orang-orang yang berusaha mencari dalam kegelapan dengan hanya ditemani oleh cahaya obor dan suara mereka yang meneriakkan nama Flo. Setelah itu adegan langsung berganti suasana siang, saat seorang pegawai ayah Flo mendatangi dan meminta Pak Harfan dan Bu Mus untuk menerima Flo sebagai murid mereka. Pak Harfan adalah kepala sekolah Muhammadiyah, tempat anak-anak Laskar Pelangi menimba ilmu. Sedangkan Bu Mus adalah guru favorit mereka.
Meski tidak sedetil apa yang diceritakan di dalam novel, film Laskar Pelangi, tak dapat dipungkiri, adalah salah satu film yang bagus untuk ditonton. Tidak hanya oleh anak-anak, tapi juga untuk orang tua. Permainan akting para tokohnya terkesan lugas dan alami, tidak dibuat-buat. Sebut saja Bu Mus. Bu guru muda nan cantik ini begitu luwes dalam gerak juga ucapannya. Tak heran bila Cut Mini yang memerankannya kebanjiran penghargaan sebagai pemeran utama terpuji/terbaik pada Festival Film Bandung 2009 dan Indonesian Movie Awards 2009. Begitu pula film Laskar Pelangi itu sendiri. Selain mendapat penghargaan di dalam negeri, ia juga meraih penghargaan di luar negeri pada International Festival of Films for Children and Young Adults di Hamedan, Iran.
Penghargaan-penghargaan itu tidak akan diperoleh tanpa kerja keras sutradara dan seluruh kru-nya. Namun, di balik itu semua, ada sang penulis, Andrea Hirata, yang telah begitu apik menuangkan idenya dalam rangkaian kata-kata yang penuh makna. Membuat kita tersadar, bahwa segala keterbatasan dan juga kemiskinan yang menyelimuti kehidupan seseorang, ternyata tidak selalu menjadi penghalang bagi kesuksesannya. Semua kembali kepada bagaimana kita memandangnya dan menyikapinya. Kalau kita melihatnya sebagai musibah, kegagalan yang akan kita rasakan. Namun bila kita menganggapnya sebagai tantangan, kesuksesan telah menanti di depan mata.
Semoga kisah Laskar Pelangi ini bisa memotivasi generasi muda Indonesia agar tidak mudah menyerah dan menyalahkan keadaan. Dan semoga pula bisa memberikan kesadaran baru pada pihak-pihak yang berwenang, agar lebih memerhatikan kondisi anak bangsa yang hidup dalam keterbatasan. Mereka pun berhak menghirup wanginya pendidikan dan kesejahteraan, seperti yang telah dinikmati oleh segelintir penduduk negeri ini. Bukan kemewahan yang mereka impikan. Sedikit kesempatan pun, sudah sangat mereka syukuri.
#TugasRCO3
#Tugas2Level3
#OneDayOnePost


