Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Saturday, March 25, 2017

Mimpi

Bismillah

Mimpi bisa dimiliki oleh semua orang. Tapi tak setiap orang mempunyai mimpi. Dengan mimpi, kita menjadi bersemangat dalam menjalani hidup. Dengan mimpi, kita tak mudah menyerah dan berputus asa. Mimpi telah menjadi salah satu kunci sukses seseorang dalam hidupnya.

Begitu pun denganku. Karena mimpi yang telah coba kurajut, sekuat tenaga pula kucoba meraihnya. Meski aral banyak menghadang. Oleh karenanya, tak semua mimpiku terealisir. Banyak yang benar-benar hanya mimpi hingga detik ini. Seperti mimpiku untuk pergi haji. Hingga detik ini, kutak tahu kapan akan terwujud.

Tak apa. Yang penting kita sudah berusaha. Hasilnya kita serahkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Namun demikian, aku tak pernah berhenti bermimpi. Selama itu gratis, jadi bermimpilah sebanyak-banyaknya.

Mimpiku ada dua kategori; jangka panjang dan jangka pendek. Sekarang kita bahas yang jangka pendek saja, sesuai tantangan Mba Estina tentang resolusi tahun 2017.  Jadi, mimpiku di tahun ini, ada dua yang utama. Pertama, kuingin menambah hafalan Al Qur'an minimal 1 juz. Kalau bisa sih 5 juz. Tapi, mengingat dan menimbang ini dan itu, yang realistis memang satu juz. Syukur-syukur bisa lebih. Aamiin ya rabbal'aalamiin.

Nah, supaya itu tercapai, aku harus menghafal setiap hari. In sya Allah dengan kesungguhan dan keistiqomahan, mudah-mudahan bisa tercapai. Hanya saja, yang sulit itu menjaga hafalan. Ternyata untuk memurojaah hafalan, kalau sendiri sering tidak bisa disiplin. Harus ada gurunya.

Kedua, aku ingin mempunyai bisnis online. Untuk yang ini, alhamdullilah, sudah kumulai dengan berjualan majalah lewat Facebook. Meskipun secara offline juga aku jalankan. Selain itu, aku juga sedang belajar Facebook ads dengan Bang Syaiha. Meskipun mengikut tutorialnya dengan susah payah, terutama mengerjakan tugasnya, hal itu tak membuatku menyerah. Karena aku bermimpi ingin memiliki bisnis online, maka semangat tetap terjaga.

Selain dua yang utama tersebut, sebenarnya ada mimpi lain. Tapi yang ini belum prioritas. Kalau aku sudah punya bisnis online, inginnya sih, berhenti mengajar. Aku ingin lebih banyak di rumah agar bisa merawat ibu mertua yang sudah sepuh, dan agar bisa punya waktu lebih banyak untuk anak-anak.

Itulah mimpi-mimpiku tahun ini. Semoga Allah mudahkan dan kabulkan. Aamiin ya rabbal'aalamiin.

Saturday, January 7, 2017

Ranking Satu


https://Fatihnovia.blogspot.com






Bismillah

"Anak ibu ranking berapa?" Pertanyaan yang selalu dilontarkan hampir oleh setiap orang tua saat pembagian raport tiba.  Adakah yang salah?
Mungkin sebagian kita mengganggap hal itu wajar-wajar saja. Apa salahnya bila orang tua berharap anaknya menempati peringkat tinggi di kelasnya, mengalahkan teman-temannya? Bukankah itu sesuatu yang sangat membanggakan?

Masalahnya, kita sering menganggap bahwa anak yang berprestasi adalah mereka yang menempati 5 atau 10 besar. Selain itu, dianggap anak yang, maaf, bodoh. Padahal nilai akademik, apalagi ranking, tidak bisa menjadi jaminan atau tolok ukur kepandaian atau kebodohan seorang anak. Karena setiap anak memiliki kecerdasan dan kelebihan serta kemampuan yang berbeda-beda.

Celakanya, banyak orang tua yang sangat berambisi untuk menjadikan anaknya menempati peringkat pertama dengan cara menyuruhnya ikut les tambahan yang mungkin tidak disukai anak, atau waktu belajar yang sangat ketat baik di rumah atau pun di sekolah. Akibatnya, banyak anak yang merasa stress karena ambisi orang tua ini.

Seperti cerita seorang ibu ini. Beliau memiliki 6 orang anak. Ketika anak pertamanya mulai bersekolah di SD, beliau sangat disiplin dalam mengatur waktu belajar putri pertamanya ini. Sebut saja namanya Putri. Setiap pulang sekolah, setelah ganti baju dan makan siang, tugas Putri adalah mengerjakan PR yang diberikan guru pada hari itu. Setelah selesai, Putri harus tidur siang. Sore hari, Putri belajar mengaji di TPA hingga menjelang Maghrib. Malam hari, adalah tugas Putri untuk belajar pelajaran esok hari dengan didampingi mamanya. Aktivitas ini berlangsung sejak Putri kelas satu hingga kelas tiga.

Menjelang kelas empat, Putri mulai bosan. "Ma, aku capai. Aku nggak mau sekolah," keluh Putri. Sudah dibujuk dengan berbagai cara, ternyata tetap saja Putri mogok sekolah. Akhirnya sang mama mengalah dan membiarkan Putri tidak sekolah. Sebagai gantinya, Putri diajak refreshing ke berbagai tempat wisata dan juga pusat perbelanjaan. Ini berlangsung selama hampir enam bulan. Kedisiplinan dan jadwal yang sangat ketat selam ini, ternyata harus dibayar mahal. 

Mengapa hal itu bisa terjadi? 
Kalau kita mengingat kembali prinsip parenting yang diajarkan agama Islam, 7 tahun pertama kehidupan anak harus diisi dengan banyak bermain. Belajar pun harus dengan cara menyenangkan, tidak seperti orang dewasa yang tahan duduk berjam-jam. Bila ini kita abaikan, dampaknya akan sangat tidak menyenangkan. Ketika kecil, anak kita mungkin rajin sekali belajar, atas instruksi orang tuanya. Prestasinya juga mungkin sangat membanggakan dan memuaskan orang tua. Namun, begitu tiba saatnya dia harus benar-benar belajar sendiri, rasa bosan mulai menyergap. Sekolah dan belajar menjadi sesuatu yang sangat ditakuti dan dihindari. Na'udzubillahi min dzalik. Oleh karena itu, mari kita bimbing anak kita sesuai fitrahnya dan sesuai tuntunan ajaran Islam, agar kita tidak salah langkah. Jangan jadikan anak kita sebagai pelampiasan ambisi orang tua yang tertunda.




Saturday, March 12, 2016

Jilbab Halal

Bismillaah
Hari ini saya mencoba untuk menulis isu yang sedang hangat dibicarakan di masyarakat. Setelah kemarin tidak sempat menulis karena mentok memikirkan tantangan minggu kedua ini, akhirnya dapat ide juga setelah membaca tulisan Ken Patih. Terimakasih bang sudah memberi inspirasi. Ternyata bisa kok, menulis yang ringan-ringan saja seperti Ken. Alhamdulillah...
Jilbab halal. Baru-baru ini iklan sebuah produsen jilbab yang mengklaim bahwa jilbab yang diproduksinya sudah tersertifikasi halal, justru menimbulkan polemik di masyarakat. Bahkan banyak pula yang apatis. (Bahasa apa ini, saya juga nggak mudeng)
Sebagai muslim kita patut menghargai usaha produsen tersebut, terlepas niatnya benar atau tidak. Yang jelas, sebagai seorang muslim memang kita wajib menggunakan segala sesuatu yang halal. Seperti yang telah disabdakan oleh Rasul tercinta kita, bahwa mencari yang halal itu wajib bagi setiap muslim. (HR. Tirmidzi)
Dulu sebelum teknologi secanggih saat ini, yang harus mempunyai label halal itu hanya makanan dan minuman yang kita konsumsi. Tapi sekarang, setelah terkuak tentang penggunaan babi dalam hampir semua produk barang, kita memang harus lebih selektif. Jangan sampai ibadah kita tidak sah karena ada benda najis yang menempel di badan kita.
Seperti kita ketahui, hampir 99% tubuh babi bisa dimanfaatkan oleh manusia. Dari bulunya, sampai jeroannya. Bulunya sudah biasa digunakan untuk kuas (baik kuas makanan maupun kuas cat/lukis), kulitnya untuk pembuatan tas, sofa, dan baran-barang lainnya. Enzimnya? Luar biasa banyaknya kegunaan enzim babi, bukan? Dari bahan tambahan makanan sampai media pembuatan vaksin imunisasi, dan alat kosmetik yang sangat lekat dengan wanita. Semuanya sudah tercemar najis, karena sesuatu yang haram pada hakikatnya juga najis.
Tapi kita tidak perlu cemas karena sekarang sudah banyak produk makanan maupun kosmetik yang sudah bersertifikasi halal. Terlepas tadi, apakah niat para produsen lurus atau tidak. Itu urusan mereka dengan Allah. Kewajiban kita hanyalah sebisa mungkin menggunakan yang halal sesuai kemampuan kita.
Kembali ke masalah jilbab halal, maksudnya jilbab yang disertifikasi halal, kita tidak perlu repot kok. Untuk melakukan kewajiban agama, Allah memudahkan kita. Kerjakanlah semampunya. Kalau memang jilbab halal harganya tidak terjangkau oleh kantong kita, tidak usah beli. Jangan sampai malah tidak pakai jilbab gegara belum bisa beli yang berlabel halal.
Sebenarnya yang berlabel halal itu bahan kain yang digunakan untuk membuat jilbab. Berarti termasuk pakaian kita pun juga rawan najis. Menurut MUI, dalam proses pembuatan kain, ada satu tahapan yang dikhawatirkan rawan. Yaitu pada saat pencucian kanji dari kain yang akan diberi warna. Untuk bahan katun, kanji itu hanya bisa luruh dengan bantuan enzim binatang. Dan, biasanya, dengan alasan murah, produsen menggunakan enzim babi. Wallahu a'lam.
Untuk lebih jelasnya, silakan buka: Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika MUI
www.halalmui.org
#One Day One Post
#Februari Membara
#7th day

Tuesday, March 8, 2016

Gerhana Matahari Dulu dan Sekarang


Hari ini saya merasa semua orang heboh dengan akan hadirnya gerhana matahari esok pagi. Rekan-rekan guru, siswa-siswi,  bahkan anak-anak di rumah pun tak mau kalah untuk memperbincangkan topik ini. Apalagi suami. Sejak kemarin sudah sibuk searching seluk-beluk gerhana matahari dan tata cara shalat kusuf. Tugas sebagai anggota DKM katanya.
Kalau Allah berkehendak, besok adalah kali kedua saya ikut merasakan gempitanya orang-orang menyambut gerhana matahari. Kira-kira 30 tahun yang lalu, waktu saya masih kelas 3 SD ( kalau tidak salah), sambutan masyarakat akan fenomena alam yang langka ini juga sangat luar biasa. Sampai-sampai turis mancanegara pun berbondong-bondong ke Indonesia untuk ikut menyaksikannya. Mereka membawa peralatan yang serba canggih untuk bisa menikmati keindahan alam yang hanya akan terjadi 30 tahun lagi itu.
Berbeda dengan para turis itu, kami, warga desa, hanya bisa melihat keajaiban alam itu melalui layar televisi hitam putih. Namanya juga hitam putih, jadi yang dilihat ya hanya bulatan hitam bulan yang menutupi matahari. Nggak ada indah indahnya pisan. Sedangkan mereka, para bule itu, bisa leluasa memandang keindahan langka itu dengan lensa mereka. Di luar rumah! Bagaimana dengan kami? Hanya bisa berdiam di dalam rumah karena takut mata akan buta bila sampai terkena sinar sang mentari yang sedang dimakan buto (raksasa).
Itu dulu. Sekarang? Ketakutan itu sudah tidak ada. Berkat informasi dan teknologi yang serba canggih, kita tahu bahwa peristiwa alam ini tidak berbahaya. Asalkan tidak melihat langsung ke matahari, maka tak akan terjadi apa-apa. Melihatnya dari tivi yang di rumah saja. Kalau ke matahari langsung, bisa gosong. (Hehe ... Ngaco nih tulisannya).
Alhamdulillah, sekarang gempita sambutan masyarakat berupa ajakan dan seruan untuk melaksanakan sholat sunah kusuf. Hampir di setiap masjid akan dilaksanakan sholat ini. Suatu kemajuan yang menggembirakan dan harus disyukuri. Semangat untuk syiar Islam tumbuh di mana-mana bagai jamur di musim hujan. Dan, memang sekarang sedang musim hujan. Pas banget!
Selamat menunaikan sholat sunah kusuf besok pagi!
Dan selamat menikmati keajaiban alam yang langka!
#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari

Monday, February 29, 2016

Ta'aruf



Bismillaah
Sebagai kewajiban anggota yang dapat arisan ODOP, kali ini saya mau memperkenalkan diri supaya teman-teman ada sedikit gambaran dan bayangan karena ada pepatah yang mengatakan, tak kenal maka ta'aruf.
Saya diberi nama Nindyah Widyastuti, lahir di sebuah desa di Kabupaten Klaten. Sebuah desa yang sangat nyaman bagi saya. Udaranya sejuk, airnya bening dan segar, bebas polusi, bila musim kemarau tak kekeringan, dan bila musim hujan tak kebanjiran. Benar-benar surga dunia saya. Tapi sayang, sejak lulus MI, saya harus meninggalkan desa itu dan pindah ke kota kabupaten, tempat saya menimba ilmu di MTs dan SMA.
Ibu sudah meninggal saat saya kelas 3 SD, disusul ayah saat kelas 6 SD. Oleh karena itulah saya ikut paklik di Kota Klaten, dan tinggal di sana selama belajar di MTs dan SMA.
Saya mulai menulis di buku diary sejak kelas 6. Mungkin ini sebagai pelampiasan saya karena tak ada tempat curhat. Jadilah curhat melalui buku. Kebiasaan itu berlanjut sampai mau menikah. Setelah menikah, kebiasaan itu mulai terlupakan karena kesibukan rumah tangga. (Sebenarnya sok sibuk saja, sih, dan malas)
Selain menulis curhat dalam bentuk narasi, saya juga suka membuat puisi. Ada satu buku berisi puisi, itu yang sempat saya kumpulkan. Yang lain? Tercecer entah kemana. Dan, hobi mencipta puisi ini pernah berbuah manis. Puisi saya mendapat juara ke-3 dalam lomba puisi sesekolah waktu SMA.
Masa SMA benar-benar masa yang penuh aktivitas dan prestasi bagi saya. Ketika itu kelompok KIR SMA kami keluar sebagai juara 1 tingkat kabupaten, dan alhamdulillah, saya ikut berpartisipasi di dalamnya. Saat SMA pula saya bisa berkarya dan mendapat kesempatan untuk mempublikasikannya di beberapa majalah pelajar di Klaten. Beberapa kali mendapat kesempatan ikut berbagai jenis lomba, akhirnya bisa menyumbang prestasi menjadi pelajar teladan kedua tingkat kabupaten. Lagi-lagi mentok hanya sampai kabupaten. Tak apa, alhamdulillah mendapat banyak pengalaman dan teman. Prestasi ini tentu saja berkat izin Allah dan bimbingan para guru yang juga menjadi orang tua saya. Jazakumullah khairan katsira bapak/ibu guru semua yang tak kenal lelah dalam membimbing saya. (Jadi terharu ingat mereka, yang sebagian sudah almarhum)
Lulus SMA, saya merantau ke ibu kota, ikut saudara saya yang lain, bude. (Beginilah nasib anak yatim piatu. Selalu mengharap belas kasih orang-orang terdekat dan tercinta.)
Setelah kuliah, aktivitas menulis hanya sebatas di atas buku diary. Tak pernah terpikir untuk mengirimkannya ke media massa.
Tapi ketika mengajar di lembaga kursus bahasa Inggris, New Concept, saya diamanahi oleh Pak Arsadi Latief (sang owner) untuk membuat buku pegangan siswa. Dalam pembuatan buku ini, saya bekerja dalam tim. Alhamdulillah saya sempat merasakan nikmatnya membuat buku dengan menerima royalti setiap catur wulan.
Sekarang, setelah hampir 13 tahun vakum tidak  menulis, akhirnya dapat kesempatan untuk mengisi mading sekolah. Agak sulit saat memulai dan sering tak punya ide pada awalnya. Alhamdulillah pada awal 2016, Allah mempertemukan saya dengan gerakan One Day One Post yang diprakarsai oleh Bang Syaiha. Jadilah sekarang saya harus menulis setiap hari, dan sekarang harus menulis tentang diri sendiri. Seumur-umur, baru kali ini bercerita tentang perjalanan hidup kepada khalayak ramai. Dulu sih, pernah, waktu ta'aruf. Tapi kan, untuk kalangan intern ya.
Itulah sekelumit tentang saya, semoga ada manfaatnya. (Ngarep.com)
#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari

Friday, February 26, 2016

Selalu ODOP


Bisa bergabung di One Day One Post alias  ODOP,  adalah "sesuatu" bagi saya. Berawal dari gabung dengan KBM (Komunitas Bisa Menulis), saya membaca post Bang Syaiha tentang tantangan ODOP. Tanpa pikir panjang, saya langsung save no. Wa Bang Syaiha. Ternyata tak semudah dalam bayangan. WA Bang Syaiha tak muncul-muncul. Setelah beberapa hari, baru muncul. Begitu mau daftar, yaaah ... format registrasinya lupa. Cari-cari di fb,  tak ketemu juga. Akhirnya langsung bertanya saja dengan sang komandan, Bang Syaiha. Begitu buka WA, ternyata saya sudah dimasukkan ke grup ODOP dan... masyaallah, banyak sekali yang menyambut saya. Jadi ge-er.
Ya ... kesan pertama gabung ODOP sangat menyenangkan. Para anggotanya sangat ramah dan kekeluargaannya juga sangat terasa. Setiap anggota baru yang datang selalu disambut dengan 'petasan' chat yang gegap gempita. Dan suara notifikasi grup ini tak ada matinya, berdering-dering terus. Dari semua grup yang saya ikuti, ODOP-lah yang paling 'berisik', sampai hp saya buat silent. Meskipun demikian, baca chat di group ini selalu menjadi aktivitas yang asyik. Kadang senyum-senyum sendiri baca obrolan yang lucu, diselingi berantem yang bersahabat. (Berantem kok bersahabat, piye to?)
Apa sih untungnya gabung ODOP?
Banyak sekali! Yang pertama tentunya, kita belajar menulis. Ini sangat penting bagi saya yang masih bau kencur dalam hal tulis-menulis. Selain itu, belajar juga tentang blog. Sesuatu yang sangat baru bagi saya. Terus-terang saja, saya kenal blog ketika gabung ODOP. Karena salah satu syaratnya harus memiliki blog, maka saya beranikan diri untik membuatnya.
ODOP adalah 'sesuatu'. Keharusan untuk menulis setiap hari, membuat saya selalu berpikir, apa yang akan ditulis hari ini. Ke mana pun dan di mana pun, serta kapan pun, selalu ingat ODOP. Seperti orang yang sedang jatuh cinta. Mau makan, ingat ODOP. Mau ngajar, ingat ODOP. Mau masak, ingat ODOP. Mau nyuci, ingat ODOP. Seperti lagu zaman dulu itu. Lagu Dina Mariana, kalau tidak salah. ODOP sudah membuat saya sibuk. Sibuk baca chat, sibuk cari inspirasi, sibuk blog walking. Kesibukan yang terakhir ini telah mencuri fokus saya dari pekerjaan yang lain. Ketika teman-teman sedang terlibat obrolan seru, saya malah asyik baca tulisan teman-teman. Sampai ada yang menegur, "Serius banget, sih, Bu?" Hehe...sedang menikmati tulisan teman-teman yang keren-keren, nih. Jawab saya dalam hati.
Bagi saya ODOP sangat berarti. Sejak gabung di ODOP, saya harus bisa membagi waktu biar bisa menulis. Dan, biasanya saya baru bisa menulis setelah anak-anak tidur. Alhasil, jam tidur saya jadi berubah. Kalau tadinya pukul sembilan bisa menjemput mimpi, sekarang malah masih mencari ide. Sehingga pukul sebelas lebih baru bisa ke pulau kapuk. Apalagi kalau tergoda ingin blog walking, pukul duabelas baru menutup mata.
Tapi saya sedih, karena program ODOP cuma 4 bulan. Setelah itu akan ada penyaringan anggota. Bagaimana kalau saya ter-eliminasi? Haruskah saya berkemas dan pergi dari dunia ODOP?
Kita tunggu saja tanggal mainnya. Pasti Allah sudah punya rencana. Saya bisa ada di sini atas izin Allah, dan kalau pun saya harus ter-eliminasi, itu pun atas kehendak Allah. Tawakal 'alallah saja. Sekian. Semoga bisa menjawab tantangan minggu keempat Februari.
#One Day One Post
#Februari Membara
#19th Day

Wednesday, February 17, 2016

Tragedi

Ketika menulis ini, perasaan saya campur aduk. Sedih, geram, takut, tak berdaya, berkumpul jadi satu. Ingin rasanya menangis dan teriak sekeras-kerasnya agar sesak dada ini berkurang. Tapi malu, rasanya. Akhirnya saya tuangkan saja dalam tulisan ini. Mudah-mudahan hati saya menjadi lega dan mendapat pencerahan.
Beberapa menit yang lalu, saya mendapat pesan dari rekan guru. Setelah membaca pesan itu, dada ini serasa gemuruh lava yang ingin keluar dari perut bumi. Pesan itu berkisah tentang malangnya nasib seorang gadis balita yang, maaf, diperkosa oleh papanya sendiri di rumah eyangnya. Astaghfirullah, ayah macam apa itu!!! Sudah sebegitu bobroknyakah moral bangsa ini? Belum kering tinta media massa dan media sosial ramai memberitakan LGBT. Sekarang ada lagi yang lebih mengerikan. Dan, setahu saya memang ini bukan berita baru. Sebelumnya juga sudah ada kasus-kasus serupa itu. Tapi yang membuat merinding dan bergidik, korbannya itu anak TK yang masih sangat lugu dan lucu. Dan, pelakunya, bapaknya sendiri!!! Seorang yang menyandang gelar S3! Ternyata tingginya pendidikan tidak berbanding lurus dengan tingginya akhlak. Kalau pun tidak bisa berakhlak yang baik, minimal dia seharusnya mempunyai naluri seorang ayah yang ingin selalu mengayomi dan melindungi buah hatinya. Lha ini? Malah menghancurkan dan meluluh-lantakkan kehidupan putrinya.
Ya Allah, hanya kepada-Mu kami berlindung dari kejahatan makhluk-Mu.
Sampai detik ini, saya tak habis pikir dengan peristiwa itu. Tega-teganya dia berbuat begitu kepada darah dagingnya sendiri. Iblis macam apa yang sudah mengendalikan nafsunya itu? Astaghfirullah.
Jujur, sebagai seorang ibu, saya merasa takut. Apalagi anak saya juga perempuan dan ada yang masih balita. Sepertinya dunia ini sudah tidak aman lagi. Terus, kita mau tinggal di mana?
لاحول ولاقوت الابالله العلي العظيم
Hanya kepada Allah-lah kita berserah diri. Tanpa lindungan dan rahmat-Nya, mustahil kita bisa selamat dari aneka macam marabahaya dunia modern saat ini.
Selain bertawakal kepada Allah, tentunya kita pun harus berikhtiar dan berdoa.
Ikhtiar dimulai saat kita memilih pasangan hidup. Rasulullah saw telah memberikan petunjuk agar kita memilih calon suami/ isteri yang baik agamanya. Bukan cantik atau tampannya, bukan kekayaannya, bukan darah birunya, bukan kepintarannya pula. Karena semua itu tidak menjamin kebahagiaan kita.
Setelah menikah, kita hiasi rumah dengan syariat Islam dan selalu menambah ilmu keislaman serta mengamalkannya. Karena ajaran Islam bukan agama teoritis, tetapi aplikatif. Apa yang sudah kita pahami, kita laksanakan. Bersama pasangan hidup kita, tentunya. Agar tercipta keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Agar terwujudlah baiti jannati.
Setelah ikhtiar tersempurnakan, selalu basahi lisan dengan untaian doa, memohon belas kasih Illahi Robbi agar hidup ini selamat dunia-akhirat, jauh dari marabahaya. Bila semua telah kita lakukan, hanya tawakal 'alallah jalan terakhir. Bila ujian dan cobaan tetap menghampiri, itu tanda sayang-Nya kepada hamba terkasih.
لايكلف الله نفساالاوسعها
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al Baqarah: 286)
Ya Allah, mohon turunkan rahmat-Mu kepada kami.
Ya Allah, kasihilah gadis kecil yang malang itu. Limpahilah ia dengan rahmat-Mu. Aamiin ya robbal'alamiin.
#One day one post
#Februari Membara
#13th day

Tuesday, February 16, 2016

Cakra Manggiling



Dalam bahasa Indonesia, cakra manggiling artinya roda berputar. Hidup kita ini seperti roda berputar, kadang di atas, kadang di tengah, dan kadang di bawah. Sangat dinamis. Bagi kita, itu sudah sunnatullah. Sesuatu yang pasti terjadi. Bahasa kerennya, mungkin, hukum alam.
Tidak ada orang yang miskin atau menderita terus-menerus sepanjang hidupnya. Pasti ada saatnya dia merasa di atas; bahagia. Dan, bahagia tidak melulu dihargai dengan materi. Karena, bahagia tempatnya di dalam hati. Ada orang yang kaya raya, tapi hatinya hampa. Sebaliknya, ada orang yang serba kekurangan secara materi, tapi dia selalu bahagia.
Begitu pun sebaliknya, tidak ada orang yang berada di tengah atau di atas terus-menerus. Suatu saat dia pasti merasakan bagaimana nikmatnya berada di bawah. Di mana pun posisi kita, sebagai orang yang beriman, kita harus selalu siap menghadapi dan menjalaninya. Seperti yang sudah diwasiatkan oleh Rasulullah saw bahwa betapa indah urusan seorang mukmin. Ketika mendapatkan nikmat kesenangan, dia bersyukur. Dan saat memperoleh musibah atau nikmat kesedihan, dia bersabar. Dengan begitu kita tidak akan merasa stress.
Itulah yang selalu ingin kuterapkan dalam hidup yang cuma sekejap ini. Ketika aku merasa lelah dengan tingkah laku anak-anak yang sering mengesalkan dan memancing emosi, aku teringat dengan putra saudaraku yang kurang beruntung. Sejak usia 8 bulan, putra saudaraku itu lumpuh, tak bisa bicara, dan perkembangan tubuhnya terhambat. Di usianya kini yang sudah melewati 10 tahun, di saat anak-anak lain menikmati indahnya sekolah, dia hanya bisa berguling-guling di lantai dengan kedua kakinya yang kecil. Di saat anak-anak lain asyik menghafal Al Qur’an, mengucapkan kata “mama” saja dia tak mampu. Kehadirannya menjadi ibroh luar biasa bagiku. Membuatku harus bersyukur dengan anugerah Allah yang luar biasa; anak-anakku yang tumbuh sehat dan cerdas. Meskipun kadang-kadang aku harus marah, tapi tak membuatku membenci mereka. Mereka adalah amanah yang telah diberikan Allah kepadaku dan suami. Harus disyukuri dan jangan disia-siakan.
Di waktu lain aku merasa begitu sesak menjalani hidup ini ketika kebutuhan hidup melonjak tinggi, sedangkan pemasukan tidak bertambah. Pusing memikirkan biaya sekolah yang semakin hari semakin melangit. Di saat itulah Allah mengirimkan hamba-Nya yang lebih menderita dan lebih sengsara dibandingkan keluargaku. Seperti sore itu. Ketika kami sedang bingung dengan uang pendaftaran dua putriku yang mau masuk SMP dan SMA, teman suamiku datang mengadu. Sudah beberapa minggu ini suaminya pergi tak tahu kemana. Suaminya merasa takut karena setiap hari didatangi debt collector. Ternyata suaminya punya utang 800 juta ke bank dan beberapa rekan bisnis. Karena tidak tahu mau bayar dengan apa, maka sang suami kabur meninggalkan rumah. Tinggal isterinya yang selalu diteror orang-orang yang tak dikenal. Maasyaallah ... begitu indah teguran-Mu ya Allah. Terimakasih ya Allah, meskipun kami sering kekurangan, Alhamdulillaah kami tidak punya utang sebesar itu.
Satu lagi yang selalu membuatku mensyukuri hidup ini; suamiku. Meski dia bukan laki-laki yang sempurna, tapi dia sudah berusaha selalu membahagiakanku dan anak-anakku. Ketika konflik terjadi antara kami berdua, yang menyebabkanku berurai air mata, di saat itulah aku berusaha menghibur diri. Teringat saudaraku yang lain, yang suaminya telah selingkuh berkali-kali, tapi tak ingin menceraikan isterinya. Nafkah lahir pun selalu tak  cukup untuk kehidupan mereka berempat. Bila ingat itu, sepedih  apa pun hatiku, tak kan sebanding dengan rasa syukurku karena telah mempunyai suami sebaik dan sesholeh dia. Alhamdulillaah.
Kalau kita selalu mensyukuri apa yang ada pada diri kita, dan tidak selalu melihat ‘ke atas’, maka hidup ini selalu indah nampak di mata. Meskipun kita sedang berada di bagian bawah roda, kita tidak akan mengeluh, apalagi sampai menyalahkan Allah. Karena di luar sana, masih lebih banyak saudara kita yang lebih sengsara dibandingkan kita.

#One Day One Post
#Februari Membara
#12th Day

Monday, February 8, 2016

Tantangan Minggu Kedua Februari



Tantangan Minggu Kedua Februari


Hari ini hari pertama, pekan kedua bulan Februari. Seharian ini aku berusaha mencari ide untuk menjawab tantangan Bang Syaiha, yaitu menulis yang berkaitan dengan isu yang tengah hangat dibicarakan masyarakat. Sebenarnya sudah sejak hari Sabtu aku mencari isu apa yang tengah berkembang dan yang bisa aku tulis. Nah ... sudah dapat satu ide. Tapi ketika mau kutulis, ada sedikit kontroversi berkembang dan membuat aku bimbang untuk menuliskannya. Ditambah lagi aku belum begitu menguasai topik persoalannya. Daripada nanti malah tidak sesuai fakta dan data, dan malah menimbulkan banyak polemik, akhirnya kuurungkan niat untuk menulis. Sekarang aku bingung mau menulis apa.

Sebenarnya, menulis bukan hal baru bagiku. Dulu ... dulu ... sekali ... saat aku di bangku MTs dan SMA, aku sudah biasa menulis puisi dan artikel sederhana, plus menulis catatan harian sebagai luapan perasaaan. Begitu menginjak bangku kuliah, aku masih rajin menulis meskipun tak ada satu pun yang dipublikasikan, hanya menjadi arsip pribadi. Saat menikah dan mulai mempunyai anak, aktivitas menulisku bisa dikatakan timbul tenggelam. Tidak menjadi rutinitas lagi. Hingga di awal tahun 2016 ini.

Pada pertengahan bulan Januari, atas izin Allah, aku diperkenalkan dengan program ODOP yang dikomandoi Bang Syaiha. Sejak saat itulah aku mulai rutin menulis, kecuali Sabtu-Ahad. Libur. Bukannya aku tidak mau menulis, tapi aku ingin mengikuti prosedur saja, karena di ODOP memang libur setiap Sabtu-Ahad. Yaah ... sebagai pemula, aku ingin belajar konsisten untuk menulis dulu. Dengan libur dua hari, aku berharap bisa menyegarkan pikiran dan mendatangkan ide-ide baru. Sedikit tak apa, yang penting konsisten. Dan konsisten itulah yang sulit.

Tantangan pekan kedua ini sempat membuatku ingin berhenti saja, karena mulai sulit terasa. Tapi, seperti kata teman-teman di ODOP, aku tak ingin menyerah. Terus mencoba meskipun hasilnya tak bagus. Alhamdulillah setelah Blog Walking, aku semakin menguatkan diri agar terus mengikuti program ini. Terimakasih teman-teman semua. Meskipun aku tidak aktif dengan chat di WA, tapi selalu menyimak, dan mendapatkan banyak ilmu dan manfaat. Jazakumullah khairan katsira.
#One day one post
#Februari membara
#6th day