Showing posts with label pejuang siroh. Show all posts
Showing posts with label pejuang siroh. Show all posts

Wednesday, August 28, 2024

Belajar dari Gaza; Menempa Jiwa Ananda Agar Teguh Tanpa Rapuh

Bismillah 


Gaza memiliki arti kekuatan, benteng. Tak heran bila Gaza begitu tangguh dan kuat melawan Israel. Semua elemen masyarakatnya bersatu melawan Israel, dari anak-anak, wanita, dan tentu saja para pemudanya. Dan, contoh ketangguhan itu dengan sangat jelas, diperlihatkan oleh Hamas yang telah berhasil melawan Israel selama lebih dari 300 hari. Padahal, dulu, pada saat perang dunia, negara-negara bertekuk lutut kepada musuhnya hanya dalam hitungan hari. 


Bagaimana para orang tua mendidik anak-anak Gaza hingga setangguh itu? Berani melawan tank-tank canggih hanya bermodalkan batu kerikil.
Agar anak-anak aktif melawan kemaksiatan, ceritakan kisah-kisah para nabi, terutama dari Nabi Ibrahim hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. 


Gaza adalah Raudhotul Qur'an. Kalau kita tidak bisa ke sana, minimal, infak kita bisa sampai ke sana. Alhamdulillaah kalau bisa sampai mengangkat anak asuh para pejuang Intifada. 


Mereka adalah saudara-saudara kita, seperti yang difirmankan Allah dalam ayat berikut.




فَاِ نْ تَا بُوْا وَاَ قَا مُوا الصَّلٰوةَ وَاٰ تَوُا الزَّكٰوةَ فَاِ خْوَا نُكُمْ فِى الدِّيْنِ ۗ وَنُفَصِّلُ الْاٰ يٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ


"Dan jika mereka bertobat, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat, maka (berarti mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui."
(QS. At-Taubah: Ayat 11)



Maka kita harus membantu mereka. Membantu mereka sama dengan menolong agama Allah. Barangsiapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَا مَكُمْ


"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
(QS. Muhammad: Ayat 7)



Selain menceritakan tentang kisah-kisah para nabi, ikhtiar lain yang bisa kita lakukan adalah dengan memberikan pemahaman tentang hadits Jagalah Allah. 

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.’” (HR. Tirmidzi, dan ia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).

Sumber https://rumaysho.com/19629-hadits-arbain-19-menjaga-hak-allah-dan-memahami-takdir.html



Dengan bekal keyakinan itu, anak-anak Gaza tumbuh dengan kepribadian yang kuat dan tahan banting. Ketika mereka dipenjara, disiksa, ditembak, mereka justru merasa semakin dekat dengan Allah. MaasyaaAllah.



Rahasia anak-anak Intifada menjadi sepemberani itu adalah, salah satunya, menghafalkan dan mengamalkan hadits "Jagalah Allah ..." Dengan bekal hadits tersebut, mereka semangat menghafalkan Al-Qur'an walaupun berada di kamp-kamp pengungsian, bukan di masjid atau di sekolah-sekolah Islam. Oleh karena itu, mereka sangat ditakuti oleh Israel. Kita tahu, bahwa Israel sering mengarahkan rudalnya ke daerah pemukiman dan juga sekolah, yang pastinya terdapat banyak anak-anak. 


Salah satu kemuliaan yang Allah berikan kepada kita adalah saat kita mampu mengasuh mereka. Mereka tidak pernah meminta atau mengemis untuk diasuh. Tetapi, kitalah yang butuh amalan ini agar mendapatkan ridho Allah.


Kesimpulannya, hubungan kita dengan Allah akan semakin dekat apabila kita juga dekat dengan Al-Qur'an dan siroh. 

Wallahu a'lam bishshowwab.

Monday, August 26, 2024

Sharing Session (2)


Bismillah 


Tausiyah selanjutnya adalah dari Ustadz Cahyadi Takariawan yang juga dikenal dengan sebutan Pak Cah, salah seorang guru menulis saya. Berikut ini poin-poin penting yang disampaikan beliau dalam acara Boot Camp.


a. Pengasuhan keimanan tidak terbatas pada rutinitas atau ritual pencapaian (hafalan, nilai-nilai kognitif). Jangan sampai kita melupakan hakikat. Misalnya, hakikat menghafal Al-Qur'an adalah agar kita memiliki energi dalam beramal dan berakhlak. Hakikat keimanan adalah muroqobatullah (merasakan pengawasan Allah di mana pun kita berada).



Untuk mengenalkan dan membuat semua muslim sadar dengan hakikat ini, SLC bisa ambil bagian dengan edukasi, sentuhan, dan komunikasi kepada para orang tua agar mereka tidak hanya berorientasi pada ritual atau rutinitas seperti yang disebutkan di atas.



Hal ini bisa dilakukan di luar kelas yang hanya mementingkan angka-angka. Salah satunya dengan berkisah. Berkisah lebih mudah diterima anak karena terkesan tidak menggurui. Agar semakin banyak elemen masyarakat yang bisa menikmati dan menggunakan buku-buku bermutu sebagai bekal untuk berkisah, maka SLC bisa menggalang wakaf buku dengan cara kencleng. Caranya, kita menyebarkan dan menawarkan kepada siapa saja yang mau ikut berwakaf buku dengan mengisi kencleng atau celengan yang kita bagikan. Mereka bebas mau mengisi berapa pun.  Setelah beberapa hari, nanti dikumpulkan dan uangnya dapat digunakan untuk membeli buku. Dengan demikian, semoga semua anak Indonesia dapat mengakses buku-buku bermutu dari SDI sehingga mereka pun akan terbentuk akhlaknya seperti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻.



b. Guru yang baik adalah guru yang wajahnya memancarkan keimanan. Pesan salah seorang ustadz yang juga seorang da'i untuk daerah-daerah pelosok, "Yang butuh dakwah itu, kita." Jadi, tidak perlu kecewa, saat tidak ada yang merespon dakwah kita. Bila dikaitkan dengan peranan kita sebagai pejuang siroh, "Yang butuh menyebarkan siroh itu, kita. Jadi, tidak perlu kecewa bila belum ada yang merespon." 
Tetap semangat menyebarkan siroh, pantang menyerah!!!




Selanjutnya adalah tausiyah dari Ustadz Salim A. Fillah yang menceritakan kisah-kisah dalam Al-Qur'an. Semua keluarga pasti menginginkan keluarga yang ideal, keluarga yang lengkap, penuh kasih sayang, harmonis, dan berkecukupan. Namun ternyata, di dalam Al-Qur'an, yang diceritakan justru keluarga-keluarga yang tidak ideal. Seperti Bunda Asiyah yang memiliki suami yang kafir, Nabi Nuh memiliki anak dan istri yang tidak mau beriman kepada Allah, Nabi Ibrahim yang harus berpisah dengan anak istrinya, Nabi Ya'qub yang anak-anaknya membangkang, Nabi Luth, dan Nabi Zakaria 'alaihimussalam.



Walaupun mereka bukan keluarga ideal pada awalnya, namun kisah mereka happy ending karena mereka selalu mengadu kepada Allah. Bahkan kisah Nabi Yusuf yang sangat menyedihkan itu, ternyata merupakan "Ahsanul Qoshos" kisah-kisah terbaik sepanjang masa. MaasyaaAllah.


Kisah-kisah para nabi tersebut merupakan penguatan untuk kita bahwa masih ada kesempatan happy ending, selama kita selalu mengadukan masalah kepada Allah 'Azza wa Jalla.



Menurut Ustadz Salim, kita akan diuji oleh Allah pada titik terkuat kita. Seperti yang telah dialami oleh para nabi.



Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam memiliki gelar "Al Amin", yang membuat semua penduduk Makkah percaya kepada beliau. Tetapi, saat beliau mulai mendakwahkan Islam, kebanyakan kaumnya mengatakan bahwa "Muhammad pendusta". Astaghfirullah.



Bunda Maryam adalah perempuan suci yang selalu menjaga kesucian dirinya. Tetapi beliau malah difitnah telah menodai kesucian dirinya sendiri, dikira telah berzina sehingga hamil dan melahirkan Nabi Isa 'alaihissalam. 



Nabi Ibrahim yang telah bertahun-tahun merindukan kehadiran seorang buah hati, ketika sudah mendapatkan malah disuruh berpisah, bahkan diperintahkan untuk membunuh putranya tersebut.  Begitu pula Nabi Ayyub yang sangat mencintai anaknya tetapi dipisahkan. 



Dari uraian di atas, kita bisa simpulkan bahwa ketika kita mengisahkan atau membaca kisah-kisah para nabi dan rasul itu, tidak sekadar membahas apa mukjizatnya. Tetapi, kita pun perlu mengisahkan juga nilai-nilai keluarga, kepahlawanan, hubungan dengan Allah, tauhid, dan juga kesabaran.



Setiap hari kita berdoa kepada Allah agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus. Jalan yang lurus itu, bukan jalan yang mulus, tetapi jalan yang menuju Allah. Lurus tujuannya, tetapi juga ada belokannya, ada rintangannya, dan ada ujiannya.



Walaupun begitu, kita harus selalu bersyukur kepada Allah. Bersyukur itu bisa dilakukan dengan cara:
1. Mengingat siapa yang memberikan. 
2. merawat, menjaga, dan menggunakannya untuk menyenangkan Sang Pemberi.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَاَ مَّا الْاِ نْسَا نُ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ رَبُّهٗ فَاَ كْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗ ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَكْرَمَنِ 


"Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku."
(QS. Al-Fajr: Ayat 15)



Lancar atau tidak usaha kita, kita harus tetap bersyukur. Karena semua yang ada di dunia ini, semuanya hanya semasa atau sementara.



Kita adalah penerus dakwah Nabi yang dipilih Allah untuk menebarkan siroh. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mundur atau pensiun, apalagi berhenti.





Saturday, August 24, 2024

Sharing Session "Boot Camp"

Bismillah 


Sharing Session malam ini menampilkan Bunda Ida Nur Laila, Bunda Aini, dan Bunda Marni. Beliau bertiga berkesempatan mengikuti Boot Camp pada tanggal 20-22 Agustus 2024 di Jogja. MaasyaaAllah, di acara tersebut, bertebaran para ustadz, sehingga banyak ilmu juga yang didapatkan.



Di antara para ustadz tersebut, yang tausiyahnya di-share malam ini adalah Ayah Benny, Ustadz Cahyadi Takariawan, dan Ustadz Salim A. Fillah.



Poin-poin penting yang disampaikan Ayah Benny adalah sebagai berikut.



1. Palestina harus kita perjuangkan sampai Fathul Aqsha.



2. Misi kita sama dengan dakwah para nabi, yaitu menyebarkan tauhid. Oleh karena itu, kisah para nabi harus kita sebarkan. Kalau kita tidak melakukan ini, kita seperti menghentikan usaha untuk menyebarkan tauhid. Maka, kita tidak boleh cuti apalagi pensiun dari profesi ini, pejuang siroh (SLC). Apabila ada amanah lain, jangan sampai dibentrokkan. Sebisa mungkin dikolaborasikan.



3. Ada seorang SLC yang sudah 12 tahun aktif menyebarkan siroh, tetapi belum pernah closing. MaasyaaAllah, saya baru beberapa bulan saja sudah closing, walaupun melalui wakaf. Alhamdulillah. Hebatnya, SLC tersebut tidak kapok berada di komunitas ini, tidak menyerah apalagi berhenti dalam menyebarkan siroh. Walaupun belum pernah closing, tetapi beliau merasakan adanya keberkahan dan kemudahan dalam kehidupan. Misalnya, ketika anak sakit dan butuh biaya untuk berobat, Allah berikan melalui jalan yang tidak disangka-sangka. MaasyaaAllah tabarakallah. Jadi, beliau ini closing dalam bentuk lain, yaitu keberkahan dan kemudahan rezeki.



4. Ujian pasti ada dalam kehidupan ini, begitu pula dengan peran kita sebagai pejuang siroh. Tetapi, ujian itu jangan sampai membuat kita mundur. Justru kita harus menyiapkan diri dengan saling menguatkan. Contoh ujian yang dialami Ayah Benny adalah kehilangan uang saat para SLC sudah berkumpul di Annual Meeting. Tak lama setelah itu, ada orang yang menolong beliau dengan menggantikan uang tersebut, bahkan beliau masih bisa bersedekah dengan memberikan makanan gratis. MaasyaaAllah tabarakallah.



5. Saat kita merasa ingin jeda sejenak dari aktivitas menebarkan siroh karena ingin fokus membersamai anak-anak di rumah, justru kita harus lebih semangat. Kita harus yakin bahwa dengan meneruskan risalah para nabi, kita akan mendapatkan energi lebih banyak dan lebih baik untuk bekal mendidik dan mengasuh anak. Karena dengan menjadi pejuang siroh, semoga Allah menurunkan rahmat-Nya dengan memberikan hidayah kepada kita dan keluarga kita. Karena Allah akan menolong orang yang menolong agama-Nya.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَا مَكُمْ


"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
(QS. Muhammad: Ayat 7)


6. Perbaiki niat. Kita harus ikhlas illallah. Kemudian, kuatkan ikhtiar langit dengan doa dan silaturahmi.


7. Wakaf menjadi jembatan untuk menyelesaikan problematika umat. Semoga dengan wakaf buku siroh, banyak anak bangsa yang mendapat hidayah dan ilmu yang bermanfaat, yang menjadikan mereka generasi terbaik dengan meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para nabi serta para sahabat. Aamiin aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻.