Showing posts with label SDI. Show all posts
Showing posts with label SDI. Show all posts

Saturday, August 31, 2024

Belajar dari Maryam, Perempuan Suci yang Melahirkan Seorang Nab



Oleh: Ustadz Hammad Rosyadi, Lc.


Dua per tiga isi Al-Qur'an adalah kisah. Kisah para nabi, orang-orang shalih, dan juga orang-orang yang ingkar akan keesaan Allah 'Azza wa Jalla. Kisah-kisah tersebut memberikan hikmah, ibroh kepada kita, umat Islam.


Al-Qur'an sendiri memiliki beberapa makna.
1. Dzikrun artinya pengingat, kemuliaan 
2. Mau'idzotun artinya nasihat
3. Nuurun artinya cahaya.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

لَـقَدْ كَا نَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ ۗ مَا كَا نَ حَدِيْثًا يُّفْتَـرٰى وَلٰـكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّـقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ


"Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur'an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. Yusuf: Ayat 111)


Mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu yang telah wafat adalah yang paling tepat. Terutama kepada mereka yang InsyaaAllah husnul khatimah dan hidupnya senantiasa dalam ketaatan.


Dua orang wanita yang disebut dalam Al-Qur'an:
1. Asiyah binti Muzahim, istri Fir'aun 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّـلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا امْرَاَ تَ فِرْعَوْنَ ۘ اِذْ قَا لَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَـنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ 


"Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir'aun, ketika dia berkata, Ya Tuhanku, bangunkan lah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,"
(QS. At-Tahrim: Ayat 11)


Kisah Bunda Asiyah berkaitan dengan dihanyutkannya bayi Musa ke Sungai Nil. Saat akan menghanyutkan putranya, Ibunda Musa membutuhkan kemantapan hati yang sangat kuat, mengingat Sungai Nil adalah sungai yang sangat lebar dan panjang.


2. Maryam binti Imran, Ibunda Nabi Isa 'alaihissalam, yang disebut juga dengan "Al Batul" atau "The Virgin Mary", Maryam yang suci.



Kedua insan di atas menjadi inspirasi bagi para ibu yang single parent. Tanpa suami, mereka berdua bisa mendidik dan membesarkan putranya menjadi sosok yang luar biasa. 


Para nabi yang yatim atau diyatimkan:
1. Nabi Ibrahim.
Menurut para ulama tafsir, Azar ternyata bukan ayahanda Nabi Ibrahim. Dia hanya paman beliau.


2. Nabi Ismail diyatimkan karena sejak bayi sudah ditinggal ayahnya di lembah sunyi bersama ibunya. 


3. Nabi Isa 'Alaihissalam
4. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَا تَّخَذَتْ مِنْ دُوْنِهِمْ حِجَا بًا ۗ فَاَ رْسَلْنَاۤ اِلَيْهَا رُوْحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا


"lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna."
(QS. Maryam: Ayat 17)


Malaikat Jibril mendatangi Maryam dalam bentuk seorang manusia yang sempurna. Tetapi Maryam tidak tergoda. Ini membuktikan bahwa sejak gadis, Maryam adalah wanita yang bertaqwa yang sangat menjaga kesuciannya. 

فَحَمَلَـتْهُ فَا نْتَبَذَتْ بِهٖ مَكَا نًا قَصِيًّا


"Maka dia (Maryam) mengandung, lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh."
(QS. Maryam: Ayat 22)



Orang yang pertama kali beriman kepada Nabi Isa adalah Nabi Yahya, saat keduanya masih di dalam kandungan. Kata Ibunda Nabi Yahya, bayi yang ada dalam kandungannya seperti bersujud ke arah perut Maryam yang mengandung Nabi Isa.

Monday, August 26, 2024

Sharing Session (2)


Bismillah 


Tausiyah selanjutnya adalah dari Ustadz Cahyadi Takariawan yang juga dikenal dengan sebutan Pak Cah, salah seorang guru menulis saya. Berikut ini poin-poin penting yang disampaikan beliau dalam acara Boot Camp.


a. Pengasuhan keimanan tidak terbatas pada rutinitas atau ritual pencapaian (hafalan, nilai-nilai kognitif). Jangan sampai kita melupakan hakikat. Misalnya, hakikat menghafal Al-Qur'an adalah agar kita memiliki energi dalam beramal dan berakhlak. Hakikat keimanan adalah muroqobatullah (merasakan pengawasan Allah di mana pun kita berada).



Untuk mengenalkan dan membuat semua muslim sadar dengan hakikat ini, SLC bisa ambil bagian dengan edukasi, sentuhan, dan komunikasi kepada para orang tua agar mereka tidak hanya berorientasi pada ritual atau rutinitas seperti yang disebutkan di atas.



Hal ini bisa dilakukan di luar kelas yang hanya mementingkan angka-angka. Salah satunya dengan berkisah. Berkisah lebih mudah diterima anak karena terkesan tidak menggurui. Agar semakin banyak elemen masyarakat yang bisa menikmati dan menggunakan buku-buku bermutu sebagai bekal untuk berkisah, maka SLC bisa menggalang wakaf buku dengan cara kencleng. Caranya, kita menyebarkan dan menawarkan kepada siapa saja yang mau ikut berwakaf buku dengan mengisi kencleng atau celengan yang kita bagikan. Mereka bebas mau mengisi berapa pun.  Setelah beberapa hari, nanti dikumpulkan dan uangnya dapat digunakan untuk membeli buku. Dengan demikian, semoga semua anak Indonesia dapat mengakses buku-buku bermutu dari SDI sehingga mereka pun akan terbentuk akhlaknya seperti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻.



b. Guru yang baik adalah guru yang wajahnya memancarkan keimanan. Pesan salah seorang ustadz yang juga seorang da'i untuk daerah-daerah pelosok, "Yang butuh dakwah itu, kita." Jadi, tidak perlu kecewa, saat tidak ada yang merespon dakwah kita. Bila dikaitkan dengan peranan kita sebagai pejuang siroh, "Yang butuh menyebarkan siroh itu, kita. Jadi, tidak perlu kecewa bila belum ada yang merespon." 
Tetap semangat menyebarkan siroh, pantang menyerah!!!




Selanjutnya adalah tausiyah dari Ustadz Salim A. Fillah yang menceritakan kisah-kisah dalam Al-Qur'an. Semua keluarga pasti menginginkan keluarga yang ideal, keluarga yang lengkap, penuh kasih sayang, harmonis, dan berkecukupan. Namun ternyata, di dalam Al-Qur'an, yang diceritakan justru keluarga-keluarga yang tidak ideal. Seperti Bunda Asiyah yang memiliki suami yang kafir, Nabi Nuh memiliki anak dan istri yang tidak mau beriman kepada Allah, Nabi Ibrahim yang harus berpisah dengan anak istrinya, Nabi Ya'qub yang anak-anaknya membangkang, Nabi Luth, dan Nabi Zakaria 'alaihimussalam.



Walaupun mereka bukan keluarga ideal pada awalnya, namun kisah mereka happy ending karena mereka selalu mengadu kepada Allah. Bahkan kisah Nabi Yusuf yang sangat menyedihkan itu, ternyata merupakan "Ahsanul Qoshos" kisah-kisah terbaik sepanjang masa. MaasyaaAllah.


Kisah-kisah para nabi tersebut merupakan penguatan untuk kita bahwa masih ada kesempatan happy ending, selama kita selalu mengadukan masalah kepada Allah 'Azza wa Jalla.



Menurut Ustadz Salim, kita akan diuji oleh Allah pada titik terkuat kita. Seperti yang telah dialami oleh para nabi.



Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam memiliki gelar "Al Amin", yang membuat semua penduduk Makkah percaya kepada beliau. Tetapi, saat beliau mulai mendakwahkan Islam, kebanyakan kaumnya mengatakan bahwa "Muhammad pendusta". Astaghfirullah.



Bunda Maryam adalah perempuan suci yang selalu menjaga kesucian dirinya. Tetapi beliau malah difitnah telah menodai kesucian dirinya sendiri, dikira telah berzina sehingga hamil dan melahirkan Nabi Isa 'alaihissalam. 



Nabi Ibrahim yang telah bertahun-tahun merindukan kehadiran seorang buah hati, ketika sudah mendapatkan malah disuruh berpisah, bahkan diperintahkan untuk membunuh putranya tersebut.  Begitu pula Nabi Ayyub yang sangat mencintai anaknya tetapi dipisahkan. 



Dari uraian di atas, kita bisa simpulkan bahwa ketika kita mengisahkan atau membaca kisah-kisah para nabi dan rasul itu, tidak sekadar membahas apa mukjizatnya. Tetapi, kita pun perlu mengisahkan juga nilai-nilai keluarga, kepahlawanan, hubungan dengan Allah, tauhid, dan juga kesabaran.



Setiap hari kita berdoa kepada Allah agar ditunjukkan kepada jalan yang lurus. Jalan yang lurus itu, bukan jalan yang mulus, tetapi jalan yang menuju Allah. Lurus tujuannya, tetapi juga ada belokannya, ada rintangannya, dan ada ujiannya.



Walaupun begitu, kita harus selalu bersyukur kepada Allah. Bersyukur itu bisa dilakukan dengan cara:
1. Mengingat siapa yang memberikan. 
2. merawat, menjaga, dan menggunakannya untuk menyenangkan Sang Pemberi.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَاَ مَّا الْاِ نْسَا نُ اِذَا مَا ابْتَلٰٮهُ رَبُّهٗ فَاَ كْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗ ۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْۤ اَكْرَمَنِ 


"Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku."
(QS. Al-Fajr: Ayat 15)



Lancar atau tidak usaha kita, kita harus tetap bersyukur. Karena semua yang ada di dunia ini, semuanya hanya semasa atau sementara.



Kita adalah penerus dakwah Nabi yang dipilih Allah untuk menebarkan siroh. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mundur atau pensiun, apalagi berhenti.





Saturday, August 24, 2024

Sharing Session "Boot Camp"

Bismillah 


Sharing Session malam ini menampilkan Bunda Ida Nur Laila, Bunda Aini, dan Bunda Marni. Beliau bertiga berkesempatan mengikuti Boot Camp pada tanggal 20-22 Agustus 2024 di Jogja. MaasyaaAllah, di acara tersebut, bertebaran para ustadz, sehingga banyak ilmu juga yang didapatkan.



Di antara para ustadz tersebut, yang tausiyahnya di-share malam ini adalah Ayah Benny, Ustadz Cahyadi Takariawan, dan Ustadz Salim A. Fillah.



Poin-poin penting yang disampaikan Ayah Benny adalah sebagai berikut.



1. Palestina harus kita perjuangkan sampai Fathul Aqsha.



2. Misi kita sama dengan dakwah para nabi, yaitu menyebarkan tauhid. Oleh karena itu, kisah para nabi harus kita sebarkan. Kalau kita tidak melakukan ini, kita seperti menghentikan usaha untuk menyebarkan tauhid. Maka, kita tidak boleh cuti apalagi pensiun dari profesi ini, pejuang siroh (SLC). Apabila ada amanah lain, jangan sampai dibentrokkan. Sebisa mungkin dikolaborasikan.



3. Ada seorang SLC yang sudah 12 tahun aktif menyebarkan siroh, tetapi belum pernah closing. MaasyaaAllah, saya baru beberapa bulan saja sudah closing, walaupun melalui wakaf. Alhamdulillah. Hebatnya, SLC tersebut tidak kapok berada di komunitas ini, tidak menyerah apalagi berhenti dalam menyebarkan siroh. Walaupun belum pernah closing, tetapi beliau merasakan adanya keberkahan dan kemudahan dalam kehidupan. Misalnya, ketika anak sakit dan butuh biaya untuk berobat, Allah berikan melalui jalan yang tidak disangka-sangka. MaasyaaAllah tabarakallah. Jadi, beliau ini closing dalam bentuk lain, yaitu keberkahan dan kemudahan rezeki.



4. Ujian pasti ada dalam kehidupan ini, begitu pula dengan peran kita sebagai pejuang siroh. Tetapi, ujian itu jangan sampai membuat kita mundur. Justru kita harus menyiapkan diri dengan saling menguatkan. Contoh ujian yang dialami Ayah Benny adalah kehilangan uang saat para SLC sudah berkumpul di Annual Meeting. Tak lama setelah itu, ada orang yang menolong beliau dengan menggantikan uang tersebut, bahkan beliau masih bisa bersedekah dengan memberikan makanan gratis. MaasyaaAllah tabarakallah.



5. Saat kita merasa ingin jeda sejenak dari aktivitas menebarkan siroh karena ingin fokus membersamai anak-anak di rumah, justru kita harus lebih semangat. Kita harus yakin bahwa dengan meneruskan risalah para nabi, kita akan mendapatkan energi lebih banyak dan lebih baik untuk bekal mendidik dan mengasuh anak. Karena dengan menjadi pejuang siroh, semoga Allah menurunkan rahmat-Nya dengan memberikan hidayah kepada kita dan keluarga kita. Karena Allah akan menolong orang yang menolong agama-Nya.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ تَـنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَا مَكُمْ


"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
(QS. Muhammad: Ayat 7)


6. Perbaiki niat. Kita harus ikhlas illallah. Kemudian, kuatkan ikhtiar langit dengan doa dan silaturahmi.


7. Wakaf menjadi jembatan untuk menyelesaikan problematika umat. Semoga dengan wakaf buku siroh, banyak anak bangsa yang mendapat hidayah dan ilmu yang bermanfaat, yang menjadikan mereka generasi terbaik dengan meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para nabi serta para sahabat. Aamiin aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻.

Wednesday, July 10, 2024

Gadget vs Buku


Bismillah


"Saya tidak punya buku," ucap salah seorang siswa ketika saya memberikan tugas untuk membaca buku di rumah. Bukan buku pelajaran. Bisa buku cerita, buku sejarah atau siroh, ensiklopedia, atau lainnya. "Yang ada, cuma buku mama," lanjutnya. 


"Kamu tidak pernah membeli buku? Buku cerita, misalnya? Atau komik?" tanya saya, penasaran.



"Tidak pernah, Bu. Kata mama, nggak boleh baca buku selain buku pelajaran," ujarnya polos.


Duh. Sedih rasanya, ada orang tua yang memiliki pemikiran sesempit itu. Memang, membaca buku pelajaran itu penting. Sangat penting, bahkan. Tapi, apakah cukup, anak hanya mendapatkan pengetahuan dan wawasan dari buku pelajaran, thok? Masih mending kalau mereka mau membaca semua isi buku pelajaran tersebut. Kalau tidak? 



Jarang, kan, anak yang mau membaca keseluruhan isi buku pelajaran? Mengapa? Karena buku tersebut kurang menarik. Mungkin sampulnya yang kurang menarik, bisa juga isinya yang minim gambar visual. Atau, bahasanya yang terlalu teknis dan kaku. Atau, bisa juga malas membacanya karena di sekolah pun disuruh membaca buku tersebut. Di rumah, bertemu buku itu lagi, itu lagi. 



Ternyata, kasus seperti itu, tidak hanya satu dua. Sehingga, tidak heran, bila minat baca anak-anak sangat rendah. Ya, karena tidak difasilitasi. Itu salah satu penyebabnya. Penyebab lainnya, karena orang tua memang tidak membiasakan anak untuk membaca. Saat ditanya, dengan entengnya mereka, terutama ibu-ibu menjawab, "Anaknya nggak suka baca!" 



Bagaimana mau suka membaca, kalau buku tidak ada, orang tua juga tidak mencontohkan atau mengajari. Daripada repot, orang tua lebih suka memberikan gadget agar anaknya, anteng, tidak menggangu aktivitas orang tua.



Lalu, bagaimana solusinya?



Pertama, seharusnya orang tua menyediakan buku-buku selain buku pelajaran, tentunya. Buku-buku yang tidak hanya isinya yang sarat gizi, tetapi tampilannya pun menarik dan tidak mudah sobek. Memang ada, buku seperti itu? Pasti ada! Tengok saja buku-buku terbitan SDI (Sygma Daya Insani). Buku-bukunya dibuat dengan kualitas premium, kuat, aman untuk anak-anak, dan tidak mudah rusak. 



Mengapa buku-buku SDI dibuat semenarik mungkin? Supaya anak-anak bisa teralihkan dari gadget. Anak-anak suka bermain gadget karena isinya menarik, penuh warna, sehingga tidak membosankan. Kalau buku tidak terlihat menarik, jangankan dibaca. Dilirik pun, tidak. 



Selain itu, konten buku-buku SDI juga sangat bermutu; berisi siroh para nabi,  Rasulullah, para sahabat, dan tentang keislaman, juga sains Qur'an. Sains yang disampaikan sesuai dengan apa yang telah dijelaskan dalam Al-Qur'an. InsyaaAllah, anak-anak, bahkan orang dewasa pun akan suka dan tidak bosan membacanya. 



Kedua, anak akan suka membaca bila dibiasakan. Siapa yang harus membiasakan? Orang tua, tentunya. Orang tua berperan untuk mengajari anaknya membaca. Setelah itu, kebiasaan membaca bisa ditumbuhkan dimulai dari membacakan buku. Biasanya anak akan senang bila dibacakan. Saat membacakan buku, pilihlah buku yang benar-benar berisi pesan-pesan kebaikan. Buku tentang kisah para nabi dan rasul sangat baik untuk anak-anak. 



Saat membacakan buku, kita tidak hanya menumbuhkan kebiasaan dan rasa senang membaca anak, tetapi juga banyak manfaat lainnya. Pertama, kegiatan ini bisa menguatkan bonding anak dengan orang tua. Kedua, bisa mengalihkan anak dari gadget. Ketiga, bisa menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dan keteladanan. Oleh karena itu, orang tua harus memilih buku yang benar-benar cocok dan bermanfaat. Akan lebih baik yang berisi kisah. 



Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَآءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ ۚ وَجَآءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَـقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ


"Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang yang beriman."
(QS. Hud: Ayat 120)



Dari ayat tersebut, semakin jelas betapa pentingnya membacakan kisah keteladanan. Melalui kisah-kisah tersebut, kita dapat menanamkan kebenaran, nasihat, dan peringatan sehingga anak-anak kita memiliki karakter seperti tokoh-tokoh yang ada dalam kisah tersebut. 

Jadi, ketika anak tidak suka membaca, jangan dibiarkan. Jangan malah diberi gadget. Tetapi, orang tua harus berikhtiar bagaimana caranya agar anak suka membaca.



Nah, dari tadi, kita membahas tentang bagaimana agar anak suka membaca dan menjauhi gadget. Memangnya apa sih, salah gadget, sampai harus dihindari?



Gadget itu ibarat pisau. Tergantung untuk apa digunakannya. Kalau digunakan untuk memotong sayur, buah, atau hewan ternak, maka pisau itu sangat bermanfaat. Tetapi kalau digunakan untuk menyakiti orang lain, maka pisau tersebut menjadi sangat berbahaya. 



Begitu pun gadget. Kalau digunakan untuk belajar, memperlancar komunikasi dengan kerabat yang jauh, untuk berniaga, maka gadget menjadi barang yang sangat penting dan bermanfaat. Tetapi kalau hanya untuk mengakses hiburan yang sampai melalaikan kewajiban, hanya untuk bermain game, atau chatting yang tidak jelas, maka gadget bisa sangat berbahaya. Bahkan, gadget bisa menurunkan kecerdasan anak, kata Ibu Ely Risman, seorang pakar parenting. 



Sedangkan buku? InsyaaAllah sangat banyak manfaatnya. Di awal sudah dibahas betapa banyaknya keuntungan dari membaca buku. Bisa menambah wawasan pengetahuan, bisa menjadikan pembaca lebih berkarakter seperti tokoh yang dibacanya, dan, insyaaAllah akan meningkatkan kecerdasan sang pembaca.




"Membaca itu, melancipkan pikir, melembutkan rasa, dan membijakkan sikap."

Saturday, February 24, 2024

How to Recruit New SLC



Bismillaah
Pada hari Selasa, 15 Juni 2021, kembali kami, para SLC (Sygma Learning Consultant) mendapatkan suntikan energi dari Bu Ida. Kali ini tentang bagaimana merekrut SLC.

Innamal a'maalu binniyaat. Segala sesuatu itu tergantung niatnya. Oleh karena itu, sebelum mulai melangkah untuk merekrut, kita flashback dulu. Apa niat kita ingin menjadi SLC?

Saya sendiri, niatnya supaya bisa membeli buku dengan harga yang lebih murah. Dengan menjadi reseller, biasanya akan mendapatkan potongan harga. Selain itu, sebenarnya niat saya dulu karena ingin tahu, apa itu SLC. Kebetulan biaya pendaftarannya murah, cuma 20 ribu, jadi, enggak ada salahnya bergabung. Kalau enggak cocok, tinggalkan. Itu yang ada di pikiran saya dulu.


Ternyata, niat Bu Ida pun tidak jauh berbeda dengan saya. Beliau pun ingin melengkapi perpustakaan rumah dengan buku-buku berkualitas, dengan harga murah. Hampir sama ya? 

Pada awalnya, mungkin niat kita bergabung di SDI (Sygma Daya Insani) ini hanya untuk kepentingan pribadi yang bersifat duniawi. Mendapatkan buku dengan harga murah, mendapatkan komisi yang lumayan untuk menambah uang belanja, atau yang lebih ukhrowi seperti ingin bersedekah untuk orang tua. 

Boleh saja kita memiliki motivasi seperti di atas. Tetapi, bila motivasinya hanya sebatas tujuan duniawi, maka hanya itulah yang akan kita dapatkan. Seharusnya, motivasi ukhrowi menjadi tujuan utama kita. Karena segala sesuatu yang diniatkan untuk kebaikan akhirat, maka Allah akan memberikan apa yang kita niatkan untuk akhirat, di dunia pun Allah akan cukupkan kebutuhan kita. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.


Kini, saatnya kita memperbaiki niat kita sebagai SLC. Kita niatkan bahwa keterlibatan kita dalam komunitas ini adalah dalam rangka dakwah literasi Islam dengan membumikan siroh. Dengan harapan, ketika anak-anak generasi muda Islam telah banyak mengenal Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam, otomatis akan meneladani akhlak mulia beliau. Maka terwujudlah generasi muda Indonesia yang berakhlak mulia. Sehingga, mudah-mudahan apa yang kita lakukan mendapatkan pahala di akhirat, juga mendapatkan keuntungan di dunia. Aamiin.

Untuk pekerjaan besar ini, kita tidak bisa berjalan seorang diri. Kita butuh teman. Butuh jamaah, agar kita bisa tetap istiqamah, dan agar pekerjaan menjadi lebih ringan dan mudah dilakukan. Oleh karena itu, kita perlu merekrut SLC-SLC baru.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar kita bisa bersemangat dalam melakukan perekrutan. Apa sajakah?

1. Tentukan alasan besar yang mendorong kita ingin merekrut orang lain menjadi mitra/partner kita.
2. Tentukan target dengan cara:
     - tantang diri untuk mencapai target yang 
        membuat gemetaran;
      - afirmasi bahwa kita sanggup mencapai
         target tersebut;
      - lakukan ikhtiar bumi dan langit.

Dan seterusnya....🤭