Monday, February 28, 2022

Review "Di Ujung Rindu"


Bismillah


Berawal dari keinginan untuk bisa membaca di KBM App (Komunitas Bisa Menulis), tetapi koin emas tidak punya, akhirnya saya cari novel gratis. Dari sekian banyak novel yang tersedia, saya tertarik dengan judul "Di Ujung Rindu" karya Wina Rahmania. 


Kebanyakan judul di KBM itu tentang pernikahan dan rumah tangga. Makanya, ketika membaca judul ini, saya berharap ceritanya di luar tema yang sudah sangat biasa tersebut. Dan, alhamdulillaah, dugaan saya benar. Meskipun, ujung-ujungnya menikah juga. Mungkin memang begitu ending dari setiap kisah asmara.


Novel ini merupakan kelanjutan dari novel sebelumnya yang berjudul "Rivat dan Rania". Oleh karenanya, tokoh utamanya pun Rivat dan Rania. Mereka bersekolah di sekolah yang sama, hanya berbeda satu tahun. Rivat kelas 12, Rania kelas 11.


Karena tidak ingin membuat Rania sedih, Rivat terpaksa harus melarikan diri ke London. Di sana dia kuliah dan menjadi dokter. Setelah enam tahun tinggal di sana tanpa pernah pulang ke Indonesia, akhirnya dia harus pulang karena omanya sakit. 



Kesempatan itu ia gunakan untuk sekadar mencari tahu tentang Rania. Ternyata, Rania sudah enam tahun koma karena kecelakaan. Rivat yang tadinya berniat kembali ke London, jadi membatalkan rencananya tersebut. Dia pun dengan setia menjaga dan merawat Rania.



Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Rivat tetap setia menunggu Rania bangun dari tidur panjangnya. Di saat penantian itulah Rivat menikahi Rania yang sedang koma. 


Hari yang dinantikan pun tiba. Rania bangun dari tidur panjangnya. Namun, dia menderita amnesia. Ingatannya hanya sampai saat dia SMP. Saat dia menjalin hubungan dengan lelaki lain sebelum dengan Rivat. Setiap hari yang diingat hanya lelaki itu. Sedangkan Rivat dia panggil Om. 


Dengan sabar dan telaten, Rivat merawat dan menjaga Rania, bahkan menyuapinya. Konflik pun mulai muncul saat Rania bertemu dengan lelaki masa lalunya. Hingga puncaknya, Rivat harus menceraikan Rania. Dia ingin kembali ke London, seperti niatnya dulu. Namun, kecelakaan kembali menimpa mereka berdua. 



Novel ini sangat menghibur. Tidak hanya dari segi alur, terapi juga dari dialog-dialog yang kadang lucu, kadang bikin sedih juga. Jadi, saat membacanya, antara gelak tawa dan cucuran air mata bergantian. 


Saya benar-benar salut. Meskipun ini novel gratis, tetapi kualitasnya super. Apalagi diselipi dengan pemahaman agama yang tidak berkesan menggurui. 

Sunday, February 27, 2022

Review "Surat Cinta dari Gus Zaka"


Bismillah



Selesai membaca novel ini, ada perasaan sedih di dada ini. "Kok, udah tamat?" Yah, kecewa rasanya, di saat kita sedang asyik mengikuti alur yang menegangkan, ternyata tak lama kemudian harus selesai. Tamat.


Mengapa bisa begitu? Karena novel ini memang bikin penasaran. Ceritanya memang tak jauh dari novel-novel lainnya, tentang kisah asmara. Namun, ada hal berbeda yang membuatnya lebih menarik.


Diawali dengan seorang santriwati bernama Nabila yang suka menulis di Wattpad. Di sana dia menulis novel yang berdasarkan kisahnya sendiri. Tentang salah seorang ustadznya yang bertampang seram dan selalu membuatnya ketakutan bila berhadapan dengannya. Gus Zaka, namanya.



Gus Zaka juga merupakan salah seorang sahabat kakaknya yang sering berkunjung ke rumahnya. Awalnya dia juga sangat akrab dengan Gus Zaka, hingga sebuah peristiwa yang membuatnya menjadi selalu ketakutan bila bertemu dengannya. Dan, peristiwa itu meninggalkan trauma hingga ia dewasa dan menjadi santrinya.



Ternyata, Gus Zaka adalah calon suaminya. Dan, mereka menikah di saat Nabila masih memiliki trauma tersebut. Nggak kebayang kan, menikah dengan orang yang kita takuti? Tapi, karena ini demi kebaikannya, seperti kata uminya, Nabila pun pasrah menerima perjodohan tersebut.


Melihat istrinya yang masih ketakutan, bahkan memandang wajahnya saja tidak berani, membuat Gus Zaka sedih. Lalu dia mengajak Nabila untuk memulai hubungan mereka dari nol. Dengan berpacaran dulu. Jadilah, mereka berpacaran setelah menikah. 


Mereka pun mengadakan kencan layaknya sepasang kekasih. Karena Nabila masih tinggal di asrama, mereka pun janjian di suatu tempat, layaknya orang yang mau backstreet. Padahal mereka sudah sah sebagai suami istri.


Selain itu, Gus Zaka pun selalu berkirim surat, menceritakan masa kecil Nabila saat masih akrab dengan Gus Zaka. Tak lupa, dia pun mengirim hadiah manis sebagai ikhtiarnya untuk menghapus trauma Nabila. Dan, berhasil.



Setelah mereka sudah menjadi sepasang suami istri pada umumnya, muncul masalah baru. Awalnya, Gus Zaka menyembunyikan kesibukan barunya dari sang istri. Namun ternyata, justru Nabila lah yang menjadi saksi utama dari kasus tersebut. Dan, terjadilah musibah itu. Nabila terkena tembakan.




Saturday, February 26, 2022

Julid

Bismillah


Pertama kali mendengar kata "julid", dari seorang rekan guru yang fresh graduate. Orangnya memang suka ceplas-ceplos, dengan siapa saja bisa langsung akrab. Saat itu, saya sempat mengerenyit, tak paham apa maksudnya.


Beberapa waktu berlalu, ternyata kata yang asing di telinga saya itu, sudah masuk ke KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Julid artinya iri dan dengki dengan keberhasilan orang lain, biasanya dilakukan dengan menulis komentar, status, atau pendapat di media sosial yang menyudutkan orang tertentu. Nah, kalau dilihat dari definisinya, julid bukan termasuk sikap yang terpuji. Apalagi ini dilakukan di media sosial yang pastinya bisa diakses oleh penduduk sedunia. 


Kalau ditanya, pernahkah ada orang yang julid terhadap saya? Alhamdulillaah, kalau di media sosial, selama ini belum ada. Dan, semoga tidak pernah ada. Tapi kalau di dunia nyata, pernah sih, ada orang yang iri dengan saya. Tetapi, alhamdulillah tidak sampai mencaci-maki di depan saya. Kalau di belakang sih, katanya ada. Iya, kata orang-orang yang peduli dengan saya. 


Apakah saya sedih dan sakit hati? Ada sih, perasaan itu. Tetapi, saya lebih suka untuk mengabaikannya. Selama hal itu tidak terjadi di depan mata dan tidak membahayakan diri kita, abaikan saja. Ilmu ini saya dapatkan dari suami saya.



Waktu itu, pernikahan kami baru berumur beberapa bulan. Ada seorang rekan instruktur di lembaga bahasa Inggris tempat saya mengajar, merasa iri dengan prestasi dan kedudukan saya. Padahal, saya sih, orangnya nggak sombong, lho. Nggak songong juga. Saya nggak pernah merasa lebih daripada teman-teman yang lain. Tetapi, namanya manusia, mungkin beda-beda penerimaannya.


Beliau ini sebenarnya termasuk sahabat yang akrab dengan saya. Bahkan, sudah saya anggap seperti kakak. Yah, pokoknya deket lah, hubungan kami, tidak sekadar rekan kerja. Cuma, beliau memang lebih senior. Mungkin itu yang membuatnya iri. Saya yang dianggap anak bawang, kuliah juga belum lulus, tetapi sudah diamanahi tugas yang lebih banyak daripada beliau. 


Saat itu, saya tidak merasa kalau beliau julid. Maklum, saya memang kurang peka. Saya baru tahu ketika ada rekan lain yang bercerita bahwa beliau ini memfitnah saya. Terus terang, saya kaget. Tidak menyangka, beliau tega berbuat seperti itu kepada saya. Saya juga sedih dan sakit hati. Saya merasa tidak bersalah, tetapi mengapa difitnah?


Sedangkan dalam Al-Qur'an disebutkan, bahwa fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَا لْفِتْنَةُ اَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ
  
"... Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. ..."
(QS. Al-Baqarah: 191)


Saya pun mengadu kepada suami tentang fitnah tersebut dan bertanya kepadanya, apa yang harus saya lakukan. "Abaikan saja." Begitu perintahnya. Tanpa banyak tanya, saya pun menaati kata-katanya itu. Alhamdulillaah. Rekan-rekan kerja yang lain pun tak berubah sikapnya terhadap saya. Mereka tahu bahwa saya hanya korban fitnah. Padahal saya tidak pernah mengklarifikasi ataupun menegur orang yang memfitnah saya. 


Alhamdulillaah, Allah telah memudahkan urusan saya. Sejak itu, saya tidak pernah memikirkan sikap julid yang ditujukan kepada saya. Prinsip saya, selama tidak diungkapkan dan tidak merugikan, abaikan saja. Maafkan. 


Friday, February 25, 2022

Review "My Avilla"


Bismillah


Lagi-lagi, masih tentang novel. Kali ini karya Ifa Afianty, penulis FLP, sama seperti Afifah Afra. Alhamdulillah, setiap membaca karya para penulis FLP (Forum Lingkar Pena), selalu ada hikmah yang bisa dipetik. Dan, selalu merasa aman, karena bisa dipastikan tidak ada adegan dewasa. Jadi, aman untuk siapa saja. Berbeda dengan penulis lain yang belum saya kenal. Tapi, kalau Tere Liye sih, aman juga. Insyaallah dia juga tidak pernah menyertakan adegan dewasa. Makanya, saya lebih senang beli buku-buku Tere Liye, karena anak-anak pun boleh baca 


Kembali ke My Avilla. Novel ini bercerita tentang perjalanan pencarian jati diri para tokohnya, yaitu Fajar dan Phil. Keduanya adalah orang-orang yang mencintai tokoh utama wanitanya, yaitu Margruit. Maaf kalau salah tulis. Namanya susah. Biar aman, kita pakai Avilla saja, yang merupakan nama tengahnya. Dan, Avilla adalah panggilan sayang yang diberikan oleh Fajar.


Fajar adalah anak seorang pengusaha muslim yang menikah dengan seorang Katolik. Sebagai anak laki-laki, dia mengikuti agama bapaknya. Namun demikian, dia pun merasa dekat juga dengan agama ibunya. Itulah yang membuatnya gamang dan sering galau dengan keyakinannya. 


Hingga, ketika bertemu Avilla, muslimah yang taat, dia pun tertarik. Awalnya hanya ingin lebih memperdalam agama dan keyakinannya dengan diskusi. Namun, sejak pertama bertemu, dia sudah terpesona. Padahal Avilla adalah kakak temannya, otomatis usianya lebih tua. Mereka terpaut empat tahun.


Namun perasaan itu tidak bisa bersatu, walaupun Avilla pun memiliki rasa yang sama. Ada beberapa alasan yang menghalangi, di antaranya karena Fajar masih SMA, dan adik Avilla sangat mencintai Fajar. Selama ini, Udieth, adik Avilla, merasa bahwa Fajar datang ke rumahnya karena ingin bertemu dengannya. Padahal, dia ingin bertemu Avilla.


Akhirnya Fajar menjauh dengan kuliah di luar negeri. Sementara itu, Avilla telah menjadi dosen di sebuah universitas internasional. Di sana, dia bertemu dengan dosen yang berasal dari luar negeri, Phil. Seorang yang tidak percaya dengan agama. Tepatnya, dia tidak mau memeluk agama tertentu karena tidak mau repot dengan segala ritualnya. 



Phil sangat tergila-gila pada Avilla. Dia bahkan berani mengungkapkan rasa cintanya di depan umum, membuat Avilla kesal. Walaupun Phil bersedia memeluk agama Islam demi mendapatkan Avilla. Namun, Avilla tidak goyah.



Ternyata tekad Phil tidak main-main. Dia mulai berubah, meninggalkan kebiasaan buruknya, dan mulai mempelajari Islam. Setelah semakin memahami Islam dan menjadi muslim, Phil justru merasa tidak pantas bersanding dengan Avilla. Dirinya merasa kotor. 


Phil yang tadinya sangat ambisius untuk menikahi Avilla, sekarang malah menciut. Bertemu pun, dia malu dan merasa tidak ada harganya di depan Avilla. MasyaaAllah, memang begitulah sifat orang berilmu. Seperti padi. Semakin berisi, semakin merunduk. Semakin banyak ilmu, semakin tawadhu.



Novel ini tidak hanya membahas tentang perasaan para tokohnya, tetapi juga berisi diskusi mereka dalam mencari jati diri dan memantapkan keyakinan. Dari sini, saya sebagai seorang yang terlahir dalam keadaan muslim, merasa bersyukur sekali. Saya tidak harus pusing untuk meyakinkan diri tentang kebenaran Islam. Hanya saja, memang, dalam hal amal, mungkin saya jauh lebih buruk daripada mereka yang mualaf. 



Lama tidaknya keislaman seseorang, tidak menjamin kualitas keimanannya. Semua tergantung kepada ikhtiar kita dalam mendekatkan diri kepada Allah. Betapa banyak mualaf yang lebih berilmu, daripada yang berislam sejak lahir. Phil hanyalah salah satu contoh khayalan. Namun, di dunia nyata, dapat kita temukan banyak contoh. MasyaaAllah. Semoga kita selalu istiqamah di jalan Allah ini, dan kembali kepada-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻.

Thursday, February 24, 2022

Perih dan Peliknya Perjuangan


Bismillah


Membaca cerita fiksi itu memang mengasyikkan. Alur ceritanya bikin penasaran sehingga enggan untuk berhenti membaca. Rasanya ingin segera tuntas dan tahu ending-nya. Makanya saya suka langsung baca bagian akhir, biar nggak penasaran. Tapi, jadi nggak seru.


Biasanya kalau membaca novel yang seru, seperti novelnya Tere Liye, sehari dua hari juga selesai baca. Namun tidak untuk novel yang satu ini. Meskipun sudah ngebut bacanya, tetap saja butuh beberapa hari untuk finish. Karena jumlah halamannya juga luar biasa, 600 halaman lebih! Ditambah lagi, saya bacanya di ipusnas, berupa e-book. Gitu deh, banyak gangguannya.



Novel ini bercerita tentang masa penjajahan Belanda pada tahun 1920-an. Masa perjuangan menyatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau dengan suku bangsa dan bahasa yang beragam. 



Adalah Tan Sun Nio, gadis Tionghoa yang sangat cantik dan cerdas, namun juga licik. Dia gagal bertunangan dengan kekasihnya, karena di malam yang direncanakan sebagai malam lamaran itu, kekasihnya tidak datang. Tanpa kabar. Hal itu membuat Tan Sun Nio bersumpah untuk menjadikan dirinya budak untuk kakaknya yang tinggal di Ende, Flores. Dan tidak akan menikah kecuali dengan orang yang lebih baik daripada kekasihnya itu. Lalu, pergilah ia ke Ende untuk melaksanakan sumpahnya. 


Ternyata, saat itu juga, seorang anak raja Surakarta, Rangga Puruhita, juga sedang dalam perjalanan ke Ende. Tetapi dia tidak sedang bertamasya ataupun melakukan perjalanan bisnis. Dia sedang mendapatkan hukuman dari pemerintah Belanda yang berkuasa di Indonesia. Dia diasingkan dan dibuang ke Ende.



Dua anak manusia itupun akhirnya bertemu dan saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Meskipun Rangga sudah beristri, tetapi hatinya sulit berpaling dari pesona Tan Sun Nio. Hingga dia dengan senang hati mendatangi rumah gadis itu, menghadiri undangannya. Dan, nyaris saja dia terperosok dalam jebakan gadis tersebut. Untung saja, tentara KNIL, Herman Zondag, yang selalu mengawasinya, datang pada saat yang tepat. Selamatlah ia dari bahaya sang gadis.


Selain masalah cinta anak manusia, novel ini juga bercerita tentang perjuangan anak bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan. Ada Maria, seorang guru yang juga jatuh cinta kepada Rangga. Padahal dia sudah dijodohkan dengan pemuda satu suku yang juga masih kerabatnya, yaitu Mari Nusa. Mari Nusa merupakan salah seorang pemimpin yang bercita-cita untuk memerdekakan Ende dari Belanda dan mendirikan negara Flores Raya.


Perjuangan itu melibatkan beberapa tokoh yang ternyata tidak semuanya setuju dengan rencana Flores Raya. Sebagian mereka lebih memilih untuk memperjuangkan Indonesia Raya, bersama para pejuang dari pulau-pulau lain. 


Perbedaan pendapat ini berujung pada pembunuhan. Termasuk Rangga yang juga menjadi salah satu targetnya. Berkali-kali, Rangga berada di ujung tanduk kematian. Namun, berkali-kali juga, ia masih bisa bernapas, meskipun tubuhnya babak belur.


Sedangkan Tan Sun Nio pun juga mengalami konflik dengan anak buah dan rekanan bisnisnya. Ia pun berniat untuk melarikan diri, dan pulang ke kota asalnya, Solo, berkumpul dengan orang tuanya. 


Dari awal, novel ini sudah sangat menarik sehingga saya enggan untuk berhenti. Padahal, saat pertama kali membaca judulnya, saya sempat suudzon, "Ah, novel sejarah ini mah. Pasti bikin kening berkerut." Memang sih, bikin kening berkerut. Tetapi, bukan karena pusing memahami tiap paragrafnya, melainkan penasaran dengan kelanjutan ceritanya. 


MasyaaAllah, salut banget buat Mba Afifah Afra, penulis novel ini. Pasti riset yang dilakukan sangat berat. Saya juga salut kepada semua penulis fiksi. Mereka hebat, bisa merangkai kata berdasarkan imajinasi. Sesuatu yang sangat sulit untuk saya lakukan. 

Wednesday, February 23, 2022

Menanamkan Cinta Ibadah kepada Anak


Bismillahirrahmanirrahim


Menjadi orang tua adalah profesi seumur hidup, tidak ada pensiunnya. Sejak anak lahir, tumbuh dewasa, bahkan saat cucu lahir pun, orang tua tetap memainkan perannya. Oleh karena itu, belajar menjadi orang tua pun harus terus dilakukan hingga ajal tiba. 


Alhamdulillaah, saya kembali mendapatkan kesempatan kepada pakar parenting sekaligus seorang ustadz dan konselor rumah tangga, dan ... guru menulis saya. MasyaaAllah, banyak sekali predikatnya 😍. Ya, itulah Ustadz Cahyadi Takariawan, yang lebih suka dipanggil Pak Cah. 


Kali ini temanya tentang bagaimana agar anak kita cinta ibadah sejak dini. Karena Webinar ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Isra' Mi'raj, maka sebelum memaparkan tema yang akan dibahas, beliau terlebih dahulu menjelaskan tentang Isra' Mi'raj. 


Isra'Mi'raj, sebuah perjalanan yang sangat spektakuler, luar biasa, dan tidak masuk akal. Tetapi, sebagai seorang muslim, dengan sangat mudahnya bisa kita terima dan kita imani. Perjalanan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam yang hanya dalam waktu satu malam, tetapi bisa sampai ke Masjidil Aqsha di Palestina, lalu berlanjut ke langit ke tujuh. MasyaaAllah.


Mengenai kapan waktu terjadinya peristiwa Isra' Mi'raj tersebut, para ulama masih memiliki perbedaan pendapat. Namun demikian, kita tidak perlu mempermasalahkannya. Yang perlu kita yakini dan kita imani adalah bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi dan dialami oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. Ya, itulah kewajiban kita. Tidak perlu banyak bertanya.



Biasanya, ketika membahas peristiwa ini, para ustadz pasti tidak akan melupakan bagaimana perintah shalat lima waktu diberikan oleh Allah. Selain itu, yang jarang ditinggalkan pula, adalah cerita Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam yang melihat surga dan neraka. Bagaimana orang bisa masuk surga, dan sebaliknya.



Tetapi, Pak Cah hanya membahas permasalahan di atas, selintas saja. Yang beliau bahas, dan termasuk ilmu baru bagi saya, adalah tentang dzikir ghirosul Jannah; tanaman surga. Terus terang, saya baru dengar istilah ini. Ternyata yang dimaksud adalah kalimat 
                          لا حول ولا قوه الا بالله



Makna dzikir tersebut, pada intinya adalah 


MasyaaAllah, tabarakallah.


Setelah penjelasan awal tentang Isra'Mi'raj tersebut, Pak Cah mulai memaparkan tentang bagaimana menanamkan cinta ibadah kepada anak. Menurut beliau, yang utama adalah dengan mengisahkan peristiwa Isra' Mi'raj tersebut kepada anak-anak kita. Melalui kisah tersebut, kita mengajarkan hikmah Isra'Mi'raj kepada anak. 


Adapun hikmahnya adalah sebagai berikut:
1. Kekuasaan Allah yang tiada terbatas
2. Kemuliaan dan keutamaan Nabi shallallahu'alaihi wasallam dibandingkan dengan nabi-nabi lainnya
3. Keutamaan Masjidil Aqsha, yaitu
     - sebagai kiblat pertama umat Islam
     - disebut namanya di dalam Al-Qur'an
     - dimuliakan oleh Allah dengan Isra' Mi'raj
4. Cara beriman yang benar, yaitu  
     mengimani tanpa mempertanyakannya. 
     Dalam mengimani sesuatu yang sudah      
     menjadi kewajiban seorang muslim, tidak 
     harus dengan akal karena akal manusia 
     itu terbatas. 
5. Kewajiban shalat 5 waktu
6. Kedahsyatan dzikir ghirosul jannah.


Selain dengan berkisah, menanamkan cinta ibadah kepada anak, harus sudah dimulai dan dipersiapkan jauh-jauh hari, bahkan sebelum anak itu lahir. 
1. Dengan memilih istri/suami yang shalih
2. Berdoa sebelum melakukan jima'
3. Saat hamil, janin biasanya diperdengarkan dengan alunan murottal
4. Saat anak lahir, dikumandangkan suara 
     azan dan iqamah di kedua telinganya. Hal 
     ini dimaksudkan untuk mengenalkan nilai-
     nilai tauhid, cinta ibadah, dan cinta 
     kebenaran sejak lahir.
5. Bacakan kisah Rasulullah shallallahu'alaihi
     wasallam, kisah keteladanan para nabi 
     dan rasul, juga para sahabat serta salafus 
     shalih.







Saturday, February 19, 2022

Kerinduan

Bismillah


Sudah hampir 8 bulan, saya hanya di rumah, tidak mengajar lagi. Enam bulan pertama, semua terasa menyenangkan. Di rumah, bercengkerama dengan keluarga, antar jemput anak sekolah, menjadi aktivitas yang menyenangkan. Ketika ada teman yang bertanya, "Bosankah?" Dengan bangga, saya jawab, "Tidak." Waktu saya benar-benar terisi dengan kesibukan baru di rumah. Bebas dari segala tugas guru.


Namun, setelah lewat satu semester, ada yang bergolak di dalam dada. Rasa jenuh mulai datang tanpa permisi. Hari-hari mulai terasa membosankan dan tidak produktif. Banyak waktu terbuang sia-sia, unfaedah. Astaghfirullah.


Dan, kerinduan itu mengusik ketenangan selama ini. Serapi apa pun saya menyimpan kenangan saat mengajar, ternyata bobol juga pertahanannya. Rasa rindu itu semakin melesak-lesak, ingin tersampaikan. Saya coba untuk meredamnya dengan doa. Justru air mata yang tak bisa ditahan. Benar-benar rindu yang menyiksa.


Rindu bertemu teman-teman guru, bercanda, berdiskusi. Rindu suasana AHIS yang nyaman, meskipun tugas tak pernah ada selesainya. Rindu murid-murid, bercanda dan bermain. Rindu semuanya ....


Tapi, apalah dayaku. Hasrat hati ingin kembali mengajar, apa daya tak ada izin dari suami. Belum, belum ada izin. Berharap, tahun ajaran baru nanti, bulan Juli, sudah boleh mengajar lagi. Rasanya, hidup saya lebih bermakna bila dipakai untuk mengajar. Daripada di rumah, kebanyakan tidur. Astaghfirullah.


Keputusan untuk di rumah saja ini, berawal dari suami yang melarang saya untuk mengajar. Saat itu, saya dengan suka cita menyambut keputusan itu. Bahagia rasanya, bisa terbebas dari tugas-tugas yang kadang membuat stress. 



Saat mengajukan pengunduran diri kepada kepala sekolah, ternyata beliau tidak mengizinkan. Alasan bahwa suami yang meminta saya untuk di rumah saja, tidak usah mengajar, tidak diterima oleh beliau. Lalu saya sampaikan bahwa saya resign karena ingin mengurus si bungsu. Eh, beliau malah meminta si bungsu dipindah saja sekolahnya ke AHIS. 


Ya, meskipun sekolah di AHIS adalah sesuatu yang menyenangkan, tetapi bukan pilihan terbaik. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, salah satunya masalah dana. Tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sedangkan kakak-kakaknya juga membutuhkan dana yang lumayan banyak.


Akhirnya saya ajukan alasan, bahwa ibu mertua sakit dan tidak bisa apa-apa. Kalau suami ada keperluan keluar rumah, ibu tidak ada yang menjaga. Maka, saya harus resign. 


Untuk alasan yang terakhir, kepala sekolah mau menerima. Tetapi, beliau menyarankan saya agar mengajukan cuti saja. Cuti tanpa tanggungan selama setahun. Artinya, saya tidak mendapatkan gaji. Tetapi, alhamdulillaah, untuk BPJS, masih ditanggung sekolah. Alhamdulillah.


Jadilah sekarang, saya cuti. Masih harap-harap cemas, apakah setelah setahun ini, bisa mengajar kembali. Bisa bertemu dengan rekan-rekan guru dan juga para siswa. Kembali berkutat dengan tugas-tugas administrasi, yang ternyata mulai saya rindukan. Dan, ternyata, tugas-tugas itu yang membuat pikiran saya tetap bekerja dan produktif. Tidak seperti sekarang.



Sekarang ini, saya merasa tingkat kecerdasan saya berkurang, termasuk daya pikir. Mungkin karena jarang digunakan untuk berpikir. Kalau mengajar kan, saya banyak berpikir. Mencari bahan ajar, menyusunnya, mengoreksi hasil pekerjaan siswa, mencari metode mengajar yang cocok untuk siswa, dan lain-lain. 



Ternyata kesibukan yang dulu sempat saya hindari dan tidak saya sukai, sekarang begitu saya rindukan. Walaupun begitu, saya harus tetap bersyukur bagaimana pun keadaan saya. Berada di rumah, InsyaaAllah juga banyak hikmah yang saya dapatkan. Paling tidak, bisa menikmati masa-masa bersama anak-anak dan suami. Sesuatu yang dulu sangat jarang saya nikmati karena pergi mengajar pagi-pagi, pulang sore. Itu pun dalam keadaan lelah. Yang terpikir hanyalah, bagaimana bisa istirahat. 


Alhamdulillah 'alaa kulli haal. Semua harus disyukuri karena pasti ada hikmahnya.

Wednesday, February 16, 2022

Es Krim Perdamaian

                       Source: Google


Bismillah


Tahun ini si bungsu duduk di kelas 5. Hampir sama dengan keempat kakaknya, masa-masa di kelas 5 adalah masa ujian bagi saya, ibunya. Mungkin karena mereka mulai mendekati masa puber, remaja, istilah umumnya. Sebenarnya dalam Islam tidak ada istilah remaja karena begitu meninggalkan masa anak-anak, kita akan langsung baligh, dewasa. Tetapi, masyarakat kita sudah terbiasa menyebut masa peralihan antara anak-anak dan dewasa ini dengan kata "remaja".


Saat berada di kelas 5, usia anak-anak sekitar 10-11 tahun. Di masa ini, emosi mereka cenderung tidak stabil; mudah ngambek bahkan marah. Dan, seringnya, saya jadi baper. Sering merasa sakit hati dengan kata-kata ataupun tingkah laku mereka. 


Bila ada kesalahan yang dilakukan, lalu saya tegur, mereka tidak terima. Kadang malah bicaranya lebih keras. Astaghfirullah. Di sini, saya merasa gagal sebagai ibu. Kok mereka belum bisa menghargai orang tuanya, terutama ibunya? Gimana nggak nangis😭


Tetapi, akhirnya saya mendapat pencerahan saat mengikuti Webinar Self Love dengan Bunda Poppy Dian dari komunitas Proparent. Beliau pun pernah merasa seperti yang saya rasakan itu. Namun, respons beliau lebih bijaksana. Kalau saya kan, malah melow.


Menurut beliau, saat menghadapi tingkah laku atau ucapan anak yang tidak sesuai ekspektasi kita, seharusnya kita jadi bersyukur. Bersyukur karena Allah berikan kesempatan kepada kita untuk bisa mendidik dan mengarahkan mereka. Dan itu ladang pahala buat orang tua. Kalau anaknya udah shalih, udah pinter, udah sempurna lah, istilahnya. Lha, kita sebagai orang tua, ngapain dong? 


Alhamdulillah, selalu ada pengetahuan dan wawasan baru saat kita mau belajar. Meskipun belajar dari seseorang yang jauh lebih muda dari kita. Ya, Bunda Poppy ini masih muda. Malu? Enggak, InsyaaAllah. Belajar itu dari siapa saja. Jangankan kepada yang lebih muda. Belajar dari siswa saja, sering saya lakukan. 


Nah, kembali ke masalah anak-anak di usia kelas 5. Saat ini, yang sedang berada dalam fase itu adalah si bungsu. Kalau sudah ngambek, bikin hati capek. Dia yang biasanya rajin, peduli, jadi sosok yang menyebalkan. Akhirnya saya abaikan saja, setelah diajak bicara juga nggak mempan. 


Seperti hari itu. Sebenarnya dia ngambek sama kakaknya. Tapi karena beraninya cuma sama uminya, jadi ngambek ke uminya. Barang-barang di kamar dibuat berantakan. Bahkan, meja laptop pun jadi sasaran, sampai saya khawatir laptopnya jatuh. Laptop cuma satu, kalau rusak, gimana, coba?


Ditegur, malah makin menjadi-jadi. Akhirnya saya tinggal saja melanjutkan pekerjaan rumah yang belum tuntas. Ternyata, dia betah juga ngambeknya. Siang, masih belum berubah. Sore, sama saja.


Menjelang malam, dia datang dengan sebuah es krim di tangan. "Untuk Umi," katanya, "maafin aku ya mi." 

MasyaaAllah, begini cara dia gencatan senjata 😍.
Yah, langsung saja saya peluk dan hujani dia dengan ciuman. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Semoga engkau menjadi anak shalih dan qurrota a'yun umi Abi ya Nak. Aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻.

Friday, February 11, 2022

Apa Prioritasmu?

Bismillah


Baru kali ini saya bisa menyimak dan mengikuti langsung pemaparan Bu Septi, pendiri Ibu Profesional, meskipun hanya melalui Zoom. Padahal sudah lama mengenal beliau di dunia maya, melalui sepak terjang beliau di Ibu Profesional. Sebuah komunitas yang membuat saya kagum, tapi tidak bisa bergabung di sana.


Alhamdulillah, meskipun saya bukan anggota IP, saya bisa ikut salah satu kegiatannya, KLIP (Kelas Literasi Ibu Profesional). Nah, melalui KLIP inilah, saya bisa bertemu Bu Septi secara virtual. 


Baru beberapa menit berbicara, kata-kata beliau langsung sukses menampar harga diri. (Kata-katanya terlalu lebay, ya🤭). Ya iya, secara, saya lumayan tersinggung karena ... Karena ketidakkonsistenan saya dalam menulis.


Apa sih, kata-kata Bu Septi itu? 
Kata beliau, kita bisa menulis di KLIP ini, hanyalah masalah PRIORITAS. (Saya lupa kata-kata persisnya. Yang jelas, intinya seperti itu. PRIORITAS) 


Mengapa prioritas? Karena, untuk bisa menulis setiap hari seperti yang diminta KLIP, kita harus punya skala prioritas. Untuk bisa menulis dengan konsisten, masalahnya bukan pada ada waktu atau tidak, ada ide atau tidak. Tetapi, pada adakah kita memprioritaskan aktivitas menulis dalam agenda harian kita. Kalau kita sudah memprioritaskan, InsyaaAllah tidak akan ada kendala yang berarti.


Nah, ternyata ini masalah saya. Selama satu setengah bulan ini, saya kesulitan untuk menulis. Alasannya sih, sepertinya, ngada-ngada. Pas di awal bulan Januari, rasanya nggak ada waktu karena anak-anak sedang libur, jadi sayang kalau mereka diabaikan. Padahal kan, nulis nggak sampai berjam-jam. Nah, itulah, alasan yang mengada-ngada.


Setelah anak selesai liburan, muncul alasan baru: susah cari ide menulis. Tambah ngasal kan, alasannya. Memang kalau udah males itu, ada aja alasannya. Nggak masuk akal!!!



Sekarang, setelah mendengarkan materi Bu Septi yang baru sesi pembukaan, saya langsung sadar akan kesalahan saya selama ini. Terima kasih Bu Septi. Dan ... Hingga detik ini, ternyata masih sulit untuk menjadikan menulis sebagai salah satu kegiatan yang harus diprioritaskan. Harus berjuang mengalahkan hawa nafsu malas!!!


Pemaparan berikutnya dari Bu Septi membuat saya benar-benar merasa menjadi orang yang paling bodoh, nggak bermanfaat, nggak produktif. Huh. Kasihan banget, diri ini. Gimana mau masuk surga, coba?


Jadi, Bu Septi itu kegiatannya seabrek-abrek, sampai-sampai dibuat jadwal per jam. Bahkan beliau bisa menolak tamu, bila itu akan mengganggu jadwal beliau. MasyaaAllah. Produktif sekali, kan? Sedangkan saya? Astaghfirullah.


Oya, bagi yang belum tahu tentang KLIP, saya kasih bocoran sedikit ya. Sedikit aja, nih. Jadi, di KLIP ini, kita belajar menulis (khususnya saya), meskipun yang sudah pro juga banyak. Mereka keren-keren, sudah punya buku solo, tapi masih mau belajar.


KLIP ini dilaksanakan selama satu tahun. Nanti yang lulus akan diwisuda dan mendapatkan sertifikat. Nah, supaya lulus, ada syaratnya. Di antaranya, setiap bulan, kita harus setor tulisan sebanyak 10 hari agar bisa mendapatkan badge "GOOD". Yang setor 20 mendapatkan "EXCELLENT". Yang setor sebulan penuh atau 30 mendapatkan "OUTSTANDING". 


Selain syarat di atas, jumlah kata dalam tulisan kita pun sudah ditentukan. Untuk bulan ini, minimal 300 kata. Nanti di sesi berikutnya akan ditambah lagi jumlah minimalnya. 


Tahun lalu saya gagal karena dua bulan berturut-turut tidak menyetorkan 10 tulisan. Jadinya, kena DO deh. Tapi saya pernah lulus lho, pada tahun 2020. Nah, kami yang lulus pada tahun tersebut, bersama-sama membuat buku antologi. Sekarang sedang dalam proses menuju ke percetakan. Doakan ya, semoga lancar dan laris manis. 


Kalau mau info lebih detail tentang KLIP, bisa intip IG-nya ya: Kelas Literasi Ibu Profesional. Atau di grup Facebook.

Wednesday, February 2, 2022

Menulis Lagi

Bismillah



Sudah lama rumah ini diabaikan, dianggurin, disisihkan. Bukannya sudah tak sayang. Hanya, pemiliknya sedang kehabisan ide. Pikiran rasanya mentok, buntu. Ide tulisan seperti hilang dari permukaan bumi. Padahal kalau diniati, pasti ada yang bisa dituangkan dalam kata.


Bukannya tak pernah berusaha, namun, entahlah. Saat ini sedang kecanduan baca novel di aplikasi dan grup Facebook. Berjam-jam betah membaca, walau dini hari telah menghampiri. Padahal sudah gabung juga di KLIP biar semangat. Tapi kok ya, berat untuk memulai. Harus dipaksa!!!


Bismillah ... Mulai hari ini, semoga bisa rutin menulis setiap hari. Malu rasanya, mengaku penulis, tetapi hampir tidak pernah menulis.


Ternyata, benar-benar butuh perjuangan berat untuk mulai menulis. Melanjutkan paragraf ini saja butuh waktu 12 hari. Astaghfirullah. Otak ini apakah sudah terkena penyakit malas atau apa? 

Sejak di rumah, diri ini bukannya makin produktif menulis, malah nggak menghasilkan apa-apa. Astaghfirullah. Ternyata di rumah saja malah membuat otak pasif. Padahal saat masih aktif mengajar, dengan waktu yang sempit dan terbatas, aku masih bisa menulis. Sekarang, banyak waktu malah nggak ada yang ditulis. Astaghfirullah, ampuni hamba, ya Allah.


Entah mengapa, akhir-akhir ini, semangatku turun drastis, setelah enam bulan di rumah. Jualan online yang selama ini aku tekuni, mulai kendor. Memang sih, salah satu faktornya karena hanya punya sedikit modal. Tapi, yang nggak butuh modal pun, aku juga mulai kurang semangat. Ya, padahal menjadi afiliasi Kelas Pawon hanya butuh modal pede untuk japri orang-orang. 

Aku hanya lebih suka baca novel. Memang sih, awalnya ada niat, dari baca novel itu, aku bisa bikin tulisan berupa review tentang novel tersebut. Tapi ya, itu tadi. Baru sebatas keinginan, belum terwujud. Rasanya kok, ide menulis itu menguap entah ke mana. 


Bulan kemarin, aku hanya punya satu tulisan, pada tanggal 1 Januari. Setelah itu, blaaaas.... Enggak tahu deh, apa aku masih bisa melanjutkan KLIP. Belum dicek. Mudah-mudahan masih bisa. Hanya saja, menulis di atas 300 kata itu, lumayan juga. 


Bismillah, mudahkan hamba ya Allah.
Hamba ingin bisa memberikan banyak manfaat kepada orang lain, meskipun hanya melalui tulisan. Semoga bisa menjadi amal jariyah, aamiin yaa rabbal'aalamiin 🤲🏻.