Friday, January 29, 2016

Kacau

Sudah tiga hari ini kelas sepi tanpa Bu Siti. Bu Siti yang sederhana itu, sekarang terbaring lemah di tempat tidurnya karena sakit. Sakit yang tidak hanya menyakitkan raganya, tapi juga jiwanya. Karena sakit, dia tak bisa bertemu dengan murid-murid kesangannya. Dia tak bisa menikmati canda dan celotehan anak didiknya. Benar-benar tersiksa rasanya.

Seperti layaknya ikatan batin antata anak dan ibu, begitu pula yang terjadi antara guru dan para siswanya itu. Di kelas pun anak-anak itu merasa sepi dan kehilangan seorang ibu guru yang biasa hadir di antara mereka. Bahkan suasana itu terbawa pada situasi belajar mereka.

Saat pelajaran matematika, saat di mana dibutuhkan konsentrasi tinggi, tetapi malah terjadi kegaduhan itu. Saat teman-teman yang lain sibuk mengerjakan soal latihan yang membuat kepala pening, Didi malah iseng mencolek bahu Lala. Lala yang sedang berkutat dengan bilangan bulat, merasa terganggu dan marah.
"Apaan sih, Di? Gangguin aja! Aku sedang menghitung, nih. Sana pergi ke mejamu!" teriak Lala sengit.
"Aku kan, cuma mau pinjam penghapus, kenapa kamu galak begitu?" balas Didi tak kalah judes. Kedua anak itu memang terkenal sama-sama keras dan temperamen. Hasil pemanjaan orang tuanya.
"Kalau mau pinjam bicara yang baik, dong. Jangan ngagetin begitu!" teriak Lala sambil mendorong Didi supaya menjauh. Yang didorong bukannya menjauh, malah menjambak jilbab Lala. Lala pun tak mau kalah untuk menarik tangan Didi. Terjadilah perkelahian itu. Dan buyarlah konsentrasi seluruh kelas hari itu.
"Panggil Bu Siti!" teriak Feti. "Apa? Bu Siti kan, tidak masuk!" seru Neni.
Kacau sudah kelas Bu Siti hari itu.

Ceria

Pagi yang sejuk. Matahari bersinar malu-malu dibalik awan tipis.
Pagi yang menyemangati. Sekuat semangat murid-murid Bu Siti yang akan berenang hari ini. Meskipun mereka sering berenang dengan keluarganya, tetap saja berenang dengan teman-teman sekelas adalah sesuatu yang menyenangkan.

Bu Siti baru saja sampai di depan kelas ketika Lala berteriak menyesal. "Bu, saya gak jadi bawa nasi goreng. Padahal saya sudah pesan ke mama supaya buat nasi goreng yang banyak biar bisa dimakan bareng Bu Siti. Eeh mama saya lupa, bu". " Tidak mengapa, Lala. Bu Siti juga sudah bawa bekal kok. Jangan khawatir, Ibu tak akan kelaparan", jawab Bu Siti yang disambut dengan tawa anak didiknya. Bahagianya, mereka hari ini.

Satu lagi alasan Bu Siti semakin mencintai profesinya: bisa tertawa lepas dengan siswa-siswanya. Suasana seperti inilah yang membuatnya betah berada di antara mereka. Meskipun kadang-kadang ada juga kesedihan. Tapi Allah memang menciptakan segala sesuatu berpasangan, bukan? Ada tawa, ada tangis. Ada sedih, ada bahagia. Tinggal bagaimana kita menghadapi dan menyikapinya.

Thursday, January 28, 2016

Fahmi

Penampilannya sederhana, sesederhana pola pikir dan kepribadiannya. Wajah polos tanpa make-up, kerudung panjang menutup dada dan sikunya, gamis bermotif sederhana, adalah penampilan sehari-harinya. "Bu guru banget!", begitu komentar teman-temannya. Bu Siti, itulah namanya. Nama yang sederhana, serasi sekali dengan penampilannya.

Bu Siti adalah seorang guru SD, mengajar dan menjadi wali kelas 6. Dia sangat mencintai profesinya dan berdedikasi tinggi. Pada awalnya, mengajar hanya ia niatkan untuk mengamalkan ilmu yang sudah susah payah ia kumpulkan sampai bangku kuliah. Sayang rasanya kalau tidak ditebarkan kepada orang lain. Tapi kini, ada sesuatu yang hilang, hampa terasa, bila lama tidak mengajar. Baginya, mengajar bukan sekedar transfer ilmu kepada murid-murid, tetapi juga belajar dari mereka tentang berbagai hal.

Bu Siti merasa beruntung sekali bisa menjadi guru anak-anak SD, meskipun cita-citanya waktu remaja adalah ingin menjadi dosen. Ternyata menjadi guru SD itu asyik dan exciting. Setiap hari ada saja tingkah anak-anak yang bisa membuat tertawa, sedih, dan jengkel. Namun tak jarang, mereka membuat hatinya penuh dengan rasa bangga dan terharu. Apalagi bila melihat anak yang sering dipandang sebelah mata oleh teman-temannya, bahkan guru-gurunya.

Seperti siang itu. Kali ini Bu Siti mengajar tentang puisi. Setelah diskusi panjang lebar kali tinggi, Bu Siti meminta murid-muridnya untuk menulis puisi bebas. "Bu, boleh tidak, saya menulis puisi tentang sahabat?" tanya seorang Aditya. "Boleh, nak. Silahkan", jawab Bu Siti. " Kalau tentang rumah, bu", tanya Arif, tak mau kalah dengan temannya. Dan masih banyak pertanyaan lainnya, dari yang lucu sampai yang nyeleneh, semua dijawab dengan sabar oleh Bu Siti.

Setelah tiga puluh menit, tiba saatnya untuk membacakan puisi masing-masing di depan kelas. Darma berpuisi tentang sahabat, Rama tentang lingkungan, Bayu tentang rumahnya yang sering bocor bila hujan turun. Duuh kasihan sekali, kamu, nak. Bisik Bu Siti dalam hatinya. Sepertinya ini puisi yang paling menyedihkan. Ternyata bukan. Puisi yang paling menyedihkan ternyata milik Fahmi. Hampir semua temannya menangis ketika Fahmi membacakan puisinya. Bu Siti pun tak tahan untuk tidak meneteskan air mata. Siang itu kelas 6 banjir air mata, sedangkan di luar, hujan turun tak kalah deras. Seakan ikut berduka dengan anak-anak dan bu gurunya itu.

Mengapa puisi Fahmi begitu mengharu biru? Karena dia menulis dengan mencurahkan segenap perasaannya. Dia ungkapkan kerinduannya pada ibu kandungnya yang berada di Kalimantan. Mereka terpaksa berpisah karena ayahnya menikah lagi dengan perempuan yang sekarang menjadi ibu tirinya. "Ibu...aku merindukanmu
Kapankah kan kaubawa aku bersamamu?
Kuingin memelukmu
Kuingin selalu dekat denganmu ibu
Jemput aku, ibu..."

Ya Allah, anak sekecil itu harus menderita karena perceraian orang tuanya. Orang dewasa, entah apa yang mereka pikirkan sehingga tega membuat buah hatinya menderita.
Tabahkan hatimu, nak. Insyaallah ibumu akan datang menjemputmu. Doa Bu Siti dalam batinnya yang ikut tersayat.

Tuesday, January 26, 2016

Masalah Lagi?

Pagi ini aku berangkat dengan perasaan yang tak menentu. Ada sesuatu yang membuat hati ini resah, tak tahu apakah gerangan. Ternyata perasaan itu berlanjut hingga di sekolah dan  berdampak pada kefokusanku. Aku jadi banyak berpikir ulang dan tak yakin dengan apa yang kulakukan. Astaghfirullah... Ada apakah ini, ya Allah?
Entah berkaitan dengan perasaan ku tadi atau tidak, siang ini, kembali aku mendapat berita yang tak mengenakkan hati. Anak-anak didikku kembali membuat masalah. Itu menurut rekan sejawatku.
Hari Jumat kemarin, ketika mereka sedang berolahraga dengan kelas sebelah, terjadi hal yang tidak menyenangkan dan membuat sedih teman-teman di kelas sebelah. Duh! Kena lagi aku! Sepertinya kelasku ini selalu menjadi 'trouble maker' ya? Na'udzubillaah...jangan sampai deh.
Awalnya, waktu mendengar pengaduan itu, hati ini panas, dan serasa ingin meluapkan kemarahan kepada mereka, anak-anakku itu. Alhamdulillah, aku masih bisa menahan emosi, meskipun dengan segala perjuangan. (Seperti pahlawan '45 saja)
Dan, alhamdulillah aku tidak jadi marah kepada mereka. Setelah aku tabayun duduk persoalannya, ternyata bukan kesalahan dan ulah mereka 100%. Jadi, kedua belah pihak sama-sama menanam saham dalam konflik ini, kata mereka. Mereka pun bersedia untuk minta maaf kepada kelas sebelah.
Ya Allah...semoga kasus ini selesai sampai di sini saja. Lagi pula, namanya anak-anak, cepat berantem, cepat pula berbaikan dan melupakan. Semoga

Monday, January 25, 2016

Masih tentang Membaca

Bagi yang sudah terbiasa membaca, ini adalah sebuah aktivitas yang menyenangkan dan mengasyikkan. Karena dengan membaca, kita bisa seolah-olah sedang berjalan-jalan ke tempat yang belum pernah kita datangi. Dengan membaca, kita mendapat banyak ilmu pengetahuan dan wawasan baru. Dengan membaca pula, kita bisa mendapatkan inspirasi dan motivasi untuk berbuat sesuatu; suatu kebaikan.
Manfaat membaca yang sya sebutkan terakhir ini dialami oleh anak saya, Mufid. Ketika dia masih berumur kira-kira 4-5 tahun, saya pernah membacakannya sebuah buku, saya lupa judulnya. Buku itu bercerita tentang seorang anak yang selalu terlambat masuk sekolah karena bangun kesiangan. Karena ingin bisa bangun pagi, singkat cerita, dia menulis kata-kata motivasi di selembar kertas dan menempelkannya di dinding kamarnya. Sejak itu dia selalu bangun pagi dan tidak terlambat sekolah lagi.
Cerita ini ternyata sangat melekat di benak Mufid. Waktu itu bulan Ramadhan. Seperti biasa, saya selalu memotivasi anak-anak agar bisa ikut puasa, tidak terkecuali Mufid. Dan, masyaallah, di luar dugaan saya, Mufid sangat ingin bisa ikut sahur. Tanpa ada yang menyuruh, dia menulis di selembar kertas, "Aku besok harus bisa bangun jam 4". Persis seperti di buku itu, Mufid pun menempelkan kertas itu di dinding kamarnya. Atad izin Allah, esok paginya, Mufid benar-benar bangun pukul 4 pagi untuk makan sahur. Dan dia bisa puasa sehari penuh di usianya yang masih balita. Alhamdulillah, barakallah Mufidku yang sholih.

Friday, January 22, 2016

Tegang

Rasanya tidak karuan perasaan ini. Bingung, cemas, nervous jadi satu. Seperti orang mau nikah saja. Eh iya, tidak sih? Perasaan dulu waktu malam pernikahan gak begini amat. Ini lebih-lebih dari perasaan orang mau nikah menurutku.
Besok adalah hari-h "Arabic and English Contest". Sebenarnya ini bukan pertama kali aku terlibat di kepanitiaan. Sudah tiga kali ini malah. Namun ini adalah kali pertama aku jadi ketua panitia. Biasanya setiap pembentukan panitia, dan apabila ditunjuk sebagai ketua, aku selalu berkilah. " Selagi masih ada laki-laki, maka ketuanya harus laki-laki". Tapi kali ini aku tidak bisa dan tidak diizinkan menolak. Jadi, meskipun dengan segala keterbatasan dan kekurangan, aku jalankan amanah ini. Dan setelah sepekan ini lembur dan pulang sore terus demi kelancaran acara ini, sekarang giliran dag dig dug deh.
Ya Allah, berat nian menjadi pemimpin. Untuk memimpin diri sendiri saja aku masih berantakan, apalagi memimpin orang banyak? Banyak ustadz lagi. Ya Allah, tolonglah hamba yang dhoif ini. Mudahkanlah hamba ya Allah, semoga acara besok berjalan dengan lancar atas izin-Mu...aamiin.
#odop
Hari kesepuluh

Thursday, January 21, 2016

#onedayonepost

#hari keempat
Membaca buku sudah menjadi barang langka pada abad keduapuluh satu ini, tetutama di kalangan anak-anak dan remaja. Hal ini terjadi karena ada yang lebih menarik dari pada buku, yaitu gadget. Padahal membaca buku sangat banyak manfaatnya. Tapi kebanyakan orang akan merasa cepat lelah matanya dan mengantuk bila membaca buku. Sedangkan bila bermain gadget bisa seharian tanpa rasa lelah dan mengantuk. Andaikan mereka tahu nikmatnya membaca buku.... Tapi mungkin mereka sudah tahu, ya? Hanya saja, menurut mereka, lebih asyik bermain gadget.
Minimnya minat baca ini tetjadi pada murid-muridku, yang notabene orangtuanya termasuk kalangan menengah ke atas. Ketika mereka saya minta untuk membuat laporan tentang buku cerita yang sudah mereka baca (yang mereka miliki), banyak yang protes karena tidak punya buku cerita satu pun! Mereka hanya punya buku pelajaran. Alasannya macam-macam. Yang membuat sedih, ada yang beralasan katanya orang tua mereka tidak mengizinkan dan tidak pernah membelikan buku cerita. Astaghfirullah. Menurut orang tua mereka, buku cerita hanya akan membuat anak-anaknya malas belajar! Sungguh menyedihkan! Di zaman modern ini masih ada yang alergi buku cerita.  (Bersambung)

Wednesday, January 20, 2016

#onedayonepost

#hari ketiga
Bingung, hari ini mau menulis apa ya? Mungkin kegiatan hari ini saja, ya. Dimulai dari pagi, seperti biasa menyiapkan bekal dan sarapan anak-anak, menyuapi si bungsu, dan melepas Mba Azmi dan Mas Hakim berangkat sekolah. Setelah itu, saya berangkat mengajar diiringi lambaian tangan si bungsu dan ucapan "Hati-hati, ya Mi. Da-da...h."
Sampai di sekolah, aktivitas seperti biasa. Yang tidak biasa, hari ini adalah try out hari ketiga untuk murid-muridku kelas 6. Subhanallah, hari ini mereka manis dan sangat tenang, tidak gaduh seperti biasanya. Alhamdulillah.
Setelah hampir seharian penuh dengan tugas, akhirnya, setelah sholar ashar, saya bisa pulang. Terbayang (selama perjalanan) pekerjaan rumah yang sudah menanti. Tapi saya tak perlu khawatir, karena jundi-jundiku siap membantu. Ada yang bantu cuci piring, ada yang menyapu, ada yang mengangkat dan menyeterika pakaian, masyaallah. Terimakasih anak-anakku yang sholih dan sholihah. Jazakumullah khairan katsira.
الله يبرك فيك

Monday, January 18, 2016

#Onedayonepost

Hujan, guntur bersahut-sahutan....
Di cuaca seperti ini, enaknya berkumpul dengan keluarga di rumah sambil menikmati teh hangat dan pisang goreng. Bercengkrama dan bercanda dengan anak-anak, sungguh menyenangkan.
Tapi, saat ini aku masih di sekolah, mengajar anak-anak orang. Sedih. Tapi mau bagaimana lagi, resiko seorang guru. Meskipun hati terasa berat, tapi kewajiban harus dilaksanakan. Kucoba perbaiki niat, ikhlas...supaya bermanfaat dan berkah. Ya Allah kuatkan hatiku, ikhlaskan niatku, terimalah amalku hari ini. Aamiin.

Saturday, January 16, 2016

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? [QS. Ar-Rahman: Ayat 13]

Alhamdulillah wa syukurillah.
Sebagai hamba Allah, tak bosan dan tak lelah, terus dan terus bersyukur. Walaupun dompet kosong, walaupun perut kosong dan tak tahu akan bisa mengisinya atau tidak, syukur harus selalu kulantunkan. Karena nikmat Allah tidak melulu berupa materi, tapi yang lebih utama adalah iman dan islam. Selain itu, kesehatan adalah nikmat luar biasa yang tak terhitung nilainya.
Hari ini, kembali aku merasakan betapa besar nikmat yang telah Allah berikan. Nikmat sehat. Ya...alhamdulillah, meskipun tidak dikaruniai harta melimpah, tapi Allah berikan limpahan kesehatan yang luar biasa.
Tadi kami bezuk wali murid yang mengalami kecelakaan tunggal saat menyetir mobil. Dan, atas kehendak Allah, di sana kami bertemu teman yang sedang menjaga suaminya yang sedang dirawat.
Masyaallah...terimakasih ya Allah atas segala nikmat yang telah Engkau berikan.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
[QS. Ar-Rahman: Ayat 13]

Friday, January 15, 2016

Sabar

Astaghfirullah... Mengapa kalian selalu membuat sensasi di kelas? Apakah ini bentuk protes kalian untuk menarik perhatian? Atau memang kalian itu tidak bisa duduk manis untuk sejenak saja? Sudah berkali-kali ibu ingatkan agar kalian menjaga adab terhadap guru-guru dan teman-teman. Tapi sepertinya kalian hanya ingat sebentar kemudian lupa lagi. Apakah ibu harus cerewet setiap hari? Kalian sudah kelas enam, seharusnya sudah tahu mana yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan. Jadilah anak-anak yang beradab yang sholihah. Aamiin

Thursday, January 14, 2016

Pagi

Alhamdulillah hari ini si bungsu sudah sehat. Lega rasanya, melihat dia kembali ceria dan banyak bicara.  Tapi masalah selalu ada menghiasi hari-hariku, untuk mengujiku dan semoga menambah pahalaku juga. (Aamiin).
Di saat si bungsu sudah tidak rewel dan tidak menuntut perhatian lebih, giliran kakaknya yang merengek. Ketika sudah rapi dengan seragam olahraganya, Mufid, kakak si bungsu, bukan segera sarapan tetapi malah merajuk. Akhirnya mau juga sarapan dengan disuapi. Aduh dek...sudah kelas satu masih disuapin juga. Tapi aku berterimakasih, mungkin inilah jalanku untuk mengumpulkan pahala Allah, meskipun sedikit. Ya Allah ridhailah amalku pagi ini, aamiin.

Wednesday, January 13, 2016

Beginner

Bismillaah....
Hari ini, pertama kalinya saya berhasil membuat blog.
Sudah lama saya ingin sekali bisa menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan. Alhamdulillah hari ini bisa memulai. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi saya untuk bisa berbagi dan memberikan manfaat kepada orang banyak melalui tulisan-tulisan saya. Semoga pula bisa menjadi tabungan amal sholih di sisi Allah. Aamiin ya robbal 'alamiin.
Mohon bantuan untuk mengkritik dan memperbaiki tulisan saya