Sunday, April 24, 2016

Sekilas Perang Badar 2

Bismillaah

Tulisan ini lanjutan dari Sekilas Perang Badar 1. Jadi, bukan berarti perang Badar itu ada dua. Yang dua cuma tulisan tentangnya ini.
Peperangan adalah sesuatu yang sangat tidak kita sukai. Apalagi jika kita berperang dengan orang yang pernah sangat dekat dengan kita. Entah itu orang tua, anak, kerabat, atau teman yang sekarang terpisah karena berbeda agama atau keyakinan. Itulah yang terjadi dengan kaum muslim, Muhajirin terutama, yang akan berperang menghadapi kaumnya sendiri, yang di dalamnya ada orang-orang yang mereka cintai. Maka turunlah firman Allah QS. Al Baqarah ayat 216 berikut ini:

كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ  وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ  وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ  ؕ  وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh

 jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
Ketika itu pasukan Muslim yang dipimpin oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam ingin menghadang kabilah dagang kaum Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sofyan. Namun Allah berkehendak lain. Kabilah Abu Sofyan telah menempuh jalan lain sehingga tidak bertemu dengan pasukan Rasulullah. Dan yang bersiap menghadapi pasukan Rasulullah justru pasukan Quraisy bersenjata lengkap yang dipimpin oleh Abu Jahal, seorang paman Rasulullah yang sangat membenci beliau karena dakwah yang beliau sampaikan.
Mengetahui bahwa yang akan mereka hadapi adalah pasukan bersenjata lengkap dengan harta yang sedikit, bukan kabilah dagang yang membawa banyak harta, Rasulullah bertanya kepada pasukannya untuk memastikan apakah mereka akan tetap maju berperang atau kembali ke Madinah. Kaum Muhajirin, salah satu bagian dari pasukan tersebut, menjawab dengan yakin bahwa mereka akan terus maju. Pertanyaan Rasulullah itu diulang sampai tiga kali dan ketiga-tiganya selalu dijawab dengan pasti oleh kaum Muhajirin. Setelah pertanyaan ketiga, Sa'ad bin Mu'adz, seorang pemimpin dari kaum Anshar angkat bicara. Dan ternyata inilah yang diinginkan Rasulullah; keputusan kaum Anshar. Mengapa Rasulullah sangat mengharapkan jawaban mereka?
Kalau kaum Muhajirin sangat ingin berperang melawan kafir Quraisy, itu sangat wajar. Mengapa? Karena mereka, dengan keislamannya, telah banyak dizholimi harta dan jiwanya juga keluarganya oleh kaum kafir tersebut. Sedangkan kaum Anshar? Mereka, sepertinya, tidak ada kepentingan apa pun untuk memerangi kaum kafir itu. Di sinilah loyalitas dan kecintaan kaum Anshar kepada Rasulullah terbukti dengan begitu jelasnya. Jawaban mereka yang diwakili oleh Sa'ad bin Mu'adz sungguh menggetarkan hati. Bahwa kemana pun Rasulullah pergi, dan apa pun yang beliau perintahkan, mereka akan sami'na wa atho'na. Akan selalu mendengar dan menaatinya. Itu sebagai salah satu ungkapan syukur mereka karena Rasulullah sudah berada di tengah-tengah mereka, telah mengubah hidup mereka menjadi jauh lebih baik dan lebih bermakna dalam pelukan Islam. Masyaallah.
Setelah mendengar jawaban Sa'ad bin Mu'adz tersebut, Rasulullah semakin mantap. Pergilah mereka ke Bukit Badar untuk menyongsong pasukan Abu Jahal. Bertempatnya mereka di atas bukit itu merupakan strategi perang yang sangat jitu. Posisi di atas bukit memudahkan mereka memantau dan menyerang musuh. Dan, bagi pasukan musuh, akan sulit menyerang yang di atas bukit. Rasulullah memang benar-benar cerdas sesuai sifat yang disandangnya, fathonah.
Ternyata ada seorang sahabat yang masih mempertanyakan strategi Rasulullah tersebut. Dialah Harb bin Al Mundzir.
"Wahai Rasulullah, apakah posisi yang kita tempati saat ini merupakan wahyu Allah atau semata-mata hasil keputusanmu sendiri?" Begitu kira-kira pertanyaan yang diajukan.
"Tidak. Ini adalah hasil pemikiranku sendiri," jawab Rasulullah.
"Kalau begitu, bolehkah saya mengusulkan sesuatu?" lanjut sahabat itu.
"Silakan," begitu mungkin jawab Rasulullah tercinta.
Masyaallah. Seorang manusia suci yang dijamin masuk surga, seorang nabiyullah yang mempunyai derajat tinggi di sisi Rabbnya, mau menerima pendapat seorang anak buah yang biasa-biasa saja. Bukan dari seorang sahabat yang sudah teruji kebaikan dan loyalitas serta ketaatannya seperti Abu Bakar atau Umar bin Khottob. Tapi dari seorang Harb bin Al Mundzir, yang namanya tidak sepopuler dua sahabat yang disebut sebelumnya. Luar biasa.
Apa ide sahabat tersebut? Kita lanjutkan pada tulisan yang akan datang.Bismillaah
 In sya Allah.
#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari

No comments: