Thursday, April 21, 2016

Kuingin yang Terbaik untukmu

Bismillaah

"Mi ... Aku maunya sekolah di SMA negeri. Aku nggak mau di pesantren lagi!" kata Nisa, Putri sulungku.
"Umi harus doain aku biar masuk ke negeri, ya?" pintanya terus merengek seperti balita yang ingin dibelikan permen. "Aku bisa lebih baik kalau di  negeri, Mi ...," sambungnya terus membujuk ibunya.
"Dari mana Mba Nisa tahu kalau di sana bisa lebih baik?" tanyaku.
"Pasti, Mi. Kalau di pesantren terlalu capek, jadi aku nggak bisa fokus belajar. Nanti kalau di negeri kan, nggak secapek di pesantren," jawabnya masih keukeuh.

Begitulah diskusi kami tentang ke mana ia akan melanjutkan sekolah. Menurutnya, sekolah negeri adalah yang terbaik buatnya. Sedangkan bapaknya berpikir pesantren adalah yang terbaik buat mutiara kami itu. Kalau aku? Sebagai ibunya, aku hanya ingin yang terbaik buat buah hati kami. Di mana pun ia sekolah, yang kuinginkan ia bisa menjadi perempuan sholihah. Oleh karena itu, doa yang selalu kulantunkan dan kumohonkan kepada Sang Khaliq adalah anakku bisa masuk ke sekolah yang terbaik. Sekolah yang bisa mendidiknya menjadi perempuan sholihah. Tentu saja, dengan bekerja sama bersama kami, orang tuanya. Karena kuyakin, sekolah sebagus apa pun tak menjamin akan menjadikan anak sholih/sholihah tanpa peran serta orang tuanya.

Ketika kita memilih sesuatu, sering menjatuhkan pilihan hanya berdasarkan pandangan sekilas. Atau, kadang kita menentukan pilihan setelah merenung dan berpikir matang-matang. Lalu, atas dalil logika, kita menganggap pilihan itulah yang terbaik. Berdasarkan logika kita.

"Apa salahnya, kita mengandalkan logika? Bukankah sekarang memang jamannya?"

Memang betul. Bahkan untuk mengimani keberadaan Sang Mahakuasa pun, manusia mengandalkan logikanya. Kalau tidak logis, tidak masuk akal, maka diabaikan. Jadilah manusia menuhankan akalnya. Padahal ada hal-hal gaib yang tidak logis tetapi harus kita yakini adanya. Karena tidak semua yang tidak logis berarti tidak ada atau tidak mungkin ada. Kita ambil contoh listrik. Siapa yang pernah melihat wujud listrik? Tidak ada. Tapi kita yakin listrik itu ada karena bisa dirasakan, meskipun tidak bisa dilihat.

Nah, karena keterbatasan akal itu, maka ada hal-hal yang tidak bisa kita putuskan sendiri. Sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu seperti harapan pada akhirnya. Contohnya anakku tadi. Siapa yang menjamin kalau sekolah di negeri itu keputusan dan pilihan yang terbaik? Tidak ada.

Oleh karena itulah kita perlu mencontoh perilaku Rasulullah dan para sahabatnya. Di saat mereka bingung dalam mengambil sebuah pilihan, mereka tidak perlu pusing-pusing. Pasrahkan saja semuanya kepada Allah SWT melalui sholat istikharah. Sholat yang diniatkan untuk memohon petunjuk Allah atas sesuatu yang tidak diketahui mana yang terbaik.

Setelah istikharah ditegakkan dan petunjuk terlihat terang, itulah yang terbaik bagi kita menurut Allah. Bila kita ikhlas dan ridha menerima keputusan Allah, maka in sya Allah, segalanya akan mudah untuk dijalani dan dilaksanakan. Bila ada aral yang melintang dalam proses perjalanannya, itu adalah ujian dari-Nya. Sebagai bukti sayang-Nya kepada sang hamba. Sebagai jalan untuk meningkatkan derajat kekasih-Nya.

Ya Allah, Yang Mahakuasa, berikanlah yang terbaik untuk putriku. Aamiin ya rabbal'aalamiin.

#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari

No comments: