Wednesday, June 3, 2020

Pemberani


Bismillaah


DKM Masjid Jami’ akan mengadakan khitanan massal dalam rangka menyambut tahun baru Hijriah. Acara ini bersamaan dengan diadakannya santunan anak yatim. Pada awalnya, Khitanan Massal ini ditujukan kepada anak yatim dan dhuafa. Namun ternyata, peserta yang mendaftar kurang dari kuota yang telah direncanakan. Oleh karena itu, anak-anak ditawari oleh ayahnya apakah ingin dikhitan atau tidak.
            

Alhamdulillaah, Hakim, yang saat itu berumur 5 tahun, bersdia dikhitan, bahkan semangat sekali. Melihat kakaknya ynag begitu semangat, adiknya, Mufid yang saat itu baru berusia 2 tahun, ingin dikhitan juga. Padahal dia belum tahu apa itu khitan. Tapi, sebagai orang tua, kami pun tidak ingin menakut-nakuti.


Sebagai penyemangat, saya menawari anak-anak hadiah. Mufid ingin mendapat hadiah gitar maianan, sedagnkan Hakim ingin mobil yang dikendalikan dengan remote control.
          

Tibalah saatnya mereka dikhitan. Maka, pergilah kami berempat ke masjid. Sang Embah sudah menggerutu saja, katanya, anak masih kecil kok dipaksa khitan. Memang, sebagai orang Jawa Tengah, khitan biasa dilakukan saat anak sudah besar, minimal SD. Bahkan banyak yan gbaru dikhitan saat sudah duduk di bangku SMP. Teteapi di sini, di Jawa Barat, anak-anak balita sudah banyak yang dikhitan. Dan itu pemandangan ynag sangat biasa.


Dengan menetapkan hati dan keyakinan, meski sebagi ibu , aku pun tidak tega, anak-anak dibawa ke masjid dalam keasdaan riang gembira. Tetap semangat. Ketika sedang menunggu antrean, terdengar peserta yang sedang dikhitan menangis. Ini di luar dugaan saya. Ternyata suara tangis itu memngaruhi kondisi mental anak-anak. Mereka jadi takut, bahkan Mufid sudah mulai menagnis. Sambil terus dibujuk, kami pun masuk ke uran gkhitan. Saat Hakim yang dikhitan, alhamdulillah, tidak terlalu banyak masalah, malah dibilang lancar. Begitu Mufid yang akan dikhitan, dia meronta dan menagis. Betapa hancur hati ini. Tapi saya coba menguatkan diri dan anakku. Alhamdulillah selesai juga.
            

Alhamdulillaah, Hakim tidak menangis, hanya meringis. Yang menyedihkan adalah Mufid. Mungkin karena memang masih kecil, dia menangis sejadi-jadinya. Bahkan di sepanjang perjalanan pulang. Sesampai di rumah, barulah Hakim menagnis sejadi-jadinya, setelah kakaknya, Nisa, berkata, “Ngak papa Kim, nangis aja. Puas-puasin, boleh kok.”


Ya Allah, mungkin ada orang yang berpendapat betapa kami ini sebagai orang tua sangat tega kepada anak-anak. Tidak sayang. Tidak, bukan kami tidak saynag. Justru ini kami lakukan karena kami sayang mereka. Hakikat khitan itu kan membersihkan. (tentang khitan – cari referensi)

No comments: