Wednesday, June 10, 2020

Tadarus Keluarga


Bismillaah


Nisa mulai bisa membaca Alquran ketika di kelas 3. Saat itu adiknya, Azmi, baru di TK. Karena Nisa sudah bisa membaca Alquran, maka saat Ramadan, saya mengajaknya untuk tadarus bersama. Membaca Alquran secara bergantian.


Sebenarnya, selain memang ingin tadarus bersama, tujuan lainnya adalah untuk tetap membuatnya terbangun sampai waktu berangkat sekolah datang. Maka selesai salat Shubuh, kami bertiga, saya, Nisa, dan Azmi, tadarus bersama. Abinya tidak ikut karena harus salat berjamaah di masjid.


Saya dan Nisa membaca ayat Alquran bergantian, sedangkan Azmi, karena belum bisa membaca Alquran, maka ia bertugas yang membaca terjemahannya. Alhamdulillaah, meski masih di TK, Azmi sudah cukup lancar membaca.


Namanya juga anak-anak, program ini tidak selalu berjalan dengan lancar dan mulus. Kadang-kadang, karena kantuk yang teramat, mereka tidak mau tadarus, malah tidur. Kadang Azmi yang tertidur, kadang dua-duanya tidur semua.
            

Sekarang, setelah mereka besar, ternyata lebih sulit untuk mengondisikan mereka. Apalagi dengan lima anak. Masing-amsing punya keinginan dan kebutuhan sendiri-sendiri. Apalagi saat lockdown ini, baru sekali kami bisa melakuikan tadarus bersama. Setelah itu, sulit mengumpulkan mereka kembali. Ada saja alasannya. 


Di sinilah saya sebagai orang tua merasa sedih. Apalagi melihat keluarga-keluarga yang lain bisa begitu kompak. Saya sadar, ini pasti karena kesalahan saya dalam mendidik mereka. Saya tidak tahu, salahnya di mana. Saya merasa sudah mengajak mereka dialog, sudah berusaha menumbuhkan rasa percaya diri. Tetapi, saya juga menyadari, kadang ucapan saya melemahkan semangat mereka. Astaghfirullah ...


Selama Ramadan kemarin, hanya satu kali kami melakukan tadarus. Nisa menyebutnya, MMQ (Majlis Muallimin Quran). Ini istilah yang digunakan di pesantren. Saat di pesantren, mereka biasa melakukan MMQ sepekan sekali. Bedanya, yang ikut program ini adalah para santri yang sudah mendapat izin mengajar adik-adik santri. Jadi, khusus para guru tahsin dan tahfidz. 


Meningkat dari tadarus waktu mereka kecil, di MMQ ini ada sistem evaluasinya. Setelah kami bergantian membaca, di akhir sesi, Nisa memberikan evaluasi bacaan yang salah. Kadang-kadang juga langsung saat bacaan salah, langsung ditegur. Alhamdulillah, jadi nambah ilmu tajwid dan memperbaiki bacaan. Sayangnya, kebaikan ini hanya berlangsung satu kali. Semoga di Ramadan tahun depan kami bisa melakukannya setiap hari. Aamiin

No comments: