Sunday, June 14, 2020

Khatam

Bismillaah




Hari ini, Ahad, 14 Juni 2020 bertepatan dengan 22 Syawal 1441 H. Anak sulungku, Khoirunnisa Mufidah, telah selesai menghafal 30 juz! Alhamdulillaah wa syukurillah. Baarakallahu fiik Mba Nisa. Semoga dengan wasilah hafalanmu, Allah selalu menjagamu dan memuliakanmu, menjadi keluarga Allah yang senantiasa menjaga Al Qur'an. Aamiin ya rabbal'aalamiin.



Perjalanan Nisa untuk bisa hafal Al-Qur'an sungguh bukan perjalanan yang mulus seperti jalan tol. Penuh ujian dan tantangan. Bersyukur kepada Allah, akhirnya berbagai rintangan itu berhasil dilaluinya meski harus menumpahkan banyak air mata. 


Berawal dari kelas 7, tujuh tahun yang lalu, Nisa mulai menghafal Al-Qur'an di Pondok Pesantren Darul Quran Mulia di Gunung Sindur, Bogor. Untuk menjadi santri di sana pun, bukan sesuatu yang mudah. Saingan yang begitu banyak, menempatkannya di kursi cadangan, waiting list. Alhamdulillaah, memang sudah menjadi ketetapan Allah, akhirnya diterima juga. Meski orang tuanya harus berjibaku mengumpulkan uang pangkal yang harus dilunasi dalam waktu satu pekan. Atas izin Allah, semua itu bisa dilalui.


Berbekal hafalan juz 30 yang telah dimulai sejak di SDIT Annida, Nisa mulai melanjutkan hafalannya, setelah melalui kelas tahsin terlebih dahulu. Tiga tahun di DQM, alhamdulillaah bisa menghafal 7 juz.


Pindah ke PP Hamalatul Quran Al Falakiyah saat masuk SMA, Nisa sempat negosiasi dengan abinya bahwa di sana hanya sampai 10 juz saja. Setelah itu, dia ingin melanjutkan ke SMA negeri. 



Saat kenaikan kelas 11, kembali dia meminta agar diizinkan sekolah di SMA negeri. Namun abinya menolak. "Kalau tidak mau lanjut di pesantren, mendingan nggak usah sekolah," begitu ultimatum abinya.


Dengan setengah hati, dia melanjutkan perjuangan di pondok. Dengan segala permasalahan pribadi maupun permasalahan dengan teman-temannya, dia harus berjuang. Sering air mata menghiasi hari-hari dan sujud-sujudnya. Namun dia tetap bertahan karena tidak ada pilihan lain. 



Alhamdulillaah, di kelas 11 ini dia mendapatkan amanah menjadi pengurus pondok. Dia pun mulai mencintai pondoknya dan mulai terpacu untuk menyelesaikan hafalannya. Di kelas 12, dia naik jabatan menjadi wakil ketua. Saat di kelas 12 inilah sempat terbersit bahwa dia akan mengabdi selama dua tahun. Lagi-lagi abinya tidak setuju karena dianggap terlalu lama. 


Waktu kelulusan kelas 12, Nisa sekaligus mendapatkan ijazah hafal 10 juz. Alhamdulillaah. Bahagianya kami sebagai orang tua. Melihat perjuangannya yang luar biasa, lega rasanya, meski baru 10 juz. InsyaaAllah 30 juz bisa dikejar. Aamiin.


Dan saat pengabdian ini, ketua menjadi amanahnya. Waktu menghafalnya harus dibagi dengan mengurusi pondok dan mengajar adik kelas. Meski begitu, dia tetap berusaha mengejar target khatam tahun ini. 



Awal Maret 2020, saat wabah covid-19 mulai meramaikan dunia, Nisa pulang karena sakit. Sepekan kemudian, pemerintah memberlakukan WFH (work from home) dan LFH (learn from home). Hal itu berpengaruh juga terhadap kehidupan pondok. Himbauan dari pondok, santri yang sedang berada di rumah, untuk sementara tidak boleh kembali ke pondok. Tetapi yang di pondok juga tidak boleh pulang. Baru di pekan berikutnya, pengasuh pondok memulangkan para santri.



Banyak hikmahnya saat lockdown, di rumah aja. Anak-anak jadi memiliki banyak waktu tanpa harus dikejar-kejar jadwal yang padat seperti di pondok. Waktu yang luang itu otomatis hanya digunakan untuk menghafal, karena memang tidak ada pembelajaran, untuk Nisa. Dan ... Puji syukur kepada Allah, akhirnya Nisa bisa hafal 30 juz. Alhamdulillaah wa syukurillah. Baarakallahu fiik Mba Nisa. Semoga semakin mutqin hafalannya, dan engkau pun semakin sholihah. Aamiiin ya rabbal'aalamiin.

No comments: