Friday, March 18, 2016

NATO; No Action Talk Only

Bismillaah

Kosong rasanya pikiran saya malam ini. Sudah pukul 22.11, tapi belum ada ide juga untuk menulis. Tapi karena ingat kata Bang Syaiha dan teman-teman bahwa tidak ada ide pun bisa jadi bahan tulisan, maka saya paksakan jari-jari ini untuk menyentuh keyboard hp. Mudah-mudahan bisa jadi sesuatu yang bermanfaat. Aamiin.

Di sekolah hari ini, ada beberapa peristiwa yang bisa dijadikan pelajaran. Tentang bagaimana mengemban amanah, tentang bagaimana etika berkomunikasi dengan orang lain, tentang manajemen waktu, dan tentang-tentang yang lain.

Pertama tentang amanah atau kepercayaan dan tanggung jawab yang menjadi tugas kita. Bagaimana seharusnya kita melakukannya?
Biasanya bila kita melihat teman atau rekan kerja yang kurang menjaga amanah, kita akan geregetan ingin segera menegurnya. Bila rekan itu kurang sempurna dalam menyelesaikan tugasnya, dengan mudahnya kita akan mengeluarkan kritikan yang kadang-kadang lebih pedas dari cabe setan. Eh, cabe rawit, maksudnya.

Namun, giliran kita yang mendapat amanah, ada saja alasan agar bisa menghindar atau mengurangi beban yang kita emban. Seperti rekan kerja saya ini. Tadi pagi, ketika ada acara pembinaan, salah seorang rekan yang ditugaskan untuk menyampaikan materi, tiba-tiba tidak bersedia melaksanakan kewajibannya itu. Alasannya, takut suaranya tidak bisa terdengar oleh anak-anak. Sebuah alasan yang dibuat-buat. Mengapa? Karena acara ini tidak berbeda dengan aktivitas mengajar yang setiap hari dia lakukan.  Spontan, teman-teman yang lain langsung protes.

Rekan-rekan guru yang lain, bahkan sampai koordinator acara pun ikut mempertanyakan alasan yang tidak masuk akal ini. Beruntung kepala sekolah tidak ikut-ikutan. Bisa-bisa kena SP (Surat Peringatan), dia.

Dan, yang menambah kejengkelan kami, teman yang tidak amanah ini termasuk yang paling banyak ilmu agamanya dibanding kami semua. Bahasa kasarnya, dia paling pintar, tapi paling bisa ngeles. NATO, bahasa kerennya; No Action Talk Only. Bukan nama organisasi keamanan, ya? Pandai menasihati, pandai menegur orang lain yang berbuat salah, pandai mengkritik, pandai protes bila ada sedikit saja haknya yang terkurangi, tetapi dirinya sendiri tidak bisa menjadi contoh buat orang lain. Jadi ingat firman Allah swt  berikut ini:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
[QS. As-Saff: Ayat 2]

Dan juga ayat berikutnya:

كَبُرَ مَقْتًا  عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ

(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
[QS. As-Saff: Ayat 3]

Astaghfirullah, semoga kita terhindar dari perbuatan seperti itu. Karena kalau kita hanya bisa mengajak atau memberitahu orang lain untuk berbuat kebaikan, sedangkan kita sendiri malah melakukan sebaliknya, itu ibarat lilin. Lilin bisa menerangi alam sekitarnya dengan cahaya yang dihasilkannya, tetapi menghancurkan dirinya sendiri hingga habis tak bersisa. Meleleh.

Kalau kita mengajak orang lain untuk ke surga, maka pastikan diri kita sudah berjalan di barisan paling depan. Jangan sampai ketinggalan!

#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari
#EdisiIntrospeksiDiri

1 comment:

ekasalsabila.blogspot.com said...

Amin...

bener mba, ini hal yang sangat di benci Allah...

prinsip saya Mba, jika ada kebaikan dari saudara kita maka berusahalah untuk menyamai atau melebihi kebaikannya dan kalau ada keburukan kembali lihat diri kita,jangan2 keburukan itu ada pada kita...

Nasihat ini yg slalu sy pegang mba...