Wednesday, March 23, 2016

Apa Kelebihan Anak Kita?

"Anak kita kelebihannya apa ya, Mi?" tanya suamiku setelah baca artikel tentang mantan presiden kita yang jenius, Bapak BJ. Habibi. Berita tentang sakitnya beliau memang sempat menjadi trending topic di media massa dan medsos. Begitu pula di rumah kami. Apalagi anak ganteng kami, Hakim, termasuk salah satu fans beliau. Cita-citanya pun ingin seperti beliau,  jadi professor.
"Belum kelihatan, ya," lanjut suamiku, melihat aku masih diam saja.
Aku diam karena sedang berpikir tentang pertanyaannya barusan. Kelebihan apa yang dimaksud olehnya? Dan, apa tadi katanya, belum kelihatan? Terus, selama ini, kemana saja dia sampai tidak tahu kelebihan anak-anaknya? Duuuh ... Suamiku, sibuk sekali dikau, ya?

Sebenarnya suamiku selalu memantau perkembangan anak-anak. Dia bukannya tidak tahu kelebihan yang mereka miliki. Hanya saja, kelebihan yang dimaksudnya di sini, apalagi kalau bukan kelebihan dalam bidang akademik dan kecerdasan intelektual. Seperti kebanyakan orang tua lainnya, yang selalu mengukur kemampuan anaknya dari rangking yang diperoleh di sekolah. Padahal itu sudah tidak jaman lagi.

Setiap anak yang lahir di dunia ini, sudah dibekali Allah dengan kemampuan masing-masing, yang pasti berbeda antara satu anak dengan anak yang lain. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, tidak bisa dan tidak boleh disamaratakan. Makanya ada yang disebut multiple intelligence atau kecerdasan jamak yang dicetuskan oleh Dr. Howard Gardner.

Menurut teori tersebut, setiap anak/orang memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya bisa buka di sini. Jadi, kita sebagai orang tua tidak boleh menuntut anak hanya berprestasi dalam hal akademik saja. Dan, bila mereka berprestasi dalam bidang lain, dianggap bukan sebagai kelebihannya.

Di Indonesia, kita mengenal Rudi Hartono yang jago bulu tangkis. Rudi Chaerudin yang piawai memasak. Ada juga Rudi Habibi pembuat pesawat pertama di negeri tercinta ini. Nah, dari ketiga Rudi itu, siapakah yang paling berprestasi? Tentu, ketiga-tiganya berprestasi dalam bidangnya masing-masing.

Kembali ke pertanyaan suamiku di atas. Memang anak-anak kami belum ada yang mendapat rangking 1 di kelas, kalau itu yang disebut prestasi atau kelebihan seperti yang dimaksud suamiku. Tetapi mereka memiliki kelebihan dalam hal lain. Si sulung, misalnya. Dia tipe anak mandiri sejak usia balita, dan termasuk anak yang suka bergaul dan easy going. Dia memang agak ceroboh, tetapi di situlah justru Allah memberikan kelebihan yang lain. Karena sadar dengan sifatnya itu, dia mudah mencari alternatif lain bila suatu saat benda yang diperlukannya tidak ada. No problem, katanya.

Berbeda dengan adiknya. Adiknya mempunyai sifat sangat teliti, tekun, rapi, apik, dan tega membuat orang lain menunggu demi sebuah kerapian. Dan karena sifatnya ini, dia agak sulit diberi pilihan. Dia akan keukeuh dengan keinginannya, sulit dibelokkan. Sedangkan hidup tak selamanya mulus.

Dari kedua anak tadi, ternyata anak pertama yang suka grusa-grusu itu lebih cerdas intelektualnya dibanding adiknya. Sedangkan adiknya, kecerdasannya ada pada gerak tubuhnya atau kecerdasan kinestetik. Secara intelektual dia kalah dengan kakaknya, tapi secara kinestetik dia unggul.

So, mari kita hargai apa pun dan bagaimana pun buah hati kita. Jangan menuntut mereka untuk selalu rangking 1. Bayangkan bila semua orang tua menginginkan anaknya yang rangking 1! Siapa nanti yang berada di urutan kedua, ketiga, dan seterusnya? Setiap anak adalah unik. Setiap anak adalah istimewa. Tugas orang tualah mengantarkannya menjadi pribadi yang selalu istimewa sesuai fitrah kemampuannya.

Mohon maaf bila ada yang nggak nyambung. Lebih baik nggak nyambung dari pada nggak nulis. (Edisi bingung berbuah nggak nyambung.)

#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari

1 comment:

Irma Anggraini Adi said...

Betul mbak Nindyah, setiap anak pasti punya keistimewaannya masing-masing. Dan saat mereka sudah dewasa nanti, insya Allah dengan keistimewaannya, mereka akan membanggakan dan membahagiakan kedua orang tuanya :)