Monday, March 7, 2016

Aman Berkendara

Sabtu pagi, ba'da subuh, grup wa di lingkungan tempat tinggal saya heboh oleh berita kematian. Berita ini ramai disiarkan di wa antar tetangga, antar guru, dan antar teman. Mengapa sampai seheboh itu? Bukankah kematian itu sesuatu yang pasti terjadi kepada siapa pun dan kapan pun? Bukan hal yang aneh, bukan?
Tentu saja heboh, karena yang meninggal adalah seorang kepala sekolah SD di lingkungan kami. Saya tinggal di daerah yang masih bisa dibilang pedesaan, meskipun di sekitar kami banyak pabrik dan real estate. Karena masih suasana desa, meskipun sesuatu terjadi kepada seseorang yang tidak kita kenal,  berita itu akan dengan mudah dan cepat menyebar. Seperti berita kematian ini.
Bapak kepsek ini masih muda dan baru dikaruniai seorang putra yang masih batita. Beliau meninggal setelah koma beberapa saat di rumah sakit. Penyebabnya adalah kecelakaan. Ketika naik motor, kata narasumber yang saya juga tidak tahu, motornya tersenggol angkot sehingga jatuh dan terlindas truk. Tubuhnya dari  bagian pinggang ke bawah, hancur. Na'udzubillaah min dzalik. Sungguh mengerikan.
Peristiwa seperti ini sering terjadi di daerah saya yang merupakan kawasan industri. Di sini banyak mobil truk dan kontainer berlalu lalang. Meskipun ada aturan bahwa mereka hanya boleh beroperasi di malam hari, realitanya di sepanjang hari mereka ikut meramaikan jalan raya, dan menjadi salah satu penyebab kemacetan. Ditambah lagi jumlah pengendara motor yang setiap hari selalu bertambah. Kata seorang sales dealer motor, dalam sebulan mereka bisa menjual motor rata-rata 100 unit. Bahkan pada akhir tahun 2015 kemarin, dari satu  dealer saja terjual hampir 500 unit. Itu baru SATU DEALER.  Jumlah yang sangat fantastik! Makanya, para pengendara motor sudah seperti kerumunan semut yang berjumlah ribuan di jalanan.
Karena jumlah kendaraan bermotor yang begitu banyaknya, jalan raya jadi selalu macet. Kalau dulu, kemacetan hanya terjadi di depan pasar. Sekarang, hampir di setiap ruas jalan terjadi kemacetan. Inilah yang mungkin menjadi pemicu terjadinya kecelakaan. Orang-orang saling berpacu dengan waktu, tapi jalanan macet tidak mau diajak kompromi. Akhirnya ngebut menjadi satu-satunya alternatif untuk bisa sampai tujuan tepat waktu.
Saya sebagai orang yang juga berkendara motor untuk sampai ke tempat kerja, merasakan betul suasana saling berpacu ini. Kadang ngeri melihat mereka yang dengan sakpenak udelnya nyalib, padahal jarak dengan kendaraan lain hanya hitungan sentimeter. Benar-benar taruhan nyawa yang tak seimbang. Bagaimana tidak seimbang? Ya ... Saat mau mendahului kendaraan lain, kita pasti sudah prediksi jarak, kecepatan, dan waktu sehingga bisa mendahului dengan aman. Tetapi kalau perhitungan kita meleset, kita bisa tersenggol atau tertabrak, dan fatal akibatnya. Sedangkan kalau mau bersabar beberapa menit saja, kita bisa sampai tujuan dengan selamat. Diri kita selamat, orang lain juga selamat.
Dari pengalaman berkendara, ternyata meskipun kita sudah hati-hati, dan sudah membuat prediksi yang jitu, kadang kecelakaan tetap saja terjadi. Di sinilah tawakal kita diuji. Bagi saya, keselamatan bukan berasal dari kehati-hatian semata. Tetapi benar-benar karena kehendak Allah. Betapa pun hati-hatinya diri kita, tapi kalau Allah berkehendak, kecelakaan bisa terjadi kapan saja. Penyebabnya bisa karena pengendara lain yang tidak hati-hati.
Bagaimana agar kita bisa aman dalam perjalanan dan selamat sampai tujuan?  Beberapa tip ini mungkin bisa dijadikan bahan pertimbangan.
1. Berdoa
A. Doa keluar rumah yang sudah diajarkan Rasulullah, hendaknya selalu kita lafadzkan ketika mau bepergian jauh, mau pun dekat.
بسم الله توكلت على الله لاحول ولا قوت الا بالله
Dengan doa ini, insyaallah kita akan lancar saat di jalan dan selamat sampai tujuan.
B. Doa naik kendaraan darat
سبحان الذي سخرلناهذاوماكنا له مقرنين و انا الى ربنا لمنقلبون
Atau doa naik kendaraan laut/air
بسم الله مجرها ومرسهاان ربي لغفور رحيم
2. Berdzikir
Dzikir saat berkendara, membuat kita tetap fokus dan tidak mengantuk. Kebanyakan kecelakaan terjadi karena tidak fokus, lelah, dan mengantuk. Ini bisa diatasi dengan dzikrullah. Tetapi kalau kantuknya sudah tak tertahankan, sebaiknya memang istirahat dulu supaya aman.
3. Pakailah pakaian yang aman. Ini biasanya terjadi pada kaum saya, kaum perempuan, yang suka mengenakan baju dan jilbab berkibar-kibar, kadang-kadang sampai menutupi lampu sen. Ini sangat berbahaya. Yang pertama, baju atau jilbab bisa masuk ke roda/ rantai dan menyebabkan si pengendara jatuh sehingga terluka, bahkan ada yang meninggal. Yang kedua, bila menutupi lampu sen, ketika akan belok, pangendara di belakang kita tidak tahu, dan bisa berakibat tabrakan.
4. Jaga emosi
Usahakan saat berkendara, kita dalam keadaan tenang, tidak sedang marah/ kesal, atau sedih yang bersangatan. Bila kita dalam kondisi ini, akan mengurangi kefokusan. Oleh karena itu, antarlah pasangan kita yang akan pergi berkendara dengan senyuman bukan dengan omelan, sehingga hatinya nyaman dan tidak kemrungsung.
Itulah beberapa tip yang saya ambil dari pengalaman pribadi. Kalau ada yang mau menambahkan, saya akan menerima dengan senang hati.
#OneDayOnePost
#MenulisSetiapHari

No comments: