Monday, February 12, 2024

Bukan Kekuatan Ibu

Bismillah

Obrolan sore itu. 
"Mi, aku mau kuliah," pinta anak kedua kami yang baru saja lulus MA.
"Boleh, mau di mana?" tanyaku. Meski dalam hati, bingung dan tidak tahu, dari mana biayanya.


Sejak itu, Azmi belajar dan ikut bimbingan belajar online, yang murah dan terjangkau. Itu pun pembayarannya bisa dicicil. Alhamdulillah.


Sebenarnya, deg-degan juga, saat ia ingin kuliah di universitas negeri. Apa bisa? Sedangkan sekolahnya saja, proses pembelajarannya tidak terlalu mementingkan aspek akademik. Bisa dikatakan, belajar sekadar formalitas untuk mendapatkan ijazah. Yang dipentingkan dan diunggulkan adalah hafalan Al-Qur'an. Jadi, modal akademiknya tak sesiap mereka yang dari sekolah umum atau pesantren yang sangat memperhatikan akademik.


Sejak itu, hanya doa yang bisa saya panjatkan kepada Allah. Alhamdulillaah, Allah izinkan saya pergi haji sehingga bisa memanjatkan doa di tempat-tempat yang mustajab, salah satunya di depan Al Multazam. Doa khusus untuk Azmi, semoga Allah izinkan untuk bisa kuliah di universitas negeri terbaik, di jurusan terbaik.


Mendekati ujian UTBK, semakin banyak dan semakin sering pula saya panjatkan doa ke hadirat Ilahi Rabbi. Pada waktu antara azan dan iqamah, pada saat sujud, pada saat puasa juga ketika berbuka. Tak ada hari yang terlewat tanpa mendoakannya. 


Hingga tiba saat hari ujian. Saya pun berpuasa pada hari itu, dengan keyakinan, doa orang yang berpuasa itu akan diijabah oleh Allah. Dan, saya pun ikut mengantarkannya tes di IPB. Ini sebagai bentuk kepedulian dan kesungguhan saya dalam mendukung cita-citanya. 



Hari-hari menunggu hasil ujian terasa berjalan lambat dan lama. Namun, bibir ini tak boleh kering dari doa untuknya. Penuh harap, saya memohon kepada Allah, Rabb semesta alam. Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu, termasuk gugurnya sebuah daun. 



Akhirnya, tibalah hari pengumuman. Tetapi belum ada kabar dari Azmi yang masih mengabdi di pondok. Saya pun lupa dan tidak sempat mengecek sendiri di website. Selang sehari, dia pun berkirim pesan mengabarkan bahwa ia lolos UTBK.


MaasyaaAllah, alhamdulillaah. Benar-benar karunia yang luar biasa yang Allah berikan kepada kami. Ketika kabar itu tersebar di antara teman-teman, ada yang berkomentar.
"Berkat doa orang tua, ini."


Saya pun meng-amini. Ya, salah satunya, saya yakin, karena Allah yang telah mengabulkan doa kami, dan menakdirkannya. Semua tidak akan terjadi tanpa kehendak-Nya. Di samping itu, saya juga yakin, ini karena Azmi sudah hafidz 30 juz. Jadi, salah satu berkah Al-Qur'an yang telah dijaganya, sehingga Allah melimpahkan keberkahan kepadanya. Alhamdulillaah.


Sebagai seorang ibu, saya tidak punya kekuatan apa pun. Tak seperti ibu-ibu yang lain. Ada yang kekuatannya pada masakannya. Ada yang kekuatannya bisa mengikat hati anaknya dengan kepandaiannya berbicara, dengan nasihat dan kisah-kisah. Dan kekuatan-kekuatan yang lainnya.


Saya tidak pandai memasak, sekadar bisa. Alhamdulillah anak-anak dan suami mau memakannya. Saya bukan orang yang pandai merangkai kata-kata sehingga bisa ngobrol asyik dengan anak-anak dan menjadi tempat curhat mereka. 


Saya hanya bisa berdoa. Itulah kekuatan yang saya miliki. Berdoa. Bila sekarang, banyak kenikmatan dan anugerah yang Allah berikan melalui anak-anak, itu bukan karena kekuatan saya. Tetapi karena Allah mendengarkan doa-doa saya dan mengabulkannya. 


Jadi, jangan remehkan doa. Tak boleh kita berkata, "Maaf ya, saya cuma bisa bantu doa." Doa itu kekuatan maha dahsyat. Jangan dibilang "cuma". Tanpa doa, mungkin saya dan kita semua, belum sampai ke titik sekarang ini. 

No comments: