Tuesday, April 19, 2022

Review "De Hoop Eiland"





Judul buku: De Hoop Eiland
Penulis: Afifah Afra
Penerbit: Indiva
Cetakan: pertama, 2022
ISBN: 978-623-253-081-2
Tebal buku: 696 halaman

Bismillahirrahmanirrahim
De Hoop Eiland merupakan buku terakhir tetralogi Afifah Afra. Buku sebelumnya De WinstDe Liefde, dan De Conspiracao. Semua buku tersebut memiliki jumlah halaman yang tidak sedikit. Namun, ketika membacanya, kita tidak akan merasa bosan, malah semakin penasaran dan ingin segera tahu kelanjutan kisahnya. Itulah yang saya alami, sehingga saya pun bela-belain menyisihkan uang untuk membeli De Hoop Eiland ini. 


Buku ini merupakan solusi permasalahan yang dialami para tokoh pada buku-buku sebelumnya. Tokoh utama yaitu Rangga, dan tokoh-tokoh tambahan seperti Everdine, Sekar, dan Yudhistira.


Masing-masing tokoh diceritakan pada episode tersendiri. Rangga yang menjalani pengasingannya di Digul. Everdine dan Yudhistira yang sempat berpindah-pindah tempat, namun akhirnya mereka harus terpisah karena Everdine dikembalikan ke pemerintah Hindia Belanda. Sekar yang juga dikembalikan kepada pemerintah Hindia Belanda dan akhirnya diasingkan pula ke Digul. Sedangkan Yudhistira ditangkap oleh pasukan gabungan dan dijatuhi hukuman mati.


Everdine kembali menjalani persidangan. Namun, kali ini ia dibantu oleh temannya sesama bangsa Belanda yang juga seorang ahli hukum. Orang tua Everdine menginginkan agar putrinya dibebaskan. Tetapi, Everdine justru ingin diasingkan di Digul juga supaya bisa berkumpul dengan suaminya. 


Keinginan itu pun dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Everdine dikirim ke Digul bersamaan dengan para tokoh nasional yang juga diasingkan di sana. Karena dia seorang Belanda, maka, tentu saja mendapatkan perlakuan VIP, tidak seperti interniran yang inlander atau pribumi.


Di Digul pun, oleh orang tuanya sudah disiapkan rumah khusus untuknya, yang tentu saja lebih bagus daripada rumah-rumah para tahanan lainnya, termasuk Rangga. Namun Everdine lebih suka tinggal bersama Rangga dan bertetangga dengan para pribumi. 



Sedangkan Sekar, ternyata tidak dibawa ke Digul. Dia dibawa ke pulau kecil di  Lautan Banda, Glorie Eiland (Pulau Kejayaan). Sebuah pulau yang banyak dihuni oleh warga Jerman yang berpindah dari Papua Nugini, yang saat dikuasai Jerman bernama Deutsch-Neuguinea. Ternyata, pulau itu dimaksudkan akan menjadi pusat pemerintahan Hindia Timur, yang dipimpin oleh seorang marinir Belanda yang membelot. 


Di sanalah Sekar bertemu dengan lelaki samudera yang selama ini hadir di dalam mimpi-mimpinya. Mimpi-mimpi itu memang aneh. Selama ini, Sekar mencintai Jatmiko, dan kemudian mulai menaruh hati kepada Rangga. Tetapi yang muncul di dalam mimpinya justru orang lain. Lebih aneh lagi karena lelaki itu mengaku sebagai calon suaminya.


Sementara di Digul, sang marinir yang membelot itu membawa Everdine ke Pulau Kejayaan. Rangga yang telah ditahan oleh sebuah pasukan khusus, yang ternyata pasukan milik sang marinir, dibawa juga ke pulau tersebut. Mereka bertemu di kapal yang akan mengangkut mereka dari Merauke.


Sebenarnya sang marinir berniat mempersunting Everdine untuk menjadi pendampingnya sebagai ibu negara. Mereka pernah bertemu saat di Maldives. Namun ternyata, ada Rangga, suaminya. 


Mereka pun berkumpul di Pulau Kejayaan, bertemu dengan Sekar. Meski masih ada rasa di hatinya, Rangga pun berusaha mengikhlaskan Sekar untuk menikah dengan lelaki samuderanya. 


No comments: