Sunday, April 11, 2021

Berkebun di Tengah Pandemi


Bismillaah


Pada hari Jumat, 8 April 2021, kelas 6 Hafshah berkesempatan mengunjungi sekolah untuk berkebun. Ini kegiatan pertama kali di sekolah secara bersama-sama, satu kelas full, selama pandemi. Memang, beberapa siswa telah berkesempatan belajar di sekolah dengan sistem shift, tetapi hanya beberapa saja. Oleh karena itu, kegiatan ini membuat tidak hanya siswa, guru pun merasa excited. Akhirnya, bisa bertatap muka juga 🥰.


Kegiatan dimulai pada pukul delapan. Setengah jam sebelumnya, beberapa siswi mulai berdatangan. Karena lama tidak bertemu, mungkin, mereka jadi terlihat kaku dan canggung. Duduk berdekatan, tetapi saling diam. Tidak seperti dulu saat sekolah. Begitu bertemu langsung ramai dengan celoteh dan candaan. 


Namun, lama kelamaan, beberapa mulai berbincang. Lalu, terdengarlah gurauan dan tertawa riang mereka saling meledek. Meskipun ada juga beberapa siswi yang hanya diam termangu di kursinya. Tak tergoda untuk ikut bercanda. Bahkan ada juga yang sengaja menyendiri duduk di pojok. Memisahkan diri. Ternyata mereka benar-benar terbiasa menjaga jarak, karena pandemi. Walaupun tidak semuanya.


Acara berkebun kali ini belajar menanam dengan sistem hidroponik. Setelah dibuka dengan doa memohon ilmu yang bermanfaat, dilanjutkan dengan penjelasan seluk-beluk hidroponik oleh Pak Azhil. Beliau mengenalkan beberapa peralatan yang akan digunakan seperti rock wall, net pot, kain flanel, gelas ukur, alat pengukur pH dan nutrisi, benih, dan sumpit.


Menanam secara hidroponik ini ada tiga tahapan, yaitu penyemaian, peremajaan, dan panen. Pada tahap penyemaian ini, kita siapkan rock wall yang telah dipotong seperti potongan kue brownies. Kita ambil satu potong, lalu lubangi dengan menggunakan sumpit. Pastikan hanya setengah bagian saja, jangan sampai tembus ke bawah, nanti bolong. Setelah itu, masukkan satu benih sayuran, bisa sawi, pokcoy, kangkung, bayam, atau selada. Memasukkan benihnya tidak boleh menggunakan tangan, tetapi menggunakan sumpit. 


Setelah itu, siram rock wall yang sudah diberi benih tadi dengan air. Kita tunggu sampai bersemi, kira-kira selama 6-10 hari. Jangan lupa untuk menyiraminya pada waktu pagi dan sore hari. 


Selanjutnya kita siapkan net pot. Kita masukkan kain flanel yang sudah dipotong kira-kira ukuran 1,5 cm X 15 cm. Masukkan kain flanel tersebut di bagian net pot yang berlubang. Masukkan dari bagian luar dan bawah. Net pot inilah nanti yang akan digunakan untuk menanam benih yang tadi disemaikan. Net pot ini diletakkan di atas paralon yang telah diisi air yang sudah diberi nutrisi. Ada dua nutrisi, yaitu A dan B. 


Cara memberikan nutrisinya pun harus diukur. Sayangnya, saya lupa berapa takarannya 🤦. Setelah itu, air yang mengalir di paralon tersebut diukur pH dan kandungan nutrisinya menggunakan alat TDS dan pengukur pH. Kalau sudah sesuai, barulah benih yang sudah keluar daunnya, kira-kira empat daun, dipindah ke net pot yang ada di paralon. Selesai deh, tinggal menunggu panen.


Bertanam dengan sistem hidroponik ini ada plus minusnya. Kelebihannya, tidak perlu lahan tanah. Jadi, kalau tidak punya kebun atau halaman tetap bisa bertanam hidroponik. Selain itu, kita tidak perlu repot-repot menyiram setiap hari dan tangan tidak kotor oleh tanah. Selain itu, menanam hidroponik lebih aman dari gangguan hama dan lebih higienis.


Di balik segala kelebihan itu semua, menanam hidroponik itu tidak mudah. Perlu kesabaran, ketekunan, dan keistiqomahan. Begitu kata Pak Azhil. Di samping itu, ternyata biaya yang dikeluarkan juga lebih mahal daripada menanam menggunakan media tanah. Ya, semua pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Tinggal kita mau memilih yang mana. 


Sayangnya, saya kembali lupa mendokumentasikan kegiatan seru ini karena fokus memperhatikan pemateri dan mengawasi serta mengatur siswi. Tapi kami sempat berfoto bersama di akhir kegiatan.



No comments: