Friday, July 31, 2020

Cublak-Cublak Suweng

                         Sumber: Google

Bismillaah


"Mi, laper," keluh si bungsu yang baru belajar puasa. Padahal jam dinding baru menunjukkan pukul 10. Tapi dia sudah merengek lapar. Harus mencari cara untuk mengalihkan rasa laparnya, nih. Saya pun memutar otak mencari solusinya.


"Kita main Cublak-Cublak suweng yuk ..., " ajak saya yang langsung direspons oleh anak-anak.

"Main apa Mi?" Tanya anak-anak penuh rasa ingin tahu.

"Ini permainan umi waktu kecil. Pertama, kita hompimpa dulu untuk menentukan siapa yang jaga. Yuk," ajak saya memulai permainan.


"Hom-pim-pa alaiyung gambreng!!!" Seru mereka serempak sambil membentangkan jari tangan. Ada yang telapak tangannya menghadap ke bawah, ada yang ke atas. Telapak tangan yang tidak ada temannya, maka dia yang jadi Pak Empo.

"Nah, Adik yang jadi Pak Empo," tunjuk saya kepada si bungsu.

"Pak Empo itu apa Mi?" Tanyanya bingung.

"Pak Empo yang jadi, Dik. Berarti Adik tengkurap, seperti sujud. Nanti yang lain bermain dengan cara meletakkan tangannya di atas punggung Adik dalam keadaan terbuka. Lalu salah seorang dari kita, menjalankan sebuah kerikil di antara telapak tangan itu sambil menyanyi." 

"Nyanyi apa Mi?" Tanya mereka tak sabar mendengarkan penjelasan saya.

cublak-cublak suweng
suwengé ting gelèntèr
mambu ketundung gudhèl
pak empo lirak-lirik
sapa ngguyu ndelikaké
sir, sir pong delé kopong
sir, sir pong delé kopong

"Nah, saat lagunya berhenti, kerikilnya dipegang oleh orang yang terakhir. Lalu Pak Empo menebak, siapa yang memegang kerikil itu. Kalau berhasil ditebak, berarti orang itu yang jadi. Kalau tidak tertebak, berarti Adik jadi lagi," jelas saya panjang lebar. Meskipun masih agak bingung, anak-anak mengangguk-angguk seperti paham 

"Ya udah. Kita main aja langsung, Mi," ucap si kakak sudah tak sabar.

"Ayuuuuk!!!" Seru yang lain dengan kompak.

Alhamdulillaah, permainan itu berhasil mengalihkan rasa lapar si bungsu dan kakak-kakaknya. Hampir setiap hari mereka minta saya untuk bermain Cublak-Cublak Suweng ini. Mungkin karena permainan baru dan langka, mereka seperti tak ada bosannya. Justru saya yang bosan dan capek mengikuti keinginan mereka.

Permainan yang murah meriah ini sungguh bermanfaat bagi kami sekeluarga. Selain membuat hati anak-anak gembira, anak-anak pun semakin kompak dan rukun.

Saturday, July 25, 2020

Penyejuk Hatiku


Bismillaah


Buah hati adalah amanah Allah yang dititipkan-Nya kepada kita, orang tua. Amanah yang sangat menyenangkan. Siapa sih, pasangan pengantin yang tidak mendambakan kehadiran buah hati, permata yang menjadi perhiasan kehidupan? Hampir semua orang tua pasti merindukan kehadirannya. Bahkan saat penantian seperti tak ada ujungnya, segala ikhtiar dilakukan demi hadirnya sang buah hati.


Kelahirannya ditunggu dan dinanti dengan harap cemas dan persiapan yang luar biasa lengkap. Seolah menyambut kedatangan seorang raja yang telah lama meninggalkan negeri. Kini ia hadir dan disambut dengan luar biasa meriah.


Tangisnya menjadi suara paling merdu yang pernah ada di bumi. Kerepotan yang diciptakannya, membahagiakan kedua orang tua. Celotehnya dinanti sepanjang hari. Kerapian dan kebersihan rumah tak penting lagi bila sang buah hati sedang bereksplorasi. Semua indah di mata.


Amanah tak lagi terasa berat. Ringan dan menyenangkan. Karena ia adalah qurrota a'yun, penyejuk mata yang selalu dinanti dan dirindu. Tak ingin lepas dan menjauh darinya.


Qurrota a'yun menjadi cita setiap orang tua. Berbagai cara dilakukan dan dijalankan untuk mewujudkannya. Buah hati akan menjadi penyejuk mata bila ia sesuai dengan apa yang diharapkan oleh orang tua. Bagus Budi pekertinya, taat dan patuh kepada Allah dan orang tuanya, akhlak karimah selalu menghiasi hari-harinya.


Maka, pembentukannya berawal dari sang orang tua. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Karakter seorang anak, tak jauh berbeda dengan orang tua. Oleh karena itu, orang tua harus memberikan teladan yang baik, tuntunan yang shahih, dan pengajaran yang mengacu pada kurikulum Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.


Penyejuk mata, terlihat indah dari perilaku dan tutur kata, bukan dari nilai rapor yang sempurna. Karena setiap anak unik dan istimewa, jangan pernah membebankan ambisi diri kepadanya. Burung tak mungkin bisa berenang. Begitu pun katak tak mungkin terbang ke angkasa. Setiap anak memiliki potensi yang berbeda dengan yang lainnya.


Setelah segala ikhtiar dimaksimalkan, niat ikhlas karena Allah harus tetap dijaga. Keinginan untuk menjadikan anak sebagai tempat bergantung di usia senja kelak, adalah sesuatu yang terlarang dan tak pantas dilakukan.

Biarlah usaha kita mendidik dan memanusiakan mereka, menjadi ladang pahala di sisi Allah. Masalah nanti saat badan melemah siapa yang akan peduli, biarlah itu menjadi rahasia-Nya. Seorang hamba hanya berkewajiban untuk berusaha. Hasilnya merupakan hak prerogatif Allah yang tak bisa diutak-atik.


وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا


"Dan orang-orang yang berkata, Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Furqan: Ayat 74)




EEPK #1


Bismillaah

Kembali saya merasakan nikmat Allah yang begitu luar biasa. Banyak sekali nikmat-Nya yang telah saya rasakan. Salah satunya dipertemukan dengan orang-orang shalih nan hebat. Di antaranya adalah Pak Cahyadi Takariawan dan isteri beliau Bu Ida NurLaela.

Kali ini saya diberi kesempatan oleh Allah untuk menimba ilmu kepada mereka dalam rangka membuat buku solo. Akhirnya, impian yang selama ini hanya di awang-awang, mulai terlihat jelas dan nyata. Meski tidak mudah mewujudkannya, saya merasa optimis dengan wasilah bimbingan beliau berdua.

Guru-guru yang sangat sabar, telaten, dan rendah hati. Itulah mereka. Mengganggap murid setara dengan gurunya. Tak pernah merasa lebih hebat dari orang lain. Sehingga kami pun bisa dengan leluasa mengeluarkan uneg-uneg dan mengadukan kesulitan dalam merajut kata.

EEPK, Emak-emak Punya Karya, kelas menulis yang tidak hanya sekadar menulis. Namun, di sini kami belajar bagaimana merajut kata agar mengedepankan kebenaran, kebermanfaatan, dan etis. Sehingga yang kami tulis tidak hanya memuaskan dahaga penghiburan, namun juga mengisi relung keimanan. InsyaaAllah.

Jazakumullahu khairan katsira Pak Guru dan Bu Guru. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan Anda berdua dengan pantas. Semoga keberkahan dan rahmat-Nya selalu mengiringi aktivitas Gurunda berdua. Mohon bimbingannya agar impian ini segera nyata. 🙏😊.

Sunday, July 19, 2020

Kenangan Indah


Bismillaah



"Umi pulang!" Sambut si bungsu sambil berlari menghampiriku.
" Yee ... Umi udah pulang!" Tak kalah kakaknya ikut menyambut dengan riang.

"Assalamualaikum ...," ucapku sambil mengelus dan mencium mereka.

"Wa'alaikumussalam," jawab mereka dengan kompak.

Baru saja meletakkan tas, Azmi datang langsung memelukku dan bertanya, "Umi kok, pulangnya lama?"

"Biasa Mbak, rapat dulu," ujarku balas memeluknya. Gadis kecilku yang satu ini memang kolokan. Tetapi dia juga sangat mandiri. Semua kebutuhan sekolahnya selalu disiapkan sendiri. Belajar dan mengerjakan PR pun sendiri. Yang penting ada aku di sampingnya, meski sudah terlelap, dia tetap semangat belajar. Sangat bertanggung jawab.


Lalu, kami pun duduk lesehan di lantai, membuat lingkaran. Sudah seperti kajian saja. Dan, mulailah anak-anak bercerita kegiatan mereka hari ini. Saling berebut bicara, ingin menjadi yang pertama dan menjadi pusat perhatian. 


"Umi tahu, nggak? Tadi Bu guru cerita, katanya, ada anak yang menderita di kubur karena sering menunda salat?" Tutur Azmi memulai ceritanya.

"Oya? Umi belum pernah denger," jawabku terus terang.

"Ih, pokoknya serem deh. Aku juga lupa tadi cerita sebenarnya kayak gimana. Pokoknya serem, deh!"

"Ih! Mbak Azmi mah, ceritanya nggak jelas!" Potong adiknya yang kecewa tidak bisa mendengarkan kelanjutan ceritanya. 

"Kalau aku tadi di sekolah main petak umpet Mi. Terus, kakiku berdarah," cerita Hakim dengan semangat. Anak ini memang paling tangguh dan paling bisa menahan rasa sakit. Pernah terkena pisau, dia hanya nyengir. Sama seperti kali ini. Cerita berdarah pun mengalir layaknya cerita biasa yang tak penting. Padahal ...


"Ha? Terus gimana? Sakit nggak? Mas Hakim nangis, nggak?" Tuh, uminya sudah khawatir banget. Anaknya mah, nyantai aja.


Begitulah keseruan anak-anak saat menceritakan kisah mereka. Saling bersahutan dan tak mau mengalah.


"Sssst ... Coba, bicaranya satu-satu. Satu orang berbicara, yang lain mendengarkan. Oke?"


"Oke, Mi!" Jawab mereka serentak seperti dikomandoi.

Itu dulu, saat kelima mutiaraku masih berkumpul di rumah. Kini, saat ketiga mutiara mulai mondok, momen itu jarang terjadi lagi. Kumpul bareng, melingkar lesehan di lantai. Seru!

Kini, kalau pun ada saat bercerita dan bercanda, hanya dengan dua anak. Tak seramai dulu. Meskipun anak bungsu tak pernah kehabisan bahan cerita. Seperti tak punya rasa lelah. 

Meski kebersamaan itu sudah jarang terjadi, semoga kami bisa selalu bersama hingga nanti di surga-Nya. Berkumpul dan bercengkerama di surga Allah ta'ala. Aamiin.

Thursday, July 16, 2020

Emak Sibuk Bagaimana Bisa Menulis Buku? (resume)



Judul buku: Emak Sibuk Bagaimana Bisa Menulis Buku?

Penulis: Cahyadi Takariawan

Penerbit: Wonderful Publishing

Cetakan: Juli 2020

"When you say you don't have the time, what you are really saying is: Something else is more important right now than writing." (Victoria Lynn Schmidt, Ph.D.)

Membaca kalimat itu, rasanya seperti di-skak mat. Tak berkutik. Ternyata kalau selama ini tak ada waktu untuk menulis, yang sebenarnya terjadi adalah menulis belum menjadi prioritas kegiatan. Belum menjadi sesuatu yang penting untuk dilakukan. Aktivitas lain lebih penting dan lebih utama. Padahal, katanya mau jadi penulis, tapi menulis masih dinomorsekiankan.

Setiap emak pasti banyak kesibukan. Tetapi itu tidak menjadi alasan untuk menulis. Bagi mereka yang ingin menjadi penulis. Lain halnya kalau ingin menjadi pebisnis.

Nah, biar buku yang digadang-gadang bisa terwujud dalam bentuk yang indah, kita perlu perhatikan beberapa poin ini. Pertama, tentukan dulu tema buku yang akan kita lahirkan. Setelah itu pilih jenis atau genre buku tersebut. Misalnya kita memilih jenis buku non-fiksi dengan genre kisah berhikmah.

Lalu, tetapkan juga segmen pembaca yang ingin kita bidik. Apakah anak-anak, pemuda, orang tua, guru, pebisnis, atau yang lainnya. Pilihan ini sangat bermanfaat untuk memilih diksi penulisan buku agar bahasanya _nyambung_.

Berikutnya, kita perlu merancang bentuk buku. Termasuk bentuk buku adalah ukuran buku, apakah A5, dan tebalnya berapa halaman.

Yang tak kalah pentingnya adalah menetapkan target penulisan buku. Empat hari (seperti Pak Cah), sebulan, dua bulan, atau setahun. Dengan menetapkan target, mudah-mudahan bisa membuat kita disiplin dan berusaha mencapai tujuan tepat pada waktunya.

Langkah selanjutnya adalah membuat outline buku. Outline ini, semacam kerangka atau garis besar buku yang akan ditulis. Terdiri dari berapa bab dan berapa sub-bab. Dengan membuat outline, diharapkan tulisan kita akan selalu berada di jalan yang benar, tidak menyimpang dari tema yang sudah dicanangkan di awal.

Dan yang terakhir, memiliki jadwal kerja harian. Bukan kerja kantor atau kerja nyuci, tetapi kerja menulis buku. Ada yang punya ide lancar saat pagi hari, ada pula yang di siang atau malam hari. Apa pun waktunya, intinya adalah disiplin.

Tuesday, July 14, 2020

Ada Apa dengan Buku? (ringkasan)




Judul            : Ada Apa Dengan Buku?
Penulis         : Cahyadi Takariawan
Penerbit       : Wonderful Publishing
Terbit          : Juli 2020


Bismillaah


Buku adalah keabadian, warisan, kenangan sepanjang zaman, amal jariyah yang bisa memberikan pahala berkekalan.


Rasulullah bersabda:
“Manusia yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang banyak memberikan kemanfaatan bagi orang lain.” (HR. Thabrani)

Menulis buku memberikan banyak manfaat. Antara lain:
1.       Menambah pengetahuan
2.       Menumbuhkan semangat
3.       Meneguhkan pendirian
4.       Memberikan solusi
5.       Mengajak petualangan mengasyikkan
6.       Memberikan hiburan
7.       Menjalin ikatan


Selain memberikan banyak manfaat, menulis buku merupakan salah satu cara mengikat ilmu.

Ø  Imam Syafi’i rahimahullah
“Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan, jika engkau memburu kijang, setelah itu engkau biarkan terlepas begitu saja.”

Ø  Rasulullah 
“Ikatlah ilmu dengan kitab (yaitu: dengan menulisnya).”

Dari Abdullah bin Umar r.a., dia bertanya, “Ya Rasulullah, apakah ilmu harus diikat?” Rasulullah menjawab, “Ya.” Aku berkata, “Apa pengikatnya?” Beliau menjawab, “Buku (tulisan).” (HR. Ath Thabrani)

Ø  Anas bin Malik r.a.
“Wahai anak-anakku, ikatlah ilmu ini (dengan tulisan).” (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi)

Ø  Mu’awiyah bin Qurrah Abu Iyas
“Dahulu dikatakan, ‘Barangsiapa yang tidak menuliskan ilmunya, maka ilmunya itu tidak akan kembali menjadi ilmu.” (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi)

Ø  Asy Sya’bi
“Apabila engkau mendengar sesuatu (ilmu), maka catatlah meskipun pada dinding.” (Diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dan Ad Dulabi)

Buku Mengabadikan Kebaikan
Karena dengan dituliskan, orang-orang yang hidup di kemudian hari masih bisa menikmati ilmu dan kebaikan yang ditulis tersebut. Termasuk sunnah-sunnah Nabi. Apa jadinya bila tidak dituliskan? Mungkin kita tidak akan tahu.

Modal Dasar Membuat Buku

1.       Hasrat yang hebat
Salah satu cara menumbuhkan hasrat adalah dengan mencetak buku dummy.

2.       Tekad kuat tanpa syarat

3.       Disiplin menulis; dengan menaati dan mematuhi peraturan seperti Zona Waktu Menulis (ZWM), Zona Tempat Menulis (ZTM), dan Sarana Khusus Menulis (SKM).

4.       Komitmen untuk menulis buku

5.       Waktu untuk menulis

Dari Mana Hadirnya Buku?


Berawal dari makna (meaning). Apa makna membuat buku bagi saya?
Menulis buku merupakan salah satu cara saya untuk mengungkapkan perasaan. Selain itu, saya juga ingin berbagi pengalaman dan sedikit ilmu yang saya miliki kepada para pembaca tulisan saya. Dengan menulis, saya juga ingin mengabadikan kebaikan yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi orang lain, sehingga bisa menjadi salah satu amal jariyah  yang pahalanya akan terus mengalir meski nyawa sudah berada dalam genggaman Sang Pemiliknya. Saya ingin seperti para ulama yang kitabnya masih dibaca dan diamalkan hingga saat ini, padahal mereka sudah meninggal ratusan tahun yang lalu.

Tentang tujuan (goal) saya dalam menulis adalah ingin berbagi hikmah kehidupan yang telah saya alami agar pembaca nantinya bisa terinspirasi dan termotivasi.

Keuntungan/kemanfaatan (benefit) yang ingin saya peroleh dari buku adalah kepuasan telah memiliki buku solo yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Meski tidak dipungkiri, saya pun berharap bisa seperti Pak Cah yang telah melanglang buana karena buku.

Mendapatkan Ide Menulis

Pertama, dari hal-hal prinsip
1.       Tujuan menulis
2.       Idealisme
3.       Dari visi hidup


Kedua, dari diri sendiri
1.       Dari perenungan dan penghayatan sendiri
2.       Dari kondisi jiwa dan perasaan
3.       Dari dunia yan gkita geluti sehari-hari
4.       Dari hobi
5.       Dari berbagai kejadian yang dialami
6.       Dari sakit
7.       Dari kegagalan
8.       Dari keterbatasan diri
9.       Dari keinginan
10.   Jatuh cinta


Ketiga, dari lingkungan sekitar
1.       Kondisi masyarakat di kampung
2.       Bencana dan musibah
3.       Jalan yang rusak
4.       Robohnya surau kami


Keempat, dari kehidupan sehari-hari
1.       Dari pengalaman dan kegiatan sehari-hari
2.       Dari pelaksanaan amanah dan tugas profesi kita
3.       Dari pengalaman perjalanan
4.       Dari organisasi
5.       Dari pengalaman belanja
6.       Dari film dan drakor yang enak ditonton
7.       Bahan ajar


Kelima, dari bacaan
1.       Dari kitab rujukan
2.       Dari tulisan orang lain
3.       Dari berita di media massa


Keenam, dari orang lain
1.       Dari kisah dan cerita orang lain
2.       Dari “paksaan” pihak lain
3.       Dari ide orang lain
4.       Dari obrolan di forum arisan, majelis taklim, mal, atau di pasar
5.       Dari celoteh anak-anak
6.       Dari pertanyaan yang tidak mampu kita jawab
7.       Dari kejadian yang menimpa orang lain


Ketujuh, dari lingkungan global
1.       Dari kondisi dunia
2.       Dari sisi lingkungan hidup
3.       Pasar bebas, politik perdagangan


Hal yang Anda sukai, akan mudah menjadi tulisan. Menulislah dari sesuatu yang kita sukai.

“If you wait for inspiration to write, you’re not a writer, you’re a waiter.”
(Dan Poynter)



Ide menulis saya:
1.       Tentang dunia mengajar, karena saya seorang guru
2.       Tentang anak-anak saya tercinta, yang sangat beragam karakter dan keinginan
3.       Tentang hikmah kehidupan yang telah saya dapatkan selama ini


#emakemakpunyakarya

Saturday, July 11, 2020

Workshop

Bismillaah


Hari ini, Sabtu, 11 Juli 2020, kami mengikuti workshop di perpustakaan AHIS. Biasanya, sebelum masa pandemi, workshop dilaksanakan di hotel. Tapi, demi keamanan dan keselamatan bersama, kali ini cukup di sekolah saja. 


Workshop ini merupakan puncak raker (rapat kerja) semester 1 tahun ajaran 2020/2021. Kalau di raker hanya diikuti oleh kepala sekolah dan guru, di workshop ini ikut hadir pula Direktur Pendidikan AHIS, Ustadz Hasan Ishak. 


Sebelumnya, acara ini dinamakan Musyker (musyawarah kerja) dan selalu dihadiri oleh pengurus yayasan Al Hidayah, selain civitas akademika AHIS. Namun sudah dua tahun ini berganti nama menjadi workshop dan dari pihak yayasan hanya diwakili oleh direktur pendidikan. Masalah yang dibahas pun berkaitan dengan teknis pembelajaran beserta target dan capaian yang telah diraih selama setahun. 


Workshop kali ini membahas tentang materi pokok yang akan diberikan kepada siswa selama BDR (Belajar dari Rumah). Diawali dari pemaparan oleh korlas (koordinator kelas) 1, kelas 2 dan 3. Selanjutnya presentasi dari KKG (Kelompok Kerja Guru) mata pelajaran kelas 4, 5, dan 6. Saya mendapat kesempatan pertama kali untuk menyampaikan materi pokok apa saja yang akan disampaikan dalam pelajaran bahasa Indonesia. 

Masukan dan saran yang diberikan oleh kepala sekolah adalah agar materi bahasa Indonesia lebih disederhanakan, diutamakan yang mudah-mudah saja, mengingat pelajaran jarak jauh pasti berbeda dengan tatap muka langsung. Jadi target pencapaiannya jangan terlalu tinggi.


Setelah itu dilanjutkan dengan mata pelajaran lainnya. Terakhir adalah pemaparan dari KKG bahasa Inggris yang mendapat pujian dari Bapak Direktur karena beliau, Pak Mahlil, sangat memahami kelebihan dan kekurangan siswanya. Seperti itulah seharusnya, seorang guru.


Poin utama yang dapat disimpulkan dari workshop kali ini adalah bahwa KBM (kegiatan belajar mengajar) selama 6 bulan ini, hendaknya disajikan secara menarik dan mudah. Tidak perlu mengejar target kurikulum. Siswa jangan terlalu dibebani dengan tugas-tugas yang sulit, karena guru tidak bisa membimbing langsung seperti saat di kelas.

Beberapa catatan yang diberikan oleh Ustadz Hasan setelah pemaparan materi-materi pokok tadi adalah bahwa kita harus mengacu kepada profil lulusan sekolah ini. Di antaranya adalah lulusan AHIS harus sudah hafal juz 30, pandai membaca, menulis, dan berhitung, serta memiliki akhlak dan adab yang baik. Kemampuan selain itu, merupakan bonus yang perlu kita syukuri. Namun, tujuan utama kita mengajar adalah menjadikan anak-anak yang berakhlak mulia dan memiliki kemampuan-kemampuan dasar tersebut.

Selain itu, beliau juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk menjadi yang terbaik. Jangan pernah meremehkan siswa karena setiap diri sudah dikaruniai Allah satu paket kelebihan dan kekurangan. Dan, bisa jadi, kekurangan atau kelemahan anak hari ini, justru menjadi keunggulannya di masa depan. 

Seperti teman beliau yang datang ke Pakistan dengan kemampuan bahasa Arab nol. Namun karena dia merasa tertantang, kini justru menjadi orang yang sangat menguasai bahasa tersebut dan menjadi salah satu yang terbaik. 


Jadi ingat seorang guru virtual saya, Kak Budi Waluya. Meskipun beliau jauh lebih muda daripada saya, tapi ilmunya jauh lebih banyak. Begitu juga amalnya. Waktu sekolah beliau tidak suka dengan bahasa Inggris. Namun saat mendaftar kuliah, beliau justru diterima di jurusan bahasa Inggris. Dan, itulah awal kecintaannya. Yang tadinya benci jadi cinta. Siapa sangka? Yang tadinya dianggap kurang dalam pelajaran tersebut, sekarang malah menjadi pakarnya.


Selesai S 1, beliau mendapat beasiswa S2 bahasa Inggris di negara asal bahasa tersebut. Lalu melanjutkan S3 dengan beasiswa di Amerika dengan jurusan yang sama. Sambil menyelesaikan S3, beliau juga mengajar secara virtual melalui grup Facebook. Jadi, belajar online itu memang sudah ada sejak lama. Namun, sistem ini baru terasa saat pandemi ini.

Terus terang, saya iri dengan beliau. Usia masih sangat muda, amalnya sudah banyak. Mengapa? Karena beliau mengajari ribuan orang melalui grup Facebook tersebut. Setelah itu, program belajar dipindah menggunakan website.


Itulah contoh seorang yang tadinya dianggap tidak bisa dan tidak mampu, ternyata bisa menjadi yang terbaik. Karena dia termotivasi dan tertantang dengan ketidakmampuannya itu.


Seperti kata Tere Liye, seorang anak memiliki janji kehidupan yang lebih baik. Jangan pernah meremehkan mereka. Mereka adalah kuncup-kuncup bunga yang siap mekar dan memesona sekitarnya, bila disiram dan dirawat dengan penuh kasih dan motivasi. Bukan dengan celaan atau pun dikecilkan.


Semoga saya dan seluruh guru dan orang tua di dunia ini bisa mendidik dan mengajar dengan baik. Sehingga anak-anak semakin termotivasi untuk menjadi lebih baik dan terbaik di bidangnya masing-masing. Aamiin.