Sunday, November 13, 2016

My Heroes

Bismillaah

A hero is usually someone who is very important for us. For me, mother and father were my heroes. But I can't talk too much about them since I was only with them for some years. There weren't many memories with them. Even though, deep in my heart they're so special for me. I love both of you so much. Thank you for everything you gave me. I am sorry that I couldn't do anything for you except praying to Allah, may Allah forgive all your sins and give you the best place in heaven. Aamiin ya robbal'aalamiin.

Besides my parents, teachers are also my heroes. When I have no one to ask or to tell a problem, there would be my teachers listening to me. Since my parents passed away, teachers replaced their position. So, I had many closed teachers. I assumed them as my teachers. Some of them are Mr Bisri (my junior high school teacher), Miss Widiyati, Mr Suhud, Mr Agus, Mr Thoyib, and Mr Manar ( my senior high school teachers).

Mr Bisri was wise, patient, humble, and full of care. He was just like my father. Miss Widiyati was as beautiful as my father. She was charming, intelligent, friendly, and wise as well. She taught me not only the subject at school but also how to speak in front of a lot of people. She was a muballighah. I learnt to be a daiyah from her. She was a popular muballighah.

Mr Thoyib was the same as Mr Bisri. But there's anything special that I could learn from Mr Thoyib. As he was a journalist, he used to encourage me to take a part at any writing competition, Indonesian and English. He would be beside me any time I needed help.

Mr Suhud, Mr Agus, and Mr Manar were just like my academic advisors. They taught and encouraged me to be the first and the best at any academic activities. Up to now, I still have contact with them and sometimes share many important things and information. They still think that I am their little girl at school.

Thank you my beloved teachers for everything you gave me. Only Allah can give you back more and better.
Jazakumullah khairan katsira.

Tuesday, November 1, 2016

The Drug of The New Millenium

Bismillaah

Judul buku: The Drug of The New Millenium
Penulis        : Mark B. Kastleman
Penerbit      :  Yayasan Kita & Buah Hati
ISBN            : 9786029692518
Jumlah hal. : 299


Narkoba Millenium Baru

Sebuah ancaman baru bagi generasi muda penerus bangsa. Ancaman yang lebih berbahaya dari narkoba yang selama ini kita kenal. Narkoba ini berupa pornografi. Kerusakan yang ditimbulkannya jauuuh lebih parah dan lebih sadis. Tidak hanya menghancurkan diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Tidak hanya merusak fisik, tapi juga psikis. (Baca juga: Mengenali dan Mengatasi Kecanduan Anak pada ... http://eryndy.blogspot.co.id/2016/08/sumber-blogspot.html?m=1)

 Buku ini berisi dua bagian: Latar Belakang Ilmiah dan Solusi. Pada bagian satu dijelaskan tentang cara pornografi mengubah otak secara radikal. Bagaimana otak yang terkena pornografi menjadi tidak bisa berpikir logis dan sehat. Yang ada dalam benaknya hanyalah bagaimana cara mencapai klimaks. Dipaparkan juga, bagaimana produsen pornografi sangat gencar mengejar dan menyerang kita dengan sangat halus dan tidak terasa. Siapa pun berada dalam ancaman bahayanya.


Masih di bagian satu, diuraikan juga tentang cara kerja otak laki-laki dan perempuan. Perempuan adalah "pemikir jaring", sedangkan laki-laki 'pemikir langkah". Dengan cara kerja otak yang berbeda ini, produsen pornografi menjerat korbannya dengan cara yang berbeda pula. Laki-laki disuguhi dengan gambar-gambar porno, yang levelnya senantiasa ditingkatkan setiap saatnya, dari yang paling sederhana hingga yang paling tidak masuk akal. Dari yang hanya gambar porno, hingga gambar yang penuh kekerasan dan kesadisan, sehingga membuat kecanduan dan ingin mempraktikkan apa yang dilihatnya. Maka muncullah kejahatan seksual di mana-mana: pemerkosaan, incest, pelecehan, dan pedofilia. 


Seperti pencuri di malam hari, pornografi di internet juga bekerja secara halus, pelan, dan nyaris tanpa disadari merampok individu, pasangan, dan keluarga dari hal-hal yang mereka anggap paling berharga: waktu, energi, kreatifitas, hubungan perkawinan yang sehat, cinta keluarga, kehormatan, moralitas, kesopanan, integritas, kesabaran, harmoni, kesuksesan, kebahagiaan, kepuasan, spiritualitas, dan masih banyak lagi. (Hal. 137)


Sedangkan perempuan dibuai dengan cyber-sex chat room, karena perempuan tidak suka melihat gambar-gambar porno.  Tetapi mereka lebih suka pada proses dan tahapan seperti kasih sayang, kelembutan, romantisme, dan komunikasi. Berdasarkan itulah, produsen pornografi menarik banyak wanita ke dalam dunia gelap ini: ruang chat di internet. (Hal. 113)


Pada bagian dua, kita akan mendapatkan tiga solusi penting dalam menghindari serangan pornografi. Di dalamnya disertakan juga latihan-latihan agar kita bisa langsung praktik. Bagi yang sudah kecanduan juga diberikan jalan keluar. 


Membaca buku ini membuat dada terasa sesak oleh perasaan sedih, cemas, benci, takut, dan juga marah. Jahat sekali orang-orang yang telah mengambil keuntungan dengan merusak masyarakat, bahkan negara dan bangsa. Semakin sedih lagi, karena pemerintah pun tidak tanggap terhadap bahaya ini. 


Ya Allah lindungilah kami dan generasi muda bangsa Indonesia juga umat Islam seluruhnya. Aamiin ya robbal'alamiin.


#Mari, bersama kita selamatkan anak kita dari kerusakan otak yang disebabkan oleh NARKOLEMA (NARkoba LEwat MAta) atau Pornografi: Ibu Elly Risman, Psi.


Monday, October 31, 2016

Habibie & Ainun

Bismillaah

Akhirnya selesai juga membaca buku yang penuh inspirasi dan motivasi ini. Alhamdulillah. Buku setebal 323 halaman ini, sarat dengan nilai-nilai luhur yang sangat bermanfaat dalam hidup berumah tangga dan bermasyarakat. Pak Habibie dan Ibu Ainun telah memberikan kontribusi dan suri tauladan yang sangat baik kepada kita semua. Semoga Allah membalas jasa keduanya dengan yang lebih baik, aamiin.

Sejak kecil, sama seperti anak-anak Indonesia lainnya, saya sangat mengagumi Pak Habibie, yang menurut saya super pintar ini. Jadi, walaupun pada masa reformasi dulu, ada beberapa elemen masyarakat yang tidak menyukainya dan malah menghujat, kekaguman saya pada beliau tidak pernah pudar.

Setelah membaca buku ini, kekaguman itu semakin bertambah. Kalau dulu, saya begitu takjub dengan berbagai prestasi Pak Habibie, sekarang saya sangat terpukau dengan segudang prestasi dan aktivitas Ibu Ainun. Perjuangan, pengorbanan, pengabdian, dan perhatian beliau, menjadi salah satu sebab sukses sang suami. Seperti pengakuan Pak Habibie, "Di balik sukses seorang tokoh, tersembunyi peran dua perempuan yang amat menentukan, yaitu ibu dan isteri."


Ibu Ainun dan Pak Habibie adalah dua cinta sejati, sehingga mereka bisa saling mengerti satu sama lain meski hanya dengan pandangan mata tanpa kata-kata. Saling mengisi dan menguatkan, saling menasihati dan mengingatkan.


Kalau boleh saya simpulkan, cinta mereka begitu indah karena dilandasi iman kepada Allah. Mereka tidak pernah meninggalkan salat lima waktu, bahkan Ibu Ainun tak pernah melewatkan satu malam pun tanpa membaca Al Qur'an. Sehingga hampir semua ia hafal dan maklumi. (Hal. 274) Padahal kesibukannya dalam mendampingi suami dan menjalankan aktivitas sosialnya sangat padat dan menguras energi, hingga beliau jatuh sakit.


Selain itu juga karena kepedulian beliau terhadap masyarakat yang kurang mampu dengan menyediakan beasiswa Orbit, dan juga mendirikan Bank Mata Indonesia, juga organisasi sosial lainnya.  Hidup mereka benar-benar bermanfaat tidak hanya untuk diri dan keluarganya, tetapi juga bangsa  dan negara. Masyaallah. Semoga akan semakin banyak Habibie dan Ainun yang lahir dan memberikan banyak kontribusi pada negeri tercinta Indonesia. Aamiin ya robbal'alamiin.


Saturday, October 29, 2016

Janji Kehidupan

Bismillaah

Janji kehidupan yang lebih baik selalu tergenggam di tangan anak-anak.

Kalimat yang diucapkan Karang, salah seorang tokoh dalam novel Tere Liye yang berjudul Moga Bunda Disayang Allah ini, sangat mengesankan bagi saya. Kalimat ini sangat inspiratif dan sarat dengan motivasi. Terutama bagi saya, seorang ibu sekaligus guru yang menghadapi berbagai karakter anak dengan kemampuan dan latar belakang yang berbeda-beda.

Seringkali, saat menghadapi anak yang agak sulit diarahkan, atau agak sulit diajari, rasanya ingin menyerah saja. Bagaimana tidak? Berbagai cara dari yang lembut sampai yang penuh dengan ketegasan, bahkan dibumbui dengan ancaman, ternyata tidak berpengaruh.

Yang paling membuat saya sedih dan juga kesal, saat mengajari anak yang sikapnya tidak sopan dan tidak bisa menghargai guru. Sudah dinasihati, dielus, dipuji, diberi kata-kata positif seperti anak sholih, anak pintar, tapi malah membantah. Aku nggak sholih, aku nggak pintar.

Duuh, rasanya ingin menangis saja. Astaghfirullah, astaghfirullah....  Heran, makan apa, ya anak ini? Kok kelakuannya begitu amat?

Tapi bila ingat kalimat di atas, semangat kembali merasuki kalbu. Setiap anak pasti akan memiliki kesuksesan dan masa depan yang baik bila diarahkan dengan baik pula. Tugas kita orang tua dan gurulah untuk mengantarkan mereka menjemput masa depan yang indah.

Tak ada kata putus asa. Apalagi mereka adalah anak-anak yang sehat jasmani dan rohaninya. Helen Keller yang buta, tuli, dan bisu saja bisa mengguncang dunia dengan prestasinya, apalagi anak-anak kita. Pasti bisa lebih hebat lagi.

Dan, kehebatan itu, tentu atas peran besar orang-orang di sekitarnya; orang tua dan guru terutama.

#Semangat!!!

Sunday, October 9, 2016

Resensi: Moga Bunda Disayang Allah

Bismillaah






Membaca novel-novel Tere Liye, selalu meninggalkan kesan yang mendalam yang lama hilang. Seperti novel ini, Moga Bunda Disayang Allah. Dari judulnya saja, kita tahu akan ada pesan spiritual yang disampaikan penulis. Dan, seperti biasa pula, saya tidak tahan untuk segera menuntaskan bacaan pada setiap novel Tere Liye, termasuk yang satu ini.
Novel ini berkisah tentang seorang kanak-kanak berusia enam tahun, yang, karena suatu kecelakaan kecil, harus menderita buta, tuli, sekaligus bisu. Putri tunggal dari seorang pengusaha kaya bernama Tuan HK dan isterinya, Bunda HK ini, sangat lucu dan menggemaskan. Bila dilihat selintas, tidak kelihatan bahwa dia memiliki kekurangan itu.
Berbagai pengobatan dan upaya penyembuhan telah dilakukan oleh keluarga yang kaya raya itu. Hingga yang terakhir, satu tim medis didatangkan dari ibukota, untuk menyembuhkan sang putri yang bernama Melati ini. Alih-alih mendapatkan kesembuhan, Melati malah divonis gila oleh tim medis tersebut. Vonis yang keluar karena dipengaruhi rasa marah itu, dijatuhkan kepada Melati karena telah menggigit jari salah seorang dokter anggota tim tersebut hingga nyaris putus. Hanya orang gila yang sanggup menggigit jari hingga nyaris putus, kata salah seorang dokter yang telah dibayar mahal oleh keluarga HK itu.
Vonis yang sangat menyakitkan dan menyesakkan dada, hingga sang bunda jatuh sakit. Saat bunda sakit itulah, ia mendapat kabar dari dokter yang merawatnya, Kinasih, bahwa ada seorang pemuda yang sangat dekat dengan anak-anak dan sangat mengerti dunia mereka. Pemuda itu pandai mendongeng. Dengan dongengnya, salah seorang anak asuhnya yang semula lumpuh-layu, menjadi punya keinginan kuat untuk bisa berjalan dan berlari. Dan, anak itu berhasil!
Itulah yang membuat asa di mata bunda yang tadinya telah menghilang, kini bersinar kembali. Dikirimlah surat demi surat kepada pemuda itu, yang bernama Karang. Hingga surat ke sekian, ternyata tidak ada tanggapan apa pun dari Karang. Tak puas hanya lewat surat, bunda datang langsung ke rumah orang tua asuh Karang. Meminta dan memohon kepadanya agar mau membantu Melati. Awalnya, Karang menanggapi dengan sinis permintaan itu, mengatakan pada bunda bahwa ia salah alamat. Maka, pulanglah bunda dengan harapan yang kembali redup.
Dengan kuasa-Nya, Allah menggerakkan hati Karang untuk membantu Melati. Namun, ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Menghadapi Melati yang tidak bisa mendengar, melihat, dan berbicara saja sudah merupakan perjuangan yang berat, ditambah lagi dengan sikap sang ayah, Tuan HK yang tidak setuju dengan cara-cara Karang dalam menghadapi Melati. Namun Karang tidak berputus asa. Karena dia yakin bahwa janji kehidupan yang lebih baik selalu tergenggam di tangan anak-anak. Karena itulah, dia sangat dekat dengan anak-anak dan sangat mencintai mereka.
Membaca novel ini, kita akan teringat kembali dengan kisah nyata seorang tokoh dunia yang mengalami nasib sama dengan Melati yaitu, Helen Keller. Dan memang, novel ini terinspirasi dari tokoh tersebut dan dari sebuah film India yang berjudul Black.
Kisah yang sungguh luar biasa, membuat kita introspeksi diri kembali tentang apa yang telah kita lakukan dengan segala kesempurnaan yang telah Allah anugerahkan. Kadang kita yang sempurna ini, lebih banyak lalai dan mengeluh dengan hal-hal sepele dan tidak penting. Sedangkan mereka yang serba terbatas justru lebih banyak mengukir karya dan lebih pandai mensyukuri nikmat Allah.
Kembali, dan kembali, kita harus selalu bersyukur, bersyukur, dan bersyukur.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
[QS. Ar-Rahman: Ayat 13]

a

Thursday, October 6, 2016

VIP in My Life

Bismillaah

Since my parents passed away, I was brought up by my relatives. They were my elder brother and his wife, my grandparents, my aunts and uncles. Even though I didn't have parents anymore, I had many parents. Those whom I mentioned above were my new parents. They loved and took care of me and my brothers as their own children. So, I called them very important people in my life.

In this writing, I will tell about them one by one, in sya Allah. I do this to commemorate their kindness to me,  since I won't be able to pay back what they have done for me. May Allah bless them all and gives them much  more rewards in the world and in heaven. Aamiin ya robbal'aalamiin.

I begin from my elder brother. His name is Ilham Subagyo, but we call him Mas Giyanto. Since father and mother passed away, he replaced their roles as parents. Although he had his own children, he didn't mind to share his care with us, my brothers and me. Not only care, he also shared his time, money, and everything he had. He used to give what we needed without complaint.
As a teacher, he had no much money, but he was not stingy

Now, Mas Giyanto isn't here either. He and his wife have also passed away. Allahu yarham. May Allah loves them as much as they loved us. May Allah places them  in heaven. Aamiin.

Tuesday, October 4, 2016

Orang Tua Pingsan

Bismillaah 





Menjadi orang tua memang tidak semudah menjadi sekretaris, akuntan, atau pun dokter. Mengapa? Karena untuk menjadi orang tua yang baik dan sukses tidak ada sekolahnya apalagi universitasnya. Sedangkan untuk menjadi seorang dokter atau profesi lainnya, kita tinggal memilih sekolah atau universitas mana yang cocok dengan kemampuan dan keuangan kita.
Oleh karena itulah, banyak orang tua yang salah dalam mendidik anak-anaknya. Itu semua bukanlah sesuatu yang disengaja, tetapi benar-benar karena ketidaktahuannya. Sebagai contoh, seorang ibu yang mempunyai seorang anak balita yang tidak memiliki asisten rumah tangga, pasti akan menemukan beberapa kerepotan antara mengasuh anak dan mengurus pekerjaan rumah. Di satu sisi, sang anak sedang dalam masa-masa yang memerlukan perhatian ekstra karena jiwa eksplorasinya sangat tinggi, sehingga tidak aman bila dibiarkan sendirian. Di sisi lain, pekerjaan rumah dari memasak hingga menggosok baju, juga perlu perhatian dan waktu ekstra banyak. Sebagai jalan keluar yang praktis, akhirnya sang balita dibiarkan menonton televisi atau bermain gadget. Hasilnya?
Untuk jangka pendek, cara seperti itu sangat jitu dalam menyelesaikan masalah orang tua, dalam hal ini ibu. Anaknya anteng, tidak rewel dan tidak kemana-mana, pekerjaan pun beres. Suami pasti senang dan bangga dengan hasil kerja sang isteri. Untuk jangka pendek. Bagaimana untuk jangka panjangnya?
Di sinilah orang tua tidak sadar dengan bahaya yang ditimbulkan oleh televisi dan gadget, alias pingsan, istilah Ibu Elly Risman, Psi. Orang tua tidak sadar bahwa teknologi canggih yang kelihatannya telah banyak membantu dan menyelesaikan masalah, ternyata malah menimbulkan masalah baru. Begitu banyak dampak negatif yang ditimbulkan oleh keduanya. Apalagi untuk anak balita. Apa dampaknya?
Yang paling jelas, anak menjadi malas bergerak dan bersosialisasi. Penyakit yang diakibatkannya, bisa bermacam-macam, di antaranya obesitas, jantung, darah tinggi, dan diabetes. Jelas sekali bahwa anak yang lebih banyak melakukan aktivitas fisik jauh lebih sehat dan cerdas dibandingkan dengan mereka yang hanya berdiam diri.
Dari segi minat baca, anak yang sudah terpapar layar digital, akan merasa sulit dan malas untuk membaca buku. Hal ini terjadi karena dia telah terbiasa melihat dan menonton gambar -gambar yang berwarna-warni dan sangat dinamis. Sedangkan buku yang kita baca hanya diam dan tidak bisa bergerak semenarik tivi maupun gadget. Ini merupakan kemunduran berikutnya.
Sudah saatnya orang tua bangun dan sadar sehingga tidak menyerahkan anak-anaknya kepada tivi dan gadget tanpa pendampingan, mengingat begitu besarnya bahaya yang ditimbulkannya. Belum lagi bahaya pornografi yang telah merusak moral dan akhlak anak-anak, generasi penerus bangsa.
Mari gunakan gadget dengan cerdas.