Wednesday, May 27, 2020

Perselisihan


Bismillaah



"Ini punyaku!" seru Nisa.
"Punyaku!" teriak Azmi tak kalah kencang. 
Mereka berebut mainan sambil saling pukul dan saling jambak. Saya yang sedang mengurusi adik jadi tergopoh-gopoh mendatangi mereka berdua. Sekuat tenaga saya coba memisahkan dua anak yang sedang berseteru ini. Dua-duanya masih kecil, masih SD. Usia mereka hanya selisih 3 tahun. 



Beberapa saat kemudian, setelah emosi mereka sudah reda dan adiknya pun sudah tidur, saya panggil mereka berdua. Kami duduk di beranda dapur, di atas lantai tanpa alas apa pun. Berusaha santai dan rileks.

Saya usap rambut keduanya dengan lembut sambil bertanya, "Tadi kenapa? Kenapa Mba Nisa dan Mba Azmi berantem?"
"Abis, Mba Nisa-nya ...."
"Apaan, kan kamu duluan!" 
Belum selesai Azmi bicara, sudah dipotong oleh Nisa. Sepertinya emosi keduanya belum benar-benar normal. Masih ada sisa-sisa kemarahan yang belum tersalurkan.



"Sudah, sudah .... Tak baik, dengan saudara kok berantem. Umi sedih, kalau kalian berantem. Mba Nisa dan Mba Azmi itu andalan Umi, yang bisa bantu Umi. Kalau kalian berdua berantem, tidak akur, nanti siapa yang akan bantu Umi?" tutur saya panjang lebar dengan menahan emosi juga. Saya benar-benar sedih dengan kejadian ini. Sebelumnya mereka adalah anak-anak yang manis, akur. Baru kali ini mereka bertengkar seperti ini, sampai main fisik. Ibu mana yang tak sedih?



"Maafin Nisa, ya Mi," ujar Nisa sambil memeluk saya.
"Azmi juga ya, mi," adiknya tak mau ketinggalan.
Kuraih mereka dalam dekapan, sambil kubisikkan kata-kata nasihat agar mereka tak mengulangi perbuatan seperti tadi lagi.



Begitulah mereka. Kakak-adik yang lucu dan menggemaskan. Si adik, Azmi, inginnya meniru semua gaya dan tingkah laku si kakak. Kakaknya pun selalu berusaha tampil sebagai kakak yang baik dengan memberikan instruksi-instruksi layaknya seorang guru kepada muridnya. Klop, sebenarnya. Namun, namanya anak-anak, berselisih pendapat itu biasa. Bertengkar itu biasa, sebagai bumbu pergaulan agar seru. Nanti juga, sebentar kemudian akan baikan lagi, tak ada sakit hati apalagi dendam. 

Alhamdulillaah, kalau anak perempuan lebih mudah dinasihati. Setelah itu, hampir bisa dikatakan tidak pernah terjadi pertengkaran yang berarti. Lain halnya dengan anak laki-laki. Saat ini berdamai, beberapa menit kemudian bisa terjadi insiden lagi. Namun, namanya juga anak-anak, mereka pun akan cepat akur kembali, seperti tidak terjadi apa-apa.



Sebagai orang tua, kadang kita perlu turun tangan membantu menyelesaikan masalah mereka, tapi sering juga, kita hanya mengawasi dari jauh. Kalau mereka sudah bisa menemukan solusi sendiri, itu akan sangat baik dalam menumbuhkan kemandirian. Jangan sedikit-sedikit orang tua yang menangani masalah anak-anak. Nanti bisa menimbulkan ketergantungan sehingga mereka tidak percaya diri saat menghadapi masalah kehidupan.

No comments: