Sunday, May 30, 2021

Launching AADRK


Bismillaah

Hari Sabtu, 29 Mei 2021, menjadi hari penting sekaligus inspiratif. Membuat saya semakin bersyukur berada di komunitas ini. SDI, Sygma Daya Insani, penerbit yang konsisten menerbitkan buku-buku siroh, keislaman, dan juga Al-Qur'an, me-launching produk baru. AADRK, Ada Allah di Rumah Kami.

Buku ini merupakan karya Ustadzah Oki Setiana Dewi, atau yang akrab juga dengan Umma Oki. Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman beliau selama membersamai putra-putrinya, menanamkan tauhid melalui Asmaul Husna. 

Buku ini disiapkan dalam bentuk multi platform. Selain ada 10 buku utama, ada juga digibook, audiobook, video, dan balok serta kartu Asmaul Husna. Videonya berisi dongeng Umma Oki sambil membacakan buku tersebut. 

Selain terkesan dengan buku baru tersebut, yang tak kalah mengesankan dari acara launching ini adalah pemaparan Umma Oki tentang bagaimana beliau mendidik putra-putrinya. MasyaAllah, benar-benar luar biasa. Beliau sangat serius dalam menyiapkan pendidikan untuk putra-putrinya. Karena, mendidik anak dengan benar merupakan bukti syukur kita kepada Allah. Begitu motivasi yang beliau sampaikan.

Setiap hari, beliau membacakan buku kepada putra-putrinya. Selain itu, setiap hari juga beliau men-talqin-kan hafalan Qur'an kepada mereka, saat mereka bermain. Jadi, anak-anak tidak merasa belajar, padahal sebenarnya sedang belajar. Sehingga, mereka merasa senang menghafal Al-Qur'an. Sambil belajar menghafal, mereka pun belajar mengenal huruf Al-Qur'an. Dan, MasyaAllah, Maryam, putri pertamanya, sudah lancar membaca Al-Qur'an pada usia lima tahun. 

Sedangkan berkaitan dengan penanaman tauhid kepada anak-anak, beliau selalu mengaitkan semua peristiwa dengan kekuasaan Allah. Ketika anak berhasil menghafal, maka beliau akan mengatakan, "Alhamdulilaah, Allah telah memberikan kecerdasan kepada Maryam. Sehingga Maryam bisa dengan mudah menghafal Al-Qur'an." Kira-kira seperti itu. Ini kata-katanya saya rangkai sendiri, tidak sama persis dengan yang beliau sampaikan tadi. 


Ketika anak-anak menginginkan sesuatu, mereka diajarkan untuk memohon kepada Allah. Misalnya ketika mau tidur. Mereka sekeluarga akan melantunkan doa dan dzikir menjelang tidur bersama-sama. Membaca tiga Qulhu, dan juga Al Mulk. Kemudian masing-masing anak akan memanjatkan doanya masing-masing. 

Misalnya, ketika Maryam berdoa ingin menjadi ustadzah, maka Umma Oki akan menambahkan doa, "Semoga Maryam rajin menuntut ilmu, Allah mudahkan dalam memahami ilmu, dan Allah jadikan Maryam anak yang sholihah, yang bermanfaat untuk umat." Kira-kira seperti itu.


Saturday, May 29, 2021

Apa pun, untuk Palestina (2)

Bismillaah

Bahkan, ada di antara teman-teman mereka yang mengumpulkan donasi dari rumah ke rumah. Lalu, pada acara puncak, sekolah mereka mengadakan konser amal dengan mendatangkan artis ibukota yang juga merupakan duta Palestina. Hadir pula seorang anak Palestina, Ali, namanya. Si kakak sempat foto bersama dengan Ali. Momen itu sangat istimewa baginya, dan tak terlupakan.

Pada acara itu, Ali sempat bercerita tentang keadaannya dan teman-temannya di Palestina. Meskipun negeri mereka terus dibombardir oleh Israel, mereka tetap semangat belajar dan bersekolah. Mereka juga tetap menghafal Al-Qur’an. Bagi mereka, hafal Al-Qur’an merupakan salah satu syarat agar bisa menjadi pasukan pembela tanah air yang mereka cintai.

Maka, tak heran, bila di sela-sela reruntuhan puing rumah, mereka tetap membawa Al-Qur’an. Al-Qur’an sudah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Mereka yakin, kitab suci itu, tidak hanya menjadi pedoman hidup, tetapi juga merupakan sumber motivasi agar tetap teguh di jalan Allah. Meskipun taruhannya adalah nyawa mereka. Mereka tak pernah gentar. Meski senjata mereka hanyalah kerikil-kerikil kecil.

Sungguh, kisah hidup yang sangat tidak biasa bagi anak-anak Indonesia. Di sini, anak-anak hidup dengan nyaman dan aman. Semua serba ada. Tetapi, kenyamanan itu cenderung melenakan. Membuat badan malas.

Maka, mendengar cerita Ali, tumbuhlah motivasi di dada mereka. Keinginan untuk juga semangat belajar dan menghafal Al-Qur’an. Keinginan untuk ikut serta membela Palestina, meskipun hanya dengan sedikit harta, dan sepotong doa.

“Mi, ini uangku,” ujar si adik menyadarkanku dari lamunan.

“Alhamdulillaah. Terima kasih, Dik. Jangan lupa, kita doakan juga ya, semoga Allah segera memberikan kemenangan untuk mereka.”

“Aamiin yaa rabbal’aalamiin.”

***
Belajar membuat cerpen walaupun masih belum bagus dan masih banyak kekurangan. Konfliknya belum greget. Masih biasa saja. Pengin lebih bagus, tapi tidak tahu harus bagaimana. Meskipun demikian, demi membantu Palestina, walau dengan sedikit ilmu, semoga bisa memberikan manfaat.  

Rencana cerpen ini akan diikutsertakan dalam Nubar (nulis bareng) Palestina. Semoga bisa lolos. Karena yang ikut banyak, jadi harus diseleksi.

Thursday, May 27, 2021

Review "Si Putih"


Judul: Si Putih
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2021
ISBN: 9786020652252
Ukuran buku: 376 hlm; 20 cm


Bismillaah

Kucing adalah salah satu hewan peliharaan yang lucu dan menggemaskan. Seperti kucing anak saya, si Spuki. Saat itu, dia baru saja diberi makanan di wadah khusus makanannya. Tak berapa lama, dia menghampiri anak saya yang tadi memberikan makanan, sambil mengeong. 

"Kenapa?" tanya anak saya sambil berjalan ke tempat makanan Spuki. Ternyata di sana ada kucing kecil -sepertinya anak  si Spuki- sedang makan jatah Spuki.

"Oh, kamu mau berbagi?"
"Meong."

Setelah makanan itu dibagi ke dalam dua wadah, maka dua kucing itu dengan tenangnya makan bagian masing-masing. MasyaAllah, lucunya ^_^.

Tak berbeda jauh dengan Si Putih dalam buku Tere Liye ini. Binatang imut dan lucu itu juga sangat menggemaskan. Apalagi bila ia sedang berkomunikasi dengan sahabatnya, N-ou. N-ou yang hidup sebatang kara dan hanya ditemani Si Putih, membuat mereka saling memahami dan saling melengkapi.

Dan, ternyata Si Putih memang bukan kucing biasa. Meskipun imut dan lucu, tetapi dia juga sangat kuat dan hebat. Dia bisa melawan binatang dan manusia yang postur tubuhnya jauh lebih besar darinya. Si Putih dan N-ou menjadi sahabat sekaligus pemegang kekuatan yang hebat. Dan, N-ou menjadi pengendali hewan yang sangat disegani. Tidak hanya karena kekuatannya yang luar biasa, tetapi juga karena sifatnya yang penuh peduli kepada semua orang. Berbeda dengan para pengendali hewan pada umumnya.

Di Klan Polaris, terutama di Kawasan Gunung Timur, para pengendali hewan menjadi penguasa dan biasa berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat biasa. Para pengendali hewan adalah orang yang bisa menaklukkan hewan -biasanya binatang buas-, menjinakkannya, lalu menjadikannya tidak hanya tunggangan, tetapi juga partner dalam bertarung. Para pengendali hewan itu bisa berkomunikasi dengan hewan tunggangannya tersebut. Dan, ketika mereka telah menyatu dengan bonding khusus, kekuatan mereka menjadi berkali lipat.

Itulah yang terjadi pada N-ou dan Si Putih. Petualangan mereka membuat mereka semakin akrab dan menyatu sehingga membuat kekuatan mereka semakin cepat bertambah levelnya. Namun sayang, cerita ini tidak berakhir dengan happy, dan seperti biasa, belum selesai. 

Bagaimana kelanjutan N-ou dan Si Putih yang telah berhasil menaklukkan para pengendali hewan yang congkak itu? Akankah mereka menjadi penguasa di Klan Polaris? 

Buku ini, seperti buku-buku Tere Liye lainnya, selalu membuat penasaran dan tidak ingin berhenti sebelum sampai di halaman terakhir. Meski buku ini ditujukan untuk remaja, namun cocok juga untuk orang dewasa. Kalau untuk anak-anak, mungkin masih kurang pas karena bukunya yang tebal. Walaupun tidak dapat dipungkiri, ada juga anak-anak yang suka membacanya, seperti anak saya. 

Tuesday, May 25, 2021

Apa Pun, untuk Palestina

Bismillaah

“Allahu Akbar! Allahu Akbar! ...”

“Astaghfirullah,” desisku melihat berita itu.

“Apaan Mi?” tanya si kecil penasaran.

“Ini Dik, Masjid Al Aqsha diserang Israel,” jawabku geram.

“Ya Allah, kasihan ya Mi. Dasar Israel jahat!!!” ujarnya tak kalah geram.

“Mi, lihat! Anak itu kasihan. Ya Allah ...” teriaknya melihat anak-anak Palestina yang terluka dan berdarah-darah.

“Emang salah mereka apa sih, Mi? Israel sampai segitunya!” serunya tak mengerti.

“Mereka, orang-orang Palestina itu tidak salah, Dik. Mereka kan, sedang beribadah di masjid itu. Sedang melaksanakan perintah Allah. Tidak salah kan?” tuturku berusaha menjelaskan.

“Masak, orang shalat ditembak? Nggak ngerti, aku!” gerutunya sambil cemberut.

Jangankan kamu, Dik, anak kecil. Kami, orang dewasa pun tak mengerti. Mengapa Israel tega berbuat seperti itu. Padahal, mereka dulu mengemis-ngemis supaya diizinkan masuk ke tanah Palestina dan tinggal di sana. Sekarang, tamu yang sudah dimuliakan oleh tuan rumah itu justru ingin menghabisi dan mengusir orang yang telah menyelamatkan mereka. Tamu macam apa, itu?

Dengan pengetahuan seadanya, kucoba menjelaskan kepada si kecil tentang kebiadaban Israel. Tentang saudara-saudara di Palestina yang harus kehilangan orang tua, adik, kakak. Juga kehilangan rumah. Kehilangan masa kecil. 

Di saat anak-anak lain sibuk bermain kembang api dan petasan, mereka sibuk menghindari kobaran api di sekeliling mereka.

Di saat anak-anak di belahan bumi lainnya sedang sibuk dengan game online, mereka sibuk berlarian menyelamatkan diri dari amukan bom Israel yang mendarat di rumah-rumah mereka.

Di saat anak-anak lain tidur nyenyak dengan kasur empuk dan selimut lembut, mereka tidur beratap langit dengan dingin yang menusuk tulang, membekukan badan.

Mereka, saudara-saudara kita di Palestina, tidak hanya terancam keselamatannya. Mereka pun hidup serba kekurangan. Tidak hanya kekurangan makanan, minuman, dan tempat tinggal. Mereka pun kekurangan obat-obatan. Mereka sangat membutuhkan bantuan dari muslim sedunia.

“Adik mau berinfak nggak, buat Palestina?” tanyaku hati-hati.

“Jangankan infak. Ke sana pun, aku mau! Aku mau bantuin mereka ngalahin Israel!”

“Eh, ada Kakak, rupanya.” Kaget juga aku mendengar respons si kakak. Ternyata, dari tadi dia menyimak percakapanku dengan si adik.

“Aku mau bantu mereka, Mi. Tapi ... Oiya! Aku kan, kemarin dapet THR dari Om. Boleh nggak, kusumbangin buat Palestina?”

“Boleh banget, Dik. Meskipun sedikit, insyaAllah bermanfaat untuk mereka dan semoga bisa meringankan beban mereka.”

“Aamiin ...” ucap si Kakak dan adik dengan serempak.

“Coba, kita masuk sekolah, ya. Pasti bisa berinfak lebih banyak. Kayak dulu itu, waktu Ali datang ke sekolah,” ujar si kakak sambil menerawang.

Ya, sebelum pandemi melanda dunia, sebelum anak-anak harus belajar dari rumah, setiap tahun, sekolah mereka mengadakan penggalangan dana untuk Palestina. Setiap hari mereka menyisihkan uang jajannya, dan dimasukkan ke kantong infak Palestina.

Bersambung ...

Sunday, May 23, 2021

Waktu Sahur


Bismillaah

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, waktu sahur tidak hanya digunakan untuk menyantap hidangan sahur. Biasanya, mereka juga sambil menonton acara televisi. Ada acara yang islami -dikemas dengan target penonton muslim- atau pun yang biasa saja, seperti komedi. Mungkin tujuannya untuk menemani santap sahur agar lebih semangat. 

Karena terhipnotis dengan berbagai acara yang menarik tersebut, kita jadi lupa bahwa waktu sahur adalah momen yang sangat istimewa. Momen langka yang seharusnya kita sambut dengan sungguh-sungguh, tidak dengan mengabaikannya. Mengapa?

Karena saat itulah Allah turun ke langit dunia dan mengabulkan doa yang dipanjatkan oleh hamba-hamba-Nya. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Allah berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758). Ibnu Hajar juga menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Do’a dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari, 3: 32).

Betapa bodohnya kita, bila saat Allah ingin mengabulkan doa-doa, kita malah asyik dengan hiburan yang melenakan dan urusan duniawi lainnya. Sudah seharusnya kalau begitu selesai makan sahur, kita kembali menghadapkan wajah ke kiblat, menghiba dan memohonkan segala asa kepada-Nya. Semoga apa yang kita impikan, dikabulkan-Nya. 

Mari perbanyak doa dan istighfar di waktu sahur. Juga bermunajat kepada-Nya. Karena, waktu sahur adalah momen istimewa, momen yang sangat berharga, yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Jangan sampai kita menjadi orang yang merugi karena telah mengabaikan keberkahan dan rahmat yang Allah turunkan di sepertiga malam terakhir itu. Semoga kita bisa memaksimalkan waktu yang mustajab itu dan emoga kita menjadi pribadi yang bertaqwa usai Ramadhan ini. Aamiin yaa rabbal'aalamiin 🤲.

Saturday, May 22, 2021

Insan Terkaya


Bismillaah

Siapakah manusia terkaya di dunia? Apakah Jeff Bezos, pemilik Amazon yang memiliki kekayaan sebesar US$196,4 miliar? Atau Bill Gates si raja Microsoft yang produknya telah menyebar ke seluruh dunia?

Bukan. Ternyata orang terkaya adalah seorang muslim yang mengerjakan dua rakaat salat sunnah Fajar. Karena pahala yang akan ia dapatkan adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya. Seperti sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: 

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dua raka’at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725).

Meskipun kekayaan orang sedunia dijadikan satu, tak akan bisa menyamai kekayaan pahala seorang muslim yang melaksanakan salat Fajar. Meskipun, kita tahu, tentu saja kekayaannya bukan berupa harta seperti kekayaan para miliarder dunia. Kekayaan mereka akan dibayar tunai nanti di akhirat. Namun, bukan hal yang mustahil, bila di dunia pun mereka akan mendapatkannya juga. Semua kembali kepada kehendak Sang Pemilik alam semesta. Allah 'azza wa jalla.

Apalagi di bulan Ramadan yang penuh berkah dan ampunan ini, yang pahalanya dilipatgandakan. Pahala ibadah sunnah dinaikkan seperti ibadah wajib. Pahala ibadah wajib dilipatgandakan. Betapa luar biasanya kebaikan yang akan diperoleh mereka yang melaksanakan shalat Fajar.

Betapa Maha Pemurah Allah'azza wa jalla. Ibadah yang hanya dikerjakan kurang dari lima menit, yang hanya terdiri dua rakaat, tetapi pahalanya luar biasa. Namun demikian, belum tentu kita semua bisa melaksanakannya. Kadang, rasa malas dan kantuk lebih menguasai diri, sehingga janji pahala yang begitu luar biasa diabaikan saja. Atau karena pahala itu tidak terlihat sehingga kita tidak bersegera melakukannya?

Ya, bagi kita yang terbiasa dengan sesuatu yang instan dan cepat terlihat, pahala yang sifatnya ghaib jadi kurang menarik. Coba kalau balasannya uang satu miliar. Sepertinya tidak akan ada lagi yang malas-malasan untuk mengerjakannya.


Begitu besarnya pahala salat qabliyah Subuh, apalagi salat Subuh itu sendiri. Tentu pahalanya semakin tidak terkira. Sudah seharusnya kita tidak akan melewatkannya begitu saja. Semoga Allah mudahkan kita untuk melakukan ibadah terbaik kepada-Nya. Aamiin yaa rabbal'aalamiin 🤲.



Thursday, May 20, 2021

Hakikat Berbagi

Bismillaah

Berbagi itu melegakan dan membahagiakan
Tak hanya yang menerima
Yang memberi pun merasakannya

Berbagi kebaikan tak melulu berupa harta. Ilmu dan segala yang bermanfaat bisa pula untuk berbagi. Berbagi harta akan meringankan si papa dari kekurangan. Berbagi ilmu akan mengentaskan si penerima dari ketidakmengertian. Berbagi makanan, mengenyangkan mereka yang kelaparan. Berbagi air, menghilangkan haus dan dahaga.

Harta, ilmu, makanan, minuman yang dibagi kepada orang lain, mungkin secara kasat mata seperti berkurang. Namun sejatinya, ia terus bertambah. Bertambah kebermanfaatannya, baik di dunia maupun di akhirat.


Dan, sesungguhnya, ketika kita berbagi, kita tidak sedang membantu mereka yang membutuhkan. Justru mereka lah yang telah membantu kita. Karena mereka telah bersedia menerima sedekah kita. Bayangkan, bila tak ada yang mau menerima sedekah kita. Kita tidak akan mendapatkan pahala bersedekah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ؟

"Bukankah kalian ditolong serta diberi rizki melainkan dengan sebab orang dhu'afa (lemah) diantara kalian?" (HR al-Bukhari:2896)

Berbagi telah menjadi amal ibadah yang dirindukan oleh mereka yang telah tiada. Mereka yang tidak beruntung di negeri akhirat, memimpikan kehidupan baru yang bisa memberinya kesempatan untuk berbagi.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَاَ نْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَاۤ اَخَّرْتَنِيْۤ اِلٰۤى اَجَلٍ قَرِيْبٍ ۙ فَاَ صَّدَّقَ وَاَ كُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ


"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh."

(QS. Al-Munafiqun: Ayat 10)

Di sini, di saat nyawa masih bersama raga, hendaklah membiasakan diri untuk selalu berbagi. Bagikan segala kebaikan yang kita miliki. Tak ada harta, kita bisa berbagi tenaga dan pikiran. Tak ada pula? Kita bisa berbagi dengan senyuman. Karena senyuman adalah sedekah.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ


Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“.

Sumber hadits:  https://muslim.or.id/3421-keutamaan-tersenyum-di-hadapan-seorang-muslim.html