Friday, March 4, 2022

Labuhan Cintaku

Bismillah


Hampir 22 tahun pernikahan kami. Bukan jalan yang lurus dan bebas hambatan yang kami lalui selama ini. Namun, alhamdulillaah, hingga detik ini, Allah masih izinkan kami untuk tetap bersama menempuh jalan yang tidak mudah ini. 


Berbagai fase kehidupan telah kami lalui. Dari rempongnya mengurus 5 anak yang usianya hanya terpaut 1,5 - 3 tahun, menemani mereka bermain dan belajar, juga tumbuh kembang, hingga kini saatnya mengerahkan segala daya dan upaya untuk memberikan pendidikan terbaik untuk mereka.


Waktu mereka masih kecil, berkumpul di rumah semua, keriuhan dan suasana rumah yang seperti kapal pecah, sungguh menguras tenaga dan emosi. Dan, kini baru saya sadari, semua itu tak terlalu meresahkan. Capek fisik, iya. Tapi lebih mendingan daripada capek hati dan pikiran.


Sekarang, saat mereka mulai mendewasa, fisik sudah tidak terlalu lelah mengurus mereka, namun pikiran harus tetap bekerja bagaimana mengumpulkan dana untuk pendidikan terbaik mereka. Lain masa, lain tantangannya. Apa pun itu, asal hanya kepada Allah bergantung dan bersandar, insyaaAllah solusi akan segera datang. Hanya perlu lebih menguatkan doa dan kesabaran. 



Sebagai istri, sudah menjadi kewajiban saya untuk ikut meringankan beban suami, walaupun tak banyak. Memang tidak mudah. Di rumah, kita sudah disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah tangga, ditambah dengan pekerjaan lain untuk menambah penghasilan. Saya bekerja sebagai guru di sebuah sekolah dasar swasta. Pergi pagi, pulang sore. Tak jauh beda dengan karyawan pabrik. Bahkan, saat di rumah pun, kadang masih mengerjakan pekerjaan sekolah. 


Capek. Itu yang saya rasakan. Apalagi ditambah tidak ada asisten rumah tangga. Sebelum pergi mengajar, harus berjibaku di dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal. Pulang mengajar, kembali menyelesaikan pekerjaan yang belum tuntas. Malam hari, mendampingi anak-anak belajar dan mengerjakan tugas sekolah mereka. Belum lagi harus melayani suami. Benar-benar melelahkan.


Itu yang saya rasakan, sebelum ada keikhlasan di hati ini. Dan, ketika hati tidak ikhlas, pekerjaan ringan pun terasa sangat berat. Masalah sepele, terlihat sangat besar dan rumit. Hati kesal, pikiran ruwet, badan pun letih. Dan, itu terus terjadi setiap hari. Rasanya seperti ada beban berton-ton yang menggelayuti punggung. Astaghfirullah.


Namun, bila hati bersih, ikhlas dalam menjalankan kewajiban, semua terasa menyenangkan. Tak ada kata lelah, meskipun badan lunglai. Tak ada kata ruwet, meski masalah bertubi-tubi. Pasrahkan saja semua kepada Sang Pemilik Kehidupan. 


Bagaimana bisa ikhlas? Cinta. Ya, dengan cinta yang ada di dada, kita bisa melakukan segala sesuatu dengan ikhlas. Karena kita cinta kepada suami, maka dengan langkah ringan kita melayaninya. Karena cinta kepada anak, dengan bahagia kita merawat dan membesarkannya. 


Dengan cinta pula, kita akan senantiasa berusaha membahagiakan keluarga, menjaga dan merawat keluarga kita, mendidik diri dan anak-anak agar menjadi pribadi yang shalih dan mushlih. Tidak hanya baik untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. 


Atas dasar cinta pula, kita menyembah dan taat kepada Allah. Dengan bekal itu, kita pun mencintai keluarga kita, sehingga tidak rela bila ada yang sampai terjerumus ke dalam neraka. Na'udzubillahi min dzalik.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا وَّقُوْدُهَا النَّا سُ وَا لْحِجَا رَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَا ظٌ شِدَا دٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
(QS. At-Tahrim: Ayat 6)


Maka, labuhan cinta yang paling sempurna adalah keluarga. Dengan cinta tertinggi kepada Allah 'azza wa jalla. Maka, segala rintangan dan badai yang akan mengganggu perjalanan bahtera rumah tangga, insyaaAllah akan mampu dilalui. Walaupun memang, perlu ikhtiar dan kerja keras. Tapi, berbekal cinta yang memenuhi rumah, seluruh anggota keluarga akan berjuang bersama-sama. Saling mendukung dan menguatkan. Semoga tercipta Baiti Jannantii. Rumahku surgaku. Keluargaku di dunia, keluargaku di surga. Aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻



No comments: