Thursday, June 23, 2016

Ramadanku

Bismillaah

Alhamdulillah wa syukurillah, Allah masih memberi kesempatan kepadaku untuk bertemu dengan bulan Ramadan tahun ini. Ramadan yang sejuk karena hujan sering menghampiri, menyirami hari-hari panas terasa adem. Sungguh nikmat Allah yang sangat luar biasa. Meskipun di belahan bumi lain, sebagian saudara kita mendapatkan ujian dari Allah berupa bencana banjir maupun tanah longsor. Semoga Allah berikan kekuatan, kesabaran, dan pertolongan untuk mereka. Aamiin ya robbal'alamiin.

Ramadanku selalu terasa berbeda dari tahun ke tahun. Namun semua terasa nikmat dan berkesan meski situasi dan kondisinya tak sama.

Tahun ini, Ramadanku terasa lebih istimewa. Mengapa?
Pertama, karena liburan lebih cepat datang dan lebih panjang dari tahun kemarin, jadi waktu untuk memperbanyak ibadah seharusnya menjadi lebih banyak pula. Tapi, hingga di hari ke-18 ini, targetku belum tercapai. Sedih rasanya.
"Apa saja yang kau lakukan, Nin?"
Entahlah. Sepertinya kebanyakan tidur. Hadeuh ....

Kedua, di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, Allah menggerakkan kakiku untuk bisa melangkah ke masjid melaksanakan sholat Isya dan sholat Tarawih berjamaah, bersama anak-anak. Bahagia rasanya, bisa sholat 23 rakaat bersama imam yang hafidz Quran tanpa terasa capai.

Ketiga, dengan sholat di masjid, ternyata banyak hal yang bisa kulihat dan kurasa, juga kulakukan. Kalau di rumah, paling-paling hanya anak-anak yang sedikit mengganggu kekhusyukan. Itu pun akan tidak berlangsung lama. Dengan sedikit teguran, mereka akan sholat dengan tertib lagi. Khusyu pun terjaga kembali. Tapi di masjid? Tak semudah itu, kawan. Banyak hal yang mengusik kekhusyukan, walaupun sudah kucoba untuk mengabaikannya.

Dari baru masuk masjid, ada saja beberapa gadis remaja yang masih berbincang-bincang, padahal sholat Isya sudah dimulai. Ada juga yang malah asyik dengan gadget-nya. Astaghfirullah. Di kali lain, mereka sudah terlambat sholat, tapi masih cekikikan. Begitu sholat, mereka sholat sendiri dan mengejar rokaat yang tertinggal, baru mengikuti gerakan imam. Ya Allah ... sebegitu minimnyakah pengetahuan mereka tentang sholat berjamaah? Padahal mereka sudah baligh, dan belajar di sekolah Islam? PR berat untuk para dai, ini.

Tidak hanya itu. Begitu berdiri dalam shaf, seperti terjadi di kebanyakan masjid, jamaah perempuan khususnya, berdiri berdasarkan sajadah yang mereka gunakan sebagai alas. Alhasil, jarak antara satu jamaah dengan jamaah yang lain bisa sekitar setengah meter. Renggang sekali. Kadang antara satu sajadah dengan sajadah yang lain pun tidak rapat. Semakin jauhlah jarak terbentang.

Bagaimana dengan anak-anak? Sama juga seperti di masjid lain, di sini pun anak-anak bebas berekspresi. Begitu sholat Isya sempurna dilaksanakan, anak-anak pun bertebaran seperti kupu-kupu yang baru keluar dari peraduannya. Ada yang berlari kian kemari, ada yang berloncatan dari anak tangga, ada yang sekadar bercanda atau bermain gadget, namun ada juga yang tetap tertib mengikuti sholat Tarawih. Itulah anak-anak, dunia adalah bermain dan bermain.

Luar biasa! Hikmah apa yang kudapat?

Dulu, aku pernah mendengar ceramah ustadz yang mengatakan, berdakwah di masjid itu lebih mudah karena orang-orang yang mau ke masjid, pasti hatinya lebih siap untuk menerima. Dan mereka lebih mudah berubah. Betulkah?

Ternyata tak semudah itu. Yang ku alami, lisan ini tak boleh malas apalagi berhenti mengingatkan setiap hari, bahkan setiap kesempatan. Karena memang banyak saudara kita yang belum paham dan belum mengenal Islam dengan baik, meskipun mereka suka ke masjid. Dan, tidak semua suka diingatkan. Kadang, mereka malah pergi menghindar setelah ditegur. Maka, kesempatan untuk berdakwah pun berkurang. Salah ucap, justru membuat orang antipati dengan kita. Susah - susah gampang. Tapi kita harus dan terus berdakwah meski hanya dengan satu ayat. Meski harus mendapat tatapan sinis. Meski akan dijauhi.

Ya Allah mudahkanlah kami dalam memahami dan menjalankan syariat-Mu, dan dalam mengajak saudara-saudara kami kepada kebaikan. Aamiin ya robbal'alamiin.

Thursday, June 9, 2016

Nobody's Perfect


"Fira itu orangnya detil banget, ya. Lihat saja cara berkerudungnya! Rapi dan serasi. Beda banget dengan Sinta. Meskipun sama-sama cantik, Sinta itu sembrono dan serampangan. Kalau disandingkan dengan Fira, bagai langit dan bumi," komentar teman di sampingku sambil mengamati dan memperhatikan dua gadis MC yang sedang beraksi di panggung.

Mendengar itu, aku hanya bisa tersenyum kecut, membayangkan, bila aku yang dikomentari seperti itu, duuuh sakitnya tuuuuh, luarrr biasa. Di sisi lain aku pun berpikir, mengapa temanku ini enak sekali bicara seperti itu. Seakan dirinya manusia sempurna yang tanpa cela dan cacat. Padahal, dirinya pun memiliki kekurangan yang sering membuat orang lain, terutama rekan kerjanya, merasa tidak nyaman.

Bercermin dari sebuah komentar yang terlontar tanpa rasa bersalah dan berdosa itu, diriku jadi me-muhasabah diri. Introspeksi diri, jangan-jangan, aku pun sering berbuat seperti itu. Na'udzubillaahi min dzalik. Maafkan daku ya, teman-teman, bila lisan ini kadang lebih tajam daripada silet. Astaghfirullah, ampuni hamba, ya Allah.

Setiap manusia diciptakan dengan keunikannya masing-masing. Dilengkapi dengan berbagai kelebihan dan kekurangan, yang semuanya itu ada manfaat dan hikmahnya. Jadi, kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita itu, merupakan satu paket yang tak bisa dipisahkan.

Nobody's perfect, begitu kata orang Inggris. Mudah-mudahan tidak salah. Tak ada yang sempurna kecuali Allah subhanahu wa ta'ala. Bahkan Rasulullah yang mulia pun pernah terlihat kekurangannya, meski tidak mengurangi kemuliaannya. Apalagi kita? Manusia biasa yang dalam dirinya selalu terdapat salah dan lupa.

Karena tak ada insan yang sempurna, termasuk sang komentator, jadi janganlah kita menilai dan mengomentari orang seenaknya saja.

"Lho, kalau niat kita untuk mengevaluasi dan memberi masukan, nggak salah, to?"

Nggak salah sih, tapi, yang namanya memberi masukan dan kritik membangun, seharusnya di depan yang bersangkutan, to? Bukan di belakangnya. Kalau di belakangnya, itu disebut ghibah atau ngrumpi atau menggunjing. Kalau itu yang kita lakukan, yang ada hanya menumpuk dosa, tapi tujuan tidak tercapai.

"Kok tidak tercapai?"

Yaaa, jelas tidak tercapai, karena kita ngomonginnya tidak langsung di depan objek yang kita tuju, tapi di belakangnya. Apakah dia dengar dan tahu, bahwa dia sedang dikritik dan diberi masukan? Tidak, to?

So, ini self reminder, teguran dan peringatan untuk diriku sendiri terutama, agar lebih berhati-hati dalam berbicara. Meski lidah tak bertulang, tapi kekuatannya bisa menghancurkan hubungan persaudaraan, persahabatan, bahkan pernikahan. Na'udzubillaahi min dzalik. Lebih baik sibuk menghitung kekurangan diri daripada mengawasi orang lain. Jangan sampai gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, tapi semut di seberang lautan kelihatan. Kekurangan diri tak kelihatan, tapi kekurangan dan kesalahan orang lain selalu terlihat jelas meski tanpa kaca pembesar. Masyaallah.

Thursday, June 2, 2016

Untuk Apa Bekerja?

Bismillaah

"Mbak, Adek nggak kuat. Dingiiin.... Pusiiiiing. Tolong Adek, Mbak," seru Syifa dengan berlinang air mata.

"Ya Dek, sabar ya. Ini minum obat dulu, ya, biar panasnya turun," ujar Mbak Sri sambil menyiapkan obat berupa sirup. Dengan penuh kelembutan, dibangunkannya Syifa yang lemah, dan disandarkan kepalanya pada bantal yang diletakkan dalam posisi berdiri dan disandarkan ke tembok. Setelah posisi Syifa terlihat nyaman, disiapkannya sendok berisi sirup penurun demam.

"Bismillaah," ucap Mbak Sri sambil memasukkan sendok ke dalam mulut Syifa.

"Nah, sekarang minum air bening, ya?" kata Mbak Sri.

Anak TK yang baru berusia 4 tahun itu menuruti semua instruksi Mbak Sri. Mbak yang sudah merawatnya sejak bayi. Mbak yang, meskipun bukan ibu kandungnya tetapi, menyayangi dan merawatnya dengan sepenuh tulus hati. Sedangkan mamanya? Entahlah, antara ada dan tiada. Mamanya selalu saja berada di kamar, asyik dengan gadget-nya. Papanya, karena kesibukannya, sangat jarang pulang ke rumah. Jadilah Syifa serasa hanya hidup berdua dengan mbaknya.

Kisah di atas hanya satu dari sekian banyak kisah sejenis yang terjadi di sekitar kita. Betapa banyak anak yang menjadi yatim bukan karena ayah atau ibunya meninggal dunia tapi karena orang tua mereka sibuk dengan urusan pekerjaan atau yang lainnya. Dengan dalih bekerja demi kebahagiaan anak-anaknya, mereka tidak punya waktu untuk membersamai mereka. Dengan alasan mencari nafkah untuk keluarga, mereka menelantarkan anak-anak yang diamanahkan Allah kepadanya.

Memang perih rasanya menjadi yatim. Tapi lebih pedih lagi bila ada ayah dan ibu, namun keberadaannya tak bisa dirasa.  Ada tapi tiada.

Makan dengan pembantu. Pergi sekolah dengan supir. Belajar dengan guru les. Tidur ditemani Teddy Bear.

Ada tapi tiada.
Ketika guru di sekolah ingin cross check kegiatan di rumah apakah sudah sesuai dengan yang dipelajari dan diajarkan di sekolah, sibuk menjadi alasan utama. "Kami serahkan semua kepada Bapak/Ibu Guru. Kami, kan, sudah bayar mahal," begitu jawaban yang selalu terlontar.

Duhai Ayah, Bunda, guru di sekolah hanyalah sebagai partner kita dalam mendidik putra-putri. Tugas utama tetap ada di pundak kita. Betapa pun mahalnya biaya pendidikan yang sudah kita keluarkan, bukan berarti tanggung jawab dan amanah berpindah tangan kepada guru anak-anak kita. Mereka hanya membantu sedikit. Peran yang banyak tetap harus kita, orang tua, yang memainkan.

Di sekolah anak kita belajar sholat, membaca doa di setiap awal pekerjaan mereka, belajar mengaji, menutup aurat, bicara sopan, dan berbagai adab yang lainnya. Apa jadinya bila di rumah, orang tua tidak pernah sholat, apalagi sholat berjamaah bersama putra-putrinya? Apa jadinya bila orang tua tidak pernah mengaji, tidak menutup aurat?

Memang ada, anak sholih lahir dari orang tua yang tidak atau belum sholih. Ada juga orang tua sholih tapi anaknya tidak. Itu takdir. Selama nyawa masih di kandung badan, wajib bagi kita untuk terus berikhtiar, bukan? Kalau kita ingin memiliki anak yang sholih, maka kita harus sholih dulu.

Selain amanah, anak adalah investasi kita di dunia dan akhirat. Jangan sampai kita menjadi orang tua durhaka karena menyia-nyiakan mereka. Untuk apa bekerja keras, banting tulang, kalau darah daging kita terlantar? Anak kita tidak hanya butuh materi. Kasih sayang dan peluk hangat ayah bunda lebih dia rindukan. Bermain bersama, tertawa dan bercanda dengan ayah bunda, sungguh lebih berharga dari pada gadget yang harganya jutaan rupiah.

Tuesday, May 10, 2016

Penutup Aurat

Bismillaah

Desi, bukan nama sebenarnya, baru saja merayakan kelulusan SMA- nya ketika Allah memanggilnya untuk selama-lamanya. Ada hikmah yang bisa kita jadikan pelajaran dari kepergian gadis itu.

Menurut penuturan sang ibu, Desi suka mengenakan celana panjang yang ketat. Akibatnya, terjadi infeksi pada vaginanya dan merambat ke rahim. Hal ini menimbulkan pembengkakan di perutnya, sehingga seperti perempuan yang sedang hamil. Masyaallah. Dan, itulah yang menjadi salah satu penyebab kepergiannya.

Sebagai orang yang beriman kepada takdir Allah, kita yakin bahwa hidup dan mati memang sudah digariskan oleh Allah sejak kita masih di dalam kandungan Ibunda. Namun keyakinan itu tidak menjadi penghalang kita untuk berusaha menghindari hal-hal buruk yang bisa menyebabkan penyakit, apalagi kematian. Salah satunya dalam hal berpakaian.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, sang kekasih panutan hidup, telah memberikan tuntunan yang sangat jelas dalam hal menjaga aurat. Bahwa batasan aurat laki-laki adalah dari pusar sampai lutut. Sedangkan untuk kaum perempuan, auratnya meliputi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Selain batasan tersebut, Rasulullah pun menentukan jenis pakaian seperti apa yang pantas dijadikan sebagai penutup aurat, yaitu tidak transparan, tidak ketat atau membentuk lekuk tubuh, tebal, dan warnanya tidak mencolok.

Nah, bagi muslimah yang masih belum berpakaian seperti tuntunan Rasul nan mulia itu, beliau mengisyaratkan bahwa perempuan itu tidak akan mencium bau surga. Na'udzubillaah. Mencium saja, tidak bisa, bagaimana mau masuk?

Itu dampak yang akan terjadi nanti di akhirat. Sedangkan di dunia, dampaknya seperti Desi tadi. Penyakit datang menghampiri karena memakai pakaian ketat.

Sedangkan kabar baiknya, bagi muslimah yang menjaga auratnya sesuai syariat Islam, di akhirat in sya Allah menjadi salah satu penghuni surga-Nya. Sedangkan di dunia, manfaatnya seperti tercantum dalam firman Allah ini:

يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّ    ؕ  ذٰ لِكَ اَدْنٰٓى اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ    ؕ  وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
[QS. Al-Ahzab: Ayat 59]

Agar lebih mudah dikenali bahwa mereka adalah perempuan baik-baik, sehingga tidak akan diganggu. Meskipun pada zaman sekarang ini, perempuan yang sudah berusaha menjaga izzahnya dengan berpakaian syar'i pun tidak luput dari gangguan lelaki iseng, tetapi in sya Allah lebih diminimalisir.
Selain itu, ternyata menutup aurat bisa melindungi kulit dari sinar ultraviolet yang bisa menyebabkan kanker kulit. Masyaallah.

Jadi, tak ada lagi alasan untuk menunda-nunda berpakaian syar'i, bukan? Pakaian keselamatan dunia dan akhirat.

Wallahu a'lam.

Monday, May 9, 2016

Jihad Ibu (1)

Bismillaah

Praaang!
Botol cantik berwarna ungu mirip itu jatuh berkeping-keping. Berantakan. Airnya pun tumpah ruah di lantai. Bu   Kiki yang sedang menjelaskan soal kepada Rio langsung bertindak cepat.

"Ayo teman-teman kita bereskan beling yang berserakan ini. Hati-hati, ya! Hadi, tolong ambil tong sampah untuk tempat beling. Rina, tolong ambil kain pel, ya," instruksi Bu Kiki kepada murid-muridnya.

"Siap, Bu!" seru Hadi.
"Baik, Bu," kata Rina.

"Alhamdulillah, selesai sudah. Tolong dikembalikan barang-barangnya, ya," kembali Bu Kiki memberikan instruksi kepada para siswa setelah selesai membereskan pecahan kaca dan mengepel lantai. Beliau pun berjalan menuju mejanya ingin sekadar merenggangkan perutnya yang terasa kencang. Saat itulah, "Astaghfirullah! Aduh! Perutku," kata Bu Kiki sambil memegangi perutnya yang sedang mengandung anak pertamanya. Wajahnya terlihat pucat-pasi dan badannya gemetar.

"Kenapa Bu?" tanya Bu Ani yang berjalan tergesa dari ruang sebelah. Ruang kelas mereka berada dalam satu ruangan yang hanya dipisahkan oleh lemari dan rak buku. Tak heran bila mereka bisa saling mendengar suara dari kelas tetangganya.

"Saya terpeleset, Bu," jawab Bu Kiki masih gemetar.
"Jatuh?" tanya Bu Ani dengan cemas. Siapa yang tak cemas mendengar ibu yang sedang hamil terpeleset. Sangat berbahaya, bukan?

"Alhamdulillah, tidak, Bu. Saya tadi bisa berpegangan meja ini. Cuma perut saya jadi kaku begini, ya?"

"Oo, mungkin karena kaget, Bu. Minum dulu, Bu, biar agak tenang," saran Bu Ani.

"Ya Bu, terima kasih," sahut Bu Kiki sambil meraih botol minumnya.

"Duuh, gara-gara botol minum pecah tadi, ya Bu, Ibu hampir celaka," ujar Bu Ani.
"Iya. Punya siapa, ya, botol itu?" tanya Bu Kiki.
"Mungkin punya Bu Sofi. Beliau kan, paling suka ungu, ya?" tabak Bu Ani dengan yakinnya.
"Mungkin," jawab Bu Kiki.

----------------

Sepulang dari sekolah, Bu Kiki merasa badannya semakin tak menentu. Flu yang sudah menyerang dari kemarin semakin menjadi-jadi. Perutnya pun masih terasa kencang, meskipun tak sekencang tadi saat terpeleset. Rencana memasak untuk suami tercinta ternyata belum bisa dilaksanakan. Karena badan yang tak bisa diajak kompromi, dirinya hanya bisa berbaring di ranjang.

Keesokan harinya, Bu Kiki tak kuasa bangun dan berangkat mengajar. Dirinya hanya tergolek di kasur memandangi sang suami yang bersiap-siap.

"Sudah, Dik Kiki hari ini istirahat saja, ya. Mudah-mudahan setelah istirahat cukup, besok bisa mengajar lagi," kata Pak Rudi, suami Bu Kiki.

"Tapi aku kepikiran anak-anak, Mas. Nanti mereka belajarnya bagaimana?"
"Tenang sajalah, di sekolah banyak guru yang bisa menggantikan. Pasti anak-anak tidak akan terlantar. Yang penting kamu sehat dulu. Kasihan anak kita yang di dalam perut, kalau kamu capek. Dia pasti tidak nyaman juga," bujuk Pak Rudi panjang lebar.

"Iya, deh. Tapi, nanti tolong jelaskan apa yang harus diajarkan hari ini pada Bu Ani, ya. Jangan lupa, lho!" pinta Bu Kiki setengah mengancam.

"Iya, iya. Nanti aku sampaikan. Aku berangkat dulu, ya. Jangan lupa sarapan dan minum susu, biar kamu dan bayi kita sehat," pesan Pak Rudi sambil mengecup kening istrinya.

"Ok!" sambut Bu Kiki dengan senyum paling manisnya.

Jadilah hari itu Bu Kiki istirahat total di rumah. Meski demikian, dia tak lupa dengan tugasnya sebagai guru. Profesi yang sangat dicintainya. Materi pelajaran untuk para siswanya pun telah disiapkan selama ia tidak bisa mengajar. Benar-benar guru yang bertanggung jawab.

Sunday, May 8, 2016

Datang dan Pergi

Bismillaah

Dua hari yang lalu, seorang kawan berbahagia dengan kehadiran seorang bayi lucu di tengah-tengah keluarga mereka. Bayi yang proses kelahirannya mengundang perhatian banyak orang, terutama rekan kerja sang ibu. Bayi yang dalam perjalanannya ke dunia sempat meresahkan dan memberatkan Ibunda. Namun kini semua lega karena ibu dan bayi selamat dan sehat.

Pagi ini, kabar sedih datang dari seorang kawan lama. Seorang sahabat yang sudah jarang bertemu karena kesibukan. Tapi hari ini Allah mempertemukan kami dalam suasana duka. Putri sulungnya telah dipanggil keharibaan Ilahi Robbi.

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ  ؕ  وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً   ؕ  وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.
[QS. Al-Anbiya: Ayat 35]

Hati siapa yang tak sedih kehilangan orang yang sangat dicintainya. Orang tua mana yang tak pilu melihat anak gadis yang mulai bisa diharapkan sumbangsihnya untuk keluarga malah pergi selama-lamanya.

Ya, gadis itu memang baru saja menerima surat kelulusan SMA-nya. Baru saja bersemangat mengirimkan surat lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan. Begitu indah mimpinya ingin segera bisa membantu meringankan sedikit beban orang tuanya. Tapi, ternyata Allah mempunyai rencana lain.

Yang muda, enerjik, mempunyai impian setinggi langit, justru dipanggil Allah lebih cepat. Sang ibu yang bertahun-tahun menderita sakit yang entah berapa kali datang dan pergi, mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu dipanggil oleh Yang Maha Menguasai, hingga detik ini masih bisa menghirup udara di bumi. Sungguh kematian tidak mengenal usia, tidak mengenal sehat atau sakit, tidak mengenal kaya atau miskin, tidak mengenal siapa pun atau apa pun.

Wahai diri,
Bekal apa yang telah kukemas
Sedang perjalanan abadi tak mengenal istirahat
Perjalanan abadi tak mengenal jeda

Bekal apa yang telah kukumpulkan
Sedang diri tak pernah tahu saat berangkat
Tak pernah tahu kapan ...

Wahai diri
Bersiaplah
Entah nanti, besok atau lusa
Saat itu pasti datang
Bersiaplah
Jangan buang waktu percuma

Ya Allah
Bimbinglah aku
Agar bisa menjadi penghuni surga-Mu
Mudahkan aku dalam sakaratulmaut
Jadikan aku husnul khotimah
Aamiin ya robbal'alamiin

Thursday, May 5, 2016

Istana Surga

Bismillaah

Ta'lim rutin hari ini agak berbeda seperti biasanya. Temanku, sebut saja Bu Syifa, merasa tersindir dengan materi yang baru saja disampaikan oleh guru kami. Bu Syifa ini seorang yang ekstrovert. Makanya, ketika ada sesuatu yang mengganjal hatinya, langsung diungkapkannya. Begitu pula hari ini.

Setelah materi selesai, dan diberi kesempatan bicara, maka beliau pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Berkaitan dengan ketidakaktifannya dalam organisasi yang memayungi jamaah ini, beliau utarakan beberapa penyebabnya. Salah satunya, karena beliau merasa tidak memiliki kompeten apa pun. Kalau bahasa anak muda sekarang: "Aku mah, apa atuh." Merasa diri rendah tak berharga di mata orang lain, serasa diri tak berguna, dan seperti orang yang paling hina sedunia. Na'udzubillaah min dzalik.

Ternyata teman sekaligus saudaraku seiman dan seislam ini sensitif sekali. Padahal, dia ekstrovert, ya. Mengapa dia sampai kehilangan harga diri begitu?

"Waktu saya mau ikut membantu di rumah baca yang dimiliki kecamatan, salah seorang pengurusnya bertanya ke saya," kata Bu Syifa memulai ceritanya. "Memangnya, basic Bu Syifa apa? Yang dibutuhkan rumah baca ini adalah mereka yang sudah bergelar S-1," kata pengurus itu," lanjut Bu Syifa.

"Lalu, ibu jawab apa? Bukankah ibu juga sudah S-1?" tanyaku menyela ceritanya.
"Saya cuma ber-oo, dan saya langsung pamit pulang. Padahal saya datang ke rumah baca itu atas rekomendasi seorang ustadzah yang sudah kenal baik dengan pengurus tersebut. Saat itu saya merasa, ternyata saya ini tidak berguna dan tidak ada nilainya sama sekali," ujar Bu Syifa sedikit emosi.

Sejak itu Bu Syifa memutuskan untuk tidak terlalu aktif berorganisasi. Dia merasa nggak pe-de, dan ... sakit hati, tentunya. Dan, sampai saat ini, setelah sekian tahun berlalu, ternyata luka itu belum kering.

Malam, bada magrib, aku sempatkan baca buku Salim A. Fillah yang selalu tertunda untuk dituntaskan. Seperti cerita bersambung, ternyata bab yang kubaca, masih ada hubungannya dengan curhatan Bu Syifa di acara ta'lim tadi. Tentang sakit hati.

Pada bab Atap Penaung Islam dalam buku Lapis-lapis Keberkahan, dikisahkan tentang Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang tersenyum karena diperlihatkan kepada beliau suatu adegan. Adegan tentang dua orang yang bersengketa di hadapan Allah. Sang penggugat memohon keadilan kepada Allah karena sewaktu di dunia telah dizholimi oleh saudaranya, sang tergugat.

Ketika itulah Allah perlihatkan sebuah istana yang sangat indah. Kemudian Allah berfirman, "Istana ini akan menjadi milik siapa pun yang mampu membayar harganya."

"Berapakah harganya, ya Rabbi? Dengan apakah orang yang menginginkan akan menebusnya?" tanya si penggugat dengan menggebu.

Allah berfirman, "Adalah dirimu mampu membayar harganya. Jika kau memaafkan saudaramu itu, niscaya istana ini akan menjadi milikmu."

Masyaallah. Ternyata hanya dengan memaafkan kesalahan saudara kita, Allah telah menyediakan sebuah istana di surga yang sangat indah. Siapakah gerangan yang tak Sudi memilikinya? Namun, banyak di antara kita yang lebih memilih menyimpan dendam dan sakit hati, karena ketidaktahuannya. Termasuk si penulis ini. Astaghfirullah. Ampuni aku ya Allah.

وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ اِخْوَانًا عَلٰى  سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِيْنَ

Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.
[QS. Al-Hijr: Ayat 47]

Sa'id bin Jubair menuturkan dari Abu Umamah Radhiyallahu Anhu, "Seorang mukmin baru akan masuk surga setelah Allah lenyapkan segala rasa tak nyaman, terluka, sesak, sempit, dengki, dan dendam kepada saudaranya."

Ya Rabbi,
Surgamu sungguh kuharap
Namun rasa-rasa itu masih bersemayam di hati yang dhoif ini
Ampuni hamba ya Rabb
Bersihkanlah hati ini
Izinkanlah aku menjadi penghuni surga-Mu
Agar bisa kupandang kemuliaan dan keperkasaan-Mu
Agar bisa tersampaikan rinduku pada Rasul tercinta
Betapa aku ingin bersamanya di
Jannah-Mu
Allahumma aamiin