Friday, December 20, 2019

Bangga Sekaligus Malu



Bismillaah


Berada dalam sebuah komunitas yang sesuai dengan passion kita dan memberikan banyak manfaat untuk kita, adalah sebuah anugerah terindah dari Allah. Bersyukur karena hingga detik ini,  Allah selalu mengizinkanku untuk berada di sana. Salah satu komunitas yang sangat bermanfaat bagiku adalah komunitas literasi One Day One Post (ODOP).


Menjadi bagian dari ODOP merupakan kebanggaan tersendiri bagiku. Di sana banyak teman yang sangat luar biasa. Mereka adalah orang-orang hebat yang kehebatannya tidak ingin dinikmati sendiri. Mereka sangat suka berbagi, sangat ingin teman yang lain pun bisa mengikuti kehebatannya, sangat ingin teman yang lain pun merasakan kesuksesan. Mereka juga saling memotivasi dan menginspirasi.


Di sisi lain, aku merasa malu. Malu karena aku belum bisa seperti mereka. Malu karena aku belum bisa menulis setiap hari, padahal aku berada dalam komunitas One Day One Post! Malu karena aku belum bisa menyumbangkan apa pun untuk komunitas dan juga teman-teman di sana. Malu karena aku hanya bisa menerima, tapi tak bisa memberi. Malu ....

Aku hanya bisa berdoa, semoga Allah membalas semua kebaikan teman-teman di sana dengan kebaikan yang jauh lebih baik. Semoga One Day One Post semakin berkembang dan semakin banyak memberikan manfaat untuk generasi muda Indonesia, khususnya dalam bidang literasi. Aamiin ya rabbal'aalamiin.
Jazakumullahu khairan katsira teman-teman. Hanya Allah sebaik-baik pemberi balasan.

Monday, October 28, 2019

Ah Tenane-ku


Bismillaah


Ah Tenane adalah salah satu rubrik yang ada di koran Solopos. Rubrik ini berisi tentang cerita-cerita lucu dengan tokoh Jon Koplo, Tom Gembus, Lady Cempluk, dan Genduk Nicole. Bila kita mengirim cerita lucu yang kita alami, maka nama tokohnya harus diganti dengan nama-nama tersebut di atas.



Alhamdulillah, beberapa tulisan saya bisa tembus rubrik ini. berikut ini beberapa tulisan saya.

1. Pilihan Sang Cucu

Pagi itu, 17 April 2019, Lady Cempluk sudah berdandan rapi, layaknya kalau mau pergi kondangan. Cucunya, Tom Gembus, yang sudah didandani dengan rapi pula bertanya, “Kita mau ke mana Mbah? Kondangan, ya?”  
“Iya, kita mau kondangan Pemilu,” jawab Lady Cempluk sambil tersenyum. Cucunya yang satu itu selalu bersemangat bila dengar kata “kondangan”. Dalam pikiran anak kecil itu, kondangan berarti makan-makan, banyak kue, dan es krim.



Dengan semangat, Tom Gembus berjalan tegap di samping neneknya. Sesampainya di TPS, Tom Gembus celingukan. “Ini kondangannya, Mbah? Kok … nggak ada pengantinnya? Nggak ada makanan juga?”
“Le, ini namanya kondangan Pemilu. Kita ke sini mau nyoblos,” kata Lady Cempluk sambil menunjuk gambar calon presiden dan calon legislatif yang terpampang di samping pintu masuk TPS.
“Ooo … kita mau nyoblos presiden, ya Mbah?” Tanya Tom Gembus sambil manggut-manggut.
“Iyo, Le. Kita duduk situ dulu, yuk, sambil nunggu dipanggil,” ajak Lady Cempluk.
“Lady Cempluk!” terdengar suara panitia KPPS memanggil namanya. Sambil menggandeng cucunya, Lady Cempluk berjalan ke bilik suara. Pertama, ia buka kertas suara untuk memilih presiden. Sejak tadi malam ia sudah bertekad untuk mencoblos presiden pujaan hatinya. Ia sudah memantapkan hati dengan pilihan itu.



Namun saat tangannya yang memegang paku siap mencoblos capres pilihannya, Tom Gembus berteriak, “Jangan yang itu, Mbah! Yang ini aja,” teriaknya sambil menunjuk gambar capres satunya.
“Yang ini aja, Le. Simbah suka sama yang ini,” bujuk Lady Cempluk pada cucunya.
“Nggak mau! Aku maunya yang ini!” seru Tom Gembus dengan nada serak hendak menangis. Kebiasaannya bila tidak dituruti kemauannya, ia akan mengeluarkan jurus andalannya. Menangis.
“Waduh, piye iki?” batin Lady Cempluk bingung. Terus-terang ia tak mau hanya gara-gara itu cucunya menangis. Repot, nanti. Ya sudah. Mau tak mau, demi sang cucu, Lady Cempluk mencoblos gambar presiden pilihan Tom Gembus, bukan pilihan hati nuraninya. Demi nyenengin cucu.


(Untuk tulisan ini, redaksi Solopos mengadakan perubahan sedikit dari naskah asli saya.)



2. Kirain Gula, Ternyata ...


Hari Raya Idul Fitri selalu disambut dengan suka cita oleh seluruh umat Islam di dunia. Begitu pun di keluarga Lady Cempluk. Mereka sangat bersemangat dalam menyambut Lebaran. Tidak hanya menyiapkan baju baru, mereka pun menyiapkan hidangan untuk disajikan kepada para tamu yang akan mengunjungi rumah mereka. Salah satu menu yang mereka persiapkan saat bulan Ramadan adalah kue kastangel. Kue kering yang rasanya asin karena memang bahan utamanya adalah keju ini, merupakan salah satu kue favorit keluarga mereka.



Lady Cempluk dibantu oleh Genduk Nicole, putri semata wayangnya, tampak asyik mencampur adonan. Satu demi satu bahan kue dicampur dan diaduk menggunakan mixer. “Tambahkan gulanya, Nduk!” perintah Lady Cempluk kepada Genduk  Nicole.
“Yang ini, Bu?” tanya Genduk Nicole memastikan, karena kalau salah bisa berabe.
“Iya,” jawab ibunya sambil terus mengaduk.



Setelah proses membuat adonan dan mencetak kue selesai, dipangganglah kue itu selama beberapa menit. Setelah matang, mereka tidak langsung mencicipi karena sedang puasa.
Pada sore harinya, saat berbuka puasa, Genduk Cempluk penasaran ingin mencicipi kue yang telah dibuatnya.
“Hah! Asin banget!” serunya sambil meringis keasinan.
“Masak, sih? Kok bisa?” kata Lady Cempluk sambil mengigit kastangel yang telah mereka buat tadi pagi. “Iya, asin banget! “Kenapa, ya, Nduk? Perasaan tadi resepnya sudah benar ya? Bahan-bahannya juga sudah tepat sesuai takaran.”
“Sebentar, Bu,” seru Genduk Nicole sambil berlari ke dapur. Tak berapa lama, ia muncul sambil membawa sekantong plastik berisi gula. “Tadi, Ibu nyuruh saya masukin gula ini, kan?”
“Iya. Terus kenapa? Ada yang salah?” tanya Lady Cempluk kebingungan.
“Ternyata ini garam, Bu,” seru Genduk Nicole sambil menjilat benda yang dikira gula itu.
“Astaghfirullah ... oalaaah. Lha kok lembutnya sama seperti gula, ya? Aduh, nggak jadi makan kastengel deh. Lha wong uasine koyo ngene.”





3. Emang Nggak Dikunci?


            Malam itu  malam Minggu, rumah Tom Gembus anak Pak RT 12, ramai dengan anak-anak muda yang menghabiskan malam dengan ngobrol atau main catur. Malam itu mereka begadang sampai larut. Karena kelelahan, setelah teman-temannya pulang, Tom Gembus langsung terkapar di lantai dapur. Terlelap.


            Menjelang subuh. “To, bangun, To! Tidur kok di dapur, kamu itu! Bangun! Tivinya hilang! Kipas angin juga!” teriak Bu RT membuat Tom Gembus kaget dan terbangun.
            Waduh, kita kemalingan! Maling! Maling!” teriak Tom Gembus heboh.
Ngapain kamu teriak-teriak begitu? Malingnya udah pergi dari tadi. Mendingan kamu lapor  ke Pak RT sana!” perintah Bu RT.
“Lha, Pak RT-nya kan, Bapak? Bapak kan, sedang keluar kota, Bu,” jawab Tom Gembus sambil menahan tawa.
“Oh iya, ya. Kalo gitu, lapor ke Pak RW!”
            Tom Gembus pun pergi ke rumah Pak RW.


“Assalamu’alaikum Pak RW! Rumah saya kemalingan, Pak!” teriak Tom Gembus dari depan rumah Pak RW.
“Siapa itu?” Tanya sebuah suara laki-laki dari dalam rumah. Suaranya yang serak menandakan kalau si empunya baru bangun tidur.
 “Tom Gembus, Pak!” jawab Tom Gembus masih dengan berteriak. Terlihat pintu dibuka dan keluarlah seorang laki-laki.
“Tom Gembus-nya Pak RT?”
“Iya Pak. Rumah saya kemalingan, Pak,” jelas Tom Gembus kepada laki-laki tersebut yang ternyata Pak RW.
“Kok bisa? Emang nggak dikunci?” Tanya Pak RW lagi.
“Dikunci, Pak.”
“Ayo, kita ke rumahmu,” ajak Pak RW.


            Sesampai di rumah, Tom Gembus dan ibunya menjelaskan barang apa saja yang dicuri. Belum selesai mereka bicara, tiba-tiba Jon Koplo, anak Pak RW datang. “Pak, disuruh pulang sama Ibu!” kata Jon Koplo.
“Kenapa? Bapak kan lagi ngurusin rumah Pak RT yang kemalingan,” gusar Pak RW dengan permintaan anaknya.
“Kata Ibu, ngapain ngurusin rumah orang. Rumah sendiri aja kemalingan,” lanjut Jon Koplo.
“Hah? Rumah kita kemalingan juga?” seru Pak RW tak percaya. Pak RW pun bergegas ambil langkah seribu, meninggalkan Tom Gembus dan ibunya yang terbengong-bengong. Pak RW kemalingan juga? Aneh, kenapa para pejabat kampung mereka yang kemalingan dalam waktu bersamaan?


            Siangnya, selesai salat Dzuhur di musala, Tom Gembus melihat Pak RW berjalan keluar musala sendirian. “Pak RW kemalingan juga?” Tanya Tom Gembus basa-basi.
“Iya,” jawab Pak RW pendek. Rupanya beliau masih pusing dan tak habis pikir. Dalam waktu bersamaan, dua rumah kecurian, dan sama-sama pejabat di lingkungan tempat tinggal mereka. “Emang nggak dikunci?” Tanya Tom Gembus lagi yang langsung dibalas oleh Pak RW dengan tonjokan pelan di kepalanya. “Satu sama!” teriak Tom Gembus sambil lari menjauh, takut ditonjok lagi oleh Pak RW.


            Melihat Tom Gembus lari menjauh, Pak RW hanya geleng-geleng kepala. Dasar anak zaman now.

Saturday, October 26, 2019

Terjadi Sungguh-Sungguhku




Bismillaah


Alhamdulillaah, keputusanku untuk bergabung di OTM; ODOP Tembus Media membuahkan hasil. Salah tiganya adalah artikel Tejadi Sungguh-Sungguh yang dimuat di Koran Merapi, Yogyakarta. Sayangnya, aku tidak tahu kapan tanggal dimuatnya karena memang tidak berlangganan. Tiba-tiba saja ada wesel datang ke rumah. Selamat menikmati.


1.

Teman saya, sebut saja namanya Syahrini,  perempuan asli Betawi yang menikah dengan seorang lelaki dari Cilacap, Jawa Tengah. Saat pertama kali pulang lebaran ke Cilacap, Syahrini sempat dibuat malu karena ketidaktahuannya. Selesai salat Idul Fitri, biasanya para kerabat dan tetangga saling bersalaman sambil mengucapkan “Sugeng Riyadi”. Nah, saat Syahrini diajak bersalaman dan mereka mengucapkan “Sugeng Riyadi”, ia tidak menjawab dengan kalimat yang sama, tapi malah menyebutkan namanya “Syahrini”.  Sugeng riyadi ...  Syahrini. Sugeng riyadi ... Syahrini.




2.

Di Boyolali, ada sebuah warung nasi goreng yang menggunakan arang sebagai bahan bakar untuk menggoreng nasinya. Alhasil, waktu yang digunakan untuk memasak lebih lama daripada menggunakan kompor gas. Mungkin berkaitan dengan lamanya pelanggan menunggu nasi gorengnya matang, warung itu bernama “Sabar Menanti”.  Dan memang benar. Saat saya mampir ke warung tersebut, saya harus sabar menanti nasi goreng saya siap. Padahal perut sudah minta segera diisi.




3.

Kita biasa menjumpai seseorang yang jijik dengan sesuatu, misalnya kecoa, cacing, atau ulat. Ada juga teman saya yang merasa jijik bila melihat karet gelang atau peniti. Reaksi dari rasa jijik itu bermacam-macam. Ada yang hanya merasa merinding, pusing, atau mual. Orang yang biasa jijik dengan hal-hal tertentu tersebut biasanya dari kalangan perempuan. Tapi ternyata laki-laki juga ada, meski sangat jarang. Suami teman saya, merasa sangat jijik bila melihat kancing yang belum terpasang di pakaian. Karena begitu jijiknya melihat kancing, dia tidak hanya merinding, tetapi  juga sampai muntah-muntah.

Sunday, September 8, 2019

Stretching

Bismillaah

Kurang lebih sudah dua bulan ini saya menempati kelas baru di lantai 3. Wah, terasa sekali perjuangan saya untuk mencapai lantai 3. Belum lagi kalau harus mengajar di lantai bawahnya. Dalam sehari minimal 3 kali saya naik turun ke lantai 3. Mengingat usia yang tidak muda lagi, badan sungguh luar biasa rasanya. Setiap pulang ke rumah, pegal-pegal semua badan. Kalau biasanya badan akan terasa fresh kembali setelah tidur malam, ini malah terasa semakin pegal dan linu. Padahal pagi harinya akan melakukan aktivitas yang sama seperti kemarin. Alhasil, kelelahan dan kepenatan semakin menumpuk.

Kalau dengan tidur saja tidak bisa menghilangkan rasa pegal dan linu, lalu apa yang harus saya lakukan?
Iseng-iseng, saya melakukan peregangan seperti mau berolahraga. Tapi itu hanya sekali saya lakukan. Dan, pegal-linu itu masih setia di tubuh saya. Saya tidak bisa membiarkan keadaan ini karena saya akan naik turun tangga setiap hari. Saya tidak boleh kalah dengan rasa pegal-linu ini.

Saya terus berpikir untuk mencari solusi. Saya juga tidak malu bertanya kepada teman-teman. Salah satunya Bu Ida. Salah duanya, Bu Lita. Mengapa saya bertanya kepada mereka berdua? Karena mereka mantan atlet bela diri, jadi pasti pernah merasakan apa yang sedang saya alami saat ini.

Solusi yang diberikan Bu Ida, saya harus melakukan stretching. Stretching? Saya pernah mendengar kata ini. Tetapi saya belum tahu pasti apa artinya. Ternyata, menurut penjelasan Bu Ida, stretching itu seperti pemanasan yang kita lakukan kalau mau berolahraga atau berenang. Tujuannya agar badan tidak terasa kaku dan terhindar dari kram saat olahraga atau renang. Ternyata stretching ini berguna juga untuk mengurangi bahkan menghilangkan pegal-pegal. Sedangkan menurut Bu Lita, saya harus melakukan sit-up. Tujuannya sama, agar badan tidak terasa kaku dan peredaran darah lancar.


Sampai di rumah saya langsung mempraktikkan saran Bu Ida. Saya duduk di lantai dengan kedua kaki lurus ke depan. Saya bungkukkan badan sembari kedua tangan memegang kedua ibu jari kaki. Otot punggung dan otot kaki terasa ditarik. Memang sedikit sakit, tetapi saya tahan. Setelah beberapa saat, saya lanjutkan dengan membungkuk-bungkukkan badan berusaha menyentuh lutut. Rasanya semakin sakit. Setelah itu, badan terasa lebih nyaman, otot-otot tidak kaku lagi. Keesokan harinya, alhamdulilah wa syukurillah, rasa pegal-linu mulai berkurang. Badan terasa lebih segar. Terima kasih Bu Ida. Jazakillahu  khairan katsira. Untuk saran Bu Lita belum saya praktikkan karena perlu bantuan orang lain. Semoga lain kali bisa terlaksana karena bagus juga untuk mengurangi lemak perut.


#setetes ilmu berjuta makna
#gurukehidupanku



Wednesday, April 24, 2019

Indahnya Kebersamaan



Bismillaah


Hari ini adalah hari terakhir USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) tingkat SD. Di saat siswa-siswi kami sedang berkutat dengan soal-soal IPA, kami, para guru pun sibuk dengan aktivitas masak-masak. Ya, hari ini seluruh guru dan karyawan Al Hidayah Islamic School bahu-membahu menyiapkan makan siang sendiri. Biasanya kami tinggal pesan, maka makan siang sudah diantar ke sekolah dan siap disantap. Kalau pun ada masak-masak, biasanya yang memasak dan repot di dapur adalah karyawan pantry. Kami tinggal menikmatinya saja.

Kesibukan memasak dimulai bertepatan setelah para siswa masuk ke ruang ujian. Dari OB (office boy) dan security hingga kepala sekolah, tak ada bedanya. Semua mendapatkan tugas. Ibu-ibu menyiapkan nasi liwet, tahu-tempe goreng, bakwan, sayur urab, dan lalapan. Tak ketinggalan tentunya, sambal terasi dan dabu-dabu pelengkap ikan bakar. Sementara bapak-bapak membakar ikan dan ayam. Karena dikerjakan bersama-sama, suasana menjadi seru dan tidak terasa lelah.

                    Sambal dabu-dabu

Ada menu baru yang masih asing di telinga saya yaitu sambal dabu-dabu. Konon sambal ini merupakan salah satu makanan khas daerah Makasar. Sambal ini sebagai pelengkap ikan bakar. Maka menu makanannya disebut ikan dabu-dabu. Cara membuat sambal ini cukup sederhana, nggak pakai ribet. Bahan-bahan yang diperlukan adalah cabe rawit, cabe merah keriting, tomat hijau, tomat merah, bawang merah, jeruk nipis, dan minyak goreng. Bahan-bahan selain jeruk nipis dan minyak goreng dipotong dadu, kira-kira seukuran 1 cm. Lalu diberi perasan air jeruk secukupnya. Setelah itu disiram dengan minyak goreng yang sudah dipanaskan. Jangan lupa untuk menggunakan wadah anti panas seperti panci alumunium atau mangkuk, agar wadah tidak meleleh terkena minyak panas. Nah, sambal dabu-dabu siap disajikan dengan ikan bawal bakar. Mmm ... Yummy!

Menjelang Zuhur, makanan pun siap disantap bersama-sama. Biar lebih terasa kebersamaan dan kekeluargaannya, makanan disajikan di atas daun pisang yang masih lengkap dengan pelepahnya, dan digelar di lantai. Sungguh nikmat. Lelahnya memasak terbayar lunas dengan nikmatnya makanan hasil kebersamaan. Menghabiskannya pun dengan kebersamaan, bahu-membahu dengan teman di samping dan di depan, untuk menghabiskan makanan yang telah tersaji. Tak ada yang boleh tersisa, karena itu berarti  mubadzir. Dan mubadzir adalah perbuatan setan.






Tuesday, April 9, 2019

Politik???

Bismillaah

Pemilu tinggal beberapa hari lagi. Suhu politik di negeri ini rasanya kian hari kian panas. Di setiap sisi jalan pun kian riuh dengan poster para caleg (calon anggota legislatif) dari berbagai partai maupun capres ( calon presiden) dan cawapres (calon wakil presiden). Meriah. Pesta demokrasi disambut dengan gempita (sepertinya) oleh seluruh lapisan masyarakat.

Umat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia, tentu menjadi faktor penentu dari Pemilu. Kemana mereka menyalurkan aspirasinya, tentu sangat mempengaruhi perolehan hasil suara partai maupun caleg dan capres-cawapres.

Kita tentunya pernah akrab dengan slogan "Islam Yes, Politik No". Slogan ini sangat berpengaruh terhadap sikap politik umat Islam. Karena menganggap politik itu kotor, banyak yang memilih golput alias tidak menyalurkan hak suaranya. Hasilnya bisa dilihat, banyak parpol Islam yang mendapatkan perolehan suara yang sangat sedikit.

Namun, akhir-akhir ini, slogan itu semakin ditinggalkan karena umat telah sadar betapa pentingnya kita melek politik. Hal ini diawali dengan adanya Pilkada DKI yang telah menyadarkan umat Islam bahwa mereka tidak boleh golput dan harus menggunakan hak suara mereka.

Hal tersebut diperkuat, awalnya, dari gerakan 212, di sana, perwakilan umat dari seluruh Indonesia bersatu. Dan kini, masyarakat semakin mengerti dan paham betapa politik itu penting. Karena hajat hidup kita pun secara tidak langsung ditentukan oleh para penentu kebijakan yang lahir dari pesta demokrasi. Dan itu artinya, lahir dari aspek politik.

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan berdialog dengan seorang anggota legislatif perempuan dari DPRD II Kabupaten Bekasi. Namanya tak usah disebutkan ya, nanti dikira kampanye, lagi. ^^

Jadi kata beliau, ada beberapa poin mengapa kita harus terjun ke politik.
Pertama, tentu saja karena Islam itu agama yang bersifat syumuliyah, menyeluruh. Maksudnya, Islam mengatur seluruh aspek kehidupan kita, baik yang pribadi maupun yang bersama-sama. Di dalam Islam tidak ada pemisahan antara agama dengan politik. Di mana pun kita, identitas dan syariat Islam tetap harus disematkan. Jangan ketika di masjid Islam, saat di gedung DPR/MPR netral, atau bahkan menanggalkan keislamannya. Na'udzubillahi min dzalik.


Kedua, dengan terjun ke ranah politik, berarti kita ikut berperan dalam menentukan kebijakan di negeri yang mayoritas muslim ini. Jangan sampai kita yang mayoritas malah diatur dan dipaksa tunduk kepada yang minoritas. Kalau kebijakannya positif dan baik sih, tidak masalah. Tapi kalau sampai membelenggu, bagaimana?

Dengan adanya umat Islam di parlemen, diharapkan bisa mewujudkan aturan yang sesuai dengan syariat Islam agar negeri kita menjadi negeri yang baldatun thoyyibun wa robbun ghofur. Negeri yang baik (aman, tentram, sejahtera) dan senantiasa mendapatkan ampunan Allah. Apakah dengan aturan seperti itu, tidak mengancam warga minoritas? InsyaaAllah tidak. Sudah terbukti dari masa ke masa bila Islam memimpin, tak ada warga minoritas yang dirugikan. Karena Islam adalah agama rahmatan lil 'aalamiin. Rahmat bagi seluruh semesta.


Ada pengalaman menarik dari ibu anggota dewan tersebut saat ikut bergabung menjadi Pansus untuk mengesahkan RUU Pariwisata di Kabupaten Bekasi pada tahun 2015. Saat itu hampir seluruh anggota Pansus setuju dengan adanya night club, diskotik dan sejenisnya untuk melengkapi bidang pariwisata, hanya saja keberadaannya diatur oleh Undang-Undang. Tetapi dua orang perempuan di Pansus tersebut tidak setuju. Alasannya, pariwisata masih bisa memberikan income yang besar meski tidak ada fasilitas semacam diskotik itu. Mereka berprinsip bahwa dunia pariwisata harus memiliki slogan "No Sex, No Drugs, No Alcohol" agar keberkahan tetap menjadi milik masyarakat. Dengan segala perjuangan yang tidak mudah, dari berdebat dengan berurai air mata hingga meminta bantuan para ulama, akhirnya apa yang mereka perjuangan membuahkan hasil. Bayangkan bila tidak ada anggota dewan yang mau berkomitmen memperjuangkan hal-hal seperti itu. Entah apa jadinya kita, entah apa jadinya generasi muda kita, entah apa jadinya negara kita.


So, mari salurkan hak pilih kita. Pilihan kita menentukan masa depan kita. Jangan golput ya.




Thursday, April 4, 2019

Mie Sehat Ala Emak-Emak

Bismillaah

Apa sih yang disukai Emak-emak? Apa hayo? Kalau di tempat saya, emak-emak paling suka ngobrol sambil ngemil. Ngobrolnya di bawah pohon seri yang rindang, sambil ngerujak. Mantap dah! Tapi saya hampir tidak pernah bisa nimbrung. Lha, saya kerja dari pagi dan sampai rumah sudah sore. Mana sempat ngobrol ngalor-ngidul, ngetan ngulon.

Tapi, alhamdulillah, Ahad kemarin saya berkesempatan nimbrung di perkumpulan emak-emak. Sambil ngobrol, tidak ngalor-ngidul, apalagi ngetan-ngulon, kami praktik membuat mie sehat. Jarang-jarang lho, kita belajar masak seperti ini. Makanya, ngobrolnya pun tidak di bawah pohon seri, tapi di bawah atap rumah, alias di dalam rumah. Sambil membicarakan ini-itu, dari masalah anak-anak sampai masalah pemilu, (emak-emak juga doyan gosipin pemilu, yak) matang juga tuh, mie ala-ala.

Mau tahu nggak, cara membuatnya? Mau aja, ya.
Begini ya:
Pertama kita siapkan bahan-bahannya, yaitu
0,25 kg terigu,
2 sdm tepung sagu
garam sejumput,
2 sdm minyak goreng 
air secukupnya.
Kalau ingin membuat mie yang bisa mengembang seperti spaghetti, tinggal ditambahi telur 1 butir. Kalau ingin mienya berwarna, bisa menggunakan buah naga, wortel, atau bayam yang sudah diblender dan disaring.

Kedua, siapkan peralatannya seperti baskom dan alat pembuat mie. Kalau tidak punya alatnya, bisa kok diiris-iris menggunakan pisau. Kebayang kan, betapa sabarnya emak ini, mengiris-iris adonan segitu banyaknya.

Ketiga, bahan-bahan yang sudah disiapkan tadi, dicampur jadi satu di dalam baskom, kecuali air. Setelah diaduk, masukkan air ke adonan sedikit-sedikit saja, supaya adonan tidak lembek. Setelah kalis, bagi menjadi beberapa bagian, gulung di cetakan mie di bagian depan, untuk ditipiskan, seperti lembaran-lembaran begitu. Satu adonan tadi bisa beberapa kali cetak. Oya, sebelum dimasukkan cetakan mie, adonan ditaburi terigu supaya tidak lengket. Setelah tipis, masukkan ke cetakan mie yang ada di bagian belakang. Jadi deh, mienya. Tinggal direbus.

Keempat, kita siapkan sajian pelengkap mie. Nggak mungkin, kan, kita makan mie saja tanpa ditemani yang lainnya?
Apa saja temannya?
Ini bahan-bahannya:

Bumbu halus:
Bawang putih, kemiri, ketumbar, lada, jahe, kunyit

Bumbu geprek:laos dan sereh
Supaya wangi, perbanyak salam dan daun jeruk. Begitu kata chef-nya.
Tidak ada takaran, kata chef-nya kira-kira saja.

Bumbu tumis:
Kayu manis, kapulaga dan cengkeh sedikit saja. Bumbu rempah
ditumis dengan minyak yang banyak, kalau sudah wangi dan berubah kecoklatan, saring minyaknya. Ini untuk campuran mienya.
Masukkan ayam cincang ke dalam tumisan bumbu,  aduk-aduk sambil  diberi air, kecap, penyedap (yang sehat ya, Bun), gula pasir, garam secukupnya.
Koreksi rasa, lalu  diamkan sampai matang, sekitar 45 menit kalau pakai ceker.

Cara penyajian:
Kecap asin+minyak dituang sedikit (sesuai selera)  ke dalam mangkok, beri bumbu kuah ayam sedikit, lalu aduk. Setelah mie dan sawi direbus, tiriskan, lalu masukkan ke mangkok,  campur semuanya.

Tambahkan toping seperti daun bawang dan bawang goreng. Jangan lupa ayamnya. Alhamdulillah, sudah siap disantap. Selamat menikmati!