Wednesday, February 27, 2019

Outbond di Cikole



Bismillaah



Sabtu, 23 Februari 2019 yang lalu, sekolah kami mengadakan study tour ke Terminal Wisata Grafika, Cikole, Bandung. Lebih dari 3 jam perjalanan yang kami tempuh. Ditemani macet yang selalu setia menyertai, ke mana pun kita pergi. Disuguhi pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Di kanan kiri jalan antara Subang - Cikole, hamparan kebun teh seperti permadani tebal yang mengundang untuk singgah dan membaringkan raga di sana. Masyaa Allah, sungguh indah ciptaan-Mu. Berangkat dengan jalan yang hampir menanjak terus, disertai tikungan-tikungan tajam, membuat bibir tak henti menyebut asma-Nya; antara ngeri dan takjub.


Tiba di lokasi, kami langsung menuju area berkumpul untuk ice breaking. Untuk mencapai tempat tersebut, kami harus menaiki tangga-tangga kecil yang lumayan banyak dan tinggi. Kalau tadi di perjalanan, bus kami yang berjuang keras agar bisa menanjak, di sini kamilah yang harus berjuang keras untuk mendaki bukit. Anak-anak pun mulai bertanya, "Tangganya ada berapa banyak, sih, Bu? Sepertinya nggak habis-habis?"


Hanya helaan nafas yang bisa mengungkapkan jawaban. Sebagai guru yang sudah lumayan berumur, medan kali ini cukup terasa berat. Bismillaah, semoga kuat.



Sampai di atas, kami seperti berada di hutan pinus. Ada tanah yang lumayan lapang, yang dikelilingi pohon pinus. Udara sejuk cenderung dingin. Apalagi bila angin bertiup, brr ... Terasa sekali hawa pegunungannya.


Setelah ice breaking, kami mulai berpencar. Ikhwan berpetualang dengan wahana ketinggian seperti flying fox, two line bridge, dan turun tebing. Sementara akhwat mengawali kegiatan dengan edukasi cara menanam stroberi. Perjalanan menuju kebun stroberi cukup panjang dan melelahkan. Awalnya kami menuruni bukit. Turun, turun, tak terasa kami hampir meluncur kalau tidak pakem remnya. Kemudian naik lagi melalui tangga-tangga yang hanya muat untuk dua orang.



Saya sendiri baru tahu, ternyata menanam stroberi tidak boleh di tengah-tengah pot, layaknya kita menanam pohon pada umumnya. Tanaman stroberi harus ditanam di pinggir pot agar ketika berbuah, buahnya bisa bergelantungan di pinggir pot agar tidak busuk. Saat itu para siswa praktik menanam stroberi dari bibitnya, bukan bijinya. Jadi sudah lumayan besar. 

Setelah belajar menanam stroberi, anak-anak diberi beberapa potong wortel dan sayur hijau, entah apa namanya. Lho, untuk apa?
Oo ... Ternyata mereka akan memberi makan rusa dan domba-domba lucu seperti shaun the sheep! Duh, senangnya. Lebih senang lagi karena setelah lelah menanam stroberi dan memberi makan rusa dan domba, mereka boleh menikmati segarnya jus stroberi. Wah, baru menanam sudah langsung menikmati hasilnya. Alhamdulillah.



Selesai dari kebun stroberi, siswi-siswi mulai merasakan wahana flying fox. Belum semua wahana dinaiki, ternyata hujan turun. Walhasil, anak-anak turun tebing dalam guyuran air hujan. Sebagian ada yang tidak ingin basah, jadinya sambil memakai jas hujan. Jadi warna-warni deh.

Berhubung hujannya disertai petir dan guntur yang menggelegar, kegiatan terpaksa dihentikan. Satu wahana, yaitu two line bridge, tidak sempat dicoba oleh para siswi. Karena waktu sudah sore juga, akhirnya kami menuju bus, pulang kembali ke Cikarang.
Selamat tinggal Cikole ...

Sunday, February 24, 2019

VIP in My Life (2)

Bismillaah


Graduated from primary school at my village, I continued my study at Klaten, the district capital. There, I lived with my uncle's family, Om Muslim. I spent about six years there. So, I spent my teenager with Om Muslim.


Om Muslim is my mother's younger brother. He was a humble person. He hardly talked, except an important thing. We, he and I, hardly talked to each other. I only spoke to him when I needed permission to do something or to go somewhere. He also only spoke to me if there was an important thing.


Eventhough he never spoke, I know that he loved and cared about me, espescially about my study. When the test came, he gived more attention to me. He had me not to do many things in the kitchen because my duty was studying and studying. Sometimes, I felt bored. So, after studying in the night, when I thought that everybody had slept, I watched TV. Oh no, my uncle hadn't slept yet. You know, he ordered me to turn off the TV and study again.


That's my uncle. He was strict. Fortunately, I never felt unconvinient with his rules. I was lucky having such an uncle. Because of him, I became a diligent student. My day was full of study activities. And I became to fall in love in studying. I don't know what would happen if my uncle hadn't cared of me. I might not be like what I am now.


Now, Om Muslim has passed away. A part of my soul went away. There's something painful here. Only praying that I can do. Oh Allah, forgive all his sins, accept all his good things, give him much more rewards on his good deeds. Aamiin yaa rabbal'aalamiin.

Monday, February 11, 2019

PGH



Bismillaah


Odol atau pasta gigi merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam hidup kita, selain makanan, sandang, dan papan. Tanpanya, kita tidak bisa tampil percaya diri dalam kehidupan sosial. Serasa ada yang kurang, bila belum menggosok gigi dengan odol.


Bermacam-macam pasta gigi yang bisa kita pilih sesuai dengan selera kita ataupun sesuai dengan kondisi gigi kita. Ada yang untuk gigi normal, yang artinya tidak ada keluhan apa pun. Ada juga yang dikhususkan untuk gigi sensitif.


Pasta gigi yang biasa kita jumpai di pasaran, biasanya mengandalkan kandungan fluoride untuk kesehatan gigi. Sedangkan, ada pendapat ilmuwan yang menyatakan bahwa fluoride ternyata justru merusak gigi. Hal ini tentu membuat kita, para konsumen, jadi ragu untuk menggunakannya.


Nah, bagi Anda yang ingin tetap tampil prima dengan gigi yang bersih memesona, tidak perlu khawatir. Sekarang sudah banyak beredar pasta gigi tanpa fluoride, tapi tetap bisa membuat gigi kita bersih dan sehat. Pasta gigi ini terbuat dari bahan-bahan herbal yang aman, sehingga apabila tertelan, tidak membahayakan tubuh kita, insyaaAllah.


Oya, sebelumnya perlu kita ketahui bahwa ada empat jenis pasta gigi berdasarkan bahan bakunya. Yang pertama dan kebanyakan kita temui di pasaran adalah yang sebagian besar menggunakan bahan kimia. Pasta gigi ini diberi tanda hitam pada ujungnya.
Jenis yang kedua adalah yang hampir 50% menggunakan bahan alami dan sisanya adalah bahan kimia. Produk ini ditandai dengan warna merah.
Yang ketiga adalah pasta gigi yang berbahan alami dan ada tambahan obat. Di bagian ujung pasta gigi ini ada tanda berwarna biru.
Jenis yang terakhir adalah yang hampir 100% terbuat dari bahan-bahan alami. Untuk mengenalinya, kita bisa melihat  warna hijau di ujung kemasan.


Nah, pasta gigi yang kita bahas kali ini adalah yang jenis keempat, karena hampir seluruhnya terdiri dari bahan alami. Pasta gigi ini dipasarkan oleh HPAI dengan nama Pasta Gigi Herbal atau populer dengan sebutan PGH. PGH cocok untuk gigi sensitif. Tetapi bisa juga untuk gigi yang normal. Selain berfungsi sebagai odol untuk sikat gigi, PGH juga bisa untuk mengobati sakit gigi. Caranya adalah dengan mengoleskan sedikit PGH pada gigi yang sakit. Dengan izin Allah, sakit gigi akan hilang.









Awalnya hanya ada satu jenis PGH. Namun saat ini sudah bertambah jenisnya. Malah ada juga PGH anak, yang memiliki rasa stroberi, anggur, dan tutti fruty yang disukai anak-anak. Sedangkan PGH sendiri yang diperuntukkan bagi orang dewasa, sekarang pun bermacam-macam jenisnya. Kita bisa memilih sesuai kebutuhan dan selera kita.


Oya, satu lagi kelebihan PGH, yaitu ada penutup dari aluminium foil.


Nah, sayangi gigi kita dengan menggunakan pasta gigi herbal HPAI. InsyaaAllah halal dan aman.

Saturday, January 26, 2019

Minyak But-but



Bismillaah


Setiap keluarga bisa dipastikan memiliki obat P3K, Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan. Apalagi yang masih memiliki balita, wajib menyimpan obat-obatan ini untuk jaga-jaga, bila ada hal-hal yang tidak diinginkan. Paling tidak, kita memiliki obat merah, atau kalau zaman saya kecil dulu disebut tentir.   Obat ini termasuk obat luar, jadi tidak boleh diminum. Bentuknya berupa cairan. Cara penggunaannya adalah dengan diteteskan atau dioleskan pada bagian tubuh yang terluka. Luka di sini, adalah luka ringan seperti lecet, tergores, atau terkena benda tajam. Dengan menggunakan obat ini, insyaaAllah lukanya akan cepat mengering. Obat ini masuk ke dalam salah satu daftar obat favorit anak-anak, termasuk saya. Sedikit-sedikit, cari tentir. Lecet sedikit, yang sebenarnya kalau dibiarkan juga akan sembuh sendiri, juga diberi tentir. Memakai tentir sudah seperti gaya hidup saja.


Saya pun begitu. Di rumah tersedia lemari P3K, yang salah satu isinya adalah tentir. Namun ternyata kepopuleran tentir saat ini sudah mulai menurun, terutama di keluarga saya dan di sekolah tempat saya mengajar dan belajar. Mengapa? Karena sekarang ada obat dengan jenis dan fungsi yang hampir sama dengan tentir. Obat apakah itu? Tidak lain dan tidak bukan, adalah MINYAK BUT-BUT. Mungkin banyak yang masih belum kenal dengan minyak yang satu ini. Kalau minyak tanah, minyak goreng, minyak wangi, atau minyak zaitun, pasti semua orang sudah familiar. Tapi, minyak But-but? Apakah ini ada hubungannya dengan burung Hud-hud? Tentu tidak.
Click
Minyak But-but, bukan sembarang minyak. Karena minyak ini memiliki multi fungsi. Bisa untuk obat luar, bisa pula untuk obat dalam. Keren, kan? Kok bisa? Apakah tidak berbahaya? InsyaaAllah tidak berbahaya. Mau tahu, mengapa minyak ini aman dikonsumsi? Karena ia terbuat dari bahan rempah-rempah alami yang aman dan ramah untuk tubuh manusia. Itulah rahasianya.

Sama seperti tentir, minyak ini bisa digunakan untuk mengobati luka ringan. Bahkan, pengalaman yang terjadi pada anak-anak saya. Waktu itu anak laki-laki saya, Mufid, jatuh di lantai sehingga dagunya sobek. Kulitnya sobek sekitar satu sentimeter. Menurut cerita teman-teman sesama emak-emak, luka selebar itu kalau ditangani dokter, pasti sudah dijahit. Masya Allah. Sedangkan yang saya lakukan kepada Mufid, bukannya ke dokter, malah cuma saya olesi dengan minyak But-but. Dan, apa yang terjadi? Tidak sampai satu pekan, lukanya menutup dan kering. Alhamdulillah, atas izin Allah, dengan perantara minyak But-but, kami tidak perlu berobat ke dokter, yang pastinya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Alhamdulillah.


Sembuh dagunya, ganti betisnya terkena knalpot motor yang masih panas. Astaghfirullah. Memang anak laki itu terlalu aktif atau bagaimana ya? Ada, saja kejadian. Tapi, alhamdulilah cuma kecelakaan kecil. Langsung saja saya olesi dengan obat andalan keluarga kami. Apalagi kalau bukan minyak But-but? Namun pengobatan untuk kulit yang terkena knalpot ini lebih lama daripada yang dagunya sobek. Meski demikian, kami bersyukur, anaknya tidak rewel, dan lagi-lagi, bisa menghemat dengan tidak perlu ke dokter. Alhamdulillah.



Lalu, apa buktinya kalau minyak ini juga aman untuk dikonsumsi? Kalau saya pribadi belum pernah mencoba, karena tidak kuat dengan baunya yang menyengat. Tapi menurut teman-teman yang sudah mencoba, minyak ini bisa untuk mengobati batuk. Bagaimana caranya? Caranya, tuang minyak But-but ke dalam sendok makan, lalu panaskan di atas api sedang hingga terasa hangat. Setelah itu, diminum, deh. Alhamdulillah, atas izin Allah, mereka yang mempraktikkannya bisa sembuh dari batuknya. Perlu diingat ya, namanya obat, tentu tidak sekali minum langsung sembuh. Perlu diulang beberapa kali tergantung sakitnya. Ada yang hanya 1-2 hari sembuh, ada yang berhari-hari, seperti kasus Mufid di atas.


Tapi saat ini, minyak But-but sudah tidak bisa kita temukan lagi. Lalu, pakai obat apa dong? Tak perlu risau. Sebenarnya minyak But-but bukannya tidak ada, hanya berganti nama. Berubah jadi apa?




Jadiiii, Minyak Herba Sinergi atau lebih terkenal dengan MHS. MHS atau yang awalnya bernama minyak But-but ini, diproduksi oleh PT HPAI (Herba Penawar Alami Indonesia). Nah, untuk saat ini, kegunaan MHS semakin dikembangkan. Alhamdulillah, satu obat bisa untuk berbagai macam keluhan. Berarti, semakin banyak penghematan yang bisa dilakukan. Selain itu, dengan menggunakan MHS, berarti kita ikut membantu kebangkitan ekonomi umat Islam. Mengapa? Karena MHS diproduksi oleh pabrik milik muslim, pekerjanya pun muslim, dan penjualnya juga sebagian besar muslim. Jadi, jangan ragu untuk mulai menggunakan produk muslim, dimulai dari MHS.



Thursday, January 24, 2019

Asma Nadia-nya ODOP dan Tuban

                                                             Foto: dokumen Mbak Hiday

Bismillaah


Asma Nadia. Nama yang tak asing bagi mereka yang mengaku kutu buku ataupun hobi menulis. Sepak terjangnya dalam dunia tulis-menulis tak diragukan lagi. Tidak hanya diakui di dalam negeri, di luar pun mendapat sambutan yang luar biasa. Karyanya yang bejibun, tak perlu disebutkan satu persatu. Tidak sedikit pula yang telah diangkat ke layar lebar. Masya Allah.


Ingat Asma Nadia, jadi ingat seorang teman (boleh kan, saya mengaku teman? #biar ketularan pintar). Wajahnya hanya bisa saya lihat di media sosial, belum pernah bertatap muka secara langsung. Berbicara secara pribadi, sepertinya juga belum pernah. Dulu memang pernah ngobrol di grup ODOP. Duluu sekali, waktu di batch 1. Setelah itu saya hanya menjadi silent reader di grup. Saya merasa minder dan malu melihat prestasi teman-teman yang sangat luar biasa.


Kembali ke laptop. Eh, ke pembahasan awal tadi, maksudnya. Siapa sih, yang sudah saya anggap seperti Asma Nadia itu? Siapa lagi kalau bukan Mbak Hiday Nur. Seorang ibu yang juga seorang guru sekaligus seorang penulis. Selain itu, beliau juga seorang mahasiswa pasca sarjana, lho. Duh, sibuk banget, nggak sih? Pastinya. Belum lagi pekerjaan di luar itu.


Sebelum kepoin lebih jauh tentang Mbak Hiday, saya mau menjelaskan dulu asal muasal judul saya ya. Mengapa saya menyamakan Mbak Hiday dengan Asma Nadia? Betul! Karena banyak persamaan di antara mereka berdua. Mereka sama-sama muslimah muda yang enerjik, cantik menarik, dan tentu saja, smart. Apalagi yang sama? Sudah jelas, lah, pekerjaan mereka sama: PENULIS. Di samping itu, mereka juga ibu dari putra-putrinya sekaligus guru bagi murid dan orang-orang di sekitarnya. Masih kurang, persamaan mereka berdua? Nih, saya tambahkan ya. Mereka sama-sama sudah melanglang buana. Wuih, keren kan?


Satu lagi nih. Kalau Asma Nadia memiliki Rumah Baca Asma Nadia, Mbak Hiday punya Sanggar Caraka, lho. Di mana, di mana? Di mana lagi, kalau bukan di rumahnya, Tuban. Nah, ini sekaligus menjelaskan pemilihan judul tulisan ini. Sudah seperti skripsi saja kan, ada alasan pemilihan judul.

Lalu, apa itu ODOP? Nah, kalau ODOP ini rumahnya para penulis hebat. Di sanalah saya bertemu dan berkenalan dengan Mbak Hiday. ODOP ini singkatan dari One Day One Post. Sebuah komunitas yang menggunakan grup WhatsApp sebagai wadahnya, yang diprakarsai oleh Bang Syaiha, guru kami. Nah, di ODOP ini, Mbak Hiday menjadi salah seorang mentor sekaligus editor. Karya beliau sangat banyak. Tersebar luas di berbagai media massa dan buku. Termasuk buku pelajaran. Ya, beliau juga menulis buku-buku pelajaran sesuai bidangnya sebagai seorang guru. Ini yang membuat saya semakin salut pada beliau. Karena saya juga seorang guru, dan saya belum bisa seperti beliau.

Banyak sekali ya, aktivitas Mbak Hiday? Apa nggak capai ya? Tapi kalau melihat penampilannya (melalui foto-foto, karena saya belum pernah kopdar dengan beliau maupun dengan warga ODOP lainnya), beliau itu selalu ceria. Tidak pernah terlihat lesu. Bisa dipastikan,  beliau itu gesit dan tangguh. Makanya dengan segudang aktivitas itu, masih sempat juga balas chat saya maupun teman-teman di grup. Masya Allah.

Oya, beliau ini salah seorang penerima beasiswa S2 LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), lho. Dan berkesempatan keliling Eropa! Pengalaman beliau sebagai mahasiswa LPDP itu dituangkan dalam sebuah buku yang ditulis bersama teman-temannya. Ini dia, bukunya.



Itu baru salah satu karya Mbak Hiday. Masih banyak lagi karya lainnya yang tersebar di berbagai media massa maupun buku-buku, termasuk buku pelajaran. Yups, betul sekali. Mbak Hiday ini juga menulis buku pelajaran, sesuai dengan bidangnya sebagai seorang guru. Keren, ya? Kapan ya, saya bisa begitu?


Ingin mengenal lebih jauh dengan Mbak Hiday? Bisa kunjungi blognya di hidaynur.web.id, atau facebook-nya Hiday Nur. Insya Allah banyak manfaat yang akan kita dapat setelah mengenal beliau. Minimal kita akan terinspirasi dan termotivasi. Seperti saya, jadi semangat menulis lagi. Terima kasih Mbak Hiday, jangan pernah bosan untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan kami, ya. Baarakallahu fiik, Mbak Hiday.

Sunday, January 20, 2019

Kajian Selintas

Bismillah

Ikhtiar itu perbuatan
Rezeki itu kejutan
Hanya doa yang bisa mengubah segalanya (Ustadz Hilman Fauzi)

Terkejut, kaget, haru, sekaligus bangga saat kaki kami mulai menapaki area Masjid Alumni IPB. Pelataran masjid penuh dengan jamaah yang sedang menunaikan shalat Maghrib. Begitu kaki kami terus melangkah menuju tempat wudhu akhwat, kondisinya sama dengan tempat ikhwan. Penuh! Kami pun harus berjalan mlipir-mlipir agak tidak mengganggu yang sedang shalat. Setelah berliku-liku menempuh perjalanan yang tidak panjang (udah seperti naik gunung aja, berliku-liku), sampailah kami di tempat wudhu.

Selesai berwudhu, kembali kami harus sedikit bersabar untuk bisa ke lantai dua, tempat shalat jamaah akhwat. Jalanan menuju ke lantai atas penuh, ada yang turun, ada yang naik. Harus lebih bersabar. Apalagi masih banyak yang duduk di teras dan pelataran masjid. Sampai di atas, ternyata kami harus puas dengan hanya shalat di koridor masjid karena ruangan masjid masih penuh dengan jamaah akhwat. Saya pikir acara kajian sudah selesai, sehingga seharusnya masjid sepi karena jamaah sudah pulang. Ternyata kajian masih berlangsung. Menurut informasi, sampai menjelang shalat Isya.

Dari sang pembawa acara, saya mendengar bahwa ustadz yang akan menyampaikan tausiyah adalah Ustadz ... Fauzi. Asing di telinga saya. Siapa sih, hebat banget bisa mengumpulkan jamaah sebanyak ini. Hampir semuanya anak muda, lagi. Siapa sih, pembicaranya? Dan, yang lebih mengherankan lagi, tadi sempat saya lihat, ustadz dan sang pembawa acara pakai topi. Kok bukan pakai peci atau sorban seperti para mubaligh lainnya. Wah, ustadz zaman now ini!

Selesai shalat, sambil dzikir, sambil curi-curi dengar apa yang disampaikan Pak Ustadz. Sebentar sih, dengarnya sejak tadi shalat. Eh, jadi ketahuan deh, shalatnya nggak khusyuk. (Tutup muka, deh, pakai jilbab)

Setelah muqaddimah, sang ustadz bertanya kepada jamaah, karena pekan lalu sudah disampaikan materi, hari ini mau tanya jawab atau materi. Jamaah tidak banyak yang merespon. Bingung kali ya, baru kali ini kajian kok ada tawar-menawar. Hihi ... Lucu juga nih, ustadz. Jadi semakin penasaran. Lalu untuk memudahkan menjawab, ustadz yang menyebut dirinya Ustadz Hilman itu memberi pilihan: 1. Tanya jawab, 2. Materi. Pilih 1 atau 2?
Dengan serempak dan seragam, jamaah menjawab duaaaaa. Ish ish, kok jadi seperti kampanye, satu atau dua? Hadeeh, nanti kalau ada KPU bagaimana ustadz? Bisa berabe nih.

Karena jamaah memilih materi, maka mulailah sang ustadz menyampaikan tausiyah dengan tema Hijrah. Kajian petang itu diawali dengan hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tentang bahwa manusia itu, termasuk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, masuk surga itu bukan karena amalnya. Tetapi karena rahmat Allah subhanahu wata'ala. Dalam hadits itu disebutkan juga bahwa para sahabat bertanya, apakah hal itu berlaku juga untuk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Rasulullah menjawab iya, termasuk beliau pun, masuk surga karena rahmat Allah, bukan karena amal beliau. Masya Allah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Amal shalih seseorang diantara kamu sekali-kali tidak dapat memasukkannya ke dalam surga.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Hai Rasulullah, tidak pula engkau?” Rasulullah menjawab, “Tidak pula aku kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepadaku.” (Riwayat Muslim; kitab Shahih Muslim, Juz II, halaman 528)

"Rasulullah yang ma'shum, tidak pernah berbuat dosa, yang surganya sudah pasti, yang amal ibadahnya paling banyak saja tidak bisa masuk surga tanpa rahmat Allah, apalagi kita? Mengapa amal ibadah kita tidak bisa memasukkan kita ke surga?
Karena kita tidak tahu, apakah ibadah kita sudah benar atau belum. Siapa yang menjamin bahwa shalat kita sudah pasti sesuai rukun dan syaratnya? Siapa yang menjamin, bisa shalat dengan khusyuk tanpa terbersit pikiran di luar shalat? Siapa yang menjamin tilawah kita sudah betul makhraj dan tajwidnya?" Jelas Ustadz Hilman. Deg! Jadi ingat pelajaran tahsin hari Jumat kemarin, betapa sulitnya saya dan teman-teman melafazkan huruf-huruf الجوف. Baru tiga huruf saja kami belum lulus, bagaimana dengan huruf-huruf yang lain? Bagaimana bisa tilawah dengan tartil? Astaghfirullah. Benar sekali kata Ustadz Hilman.

Oleh karenanya, kita harus semakin banyak beramal, karena kita tidak tahu, amal ibadah yang mana yang akan mendatangkan rahmat Allah.
Selain itu, jangan lupa untuk selalu berdoa agar amal kita diterima Allah, seperti yang sudah diajarkan Allah melalui firman-Nya,

Allah SWT berfirman:

  ...  رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا  ۗ  اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

"... Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: Ayat 127)

Tidak banyak yang bisa saya simak dari tausiyah ustadz yang sangat menarik ini karena kami harus isi perut dulu. Maklum, dari siang belum sempat terisi. Padahal sayang sekali rasanya melewatkan kesempatan langka ini. Tapi ya, apa boleh buat, daripada anak saya yang sedang sakit semakin parah. Na'udzubillahi min dzalik.

Selesai makan malam kami kembali ke masjid karena sebentar lagi Isya. Karena perjalanan ke Cikarang bisa dipastikan macet, maka lebih baik shalat Isya dulu. Sampai di Masjid Alumni IPB, Ustadz Hilman sedang memimpin doa bersama. Terlihat tangan-tangan menengadah, wajah-wajah khusyuk dan tunduk, bahkan ada beberapa yang meneteskan air mata (terlihat dari layar proyektor). Masya Allah, baarakallahu fiikum Ustadz Hilman dan jamaahnya. Semoga kita semua bisa istiqomah di jalan Allah, dan bisa melanjutkan risalah Rasul-Nya untuk menjadi rahmatan lil 'aalamiin.
Aamiin, aamiin ya rabbal'aalamiin.

Sabtu, 19-01-2019

Friday, January 18, 2019

Tahsin Perdana di 2019



Bismillah


Alhamdulillah wa syukurillah, hari ini, Jumat, 18 Januari 2019, kami kembali belajar tahsin; memperbaiki bacaan Al Quran. Cukup lama juga kami libur, hampir dua bulan. Ilmu yang kami dapat selama dua bulan sebelumnya, seperti menguap perlahan terkena panas. Harus di-refresh lagi, nih.


Berbekal ingatan materi yang pas-pasan, kami masuki rumah Ummu Ghumaisha, ustadzah kami. Agak takut juga, khawatir nanti ketika ditanya materi yang lalu, kami tidak bisa menjawab. Tapi ya, bismillah. Semoga Allah mudahkan proses belajar kami, aamiin.


Hari ini ternyata bukan review materi. Tetapi kami mendapatkan pendalaman materi yang justru lebih sulit dari yang sudah dipelajari. Ustadzah Ira baru saja mengikuti daurah dengan para masyaikh. Banyak ilmu baru yang beliau dapatkan, dan hari ini langsung diajarkan kepada kami.


Landasan atau istilah beliau, bahan dasar, ilmu tajwid adalah menguasai pengucapan الجوف ; yaitu huruf-huruf yang keluar dari rongga mulut dan rongga tenggorokan yang terbuka. Huruf-hurufnya ada tiga, yaitu alif mad, ya mad, dan wauw mad. Mad terjadi apabila terpenuhi dua syarat. Yang pertama, huruf ا، ي، و harus berharokat sukun. Syarat kedua, huruf sebelum ا، ي، و harus berharokat fathah sebelum alif, kasroh sebelum ya, dan dhommah wauw.


Pengucapan huruf-huruf Hijaiyah ini harus mengikuti logat orang Arab. Karena dari sanalah huruf-huruf ini berasal. Jadi kita harus meninggalkan logat daerah kita. Jangan sampai kita membaca Al Qur'an dengan logat Jawa, apalagi dengan langgam Jawa. Na'udzubillahi min dzalik.


Mengapa harus dengan logat Arab? Yang pertama, tentunya, karena Al quran diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab. Yang kedua karena logat Arab itu berada di pertengahan; tidak terlalu kuat ditekan, dan tidak terlalu lemah mendayu-dayu. Pertengahan saja. Bagaimana caranya? Sulit dijelaskan dengan kata-kata karena ini ilmu yang harus dipelajari dengan sistem talaqqi atau bertatap muka langsung dengan pengajarnya. Jadi, mohon maaf bila saya tidak bisa menjelaskan.


Tetapi saya bisa berbagi sedikit teknik pelafadzannya. Pertama kita ucapkan mad "aaaa" sambil sesekali memencet kedua lubang hidung untuk mengetahui apakah suara yang keluar termasuk  الخيشوم atau bukan. Mengapa demikian? Karena saat mengucapkanhuruf mad ini, udara harus keluar dari mulut, bukan dari hidung. Sehingga suara yang dihasilkan jernih, tidak dengung. Bagaimana supaya hasilnya sempurna? Sekali lagi, harus talaqqi.
Lalu kami belajar melafadzkan huruf ب. ب bukan termasuk huruf yang memiliki sifat همس atau keluar udara dari mulut saat mengucapkannya. Ketika kami praktik, ternyata cukup sulit untuk tidak mengeluarkan udara saat melafadzkan ب.


Masya Allah, sungguh luas ilmu Allah. Dan sungguh kerdil diri ini saat mempelajarinya. Semakin banyak belajar, bukannya semakin pandai, tetapi malah semakin banyak yang tidak bisa. Semakin terbongkar, betapa selama ini banyak kesalahan yang telah kulakukan. Astaghfirullah. Kutahu, belajar tahsin menjadi terasa semakin berat. Hanya atas pertolongan Allah saja kami akan bisa mempelajari dan memahaminya. Ya Allah, mudahkanlah kami dalam mempelajari Al Qur'an, dalam membaca dan menghafalkannya, juga dalam mengamalkannya. Ampunilah kami karena masih banyak kesalahan yang kami lakukan. Astaghfirullah.