Thursday, January 25, 2018

Pergulatan

Senyum selalu tersungging di bibirnya, menyapa teman-teman sekantornya. Itulah salah satu faktor yang membuatnya terkenal dan disukai hampir oleh semua karyawan kantor itu. Ditambah lagi suaranya yang merdu mendayu saat menyanyikan lagu-lagu Bollywood. Membuat setiap orang yang melihatnya tak hendak berpaling walau sedetik.

Kepopuleran Cantika bahkan sampai menembus dinding-dinding kantornya. Melesat hingga ke lantai paling atas gedung pencakar langit, tempat kantornya berada. Merambat hingga ke lorong-lorong kota. Ya, hampir seluruh penduduk kota ini mengenalnya seperti adik kandung. Bahkan tak sedikit yang ingin benar-benar menjadikannya adik atau isteri.

Tapi hari ini, wajah Cantika terlihat berkabut. Mendung seakan menutup cahaya matanya yang bening. Ini sungguh tak biasa.
"Hai Cantika," tegur Siska, salah seorang karibnya.
"Hai," jawab Cantika tanpa semangat.
"Lho, ada apa denganmu, Can. Kamu sakit?" tanya Siska sambil merapikan kerudungnya.
"Entahlah, aku ... aku tak tahu. Maaf, aku harus menyelesaikan pekerjaanku," jawabnya sambil berjalan menuju meja kerjanya yang terletak di sudut ruangan.
Siska hanya bisa memandangnya dengan seribu tanda tanya. Aneh, pikirnya.

Ternyata perubahan sikap Cantika berlangsung hingga hari-hari berikutnya. Bahkan hingga minggu berganti bulan. Dia semakin pendiam dan menarik diri dari pergaulan glamornya selama ini. Tak terdengar lagi suara emasnya di cafe tempat nongkrongnya bila pulang kerja seperti dulu. Teman-temannya mulai kehilangan. Sekarang, setiap habis waktu kerja, ia langsung buru-buru pulang. Tak dihiraukannya ajakan teman-temannya untuk nongkrong melepas lelah.

Tiga bulan sejak perubahan itu, hari ini teman-teman sekantornya mendapat kejutan. Kehebohan pun tak bisa dibendung lagi. Bagaimana tidak heboh, Cantika pakai jilbab! Ada angin apa, bisa-bisanya si bintang Bollywood pakai jilbab? Apa kata dunia? Terus, apakah dia akan menyanyi dan berjoget dengan kostum barunya itu?
Itulah bisik-bisik dan kasak-kusuk yang terdengar memenuhi atmosfer kantor. Terasa menyesakkan di dada Cantika. Namun kali ini dia menghadapinya dengan senyum. Ya, senyum itu kembali tersungging di bibirnya, setelah berbulan-bulan seperti ditelan gerhana. Yang membedakan, senyum itu kini milik seorang gadis anggun yang berjilbab rapi.

Setelah desas-desus dan kasak-kusuk itu menghilang, bukan berarti Cantika sudah bisa hidup tenang dengan keputusannya untuk menutup aurat. Cantika sadar betul dengan keputusannya ini tentu hidupnya pun tidak akan semulus dulu. Walaupun dulu sebelum berhijrah pun, hidupnya tidak 100% aman dan tentram. Apalagi kini, angin yang berhembus semakin kencang dan kadang menyakitkan.

Berkali-kali ia mencoba menjelaskan pada teman-teman dan juga atasannya, bahwa ia tak bisa lagi seperti dulu. Namun ajakan dan godaan untuk menanggalkan hijabnya, sungguh luar biasa. Mereka tidak hanya sekadar berkata-kata, bahkan iming-iming harta dan juga fasilitas mewah, tak luput dalam rayuan mereka.

Seperti sore itu, saat ia berkemas untuk pulang,  bosnya kembali merayunya.
"Ayolah, say, kita nyanyi lagi seperti dulu. Aku juga ingin berdansa lagi dengan kamu, Cantik. Sudah lama kan, kita tidak jalan bareng?" bujuk sang atasan sambil berusaha meraih tangan Cantika.
Reflek, Cantika berusaha menyelamatkan tangannya.

"Ma ... Maaf, Pak. Saya tidak bisa, saya harus segera pulang," jawab Cantika gugup.

"Alaaah, kan masih sore? Biasanya juga kita pulang jam 12 kan? Ayolah, aku akan naikkan jabatanmu dan juga gajimu kalau kau mau jalan denganku. Malam ini, saja," desak sang bos tak menyerah.

Mendengar rayuan itu, pertahanan Cantika mulai mengendor. Sudah lama ia memimpikan untuk bisa naik pangkat, paling tidak gaji. Meski dia terkenal dan disukai banyak orang, bukan berarti gajinya besar. Yah, berapa sih, gaji seorang tenaga administrasi yang hanya lulusan SMA?

"Mau, ya? Ini, sebagai DP nya, aku berikan cek ini. Mulai besok pagi, gajimu naik 100%! Bagaimana?" serang si bos semakin gencar melihat diamnya Cantika. Dia seperti bisa membaca pikiran gadis di depannya yang sedang bimbang.

"Mmm ... Besar sekali, Pak?" gumam Cantika melihat angka yang tertera di atas cek yang sudah ada di genggamannya.

"Itu belum seberapa. Setelah kita jalan, dan kuantar kau pulang, aku tambah lagi dengan uang cash. Atau kau mau shopping? Apa pun yang kau mau. Kau boleh pilih sesuka hatimu. Deal?" jelas si bos dengan senyum penuh kemenangan.

"Tapi, hanya malam ini saja kan, Pak?" tanya Cantika dengan hati yang masih penuh dengan pergolakan batin antara menerima atau menolak. Dirinya benar-benar seperti makan buah simalakama. Di satu sisi ia ingin konsisten dengan jalan yang baru dipilihnya, di sisi lain ia juga butuh materi. Ya Allah, tolong saya, batinnya menangis.

"Iya, sekali ini saja. Cukuplah buat kenang-kenangan. Anggap saja ini pentas terakhirmu. Ok? Ayo kita berangkat. Teman-temanmu sudah menunggu di cafe langganan kita," ajak sang bos sambil menggandeng tangan Cantika. Cantika yang masih galau tidak sadar tangannya telah digandeng dan menurut saja saat diajak masuk ke mobil si bos yang sudah parkir di depan lobi gedung.

Ya Allah, tolonglah aku. Haruskah aku menyanyi dan berdansa lagi? Rintih hati Cantika gerimis dilanda kebingungan. Apa yang harus kulakukan? Aku malu. Pantaskah gadis berjilbab menyanyi di cafe, berbaur dengan banyak lelaki yang bukan mahram? Astaghfirullah, aku harus menghentikan ini. Aku harus bisa menolak.

Ketika mobil mulai minggir dan akan masuk ke area parkir cafe, Cantika seperti orang yang baru sadar dari pingsannya. "Stop!" teriaknya histeris.
Karena kaget, kaki si bos langsung menginjak rem sehingga menimbulkan bunyi nyaring.
"Ada apa sayang? Kau baik-baik saja, kan?" tanya si bos bingung.

"Maaf Pak, saya harus pulang. Saya tidak bisa menemani Bapak. Ini ceknya saya kembalikan," ujar Cantika sambil menyerahkan cek. Segera ia keluar dari mobil sebelum berubah pikiran.

"Hei, mau ke mana kamu? Dasar gadis tak tahu diuntung!" Teriak si bos dengan murah merah padam karena marah dan malu. Ia benar-benar merasa terhina dengan sikap Cantika barusan. Seumur-umur, tak ada karyawan yang berani membantah perintahnya. Tapi Cantika tidak hanya membantah. Gadis itu telah merusak harga dirinya. Memalukan!

Sejak hari itu, Cantika tak terlihat lagi di kantornya. Teman-temannya sibuk mencari informasi tentang keberadaannya. Akhirnya Siska yang berhasil mengetahui keberadaan sang mantan bintang Bollywood itu. Kini, Cantika tinggal di sebuah pesantren tahfidz. Di sana ia membantu memasak sambil belajar menghafal Al-Qur'an. Azamnya sudah kuat, hijrah total dari masa lalunya yang jahiliah. Ia ingin menebus dosa-dosanya dengan mengabdi di pesantren.

#Tantangan RC ODOP 2

Thursday, January 11, 2018

Review "Notes from England"

Bismillah

Inspiring book! Mungkin inilah ungkapan yang paling tepat untuk buku karya Ario Muhammad dan Fissilmi Hamida ini. Membaca lembar demi lembarnya, membuat semangat untuk belajar dan menjadi lebih baik serta lebih berguna seperti bara api yang disiram bensin. Wuss! Nyala apinya langsung besar, lidahnya meliuk-liuk seperti ingin menyambar apa pun yang ada di sekitarnya.

Buku ini berisi tentang perjuangan kedua penulis dalam mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri dan juga perjalanan hidup mereka selama belajar di bumi Ratu Elizabeth. Ada duka, ada senyum, juga tawa bahagia. Semua dikemas dalam rangkaian cerita yang mengalir. Melenakan bagi yang membacanya. Seperti membaca buku fiksi, padahal ini nyata. Masya Allah.

Untuk mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri, ternyata perlu perjuangan yang sangat berat. Juga pengorbanan.  Dalam mengajukan proposal beasiswa, dilakukan oleh penulis sampai berkali-kali. Tes seleksi yang sangat ketat dan berat, sampai harus meninggalkan putri tercinta yang masih balita, juga perlakuan para pengambil keputusan yang juga menguji mental, benar-benar suatu perjuangan. Maka, hanya mereka yang kuat dan tegar sajalah yang akan lolos. Dan, kedua penulis inilah buktinya.

Setelah lulus seleksi, bukan berarti jalan menjadi semulus jalan tol. Sekali lagi, dan lagi, perjuangan dan pengorbanan seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dari kehidupan para penerima beasiswa ini. Hidup dan belajar di negeri orang, tanpa keluarga dan sanak saudara, tentu bukan hal yang mudah. Tekanan dan tuntutan akademik, persaingan antar mahasiswa, yang notabene mahasiswa di sana lebih kritis dan cerdas, membuat mental bisa down sewaktu-waktu.

Namun demikian, di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Itu pula yang dirasakan oleh kedua penulis buku ini. Di saat keadaan sudah begitu kritis, Allah kirimkan teman ataupun dosen sebagai penolong. Walaupun kadang, hanya dengan mendengarkan keluhan, itu sudah sangat melegakan.

Kemudahan lainnya, sikap ramah dan peduli baik dari saudara seiman maupun dari penduduk setempat. Kalau selama ini kita beranggapan bahwa penduduk Indonesia terkenal dengan keramahtamahannya, ternyata penduduk Inggris banyak yang memiliki sifat terpuji itu. Selain ramah, mereka pun peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang terlihat perlu bantuan. Mereka pun sangat suka bersedekah.

Hal lain yang bisa mengurangi kepenatan dan tekanan akademik adalah memandang dan menikmati keindahan alam negeri Ratu Elizabeth yang tak kalah dengan keindahan bumi pertiwi.

Selain kisah-kisah penulis selama menempuh pendidikan di Inggris, buku ini juga berisi tentang bagaimana menjaga motivasi belajar agar tetap terjaga. Ditambah lagi dengan kisah perjuangan orang-orang sukses seperti G-Dragon dan Zeni Rahmawati. Siapakah mereka? Yuk, baca bukunya. Agar kita bisa merasakan dan mendapatkan semangat mereka dalam meraih cita-cita.

Sunday, January 7, 2018

Rahasia Penulis Hebat Membangun Setting Lokasi

Bismillah

Menulis cerpen atau novel, meski itu fiksi dan hasil khayalan kita, ternyata tidak boleh asal mengarang. Semua harus dipikirkan benar-benar agar tetap logis dan diterima oleh pembaca. Hal ini berlaku juga saat penulis membuat setting. Setting terdiri dari tiga unsur, yaitu setting tempat, setting waktu, dan setting sosial ( Nurgiyantoro, 2000: 230). Buku yang ditulis oleh beberapa penulis ini berisi pengalaman dan cara-cara mereka dalam membangun setting lokasi atau tempat.

Menurut Akmal Nasery Basral, salah seorang penulis buku ini, jika tokoh adalah kepribadian sebuah cerita, maka lokasi ibarat wajah bagi cerita tersebut. Sehingga latar sebuah cerita sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan. Memang ada, penulis yang membuat cerita tanpa menggunakan setting. Tapi itu sangat jarang, dan biasanya hanya dilakukan oleh penulis yang sudah benar-benar piawai dalam mengolah cerita.

Sedangkan menurut Ary Nilandari, setting lokasi berfungsi sebagai pasak bagi sebuah cerita agar dapat tertanam kuat dalam benak pembaca. Apalagi dalam bacaan anak-anak, setting lokasi menjadi bagian penting setelah karakter dan plot. Selain itu, setting cerita berguna untuk membangun suasana cerita (mood of the story), memengaruhi perilaku dan dialog para tokoh, serta memberikan petunjuk tentang apa yang akan terjadi.

Dengan adanya setting, cerita yang kita buat akan lebih hidup dan membuat pembaca tertarik. Sehingga tidak hanya ceritanya yang berkesan, bahkan lokasinya pun membuat pembaca penasaran dan ingin berkunjung ke sana. Seperti yang dialami oleh beberapa penulis buku ini, yang terkesan dengan setting lokasi dari cerita yang pernah mereka baca, kemudian berniat untuk mengunjunginya.

Lalu, bagaimana membangun setting lokasi itu?
Ada banyak tips yang diuraikan dalam buku ini. Masing-masing penulis memiliki caranya masing-masing. Namun secara garis besar, hampir sama, antara lain:
1. menggunakan lokasi atau tempat yang pernah ditinggali atau dikunjungi
2. melakukan riset terhadap tempat yang belum pernah dikunjungi, bisa melalui buku-buku, peta, atau mesin pencari
3. mendengarkan cerita teman atau orang yang pernah berkunjung ke tempat yang akan dijadikan setting lokasi, dan lain-lain.


Masih banyak tips yang bisa kita pelajari dari para penulis buku ini agar kita bisa membuat setting lokasi yang kuat. Semakin bagus setting sebuah cerita, maka semakin bagus pula cerita itu dan akan membedakan cerita itu dengan cerita yang lain, yang mempunyai tema sama. Tema boleh sama, tapi setting yang berbeda, akan memberikan nilai lebih pada sebuah cerita dan membuatnya lebih disukai pembaca.


#Tugasreview
#RC ODOP 2



Sunday, December 31, 2017

Orang Tua Pilihan




Bismillah

Membaca buku ini, kesan pertama yang saya dapatkan, betapa kecilnya saya ini dibandingkan penulis buku, Bu Hasti dan suaminya, Pak Prasetyo. Mereka berdua sungguh merupakan salah satu pasangan yang sangat luar biasa. Bahu-membahu, saling mendukung dan membantu dalam membesarkan putra mereka yang berkebutuhan khusus, Rafif. Yang semakin mengerdilkan diri ini, mereka sukses tidak hanya di rumah, tapi juga di lingkungan masyarakat dan tempat pengabdian mereka. Masya Allah.


Rafif, putra sulung Bu Hasti dan Pak Prasetyo ini terkena CMV (Cythomegalovirus) yang menyebabkan pertumbuhan fisiknya tidak seperti anak lain pada umumnya. Akibatnya, Rafif juga menderita cerebral palsy atau cacat otak. Jadi, tidak hanya pertumbuhan fisiknya yang terganggu, otaknya pun tidak bisa berfungsi secara normal. Dibandingkan anak seusianya, sekarang Rafif berusia 13 tahun, jelas sangat jauh tertinggal.


Selain Rafif, Bu Hasti dan suaminya juga harus merawat dan membesarkan 3 putra-putrinya. Sungguh perjuangan yang tidak mudah. Namun demikian, yang membuat saya semakin salut dengan pasangan suami isteri ini, mereka masih bisa mengabdikan diri mereka demi kemaslahatan umat. Di samping kesibukan mereka mengurus anak-anak, mendampingi Rafif berobat dan terapi.


Bu Hasti adalah seorang guru di sebuah lembaga pendidikan di Klaten yang telah memiliki sertifikasi. Beliau mengajar dari hari Senin hingga Jumat.  Pada hari Sabtu dan Ahad, biasa beliau isi dengan kegiatan sosial atau keagamaan. Ketika beliau beraktivitas di luar, Rafif dititipkan pada pengasuhnya, atau diasuh suaminya, bila kegiatan itu pada hari Sabtu/Ahad.


Di tengah segala kesibukan itu, yang tak terbayangkan bagi saya, Bu Hasti masih sempat menulis artikel di beberapa media massa. Dan, hebatnya lagi, buku inilah buktinya. Beliau masih bisa menulis buku!
Sedangkan saya? (Ah, jadi malu.) 

Setelah membaca dan mengetahui perjuangan Bu Hasti dan suaminya dalam membersamai Rafif ini, terus terang, saya semakin termotivasi untuk bisa lebih baik dan lebih bermanfaat untuk diri sendiri maupun untuk lingkungan di sekitar. Seharusnya, saya yang dikarunia oleh Allah anak-anak yang sehat dan normal, alhamdulilah ya Allah, bisa memberikan kontribusi yang lebih besar dan lebih baik.
Saya benar-benar merasa kecil dan kerdil. Apa yang saya lakukan selama ini, belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang sudah dilakukan oleh Bu Hasti.


Buku ini sangat bermanfaat untuk dibaca oleh para orang tua maupun calon orang tua, agar bisa menjadi orang tua yang sebenarnya, agar semakin bersyukur atas segala karunia yang telah Allah berikan, atas amanah yang telah Allah pilihkan kepada kita. Bila kita merasa hilang kesabaran karena "kenakalan" anak-anak yang masih normal, itu belum seberapa dibandingkan kesabaran Bu Hasti dan juga orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus lainnya.

Sungguh, orang tua seperti Bu Hasti dan suaminya ini, juga orang tua yang mendapat amanah seperti mereka ini, adalah orang tua pilihan Allah. Allah memberikan amanah yang berat itu, hanya kepada mereka yang dianggap kuat oleh Allah. Merekalah orang tua pilihan.


Terima kasih Bu Hasti dan Pak Prasetyo, semoga kami bisa mengikuti jejak kalian dalam kesabaran, keuletan, dan keistiqomahan. Aamiin ya rabbal'aalamiin.

Friday, November 3, 2017

Mind Mapping

Bismillah

Tugas RCO (Reading Challenge ODOP) kali ini adalah membuat mind mapping. Saya sempat bingung, bagaimana cara membuatnya, karena kalau ditulis, tulisan saya tidak cukup bagus. Alhamdulillah akhirnya dapat pencerahan dari Mba Irma (peserta RCO juga) untuk menggunakan aplikasi dari Google play. Terima kasih Mba Irma.

Setelah bisa download aplikasinya, ternyata saya tidak bisa langsung membuatnya. Sempat kepikiran lagi untuk manual saja, tulis di atas kertas. Tapi setelah mengutak-atik, alhamdulilah bisa juga buat mind mapping di aplikasi tersebut. Selesai dalam waktu yang tidak singkat, ternyata muncul masalah baru. Saya tidak bisa mengubah tampilan file ke bentuk pdf. Mengapa? Karena aplikasi yang menyediakan pdf itu tidak gratis. Ya, sudahlah. Akhirnya hanya bisa dicantumkan link-nya saja. Tidak apa-apa ya, Mba dan Kang Admin RCO?

Judul buku yang saya buat mind mapping adalah "Quantum Reading for Kids, Agar Anak Gila Baca!" karya Triani Retno.

Ini dia link-nya:

https://mm.tt/983689849?t=QdeRXUWgb4

Monday, October 23, 2017

Para Panglima Islam Penakluk Dunia

Bismillah

Sesuai dengan judulnya, buku yang ditulis oleh Muhammad Ali ini menceritakan sepak terjang para panglima Islam yang gagah berani dalam menaklukkan negeri-negeri di benua Eropa, Afrika, dan Asia. Ada 20 panglima yang dikisahkan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ke-20 panglima itu berasal dari beberapa sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam, dan juga tabi'in maupun tabi'in tabi'in.

Dari kalangan sahabat, ada Hudzaifah bin Yaman, yang dikenal sebagai pemegang rahasia Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Selebihnya adalah dari kalangan tabi'in dan tabi'in tabi'in. Di antara mereka ada yang sudah sangat kita kenal perjuangannya seperti Shalahuddin Al Ayyubi, Thariq bin Ziyad, dan Muhammad Al Fatih, sang penakluk Konstantinopel.

Selain nama-nama yang sudah sangat akrab di telinga itu, selebihnya memang hampir belum pernah kita kenal. Namun demikian, kiprah mereka pun tidak kalah hebatnya dengan para panglima di atas. Sebut saja Abdurrahman Ad Dakhil yang mendapat julukan sebagai Elang Quraisy. Menurut Al Manshur, salah seorang khalifah Daulah Abbasiyah, Abdurrahman mampu meloloskan diri dari mata tombak dan pedang, menerobos padang pasir, mengarungi lautan hingga memasuki negeri asing seorang diri, lalu mendirikan sejumlah kota, menggalang banyak pasukan, mencatat syair-syair, dan mendirikan sebuah kerajaan besar setelah sebelumnya lenyap berkat kemampuannya dalam mengatur dan keteguhan harga diri. (hal. 305)

Membaca buku ini, pada awalnya kita akan merasa ngeri membayangkan medan perang yang menjadi latar belakang kisah ini. Seakan-akan, tiada hari yang terlewati tanpa peperangan dan pertumpahan darah. Kalau kita baca sekilas, rasanya benar apa yang diucapkan oleh musuh-musuh Islam, bahwa Islam disebarkan melalui pertumpahan darah. Namun, setelah kita telaah dan tekuni buku ini, akan timbul kesadaran dalam diri, bahwa apa yang mereka katakan itu sungguh tidak bisa dibenarkan. Islam adalah agama rahmatan lil 'aalamiin. Menjadi rahmat tidak hanya bagi pemeluknya, tetapi juga untuk seluruh umat dan alam semesta.

Karena, peperangan yang terjadi, merupakan jihad yang tujuannya tidak berhubungan dengan keinginan untuk merampas atau mengeksploitasi bangsa lain serta mendapatkan kedudukan untuk mendominasi manusia lain atau menindas bangsa lain. Tujuan jihad adalah semata-mata untuk menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia sehingga Islam sebagai agama yang membawa kebaikan pada setiap manusia bisa dirasakan oleh siapa pun tanpa ada yang menghalanginya. (hal. xviii)


Maka, penaklukan yang dilakukan oleh para panglima ini, benar-benar berbeda dengan yang dilakukan oleh kaum penjajah. Perbedaan yang sangat jelas bisa dilihat dari niat mereka. Para panglima ini berjihad dengan mengorbankan jiwa raga mereka demi mensyiarkan agama Islam, dengan mengharap ridho Allah, dan juga syahid. Jadi, meskipun mereka memiliki strategi perang yang sangat luar biasa, dan pasukan yang berani mati, mereka tidak pernah lupa untuk berdoa kepada Allah. Sebelum memulai setiap penaklukan, entah itu yang dilakukan dengan cara damai maupun dengan terpaksa harus menumpahkan darah, munajat kepada Allah tak pernah ditinggalkan. Mereka yakin, sehebat apapun persiapan yang telah dilakukan, tak akan berhasil tanpa pertolongan Allah.


Perbedaan yang kedua, para panglima ini hanya memerangi prajurit musuh yang jelas-jelas memerangi mereka. Mereka tidak menyakiti orang tua, perempuan, dan anak-anak. Bahkan setelah mereka dijadikan tawanan pun, tetap diperlakukan dengan baik. Setelah para panglima menguasai negeri yang mereka taklukkan, mereka pun mulai membangun negeri tersebut. Mereka mendirikan masjid, madrasah dan bangunan-bangunan penunjang lainnya, untuk mensejahterakan rakyat. Mereka sangat peduli dan santun kepada rakyat yang dipimpinnya. Tidak berlaku sewenang-wenang.


Perbedaan berikutnya, terletak pada pribadi para panglima. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang selalu taat beribadah dan selalu shalat tepat pada waktunya. Seperti Sultan Muhammad Al Fatih yang sejak usia baligh tidak pernah meninggalkan shalat tahajud. Selain itu, mereka memiliki kemampuan tidak hanya dalam hal strategi perang, tapi juga dalam administrasi negara. Seperti halnya Sang Nabi yang menjadi pemimpin di setiap lini kehidupan, dari menjadi imam shalat hingga panglima perang, begitu pula para panglima ini. Bahkan Shalahuddin Al Ayyubi dikenal juga sebagai seorang dokter yang bisa mengobati.


Masya Allah, barakallahu fiikum. Berkat mereka, Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Hingga hari ini, pemeluknya semakin bertambah, meskipun tidak ada lagi penaklukan. Kini, dengan media massa maupun media sosial, Islam semakin terbukti sebagai rahmatan lil 'aalamiin. Terima kasih para panglima pahlawan Islam, semoga Allah menempatkan kalian di surga-Nya, aamiin.



Sunday, October 15, 2017

Semalam di Anyer

Bismillah

Debur ombak menyambut kedatangan kami di sebuah kompleks villa di pinggir pantai Anyer. Bebatuan besar nan kokoh memagari pantai dari laut yang terlihat bergejolak. Angin kencang mengibarkan jilbab-jilbab kami yang baru turun dari bus. Udara segar langsung terhirup memenuhi paru-paru yang sumpek akibat lamanya perjalanan. Namun, semua kepenatan langsung hilang begitu melihat indahnya pemandangan alam ciptaan Allah yang terhampar di depan mata. Masya Allah.

ماخلقت هذا باطلا سبحانك فقناعذاب النار

Ini adalah acara family gathering kedua yang saya ikuti. Bersama tiga orang anak, saya sangat bersyukur bisa menikmati semua ini. Berada di tengah suasana kekeluargaan dan damainya alam, betah rasanya berada di sini. Meninggalkan kesibukan pekerjaan, kemacetan yang setia menemani setiap hari, dan panasnya udara.

Di sini, kami tidak hanya menikmati pemandangan alam, tapi juga mengadakan berbagai kegiatan. Diawali dengan acara ramah-tamah, di mana kami bisa duduk santai bercengkrama dengan sesama teman guru maupun isteri guru sambil menikmati kudapan tradisional dan juga, pastinya, deburan ombak yang terdengar seperti musik pengiring. Nikmatnya ...

Acara dilanjutkan dengan lomba bapak-bapak dan juga anak-anak. Seru dan lucu. Semua menikmati, meskipun ada yang kalah. Tak masalah. Menjelang Maghrib, acara lomba selesai. Setelah ishoma (istirahat, salat, dan makan) kami semua berkumpul di aula restoran, untuk mendengarkan wejangan dari Bapak Ketua Pembina Yayasan, yang ternyata hanya sebentar. Berikutnya acara makan kambing guling dan ikan bakar. Karena anak-anak sudah capai dan mengantuk, kami pun masuk kamar untuk istirahat, tidak ikut menikmati menu tersebut. Tak apa, lagi pula masih kenyang. ^_^

Esok harinya, giliran lomba ibu-ibu. Ada lomba tebak kata dan lokomotif balon. Seru juga. Tak henti-hentinya kami tertawa melihat peserta lain yang sedang bermain. Kalau pas kelompok sendiri yang bermain, tertawa juga. Alhamdulillah, kelompok saya dapat juara dua.

Saatnya waktu bebas bersama keluarga. Kami pun mencoba wahana yang tersedia, ada banana boat dan doughnut boat. Kalau naik banana boat, nanti di tengah laut, penumpang akan dijatuhkan dari boat. Tapi jangan khawatir, tidak akan tenggelam. Kan, sudah pakai pelampung? Jadi, aman. Meski begitu, ada juga yang menangis karena kaget dan panik. Tapi sangat seru.

Sedangkan doughnut boat, tidak dijatuhkan, tapi ketika menaikinya, kita akan merasa diayun-ayun, seperti akan terlempar. Tapi, kalau kita berpegangan kuat, tidak akan terjadi apa pun. Selain itu, rasanya seperti naik mobil di atas batu-batu besar. Padahal kita berada di air yang bergelombang. Luar biasa.

Sebelum pulang, saatnya pembagian door prize. Alhamdulillah, dapat voucher. Lumayan. Sungguh senang bisa ikut acara ini. Meskipun hanya semalam. Semoga bisa ikut family gathering dua tahun lagi. Dengan pengalaman yang lebih seru, dan hadiah yang lebih baik tentunya. Aamiin.