Wednesday, February 23, 2022

Menanamkan Cinta Ibadah kepada Anak


Bismillahirrahmanirrahim


Menjadi orang tua adalah profesi seumur hidup, tidak ada pensiunnya. Sejak anak lahir, tumbuh dewasa, bahkan saat cucu lahir pun, orang tua tetap memainkan perannya. Oleh karena itu, belajar menjadi orang tua pun harus terus dilakukan hingga ajal tiba. 


Alhamdulillaah, saya kembali mendapatkan kesempatan kepada pakar parenting sekaligus seorang ustadz dan konselor rumah tangga, dan ... guru menulis saya. MasyaaAllah, banyak sekali predikatnya ๐Ÿ˜. Ya, itulah Ustadz Cahyadi Takariawan, yang lebih suka dipanggil Pak Cah. 


Kali ini temanya tentang bagaimana agar anak kita cinta ibadah sejak dini. Karena Webinar ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Isra' Mi'raj, maka sebelum memaparkan tema yang akan dibahas, beliau terlebih dahulu menjelaskan tentang Isra' Mi'raj. 


Isra'Mi'raj, sebuah perjalanan yang sangat spektakuler, luar biasa, dan tidak masuk akal. Tetapi, sebagai seorang muslim, dengan sangat mudahnya bisa kita terima dan kita imani. Perjalanan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam yang hanya dalam waktu satu malam, tetapi bisa sampai ke Masjidil Aqsha di Palestina, lalu berlanjut ke langit ke tujuh. MasyaaAllah.


Mengenai kapan waktu terjadinya peristiwa Isra' Mi'raj tersebut, para ulama masih memiliki perbedaan pendapat. Namun demikian, kita tidak perlu mempermasalahkannya. Yang perlu kita yakini dan kita imani adalah bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi dan dialami oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. Ya, itulah kewajiban kita. Tidak perlu banyak bertanya.



Biasanya, ketika membahas peristiwa ini, para ustadz pasti tidak akan melupakan bagaimana perintah shalat lima waktu diberikan oleh Allah. Selain itu, yang jarang ditinggalkan pula, adalah cerita Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam yang melihat surga dan neraka. Bagaimana orang bisa masuk surga, dan sebaliknya.



Tetapi, Pak Cah hanya membahas permasalahan di atas, selintas saja. Yang beliau bahas, dan termasuk ilmu baru bagi saya, adalah tentang dzikir ghirosul Jannah; tanaman surga. Terus terang, saya baru dengar istilah ini. Ternyata yang dimaksud adalah kalimat 
                          ู„ุง ุญูˆู„ ูˆู„ุง ู‚ูˆู‡ ุงู„ุง ุจุงู„ู„ู‡



Makna dzikir tersebut, pada intinya adalah 


MasyaaAllah, tabarakallah.


Setelah penjelasan awal tentang Isra'Mi'raj tersebut, Pak Cah mulai memaparkan tentang bagaimana menanamkan cinta ibadah kepada anak. Menurut beliau, yang utama adalah dengan mengisahkan peristiwa Isra' Mi'raj tersebut kepada anak-anak kita. Melalui kisah tersebut, kita mengajarkan hikmah Isra'Mi'raj kepada anak. 


Adapun hikmahnya adalah sebagai berikut:
1. Kekuasaan Allah yang tiada terbatas
2. Kemuliaan dan keutamaan Nabi shallallahu'alaihi wasallam dibandingkan dengan nabi-nabi lainnya
3. Keutamaan Masjidil Aqsha, yaitu
     - sebagai kiblat pertama umat Islam
     - disebut namanya di dalam Al-Qur'an
     - dimuliakan oleh Allah dengan Isra' Mi'raj
4. Cara beriman yang benar, yaitu  
     mengimani tanpa mempertanyakannya. 
     Dalam mengimani sesuatu yang sudah      
     menjadi kewajiban seorang muslim, tidak 
     harus dengan akal karena akal manusia 
     itu terbatas. 
5. Kewajiban shalat 5 waktu
6. Kedahsyatan dzikir ghirosul jannah.


Selain dengan berkisah, menanamkan cinta ibadah kepada anak, harus sudah dimulai dan dipersiapkan jauh-jauh hari, bahkan sebelum anak itu lahir. 
1. Dengan memilih istri/suami yang shalih
2. Berdoa sebelum melakukan jima'
3. Saat hamil, janin biasanya diperdengarkan dengan alunan murottal
4. Saat anak lahir, dikumandangkan suara 
     azan dan iqamah di kedua telinganya. Hal 
     ini dimaksudkan untuk mengenalkan nilai-
     nilai tauhid, cinta ibadah, dan cinta 
     kebenaran sejak lahir.
5. Bacakan kisah Rasulullah shallallahu'alaihi
     wasallam, kisah keteladanan para nabi 
     dan rasul, juga para sahabat serta salafus 
     shalih.







Saturday, February 19, 2022

Kerinduan

Bismillah


Sudah hampir 8 bulan, saya hanya di rumah, tidak mengajar lagi. Enam bulan pertama, semua terasa menyenangkan. Di rumah, bercengkerama dengan keluarga, antar jemput anak sekolah, menjadi aktivitas yang menyenangkan. Ketika ada teman yang bertanya, "Bosankah?" Dengan bangga, saya jawab, "Tidak." Waktu saya benar-benar terisi dengan kesibukan baru di rumah. Bebas dari segala tugas guru.


Namun, setelah lewat satu semester, ada yang bergolak di dalam dada. Rasa jenuh mulai datang tanpa permisi. Hari-hari mulai terasa membosankan dan tidak produktif. Banyak waktu terbuang sia-sia, unfaedah. Astaghfirullah.


Dan, kerinduan itu mengusik ketenangan selama ini. Serapi apa pun saya menyimpan kenangan saat mengajar, ternyata bobol juga pertahanannya. Rasa rindu itu semakin melesak-lesak, ingin tersampaikan. Saya coba untuk meredamnya dengan doa. Justru air mata yang tak bisa ditahan. Benar-benar rindu yang menyiksa.


Rindu bertemu teman-teman guru, bercanda, berdiskusi. Rindu suasana AHIS yang nyaman, meskipun tugas tak pernah ada selesainya. Rindu murid-murid, bercanda dan bermain. Rindu semuanya ....


Tapi, apalah dayaku. Hasrat hati ingin kembali mengajar, apa daya tak ada izin dari suami. Belum, belum ada izin. Berharap, tahun ajaran baru nanti, bulan Juli, sudah boleh mengajar lagi. Rasanya, hidup saya lebih bermakna bila dipakai untuk mengajar. Daripada di rumah, kebanyakan tidur. Astaghfirullah.


Keputusan untuk di rumah saja ini, berawal dari suami yang melarang saya untuk mengajar. Saat itu, saya dengan suka cita menyambut keputusan itu. Bahagia rasanya, bisa terbebas dari tugas-tugas yang kadang membuat stress. 



Saat mengajukan pengunduran diri kepada kepala sekolah, ternyata beliau tidak mengizinkan. Alasan bahwa suami yang meminta saya untuk di rumah saja, tidak usah mengajar, tidak diterima oleh beliau. Lalu saya sampaikan bahwa saya resign karena ingin mengurus si bungsu. Eh, beliau malah meminta si bungsu dipindah saja sekolahnya ke AHIS. 


Ya, meskipun sekolah di AHIS adalah sesuatu yang menyenangkan, tetapi bukan pilihan terbaik. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, salah satunya masalah dana. Tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sedangkan kakak-kakaknya juga membutuhkan dana yang lumayan banyak.


Akhirnya saya ajukan alasan, bahwa ibu mertua sakit dan tidak bisa apa-apa. Kalau suami ada keperluan keluar rumah, ibu tidak ada yang menjaga. Maka, saya harus resign. 


Untuk alasan yang terakhir, kepala sekolah mau menerima. Tetapi, beliau menyarankan saya agar mengajukan cuti saja. Cuti tanpa tanggungan selama setahun. Artinya, saya tidak mendapatkan gaji. Tetapi, alhamdulillaah, untuk BPJS, masih ditanggung sekolah. Alhamdulillah.


Jadilah sekarang, saya cuti. Masih harap-harap cemas, apakah setelah setahun ini, bisa mengajar kembali. Bisa bertemu dengan rekan-rekan guru dan juga para siswa. Kembali berkutat dengan tugas-tugas administrasi, yang ternyata mulai saya rindukan. Dan, ternyata, tugas-tugas itu yang membuat pikiran saya tetap bekerja dan produktif. Tidak seperti sekarang.



Sekarang ini, saya merasa tingkat kecerdasan saya berkurang, termasuk daya pikir. Mungkin karena jarang digunakan untuk berpikir. Kalau mengajar kan, saya banyak berpikir. Mencari bahan ajar, menyusunnya, mengoreksi hasil pekerjaan siswa, mencari metode mengajar yang cocok untuk siswa, dan lain-lain. 



Ternyata kesibukan yang dulu sempat saya hindari dan tidak saya sukai, sekarang begitu saya rindukan. Walaupun begitu, saya harus tetap bersyukur bagaimana pun keadaan saya. Berada di rumah, InsyaaAllah juga banyak hikmah yang saya dapatkan. Paling tidak, bisa menikmati masa-masa bersama anak-anak dan suami. Sesuatu yang dulu sangat jarang saya nikmati karena pergi mengajar pagi-pagi, pulang sore. Itu pun dalam keadaan lelah. Yang terpikir hanyalah, bagaimana bisa istirahat. 


Alhamdulillah 'alaa kulli haal. Semua harus disyukuri karena pasti ada hikmahnya.

Wednesday, February 16, 2022

Es Krim Perdamaian

                       Source: Google


Bismillah


Tahun ini si bungsu duduk di kelas 5. Hampir sama dengan keempat kakaknya, masa-masa di kelas 5 adalah masa ujian bagi saya, ibunya. Mungkin karena mereka mulai mendekati masa puber, remaja, istilah umumnya. Sebenarnya dalam Islam tidak ada istilah remaja karena begitu meninggalkan masa anak-anak, kita akan langsung baligh, dewasa. Tetapi, masyarakat kita sudah terbiasa menyebut masa peralihan antara anak-anak dan dewasa ini dengan kata "remaja".


Saat berada di kelas 5, usia anak-anak sekitar 10-11 tahun. Di masa ini, emosi mereka cenderung tidak stabil; mudah ngambek bahkan marah. Dan, seringnya, saya jadi baper. Sering merasa sakit hati dengan kata-kata ataupun tingkah laku mereka. 


Bila ada kesalahan yang dilakukan, lalu saya tegur, mereka tidak terima. Kadang malah bicaranya lebih keras. Astaghfirullah. Di sini, saya merasa gagal sebagai ibu. Kok mereka belum bisa menghargai orang tuanya, terutama ibunya? Gimana nggak nangis๐Ÿ˜ญ


Tetapi, akhirnya saya mendapat pencerahan saat mengikuti Webinar Self Love dengan Bunda Poppy Dian dari komunitas Proparent. Beliau pun pernah merasa seperti yang saya rasakan itu. Namun, respons beliau lebih bijaksana. Kalau saya kan, malah melow.


Menurut beliau, saat menghadapi tingkah laku atau ucapan anak yang tidak sesuai ekspektasi kita, seharusnya kita jadi bersyukur. Bersyukur karena Allah berikan kesempatan kepada kita untuk bisa mendidik dan mengarahkan mereka. Dan itu ladang pahala buat orang tua. Kalau anaknya udah shalih, udah pinter, udah sempurna lah, istilahnya. Lha, kita sebagai orang tua, ngapain dong? 


Alhamdulillah, selalu ada pengetahuan dan wawasan baru saat kita mau belajar. Meskipun belajar dari seseorang yang jauh lebih muda dari kita. Ya, Bunda Poppy ini masih muda. Malu? Enggak, InsyaaAllah. Belajar itu dari siapa saja. Jangankan kepada yang lebih muda. Belajar dari siswa saja, sering saya lakukan. 


Nah, kembali ke masalah anak-anak di usia kelas 5. Saat ini, yang sedang berada dalam fase itu adalah si bungsu. Kalau sudah ngambek, bikin hati capek. Dia yang biasanya rajin, peduli, jadi sosok yang menyebalkan. Akhirnya saya abaikan saja, setelah diajak bicara juga nggak mempan. 


Seperti hari itu. Sebenarnya dia ngambek sama kakaknya. Tapi karena beraninya cuma sama uminya, jadi ngambek ke uminya. Barang-barang di kamar dibuat berantakan. Bahkan, meja laptop pun jadi sasaran, sampai saya khawatir laptopnya jatuh. Laptop cuma satu, kalau rusak, gimana, coba?


Ditegur, malah makin menjadi-jadi. Akhirnya saya tinggal saja melanjutkan pekerjaan rumah yang belum tuntas. Ternyata, dia betah juga ngambeknya. Siang, masih belum berubah. Sore, sama saja.


Menjelang malam, dia datang dengan sebuah es krim di tangan. "Untuk Umi," katanya, "maafin aku ya mi." 

MasyaaAllah, begini cara dia gencatan senjata ๐Ÿ˜.
Yah, langsung saja saya peluk dan hujani dia dengan ciuman. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Semoga engkau menjadi anak shalih dan qurrota a'yun umi Abi ya Nak. Aamiin yaa mujibassaailin ๐Ÿคฒ๐Ÿป.

Friday, February 11, 2022

Apa Prioritasmu?

Bismillah


Baru kali ini saya bisa menyimak dan mengikuti langsung pemaparan Bu Septi, pendiri Ibu Profesional, meskipun hanya melalui Zoom. Padahal sudah lama mengenal beliau di dunia maya, melalui sepak terjang beliau di Ibu Profesional. Sebuah komunitas yang membuat saya kagum, tapi tidak bisa bergabung di sana.


Alhamdulillah, meskipun saya bukan anggota IP, saya bisa ikut salah satu kegiatannya, KLIP (Kelas Literasi Ibu Profesional). Nah, melalui KLIP inilah, saya bisa bertemu Bu Septi secara virtual. 


Baru beberapa menit berbicara, kata-kata beliau langsung sukses menampar harga diri. (Kata-katanya terlalu lebay, ya๐Ÿคญ). Ya iya, secara, saya lumayan tersinggung karena ... Karena ketidakkonsistenan saya dalam menulis.


Apa sih, kata-kata Bu Septi itu? 
Kata beliau, kita bisa menulis di KLIP ini, hanyalah masalah PRIORITAS. (Saya lupa kata-kata persisnya. Yang jelas, intinya seperti itu. PRIORITAS) 


Mengapa prioritas? Karena, untuk bisa menulis setiap hari seperti yang diminta KLIP, kita harus punya skala prioritas. Untuk bisa menulis dengan konsisten, masalahnya bukan pada ada waktu atau tidak, ada ide atau tidak. Tetapi, pada adakah kita memprioritaskan aktivitas menulis dalam agenda harian kita. Kalau kita sudah memprioritaskan, InsyaaAllah tidak akan ada kendala yang berarti.


Nah, ternyata ini masalah saya. Selama satu setengah bulan ini, saya kesulitan untuk menulis. Alasannya sih, sepertinya, ngada-ngada. Pas di awal bulan Januari, rasanya nggak ada waktu karena anak-anak sedang libur, jadi sayang kalau mereka diabaikan. Padahal kan, nulis nggak sampai berjam-jam. Nah, itulah, alasan yang mengada-ngada.


Setelah anak selesai liburan, muncul alasan baru: susah cari ide menulis. Tambah ngasal kan, alasannya. Memang kalau udah males itu, ada aja alasannya. Nggak masuk akal!!!



Sekarang, setelah mendengarkan materi Bu Septi yang baru sesi pembukaan, saya langsung sadar akan kesalahan saya selama ini. Terima kasih Bu Septi. Dan ... Hingga detik ini, ternyata masih sulit untuk menjadikan menulis sebagai salah satu kegiatan yang harus diprioritaskan. Harus berjuang mengalahkan hawa nafsu malas!!!


Pemaparan berikutnya dari Bu Septi membuat saya benar-benar merasa menjadi orang yang paling bodoh, nggak bermanfaat, nggak produktif. Huh. Kasihan banget, diri ini. Gimana mau masuk surga, coba?


Jadi, Bu Septi itu kegiatannya seabrek-abrek, sampai-sampai dibuat jadwal per jam. Bahkan beliau bisa menolak tamu, bila itu akan mengganggu jadwal beliau. MasyaaAllah. Produktif sekali, kan? Sedangkan saya? Astaghfirullah.


Oya, bagi yang belum tahu tentang KLIP, saya kasih bocoran sedikit ya. Sedikit aja, nih. Jadi, di KLIP ini, kita belajar menulis (khususnya saya), meskipun yang sudah pro juga banyak. Mereka keren-keren, sudah punya buku solo, tapi masih mau belajar.


KLIP ini dilaksanakan selama satu tahun. Nanti yang lulus akan diwisuda dan mendapatkan sertifikat. Nah, supaya lulus, ada syaratnya. Di antaranya, setiap bulan, kita harus setor tulisan sebanyak 10 hari agar bisa mendapatkan badge "GOOD". Yang setor 20 mendapatkan "EXCELLENT". Yang setor sebulan penuh atau 30 mendapatkan "OUTSTANDING". 


Selain syarat di atas, jumlah kata dalam tulisan kita pun sudah ditentukan. Untuk bulan ini, minimal 300 kata. Nanti di sesi berikutnya akan ditambah lagi jumlah minimalnya. 


Tahun lalu saya gagal karena dua bulan berturut-turut tidak menyetorkan 10 tulisan. Jadinya, kena DO deh. Tapi saya pernah lulus lho, pada tahun 2020. Nah, kami yang lulus pada tahun tersebut, bersama-sama membuat buku antologi. Sekarang sedang dalam proses menuju ke percetakan. Doakan ya, semoga lancar dan laris manis. 


Kalau mau info lebih detail tentang KLIP, bisa intip IG-nya ya: Kelas Literasi Ibu Profesional. Atau di grup Facebook.

Wednesday, February 2, 2022

Menulis Lagi

Bismillah



Sudah lama rumah ini diabaikan, dianggurin, disisihkan. Bukannya sudah tak sayang. Hanya, pemiliknya sedang kehabisan ide. Pikiran rasanya mentok, buntu. Ide tulisan seperti hilang dari permukaan bumi. Padahal kalau diniati, pasti ada yang bisa dituangkan dalam kata.


Bukannya tak pernah berusaha, namun, entahlah. Saat ini sedang kecanduan baca novel di aplikasi dan grup Facebook. Berjam-jam betah membaca, walau dini hari telah menghampiri. Padahal sudah gabung juga di KLIP biar semangat. Tapi kok ya, berat untuk memulai. Harus dipaksa!!!


Bismillah ... Mulai hari ini, semoga bisa rutin menulis setiap hari. Malu rasanya, mengaku penulis, tetapi hampir tidak pernah menulis.


Ternyata, benar-benar butuh perjuangan berat untuk mulai menulis. Melanjutkan paragraf ini saja butuh waktu 12 hari. Astaghfirullah. Otak ini apakah sudah terkena penyakit malas atau apa? 

Sejak di rumah, diri ini bukannya makin produktif menulis, malah nggak menghasilkan apa-apa. Astaghfirullah. Ternyata di rumah saja malah membuat otak pasif. Padahal saat masih aktif mengajar, dengan waktu yang sempit dan terbatas, aku masih bisa menulis. Sekarang, banyak waktu malah nggak ada yang ditulis. Astaghfirullah, ampuni hamba, ya Allah.


Entah mengapa, akhir-akhir ini, semangatku turun drastis, setelah enam bulan di rumah. Jualan online yang selama ini aku tekuni, mulai kendor. Memang sih, salah satu faktornya karena hanya punya sedikit modal. Tapi, yang nggak butuh modal pun, aku juga mulai kurang semangat. Ya, padahal menjadi afiliasi Kelas Pawon hanya butuh modal pede untuk japri orang-orang. 

Aku hanya lebih suka baca novel. Memang sih, awalnya ada niat, dari baca novel itu, aku bisa bikin tulisan berupa review tentang novel tersebut. Tapi ya, itu tadi. Baru sebatas keinginan, belum terwujud. Rasanya kok, ide menulis itu menguap entah ke mana. 


Bulan kemarin, aku hanya punya satu tulisan, pada tanggal 1 Januari. Setelah itu, blaaaas.... Enggak tahu deh, apa aku masih bisa melanjutkan KLIP. Belum dicek. Mudah-mudahan masih bisa. Hanya saja, menulis di atas 300 kata itu, lumayan juga. 


Bismillah, mudahkan hamba ya Allah.
Hamba ingin bisa memberikan banyak manfaat kepada orang lain, meskipun hanya melalui tulisan. Semoga bisa menjadi amal jariyah, aamiin yaa rabbal'aalamiin ๐Ÿคฒ๐Ÿป.

Saturday, January 1, 2022

Teman

Bismillah


"Alhamdulillah, aku dapat temen yang shalih-shalih, Mi," cerita bujangku membuat nyes hatiku. Betapa tidak, waktu pertama kali datang ke pondok pesantrennya, kami sempat ragu. Masalahnya, pondok tersebut masih kecil, jalanannya sempit -hanya muat satu mobil-, tempat parkirnya apalagi. Benar-benar seadanya. Kata teman yang merekomendasikan pondok itu, lokasinya benar-benar di kampung. Tapi, kok ya begitu amat, ya?


Namun, begitu ngobrol dengan Ustadz pemilik pondok, ada sedikit harapan tumbuh. Beliau sudah memiliki "qiraah sab'ah". MasyaaAllah. Saat itu, dalam hati sempat terlontar, biarlah gedungnya sederhana, yang penting ustadznya luar biasa. Ya, bagi kami yang membaca Al-Qur'an saja masih harus banyak belajar, mendengar beliau sudah menguasai "qiraah sab'ah", itu sesuatu yang sangat luar biasa. Amazing!!!


Dan, ketika pertama kali menjenguk ke pondok, kami semakin kagum dengan sang Ustadz. Waktu Mufid, bujangku sakit skabies, beliau langsung tahu.

"Lenganmu kenapa, Fid?" tanya beliau saat melihat benjolan merah di siku Mufid. Padahal santrinya tidak hanya satu lho, tapi puluhan. Jeli sekali pandangan mata beliau. Itu di antara perhatian istimewa beliau. Ya, menurutku, istimewa. Karena di antara kakak-kakaknya yang juga mondok, belum ada yang mendapatkan perhatian seperti itu. Biasanya, santri bermasalah, baru diperhatikan. Walaupun tidak semua begitu. Mungkin karena saking banyaknya santri, jadi tidak bisa diperhatikan satu per satu.


Nah, saat liburan ini, semakin banyak nilai positif yang saya dengar dari Mufid. Salah satunya tadi, dia mempunyai teman-teman yang shalih, yang membuat dia semakin semangat menghafal dan beribadah kepada Allah. Bahkan, dia sering puasa Daud. MasyaaAllah, saya yang sudah setua ini saja, belum pernah melakukannya. 


Benar sekali ajaran Islam ini dalam mengarahkan umatnya untuk mencari teman yang baik. Berteman dengan penjual minyak wangi, kita akan ketularan wanginya. Sebaliknya, berteman dengan tukang pandai besi, akan terkena cipratan apinya. 

“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.[HR. Bukhari dan Muslim]

(Sumber: https://muslim.or.id/45173-hadits-tentang-sahabat.html)

"Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman" [HR. Abu Dawud)

(Referensi: https://almanhaj.or.id/3480-teman-bergaul-cerminan-diri-anda.html)


Bi'ah atau lingkungan yang baik, terbukti sangat menentukan bagaimana diri kita. Lingkungan yang baik mendukung dan menguatkan kita untuk selalu berbuat baik. Apalagi bagi anak-anak yang baru beranjak dewasa. Teman menjadi salah satu panutan mereka setelah orang tua. Bahkan, perkataan teman lebih mereka dengarkan daripada orang tua.


Itulah salah satu tujuan kami memasukkan anak-anak ke pesantren, agar mereka mendapatkan lingkungan yang baik dan kondusif. Namun, mencari pesantren yang ideal, tidak semudah memilih pisang goreng. Kadang informasi yang kita dapatkan tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Yang kedengarannya baik, ternyata belum tentu juga. Di sisi lain, lembaganya bagus, tetapi ternyata santrinya kurang baik. Ini terjadi mungkin karena memang para santri itu berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Dan, motivasi mereka untuk masuk pesantren pun beragam. 


Alhamdulillah, Mufid beruntung mendapatkan pesantren yang baik, dari sosok para ustadznya, dan juga teman-temannya. Alhamdulillah, jadinya, kami sebagai orang tua tidak terlalu khawatir lagi. Selama ini, kami khawatir kalau dia tidak betah karena fasilitas pondoknya benar-benar seadanya. 


Oya, nilai positif pesantren ini, Amal Jama'i, namanya, adalah sering mengajak para santri untuk kegiatan outing, seperti main bola, jalan-jalan di alam terbuka, berenang, lomba 17 Agustus, dan yang terakhir rihlah ke pantai. Kegiatan ini sangat cocok bagi para santri yang jiwa mudanya sedang butuh eksplorasi untuk memuaskan rasa ingin tahu sekaligus menyalurkan energi mereka. Dan, satu lagi. Ternyata mereka juga mengadakan acara silaturahmi ke keluarga santri yang tinggalnya dekat dengan pondok.

Tentunya, kegiatan-kegiatan tersebut sangat menyenangkan karena bisa digunakan sebagai refreshing, biar mereka tidak suntuk di pondok. Alhamdulillah, baarakallahu fiikum.




Sunday, November 28, 2021

Kenangan Isoman

Bismillah


Hampir satu bulan kami menjalani isoman (isolasi mandiri) karena terkena covid-19. Berawal dari abinya yang positif pada tanggal 23 Juni. Lalu menyusul saya dan Mufid pada tanggal 27. Dua hari kemudian Nisa, Nafa, dan ibu juga positif.


Alhamdulillah, ada ruangan yang bisa digunakan isoman, sehingga tidak perlu ngontrak rumah atau ke rumah sakit. Ruangan itu terletak di sisi kiri rumah, antara dapur bersih dan dapur kotor. Tidak tertutup rapat karena bagian depan dan belakang belum ada temboknya. Jika malam tiba, dingin. Namun bila siang hari panas karena sinar matahari langsung masuk tanpa ada penghalang. Selain itu juga karena atapnya terbuat dari asbes. 


Karena ruangan terbuka, selain harus melawan dingin, kami pun harus tahan dengan gigitan nyamuk yang kadang membuat kami sulit tidur. "Obat nyamuk" bakar pun sudah dinyalakan di beberapa tempat, tapi tetap saja masih berseliweran. Alhamdulillah, meski begitu kami tetap bersyukur karena masih bisa bersama-sama dan bisa serumah dengan anak yang tidak terpapar. Tenang rasanya.


Kegiatan selama isoman terbilang cukup membosankan. Meski di belakang kami ada kebun yang bisa digunakan untuk bermain, tetap saja ada kebosanan. 


Untuk mengusir kejenuhan, Mufid dan Nafa berinisiatif membersihkan kolam ikan yang sudah kering. Berdua mereka bekerja sama menyikat lantai dan dinding kolam. Membawa air dari tengah kebun dan menuangkannya ke kolam. Tak ada rasa letih yang terlihat dari wajah mereka. Justru riang gembira mereka melakukan itu semua. Padahal, saya yang menyaksikan merasa khawatir kalau mereka kecapekan dan sakit lagi.


Alhamdulillah mereka baik-baik saja. Justru beberapa hari setelah dinyatakan negatif, mereka malah sakit campak. Sampai-sampai kakaknya berpikir, ini karena mereka membersihkan kolam. Mungkin kecapekan atau terkena kuman yang ada di sana. Tapi ternyata, kakaknya, Hakim, juga sakit. Dan, beberapa hari kemudian kami dapat kabar bahwa tetangga pun sakit campak. 


Selama isoman, kegiatan kami jadi sangat teratur dan disiplin. Shalat di awal waktu, makan tiga kali sehari dan selalu makan bersama, berangkat tidur pun bersama-sama. Satu tidur, yang lain juga tidur. Berbeda dengan keseharian saat keadaan normal. Makan sendiri-sendiri, karena laparnya tidak bersamaan. Kadang juga ada yang malas makan. Hanya shalat yang, alhamdulillah, selalu berjamaah. 


Alhamdulillah, akhirnya selesai sudah isoman. Dan, alhamdulillah kami semua sembuh dari covid-19. Terima kasih ya Allah atas segala nikmat yang Engkau berikan kepada kami. Semoga kami menjadi hamba yang pandai bersyukur. Aamiin yaa rabbal'aalamiin ๐Ÿคฒ๐Ÿป