Friday, February 7, 2020

Ujian



Bismillaah


Pernahkah kau merasa
Sangat ingin memeluknya
Namun, jauh ia dari rengkuhan
Pernahkah kau rasa
Tak ingin melihatnya meski sekejap
Tapi, hadir selalu ia di pelupukmu

Kadang yang kau suka
Begitu sulit tuk diraih
Sedangkan yang kau benci
Selalu hadir menyapa
Inilah ujian
Menguji keteguhan dan ketegaran
Akankah konsisten kan terjaga
Atau kelemahan yang mencuat
Namun yakinlah
Dia tak kan menguji
Di luar batas kemampuan hamba
Itulah yang kuyakini
Hingga detik ini kudapat bertahan
Hingga saat ini kudapat melangkah
Bersama ujian itu
Kuyakin
Allah akan menurunkan pertolongan-Nya
InsyaaAllah

Thursday, February 6, 2020

Harta yang Sesungguhnya

Bismillaah

Hari ini, alhamdulillaah, dapat teguran lagi dari Allah. Astaghfirullah, betapa diri ini banyak melakukan kesalahan dan dosa.

Sore ini, saya dan teman-teman akan membezuk salah seorang sahabat yang sedang diopname. Biasanya kami patungan untuk sekadar meringankan beban yang sedang sakit. Saya sudah berniat ingin bersedekah sedikit saja karena memang uang yang saya miliki juga pas-pasan. Sedangkan kebutuhan masih sangat banyak.

Sebelum membezuk, kami sempatkan untuk membaca tafsir surat Al Muzzammil ayat 19-20. Nah, di sinilah saya merasa mendapat teguran dari Allah. Di bagian akhir ayat 20, berbunyi:

... وَاَ قْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا ۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَ نْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ هُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًا ۗ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"... dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Yang dimaksud dengan pinjaman yang baik adalah sedekah dan zakat. Dalam surat Al Baqarah ayat 245 disebutkan bahwa barang siapa memberikan pinjaman kepada Allah, maka Allah akan membalasnya dengan berlipat ganda.

Allah SWT berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗۤ اَضْعَا فًا کَثِيْرَةً ۗ وَا للّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُطُ ۖ وَ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

"Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan."
(QS. Al-Baqarah: Ayat 245)

Lalu dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya "Sesungguhnya harta seorang di antara kalian adalah apa yang kalian berikan. Sedangkan harta pewarisnya adalah yang ditahannya." (HR. Al Bukhari)

Berarti, harta kita yang sesungguhnya adalah harta yang kita infakkan di jalan Allah. Sedangkan harta yang kita simpan, yang kita tabung, nantinya akan menjadi milik ahli waris kita, bukan milik kita. Astaghfirullah. Sungguh mendalam ilmu yang saya dapat hari ini. Seperti ditampar rasanya. Saya yang berusaha menahan-nahan harta yang cuma sedikit, ternyata itu tidak akan menjadi harta saya. MasyaAllah, alhamdulillaah. Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengingatkan hamba agar tidak pelit.
Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.

Wednesday, February 5, 2020

Baper

Bismillaah


Begini ya, rasanya dicuekin. Jadi baper. Gara-gara komenku di grup tidak ada yang menanggapi, aku sempat baper. Pengin left grup. Hadeuh. Baru kali ini terjadi. Kejadian langka buatku. Biasanya sih, aku juga cuek aja kalau nggak ada yang komentar. Tapi, mengapa ya, hari ini kok jadi sewot begini.

Saat aku sedang berpikir tentang tindakan apa yang harus aku lakukan setelah dicuekin, tetiba suami cerita tentang seorang tetangga yang, menurutku sih baper juga. Tetangga itu biasanya kalau lewat di depan rumah, dan kebetulan ada suami sedang duduk di teras, dia selalu berteriak menyapa suami sambil terus melaju dengan motornya. Nah, sudah beberapa hari ini, setiap beliau lewat kok, sepi-sepi saja. Ada apa?
Ternyata, salah seorang anaknya baru saja diopname, dan kami sebagai tetangganya tak tahu menahu sehingga tidak membezuk. Suudzon-nya suami, mungkin bapak itu kesal dengan kami. Dan, apa kata suami? "Kayak anak kecil aja."


Duh, mak jleb, denger kalimat itu. Kok pas banget dengan suasana hatiku saat ini. Berarti aku juga kayak anak-anak ya? Dicuekin di grup, lalu pengin keluar dari grup.
Hmm ... Indah sekali cara Allah menegurku. Ternyata nggak boleh ya, sedikit-sedikit baper. Sedikit-sedikit ngambek. Kayak anak kecil. ^_^

Tuesday, February 4, 2020

JSR




Bismillaah
Pertama kali mengenal JSR, saya tidak terlalu tertarik. Apalagi saat melihat menu dietnya. Wah, nggak banget deh! Berat buat saya. Tapi, saat melihat sebuah video dengan judul kira-kira, "Lakukan ini agar hilang ngantuk dan pegal-pegal", saya langsung tertarik dan penasaran. Ini saya banget. Sudah lama, tepatnya sekitar 4 bulan terakhir, rasa kantuk dan pegal-pegal saya sudah sangat parah. Hampir setiap pagi, saat mengajar tahfidz atau tilawah, saya pasti terkantuk-kantuk. Selain itu, saya juga merasa badan sakit semua bila malam. Mungkin ini efek mengajar di lantai 3. Setiap hari naik-turun tangga, ternyata sangat melelahkan. Setiap malam, badan sakit dan pegal semua, seperti habis dipukuli.
Nah, lewat video itu, sang pembicara memberikan challenge untuk tidak makan nasi putih, semua makanan yang menggunakan minyak goreng dalam proses memasaknya, tepung, dan gula pasir dalam waktu sepekan. Kata beliau, dengan melakukan itu, InsyaaAllah pegal-pegal dan mengantuk akan hilang. Kecuali memang di malam hari waktunya tidur.
Dengan semangat 45, saya ikuti challenge itu. Alhamdulillaah, memang benar, meskipun tidak 100%, tetapi pegal-pegal dan rasa kantuk saya berkurang banyak. Terutama pegal-pegal. Sekarang saya merasa badan saya lebih enak dan tidak mudah capai. Alhamdulillaah, atas izin Allah, ini bisa terjadi.
Nah, apa sih JSR itu?
JSR kepanjangan dari Jurus Sehat ala Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Istilah ini, sepengetahuan saya, dipopulerkan oleh dr. Zaidul Akbar, pembicara yang ada dalam video tersebut. MasyaAllah, sangat bermanfaat sekali ilmu yang diberikan oleh beliau itu. Manfaatnya luar biasa. Semoga menjadi amal jariyah beliau, aamiin.

Awalnya, saya sempat ragu juga untuk mengikuti program ini karena saya punya penyakit maag. Karena penyakit ini, tiap pagi saya harus sarapan nasi. Kalau perut tidak diisi nasi, bisa dipastikan maag saya akan kambuh. Dan, kalau sudah kambuh, akan sangat menggangu aktivitas karena saya akan merasa pusing dan muntah. Atas hidayah Allah, saya mengganti nasi dengan kentang rebus. Karena saya percaya dengan ilmu yang disampaikan oleh dokter tersebut, alhamdulillaah dengan hanya makan kentang rebus, badan saya tetap fit.
Bonus lain dari JSR ini, berat badan saya juga turun. Setelah kurang lebih dua bulan menjalani diet ini, berat badan saya turun 6 kg. Alhamdulillaah. Selain itu, kalau perut lapar, saya tidak pusing atau muntah lagi. Kata dr. Zaidul, saat kita lapar, tubuh kita sejatinya sedang meregenerasi sel-sel yang rusak sehingga menjadi sehat kembali. Berarti, lapar itu membawa manfaat. Makanya, disarankan juga oleh beliau, selain melakukan JSR, kita juga harus rajin puasa Senin-Kamis dan ayamul bidh. Dengan melakukan itu, ditambah dengan berbekam sebulan sekali, InsyaaAllah kita akan jauh dari dokter dan rumah sakit, alias sehat wal afiat. Bonus lainnya, dengan JSR ini, InsyaaAllah kita akan terhindar dari penyakit degeneratif seperti diabetes, jantung, darah tinggi, dan kanker.
Ayo kita mulai hidup sehat untuk hidup yang lebih baik dan berkah. Aamiin ya rabbal'aalamiin




Monday, February 3, 2020

Ingin

Bismillaah

Inginku
Hanya Engkau di hatiku
Hanya Engkau di benakku
Hanya Engkau di setiap nafasku
Hanya Engkau di setiap langkahku

Inginku
Mengingat-Mu selalu
Menyebut-Mu tiada jemu
Merasai kasih-Mu tak terkira

Inginku
Tiada yang lain selain-Mu
Tiada yang kurindu selain Engkau
Tiada yang kunanti selain-Mu
Tiada yang kucinta kecuali Engkau

Inginku
Hatiku penuh asma-Mu
Lisanku hanya mengagungkan-Mu


Bilakah kan menjadi nyata?

Sunday, February 2, 2020

Kelas Milenial



                                                                       Sumber: Pixabay

Bismillaah




         Mengajar anak laki-laki sangat berbeda dengan anak perempuan. Kalau zaman saya sekolah dulu, anak perempuan terkenal dengan banyak bicara dan ngrumpi sehingga sering mengabaikan guru yang sedang mengajar. Tetapi sekarang, zaman sudah berubah. Anak laki-laki zaman sekarang justru lebih banyak bicara dan banyak gerak. Saat guru sedang menjelaskan pelajaran, mereka sering mengabaikan bahkan kadang-kadang sampai mengganggu konsentrasi teman yang lain. Berbeda sekali dengan zaman dulu. Mengajar anak laki-laki lebih membutuhkan kesabaran ekstra dan juga suara dan tenaga yang lebih kuat.
        

         Di sekolah tempat saya mengajar, kelas anak perempuan dipisah dengan anak laki-laki. Kami menyebutnya kelas akhwat dan kelas ikhwan. Ketika kita menjadi guru, maka harus siap untuk mengajar dua jenis kelas tersebut. Mengajar kelas akhwat merupakan sesuatu yang membahagiakan karena anak-anak perempuan cenderung kondusif dan tenang saat proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) berlangsung. Oleh karena itu, guru pun tidak terlalu ngoyo dalam berbicara dan memanejemen kelas. Berbeda dengan kelas ikhwan.


        Dulu, baru mau berjalan ke kelas ikhwan saja, rasa hati sudah tidak karuan. Ada rasa takut, khawatir kalau nanti suasana kelas tidak terkendali sehingga proses KBM tidak bisa berjalan dengan baik. Menjelang tahun ajaran baru yang lalu pun ada perasaan khawatir, bisa tidak ya, saya mengajar kelas ikhwan dengan baik. Anak-anaknya bisa diajak kerja sama tidak, ya. Begitu banyak tanda tanya dan kekhawatiran sudah menghantui pikiran, padahal masa belajar belum dimulai.


        Alhamdulillaah, setelah beberapa kali pertemuan dengan mereka, saya merasa menemukan chemistry-nya. Mengajar kelas ikhwan tidak menjadi sesuatu yang menyeramkan lagi, tetapi justru selalu ditunggu-tunggu. Kapankah bisa bertemu mereka?


        Tak ada lagi rasa kesal saat mereka berisik. Tak ada lagi rasa marah saat mereka lama dalam memahami pelajaran. Semua saya nikmati saja. Karena, ketika saya meminta mereka mendengarkan apa yang sedang saya jelaskan, mereka akan diam dan fokus. Memang sih, kadang-kadang ada satu-dua anak yang tidak fokus. Tetapi itu masih wajar. Mereka akan berisik saat mengerjakan tugas. Itu pun saya anggap wajar. Hanya perlu diingatkan, dan  mereka akan kembali fokus. Memang mengajar ikhwan terasa lebih variatif, karena mereka suka bercanda, suka ngobrol, dan suka bergerak ke sana ke mari. Namun, selama masih dalam koridor kewajaran dan bisa menuntaskan tugas, it’s ok.

Saturday, February 1, 2020

Menimba Ilmu Lagi

Bismillaah


Masih tentang berburu ilmu dengan Ustadzah Ely. Kata beliau, capaian ngaji kita itu harus meningkat. Ibarat orang kuliah, jangan mau menjadi mahasiswa abadi. So, kalau kita belajar ilmu agama Islam, alias ngaji, jangan hanya diam di tempat. Apa yang kita pelajari, harus terus bertambah. Dan apa yang kita pelajari jangan hanya berhenti pada diri kita. Ilmu yang sudah kita dapatkan, harus disebarluaskan kepada orang lain. Selain agar lebih bermanfaat, juga agar dakwah tidak berhenti pada diri kita. Meski tanpa kita dakwah akan tetap dan terus berjalan, alangkah ruginya kita kalau tidak bersama dakwah.



Inti materi yang kita pelajari saat mengaji adalah Al Qur'an. Oleh karena itu, harus ada target untuk bisa selalu menghafalnya. Kehadiran kita di setiap kajian rutin pekanan, jangan hanya diniatkan untuk menjadi pendengar yang baik. Menjadi pengumpul materi yang disampaikan oleh ustadz atau ustadzah kita. Ada yang lebih penting dari materi, yaitu Al Qur'an. Sesuatu yang wajib dilakukan saat pertemuan pekanan itu adalah tilawah dan menghafal Al-Qur'an. Ini harus selalu ada dalam agenda. Andai kita konsisten untuk menjalankan ini, menghafal Al-Qur'an seperempat halaman dalam satu pekan, InsyaaAllah dalam satu tahun kita sudah hafal satu juz. MasyaAllah.


Memang segala sesuatu tergantung kepada niat dan kesungguhan, tekad dan azam yang kuat. Untuk itu, kita harus berada dalam jamaah agar kita lebih kuat dan konsisten. Karena, amal yang dilakukan secara berjamaah akan terasa lebih mudah dibandingkan amal yang dilakukan sendiri.


Semoga kita bisa istiqomah untuk membaca dan menghafal Al-Qur'an, untuk menjaga Al Qur'an. Aamiin ya rabbal'aalamiin