Saturday, February 10, 2024

Deliang dan Dunia Literasi Kita

 

Sumber: https://www.sinergimadura.com/regional/29011734998/biografi-deliang-al-farabi-penulis-cilik-yang-menginspirasi-tanggal-lahirumur-alamat-orang-tua-pendidikan-karir-karya-penghargaan-ig-tiktok

 

 

 Bismillah

Tulisan ini merupakan menulis artikel dari webinar membuat artikel populer sekaligus seleksi untuk ditampilkan di Radar Edukasi. Semoga lolos, aamiin.

 

 

DeLiang, yang memiliki nama lengkap Muhammad Deliang Al Farabi, adalah putra pertama pasangan Ario Muhammad, PhD. dan Ratih Anggraini, Ph.D.. Pada usianya yang baru menginjak 11 tahun, DeLiang telah menerbitkan 40  buku berbahasa Inggris dan beberapa di antaranya berada di Top 15 Amazone. Keren! Tak heran bila ia dijuluki anak ajaib. Di saat kebanyakan anak seusianya masih sibuk dengan game online daripada membaca buku, apalagi menulis buku, DeLiang sudah berpenghasilan dari buku yang ditulisnya. Bagaimana dengan anak-anak seusianya? Apakah mereka juga sudah menerbitkan -minimal satu- buku?

Ternyata, baru sedikit anak yang sudah menerbitkan bukunya sendiri. Jangankan menulis buku, membaca pun sangat jarang yang suka. Sebagian besar anak sekarang lebih suka bermain game online atau menjadi Youtuber daripada membaca buku dan menulis. Padahal membaca buku itu sangat banyak manfaatnya, seperti yang sudah dibuktikan oleh DeLiang.

Kemampuan menulis DeLiang berawal dari kegemarannya membaca banyak buku dan mengembangkan imajinasinya. Sejak kecil, orang tuanya sudah membiasakan budaya literasi di rumah mereka. Baca buku dan diskusi adalah menu sehari-hari mereka. Sehingga, kosakata DeLiang berkembang pesat, begitu pula daya imajinasinya. Itulah yang kelak menjadi modal untuk menulis buku.

Dari sini, jelas sekali bahwa kemampuan menulis seseorang sangat berkaitan erat dengan seberapa banyak buku yang dibacanya. Semakin banyak bacaan, maka akan semakin kaya kosakata yang dimilikinya, sehingga mudah untuk dituangkan ke dalam tulisan. Ditambah lagi dengan kebiasaan diskusi. Itu pun semakin memperkaya kosakata sekaligus mengasah daya pikir.

Menurut Ario Muhammad, ayah DeLiang, ada tiga skill paling fundamental yang harus diajarkan kepada anak, yaitu menulis, public speaking, dan negosiasi. Ketiga skill ini bisa dilatih mulai dari membaca. Mengapa? Dengan membaca banyak buku, secara tidak langsung, anak akan belajar dan mengasah kemampuannya dalam tiga keterampilan tersebut. Walaupun, tentu saja, harus ada yang memotivasi dan memfasilitasi. Siapa? Orang tua terutama, dan guru pada umumnya.

Alhamdulillaah, pada proses pembelajran saat ini, literasi sudah menjadi salah satu kegiatan utama di sekolah. Ada anjuran untuk membaca buku selama 15 menit setiap pagi, sebelum memulai pembelajaran. Hal ini menandakan bahwa pemerintah sudah memahami betapa pentingnya melek literasi. Bila semua sekolah menerapkan ini, tidak mustahil akan lahir DeLiang-DeLiang baru yang akan menyemarakkan jagat literasi Indonesia. Dan, ini akan berdampak pada kualitas pendidikan kita.

Lalu, bagaimana membaca bisa menjadi pemicu lahirnya skill menulis, public speaking, dan negosiasi? Mari kita cermati apa saja manfaat membaca. Menurut Siti Marliah dalam artikelnya yang berjudul “Manafaat Membaca Buku sebagai Jendela Ilmu dalam Kehidupan” yang diunggah di Gramedia Digital, manfaat membaca adalah sebagai berikut.

1.             Membaca dapat mencerahkan imajinasi sehingga menjadikan seseorang menjadi pribadi yang kreatif. Itulah yang terjadi pada DeLiang. Di usia yang masih belia, ia sudah menghasilkan karya yang begitu banyak. Kalau bukan karena seorang yang kreatif, maka akan sulit menuangkan gagasan dan ide-ide yang ada di kepala.

2.             Membaca dapat memberikan perspektif pada dunia sekitar sehingga orang yang suka membaca buku-buku bermutu, cara berpikir dan berbicaranya pun bermutu. Ia memilki ide-ide yang brilian, yang kadang-kadang di luar dugaan banyak orang. Pola pikirnya pun sistematis, tidak acak-acakan.

3.             Membaca dapat membangun kepercayaan diri. Karena banyak membaca buku, maka seseorang akan memiliki wawasan yang luas sehingga ia akan lebih percaya diri. Seperti seorang guru. Bayangkan bila seorang guru malas membaca. Tentu akan kesulitan menyampaikan ilmu kepada peserta didik. Karena sedikit wawasan dan ilmu yang dimilki, maka akan menimbulkan rasa minder dan tidak percaya diri. Berbeda dengan guru yang rajin membaca buku. Tentunya banyak wawasan yang ia miliki sehingga berangkat mengajar pun dengan rasa percaya diri yang tinggi. Rasa percaya diri ini juga menjadi modal utama seseorang untuk berbicara di depan umum atau public speaking.

4.             Membaca dapat membantu mental dan emosional seseorang tumbuh dengan baik. Membaca itu membijakkan pikir dan melembutkan rasa. Banyak membaca, akan membuat seseorang lebih dapat mengontrol emosi saat bicara, menata kata-kata yang akan ia ucapkan, berpikir dengan lebih bijaksana, dan bertutur kata dengan lembut dan penuh kesopanan. Orang yang jarang atau bahkan tidak pernah membaca buku, cara berkomunikasinya pun kurang tertata sehingga sulit dimengerti oleh orang lain. Manfaat ini menjadi modal dasar dalam bernegosiasi.

5.             Membaca dapat membantu meningkatkan kemampuan menulis. Hal ini sudah dibuktikan langsung oleh DeLiang. Dengan banyaknya buku yang ia baca, maka, mudah saja ia menuangkan apa yang ada dalam pikirannya menjadi sebuah buku yang bisa dinikmati oleh banyak orang, bahkan mendunia. Apakah orang yang tidak atau jarang membaca buku tidak bisa menulis? Bisa. Mereka juga bisa menulis. Namun, prosesnya mungkin tidak akan semudah seperti mereka yang memang terbiasa membaca buku. Bagi yang rajin membaca buku, ide menulis akan mudah mengalir, merangkai kata-kata pun akan terasa mudah karena sudah terbiasa membaca rangkaian kata-kata di buku-buku yang ia baca.

Begitu banyak manfaat membaca. Sayang sekali, masih banyak anak Indonesia yang belum menyukainya. Betapa majunya pendidikan di Indonesia bila generasi mudanya suka membaca dan menulis. Literasi akan maju dan Indonesia akan memiliki generasi yang cerdas dan kritis.

Oleh karena itu, perlu dukungan dari semua pihak, terutama orang tua dan guru. Orang tua harus membudayakan baca buku daripada “baca” handphone. Bagaimana caranya? Sediakan buku-buku bacaan di rumah. Bagaimana kalau anaknya tidak mau baca? Orang tua lah yang harus memulai membacakan buku untuk anaknya. Selain dapat meningkatkan minat baca pada anak, kegiatan ini juga dapat menguatkan bonding antara orang tua dan anak.

Guru pun harus membudayakan literasi, minimal dengan membiasakan baca buku selama 15 menit sebelum pembelajaran. Setelah membaca, bisa dilanjutkan dengan menceritakan Kembali apa yang telah dibaca. Bisa juga dengan menuliskannya agar anak-anak juga belajar menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Semoga dengan demikian, anak-anak akan lebih suka membaca, yang kemudian diharapkan, mampu menulis dan berkarya juga seperti DeLiang.

 

 

Saturday, February 3, 2024

Reviu "Teruslah Bodoh, Jangan Pintar"


Judul buku: Tetaplah Bodoh, Jangan Pintar
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabakgrip 
Cetakan: 2024
ISBN: 
Tebal buku:


Bismillah


Novel ini sarat dengan kritik sosial berkaitan dengan apa yang sedang terjadi di Indonesia saat ini. Tentang pilpres, hilirisasi nikel, meledaknya smelter. Benar-benar merupakan potret Indonesia hari ini. 



Dengan latar belakang sebuah ruangan yang dijadikan tempat persidangan tertutup dan rahasia, novel ini memang bukan sekadar cerita hiburan. Membacanya, membuat kening kita berkerut dan emosi kita pun ikut meningkat. Ketidakadilan dan kesewenang-wenangan begitu nyata digambarkan dalam setiap paragrafnya. Tak heran bila novel ini ditandai dengan 18+. Bukan dalam arti mengandung adegan yang tidak senonoh, seperti kebanyakan produk lain yang menggunakan label itu, tetapi karena alur dan cerita novel ini memerlukan pemikiran orang dewasa. Untuk anak kecil, tidak cocok dan belum waktunya. Mending baca serial petualangan Bumi atau anak-anak Mamak.


Diawali dengan kisah anak-anak sebuah desa yang baru pulang dari lomba sepak bola antarkampung, cerita ini dari pertama sudah membuat kita penasaran. Apa hubungannya dengan judul? Tapi, ya memang begitu, Bang Tere Liye ini. Pandai membuat pembaca penasaran, sehingga ingin cepat-cepat menyelesaikan bacaannya. 



Kisah tentang proyek penambangan yang, ternyata banyak kisah pilu di baliknya. Proyek yang sekilas seperti mendatangkan berbagai macam keuntungan seperti modernisasi, lapangan kerja, dan perbaikan ekonomi. Tetapi kenyataannya tidak seindah dan semanis itu. Banyak cerita pilu di balik gemerlapnya hasil tambang dari bumi Indonesia yang kaya raya.


Salah satunya adalah tenggelamnya sang anak berbakat di kolam bekas galian tambang yang sudah dipenuhi oleh air hujan. Hal ini terjadi juga di kampung saya. Di sini, banyak danau bekas galian pasir yang tidak diberi pagar pengaman. Sudah beberapa orang yang tenggelam dan berakhir meninggal. Dan, pihak pemerintah tidak melakukan tindakan apa pun untuk mencegah agar kecelakaan seperti itu tidak terjadi lagi. 


Kalau di novel tersebut, ada upaya penyelidikan yang dilakukan polisi. Namun, harus terhenti karena ulah beberapa oknum. Dan, agar warga tidak mengusut terus, maka berbagai bansos dan sembako digulirkan. Agar warga diam. Hanya segitu harga nyawa seorang generasi penerus bangsa. 



Dan, beberapa kisah lainnya. Juga tentang tenaga asing yang mendapatkan gaji beberapa kali lipat dibandingkan tenaga lokal. Pun, tentang diskriminasi dalam perlakuan dan perlindungan tenaga kerja. Kok bisa ya? Orang asing lebih diutamakan daripada bangsa sendiri, yang notabene juga saudara sendiri. 


Yang paling menarik, tentang smelter yang meledak. Tentang harga nikel di pasaran dunia. Kok ya sama dengan berita yang sedang trending topic saat ini. Ketika membaca berita itu, otomatis otak ini langsung mengaitkannya dengan cerita di novel ini. Semoga dengan membacanya, banyak orang yang tercerahkan dan banyak pejabat yang sadar serta segera bertindak memperbaiki keadaan negeri ini. Aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻







Friday, February 2, 2024

Ustadzah Lusiana Rahmawati

Bismillah


Allah itu terlihat besar atau kecil tergantung seberapa dekat kita kepada Allah.
QS. Annisa: 9 
>>> jangan meninggalkan anak-anak dalam keadaan lemah
>>> Sampaikan kata-kata yang benar

Tugas: mempersiapkan anak untuk memfilter
Pendidikan yang berbekas: di rumah
Sekolah: 17%
Ortu harus punya bonding dengan anak, berikan role model
Semua harus diajarkan. Anak tidak mungkin bisa melakukan sesuatu dengan tiba-tiba.

Otak anak mengeras sebelum waktunya karena:
1. Pola asuh
2. Gadget >>> otak jadi diam dan tidak kreatif
     Seharusnya diberikan buku, gambar, bermain, dll.
8-15: penanaman adab
QS. Annur: 28

Ubah pernyataan dengan pertanyaan
- menurutmu apa manfaat pacaran?
Anak laki-laki menjadi teman ayahnya. Karena ayah adalah role model nya.
Anak shalih mampu menahan nafsu.
Orang pintar adalah mereka yang mempersiapkan kehidupan setelah mati.

- lakukan komunikasi efektif dengan anak. (Jangan menyalahkan, memerintah, membandingkan, membohongi, labeling, mengancam, menakut-nakuti, mengabaikan, berkata kasar)
- dengarkan anak
- quality time dengan anak: bermain, luangkan waktu bersama anak

Terapi pelukan
- menangis boleh, cengeng tidak boleh
- minta izin dulu saat akan memberikan nasihat
  - boleh umi kasih nasihat/saran?
Jika ingin menasihati anak laki, kenyangkan dulu perutnya, anak perempuan penuhi kebutuhannya
- ajarkan tanggung jawab
- menghormati orang tua
- berikan rasa nyaman

Orang tua harus dekat dengan Allah agar anak mau dekat dengan orang tua.

- berkomunikasi aktif

Tips mendidik anak:
* Be positive (fokus pada yang sudah dikerjakan anak, dan kelebihannya
* Be connective
* Be the role model >> konsisten


Jika ingin mempunyai anak shalih, shalihkan diri kita.
 Lakukan kebiasaan >>> pembiasaan >>> terbiasa
Imam Ghazali:
Hafalan >>> paham >>> yakin >>> percaya >>> membenarkan

* Didiklah anakmu cinta kepada Allah dan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam
* Cinta kepada kedua orang tuanya (guru)
* Cinta membaca Al-Qur'an >> menghafal dan mengaplikasikannya dalam kehidupan

Allah bersamaku الله معي
Allah melihatku الله نظري
Allah tujuanku الله

Kalau cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya, maka dia tidak mau pacaran.



Tuesday, January 30, 2024

Ojo Dumeh


Bismillah


Sejak mengajar kembali setelah cuti satu tahun, beberapa kesalahan yang cukup memalukan dan berakibat fatal, telah saya lakukan tanpa sengaja. Ini membuktikan betapa diri ini sangat jauh dari seseorang yang disebut baik, apalagi sempurna. Makanya, ojo dumeh. Jangan sombong! (sambil tepuk jidat sendiri 🤦)
Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullahal'adziim.


Tulisan ini dimaksudkan sebagai reminder, pengingat agar tidak terulang kembali. Juga, sebagai warning bahwa diri ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Jadi, tidak punya hak untuk berlaku sombong. Hanya Allah yang berhak, karena Dialah Yang Maha Segala, Yang Memiliki semua yang ada di bumi dan di langit. MaasyaaAllah.


Kesalahan pertama adalah saat menjadi panitia Family Day tahun kemarin (2022). Saat itu, saya sebagai perwakilan dari kelas 6, diminta untuk menyebarkan link pendaftaran kepada wali kelas lainnya. Eh, saya cuma share di grup kelas saya saja. Tiba hari terakhir pendaftaran, kok baru sedikit. Ternyata, saya belum melaksanakan tugas. Astaghfirullah, malunya, saya saat itu. Nggak becus, kerjanya.


Kesalahan kedua adalah saat pembagian rapor. Saya salah belum mengoreksi rumus nilai di format rapor. Alhasil, nilai anak-anak ada yang tidak sesuai dengan kesehariannya. Alhamdulillah, yang mengetahui pertama kali adalah rekan guru yang anaknya ada di kelas saya. Jadi bisa langsung diketahui dan langsung bisa diperbaiki. 


Saat pembagian rapor, saya harus menginformasikan kesalahan tersebut kepada seluruh wali murid. Satu per satu saya beritahukan kesalahannya, dan InsyaaAllah akan diperbaiki nanti saat masuk sekolah setelah liburan. 


Setelah selesai pembagian rapor, saat rekan-rekan guru yang lain pulang dan istirahat di rumah, saya masih harus menge-print ulang halaman rapor yang salah tadi. Sebenarnya bisa dilakukan nanti setelah liburan. Toh, rapornya juga sudah dibagikan. Tetapi, saya takut, kalau umur saya tidak sampai. Alhamdulillah, selesai juga. Sampai-sampai, saya pulang sekolah terakhir, kayaknya. 


Tahun ini, belajar dari pengalaman tersebut, saya ekstra hati-hati saat membuat rapor. Saya cek semua rumusnya, saya lihat rapor masing-masing anak, satu per satu. Banyak berdoa saat menge-print, semoga tidak ada yang salah.



Qadarullah, walaupun sudah hati-hati, bahkan sudah minta tolong teman untuk mengecek juga, ternyata masih ada yang salah. Bukan salah rumus atau salah ketik, tapi terlewat, belum diisi. Jadi, saat itu ada satu siswa yang nilainya 0. Saat dikonfirmasi kepada guru mata pelajarannya, beliau menyebutkan nilai tertentu. Alhamdulillah, jadinya tidak kosong lagi. Lalu, apa masalahnya?



Masalahnya, saat guru tersebut memberikan nilai, tidak langsung saya input di laptop. Jadinya saya kelupaan, dan sampai dibagikan ke orang tua, nilainya masih 0. Astaghfirullah. Ini jadi pelajaran penting buat saya, jangan menunda-nunda pekerjaan. Seharusnya, saat guru tersebut memberikan nilai, langsung dimasukkan ke rapor supaya tidak lupa.



Tetapi, selalu ada hikmah pada setiap kejadian yang kita alami. Lalu, hikmah apa yang terdapat pada peristiwa ini?
Sebenarnya bukan hikmah sih, tapi bisa juga dikatakan hikmah, tergantung persepsi kita, bagaimana memandang suatu masalah.



Hikmahnya, menurut saya, kejadian ini jadi diketahui oleh kepala sekolah. Tadinya, tak ada yang tahu selain guru yang bersangkutan dan saya. Tapi, karena keteledoran saya, jadi terungkap dan diketahui oleh beberapa orang, termasuk wali murid dan yayasan. 


Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran untuk semua guru. Jangan pernah memberikan nilai 0 kepada siswa. Kalau sampai ada, berarti salah guru. Ngapain aja selama ini? Kesannya guru tidak melakukan apa-apa untuk membuat siswa bisa mengikuti pelajaran dan mengerjakan tugas. Karena nilai tidak diambil dari hasilnya saja, tapi bisa dilihat dari proses dan usaha siswa. 



Semoga saya tidak melakukan kesalahan yang fatal lagi, setelah ini. Harus lebih hati-hati, lebih teliti, lebih banyak berdoa mohon bimbingan Allah, ojo dumeh. 
Bismillah, tolong bimbing hamba, ya Allah 🤲🏻


Sunday, January 28, 2024

Terhempas


Bismillah


Tadi pagi, ada pertemuan kedua GML (Guru Motivator Literasi). Hari ini adalah "Training of Coach". Dengan penuh semangat, saya bergabung di ruang Zoom beberapa menit sebelum waktunya. Acara dimulai pukul 08.30, tertulis di undangan. Semangat banget, ya. Iya. Dan, ternyata, di Zoom sudah banyak peserta yang hadir dan sedang mengobrol dengan riang gembira. Wajar sih, kami begitu senang dan bersemangat. Bayangkan, dari 7.000 pendaftar, yang lolos 1.209. Dan, kami termasuk yang lolos. Rasanya, luar biasa bangga. Astaghfirullah, padahal tidak boleh, ya, berbangga diri. Jatuhnya jadi ujub, ya.



Kali ini ada dua materi. Yang pertama disampaikan oleh Kak Aswan, yang kedua oleh Kak Digna, seharusnya. Tetapi karena Kak Digna terkendala sinyal dan tidak bisa bergabung lagi di ruang Zoom, akhirnya digantikan oleh Kak Fachrul, sang pemimpin sekaligus founder Forum Indonesia Menulis (FIM) yang menyelenggarakan Guru Motivator Literasi ini. 



Kak Aswan memaparkan tentang format penulisan yang harus dibuat. Pertama, Wisata Literasi Siswa (WLS). Tulisannya bisa berupa cerpen, puisi, atau pantun yang ditulis menggunakan kertas ukuran A5 dan cukup satu halaman saja. Temanya adalah Ungkapan Cinta untuk Sang Guru. Semua peserta sangat antusias mengikuti materi ini. Bahkan, sampai tidak sabar untuk bertanya, sehingga ruang Zoom menjadi riuh seperti suara lebah. Pusing, mendengarnya.



Yang kedua adalah Wisata Literasi Guru (WLG), dan yang ketiga Wisata Literasi Kepala Sekolah (WLK). Jenis tulisan untuk keduanya ini sama, yaitu esai berupa gagasan atau pengalaman. Hanya temanya saja yang berbeda. Kalau guru bertema Mendidik dengan Cinta, sedangkan kepala sekolah Memimpin dengan Cinta. Tulisannya diketik pada kertas ukuran A4 dengan panjang boleh 3-4 yg halaman. 



Sambil mendengarkan, saya sambil merenung, bagaimana caranya nanti bicara dengan siswa, rekan-rekan guru, dan kepala sekolah. Siapa saja yang akan saya ajak dalam proyek ini. Kalau siswa, sudah pasti, anak kelas 6. Kalau guru? Oh, mungkin rekan-rekan guru yang selama ini cukup dekat dengan saya, ditambah lagi dengan mereka yang suka menulis, walaupun tidak terlalu dekat. 



Terbayang dalam benak saya, antologi siswa nanti pastinya sangat seru. Saya juga membayangkan, bagaimana reaksi anak-anak. Sebagian besar mereka tidak suka menulis. Tetapi saya akan berusaha membujuk mereka. Apalagi, saya berharap, buku antologi ini nantinya bisa menjadi suvenir saat kelulusan mereka. MaasyaaAllah. 😍 Terbayang deh, suvenir kali ini, spesial dan eksklusif.


Tibalah pada pemateri kedua, Kak Digna. Baru sesi perkenalan, tiba-tiba beliau menghilang. Terpental dari ruang Zoom. Setelah ditunggu beberapa saat ternyata tidak ada tanda-tanda beliau masuk lagi, akhirnya digantikan oleh Kak Fachrul. Beliau memaparkan tentang juknis dan buku panduan yang akan digunakan dalam program diseminasi. Dalam KBBI, diseminasi artinya penyebarluasan ide, gagasan, dan sebagainya. Dalam hal ini, adalah cara-cara bagaimana kami memperkenalkan program literasi ini kepada siswa, rekan guru, dan kepala sekolah, serta mendampingi mereka dalam menulis antologi. 



Nah, di sinilah, kami semua merasa terhempas. Kecewa. Kami yang sudah merasa senang karena lolos seleksi, tiba-tiba dihadapkan dengan realita, bahwa untuk program ini, setiap siswa atau guru yang berpartisipasi dikenakan biaya. Siswa dikenakan biaya Rp85.000,00 per siswa, sedangkan guru dan kepala sekolah Rp100.000,00 per orang. 


Langsung saja, ruang Zoom kembali riuh dengan komentar di kolom chat. Sebagian merasa kecewa. Apalagi saat sosialisasi satu pekan yang lalu, dikatakan bahwa kami hanya perlu membayar dengan 
Komitmen
Semangat
Tuntas.



Ternyata, oh ternyata. Berbagai komentar langsung memenuhi kolom chat. Ada yang mengatakan, ini bisnis. Disuruh menulis saja susah, apalagi jika harus membayar. Hanya sekolah sultan, yang bisa seperti itu. Dan, beraneka komentar lainnya. Saya pun, terdiam. Memang dari tadi saya juga diam, hanya menyimak. Sekarang, diamnya saya itu, bingung. Kok, jadi begini, ya? 



Kalau di sekolah saya, wah, susah juga. Harus izin kepala sekolah, yayasan, orang tua, juga. Ribet, kayaknya. Dan, sepertinya saya tidak akan melanjutkan program ini. Salah, nggak, sih🤔





Friday, January 26, 2024

Review "Sesuk"




Judul buku: Sesuk
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabakgrip
Cetakan: - (terbit 2022, kalau tidak salah)
ISBN: 978-623-99878-8-6
Tebal buku: 329 hlm


Bismillah 


Tokoh utama buku ini memang seorang anak perempuan kelas 6 SD. Namun, sejatinya novel ini, menurut saya, merupakan sentilan buat para orang tua. Jadi, saya pun merasa begitu, diingatkan secara halus melalui novel ini. Astaghfirullah. 


Gadis, anak perempuan itu, tinggal bersama ayah, ibu, dan dua adiknya; Bagus dan Ragil. Ayahnya seorang pengusaha sukses yang selalu sibuk sehingga jarang berkumpul dengan anak-anaknya. Ibunya? Sama saja sibuknya karena dia seorang aktris sekaligus penyanyi terkenal yang memiliki jutaan follower. 


Karena suatu hal, keluarga itu harus pindah rumah ke sebuah kampung, tepatnya di sebuah rumah kuno di sebuah bukit di atas perkampungan. Rumah itu besar dan memiliki dua lantai, serta pekarangan yang luas, layaknya sebuah villa atau rumah-rumah di desa.



Meskipun terbiasa hidup di kota dengan fasilitas yang serba mewah dan lengkap, Gadis tidak sulit beradaptasi di lingkungan barunya. Segera saja, ia memiliki teman baru. Apalagi, Gadis adalah anak yang sopan dan santun. Siapa pun pasti suka berteman dengannya. 


Kenyataannya, setelah beberapa waktu tinggal di sana, tak semua orang menyukainya. Apalagi setelah beberapa kejadian yang membuat para warga marah. Gadis dan keluarganya, yang terkenal ramah itu, mulai dibenci beberapa warga. Bahkan, mereka ingin keluarga tersebut meninggalkan desa mereka. Mereka dianggap sebagai pembawa sial dan malapetaka.


Kejadian-kejadian aneh itu berawal dari kemunculan seorang anak laki-laki kecil, seumuran adiknya, Bagus. Bahkan perawakannya pun sangat mirip, sehingga para warga yakin bahwa Bagus lah sang pembawa masalah itu. 


Lalu, berbagai kejadian aneh pun mulai bermunculan. Namun, Gadis justru merasa tertantang untuk mencari tahu penyebab semua keanehan itu. Walaupun para warga bersikeras untuk mengusir mereka, Gadis dan keluarganya tetap ingin bertahan di desa itu. Nah, akankah mereka bisa mengatasi semua masalah itu dan tetap diizinkan tinggal di desa tersebut?


Silakan baca bukunya, ya. Dijamin tidak mau berhenti membaca sebelum sampai halaman terakhir. Hati-hati, ada aroma horor di buku ini. Meskipun bukan karena hantu atau setan seperti di buku-buku horor lainnya. Selamat membaca dan bersiap untuk uji adrenalin 😍



Wednesday, January 24, 2024

Guru Motivator Literasi

 


Bismillah

 

Mencoba aktif lagi di bidang kepenulisan, saya mencoba mengikuti seleksi Guru Motivator Literasi. Tadinya, saya ingin mendaftar sekadar ingin tahu dan menambah ilmu tentang literasi dan bagaimana menumbuhkan semangat literasi kepada siswa.



Ternyata, memang seleksinya cukup menantang, yaitu dengan menulis esai tentang kondisi literasi di sekolah tempat kita mengajar. Dan, alhamdulillaah, saya bisa mendaftar, walaupun hampir terlambat. Atas izin Allah, pendaftaran diundur hingga tanggal 15 Januari 2024. Saya baru baca pengumumannya tanggal 11. Alhamdulillah, masih ada waktu dan rezeki untuk mencoba.



Setelah mendaftar, saya dihubungi sekaligus diundang untuk mengikuti sosialisasi program ini. Undangan ini ternyata hanya diberikan kepada pendaftar yang sudah melengkapi persyaratan, yang salah satunya adalah menulis esai. Berikut ini adalah esai yang saya tulis untuk memenuhi persyaratan tersebut.



Tantangan dan Peluang Meningkatkan Literasi Sekolah

Oleh: Nindyah Widyastuti

 

Saya, Nindyah Widyastuti, adalah seorang guru di SDIT Al Hidayah, Lippo Cikarang, Bekasi atau Al Hidayah Islamic School (AHIS). AHIS memiliki perpustakaan yang sangat memadai karena memiliki koleksi buku yang cukup banyak dan ruangan yang nyaman, yang membuat para siswa betah berada di sana untuk membaca atau bermain permainan edukatif.

 

Walaupun fasilitas perpustakaan sudah sangat memadai, ditambah lagi dengan adanya pojok buku di setiap ruang kelas, ternyata tidak membuat para siswa otomatis suka membaca buku. Kurangnya minat baca dan menulis siswa, sangat dipengaruhi oleh adanya gawai yang sudah menjadi teman meraka sehari-hari sehingga membaca menjadi aktivitas yang kurang seru dan asyik.

 

Untuk mendorong siswa agar lebih melek literasi, selain melibatkan para guru, AHIS juga mengadakan festival literasi setiap enam bulan sekali. Aneka lomba yang berkaitan dengan literasi sudah diselenggarakan untuk menumbuhkan minat literasi siswa. Tetapi, animo siswa untuk berpartisipasi masih kurang, terutama siswa laki-laki.

 

Supaya para siswa lebih bersemangat dalam membaca dan menulis, maka kegiatan yang sudah berjalan perlu ditambah dengan beberapa program baru. Praktik baik yang bisa dilaksanakan misalnya reading challenge atau bedah buku. Semoga dengan kegiatan itu semakin menambah semangat siswa untuk suka membaca.  

***



Alhamdulillah, hari ini pengumumannya sudah ada. Dan, saya termasuk yang lolos. Kabarnya, ada sekitar 7.000 pendaftar dan yang lolos sekitar 1.209 orang. MaasyaaAllah, saingannya banyak sekali. Benar-benar rezeki dari Allah yang tiada terkira.



Semoga kesempatan ini bisa saya gunakan sebaik-baiknya dan saya bisa benar-benar menjadi motivator dalam bidang literasi, aamiin yaa rabbal'aalamiin 🤲🏻.