Tuesday, July 5, 2022

Walimatul Safar


Bismillah


Rabu, 8 Juni 2022, kami melaksanakan walimatul safar dengan mengundang para tetangga terdekat dan beberapa saudara serta teman-teman melingkar. Ada sekitar 65 orang yang kami undang. Tapi yang hadir, alhamdulillaah lebih dari itu, meskipun ada yang tidak bisa hadir.


Tidak seperti teman-teman calon jamaah haji lainnya yang mengundang ustadz atau ustadzah untuk memberikan tausiyah, kami mengundang Ustadzah Nurhanah untuk memimpin doa. Jadi, acaranya hanya sepatah kata dari saya, dilanjutkan doa bersama yang dipimpin beliau.

Suatu kali, guru tahsin saya, Bu Ira, pernah berkata, kira-kira seperti ini, "Niatkan untuk umrah/haji, Allah yang akan memberikan jalannya." Maksudnya, meskipun secara kasat mata, secara materi, kita belum mampu untuk pergi haji atau umrah, yang penting kita sudah punya niat, sudah punya azam. Tinggal kita iringi dengan doa dan ikhtiar, insyaaAllah akan Allah mudahkan jalannya. Seperti beliau waktu akan berangkat umrah. Saat itu beliau tidak ada uang untuk bekal. Tiba-tiba ada yang datang ke rumah beliau memberikan uang riyal untuk bekal umroh. MasyaaAllah tabarakallah. 


Cerita seperti ini sangat banyak terjadi. Banyak di antara calon jamaah haji yang berangkat dengan keterbatasan materi. Namun, atas izin Allah, bisa berangkat juga. Ada yang tadinya sakit, begitu pergi haji jadi sehat walafiat. Itulah kalau Allah sudah berkehendak. Apa pun bisa terjadi. Bahkan sesuatu yang mustahil sekali pun, bisa menjadi kenyataan.


Yang saya alami sendiri pun, rasanya penuh dengan kejutan, atas izin Allah. Dengan segala keterbatasan materi, alhamdulillaah Allah cukupkan. Allah berikan seperti apa yang kami bayangkan. 


Begitu pula saat mengadakan walimatul safar. Kami ingin menjamu para tamu undangan dengan lebih baik dan pantas. Di sisi lain, budgetnya tidak ada. Ternyata, Allah kabulkan keinginan kami melalui para tetangga dan teman-teman. Mereka membawa banyak kue hingga melimpah ruah. Kami sampai kewalahan dalam menyajikannya. Alhamdulillaah bini'matihi tatimushsholihat. Allah memberikan lebih daripada apa yang kami inginkan. 


Bagaimana hukum walimatul safar? Apakah harus dilaksanakan atau tidak? Di antara para ulama ada perbedaan pendapat. Ada yang menganggap sunnah, ada pula yang menganggapnya bid'ah. Yang menganggap sunnah, berdasarkan hadits:


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرِهِ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً ” رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Artinya : “Bahwasannya Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam ketika sampai di Madinah dari perjalanannya, Beliau menyembelih kambing atau sapi.” (HR. Al Bukhari)


Dalam hadits tersebut, saat pulang dari safar, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam mengadakan naqi'ah yaitu menyambut musafir atau seseorang yang baru pulang dari safar (perjalanan jauh). 


Berdasarkan hadits tersebut, bila jamaah haji pulang, maka disambut dengan tasyakuran. Mungkin tradisi ini yang kemudian menjadi tradisi walimatul safar. Menurut sebagian ulama, selama tidak dilaksanakan secara berlebihan dan acaranya pun berisi doa dan tausiyah, insyaaAllah walimatul safar boleh dilakukan. Apalagi dalam acara tersebut juga dapat mengikatkan tali silaturahmi dengan tetangga dan saudara.
Wallahu a'lam bishshowwab.




No comments: