Saturday, February 3, 2024

Reviu "Teruslah Bodoh, Jangan Pintar"


Judul buku: Tetaplah Bodoh, Jangan Pintar
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabakgrip 
Cetakan: 2024
ISBN: 
Tebal buku:


Bismillah


Novel ini sarat dengan kritik sosial berkaitan dengan apa yang sedang terjadi di Indonesia saat ini. Tentang pilpres, hilirisasi nikel, meledaknya smelter. Benar-benar merupakan potret Indonesia hari ini. 



Dengan latar belakang sebuah ruangan yang dijadikan tempat persidangan tertutup dan rahasia, novel ini memang bukan sekadar cerita hiburan. Membacanya, membuat kening kita berkerut dan emosi kita pun ikut meningkat. Ketidakadilan dan kesewenang-wenangan begitu nyata digambarkan dalam setiap paragrafnya. Tak heran bila novel ini ditandai dengan 18+. Bukan dalam arti mengandung adegan yang tidak senonoh, seperti kebanyakan produk lain yang menggunakan label itu, tetapi karena alur dan cerita novel ini memerlukan pemikiran orang dewasa. Untuk anak kecil, tidak cocok dan belum waktunya. Mending baca serial petualangan Bumi atau anak-anak Mamak.


Diawali dengan kisah anak-anak sebuah desa yang baru pulang dari lomba sepak bola antarkampung, cerita ini dari pertama sudah membuat kita penasaran. Apa hubungannya dengan judul? Tapi, ya memang begitu, Bang Tere Liye ini. Pandai membuat pembaca penasaran, sehingga ingin cepat-cepat menyelesaikan bacaannya. 



Kisah tentang proyek penambangan yang, ternyata banyak kisah pilu di baliknya. Proyek yang sekilas seperti mendatangkan berbagai macam keuntungan seperti modernisasi, lapangan kerja, dan perbaikan ekonomi. Tetapi kenyataannya tidak seindah dan semanis itu. Banyak cerita pilu di balik gemerlapnya hasil tambang dari bumi Indonesia yang kaya raya.


Salah satunya adalah tenggelamnya sang anak berbakat di kolam bekas galian tambang yang sudah dipenuhi oleh air hujan. Hal ini terjadi juga di kampung saya. Di sini, banyak danau bekas galian pasir yang tidak diberi pagar pengaman. Sudah beberapa orang yang tenggelam dan berakhir meninggal. Dan, pihak pemerintah tidak melakukan tindakan apa pun untuk mencegah agar kecelakaan seperti itu tidak terjadi lagi. 


Kalau di novel tersebut, ada upaya penyelidikan yang dilakukan polisi. Namun, harus terhenti karena ulah beberapa oknum. Dan, agar warga tidak mengusut terus, maka berbagai bansos dan sembako digulirkan. Agar warga diam. Hanya segitu harga nyawa seorang generasi penerus bangsa. 



Dan, beberapa kisah lainnya. Juga tentang tenaga asing yang mendapatkan gaji beberapa kali lipat dibandingkan tenaga lokal. Pun, tentang diskriminasi dalam perlakuan dan perlindungan tenaga kerja. Kok bisa ya? Orang asing lebih diutamakan daripada bangsa sendiri, yang notabene juga saudara sendiri. 


Yang paling menarik, tentang smelter yang meledak. Tentang harga nikel di pasaran dunia. Kok ya sama dengan berita yang sedang trending topic saat ini. Ketika membaca berita itu, otomatis otak ini langsung mengaitkannya dengan cerita di novel ini. Semoga dengan membacanya, banyak orang yang tercerahkan dan banyak pejabat yang sadar serta segera bertindak memperbaiki keadaan negeri ini. Aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻







Friday, February 2, 2024

Ustadzah Lusiana Rahmawati

Bismillah


Allah itu terlihat besar atau kecil tergantung seberapa dekat kita kepada Allah.
QS. Annisa: 9 
>>> jangan meninggalkan anak-anak dalam keadaan lemah
>>> Sampaikan kata-kata yang benar

Tugas: mempersiapkan anak untuk memfilter
Pendidikan yang berbekas: di rumah
Sekolah: 17%
Ortu harus punya bonding dengan anak, berikan role model
Semua harus diajarkan. Anak tidak mungkin bisa melakukan sesuatu dengan tiba-tiba.

Otak anak mengeras sebelum waktunya karena:
1. Pola asuh
2. Gadget >>> otak jadi diam dan tidak kreatif
     Seharusnya diberikan buku, gambar, bermain, dll.
8-15: penanaman adab
QS. Annur: 28

Ubah pernyataan dengan pertanyaan
- menurutmu apa manfaat pacaran?
Anak laki-laki menjadi teman ayahnya. Karena ayah adalah role model nya.
Anak shalih mampu menahan nafsu.
Orang pintar adalah mereka yang mempersiapkan kehidupan setelah mati.

- lakukan komunikasi efektif dengan anak. (Jangan menyalahkan, memerintah, membandingkan, membohongi, labeling, mengancam, menakut-nakuti, mengabaikan, berkata kasar)
- dengarkan anak
- quality time dengan anak: bermain, luangkan waktu bersama anak

Terapi pelukan
- menangis boleh, cengeng tidak boleh
- minta izin dulu saat akan memberikan nasihat
  - boleh umi kasih nasihat/saran?
Jika ingin menasihati anak laki, kenyangkan dulu perutnya, anak perempuan penuhi kebutuhannya
- ajarkan tanggung jawab
- menghormati orang tua
- berikan rasa nyaman

Orang tua harus dekat dengan Allah agar anak mau dekat dengan orang tua.

- berkomunikasi aktif

Tips mendidik anak:
* Be positive (fokus pada yang sudah dikerjakan anak, dan kelebihannya
* Be connective
* Be the role model >> konsisten


Jika ingin mempunyai anak shalih, shalihkan diri kita.
 Lakukan kebiasaan >>> pembiasaan >>> terbiasa
Imam Ghazali:
Hafalan >>> paham >>> yakin >>> percaya >>> membenarkan

* Didiklah anakmu cinta kepada Allah dan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam
* Cinta kepada kedua orang tuanya (guru)
* Cinta membaca Al-Qur'an >> menghafal dan mengaplikasikannya dalam kehidupan

Allah bersamaku الله معي
Allah melihatku الله نظري
Allah tujuanku الله

Kalau cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya, maka dia tidak mau pacaran.



Tuesday, January 30, 2024

Ojo Dumeh


Bismillah


Sejak mengajar kembali setelah cuti satu tahun, beberapa kesalahan yang cukup memalukan dan berakibat fatal, telah saya lakukan tanpa sengaja. Ini membuktikan betapa diri ini sangat jauh dari seseorang yang disebut baik, apalagi sempurna. Makanya, ojo dumeh. Jangan sombong! (sambil tepuk jidat sendiri 🤦)
Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullahal'adziim.


Tulisan ini dimaksudkan sebagai reminder, pengingat agar tidak terulang kembali. Juga, sebagai warning bahwa diri ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Jadi, tidak punya hak untuk berlaku sombong. Hanya Allah yang berhak, karena Dialah Yang Maha Segala, Yang Memiliki semua yang ada di bumi dan di langit. MaasyaaAllah.


Kesalahan pertama adalah saat menjadi panitia Family Day tahun kemarin (2022). Saat itu, saya sebagai perwakilan dari kelas 6, diminta untuk menyebarkan link pendaftaran kepada wali kelas lainnya. Eh, saya cuma share di grup kelas saya saja. Tiba hari terakhir pendaftaran, kok baru sedikit. Ternyata, saya belum melaksanakan tugas. Astaghfirullah, malunya, saya saat itu. Nggak becus, kerjanya.


Kesalahan kedua adalah saat pembagian rapor. Saya salah belum mengoreksi rumus nilai di format rapor. Alhasil, nilai anak-anak ada yang tidak sesuai dengan kesehariannya. Alhamdulillah, yang mengetahui pertama kali adalah rekan guru yang anaknya ada di kelas saya. Jadi bisa langsung diketahui dan langsung bisa diperbaiki. 


Saat pembagian rapor, saya harus menginformasikan kesalahan tersebut kepada seluruh wali murid. Satu per satu saya beritahukan kesalahannya, dan InsyaaAllah akan diperbaiki nanti saat masuk sekolah setelah liburan. 


Setelah selesai pembagian rapor, saat rekan-rekan guru yang lain pulang dan istirahat di rumah, saya masih harus menge-print ulang halaman rapor yang salah tadi. Sebenarnya bisa dilakukan nanti setelah liburan. Toh, rapornya juga sudah dibagikan. Tetapi, saya takut, kalau umur saya tidak sampai. Alhamdulillah, selesai juga. Sampai-sampai, saya pulang sekolah terakhir, kayaknya. 


Tahun ini, belajar dari pengalaman tersebut, saya ekstra hati-hati saat membuat rapor. Saya cek semua rumusnya, saya lihat rapor masing-masing anak, satu per satu. Banyak berdoa saat menge-print, semoga tidak ada yang salah.



Qadarullah, walaupun sudah hati-hati, bahkan sudah minta tolong teman untuk mengecek juga, ternyata masih ada yang salah. Bukan salah rumus atau salah ketik, tapi terlewat, belum diisi. Jadi, saat itu ada satu siswa yang nilainya 0. Saat dikonfirmasi kepada guru mata pelajarannya, beliau menyebutkan nilai tertentu. Alhamdulillah, jadinya tidak kosong lagi. Lalu, apa masalahnya?



Masalahnya, saat guru tersebut memberikan nilai, tidak langsung saya input di laptop. Jadinya saya kelupaan, dan sampai dibagikan ke orang tua, nilainya masih 0. Astaghfirullah. Ini jadi pelajaran penting buat saya, jangan menunda-nunda pekerjaan. Seharusnya, saat guru tersebut memberikan nilai, langsung dimasukkan ke rapor supaya tidak lupa.



Tetapi, selalu ada hikmah pada setiap kejadian yang kita alami. Lalu, hikmah apa yang terdapat pada peristiwa ini?
Sebenarnya bukan hikmah sih, tapi bisa juga dikatakan hikmah, tergantung persepsi kita, bagaimana memandang suatu masalah.



Hikmahnya, menurut saya, kejadian ini jadi diketahui oleh kepala sekolah. Tadinya, tak ada yang tahu selain guru yang bersangkutan dan saya. Tapi, karena keteledoran saya, jadi terungkap dan diketahui oleh beberapa orang, termasuk wali murid dan yayasan. 


Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran untuk semua guru. Jangan pernah memberikan nilai 0 kepada siswa. Kalau sampai ada, berarti salah guru. Ngapain aja selama ini? Kesannya guru tidak melakukan apa-apa untuk membuat siswa bisa mengikuti pelajaran dan mengerjakan tugas. Karena nilai tidak diambil dari hasilnya saja, tapi bisa dilihat dari proses dan usaha siswa. 



Semoga saya tidak melakukan kesalahan yang fatal lagi, setelah ini. Harus lebih hati-hati, lebih teliti, lebih banyak berdoa mohon bimbingan Allah, ojo dumeh. 
Bismillah, tolong bimbing hamba, ya Allah 🤲🏻


Sunday, January 28, 2024

Terhempas


Bismillah


Tadi pagi, ada pertemuan kedua GML (Guru Motivator Literasi). Hari ini adalah "Training of Coach". Dengan penuh semangat, saya bergabung di ruang Zoom beberapa menit sebelum waktunya. Acara dimulai pukul 08.30, tertulis di undangan. Semangat banget, ya. Iya. Dan, ternyata, di Zoom sudah banyak peserta yang hadir dan sedang mengobrol dengan riang gembira. Wajar sih, kami begitu senang dan bersemangat. Bayangkan, dari 7.000 pendaftar, yang lolos 1.209. Dan, kami termasuk yang lolos. Rasanya, luar biasa bangga. Astaghfirullah, padahal tidak boleh, ya, berbangga diri. Jatuhnya jadi ujub, ya.



Kali ini ada dua materi. Yang pertama disampaikan oleh Kak Aswan, yang kedua oleh Kak Digna, seharusnya. Tetapi karena Kak Digna terkendala sinyal dan tidak bisa bergabung lagi di ruang Zoom, akhirnya digantikan oleh Kak Fachrul, sang pemimpin sekaligus founder Forum Indonesia Menulis (FIM) yang menyelenggarakan Guru Motivator Literasi ini. 



Kak Aswan memaparkan tentang format penulisan yang harus dibuat. Pertama, Wisata Literasi Siswa (WLS). Tulisannya bisa berupa cerpen, puisi, atau pantun yang ditulis menggunakan kertas ukuran A5 dan cukup satu halaman saja. Temanya adalah Ungkapan Cinta untuk Sang Guru. Semua peserta sangat antusias mengikuti materi ini. Bahkan, sampai tidak sabar untuk bertanya, sehingga ruang Zoom menjadi riuh seperti suara lebah. Pusing, mendengarnya.



Yang kedua adalah Wisata Literasi Guru (WLG), dan yang ketiga Wisata Literasi Kepala Sekolah (WLK). Jenis tulisan untuk keduanya ini sama, yaitu esai berupa gagasan atau pengalaman. Hanya temanya saja yang berbeda. Kalau guru bertema Mendidik dengan Cinta, sedangkan kepala sekolah Memimpin dengan Cinta. Tulisannya diketik pada kertas ukuran A4 dengan panjang boleh 3-4 yg halaman. 



Sambil mendengarkan, saya sambil merenung, bagaimana caranya nanti bicara dengan siswa, rekan-rekan guru, dan kepala sekolah. Siapa saja yang akan saya ajak dalam proyek ini. Kalau siswa, sudah pasti, anak kelas 6. Kalau guru? Oh, mungkin rekan-rekan guru yang selama ini cukup dekat dengan saya, ditambah lagi dengan mereka yang suka menulis, walaupun tidak terlalu dekat. 



Terbayang dalam benak saya, antologi siswa nanti pastinya sangat seru. Saya juga membayangkan, bagaimana reaksi anak-anak. Sebagian besar mereka tidak suka menulis. Tetapi saya akan berusaha membujuk mereka. Apalagi, saya berharap, buku antologi ini nantinya bisa menjadi suvenir saat kelulusan mereka. MaasyaaAllah. 😍 Terbayang deh, suvenir kali ini, spesial dan eksklusif.


Tibalah pada pemateri kedua, Kak Digna. Baru sesi perkenalan, tiba-tiba beliau menghilang. Terpental dari ruang Zoom. Setelah ditunggu beberapa saat ternyata tidak ada tanda-tanda beliau masuk lagi, akhirnya digantikan oleh Kak Fachrul. Beliau memaparkan tentang juknis dan buku panduan yang akan digunakan dalam program diseminasi. Dalam KBBI, diseminasi artinya penyebarluasan ide, gagasan, dan sebagainya. Dalam hal ini, adalah cara-cara bagaimana kami memperkenalkan program literasi ini kepada siswa, rekan guru, dan kepala sekolah, serta mendampingi mereka dalam menulis antologi. 



Nah, di sinilah, kami semua merasa terhempas. Kecewa. Kami yang sudah merasa senang karena lolos seleksi, tiba-tiba dihadapkan dengan realita, bahwa untuk program ini, setiap siswa atau guru yang berpartisipasi dikenakan biaya. Siswa dikenakan biaya Rp85.000,00 per siswa, sedangkan guru dan kepala sekolah Rp100.000,00 per orang. 


Langsung saja, ruang Zoom kembali riuh dengan komentar di kolom chat. Sebagian merasa kecewa. Apalagi saat sosialisasi satu pekan yang lalu, dikatakan bahwa kami hanya perlu membayar dengan 
Komitmen
Semangat
Tuntas.



Ternyata, oh ternyata. Berbagai komentar langsung memenuhi kolom chat. Ada yang mengatakan, ini bisnis. Disuruh menulis saja susah, apalagi jika harus membayar. Hanya sekolah sultan, yang bisa seperti itu. Dan, beraneka komentar lainnya. Saya pun, terdiam. Memang dari tadi saya juga diam, hanya menyimak. Sekarang, diamnya saya itu, bingung. Kok, jadi begini, ya? 



Kalau di sekolah saya, wah, susah juga. Harus izin kepala sekolah, yayasan, orang tua, juga. Ribet, kayaknya. Dan, sepertinya saya tidak akan melanjutkan program ini. Salah, nggak, sih🤔





Friday, January 26, 2024

Review "Sesuk"




Judul buku: Sesuk
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabakgrip
Cetakan: - (terbit 2022, kalau tidak salah)
ISBN: 978-623-99878-8-6
Tebal buku: 329 hlm


Bismillah 


Tokoh utama buku ini memang seorang anak perempuan kelas 6 SD. Namun, sejatinya novel ini, menurut saya, merupakan sentilan buat para orang tua. Jadi, saya pun merasa begitu, diingatkan secara halus melalui novel ini. Astaghfirullah. 


Gadis, anak perempuan itu, tinggal bersama ayah, ibu, dan dua adiknya; Bagus dan Ragil. Ayahnya seorang pengusaha sukses yang selalu sibuk sehingga jarang berkumpul dengan anak-anaknya. Ibunya? Sama saja sibuknya karena dia seorang aktris sekaligus penyanyi terkenal yang memiliki jutaan follower. 


Karena suatu hal, keluarga itu harus pindah rumah ke sebuah kampung, tepatnya di sebuah rumah kuno di sebuah bukit di atas perkampungan. Rumah itu besar dan memiliki dua lantai, serta pekarangan yang luas, layaknya sebuah villa atau rumah-rumah di desa.



Meskipun terbiasa hidup di kota dengan fasilitas yang serba mewah dan lengkap, Gadis tidak sulit beradaptasi di lingkungan barunya. Segera saja, ia memiliki teman baru. Apalagi, Gadis adalah anak yang sopan dan santun. Siapa pun pasti suka berteman dengannya. 


Kenyataannya, setelah beberapa waktu tinggal di sana, tak semua orang menyukainya. Apalagi setelah beberapa kejadian yang membuat para warga marah. Gadis dan keluarganya, yang terkenal ramah itu, mulai dibenci beberapa warga. Bahkan, mereka ingin keluarga tersebut meninggalkan desa mereka. Mereka dianggap sebagai pembawa sial dan malapetaka.


Kejadian-kejadian aneh itu berawal dari kemunculan seorang anak laki-laki kecil, seumuran adiknya, Bagus. Bahkan perawakannya pun sangat mirip, sehingga para warga yakin bahwa Bagus lah sang pembawa masalah itu. 


Lalu, berbagai kejadian aneh pun mulai bermunculan. Namun, Gadis justru merasa tertantang untuk mencari tahu penyebab semua keanehan itu. Walaupun para warga bersikeras untuk mengusir mereka, Gadis dan keluarganya tetap ingin bertahan di desa itu. Nah, akankah mereka bisa mengatasi semua masalah itu dan tetap diizinkan tinggal di desa tersebut?


Silakan baca bukunya, ya. Dijamin tidak mau berhenti membaca sebelum sampai halaman terakhir. Hati-hati, ada aroma horor di buku ini. Meskipun bukan karena hantu atau setan seperti di buku-buku horor lainnya. Selamat membaca dan bersiap untuk uji adrenalin 😍



Wednesday, January 24, 2024

Guru Motivator Literasi

 


Bismillah

 

Mencoba aktif lagi di bidang kepenulisan, saya mencoba mengikuti seleksi Guru Motivator Literasi. Tadinya, saya ingin mendaftar sekadar ingin tahu dan menambah ilmu tentang literasi dan bagaimana menumbuhkan semangat literasi kepada siswa.



Ternyata, memang seleksinya cukup menantang, yaitu dengan menulis esai tentang kondisi literasi di sekolah tempat kita mengajar. Dan, alhamdulillaah, saya bisa mendaftar, walaupun hampir terlambat. Atas izin Allah, pendaftaran diundur hingga tanggal 15 Januari 2024. Saya baru baca pengumumannya tanggal 11. Alhamdulillah, masih ada waktu dan rezeki untuk mencoba.



Setelah mendaftar, saya dihubungi sekaligus diundang untuk mengikuti sosialisasi program ini. Undangan ini ternyata hanya diberikan kepada pendaftar yang sudah melengkapi persyaratan, yang salah satunya adalah menulis esai. Berikut ini adalah esai yang saya tulis untuk memenuhi persyaratan tersebut.



Tantangan dan Peluang Meningkatkan Literasi Sekolah

Oleh: Nindyah Widyastuti

 

Saya, Nindyah Widyastuti, adalah seorang guru di SDIT Al Hidayah, Lippo Cikarang, Bekasi atau Al Hidayah Islamic School (AHIS). AHIS memiliki perpustakaan yang sangat memadai karena memiliki koleksi buku yang cukup banyak dan ruangan yang nyaman, yang membuat para siswa betah berada di sana untuk membaca atau bermain permainan edukatif.

 

Walaupun fasilitas perpustakaan sudah sangat memadai, ditambah lagi dengan adanya pojok buku di setiap ruang kelas, ternyata tidak membuat para siswa otomatis suka membaca buku. Kurangnya minat baca dan menulis siswa, sangat dipengaruhi oleh adanya gawai yang sudah menjadi teman meraka sehari-hari sehingga membaca menjadi aktivitas yang kurang seru dan asyik.

 

Untuk mendorong siswa agar lebih melek literasi, selain melibatkan para guru, AHIS juga mengadakan festival literasi setiap enam bulan sekali. Aneka lomba yang berkaitan dengan literasi sudah diselenggarakan untuk menumbuhkan minat literasi siswa. Tetapi, animo siswa untuk berpartisipasi masih kurang, terutama siswa laki-laki.

 

Supaya para siswa lebih bersemangat dalam membaca dan menulis, maka kegiatan yang sudah berjalan perlu ditambah dengan beberapa program baru. Praktik baik yang bisa dilaksanakan misalnya reading challenge atau bedah buku. Semoga dengan kegiatan itu semakin menambah semangat siswa untuk suka membaca.  

***



Alhamdulillah, hari ini pengumumannya sudah ada. Dan, saya termasuk yang lolos. Kabarnya, ada sekitar 7.000 pendaftar dan yang lolos sekitar 1.209 orang. MaasyaaAllah, saingannya banyak sekali. Benar-benar rezeki dari Allah yang tiada terkira.



Semoga kesempatan ini bisa saya gunakan sebaik-baiknya dan saya bisa benar-benar menjadi motivator dalam bidang literasi, aamiin yaa rabbal'aalamiin 🤲🏻.

Sunday, January 21, 2024

Reviu "Surat dari Anak-anak Gaza"


Judul buku: Surat dari Anak-anak Gaza
Penyusun: Soeripto, S.H.
Penerbit: Kayyis
Cetakan: 2023
ISBN: 978-623-09-6962-1
Tebal buku: xiv + 114 hlm.


Bismillah


Hari ini, sudah 100 hari lebih, Palestina dihancurluluhkan oleh Israel. Ribuan anak dan warga syahid, menjemput surga Allah.
Masjid, rumah sakit, kamp pengungsian hancur tak pandang bulu. Entah apa yang ada dalam pikiran Israel laknatullah 'alaih.


Sedih dan tak berdaya, saat melihat pemberitaan tentang apa yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina. Hanya bisa mendoakan, semoga Allah segera memberikan kemerdekaan kepada mereka. Terbebas dari serangan Israel, hidup damai bersama Masjid Al Aqsha tercinta.


Buku Surat dari Anak-anak Gaza ini, sebagaimana judulnya, berisi sekitar 100 surat dari anak-anak Gaza. Penyusunan suratnya dibagi ke dalam 4 bab, yaitu Kondisi, Perasaan, Harapan, dan Cita-cita.


Meskipun dibagi ke dalam beberapa bab, secara garis besar, isi suratnya sama. Tentang harapan dan cita-cita mereka. Sebagian besar mereka ingin menjadi syuhada dan penghafal Al-Qur'an. MaasyaaAllah. Tak heran bila di saat kondisi yang tidak sedang baik-baik saja, mereka tetap semangat menghafal Al-Qur'an. Duh, apa kabar kita di sini? Di negara yang aman dan damai, tapi belum juga tergerak untuk menghafal Al-Qur'an. Astaghfirullah.


Sesuai dengan judul babnya, Kondisi menceritakan keadaan dan situasi mereka dan juga negeri mereka saat ini. Yang pastinya, ancaman bom dan rudal ada setiap saat. Namun, mungkin karena sudah terbiasa, mereka bahkan tidak takut. Seperti bunyi salah satu surat pada halaman 6.


"Pesawat-pesawat F-16, pesawat pengintai, dan pesawat Apache selalu menginspeksi kami, menghujani kami dengan bom fosfor mematikan, melempari kami dengan rudal dan mortir.

Aku benci Zionis. Mereka menghancurkan masjid-masjid tempat kami menghafal Al-Qur'an."


Pada bab Perasaan,  di sana diceritakan bagaimana perasaan anak-anak Gaza selama ini. Hidup dalam ketakutan, kesedihan, dan juga kelaparan. Dikabarkan, saat ini penduduk Gaza tidak hanya menghadapi ancaman bombardir, tetapi juga ancaman kelaparan. 


Namun, ada juga yang merasa bangga, seperti diungkapkan oleh Muhammad Alyan. 


"Aku bangga, tenang, dan merasa terhormat ketika Zionis menyerang kami di Gaza. Sebab, kami berada di bumi tempat Rasulullah melakukan Isra' Mi'raj. Aku bangga karena aku sedang membela kehormatan umat Islam. Aku juga merasa terhormat karena dari sekian banyak umat Islam, Allah memilih kami untuk mempertahankan Masjidil Aqsha."


MaasyaaAllah, perasaan yang sangat luar biasa, muncul dari keimanan yang luar biasa juga, tentunya. Memang, anak-anak Gaza, tidak sama dengan anak-anak di bumi mana pun. Mereka memiliki keimanan yang sangat kuat, ketabahan yang sangat luar biasa. Itu semua hasil didikan dari para ibu yang juga sangat luar biasa. 


Ya, ibu-ibu Gaza sangat berbeda juga. Walaupun dalam keadaan tidak baik-baik saja, dalam ancaman bombardir dan juga kelaparan, serta kedinginan, mereka tetap semangat menghafal Al-Qur'an. Mereka tetap semangat mendidik anak-anak mereka untuk menghafal Al-Qur'an. Tak heran, bila mereka sangat kuat dan tangguh. Semoga kita, terutama saya, bisa meniru mereka. Aamiin yaa rabbal'aalamiin.