Sumber: https://www.sinergimadura.com/regional/29011734998/biografi-deliang-al-farabi-penulis-cilik-yang-menginspirasi-tanggal-lahirumur-alamat-orang-tua-pendidikan-karir-karya-penghargaan-ig-tiktok
Bismillah
Tulisan ini merupakan menulis artikel dari webinar membuat artikel populer sekaligus seleksi untuk ditampilkan di Radar Edukasi. Semoga lolos, aamiin.
DeLiang, yang memiliki nama lengkap Muhammad Deliang Al Farabi, adalah
putra pertama pasangan Ario Muhammad, PhD. dan Ratih Anggraini, Ph.D.. Pada
usianya yang baru menginjak 11 tahun, DeLiang telah menerbitkan 40 buku berbahasa Inggris dan beberapa di
antaranya berada di Top 15 Amazone. Keren! Tak heran bila ia dijuluki anak ajaib.
Di saat kebanyakan anak seusianya masih sibuk dengan game online
daripada membaca buku, apalagi menulis buku, DeLiang sudah berpenghasilan dari
buku yang ditulisnya. Bagaimana dengan anak-anak seusianya? Apakah mereka juga
sudah menerbitkan -minimal satu- buku?
Ternyata, baru sedikit anak yang sudah menerbitkan bukunya sendiri. Jangankan
menulis buku, membaca pun sangat jarang yang suka. Sebagian besar anak sekarang
lebih suka bermain game online atau menjadi Youtuber daripada membaca
buku dan menulis. Padahal membaca buku itu sangat banyak manfaatnya, seperti
yang sudah dibuktikan oleh DeLiang.
Kemampuan menulis DeLiang berawal dari kegemarannya membaca banyak buku
dan mengembangkan imajinasinya. Sejak kecil, orang tuanya sudah membiasakan
budaya literasi di rumah mereka. Baca buku dan diskusi adalah menu sehari-hari
mereka. Sehingga, kosakata DeLiang berkembang pesat, begitu pula daya
imajinasinya. Itulah yang kelak menjadi modal untuk menulis buku.
Dari sini, jelas sekali bahwa kemampuan menulis seseorang sangat
berkaitan erat dengan seberapa banyak buku yang dibacanya. Semakin banyak
bacaan, maka akan semakin kaya kosakata yang dimilikinya, sehingga mudah untuk
dituangkan ke dalam tulisan. Ditambah lagi dengan kebiasaan diskusi. Itu pun
semakin memperkaya kosakata sekaligus mengasah daya pikir.
Menurut Ario Muhammad, ayah DeLiang, ada tiga skill paling
fundamental yang harus diajarkan kepada anak, yaitu menulis, public speaking,
dan negosiasi. Ketiga skill ini bisa dilatih mulai dari membaca.
Mengapa? Dengan membaca banyak buku, secara tidak langsung, anak akan belajar
dan mengasah kemampuannya dalam tiga keterampilan tersebut. Walaupun, tentu
saja, harus ada yang memotivasi dan memfasilitasi. Siapa? Orang tua terutama,
dan guru pada umumnya.
Alhamdulillaah, pada proses pembelajran saat ini, literasi sudah menjadi
salah satu kegiatan utama di sekolah. Ada anjuran untuk membaca buku selama 15
menit setiap pagi, sebelum memulai pembelajaran. Hal ini menandakan bahwa
pemerintah sudah memahami betapa pentingnya melek literasi. Bila semua sekolah
menerapkan ini, tidak mustahil akan lahir DeLiang-DeLiang baru yang akan
menyemarakkan jagat literasi Indonesia. Dan, ini akan berdampak pada kualitas pendidikan
kita.
Lalu, bagaimana membaca bisa menjadi pemicu lahirnya skill
menulis, public speaking, dan negosiasi? Mari kita cermati apa saja
manfaat membaca. Menurut Siti Marliah dalam artikelnya yang berjudul “Manafaat
Membaca Buku sebagai Jendela Ilmu dalam Kehidupan” yang diunggah di Gramedia
Digital, manfaat membaca adalah sebagai berikut.
1.
Membaca dapat mencerahkan imajinasi
sehingga menjadikan seseorang menjadi pribadi yang kreatif. Itulah yang terjadi
pada DeLiang. Di usia yang masih belia, ia sudah menghasilkan karya yang begitu
banyak. Kalau bukan karena seorang yang kreatif, maka akan sulit menuangkan
gagasan dan ide-ide yang ada di kepala.
2.
Membaca dapat memberikan perspektif
pada dunia sekitar sehingga orang yang suka membaca buku-buku bermutu, cara
berpikir dan berbicaranya pun bermutu. Ia memilki ide-ide yang brilian, yang
kadang-kadang di luar dugaan banyak orang. Pola pikirnya pun sistematis, tidak
acak-acakan.
3.
Membaca dapat membangun kepercayaan
diri. Karena banyak membaca buku, maka seseorang akan memiliki wawasan yang
luas sehingga ia akan lebih percaya diri. Seperti seorang guru. Bayangkan bila
seorang guru malas membaca. Tentu akan kesulitan menyampaikan ilmu kepada
peserta didik. Karena sedikit wawasan dan ilmu yang dimilki, maka akan
menimbulkan rasa minder dan tidak percaya diri. Berbeda dengan guru yang rajin
membaca buku. Tentunya banyak wawasan yang ia miliki sehingga berangkat
mengajar pun dengan rasa percaya diri yang tinggi. Rasa percaya diri ini juga
menjadi modal utama seseorang untuk berbicara di depan umum atau public
speaking.
4.
Membaca dapat membantu mental dan
emosional seseorang tumbuh dengan baik. Membaca itu membijakkan pikir dan
melembutkan rasa. Banyak membaca, akan membuat seseorang lebih dapat mengontrol
emosi saat bicara, menata kata-kata yang akan ia ucapkan, berpikir dengan lebih
bijaksana, dan bertutur kata dengan lembut dan penuh kesopanan. Orang yang
jarang atau bahkan tidak pernah membaca buku, cara berkomunikasinya pun kurang
tertata sehingga sulit dimengerti oleh orang lain. Manfaat ini menjadi modal
dasar dalam bernegosiasi.
5.
Membaca dapat membantu meningkatkan
kemampuan menulis. Hal ini sudah dibuktikan langsung oleh DeLiang. Dengan
banyaknya buku yang ia baca, maka, mudah saja ia menuangkan apa yang ada dalam
pikirannya menjadi sebuah buku yang bisa dinikmati oleh banyak orang, bahkan
mendunia. Apakah orang yang tidak atau jarang membaca buku tidak bisa menulis?
Bisa. Mereka juga bisa menulis. Namun, prosesnya mungkin tidak akan semudah
seperti mereka yang memang terbiasa membaca buku. Bagi yang rajin membaca buku,
ide menulis akan mudah mengalir, merangkai kata-kata pun akan terasa mudah karena
sudah terbiasa membaca rangkaian kata-kata di buku-buku yang ia baca.
Begitu banyak manfaat membaca. Sayang sekali, masih banyak anak Indonesia
yang belum menyukainya. Betapa majunya pendidikan di Indonesia bila generasi mudanya
suka membaca dan menulis. Literasi akan maju dan Indonesia akan memiliki
generasi yang cerdas dan kritis.
Oleh karena itu, perlu dukungan dari semua pihak, terutama orang tua dan
guru. Orang tua harus membudayakan baca buku daripada “baca” handphone. Bagaimana
caranya? Sediakan buku-buku bacaan di rumah. Bagaimana kalau anaknya tidak mau
baca? Orang tua lah yang harus memulai membacakan buku untuk anaknya. Selain dapat
meningkatkan minat baca pada anak, kegiatan ini juga dapat menguatkan bonding
antara orang tua dan anak.
Guru pun harus membudayakan literasi, minimal dengan membiasakan baca
buku selama 15 menit sebelum pembelajaran. Setelah membaca, bisa dilanjutkan
dengan menceritakan Kembali apa yang telah dibaca. Bisa juga dengan
menuliskannya agar anak-anak juga belajar menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Semoga
dengan demikian, anak-anak akan lebih suka membaca, yang kemudian diharapkan,
mampu menulis dan berkarya juga seperti DeLiang.