Sunday, March 10, 2024

Tugas Baru


Bismillah


Kurang lebih sudah sebulan ini, saya mendapatkan tugas baru dari komunitas Proparent, divisi Madrasah Keluarga pimpinan Bu Aini Hidayati yang menggantikan Bu Ida Nur Laila. Ini adalah rumah bagi para SLC (Sygma Learning Consultant) -reseller buku-buku terbitan Sygma-. Di komunitas ini kami dilatih dan dibimbing tidak hanya bagaimana cara berjualan buku, tetapi juga memahami isi buku yang mayoritas tentang siroh Nabi. Selain itu, kami pun dibekali dengan ilmu parenting. Lengkap, kan?


Kembali ke tugas baru saya. Jadi, ceritanya, saya itu termasuk dalam tim inti/pengurus karena dulu sempat aktif dan penjualan saya juga termasuk bagus hingga berada di 10 besar. Nah, sebagai pengurus, ada lah, tugas-tugas yang harus dilakukan. Dulu, saya juga dapat tugas, yaitu menjadi admin grup. Namun, karena kesibukan mengajar, saya mengundurkan diri. Setelah satu setengah tahun, bisa dibilang, vakum, kini saya diminta untuk berkontribusi lagi. 



Karena saya sudah mendapatkan banyak manfaat dari komunitas ini, maka tak sepantasnya bila saya menolak. Lagipula, tugasnya tidak terlalu berat. Apa sih, tugas saya?
Tugas saya mengatur jadwal petugas berkisah, dan saya termasuk salah satu personilnya. Jadi, saya pun ikut membacakan kisah juga.


Buku yang harus kami bacakan adalah paket Mumtasz; Muhammad Teladan Sepanjang Masa. Alhamdulillaah, di perpustakaan AHIS, bukunya tersedia. Jadi, saya bisa pinjam. Alhamdulillaah juga, karena tugas ini, saya jadi ikut membaca bukunya dan jadi lebih paham dengan perjalanan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang sangat luar biasa.



Sebelumnya, meski bukunya tersedia di perpustakaan, saya kurang tertarik. Karena menurut saya, pasti ceritanya seperti yang sudah saya dengar, saya baca, dan saya pelajari selama ini. Pasti tidak jauh dari masa kecil Rasulullah, lalu masa remaja beliau, perjalanan dagang beliau, pernikahan beliau dengan Bunda Khadijah, dan seterusnya, dan seterusnya. Saya sudah lumayan hafal. Begitu pikir saya. Jadi, saya merasa tidak usah membacanya lagi. Astaghfirullah. Sombong sekali 🤦



Ternyata, saat saya sudah membaca sebagiannya, ya, baru sebagiannya. Banyak sekali kisah yang belum saya ketahui. Apa yang diceritakan dalam buku ini benar-benar detail. Tak heran, bila banyak yang belum saya ketahui.


Salah satu kisah yang membuat saya terperanjat dan sangat tersentuh, sedih, adalah saat beliau diusir oleh penduduk Thaif. Selama ini yang saya ketahui hanyalah peristiwa beliau diusir dan dilempari oleh penduduk Thaif, kemudian malaikat menawarkan diri untuk menghancurkan mereka dengan menimpakan gunung kepada mereka. Namun, manusia berhati suci itu, malah mendoakan semoga suatu saat mereka mendapatkan hidayah Allah. Alih-alih sakit hati dengan perlakuan jahat mereka, beliau malah mendoakan kebaikan untuk mereka. MaasyaaAllah.



Ternyata, di balik peristiwa itu, beliau harus kembali ke Makkah dengan perjuangan yang tidak mudah. Ternyata, beliau ke Thaif karena terusir dari Makkah. Sehingga, saat beliau ingin kembali ke sana, jalannya tidak mudah. Beliau harus melobi para tokoh Quraisy yang bersedia menjamin keselamatan beliau dari orang-orang yang membenci beliau. 


MaasyaaAllah, begitu berat perjuanganmu ya Rasulullah. Hanya membaca kisahnya saja, sedih sekali rasanya. Lalu, bagaimana perasaan Fathimah putrimu dan para sahabatmu? Tak heran bila mereka rela mengorbankan jiwa raga mereka untukmu. Manusia suci yang begitu lembut dan penuh kasih kepada umatnya. 

اللهم صل و سلم و بارك عليه 

Tuesday, March 5, 2024

Amanah Baru

Bismillah


Mulai tahun ajaran ini, 2023/2024, sekolah tempat saya mengajar membuka SMP. Alhamdulillaah. Setahun sebelum tahun ajaran baru dimulai, desas-desus tentang siapa saja yang akan mendapatkan tugas baru di SMP mulai terdengar. Saya pun termasuk yang diisukan.


Waktu itu, saya tidak ada keinginan maupun niat untuk mengajar di SMP. Mengapa? Saya merasa sudah tidak muda lagi, sehingga merasa sudah tidak cakap mempelajari hal-hal baru. Ditambah lagi, SMP ini mulai menggunakan kurikulum merdeka yang saya tidak punya pengetahuan sedikit pun tentang kurikulum merdeka ini. Kalau saya mengajar SMP, tugas saya bertambah berat. Harus belajar kurikulum merdeka, sekaligus materi pelajaran yang akan saya ampu, bahasa Indonesia. 


Beberapa rekan guru sudah menebak bahwa saya termasuk salah satu yang akan mengajar SMP. Walaupun dalam hati tidak ingin, tetapi kalau sudah diberi amanah oleh atasan, saya tidak berani menolak. Apalagi Bapak Direktur juga tidak menanyakan kesediaan saya. Beliau langsung saja menugaskan kami dan menjelaskan tugas-tugas kami tanpa bertanya apakah kami bersedia atau tidak. 


Alhamdulillaah 'alaa kulli haal. Meskipun awalnya enggan, saya harus bekerja dengan profesional. Amanah ini diberikan kepada saya karena saya dianggap mampu. Bismillah, saya akan berusaha semaksimal mungkin. I'll do my best!


Saat ini, sudah satu setengah semester perjalanan mengajar SMP. Walaupun ini bukan pertama kalinya, tetap saja harus banyak belajar, terutama yang berkaitan dengan kurikulum merdeka. 


Tidak hanya itu, saya pun harus belajar lagi tentang e-learning karena SMP menggunakan ini. Para siswa belajar menggunakan laptop, bukan buku fisik. Akhirnya, kami pun harus membuat modul alias e-book. Butuh waktu, tenaga, dan pikiran yang tidak sedikit. Di saat liburan, saya tidak berlibur, tetapi bekerja menyusun e-book. Tidak apa-apa. Mengajar itu memang harus sambil belajar.


Alhamdulillah, saya memiliki teman-teman yang sangat baik hati, terutama yang akhwat. Ada Bu Rizky yang selalu siap sedia mencarikan referensi tentang kurikulum merdeka, ada Bu Dian yang ahli IT, sehingga mengajari saya tentang Canva, dan Bu Dita yang sudah S2 namun tetap low profile. MaasyaaAllah, rezeki itu tidak melulu materi. Teman-teman yang shalihah pun, itu rezeki yang luar biasa berharga. Alhamdulillaah.


Selain belajar menyiapkan bahan ajar dan materi pelajaran, saya pun belajar memahami karakter anak-anak SMP. Tentu saja, mereka berbeda dengan anak-anak SD kelas 6. Walaupun hanya 12 siswa, ternyata mereka sangat aktif. Banyak bicara dan bermacam tingkah laku mereka.


Pada masa awal-awal, agak heran juga dengan sikap mereka yang berbeda dengan saat mereka kelas 6. Namun, lama kelamaan jadi terbiasa juga. Ternyata, bergaul dengan mereka itu harus seperti teman. Harus ikut-ikutan lebay. 🤭


Tak terasa, sebentar lagi kenaikan kelas. Saya pun belum tahu, apakah tahun depan masih mengajar SMP atau tidak. Kita tunggu saja kabarnya. Apa pun itu, InsyaaAllah,  adalah yang terbaik untuk saya. Aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻


Monday, March 4, 2024

Ngangeni

Bismillah


Menjadi ibu dari lima orang anak, adalah sesuatu yang luar biasa dan amazing. Namun, saya sadar sesadar-sadarnya, semua ini tidak akan dengan mudah saya lalui kalau tidak dibantu oleh ibu mertua. Beliau yang sangat luar biasa, membantu saya membesarkan kelima buah hati. 


Sebenarnya, terbersit rasa bersalah saat melibatkan beliau dalam keriuhan dan kerepotan ini. Tetapi, mungkin karena memang beliau orang yang tidak suka menganggur dan berdiam diri saja, maka saya pun terpaksa membiarkan beliau ikut repot. Yang penting beliau senang. Karena kalau diminta istirahat saja, beliau merasa tidak dianggap. Aduh 🤦


Alhamdulillah, dengan adanya lima buah hati kami, suasana rumah jadi ramai terus. Namun, itu tak berlangsung lama. Satu per satu, anak-anak harus belajar di pondok, menghafal Al-Qur'an. Maklum, kami, orang tuanya belum bisa mengajari sendiri. Jadi, ya, kami minta tolong ustadz ustadzah yang lebih berkompeten. 


Kini, kelimanya sedang belajar, tidak di rumah. Yang dua sedang kuliah di Jakarta dan Jatinangor, yang tiga masih di pondok. Tinggallah saya berdua dengan suami. Sepi, rumah ini, juga hati ini. Tapi demi kebaikan mereka, demi masa depan mereka, kami harus ikhlas. 


Dalam kesepian ini, sering terbayang saat-saat bersama mereka. Tak terasa, kenangan itu menciptakan rindu yang membiru, hingga menetes air mata. Ada terselip rasa bersalah, saat ingat, betapa kadang saya marah dan terlalu keras kepada mereka. Ingin rasanya berlari dan merengkuh mereka dalam pelukan.


Salah satu kenangan yang tak pernah terlupakan adalah saat kami jalan pagi keliling perumahan, lalu saya belanja sayuran dan anak-anak beli jajanan pasar. Lalu mereka bahu-membahu membawakan barang belanjaan.


Sampai di rumah, setelah makan jajanan tadi, kami pun bergerak ke dapur. Masak kolaborasi, deh. Ada yang menyiangi bayam, mengupas wortel dan jagung putren. Kadang mereka berebut memilih pekerjaan yang mereka sukai. Senang melihatnya. Walaupun, setelahnya, dapur jadi berantakan. Tak apa, bisa dirapikan. 


Kebersamaan itu yang penting. Mereka belajar memasak, belajar berbagi pekerjaan, belajar mengalah, belajar tanggung jawab dengan pekerjaannya, dan, serunya memasak bersama keluarga. 


Sebentar lagi Ramadhan tiba, berarti, sebentar lagi mereka pulang libur lebaran. Meskipun masih satu bulan lagi, rasanya seperti sudah di depan mata. Tak sabar untuk mengulang kembali kenangan indah itu. Dan, sekarang, mereka lah yang akan memasak, bukan belajar lagi. Mereka sudah harus diberi kepercayaan untuk membuat masakan sendiri. 


اللهم بارك لنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان 



Wednesday, February 28, 2024

Selalu Ada Bahagia di Balik Duka

Bismillah


"Abi, umi badannya panas!" Seru si bungsu sambil berlari ke abinya yang sedang duduk di ruang tamu. 


Tak berapa lama, ia kembali bersama abinya yang langsung memegang dahi saya. 

"Iya, panas, Dek. Bikinin teh manis, Dek, buat Umi," pinta si Abi. 
"Siap!" Seru si bungsu penuh semangat.

"Dikerokin, ya Mi?" tanya si Abi.


Begitulah sekelumit kisah saat diri ini terbaring di tempat tidur, tak berdaya. Perhatian yang suami dan anak-anak berikan, seperti obat mujarab yang membuat penyakit tak bertahan lama di badan ini. Terharu! Rasa syukur semakin memenuhi rongga dada ini. Alhamdulillaah, Allah karuniakan keluarga yang begitu menyayangi saya.


Perhatian yang kecil dan sepele, namun bagi saya berdampak luar biasa. Saya merasa menjadi manusia berharga, karena dikhawatirkan dan diperhatikan. 


Demikian pula saat kami baru pulih dari serangan Covid-19. Saat itu, kami sekeluarga terkena virus Corona dan sudah melewati masa inkubasi. Rencananya, hari itu kami akan melakukan sweb antigen untuk memastikan bahwa kami sudah benar-benar sembuh. Tapi, saya malah merasa seluruh badan kaku dan sakit jika digerakkan. Alhasil, saya hanya mampu tiduran. 


Dengan sigap, suami dan anak-anak menyiapkan segala keperluan dan kebutuhan saya. Saya dilayani dengan fasilitas full serviced😍. MaasyaaAllah tabarakallah wal hamdulillahi robbil'aalamiin.


Namun, meskipun serba dilayani, tetap saja ada rasa tidak nyaman. Juga tidak betah, berada di kasur terus. Apalagi melihat pekerjaan rumah yang pastinya banyak yang terbengkalai. Mereka fokus merawat saya sehingga mengabaikan yang lain. Tak masalah. Nanti bisa diurus saat saya sudah sehat. Memang itu tugas saya.


Saat sakit, kita merasa tidak nyaman dan sedih. Merasa tidak berdaya karena tidak bisa berbuat dan bekerja seperti biasa. Tetapi, di sisi lain, saat sakit, kita bahagia karena ada yang merawat dan memperhatikan kita. Kepedulian dan perhatian mereka membuktikan bahwa kita ini istimewa dan berharga untuk mereka.


Bahagia yang lain, saat sakit, dosa-dosa kita gugur karena kesabaran kita dalam menahan sakit dan ikhlas menerima takdir Allah. 

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, mereka mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa melainkan dosa-dosanya akan diampuni” (HR. Muslim no. 2573).

(Sumber https://rumaysho.com/2286-musibah-datang-boleh-jadi-karena-dosa.html)


MaasyaaAllah, betapa indahnya Islam. Betapa bersyukurnya kita menjadi seorang muslim. Di saat kita menderita pun, ada kebahagiaan di sana. Ada imbalan yang luar biasa. Ya, karunia yang bagaimana lagi yang kita harapkan, selain terbebas dari dosa, terampuninya dosa-dosa, serta dimasukkan ke dalam surga-Nya?


Selalu ada hikmah di setiap peristiwa yang kita alami. Yang harus dilakukan adalah kita harus selalu husnudzon kepada Allah. Dan yakin bahwa Allah akan selalu menolong hamba-Nya.


Monday, February 26, 2024

Secuil Cerita tentang Pejuang Perubahan



Bismillah

Kampanye telah usai. Namun, cerita di baliknya, tak pernah henti dikisahkan, dari mulut ke mulut, dari sang pelaku sejarah kepada sang penonton. Tak juga membosankan, malah semakin larut dalam ketakjuban dan kekaguman.



Dengan tagline perubahan, semua orang tergerak hatinya untuk memenuhi JIS (Jakarta International Stadium) yang dibangun pada masa Pak Anies menjadi gubernur DKI Jakarta. Dibangun oleh anak-anak bangsa Indonesia, yang dididik di Indonesia. 100% made in Indonesia, tanpa campur tangan pihak asing. 


Hari itu, Sabtu, 10 Februari 2024, hari terakhir kampanye. Maka, digelarlah kampanye akbar di JIS. Yang datang, tidak hanya warga Jakarta, namun perwakilan dari seluruh Indonesia. Mereka yang menginginkan perubahan, datang dengan biaya sendiri, tanpa dibayar. Bahkan, makan dan minum pun bawa sendiri. Tak ada subsidi dari siapa pun, apalagi dari pemerintah. Semua ikhlas, demi terwujudnya perubahan di negeri tercinta ini. Perubahan ke arah yang lebih baik, Indonesia Emas.



Salah satu peserta kampanye akbar itu adalah sahabat sekaligus saudara saya, Bu Risma. Seorang guru di sekolah yang sama dengan saya mengajar. Beliau sangat bersemangat untuk hadir. Sedangkan saya sendiri, tidak dapat surat izin dari suami. Meski begitu, alhamdulillaah ada Nisa yang berangkat mewakili kami.


Bu Risma sudah janjian dengan teman-temannya untuk berangkat bersama. Qadarullah beliau ketinggalan rombongan. Akhirnya diantar oleh suami tercinta, tetapi hanya sampai Sunter. Sampai di sana, mobil sudah tidak bisa bergerak maju. Terpaksa, Bu Risma jalan kaki sejauh kurang lebih 5 km ke JIS. MaasyaaAllah. Tapi beliau kuat karena memang beliau sudah biasa naik gunung. 


Setelah sampai di JIS, beliau pun tidak otomatis bisa masuk ke dalamnya. Ruangan sudah penuh sehingga tidak ada yang boleh masuk lagi. Kecuali panitia. Nah, saat ada panitia yang akan masuk, Bu Risma pun mencari kesempatan agar bisa ikut ke dalam. Alhamdulillaah berhasil.



Dan, dengan mudahnya beliau mendapatkan tempat duduk di tribun. Alhamdulillaah. Mungkin karena sendiri, jadi gampang. 


Saat Pak Anies mulai orasi, beliau pun turun menuju lapangan tempat Pak Anies berdiri. Namun, lagi-lagi ada halangan. Area tribun dan lapangan dipisahkan oleh pagar yang cukup tinggi. Tak kehilangan akal, beliau pun coba menaiki pagar tersebut dan lompat ke lapangan. MaasyaaAllah, benar-benar superwoman.



Atas jerih payahnya itu, beliau bisa berdiri di pinggir panggung dan berhasil bersalaman dengan Pak Anies. Padahal bukan mahram, ya. Mungkin saking excited -nya, dan saat Pak Anies mengulurkan tangan, beliau spontan bersalaman. Beliau pun bisa memoto Pak Anies dari dekat. Benar-benar pejuang perubahan yang luar biasa. 



Ini hanya secuil cerita yang tersampaikan ke saya. Banyak cerita heroik yang pastinya terukir dan menjadi saksi sejarah akan betapa kuatnya keinginan masyarakat untuk sebuah perubahan. 



Kini, penghitungan suara sedang dilakukan. Apa pun hasilnya, itulah yang terbaik. Karena semuanya terjadi, tentunya atas kehendak Allah. Manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa. Allah jualah yang menentukan. Semoga Allah memberikan kita pemimpin yang shalih, bertaqwa kepada Allah, adil, amanah, dan mencintai rakyatnya, seperti Pak Anies. Aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻.


Sunday, February 25, 2024

Menimba Ilmu sambil Reuni



Bismillah


Hari ini, Ahad, 25 Februari 2024, alhamdulillaah Allah beri kesempatan untuk belajar lagi. Kali ini belajar tentang digital marketing menggunakan WhatsApp, khususnya fitur broadcast. Baru tahu, ternyata broadcast ada yang berbayar. Selama ini hanya pakai yang gratisan.


Dan, baru tahu juga, ternyata pesan otomatis juga bisa dilakukan dengan fitur ini. Tapi, khusus untuk yang berbayar saja. Keren. MaasyaaAllah, ilmu pengetahuan memang selalu berkembang. Kalau kita tidak mengikuti zaman dan tidak mau belajar, rugilah, kita. 



Pematerinya Bapak Apud Kusaeri, dari Trustco. Ini lembaga training sejak zaman mahasiswa dulu. Ternyata masih eksis hingga saat ini. 



Dunia digital, medsos, terutama, ternyata memiliki pengaruh yang sangat dahsyat kalau kita bisa mengelolanya dengan baik. Banyak orang yang sukses di dunia nyata, karena aktif menginformasikan kegiatannya di dunia maya. Contohnya Grup Pandawara. Kumpulan anak muda ini telah menginspirasi dan memotivasi banyak orang untuk berbuat baik, terutama dalam menjaga kebersihan. Dan, mereka hanya mengumumkan kegiatannya itu di medsos. Tanpa baliho maupun flyer. Keren 👍



Contoh lainnya adalah salah seorang caleg muda PKS dari Sulawesi, kalau tidak salah. Namanya Ismail Bachtiar. Beliau bisa lolos ke Senayan, tanpa baliho seperti para caleg umumnya. Tetapi, beliau rajin posting di medsos, memaksimalkan medsos yang memang sudah digunakan oleh ratusan juta penduduk Indonesia. 


Begitu dahsyatnya pengaruh medsos, kalau kita bisa tekuni dan konsisten merawat followers. Pastinya butuh waktu dan tenaga ekstra. Meskipun agak pesimis, tapi kita harus berusaha dulu. Seperti motto Pak Apud.


"Mulai aja dulu
Sempurnakan kemudian"


Kalau banyak mikir, jadinya malah nggak action action, nanti. Semangat ✊


Pemateri kedua adalah Pak Wachid dari Al Kahfi. Pada sesi ini, kami dimotivasi untuk bisa mengumpulkan ZISWAF (zakat, infak, shadaqah, dan wakaf) dengan niat karena Allah dan untuk membantu orang lain, bukan untuk diri sendiri.



Nah, materi Pak Apud tadi, diterapkan untuk menjaring sebanyak-banyaknya Muzakki. Dengan demikian, akan banyak orang yang mempercayakan ZISWAF nya kepada kita. MaasyaaAllah. Materi ini juga keren. Menyentuh, pula. Seperti motto Al Kahfi: Peduli sepenuh hati.



Nah, setelah selesai semua materi, saatnya makan siang. Saat itulah kesempatan untuk bertemu dengan seluruh peserta. Yang tidak terduga, bertemu dengan teman-teman yang sudah puluhan tahun tidak bertemu, seperti Bu Yuli (guru Al Azhar) dan Bu Maryati (perawat RSUD Kota Bekasi). MaasyaaAllah 😍



Saking bahagianya, saya sampai menangis, waktu berpelukan dengan Bu Maryati. Rasanya, rinduuuu banget. Kami berpelukan cukup lama. Tak peduli dengan pandangan mata orang-orang. Tapi, saat bertemu Bu Yuli, kok, hanya sekadar lewat, ya. Nggak tahulah. Tadi itu juga spontan aja. Rasanya bahagia banget bisa bertemu Bu Maryati. Sayangnya saya lupa menanyakan nomor hp. Sudah cari di grup, tapi belum ketemu. 



Alhamdulillaah, terima kasih ya Allah, atas banyak nikmat yang telah Engkau berikan hingga detik ini. Alhamdulillah ada Bu Iin dan Pak Agus, jadi saya bisa nebeng. Jazakumullahu khairan katsira.

Saturday, February 24, 2024

How to Recruit New SLC



Bismillaah
Pada hari Selasa, 15 Juni 2021, kembali kami, para SLC (Sygma Learning Consultant) mendapatkan suntikan energi dari Bu Ida. Kali ini tentang bagaimana merekrut SLC.

Innamal a'maalu binniyaat. Segala sesuatu itu tergantung niatnya. Oleh karena itu, sebelum mulai melangkah untuk merekrut, kita flashback dulu. Apa niat kita ingin menjadi SLC?

Saya sendiri, niatnya supaya bisa membeli buku dengan harga yang lebih murah. Dengan menjadi reseller, biasanya akan mendapatkan potongan harga. Selain itu, sebenarnya niat saya dulu karena ingin tahu, apa itu SLC. Kebetulan biaya pendaftarannya murah, cuma 20 ribu, jadi, enggak ada salahnya bergabung. Kalau enggak cocok, tinggalkan. Itu yang ada di pikiran saya dulu.


Ternyata, niat Bu Ida pun tidak jauh berbeda dengan saya. Beliau pun ingin melengkapi perpustakaan rumah dengan buku-buku berkualitas, dengan harga murah. Hampir sama ya? 

Pada awalnya, mungkin niat kita bergabung di SDI (Sygma Daya Insani) ini hanya untuk kepentingan pribadi yang bersifat duniawi. Mendapatkan buku dengan harga murah, mendapatkan komisi yang lumayan untuk menambah uang belanja, atau yang lebih ukhrowi seperti ingin bersedekah untuk orang tua. 

Boleh saja kita memiliki motivasi seperti di atas. Tetapi, bila motivasinya hanya sebatas tujuan duniawi, maka hanya itulah yang akan kita dapatkan. Seharusnya, motivasi ukhrowi menjadi tujuan utama kita. Karena segala sesuatu yang diniatkan untuk kebaikan akhirat, maka Allah akan memberikan apa yang kita niatkan untuk akhirat, di dunia pun Allah akan cukupkan kebutuhan kita. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.


Kini, saatnya kita memperbaiki niat kita sebagai SLC. Kita niatkan bahwa keterlibatan kita dalam komunitas ini adalah dalam rangka dakwah literasi Islam dengan membumikan siroh. Dengan harapan, ketika anak-anak generasi muda Islam telah banyak mengenal Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam, otomatis akan meneladani akhlak mulia beliau. Maka terwujudlah generasi muda Indonesia yang berakhlak mulia. Sehingga, mudah-mudahan apa yang kita lakukan mendapatkan pahala di akhirat, juga mendapatkan keuntungan di dunia. Aamiin.

Untuk pekerjaan besar ini, kita tidak bisa berjalan seorang diri. Kita butuh teman. Butuh jamaah, agar kita bisa tetap istiqamah, dan agar pekerjaan menjadi lebih ringan dan mudah dilakukan. Oleh karena itu, kita perlu merekrut SLC-SLC baru.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar kita bisa bersemangat dalam melakukan perekrutan. Apa sajakah?

1. Tentukan alasan besar yang mendorong kita ingin merekrut orang lain menjadi mitra/partner kita.
2. Tentukan target dengan cara:
     - tantang diri untuk mencapai target yang 
        membuat gemetaran;
      - afirmasi bahwa kita sanggup mencapai
         target tersebut;
      - lakukan ikhtiar bumi dan langit.

Dan seterusnya....🤭