Sunday, January 21, 2024

Reviu "Surat dari Anak-anak Gaza"


Judul buku: Surat dari Anak-anak Gaza
Penyusun: Soeripto, S.H.
Penerbit: Kayyis
Cetakan: 2023
ISBN: 978-623-09-6962-1
Tebal buku: xiv + 114 hlm.


Bismillah


Hari ini, sudah 100 hari lebih, Palestina dihancurluluhkan oleh Israel. Ribuan anak dan warga syahid, menjemput surga Allah.
Masjid, rumah sakit, kamp pengungsian hancur tak pandang bulu. Entah apa yang ada dalam pikiran Israel laknatullah 'alaih.


Sedih dan tak berdaya, saat melihat pemberitaan tentang apa yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina. Hanya bisa mendoakan, semoga Allah segera memberikan kemerdekaan kepada mereka. Terbebas dari serangan Israel, hidup damai bersama Masjid Al Aqsha tercinta.


Buku Surat dari Anak-anak Gaza ini, sebagaimana judulnya, berisi sekitar 100 surat dari anak-anak Gaza. Penyusunan suratnya dibagi ke dalam 4 bab, yaitu Kondisi, Perasaan, Harapan, dan Cita-cita.


Meskipun dibagi ke dalam beberapa bab, secara garis besar, isi suratnya sama. Tentang harapan dan cita-cita mereka. Sebagian besar mereka ingin menjadi syuhada dan penghafal Al-Qur'an. MaasyaaAllah. Tak heran bila di saat kondisi yang tidak sedang baik-baik saja, mereka tetap semangat menghafal Al-Qur'an. Duh, apa kabar kita di sini? Di negara yang aman dan damai, tapi belum juga tergerak untuk menghafal Al-Qur'an. Astaghfirullah.


Sesuai dengan judul babnya, Kondisi menceritakan keadaan dan situasi mereka dan juga negeri mereka saat ini. Yang pastinya, ancaman bom dan rudal ada setiap saat. Namun, mungkin karena sudah terbiasa, mereka bahkan tidak takut. Seperti bunyi salah satu surat pada halaman 6.


"Pesawat-pesawat F-16, pesawat pengintai, dan pesawat Apache selalu menginspeksi kami, menghujani kami dengan bom fosfor mematikan, melempari kami dengan rudal dan mortir.

Aku benci Zionis. Mereka menghancurkan masjid-masjid tempat kami menghafal Al-Qur'an."


Pada bab Perasaan,  di sana diceritakan bagaimana perasaan anak-anak Gaza selama ini. Hidup dalam ketakutan, kesedihan, dan juga kelaparan. Dikabarkan, saat ini penduduk Gaza tidak hanya menghadapi ancaman bombardir, tetapi juga ancaman kelaparan. 


Namun, ada juga yang merasa bangga, seperti diungkapkan oleh Muhammad Alyan. 


"Aku bangga, tenang, dan merasa terhormat ketika Zionis menyerang kami di Gaza. Sebab, kami berada di bumi tempat Rasulullah melakukan Isra' Mi'raj. Aku bangga karena aku sedang membela kehormatan umat Islam. Aku juga merasa terhormat karena dari sekian banyak umat Islam, Allah memilih kami untuk mempertahankan Masjidil Aqsha."


MaasyaaAllah, perasaan yang sangat luar biasa, muncul dari keimanan yang luar biasa juga, tentunya. Memang, anak-anak Gaza, tidak sama dengan anak-anak di bumi mana pun. Mereka memiliki keimanan yang sangat kuat, ketabahan yang sangat luar biasa. Itu semua hasil didikan dari para ibu yang juga sangat luar biasa. 


Ya, ibu-ibu Gaza sangat berbeda juga. Walaupun dalam keadaan tidak baik-baik saja, dalam ancaman bombardir dan juga kelaparan, serta kedinginan, mereka tetap semangat menghafal Al-Qur'an. Mereka tetap semangat mendidik anak-anak mereka untuk menghafal Al-Qur'an. Tak heran, bila mereka sangat kuat dan tangguh. Semoga kita, terutama saya, bisa meniru mereka. Aamiin yaa rabbal'aalamiin.

Tuesday, January 16, 2024

Upgrade Diri

Bismillah


Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah tulisan di sebuah buku yang saya lupa judulnya. Tulisan itu kira-kira berbunyi, bahwa seorang guru akan dikatakan berhasil apabila ia di sekolah itu tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar. Nah, lho. Hal ini relevan sekali dengan semboyan favorit saya dari Pak Fadhil Gufron. Seorang guru adalah seorang pembelajar. Guru hebat adalah guru pembelajar.


Memang, benar sekali. Alhamdulillah, saya pun merasakan demikian saat mengajar. Apalagi mengajar di AHIS (Al Hidayah Islamic School). Di sini, saya tidak hanya mengajar, tapi juga belajar. Dan, rasanya saya lebih banyak belajar daripada mengajar. Jadi merasa bersalah. Saya kan, digaji untuk mengajar ya, bukan belajar. Apakah AHIS tidak rugi, tuh?


Sekilas, kelihatannya, sekolah merugi, ya. Tapi, ternyata tidak. Guru yang semangat belajar, radiasinya akan menular kepada siswa. Bila gurunya semangat dalam mengajar sekaligus belajar, insyaaAllah, siswanya pun semangat dalam belajar. 


Selain itu, dengan memiliki guru-guru yang semangat belajar, maka sekolah akan selalu mempunyai SDM yang up-to-date, tidak ketinggalan zaman. Mereka selalu mengikuti dan menerapkan ilmu-ilmu baru, yang tentunya sangat berpengaruh terhadap anak didik. 


Demikian pula yang dilakukan AHIS. Kami, para guru didorong untuk selalu meng-upgrade diri dengan mengikuti pelatihan, baik online maupun offline. Selain itu, sekolah pun, kadang-kadang mengadakan in-house training. Seperti yang baru saja saya ikuti. Selama dua hari ini, Sabtu dan Ahad (13 dan 14 Januari), kami mengikuti Sertifikasi Guru Metode Ummi. Sehari lagi akan dilaksanakan Sabtu depan tanggal 20 Januari 2024. 


Menurut teman-teman dari luar AHIS, biaya mengikuti sertifikasi ini tidak murah. Dan, mereka yang ingin mengikuti pelatihan ini, harus datang ke kantor Ummi di GCC, Cikarang. Jarak yang tidak dekat, dari sekolah kami. Sedangkan, kami di sini, sudah dibiayai sekolah, tutornya pun datang ke sekolah. Kami tidak perlu jauh-jauh datang ke kantornya. Alhamdulillah bini'matihi tatimushsholihat. Nikmat mana lagi, yang engkau dustakan?


Dengan adanya pelatihan ini, sekolah berharap, mutu guru-guru dalam bidang Al-Qur'an, terutama membaca dan mengajarkannya, akan semakin bagus. Yang tadinya tidak tahu -seperti saya-, jadi tahu. Yang sudah tahu, semakin mengerti dan hafal. 


Dan, belajar Al-Qur'an, adalah sebaik-baik aktivitas. Orang yang mempelajarinya, adalah sebaik-baik manusia. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita untuk selalu belajar dan mengajarkan Al-Qur'an dan memasukkan kita sebagai ahlul Qur'an. Aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻




Friday, January 12, 2024

Review "Si Anak Savana"

Judul buku: Si Anak Savana
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sabakgrip
ISBN: 978-623-97262-2-5
Cetakan: Agustus 2022
Tebal buku: 382 hlm

Bismillah


Satu kata untuk buku ini. Seru! 
Alhamdulillah, tidak menyesal sudah bela-belain membeli buku ini untuk menemani liburan anak-anak. Selain buku ini, saya juga membeli "Bibi Gill". Tapi, tetap, buku ini yang paling seru.


Dari awal cerita saja, kita sudah dibuat penasaran dengan hilangnya sapi Loka Nara yang tanpa jejak. Misterius. Dan, kejadian itu diikuti dengan kehilangan sapi-sapi yang lain, yang semuanya juga misterius. Hilang begitu saja. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Tidak ada jejak pula yang bisa memberikan petunjuk ke mana sapi-sapi itu dibawa pergi oleh si pencuri.


Itu masalah pokok yang sepertinya jadi masalah sampingan bila kita mengikuti tiap bab. Dalam setiap bab ada masalah tersendiri yang juga seru sehingga kadang lupa dengan pokok permasalahan; sapi hilang. 


Yang membuat buku ini seru, tentu kehidupan anak-anak Savana yang diangkat ke dalam cerita ini. Bagaimana persahabatan Ahmad Wanga, sang tokoh utama, bersama teman-teman sekelasnya sekaligus sepermainan. 


Tak kalah seru pula, bagaimana mereka bertahan hidup di Padang Savana. Mencari air ke telaga yang jauh dari perkampungan mereka, menonton balap kuda yang tak sekadar balapan pada umumnya. 


Selain seru, buku ini juga bermutu dan bergizi karena tak melupakan adab dan akhlak seorang muslim. Juga bagaimana seharusnya kita memegang prinsip keislaman kita. Tidak hanya dalam beribadah kepada Allah, tetapi juga dalam segala aktivitas kehidupan kita, tidak dipisah-pisahkan. 


Semua cerita dalam buku ini, terwakili dalam puisi yang, dalam cerita itu, ditulis oleh Sedo. Salah seorang teman Wanga yang telah yatim piatu dan hidup hanya berdua dengan adiknya. 

Anak Savana

Apa yang kau lihat di savana?
Rerumputan?
Satu-dua pohon yang meranggas?
Atau sapi dan kuda yang tengah merumput?

Apa yang kaurasakan ketika di savana?
Panas?
Udara kering yang membuat dahaga?
Atau semilir angin yang membuai?

Kalau kau tanya aku
Maka aku jawab begini:
Aku melihat ketangguhan di savana
Pada rumput yang kering, berwarna cokelat, terinjak
Tapi besok-besok tetap ada, menghijau kembali saat diguyur hujan

Aku merasakan hidup yang bermanfaat
Menghidupi sapi dan kuda
Membuat kau bisa duduk memandang
Keindahannya

Kalau kau tanya aku,
Aku melihat dan merasakan itu
Adalah masa depanku
Karena aku anak savana


Tuesday, January 9, 2024

Rizq Palace




Jamaah haji Indonesia tahun ini ada 100.000 lebih. Mereka tinggal di beberapa sektor. Saya tinggal di sektor 5, daerah Misfalah, di hotel Rizq Palace nomor 505. Maktabnya nomor 38. Jarak dari hotel ke Masjidil Haram sekitar 2 km. Bila ditempuh dengan berjalan kaki, memerlukan waktu sekitar 30 menit dengan berjalan santai. Sedangkan bila kita naik bus, membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit.  Sepuluh menit naik bus, disambung 5 menit berjalan kaki dari terminal bus menuju Masjidil Haram.


Saya tinggal di kamar 908. Kali ini kami hanya berempat. Bu Siti terpisah dari kelompok kami. Tetapi kamarnya masih berdekatan. Dan, kami pun masih sering ngobrol bersama. Kebersamaan yang pernah terjalin di kamar 714, terus merekat seperti saudara. Padahal kami baru bertemu.


Hotel Rizq Palace levelnya lebih rendah daripada Manazil Al Rahma. Walaupun begitu, tetap nyaman dan menyenangkan. Di sisi lain, Rizq Palace lebih lengkap karena ada mesin cuci di setiap lantai. Sedangkan untuk menjemur pakaian, tersedia di roof top. Enaknya di Makkah, menjemur sebentar, tidak perlu seharian seperti di Indonesia, pakaian langsung kering. Bahkan, sering juga kami menjemur di  kamar mandi atau di balik gorden. Walaupun membutuhkan waktu agak lama, tapi lumayan lah. Daripada harus naik ke roof top.


Meskipun ada beberapa hal yang tidak sebagus di hotel Manazil Al Rahma, kami mendapat pelayanan yang baik dari Rizq Palace. Selain itu, kami pun memperoleh hadiah dari pihak manajemen hotel. Kami yang berjumlah sekitar 2.000, semua mendapatkan sebuah jubah khas Arab Saudi. 


Menjelang pulang ke Indonesia, kami mendapat hadiah lagi. Tetapi, kali ini tidak semua orang mendapatkannya. Dari satu rombongan, tersedia 6 hadiah berupa handphone. Hadiahnya pun diundi. Alhamdulillaah, saya tidak termasuk yang mendapatkannya. 


Satu lagi hadiah yang kami dapatkan. Kali ini dari Shireen, salah seorang admin hotel yang masih muda dan cantik. Shireen ini keturunan Indonesia Arab. Ibunya asli Lombok, ayahnya Mekah. Shireen memberi kami, masing-masing sebuah gantungan kunci bergambar Ka'bah, Masjidil Haram,  atau Masjid Nabawi.


MasyaaAllah tabarakallah. Benar-benar kenikmatan luar biasa, menjadi jamaah haji. Semoga nanti Allah izinkan kembali saya dan keluarga untuk menjadi tamu Allah. Aamiin yaa rabbal'aalamiin 🤲🏻

Thursday, January 4, 2024

Menulis Lagi




Bismillah


Hari ini, setelah satu tahun lebih, saya bertekad untuk rutin menulis lagi dengan mengikuti KLIP. Sebenarnya saya sudah pernah ikut KLIP ini beberapa kali. Dan, terakhir kali ikut, kalau tidak salah tahun 2022. Sayang sekali, saya gagal di babak awal karena setoran tulisan saya kurang dari target. Nah, sekarang saya akan mencoba lagi. Bismillah ... Semoga bisa sampai finish.


Saya tidak menulis selama setahun lebih, bukan karena tidak ada topik. Tetapi, yang pertama sih, karena malas, ya. Ini sesuatu yang sangat buruk dan tidak boleh terulang lagi. Kemalasan itu datang berawal dari kritikan suami terhadap tulisan saya. Ternyata, berdampak sangat buruk terhadap mood menulis saya. Akibatnya, blog ini kosong melompong. Untung nggak hilang. 


Faktor lain yang menyebabkan saya tidak menulis, biasa, karena keriweuhan dunia nyata. Mengajar kembali, setelah satu tahun vakum, ternyata membuat saya harus belajar lagi dan bekerja ekstra keras dibandingkan sebelumnya. Belum lagi tambahan tugas untuk mengajar SMP. Jadilah, kepala pusing karena harus memikirkan banyak hal.


Nah, mengapa sekarang saya menulis lagi? Alasan pertama sebenarnya, karena saya melihat postingan pendaftaran KLIP yang lewat di beranda Instagram. Padahal, dulu, saya kenal KLIP dari Facebook. Sekarang melalui Ig karena saya lebih sering membuka Ig daripada FB. 


Beberapa hari ini, saya memang mencari pelatihan tentang mengajar karena ada target dari sekolah untuk memiliki sertifikat pelatihan minimal satu dalam satu tahun. Qadarullah, yang saya lihat di Ig itu, kebanyakan pelatihan menulis dan hampir semua berbayar. Makanya, saat lihat pendaftaran KLIP, jadi tertarik. Menulis itu kan, memang harus banyak latihan. Sekarang, kita latihan sendiri dulu. Nanti kalau ada rezeki baru ikut yang serius dan berbayar. 


Sebenarnya, saya ingin ikut yang berbayar karena saya ingin meningkatkan kemampuan menulis saya dalam bidang yang lebih serius seperti artikel ilmiah. Selain ini memang saya perlukan untuk diri sendiri -ingin nyoba bikin seperti itu-, insyaaAllah ini juga bermanfaat untuk siswa SMP. Salah satu target literasi anak SMP adalah membuat karya ilmiah. Oleh karena itu, salah satu target tahun ini, ingin bisa belajar dan menulis literatur yang lebih baik dan lebih ilmiah.

Bismillah
Ya Allah, mudahkan saya agar bisa berdakwah dan menebar kebaikan melalui tulisan. Aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻

Tuesday, November 29, 2022

Training and School Tour (part 2)



Bismillah

Foto ini diambil dengan background amphitheater. Keren, ya. Mirip yang di film India tentang anak disleksia itu. Dengan latar belakang tanaman hijau, benar-benar ramah mata. 


Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke area sekolah SD dan TK yang menggunakan rumah panggung. Berada di sini, serasa sedang liburan di cottage. 

SAC ini benar-benar sangat memperhatikan lingkungan alam. Semua sampah diberdayakan dengan prinsip reuse, reduce, recycle. Sampah daun kering dikumpulkan untuk dibuat pupuk kompos, botol plastik, kardus, kertas bekas, dan semua sampah yang bisa didaur ulang, dikumpulkan di bank sampah. Para siswa yang mengumpulkan barang-barang bekas tersebut, akan diganti dengan uang. 


Di sana juga ada toko pakaian bekas tapi masih layak pakai. Di toko tersebut juga dijual sabun isi ulang. Jika botol bekas sabunnya dikembalikan, kita akan mendapatkan cashback.


Oya, ada juga nursery tanaman. Lengkap, pokoknya. Jadi ingin meniru dan mengaplikasikannya di AHIS. Mantap, kalau bisa terwujud. 


Setelah lelah berkeliling, kami pun kembali ke Function Room dan melanjutkan training sedi kedua. Pada sesi kedua ini, pematerinya adalah Pak Fadhil dan Pak Harfizal. Alhamdulillaah, hari ini saya mendapatkan banyak ilmu dan wawasan serta pengalaman yang luar biasa. Gratis, lagi. MasyaaAllah. Baarakallahu fiikum, para pemateri dan seluruh civitas akademik Sekolah Alam Cikeas. Semoga menjadi amal jariyah dan menginspirasi kami semua.



Ternyata tidak hanya itu, nikmat Allah yang saya dapatkan hari ini. Saya pun, atas izin Allah, mendapatkan hadiah buku karena sudah upload pengalaman hari ini di Instagram.

Ya Allah, semoga dengan banyak nikmat yang Engkau berikan ini, menjadikan saya semakin bersyukur dan menjadi pribadi serta guru yang lebih baik lagi, yang bisa bermanfaat kepada orang banyak, aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻.

Saturday, November 26, 2022

Training and School Tour


Alhamdulillaah, tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah atas nikmat ini, setelah begitu banyak kenikmatan yang tak terhitung. Padahal sudah diinformasikan di grup, tapi qadarullah tidak pernah dibuka, grupnya. H-1 dapat undangan dari admin. Mungkin setelah tidak ada respons di grup, ya. 


Sempat bengong, waktu baca undangan itu. Training offline? Yang teringat hanya, kan ngajar, bukan hari libur. Mana bisa?

Alhamdulillaah, Allah sadarkan hamba yang bodoh ini. Kenapa nggak coba minta izin aja. Ini kesempatan langka; training gratis dengan para pakar, bertemu dengan mereka yang selama ini hanya bisa belajar lewat zoom, dan ... melihat langsung Sekolah Alam Cikeas yang keren itu. 


Alhamdulillaah, kepala sekolah mengizinkan, bahkan disuruh pakai mobil sekolah! Wow, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kaudustakan? 


Sungguh bahagia diri ini. MasyaaAllah, anugerah yang sangat luar biasa. Waktu masuk area sekolah, saya sudah terkagum-kagum dengan suasananya yang adem dan hijau royo-royo. Benar-benar nyaman untuk belajar. Gimana anak nggak senang, kalau tempat belajarnya seperti itu?


Kata salah seorang fasilitator di sana, Bu Ana, di SAC ada berbagai macam jenis tumbuhan. Memang benar, mau cari tumbuhan yang aneh-aneh juga ada. Sudah seperti di Kebun Raya Bogor, bahkan seperti di hutan. Koleksi tanamannya sangat banyak dan beragam. 


Nah, apa saja sih, yang saya lakukan di sana?
Pertama, tentu saja registrasi. Saya diberi souvenir berupa sticker SAC dan kantong kecil dengan logo SAC pula. MasyaaAllah tabarakallah.


Lalu masuk ke ruangan "Function Room". MasyaaAllah, ternyata sudah ada Pak Fadhil. Fadhil Mas Ghufron. Salah seorang guru online sekaligus salah satu inspirator dalam buku saya. Inilah yang membuat saya sangat bahagia. Ya Allah, baru bertemu guru yang inspiratif saja sudah sebahagia ini. Bagaimana rasanya bertemu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Allah 'azza wa jalla😭


Nah, yang tak disangka-sangka lagi, ternyata sudah tersedia welcome drink dan snack buat sarapan. Snack-nya makanan sehat semua: jagung, ubi, singkong, pisang, dan kacang yang semua direbus. Minumnya teh lemon hangat. Yummy 😋


Lalu, dimulailah acara yang dibuka oleh Ibu Direktur, Ibu Kunti. Masih terlihat muda dan cantik. Lalu pemaparan materi oleh Kepala TK, Bu Ine, dan Kepala SD, Pak Kholid. 


Setelah itu School Tour. Kami berkeliling SAC sambil terkagum-kagum tak henti-henti. Selain aneka ragam tanaman yang sudah saya ceritakan di atas, ada juga piagam penghargaan untuk siswa dan guru tiap bulannya. Lalu, ada drainase air yang digunakan untuk menampung air hujan. Diameternya satu meter, dengan kedalaman dua meter. Lubang ini tertutup, jadi aman buat anak-anak. Tak jauh dari sana, ada kran air minum. Jadi ingat waktu di Madinah-Makkah. Kran air minum ada di mana-mana. Bedanya, kran ini memiliki mesin filter di bagian bawahnya dan airnya berasal dari air tanah. Sama juga sih, di Makkah -Madinah juga dari air tanah. Tepatnya air sumur zamzam. Hanya, kandungan air zamzam lebih dahsyat.

Kami menuju Amphitheater. Di sana sedang ada assembly anak TK dan PG. Acara ini diselenggarakan setiap hari Jumat dan menampilkan kelas yang berbeda-beda. Melihat anak TK tampil di panggung, berbicara dengan runtut dan tidak grogi, amazing. Walaupun, tetap saja ada yang kurang fokus, ada yang bengong, ada yang bergerak semaunya sendiri, semuanya tetap enak dilihat dan lucu. 


Setelah performance selesai, kami beranjak menuju SMA. Di sana sedang ada presentasi siswa yang baru selesai magang. Di SAC namanya Real Life Education. Itu merupakan program PBL (project based learning) SMA SAC. Di depan kelas SMA, ada deretan tempat sampah, sebanyak tujuh buah. Masing-masing sudah dipisahkan sesuai jenisnya. Tidak hanya organik dan anorganik. 

Juga ada keranjang botol plastik bekas yang nantinya dijual atau didaur ulang.

Setelah puas mengamati SMA, kami lanjut ke SMP. Di sana, siswanya sedang belajar praktik. Ada Pramuka, membatik, dan ... apalagi ya, lupa. Yang jelas, mereka ditemani oleh guru luar, bukan guru atau fasilitator SAC.


Berikutnya adalah perpustakaan TK dan SD. Di depan perpustakaan ada deretan kursi yang ditulisi dengan berbagai bahasa daerah di Indonesia, yang artinya "silakan duduk". Oya, dalam school tour ini, kami ditemani oleh Bu Ana. Namun, ikut bersama kami, ada Pak Fadhil dan Pak Harfizal. Mereka adalah kepala SMP dan SMA. Berasa jadi orang penting.

Repot banget waktu pengambilan foto ini. Karena kami ingin, kursinya juga terlihat. Sayangnya, tulisan dari berbagai bahasa daerahnya tidak terlihat, ya.

To be continued....