Tuesday, February 16, 2016

Cakra Manggiling



Dalam bahasa Indonesia, cakra manggiling artinya roda berputar. Hidup kita ini seperti roda berputar, kadang di atas, kadang di tengah, dan kadang di bawah. Sangat dinamis. Bagi kita, itu sudah sunnatullah. Sesuatu yang pasti terjadi. Bahasa kerennya, mungkin, hukum alam.
Tidak ada orang yang miskin atau menderita terus-menerus sepanjang hidupnya. Pasti ada saatnya dia merasa di atas; bahagia. Dan, bahagia tidak melulu dihargai dengan materi. Karena, bahagia tempatnya di dalam hati. Ada orang yang kaya raya, tapi hatinya hampa. Sebaliknya, ada orang yang serba kekurangan secara materi, tapi dia selalu bahagia.
Begitu pun sebaliknya, tidak ada orang yang berada di tengah atau di atas terus-menerus. Suatu saat dia pasti merasakan bagaimana nikmatnya berada di bawah. Di mana pun posisi kita, sebagai orang yang beriman, kita harus selalu siap menghadapi dan menjalaninya. Seperti yang sudah diwasiatkan oleh Rasulullah saw bahwa betapa indah urusan seorang mukmin. Ketika mendapatkan nikmat kesenangan, dia bersyukur. Dan saat memperoleh musibah atau nikmat kesedihan, dia bersabar. Dengan begitu kita tidak akan merasa stress.
Itulah yang selalu ingin kuterapkan dalam hidup yang cuma sekejap ini. Ketika aku merasa lelah dengan tingkah laku anak-anak yang sering mengesalkan dan memancing emosi, aku teringat dengan putra saudaraku yang kurang beruntung. Sejak usia 8 bulan, putra saudaraku itu lumpuh, tak bisa bicara, dan perkembangan tubuhnya terhambat. Di usianya kini yang sudah melewati 10 tahun, di saat anak-anak lain menikmati indahnya sekolah, dia hanya bisa berguling-guling di lantai dengan kedua kakinya yang kecil. Di saat anak-anak lain asyik menghafal Al Qur’an, mengucapkan kata “mama” saja dia tak mampu. Kehadirannya menjadi ibroh luar biasa bagiku. Membuatku harus bersyukur dengan anugerah Allah yang luar biasa; anak-anakku yang tumbuh sehat dan cerdas. Meskipun kadang-kadang aku harus marah, tapi tak membuatku membenci mereka. Mereka adalah amanah yang telah diberikan Allah kepadaku dan suami. Harus disyukuri dan jangan disia-siakan.
Di waktu lain aku merasa begitu sesak menjalani hidup ini ketika kebutuhan hidup melonjak tinggi, sedangkan pemasukan tidak bertambah. Pusing memikirkan biaya sekolah yang semakin hari semakin melangit. Di saat itulah Allah mengirimkan hamba-Nya yang lebih menderita dan lebih sengsara dibandingkan keluargaku. Seperti sore itu. Ketika kami sedang bingung dengan uang pendaftaran dua putriku yang mau masuk SMP dan SMA, teman suamiku datang mengadu. Sudah beberapa minggu ini suaminya pergi tak tahu kemana. Suaminya merasa takut karena setiap hari didatangi debt collector. Ternyata suaminya punya utang 800 juta ke bank dan beberapa rekan bisnis. Karena tidak tahu mau bayar dengan apa, maka sang suami kabur meninggalkan rumah. Tinggal isterinya yang selalu diteror orang-orang yang tak dikenal. Maasyaallah ... begitu indah teguran-Mu ya Allah. Terimakasih ya Allah, meskipun kami sering kekurangan, Alhamdulillaah kami tidak punya utang sebesar itu.
Satu lagi yang selalu membuatku mensyukuri hidup ini; suamiku. Meski dia bukan laki-laki yang sempurna, tapi dia sudah berusaha selalu membahagiakanku dan anak-anakku. Ketika konflik terjadi antara kami berdua, yang menyebabkanku berurai air mata, di saat itulah aku berusaha menghibur diri. Teringat saudaraku yang lain, yang suaminya telah selingkuh berkali-kali, tapi tak ingin menceraikan isterinya. Nafkah lahir pun selalu tak  cukup untuk kehidupan mereka berempat. Bila ingat itu, sepedih  apa pun hatiku, tak kan sebanding dengan rasa syukurku karena telah mempunyai suami sebaik dan sesholeh dia. Alhamdulillaah.
Kalau kita selalu mensyukuri apa yang ada pada diri kita, dan tidak selalu melihat ‘ke atas’, maka hidup ini selalu indah nampak di mata. Meskipun kita sedang berada di bagian bawah roda, kita tidak akan mengeluh, apalagi sampai menyalahkan Allah. Karena di luar sana, masih lebih banyak saudara kita yang lebih sengsara dibandingkan kita.

#One Day One Post
#Februari Membara
#12th Day

2 comments:

Unknown said...

Rasa syukur kuncinya. Dan penting bagi kita untuk selalu diingatkan agar bersyukur. Nice post mba.

irma said...

Sepakat mbak.. kita tal boleh menyalahkan Allah..