Wednesday, February 28, 2024

Selalu Ada Bahagia di Balik Duka

Bismillah


"Abi, umi badannya panas!" Seru si bungsu sambil berlari ke abinya yang sedang duduk di ruang tamu. 


Tak berapa lama, ia kembali bersama abinya yang langsung memegang dahi saya. 

"Iya, panas, Dek. Bikinin teh manis, Dek, buat Umi," pinta si Abi. 
"Siap!" Seru si bungsu penuh semangat.

"Dikerokin, ya Mi?" tanya si Abi.


Begitulah sekelumit kisah saat diri ini terbaring di tempat tidur, tak berdaya. Perhatian yang suami dan anak-anak berikan, seperti obat mujarab yang membuat penyakit tak bertahan lama di badan ini. Terharu! Rasa syukur semakin memenuhi rongga dada ini. Alhamdulillaah, Allah karuniakan keluarga yang begitu menyayangi saya.


Perhatian yang kecil dan sepele, namun bagi saya berdampak luar biasa. Saya merasa menjadi manusia berharga, karena dikhawatirkan dan diperhatikan. 


Demikian pula saat kami baru pulih dari serangan Covid-19. Saat itu, kami sekeluarga terkena virus Corona dan sudah melewati masa inkubasi. Rencananya, hari itu kami akan melakukan sweb antigen untuk memastikan bahwa kami sudah benar-benar sembuh. Tapi, saya malah merasa seluruh badan kaku dan sakit jika digerakkan. Alhasil, saya hanya mampu tiduran. 


Dengan sigap, suami dan anak-anak menyiapkan segala keperluan dan kebutuhan saya. Saya dilayani dengan fasilitas full serviced😍. MaasyaaAllah tabarakallah wal hamdulillahi robbil'aalamiin.


Namun, meskipun serba dilayani, tetap saja ada rasa tidak nyaman. Juga tidak betah, berada di kasur terus. Apalagi melihat pekerjaan rumah yang pastinya banyak yang terbengkalai. Mereka fokus merawat saya sehingga mengabaikan yang lain. Tak masalah. Nanti bisa diurus saat saya sudah sehat. Memang itu tugas saya.


Saat sakit, kita merasa tidak nyaman dan sedih. Merasa tidak berdaya karena tidak bisa berbuat dan bekerja seperti biasa. Tetapi, di sisi lain, saat sakit, kita bahagia karena ada yang merawat dan memperhatikan kita. Kepedulian dan perhatian mereka membuktikan bahwa kita ini istimewa dan berharga untuk mereka.


Bahagia yang lain, saat sakit, dosa-dosa kita gugur karena kesabaran kita dalam menahan sakit dan ikhlas menerima takdir Allah. 

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, mereka mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa melainkan dosa-dosanya akan diampuni” (HR. Muslim no. 2573).

(Sumber https://rumaysho.com/2286-musibah-datang-boleh-jadi-karena-dosa.html)


MaasyaaAllah, betapa indahnya Islam. Betapa bersyukurnya kita menjadi seorang muslim. Di saat kita menderita pun, ada kebahagiaan di sana. Ada imbalan yang luar biasa. Ya, karunia yang bagaimana lagi yang kita harapkan, selain terbebas dari dosa, terampuninya dosa-dosa, serta dimasukkan ke dalam surga-Nya?


Selalu ada hikmah di setiap peristiwa yang kita alami. Yang harus dilakukan adalah kita harus selalu husnudzon kepada Allah. Dan yakin bahwa Allah akan selalu menolong hamba-Nya.


Monday, February 26, 2024

Secuil Cerita tentang Pejuang Perubahan



Bismillah

Kampanye telah usai. Namun, cerita di baliknya, tak pernah henti dikisahkan, dari mulut ke mulut, dari sang pelaku sejarah kepada sang penonton. Tak juga membosankan, malah semakin larut dalam ketakjuban dan kekaguman.



Dengan tagline perubahan, semua orang tergerak hatinya untuk memenuhi JIS (Jakarta International Stadium) yang dibangun pada masa Pak Anies menjadi gubernur DKI Jakarta. Dibangun oleh anak-anak bangsa Indonesia, yang dididik di Indonesia. 100% made in Indonesia, tanpa campur tangan pihak asing. 


Hari itu, Sabtu, 10 Februari 2024, hari terakhir kampanye. Maka, digelarlah kampanye akbar di JIS. Yang datang, tidak hanya warga Jakarta, namun perwakilan dari seluruh Indonesia. Mereka yang menginginkan perubahan, datang dengan biaya sendiri, tanpa dibayar. Bahkan, makan dan minum pun bawa sendiri. Tak ada subsidi dari siapa pun, apalagi dari pemerintah. Semua ikhlas, demi terwujudnya perubahan di negeri tercinta ini. Perubahan ke arah yang lebih baik, Indonesia Emas.



Salah satu peserta kampanye akbar itu adalah sahabat sekaligus saudara saya, Bu Risma. Seorang guru di sekolah yang sama dengan saya mengajar. Beliau sangat bersemangat untuk hadir. Sedangkan saya sendiri, tidak dapat surat izin dari suami. Meski begitu, alhamdulillaah ada Nisa yang berangkat mewakili kami.


Bu Risma sudah janjian dengan teman-temannya untuk berangkat bersama. Qadarullah beliau ketinggalan rombongan. Akhirnya diantar oleh suami tercinta, tetapi hanya sampai Sunter. Sampai di sana, mobil sudah tidak bisa bergerak maju. Terpaksa, Bu Risma jalan kaki sejauh kurang lebih 5 km ke JIS. MaasyaaAllah. Tapi beliau kuat karena memang beliau sudah biasa naik gunung. 


Setelah sampai di JIS, beliau pun tidak otomatis bisa masuk ke dalamnya. Ruangan sudah penuh sehingga tidak ada yang boleh masuk lagi. Kecuali panitia. Nah, saat ada panitia yang akan masuk, Bu Risma pun mencari kesempatan agar bisa ikut ke dalam. Alhamdulillaah berhasil.



Dan, dengan mudahnya beliau mendapatkan tempat duduk di tribun. Alhamdulillaah. Mungkin karena sendiri, jadi gampang. 


Saat Pak Anies mulai orasi, beliau pun turun menuju lapangan tempat Pak Anies berdiri. Namun, lagi-lagi ada halangan. Area tribun dan lapangan dipisahkan oleh pagar yang cukup tinggi. Tak kehilangan akal, beliau pun coba menaiki pagar tersebut dan lompat ke lapangan. MaasyaaAllah, benar-benar superwoman.



Atas jerih payahnya itu, beliau bisa berdiri di pinggir panggung dan berhasil bersalaman dengan Pak Anies. Padahal bukan mahram, ya. Mungkin saking excited -nya, dan saat Pak Anies mengulurkan tangan, beliau spontan bersalaman. Beliau pun bisa memoto Pak Anies dari dekat. Benar-benar pejuang perubahan yang luar biasa. 



Ini hanya secuil cerita yang tersampaikan ke saya. Banyak cerita heroik yang pastinya terukir dan menjadi saksi sejarah akan betapa kuatnya keinginan masyarakat untuk sebuah perubahan. 



Kini, penghitungan suara sedang dilakukan. Apa pun hasilnya, itulah yang terbaik. Karena semuanya terjadi, tentunya atas kehendak Allah. Manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa. Allah jualah yang menentukan. Semoga Allah memberikan kita pemimpin yang shalih, bertaqwa kepada Allah, adil, amanah, dan mencintai rakyatnya, seperti Pak Anies. Aamiin yaa mujibassaailin 🤲🏻.


Sunday, February 25, 2024

Menimba Ilmu sambil Reuni



Bismillah


Hari ini, Ahad, 25 Februari 2024, alhamdulillaah Allah beri kesempatan untuk belajar lagi. Kali ini belajar tentang digital marketing menggunakan WhatsApp, khususnya fitur broadcast. Baru tahu, ternyata broadcast ada yang berbayar. Selama ini hanya pakai yang gratisan.


Dan, baru tahu juga, ternyata pesan otomatis juga bisa dilakukan dengan fitur ini. Tapi, khusus untuk yang berbayar saja. Keren. MaasyaaAllah, ilmu pengetahuan memang selalu berkembang. Kalau kita tidak mengikuti zaman dan tidak mau belajar, rugilah, kita. 



Pematerinya Bapak Apud Kusaeri, dari Trustco. Ini lembaga training sejak zaman mahasiswa dulu. Ternyata masih eksis hingga saat ini. 



Dunia digital, medsos, terutama, ternyata memiliki pengaruh yang sangat dahsyat kalau kita bisa mengelolanya dengan baik. Banyak orang yang sukses di dunia nyata, karena aktif menginformasikan kegiatannya di dunia maya. Contohnya Grup Pandawara. Kumpulan anak muda ini telah menginspirasi dan memotivasi banyak orang untuk berbuat baik, terutama dalam menjaga kebersihan. Dan, mereka hanya mengumumkan kegiatannya itu di medsos. Tanpa baliho maupun flyer. Keren 👍



Contoh lainnya adalah salah seorang caleg muda PKS dari Sulawesi, kalau tidak salah. Namanya Ismail Bachtiar. Beliau bisa lolos ke Senayan, tanpa baliho seperti para caleg umumnya. Tetapi, beliau rajin posting di medsos, memaksimalkan medsos yang memang sudah digunakan oleh ratusan juta penduduk Indonesia. 


Begitu dahsyatnya pengaruh medsos, kalau kita bisa tekuni dan konsisten merawat followers. Pastinya butuh waktu dan tenaga ekstra. Meskipun agak pesimis, tapi kita harus berusaha dulu. Seperti motto Pak Apud.


"Mulai aja dulu
Sempurnakan kemudian"


Kalau banyak mikir, jadinya malah nggak action action, nanti. Semangat ✊


Pemateri kedua adalah Pak Wachid dari Al Kahfi. Pada sesi ini, kami dimotivasi untuk bisa mengumpulkan ZISWAF (zakat, infak, shadaqah, dan wakaf) dengan niat karena Allah dan untuk membantu orang lain, bukan untuk diri sendiri.



Nah, materi Pak Apud tadi, diterapkan untuk menjaring sebanyak-banyaknya Muzakki. Dengan demikian, akan banyak orang yang mempercayakan ZISWAF nya kepada kita. MaasyaaAllah. Materi ini juga keren. Menyentuh, pula. Seperti motto Al Kahfi: Peduli sepenuh hati.



Nah, setelah selesai semua materi, saatnya makan siang. Saat itulah kesempatan untuk bertemu dengan seluruh peserta. Yang tidak terduga, bertemu dengan teman-teman yang sudah puluhan tahun tidak bertemu, seperti Bu Yuli (guru Al Azhar) dan Bu Maryati (perawat RSUD Kota Bekasi). MaasyaaAllah 😍



Saking bahagianya, saya sampai menangis, waktu berpelukan dengan Bu Maryati. Rasanya, rinduuuu banget. Kami berpelukan cukup lama. Tak peduli dengan pandangan mata orang-orang. Tapi, saat bertemu Bu Yuli, kok, hanya sekadar lewat, ya. Nggak tahulah. Tadi itu juga spontan aja. Rasanya bahagia banget bisa bertemu Bu Maryati. Sayangnya saya lupa menanyakan nomor hp. Sudah cari di grup, tapi belum ketemu. 



Alhamdulillaah, terima kasih ya Allah, atas banyak nikmat yang telah Engkau berikan hingga detik ini. Alhamdulillah ada Bu Iin dan Pak Agus, jadi saya bisa nebeng. Jazakumullahu khairan katsira.

Saturday, February 24, 2024

How to Recruit New SLC



Bismillaah
Pada hari Selasa, 15 Juni 2021, kembali kami, para SLC (Sygma Learning Consultant) mendapatkan suntikan energi dari Bu Ida. Kali ini tentang bagaimana merekrut SLC.

Innamal a'maalu binniyaat. Segala sesuatu itu tergantung niatnya. Oleh karena itu, sebelum mulai melangkah untuk merekrut, kita flashback dulu. Apa niat kita ingin menjadi SLC?

Saya sendiri, niatnya supaya bisa membeli buku dengan harga yang lebih murah. Dengan menjadi reseller, biasanya akan mendapatkan potongan harga. Selain itu, sebenarnya niat saya dulu karena ingin tahu, apa itu SLC. Kebetulan biaya pendaftarannya murah, cuma 20 ribu, jadi, enggak ada salahnya bergabung. Kalau enggak cocok, tinggalkan. Itu yang ada di pikiran saya dulu.


Ternyata, niat Bu Ida pun tidak jauh berbeda dengan saya. Beliau pun ingin melengkapi perpustakaan rumah dengan buku-buku berkualitas, dengan harga murah. Hampir sama ya? 

Pada awalnya, mungkin niat kita bergabung di SDI (Sygma Daya Insani) ini hanya untuk kepentingan pribadi yang bersifat duniawi. Mendapatkan buku dengan harga murah, mendapatkan komisi yang lumayan untuk menambah uang belanja, atau yang lebih ukhrowi seperti ingin bersedekah untuk orang tua. 

Boleh saja kita memiliki motivasi seperti di atas. Tetapi, bila motivasinya hanya sebatas tujuan duniawi, maka hanya itulah yang akan kita dapatkan. Seharusnya, motivasi ukhrowi menjadi tujuan utama kita. Karena segala sesuatu yang diniatkan untuk kebaikan akhirat, maka Allah akan memberikan apa yang kita niatkan untuk akhirat, di dunia pun Allah akan cukupkan kebutuhan kita. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.


Kini, saatnya kita memperbaiki niat kita sebagai SLC. Kita niatkan bahwa keterlibatan kita dalam komunitas ini adalah dalam rangka dakwah literasi Islam dengan membumikan siroh. Dengan harapan, ketika anak-anak generasi muda Islam telah banyak mengenal Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam, otomatis akan meneladani akhlak mulia beliau. Maka terwujudlah generasi muda Indonesia yang berakhlak mulia. Sehingga, mudah-mudahan apa yang kita lakukan mendapatkan pahala di akhirat, juga mendapatkan keuntungan di dunia. Aamiin.

Untuk pekerjaan besar ini, kita tidak bisa berjalan seorang diri. Kita butuh teman. Butuh jamaah, agar kita bisa tetap istiqamah, dan agar pekerjaan menjadi lebih ringan dan mudah dilakukan. Oleh karena itu, kita perlu merekrut SLC-SLC baru.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar kita bisa bersemangat dalam melakukan perekrutan. Apa sajakah?

1. Tentukan alasan besar yang mendorong kita ingin merekrut orang lain menjadi mitra/partner kita.
2. Tentukan target dengan cara:
     - tantang diri untuk mencapai target yang 
        membuat gemetaran;
      - afirmasi bahwa kita sanggup mencapai
         target tersebut;
      - lakukan ikhtiar bumi dan langit.

Dan seterusnya....🤭




Thursday, February 22, 2024

Mengasah Diri

 Bismillaah

 

 

Tantangan dan Peluang Meningkatkan Literasi Sekolah

Oleh: Nindyah Widyastuti

 

Saya, Nindyah Widyastuti, adalah seorang guru di SDIT Al Hidayah, Lippo Cikarang, Bekasi atau Al Hidayah Islamic School (AHIS). AHIS memiliki perpustakaan yang sangat memadai karena memiliki koleksi buku yang cukup banyak dan ruangan yang nyaman, yang membuat para siswa betah berada di sana untuk membaca atau bermain permainan edukatif.

 

Walaupun fasilitas perpustakaan sudah sangat memadai, ditambah lagi dengan adanya pojok buku di setiap ruang kelas, ternyata tidak membuat para siswa otomatis suka membaca buku. Kurangnya minat baca dan menulis siswa, sangat dipengaruhi oleh adanya gawai yang sudah menjadi teman meraka sehari-hari sehingga membaca menjadi aktivitas yang kurang seru dan asyik.

 

Untuk mendorong siswa agar lebih melek literasi, selain melibatkan para guru, AHIS juga mengadakan festival literasi setiap enam bulan sekali. Aneka lomba yang berkaitan dengan literasi sudah diselenggarakan untuk menumbuhkan minat literasi siswa. Tetapi, animo siswa untuk berpartisipasi masih kurang, terutama siswa laki-laki.

 

Supaya para siswa lebih bersemangat dalam membaca dan menulis, maka kegiatan yang sudah berjalan perlu ditambah dengan beberapa program baru. Praktik baik yang bisa dilaksanakan misalnya reading challenge atau bedah buku. Semoga dengan kegiatan itu semakin menambah semangat siswa untuk suka membaca.   

 

*** 


Itu adalah artikel yang saya ajukan saat mendaftar GML (Guru Motivator Literasi). Bersaing dengan, katanya sekitar 7.000 peserta, alhamdulillah saya lolos. Dan, kabarnya lagi, akan diterbitkan menjadi buku antologi.


Namun, sayangnya saya tidak bisa melanjutkan program ini, meskipun sudah lolos seleksi. Hal ini karena program tersebut ternyata berbayar. 



Jadi, pada program GML ini, kami para guru mengajak siswa, rekan guru, dan kepala sekolah untuk menulis. Nanti, tulisan itu, akan dibukukan dan dilombakan. Nah, syarat naskah yang bisa dilombakan adalah yang bukunya diterbitkan. Masalahnya, diterbitkannya tidak hanya satu, tetapi sebanyak peserta yang ikut menulis dalam buku tersebut, buku yang akan dijadikan antologi.



Terus terang, berat bagi saya untuk melakukan itu. Apalagi untuk lomba yang berbayar, sekolah kami tidak pernah mau ikut, karena syubhat, bisa mengandung unsur judi. 



Tapi, saya tetap bersyukur karena sudah bisa lolos seleksi artikel. Ini bisa menjadi sarana untuk mengetahui seberapa kemampuan diri saya, sekaligus untuk mengasah diri. Juga untuk memotivasi diri agar kembali rutin menulis. Semoga Allah mudahkan. 🤲🏻

Monday, February 19, 2024

Saksi PKS



Bismillah

Pemilu 14 Februari 2024 sudah lewat, namun cerita di baliknya masih terus ramai dibicarakan hingga hari ini. Tentang kecurangan, money politics, penggelembungan suara, TPS fiktif, syukuran yang terlalu dini, dan lain-lain. Riuh jagat sosmed kita. 


Salah satu yang sedang trending topic saat ini adalah saksi PKS. PKS sedang dibanjiri apresiasi yang berasal dari para anggota KPPS dan warga masyarakat, juga testimoni dari para saksi. Baik saksi PKS maupun saksi dari partai lain. 


PKS adalah Partai Keadilan Sejahtera, yang dulu, waktu pertama kali didirikan bernama Partai Keadilan. Dulu, partai ini dikenal sebagai partainya para anggota rohis (rohani Islam) yang ada di kampus-kampus. Partainya para aktivis. Didirikan pada tahun 1998, tahun reformasi. Karena sempat tidak lolos treshhold, supaya bisa ikut menjadi peserta pemilu lagi, maka namanya ditambahi sejahtera.


Setiap pesta rakyat, alias Pemilu, PKS selalu menurunkan saksi di setiap TPS. Memang ada yang tidak ada saksi, karena tidak ada kader partai, atau karena lokasinya jauh di pelosok. Di Bekasi sendiri, ketersediaan saksi hampir 100%, dan sebagiannya adalah para simpatisan. Bahkan, ada yang non-muslim. Padahal PKS terkenal dengan sebutan Partai Dakwah. 


Salah seorang saksi non-muslim yang masih pemula, baru pertama kali menggunakan hak pilih, adalah seorang gadis dari Tambun, Bekasi. Dengan semangat, ia konsisten menjaga suara rakyat.


Selain dikenal dengan kesabarannya menjaga suara rakyat, saksi PKS terkenal dengan kekritisannya dalam penghitungan suara. Tak ada kesempatan untuk curang, deh, kalau ada saksi PKS. Kecuali dilakukan dengan diam-diam.


Saat ini saksi PKS sedang banyak dibicarakan di sosial media. Selain dari integritasnya, mereka juga termasuk saksi yang -bisa dibilang- paling makmur dan sejahtera. Makanannya dijamin, tidak bakal kelaparan. Ada snack, makan siang, bahkan sampai makan malam karena memang para saksi bekerja sampai malam, bahkan ada yang sampai keesokan harinya. MaasyaaAllah.


Dibalik ketersediaan ransum bagi para saksi tersebut, ada emak-emak PKS yang sibuk di dapur. Mereka adalah ibu-ibu RKI yang mendirikan Dapur RKI khusus untuk melayani para saksi. 


RKI singkatan dari Rumah Keluarga Indonesia, yang merupakan anak organisasi PKS, yang di dalamnya adalah para emak aktif, kreatif, dan gesit. Jadi, di balik sejahteranya para saksi tersebut, ada emak-emak RKI yang setia men-support.


Monday, February 12, 2024

Bukan Kekuatan Ibu

Bismillah

Obrolan sore itu. 
"Mi, aku mau kuliah," pinta anak kedua kami yang baru saja lulus MA.
"Boleh, mau di mana?" tanyaku. Meski dalam hati, bingung dan tidak tahu, dari mana biayanya.


Sejak itu, Azmi belajar dan ikut bimbingan belajar online, yang murah dan terjangkau. Itu pun pembayarannya bisa dicicil. Alhamdulillah.


Sebenarnya, deg-degan juga, saat ia ingin kuliah di universitas negeri. Apa bisa? Sedangkan sekolahnya saja, proses pembelajarannya tidak terlalu mementingkan aspek akademik. Bisa dikatakan, belajar sekadar formalitas untuk mendapatkan ijazah. Yang dipentingkan dan diunggulkan adalah hafalan Al-Qur'an. Jadi, modal akademiknya tak sesiap mereka yang dari sekolah umum atau pesantren yang sangat memperhatikan akademik.


Sejak itu, hanya doa yang bisa saya panjatkan kepada Allah. Alhamdulillaah, Allah izinkan saya pergi haji sehingga bisa memanjatkan doa di tempat-tempat yang mustajab, salah satunya di depan Al Multazam. Doa khusus untuk Azmi, semoga Allah izinkan untuk bisa kuliah di universitas negeri terbaik, di jurusan terbaik.


Mendekati ujian UTBK, semakin banyak dan semakin sering pula saya panjatkan doa ke hadirat Ilahi Rabbi. Pada waktu antara azan dan iqamah, pada saat sujud, pada saat puasa juga ketika berbuka. Tak ada hari yang terlewat tanpa mendoakannya. 


Hingga tiba saat hari ujian. Saya pun berpuasa pada hari itu, dengan keyakinan, doa orang yang berpuasa itu akan diijabah oleh Allah. Dan, saya pun ikut mengantarkannya tes di IPB. Ini sebagai bentuk kepedulian dan kesungguhan saya dalam mendukung cita-citanya. 



Hari-hari menunggu hasil ujian terasa berjalan lambat dan lama. Namun, bibir ini tak boleh kering dari doa untuknya. Penuh harap, saya memohon kepada Allah, Rabb semesta alam. Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu, termasuk gugurnya sebuah daun. 



Akhirnya, tibalah hari pengumuman. Tetapi belum ada kabar dari Azmi yang masih mengabdi di pondok. Saya pun lupa dan tidak sempat mengecek sendiri di website. Selang sehari, dia pun berkirim pesan mengabarkan bahwa ia lolos UTBK.


MaasyaaAllah, alhamdulillaah. Benar-benar karunia yang luar biasa yang Allah berikan kepada kami. Ketika kabar itu tersebar di antara teman-teman, ada yang berkomentar.
"Berkat doa orang tua, ini."


Saya pun meng-amini. Ya, salah satunya, saya yakin, karena Allah yang telah mengabulkan doa kami, dan menakdirkannya. Semua tidak akan terjadi tanpa kehendak-Nya. Di samping itu, saya juga yakin, ini karena Azmi sudah hafidz 30 juz. Jadi, salah satu berkah Al-Qur'an yang telah dijaganya, sehingga Allah melimpahkan keberkahan kepadanya. Alhamdulillaah.


Sebagai seorang ibu, saya tidak punya kekuatan apa pun. Tak seperti ibu-ibu yang lain. Ada yang kekuatannya pada masakannya. Ada yang kekuatannya bisa mengikat hati anaknya dengan kepandaiannya berbicara, dengan nasihat dan kisah-kisah. Dan kekuatan-kekuatan yang lainnya.


Saya tidak pandai memasak, sekadar bisa. Alhamdulillah anak-anak dan suami mau memakannya. Saya bukan orang yang pandai merangkai kata-kata sehingga bisa ngobrol asyik dengan anak-anak dan menjadi tempat curhat mereka. 


Saya hanya bisa berdoa. Itulah kekuatan yang saya miliki. Berdoa. Bila sekarang, banyak kenikmatan dan anugerah yang Allah berikan melalui anak-anak, itu bukan karena kekuatan saya. Tetapi karena Allah mendengarkan doa-doa saya dan mengabulkannya. 


Jadi, jangan remehkan doa. Tak boleh kita berkata, "Maaf ya, saya cuma bisa bantu doa." Doa itu kekuatan maha dahsyat. Jangan dibilang "cuma". Tanpa doa, mungkin saya dan kita semua, belum sampai ke titik sekarang ini. 

Saturday, February 10, 2024

Deliang dan Dunia Literasi Kita

 

Sumber: https://www.sinergimadura.com/regional/29011734998/biografi-deliang-al-farabi-penulis-cilik-yang-menginspirasi-tanggal-lahirumur-alamat-orang-tua-pendidikan-karir-karya-penghargaan-ig-tiktok

 

 

 Bismillah

Tulisan ini merupakan menulis artikel dari webinar membuat artikel populer sekaligus seleksi untuk ditampilkan di Radar Edukasi. Semoga lolos, aamiin.

 

 

DeLiang, yang memiliki nama lengkap Muhammad Deliang Al Farabi, adalah putra pertama pasangan Ario Muhammad, PhD. dan Ratih Anggraini, Ph.D.. Pada usianya yang baru menginjak 11 tahun, DeLiang telah menerbitkan 40  buku berbahasa Inggris dan beberapa di antaranya berada di Top 15 Amazone. Keren! Tak heran bila ia dijuluki anak ajaib. Di saat kebanyakan anak seusianya masih sibuk dengan game online daripada membaca buku, apalagi menulis buku, DeLiang sudah berpenghasilan dari buku yang ditulisnya. Bagaimana dengan anak-anak seusianya? Apakah mereka juga sudah menerbitkan -minimal satu- buku?

Ternyata, baru sedikit anak yang sudah menerbitkan bukunya sendiri. Jangankan menulis buku, membaca pun sangat jarang yang suka. Sebagian besar anak sekarang lebih suka bermain game online atau menjadi Youtuber daripada membaca buku dan menulis. Padahal membaca buku itu sangat banyak manfaatnya, seperti yang sudah dibuktikan oleh DeLiang.

Kemampuan menulis DeLiang berawal dari kegemarannya membaca banyak buku dan mengembangkan imajinasinya. Sejak kecil, orang tuanya sudah membiasakan budaya literasi di rumah mereka. Baca buku dan diskusi adalah menu sehari-hari mereka. Sehingga, kosakata DeLiang berkembang pesat, begitu pula daya imajinasinya. Itulah yang kelak menjadi modal untuk menulis buku.

Dari sini, jelas sekali bahwa kemampuan menulis seseorang sangat berkaitan erat dengan seberapa banyak buku yang dibacanya. Semakin banyak bacaan, maka akan semakin kaya kosakata yang dimilikinya, sehingga mudah untuk dituangkan ke dalam tulisan. Ditambah lagi dengan kebiasaan diskusi. Itu pun semakin memperkaya kosakata sekaligus mengasah daya pikir.

Menurut Ario Muhammad, ayah DeLiang, ada tiga skill paling fundamental yang harus diajarkan kepada anak, yaitu menulis, public speaking, dan negosiasi. Ketiga skill ini bisa dilatih mulai dari membaca. Mengapa? Dengan membaca banyak buku, secara tidak langsung, anak akan belajar dan mengasah kemampuannya dalam tiga keterampilan tersebut. Walaupun, tentu saja, harus ada yang memotivasi dan memfasilitasi. Siapa? Orang tua terutama, dan guru pada umumnya.

Alhamdulillaah, pada proses pembelajran saat ini, literasi sudah menjadi salah satu kegiatan utama di sekolah. Ada anjuran untuk membaca buku selama 15 menit setiap pagi, sebelum memulai pembelajaran. Hal ini menandakan bahwa pemerintah sudah memahami betapa pentingnya melek literasi. Bila semua sekolah menerapkan ini, tidak mustahil akan lahir DeLiang-DeLiang baru yang akan menyemarakkan jagat literasi Indonesia. Dan, ini akan berdampak pada kualitas pendidikan kita.

Lalu, bagaimana membaca bisa menjadi pemicu lahirnya skill menulis, public speaking, dan negosiasi? Mari kita cermati apa saja manfaat membaca. Menurut Siti Marliah dalam artikelnya yang berjudul “Manafaat Membaca Buku sebagai Jendela Ilmu dalam Kehidupan” yang diunggah di Gramedia Digital, manfaat membaca adalah sebagai berikut.

1.             Membaca dapat mencerahkan imajinasi sehingga menjadikan seseorang menjadi pribadi yang kreatif. Itulah yang terjadi pada DeLiang. Di usia yang masih belia, ia sudah menghasilkan karya yang begitu banyak. Kalau bukan karena seorang yang kreatif, maka akan sulit menuangkan gagasan dan ide-ide yang ada di kepala.

2.             Membaca dapat memberikan perspektif pada dunia sekitar sehingga orang yang suka membaca buku-buku bermutu, cara berpikir dan berbicaranya pun bermutu. Ia memilki ide-ide yang brilian, yang kadang-kadang di luar dugaan banyak orang. Pola pikirnya pun sistematis, tidak acak-acakan.

3.             Membaca dapat membangun kepercayaan diri. Karena banyak membaca buku, maka seseorang akan memiliki wawasan yang luas sehingga ia akan lebih percaya diri. Seperti seorang guru. Bayangkan bila seorang guru malas membaca. Tentu akan kesulitan menyampaikan ilmu kepada peserta didik. Karena sedikit wawasan dan ilmu yang dimilki, maka akan menimbulkan rasa minder dan tidak percaya diri. Berbeda dengan guru yang rajin membaca buku. Tentunya banyak wawasan yang ia miliki sehingga berangkat mengajar pun dengan rasa percaya diri yang tinggi. Rasa percaya diri ini juga menjadi modal utama seseorang untuk berbicara di depan umum atau public speaking.

4.             Membaca dapat membantu mental dan emosional seseorang tumbuh dengan baik. Membaca itu membijakkan pikir dan melembutkan rasa. Banyak membaca, akan membuat seseorang lebih dapat mengontrol emosi saat bicara, menata kata-kata yang akan ia ucapkan, berpikir dengan lebih bijaksana, dan bertutur kata dengan lembut dan penuh kesopanan. Orang yang jarang atau bahkan tidak pernah membaca buku, cara berkomunikasinya pun kurang tertata sehingga sulit dimengerti oleh orang lain. Manfaat ini menjadi modal dasar dalam bernegosiasi.

5.             Membaca dapat membantu meningkatkan kemampuan menulis. Hal ini sudah dibuktikan langsung oleh DeLiang. Dengan banyaknya buku yang ia baca, maka, mudah saja ia menuangkan apa yang ada dalam pikirannya menjadi sebuah buku yang bisa dinikmati oleh banyak orang, bahkan mendunia. Apakah orang yang tidak atau jarang membaca buku tidak bisa menulis? Bisa. Mereka juga bisa menulis. Namun, prosesnya mungkin tidak akan semudah seperti mereka yang memang terbiasa membaca buku. Bagi yang rajin membaca buku, ide menulis akan mudah mengalir, merangkai kata-kata pun akan terasa mudah karena sudah terbiasa membaca rangkaian kata-kata di buku-buku yang ia baca.

Begitu banyak manfaat membaca. Sayang sekali, masih banyak anak Indonesia yang belum menyukainya. Betapa majunya pendidikan di Indonesia bila generasi mudanya suka membaca dan menulis. Literasi akan maju dan Indonesia akan memiliki generasi yang cerdas dan kritis.

Oleh karena itu, perlu dukungan dari semua pihak, terutama orang tua dan guru. Orang tua harus membudayakan baca buku daripada “baca” handphone. Bagaimana caranya? Sediakan buku-buku bacaan di rumah. Bagaimana kalau anaknya tidak mau baca? Orang tua lah yang harus memulai membacakan buku untuk anaknya. Selain dapat meningkatkan minat baca pada anak, kegiatan ini juga dapat menguatkan bonding antara orang tua dan anak.

Guru pun harus membudayakan literasi, minimal dengan membiasakan baca buku selama 15 menit sebelum pembelajaran. Setelah membaca, bisa dilanjutkan dengan menceritakan Kembali apa yang telah dibaca. Bisa juga dengan menuliskannya agar anak-anak juga belajar menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Semoga dengan demikian, anak-anak akan lebih suka membaca, yang kemudian diharapkan, mampu menulis dan berkarya juga seperti DeLiang.