Wednesday, September 14, 2016

Inner Child

Bismillaah

Inner child. Kata ini saya dengar pertama kali dari Ibu Elly Risman, Psi. Menurut beliau inner child adalah sifat kekanak-kanakan yang terdapat pada seorang dewasa. Orang yang dilihat dari segi usia, postur tubuh, dan pola pikir sudah dewasa, ternyata dalam dirinya pasti ada inner child- nya. Mengapa? Sudah sunnatullah, sepertinya. Hukum alam.

Dulu, waktu remaja, saya sering melihat iklan di tivi yang mencerminkan inner child ini. Dalam iklan itu diperlihatkan beberapa tokoh dunia yang begitu menikmati permainan mereka, yang seperti anak kecil. Ada yang begitu gembira ketika bermain layang-layang, ada yang terlihat ceria saabermain ayunan, dan yang lainnya. Itu mungkin merupakan salah satu sisi positif inner child.

Namun, tak bisa dipungkiri bahwa inner child kadang tak layak ditampakkan ketika orang dewasa itu berhadapan dengan anak-anak, apalagi anaknya sendiri. Terutama saat emosi negatif sedang menguasai. Orang tua yang sedang marah kepada anaknya, seringkali tidak sadar telah menggunakan inner child- nya, sehingga hilang kontrol dan kedewasaannya. Berubah menjadi anak kecil, sehingga tak ada bedanya dengan anak yang sedang dimarahinya. Padahal dari segi usia, postur tubuh, dan pola pikir, jauh berbeda dengan anaknya.

Sifat kekanak-kanakan yang muncul saat marah, akan menghilangkan kecerdasan logika dan akal jernih seorang yang sudah dewasa. Menurut Ibu Elly, seharusnya ketika kita ingin menegur anak yang berbuat salah, kita singkirkan dulu inner child itu jauh-jauh. Kalau beliau menyarankan untuk membuangnya di suatu tempat khusus, sarung atau  black box, misalnya. Dengan gerakan tertentu, seperti seseorang yang mengusap dan  membuang keringat dari wajahnya. Gerakan itu hanya simbol saja. Karena kita tahu, sifat atau watak seseorang adalah abstrak, tak bisa dipegang apalagi dibuang.   

Setelah inner child tersimpan rapat dalam wadah yang aman, barulah kita, in sya Allah, bisa berkomunikasi dengan buah hati, dengan cara yang lebih baik dan lebih dewasa, tentunya. Bukan dengan emosi yang maaf, membabi buta, sehingga pesan yang ingin disampaikan tidak tercapai.

Tetapi, hal ini tidak mudah untuk dilakukan, memang. Perlu proses dan perjuangan yang tak kenal lelah. Demi menjadi orang tua yang amanah, karena telah dititipi buah hati oleh Allah, kita memang harus bekerja keras. Demi menciptakan generasi Rabbani yang berakhlak karimah, tentu sebagai orang tua, harus mampu mengaplikasikannya terlebih dahulu, sebelum menuntut anak kita untuk melakukannya.

Ya Allah bimbinglah kami agar bisa menjadi orang tua sholih/sholihah, yang mampu membimbing anak-anak kami menjadi sholih/sholihah pula. Aamiin ya robbal'alamiin.

#edisimengingatkandirisendiri
#menjadiorangtuaamanah

Sunday, September 11, 2016

Ucapan adalah Doa

Bismillaah

"Mba, tolong jahitin, ya," pintaku pada seorang teman yang pandai menjahit baju gamis.

"Buru-buru, nggak Mi? Soalnya lagi banyak lemburan," jawabnya.

"Nggak, nyantai aja. Sampai setahun juga nggak pa-pa," jawabku setengah bercanda.

Iya, bercanda dan sekadar basa-basi. Namun, ternyata ucapan itu benar-benar terjadi, bahkan melebihi yang aku candakan. Ya, sudah hampir 5 tahun, iya, lima tahun sejak percakapan itu, bajuku tak ada kabarnya. Entah memang belum jadi, atau teman itu lupa. Wallahu a'lam. Yang jelas, ucapanku betul-betul menjadi kenyataan, padahal hanya bermaksud untuk bercanda.

***

Sebagai makhluk sosial, pasti banyak hal yang harus dan perlu diucapkan untuk mengungkapkan keinginan dan kebutuhan kita. Untuk berkomunikasi dengan orang lain di sekitar kita, ucapan juga sangat diperlukan.

Dalam Islam, bertutur kata pun ada aturannya. Ucapan atau tutur kata bagaimana yang dicontohkan Rasulullah?
Menurut beliau shalallahu alaihi wasallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

" Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari)

Jelas sekali, bukan? Berkata yang baik atau diam. Kalau tidak bisa berucap yang baik dan bermutu, lebih baik kita tutup mulut saja. Karena risikonya berat, kalau ucapan kita tidak baik. Contohnya seperti pengalaman pribadiku itu. Tutur kata yang tidak dianggap serius, ternyata dicatat dan dikabulkan oleh Allah.

So, marilah kita berkata yang baik dan bermutu. Terutama kepada anak-anak. Orang tua sering merasa kesal dengan perilaku mereka, sehingga secara tidak sadar memberikan julukan yang tidak pantas. "Anak bodoh",  "anak bandel", "anak malas", dan lain-lain. Ucapan yang muncul karena emosi yang tidak terkendali itu, bisa menjadi kenyataan. Oleh karena itu, ketika marah, tetaplah berkata yang baik karena itu akan menjadi doa kita. Ganti saja umpatan itu dengan kalimat yang bermakna positif seperti "anak hebat", "anak rajin", "anak sholih", "anak baik", dan ungkapan lainnya yang menjadi harapan kita.

Tuesday, September 6, 2016

Bunga

Bismillaah

Pagi tadi, saya mengantikan rekan guru yang tidak masuk. Ketika diberitahu oleh Wakasek Kurikulum bahwa saya harus mengajar di kelas1, "Wow! Apakah saya bisa?" responku agak kaget.

Mengajar di kelas satu adalah 'sesuatu'. Modal utamanya adalah kesabaran dan ketekunan. Saya merasa kurang dalam kedua hal tersebut. Makanya hati sempat ragu, mampukah saya? Tapi, karena ini tugas, saya harus berusaha sekuat tenaga. Bismillaah

Setelah mendapat penjelasan tentang apa yang harus diajarkan hari ini, saya pun melangkah ke kelas tempat bertugas. Terlihat beberapa anak sedang bermain, dan sisanya sedang duduk melingkar di atas tikar plastik, menikmati makanan ringan mereka.

Saya pun bergabung dengan mereka yang duduk di lantai. Berusaha mengadakan pendekatan dan memancing perhatian mereka. Setelah tiba waktunya belajar, saya mengajak mereka duduk melingkar di lantai. Mulailah pelajaran hari ini tentang Birrul Walidain. Setelah menjelaskan materi, tibalah saat mengerjakan tugas. Ada tiga pekerjaan yang harus dilakukan. Pekerjaan pertama adalah bermain flash card. Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Semua siswa bisa berpartisipasi aktif. Aman.

Pekerjaan kedua adalah menempel kalimat-kalimat tentang birrul walidain dan durhaka kepada orang tua. Tugas siswa menggunting kalimat-kalimat tersebut, kemudian menempelkannya di kertas sesuai kolomnya. Di sinilah awal petualangan hari ini. Seorang siswi, sebut saja namanya Bunga, ingin dibantu oleh saya, bu gurunya.

"Bu guru, bantuin," rengeknya.

"Iya, bu guru bantu mengunting, ya," jawab saya sambil membantu siswa lain membaca kalimat-kalimat, karena sebagian besar memang belum lancar membaca. Terbayang, kan, betapa repotnya. Setiap anak minta di perhatikan dan dibantu.

"Aku udah gunting ini, bu guru yang nempel, ya?" pintanya dengan manja.

"Bunga yang menempel, dong. Kan, bu guru sudah mengguntingkan."

"Nggak mau!" serunya sambil beranjak pergi.

Karena masih banyak siswa yang memerlukan bantuan, saya abaikan saja kepergian Bunga. Sampai beberapa saat kemudian, ternyata dia tidak muncul juga, akhirnya saya keluar mencarinya. Dengan bujuk rayu, Bunga mau masuk kelas. Namun tidak mau menuntaskan pekerjaannya. Dia malah menganggu teman-temannya yang sedang fokus bekerja.

Semakin ditegur dan dinasihati, Bunga bukannya tenang, malah semakin 'menjadi'. Hiasan dinding dirobek, teman yang sedang duduk manis dipukul, paku  push pin dia ambil dan digunakan untuk menakut-nakuti temannya, barang-barang di loker dilempar-lempar, kerudung saya pun ditarik-tarik, dan tangan saya habis dicubitinya. Astaghfirullah. Bunga ...

Hati saya sempat kesal dan ingin marah. Dengan sekuat tenaga, saya tahan, meski kesabaran sepertinya hendak pergi dari diri ini. Melihat kekacauan itu, guru yang mengajar di kelompok sebelah berusaha ikut membantu menenangkan Bunga. Tapi juga tidak berhasil. Saat itulah beliau bercerita bahwa Bunga bersikap seperti itu karena memang kurang kasih sayang. Dia yatim piatu. Ya Allah...

Mendengar itu, mata saya langsung basah. Sekuat tenaga saya tahan agar tidak mengalir. Saya jadi ingat diri sendiri yang juga yatim piatu di usia SD, ingat adik yang waktu itu baru TK. Sayalah yang sering momong adik setelah bapak ibu tiada. Ini? Di sini? Bunga yang baru kelas satu SD, sudah yatim piatu? Ya Allah...

Hilang sudah kemarahan yang tadi sempat hinggap di dada, berubah menjadi iba. Saya dekati Bunga yang masih penuh amarah. Dengan lembut, saya elus-elus kepalanya.

"Bunga mau digendong bu guru?" entah mengapa tiba-tiba ingin sekali menggendong dan memeluknya. Tapi dia menggeleng.

"Bunga mau disuapi bu guru?" Menggeleng juga.

"Bunga mau makan sendiri?" Mengangguk! Alhamdulillah, langsung saja saya bimbing dia untuk duduk di kursi menyusul teman-temannya yang sudah makan lebih dulu. Dia mulai mengambil nadi, sayur, dan lauk. Karena khawatir anak-anak memerlukan bantuan, dan juga karena sudah hilang rasa lapar, saya hanya duduk sambil mengawasi para siswa.

"Bu guru nggak makan? Makan aja," kata Bunga membuat saya tak bisa menolaknya. Setelah itu, semua berjalan dengan lancar hingga mereka pulang. Alhamdulillah.
Tugas berat telah terselesaikan, meski dengan penuh perjuangan.

Bunga, semoga Allah selalu menjagamu dan menyayangimu, Nak. Maafkan bu guru belum bisa memberikan yang terbaik untukmu.

Monday, September 5, 2016

Syukurku

Bismillaah

Tiga tahun kurang empat puluh dua hari sudah aku mengajar di sini. Di sekolah yang luar biasa.

Pertama masuk ke sini, diri ini merasa minder dan sempat terlintas dalam pikiran, pantaskah aku?
Namun atas izin Allah aku bisa bertahan di sini hingga detik ini.

Saat ini, suasana dengan beberapa rekan kerja agak kurang harmonis. Hal ini berpengaruh pula dengan diriku. Rasa tak nyaman mulai mengusik ketenangan dalam mengajar dan belajar. Ingin rasanya meninggalkan tempat ini dan mencari pekerjaan di sekolah lain.

Beberapa teman dekat berusaha menghibur dan menahanku agar tetap di sini, karena bukan aku yang bersalah. Dan, sampai detik ini pun, kucoba untuk mengiyakan mereka. Meski kadang sedih dan sunyi merayapi hatiku.

Tapi memang aku harus tetap di sini. Karena sudah begitu banyak nikmat yang Allah berikan selama mengajar di sini. Di sini, tidak hanya gaji yang lebih dari cukup yang kurasakan, namun juga ilmu yang sangat luar biasa banyak dan bermanfaat. Tidak hanya ilmu dunia,  juga ilmu akhirat. Di sini, aku bisa belajar bahasa Arab dan tahsin tanpa keluar biaya sepeser pun. Di sini aku pun bisa semakin mengerti bagaimana menjadi guru yang baik dan profesional. Di sini pula aku bisa melaksanakan shalat dengan tepat waktu, berpuasa tanpa kepanasan dan kehausan karena semua kelas mempunyai alat pendingin ruangan.

Masyaallah, begitu banyak nikmat-Mu padaku ya Allah. Ampuni hamba belum pandai mensyukuri semua ini. Tolonglah hamba agar semakin taat kepada-Mu, semakin bersemangat dalam beribadah kepada-Mu.

#Selalu bersyukur
#Selalu bersabar
#Selalu tawakal 'alallah