Wednesday, March 31, 2021

Penghafal Qur'an

 Bismillaahirrahmaanirrahiim

           

Perumpamaan orang yang membaca Qur’an sementara dia telah menghafalkannya, maka bersama para malaikat yang mulia. Dan perumpamaan yang membaca dalam kondisi berusaha keras (belajar membacanya) maka dia mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhori dan Muslim)

 

 

"Aku ini gurunya para penghafal Al-Qur'an, jadi tidak boleh memarahi mereka. Karena mereka adalah orang-orang yang dimuliakan Allah."

Serasa ditampar pipi ini saat mendengar kalimat polos itu. Di usianya yang baru saja baligh, cara berpikirnya sudah luar biasa. Saya yang setua ini, yang juga seorang guru tahfidz, tidak pernah terpikir seperti itu. Ketika ada siswa yang susah menghafal, kesal rasanya dada ini. Sering, tanpa sengaja, keluar nada yang agak tinggi dari lisan manusia lemah ini. 

Itulah anak sulung saya, Khoirunnisa Mufidah, yang baru saja menyelesaikan pendidikan SMA-nya di sebuah pondok pesantren tahfidz. Meski sudah selesai sekolah, dia belum boleh pulang karena harus mengabdi dulu selama minimal satu tahun. Dalam masa pengabdian itu, dia bertugas sebagai pengurus yang mengurusi para santri, adik-adik kelasnya. Juga, membantu Ummi dan Abi pengasuh pondok untuk mengajar tahsin (memperbaiki bacaan Al-Qur’an) dan tahfidz (menghafal Al-Qur’an).

Saat kami mengunjunginya, dia bercerita tentang suka-dukanya mengajar tahfidz. Salah satunya, rasa kesal karena yang diajari agak lambat atau tidak fokus. Lalu terlontarlah kalimat itu. Kalimat yang membuatnya selalu berusaha menahan diri agar tidak marah saat mendapati adik-adik kelasnya kurang fokus dan semangat dalam menghafal Al-Qur’an.

Kini, setelah mendengar kalimatnya itu, saya lebih bisa menahan diri saat kesal mulai datang. Saya coba bersabar dan lebih toleran dengan berpikir, mereka adalah penghafal Al-Qur'an.

Terima kasih, Nak. Meski usiamu jauh lebih muda, tapi bijakmu menyadarkan yang sudah tua ini. Memang belajar itu tidak harus dari yang lebih tua, apalagi harus dari seorang guru. Belajar bisa dari siapa saja, bahkan dari anak sendiri.

Jazakillahu khairan katsira Khoirunnisa Mufidah. Semoga kita bisa istiqomah dalam beribadah kepada Allah dan dalam berdakwah di jalan-Nya. Aamiin ya rabbal'aalamiin.

Tuesday, March 30, 2021

Setiap yang Bernyawa

Bismillaah


Hari ini, kembali datang kabar duka. Suami seorang teman yang sudah seperti saudara, kembali ke haribaan Allah subhanahu wa ta'ala. Berita yang sangat mendadak dan mengejutkan semua orang.


Betapa tidak? Baru tadi pagi mendapatkan kabar tentang sakitnya, selang dua jam, ternyata datang berita duka itu. Belum sempat kami bezuk ke rumah sakit, ternyata Allah telah memanggilnya.

Innalillahi wainnailaihi rooji'uun. Sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali. 

Amal, ajal, rezeki, bahagia atau celaka,  sudah tertulis di lauh mahfudz, jauh sebelum manusia lahir ke bumi. 

Maut, tidak mengenal usia. Tidak perlu syarat dan ketentuan berlaku. Yang telah sakit bertahun-tahun, bukan jaminan akan dipanggil terlebih dahulu daripada yang sehat wal afiat. Yang sudah tertatih dengan tongkat kayu, bukan jaminan akan pulang lebih awal daripada yang tegap langkahnya.


Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِا لشَّرِّ وَا لْخَيْرِ فِتْنَةً ۗ وَاِ لَيْنَا تُرْجَعُوْنَ


"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami."
(QS. Al-Anbiya: Ayat 35)

Setiap yang hidup akan mati. Sebelum itu, Allah akan menguji kita dengan kebaikan dan keburukan untuk meningkatkan derajat keimanan. Apakah dengan segala ujian itu, kita akan lulus atau tinggal kelas. Ujian itu sebagai bekal pulang ke haribaan-Nya. Karena hanya kepada-Nyalah kita kembali.


Maka, agar kita selamat saat kembali kepada-Nya, sangat perlu bagi kita untuk mempersiapkan bekal. Bekal ke kampung akhirat yang kekal. Bila untuk pulang kampung silaturahmi kepada orang tua saja, kita siapkan bekal berhari-hari, bahkan hitungan bulan. Apalagi bila tujuannya kampung akhirat yang akan kita tempati selamanya. Tidak ada kata balik kota. 



يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Hasyr: Ayat 18)


Bekal takwalah yang paling utama agar kita selamat. Semoga ini menjadi reminder agar esok bisa lebih baik. Agar diri bisa meningkat derajat keimanannya. Menjadi manusia bertakwa. Aamiin yaa rabbal'aalamiin.

Sunday, March 28, 2021

Review "Cinta Dua Cahaya"

Judul buku: Cinta Dua Cahaya
Penulis: Ida Nur Laela
Penerbit: Wonderful Publishing
Cetakan: Pertama, 2020
Tebal buku: 283 halaman


Kehidupan rumah tangga selalu asyik untuk dibicarakan. Topiknya pun tak pernah habis untuk dibahas lagi dan lagi. Karena memang, permasalahan rumah tangga adalah sesuatu yang tak pernah ada akhirnya. Selesai satu masalah, akan muncul masalah berikutnya. Itulah kehidupan. 

Bagaimana dengan kehidupan seorang konselor rumah tangga? Apalagi kalau mereka sepasang suami istri yang selalu berhadapan dengan klien dengan seabrek masalah? Adakah mereka memiliki masalah serupa dengan para klien mereka?


Jangankan konselor. Nabi pun pernah mengalami dan merasakan masalah rumah tangga. Yaitu, saat salah seorang istri beliau cemburu dengan istri yang lain. Jadi, konflik rumah tangga bisa menimpa siapa saja, bahkan seorang konselor sekali pun. 


Kok bisa? Bukankah mereka pakarnya masalah rumah tangga? Bukankah mereka biasa menyelesaikan masalah-masalah seperti itu? Seharusnya kalau sudah terbiasa, mereka bisa menghindari agar tidak terkena masalah juga, kan? Benarkah demikian?


Seorang dokter pun pernah punya masalah dengan kesehatannya walaupun ia seorang pakar kesehatan. Pekerjaannya membantu menyembuhkan para pasien. Ia tahu sebab-musabab suatu penyakit sehingga bisa menghindar agar jangan sampai terjangkiti. Namun, dokter juga manusia biasa. Begitu pun konselor.


Buku ini menceritakan kehidupan rumah tangga Bu Ida Nur Laela bersama sang suami, Pak Cahyadi Takariawan. Beliau berdua menjadi konselor nasional RKI (Rumah Keluarga Indonesia). Hampir setiap hari, mereka kedatangan tamu yang sekadar berkunjung dan berdiskusi, atau pun yang ingin mengadukan permasalahannya dengan pasangan hidup.


Dikemas dengan bahasa yang santai dan penuh canda, sehingga membacanya pun sambil senyum-senyum membayangkan Bu Ida yang ceria. Sebaliknya, Pak Cah terbayang sebagai sosok suami yang sedikit bicara namun penuh cinta kepada istrinya. Tidak romantis, tetapi selalu mengungkapkan rasa sayangnya dengan sesuatu yang mengejutkan.

Membaca buku ini, perasaan kita seperti diaduk-aduk. Kadang geli ingin tertawa, di saat lain terharu ingin menangis, namun ada juga yang menegangkan seperti roller coaster. Dijamin, saat membaca lembar demi lembarnya, kita semakin penasaran dengan endingnya. 

Salah satu bab yang menarik bagi saya adalah cerita pernikahan beliau berdua yang masih sama-sama menyandang gelar mahasiswa. Ini sama seperti yang saya alami. Menikah saat kuliah belum selesai. Hanya bedanya, waktu itu suami saya sudah selesai kuliah dan sudah memiliki pekerjaan tetap. 

Bisa dibayangkan, bagaimana perjuangan sepasang suami istri yang sama-sama masih kuliah, sama-sama belum memiliki pekerjaan tetap, namun harus bertahan hidup. Meskipun orang tua Pak Cah bersedia menghidupi mereka, tetapi tawaran itu tidak diterima. Mereka memilih untuk berdiri di atas kaki sendiri. 

Sungguh perjuangan yang tidak mudah. Mungkin karena pengalaman hidup yang sangat luar biasa itulah, beliau berdua sukses menjadi konselor rumah tangga. Selain itu, beliau berdua juga sukses menjadi role model untuk keluarga-keluarga di Indonesia. 


Semoga Allah memberikan kesehatan dan kekuatan kepada beliau berdua agar semakin banyak masyarakat yang mendapatkan kebermanfaatan dan inspirasi dari keluarga beliau. Baarakallahu fiikum Bu Ida dan Pak Cah. Jazakumullahu khairan katsira atas semua ilmu, pengalaman, wawasan, dan semua kebaikan Anda berdua.








Thursday, March 25, 2021

Biarkan Ia Mencoba

Bismillah


Usianya baru sekitar lima tahun, waktu itu. Baru duduk di bangku TK. Meskipun masih balita, ia terlihat lebih dewasa dari usianya. Mungkin karena ia sudah harus menjadi seorang kakak pada usia satu tahun lebih beberapa bulan. 


Salah satu kemandiriannya adalah saat menyiapkan kado untuk temannya. Ia tak mau dibantu untuk membungkus kado. Ia berusaha sendiri melipat kertas kado hingga membungkus rapat hadiahnya. Menggunting sendiri solatip untuk merekatkan kertas. Sedikit pun tak keluar kata-kata minta tolong atau mengeluh kesulitan. Semua dikerjakan dengan senang hati.


Hasilnya?
Memang tak serapi hasil pekerjaan orang dewasa. Tetapi, untuk ukuran anak balita, hasil karyanya sudah sangat luar biasa. Usaha dan kerja kerasnya sungguh pantas mendapatkan apresiasi. Tak mudah mengeluh, walaupun ia merasa kesulitan.


Mungkin ada yang berpandangan, kok ibunya tega sekali. Membiarkan anak kesulitan dan kesusahan. Apa nggak malu, bungkus kadonya nggak rapi? 


Mungkin saya bukan ibu yang baik. Tidak bisa memanjakan anak dan memfasilitasi semua keperluan dan kebutuhannya. Apalagi dengan lima anak yang jarak kelahirannya saling berdekatan. Kerepotan membuat saya harus tega membiarkan anak-anak mengerjakan sendiri keperluannya. 


Hasil ketegaan itu, mulai terasa sekarang. Mereka tumbuh menjadi anak yang cukup mandiri. Sejak kelas 1 sudah terbiasa menyiapkan keperluan sekolah mereka sendiri. Menyiapkan buku, baju seragam, dan perlengkapan lainnya. 

Di rumah, mereka pun terbiasa membantu pekerjaan rumah. Bahkan bisa dikatakan terampil. Si bungsu, sejak balita sudah biasa menyapu lantai dan merapikan barang-barang di rumah. Kakaknya, sejak usia kurang lebih 10 tahun, sudah bisa memasak nasi goreng, menanak nasi, dan memasak yang mudah lainnya, seperti menggoreng telur dan memasak mie instan.

Saya tidak tahu, apakah tindakan saya ini benar atau salah. Tetapi saya pernah membaca artikel yang ditulis oleh Bu Elly Risman, seorang pakar parenting, bahwa jangan memperlakukan anak seperti raja. Saya lupa redaksi persisnya. Yang jelas, beliau pun menganjurkan orang tua untuk melatih anak mandiri. Karena tidak selamanya orang tua akan membersamai mereka.


Anak yang selalu dimanja, otomatis akan terus bergantung kepada orang tua. Bila orang tua tidak ada atau meninggal dunia, dia akan kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana. Bahkan untuk urusan pribadinya sekali pun. 


Maka, membiarkan anak memilih sendiri baju mana yang akan dipakai, makanan apa yang akan diambil, hobi apa yang akan ditekuninya, merupakan sedikit cara untuk melatih kemandirian. Orang tua tinggal mengarahkan agar tidak menyalahi aturan agama maupun masyarakat.


Semoga dengan pola asuh seperti itu, anak-anak menjadi pribadi mandiri yang tangguh dan tidak mudah putus asa. Menjadi muslim kuat kebanggaan orang tua dan umat Islam. Aamiin yaa rabbal'aalamiin.

Wednesday, March 24, 2021

Anugerah dan Musibah


Bismillah

Apa hakikat anugerah? Dan, apa pula hakikat musibah?


Hampir semua orang berpikir bahwa anugerah adalah segala sesuatu yang membuat kita bahagia. Wujudnya bisa berupa harta, jabatan, pasangan, atau momen-momen indah yang pastinya menyenangkan. Membuat kita ingin mendapatkannya lagi dan lagi. Bahkan, dengan sekuat tenaga, berusaha merengkuhnya.

Sedangkan musibah, identik dengan segala sesuatu yang tidak menyenangkan. Entah karena hal itu merugikan, atau karena membuat hati kita sedih, membuat kita merasa sakit dan terluka. Atau karena kita kehilangan sesuatu. Musibah adalah momen negatif yang, tak ada satu orang pun mengharapkannya.

Benarkah demikian?
Sebagai seorang muslim, paradigma itu harus kita ubah. Tak selamanya anugerah itu semua yang menyenangkan hati. Sebaliknya, tak selamanya, musibah itu merugikan kita. Kok bisa?

Tentu kita ingat dengan firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 216.

كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَا لُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ وَاَ نْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Di sini, Allah menunjukkan kepada kita, bahwa sesuatu yang kita senangi, belum tentu baik untuk kita. Begitu pun sebaliknya. Sesuatu yang kita benci, belum tentu buruk untuk kita. Manusia tidak bisa melihat masa depan, sedangkan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.

Sesuatu yang kita senangi, belum tentu merupakan anugerah bagi kita, kalau hal itu malah menjauhkan kita dari Allah. Harta benda yang berlimpah, secara kasat mata, mungkin merupakan anugerah. Tetapi kalau dengan kekayaan itu membuat kita lalai menjalankan perintah Allah, maka kekayaan itu bisa menjadi musibah. Mungkin tidak di dunia, tapi di akhirat sudah pasti. Mereka yang tidak menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah, tentulah tidak akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat.


Sebaliknya, sesuatu yang kita anggap sebagai musibah, ternyata bisa menjadi anugerah, kalau membuat kita semakin dekat dan taat kepada Allah. Kehilangan sesuatu atau kegagalan dalam meraih impian, secara lahiriah bisa disebut musibah. Namun, bila peristiwa itu membuat kita semakin menyadari keberadaan dan pertolongan Allah, maka ia anugerah yang tiada terkira. Harta yang tak ternilai harganya. 


Jadi, cara pandang kita perlu diubah. Setiap mengalami sesuatu, terutama kesedihan dan ketidakberuntungan, kita harus yakin bahwa ini kehendak Allah. Lalu, kita pun harus ber-husnudzon kepada Allah. Dia memberikan ujian, pasti karena Dia ingin meninggikan derajat kita. Atau, musibah yang kita alami, bisa jadi merupakan cara Allah untuk menyelamatkan kita dari musibah yang lebih besar. Wallahu a'lam bishshawab.

Sunday, March 21, 2021

Mendidik Anak Usia Pra Baligh

Bismillaah

Di dalam Islam, usia baligh adalah usia yang harus diperhatikan karena pada usia itulah seorang muslim mulai mengemban tanggung jawab utuh sebagai muslim. Usia baligh menjadi penanda bahwa seseorang sudah mukallaf, sudah dibebani dengan kewajiban ataupun syariat Islam. Oleh karena itu, agar anak kita tidak terkejut dengan adanya kewajiban-kewajiban tersebut, maka harus dibiasakan sejak pra baligh, sebelum baligh. Pendidikan seperti apakah yang harus diterapkan dalam mempersiapkan anak-anak menuju baligh?

Berikut ini pemaparan yang disampaikan oleh Ustadz Zainal Arifin, Lc. dalam kajian Tarbiyatul Aulad di Masjid Al Hidayah, Lembah Hijau. Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan orang tua dalam mendidik anak-anak sebelum baligh.

1. Jangan memanjakan anak. Biasanya orang tua mengekspresikan rasa sayangnya terhadap anak dengan memenuhi semua kebutuhan dan keinginan anak. Hal ini akan menjadi sebuah masalah apabila orang tua sudah berlebihan dalam memberikan fasilitas. Jangan karena alasan sayang, lalu orang tua memberikan sesuatu secara berlebihan. Misalnya, memberikan gadget yang canggih, padahal anak belum membutuhkannya. Akibatnya, anak menjadi kecanduan gadget dan mulai malas belajar. Contoh lainnya adalah dengan mengizinkan anak memiliki motor dan mengendarainya, padahal belum cukup umur dan belum memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi). Hal ini tidak hanya bisa membahayakan diri sendiri, tapi juga orang lain.

2. Orang tua harus memberikan perhatian khusus kepada anaknya dalam semua sisi kehidupannya.
Biasanya orang tua hanya menanyakan hal-hal wajib yang harus dilakukan anak seperti sudah salat belum, sudah mengerjakan PR belum, sudah mandi belum, dan lain-lain. Orang tua jarang menanyakan bagaimana perasaannya hari ini, bagaimana keadaannya di sekolah apakah senang atau sebaliknya  apakah nyaman atau tidak. Kalau orang tua memerhatikan seluruh kondisi anak, tidak hanya fisik tapi juga psikis, dengan cara sering mengajak bicara dari hati ke hati, insyaa Allah akan membuat anak senang berdekatan dengan orang tuanya. Sehingga bila ada masalah, anak akan langsung curhat kepada ayah-bundanya, bukan kepada orang lain.

3. Mencium anak tidak hanya waktu masih bayi/kecil, tapi setelah dewasa pun tetap dilakukan. Hal ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, seperti dalam sabdanya ketika mengetahui bahwa ada seorang ayah yang tidak pernah mencium kesepuluh anaknya.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencium Hasan, putra Ali di mana saat itu ada Aqra’ ibnu Habis At Tamimi sedang duduk di samping beliau. Dia lalu berkata,

إِنَّ لِي عَشْرَةً مِنَ اْلوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَداً!

“Saya punya sepuluh orang anak dan tidak pernah satupun dari mereka yang saya cium.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memandangnya dan berkata,

مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

’Siapa yang tidak memiliki sifat kasih sayang, niscaya tidak tidak akan memperoleh rahmat Allah.”

(Shahih) Lihat Ghayatul Maram (70-71): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 18-Bab Al Walad Taqbiluhu wa Mu’anaqotuhu. Muslim: 43-Kitab Al Fadha’il, hal. 65]

Tuesday, March 16, 2021

Melahirkan



Bismillaahirrahmaanirrahiim


Menulis semudah bernapas. Itu jargon Pak Cahyadi Takariawan. Bagi saya, hal itu belum berlaku. Masih banyak hambatan dan rintangan yang harus dihadapi. Menulis masih memerlukan pemikiran panjang dan mendalam. 


Seperti tadi saat rapat. Kami diminta memberikan masukan untuk membuat kalimat motivasi yang akan dicantumkan di gantungan kunci. Ganci ini rencananya akan diberikan kepada siswa sebagai souvenir nanti saat Pesantren Ramadan. Banyak teman yang menodong. "Ayo, Bu Nindy!" Tapi, saya mah apa atuh. Tidak bisa disuruh tiba-tiba begitu.


Entahlah, saya bisa menulis, tetapi ya, namanya masih belajar, masih perlu bimbingan. Belum secanggih Pak Cah, Bu Ida, Bang Syaiha, dan guru-guru lainnya. Mereka menulis dan merangkai kata sudah seperti bernapas saja. Nggak usah banyak pertimbangan. Lha, saya?


Makanya, saat akhirnya bisa menyelesaikan buku ini, rasanya luar biasa. Alhamdulillaah, akhirnya Allah izinkan saya untuk bisa menerbitkan buku. Meskipun saya tidak tahu, apakah ada kebaikan di dalamnya atau tidak. Tetapi, saya berharap, buku ini dapat memberikan banyak manfaat dan inspirasi. Saya berharap, buku ini bisa menjadi salah satu ladang pahala, amal jariyah dan memberikan ilmu yang bermanfaat. Sehingga, akan mengalirkan pahala yang terus mengalir hingga yaumil akhir. Aamiin yaa rabbal'aalamiin.

Bukan hal yang mudah untuk menyelesaikan buku ini. Saat perencanaan, saya mencanangkan waktu 30 hari saja untuk membuat satu buku dengan 200 halaman A5. Saat itu saya begitu yakin bisa merampungkannya tepat waktu karena sudah memiliki simpanan naskah.

Tapi, realita tidak sesuai dengan harapan dan impian. Tulisan yang saya tuntaskan berdasarkan outline yang sudah disetujui Pak Cah, ternyata hanya dapat mencapai 150 halaman. Inilah awal "stuck" itu. Pusing mencari ide untuk menggenapkan 200 halaman, ditambah lagi penggunaan laptop yang harus bergantian dengan anak gadis yang harus mengerjakan tugas kuliah, membuat naskah mangkrak semakin lama.


Akhirnya, di akhir tahun, sampai juga jumlah halaman yang dituju. Begitu selesai, bingung mencari penerbit. Sudah dapat penerbit, ternyata kerjanya lambat. Satu setengah bulan menunggu cover selesai. Setelah selesai, ternyata Pak Cah kurang suka. Pindahlah ke penerbit rekomendasi beliau. 

Alhamdulillaah, kerjanya cepat, responsnya juga cepat. Tapi, ternyata covernya pun seadanya. Mungkin karena biayanya murah meriah. Akhirnya pakai cover yang pertama. Itu pun tidak mulus. Ternyata ada kendala huruf. Hingga saat ini, masalah per-cover-an belum tuntas juga. 


Hanya bisa berharap kepada Allah. Semoga Allah mudahkan proses penerbitan buku perdana ini. Bisa best seller, seperti kata Kang Ade KMO. Karena, kalau best seller, berarti semakin banyak pembaca yang akan mendapatkan manfaat positif dari tulisan yang masih receh ini. 

Thursday, March 11, 2021

Bila Jauh dari-Nya

Bismillah


Membersamai dan membesarkan buah hati bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi, bila kita tak memiliki ilmu tentangnya. Tak bisa dipungkiri, pasti akan ada ombak kecil maupun besar yang akan menghampiri.

Saat permata hati masih bayi, lalu menginjak balita, sungguh menjadi saat yang menyenangkan dan membahagiakan. Memandangnya berceloteh dan mengeksplor segala sesuatu, membuat penat menghilang. 

Semakin besar mutiara cinta itu, ternyata semakin menguji kesabaran bunda. Dia mulai bisa berkata "tidak" dengan permintaan dan harapan kita. Membantah pun semakin fàsih ia ucapkan bila tak sepaham dengan kita. Kadang menyulut emosi.

Ombak itu akan semakin besar seiring semakin besarnya buah hati yang dulu lucu dan menggemaskan. Bila ia telah menjadi pemuda yang ingin serba mandiri, kadang nasihat kita dianggap telah mencampuri urusan hidupnya. Karena ia ingin segalanya diselesaikan sendiri. Ia tak lagi membutuhkan orang tua karena merasa telah besar dan dewasa. Sedangkan orang tua selalu menganggapnya anak kecil yang harus selalu diperhatikan dan dilindungi. 

Bila sudah demikian, tak ada jalan lain kecuali mengembalikan segala riuh kehidupan kepada Sang Pemilik Kehidupan, Allah Yang Mahakuasa. Mutiara yang sekarang bersama kita adalah amanah dari Allah. Maka, bila ada kesulitan dalam membesarkannya, hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan dan jalan keluar.

Riak ombak yang ada di antara kita dan buah hati, seringkali berkaitan dengan dekat jauhnya kita kepada Sang Penggenggam hati. Bila ada berbagai masalah, biasanya karena kita sudah jarang mendekat kepada-Nya. Bila pendapat sering bertentangan, biasanya karena hati kita yang compang-camping karena jauh dari-Nya. Itu pun yang saya alami.


Setiap ada duri yang menghalang keharmonisan, itu pertanda saya harus muhasabah diri. Seberapa dekat dan seberapa sering diri bermunajat kepada-Nya. Lalu, bila air mata telah membanjiri sajadah di sepertiga malam, ketakberdayaan dan kelemahan diri telah pasrah kepada-Nya, pertolongan-Nya telah sangat dekat. Masalah sepelik apa pun, akan terurai dengan mudah. Semudah membalikkan telapak tangan.

Itulah kunci kehidupan. Berdoa dan bermunajat kepada Allah. Serumit apa pun benang masalah yang ada, akan terurai dengan mudah bila kita selalu bersandar kepada Allah yang Maha Perkasa. Masalah besar akan terasa kecil karena kita mempunyai Allah yang Mahabesar. 

Wednesday, March 10, 2021

Agar Ide Mengalir Lancar

Erna Septiana
(Sekolah Menulis Indonesia)


Persiapan Awal 

Agar mudah menciptakan ide, bertubi-tubi ide datang, terdapat persiapan awal yang mesti teman-teman perhatikan sebagai berikut :

Pertama, menentukan alasan kuat menulis. 

Bagi saya menulis ialah kebutuhan jiwa karena menulis saya jadikan sebagai self healing (penyembuh diri) Dari menulis saya mendapatkan ketenangan hati dan pikiran pun perlahan mampu terealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menulis menjadikan saya lebih baik, masalah mudah terurai, memberikan benang-benang solusi. Setiap tulisan atas permasalahan hidup yang awalnya berupa coretan atau tulisan kasar, kemudian saya kembangkan menjadi bentuk yang lebih layak untuk dibaca, memiliki alur sebab akibat yang akan memudahkan pembaca untuk memahami dan menangkap pesan yang ingin saya sampaikan.

 “Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!” Imam Al-Ghazali.

Dari kata bijak Imam Al-Ghazali membuat saya mantap untuk memperbaiki tulisan, saya ingin bisa menulis karena menulis ialah lisan kedua, setiap apa yang kita tulis sama dengan apa yang kita ucap, sama-sama menyuarakan isi pikiran dan hati hanya berbeda perantara. Jadi, jika saya ingin menyampaikan pesan baik, maka penyampaiannya juga harus baik agar mudah diterima dan dipahami.

Teman-teman bisa menentukan alasan kuat menulis sejak awal masuk dunia kepenulisan karena dengan  alasan yang kuat, teman-teman tidak mudah bosan, berhenti di tengah jalan baik terpikir kehabisan ide, tidak mendapat pujian atau apresiasi, takut celaan dan sebagainya.

Kedua, mengenal diri sendiri.

Mengenal diri sendiri ialah upaya kita mengetahui seluk beluk diri sendiri, segala kurang dan lebihnya.

Keuntungan Mampu Mengenal Diri Sendiri :

1. Dengan mengenal diri sendiri, menjadikan kita teguh pendirian, tidak mudah goyah terhadap apa yang di luar kendali kita misalnya, ada teman yang tidak suka atas keputusan kita menjadi seorang penulis, kita bisa mengabaikan mereka karena kita memiliki alasan kuat menulis, kita pun percaya terhadap apa yang ada di dalam diri kita untuk bisa menciptakan sebuah tulisan yang layak dibaca, mengubah suatu hal yang kurang baik menjadi baik atau alasan yang lainnya. 

2. Dengan mengenal diri sendiri, menjadikan kita bijaksana. Tidak mudah iri hati atas keberhasilan orang lain atas kelebihan mereka, tidak mudah berbangga diri hingga merendahkan orang lain (ujub) atas keberhasilan yang kita peroleh.

3. Lebih dekat dengan diri sendiri lebih kaya ide karena kita tahu jangkauan diri kita atau batasan diri kita mulai dari kekurangan hingga kelebihan sehingga kita bisa mengatur dan mengelola setiap apa yang ada di dalam diri kita (di bawah kendali kita) untuk bersama-sama menciptakan suatu ide yang menarik untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. 

4. Lebih bisa berdamai dengan masalah, mencintai diri sendiri, dan banyak lagi keuntungan mencintai diri sendiri yang tentunya membuat kita mampu bertahan di setiap situasi dan kondisi dalam menjalani kehidupan ini.

1. Membaca

Mengapa harus membaca?Karena dengan membaca kita bisa mendapatkan inspirasi ide, mengetahui kelebihan dan kekurangan karya orang lain sehingga kita memiliki pandangan akan seperti apa karya yang akan kita ciptakan nanti. Membaca menambah pengetahuan, wawasan, dan pengalaman (menambah amunisi penulis) Selain itu,  dengan membaca akan menghasilkan tulisan yang baik karena ketika kita membaca sebenarnya kita meniru cara menulis orang lain, gaya bahasanya, strukturnya, teknik showing, penggunaan diksi, cara menyampaikan amanat, membangun karakter tokoh, penyajian alur cerita, latar dan banyak lagi manfaat membaca bagi seorang penulis.

2. Mendayagunakan Indra

Apa saja indra yang dipinjamkan Tuhan kepada kita?🤔

Sepatutnya kita bersyukur atas pinjaman-Nya, dengan mendayagunakannya😊

Indra manusia terdiri atas indra peraba, indra perasa, indra penglihatan dan indra pendengaran. Ide bisa kita ciptakan dengan mendayagunakan indra. Bagaimana suasana di musim dingin, musim panas, bagaimana bunyi rintik hujan, bagaimana warna, suara, ketajaman mata burung elang, bagaimana aroma tanah yang basah selepas diguyur hujan, bagaimana rasa pedas hingga membuat orang menangis saking pedasnya, bagaimana ketika tubuh ditikam, bagaimana bunyi sirine ambulans. Semua ini memanfaatkan indra untuk menciptakan sebuah tulisan yang benar-benar seperti aslinya (bernyawa)

3. Merenung

Merenung ialah berdiam diri sambil memikirkan sesuatu. Cukup meluangkan sedikit waktu dalam sehari untuk merenung.

Merenung berbeda dengan melamun ya😄

👉🏻 Merenung memiliki tujuan, yang dipikirkan jelas dan berdampak pada kebaikan misalnya, menemukan hikmah di setiap kejadian yang telah berlalu, mengetahui kesalahan yang diperbuat, lebih bisa mengenal diri sendiri, berdamai dengan masalah, lebih bisa mengatur waktu, lebih bersemangat. 

👉🏻 Melamun tidak memiliki tujuan, yang pikiran melayang-layang tidak jelas justru membuang-buang waktu. Ide bisa diciptakan melalui perenungan.

4. Mendengarkan cerita orang lain

Orang-orang disekitar kita mungkin teman, sahabat, tetangga, saudara yang membagikan curahan hati mereka kepada kita. Selain, memberikan solusi terhadap permasalahan mereka, permasalahan mereka juga menjadi pembelajaran bagi kita. Permasalahan mereka bisa kita angkat menjadi sebuah karya😊

5. Mencermati pengalaman orang lain

Ide bisa kita ciptakan melalui jalan hidup orang lain. Bisa kita jadikan karya dengan menyembunyikan identitas aslinya atau memodifikasinya agar lebih menarik, tepat dan amanatnya mudah ditangkap pembaca (mengambil garis besar pengalaman orang lain)

6. Menulis tulisan bebas/coretan/ide liar

Apapun yang terlintas hendaknya ditulis di buku catatan, note handphone atau yang lainnya. Ide liar suatu hari nanti akan menjadi penguat ide lain, menyatu padu, matang dan melahirkan suatu karya😊

7. Menulis selepas beribadah misalnya, salat

Selepas melaksanakan ibadah, salat coba luangkan sedikit waktu, mengambil selembar kertas atau buku catatan dan pena, tuangkan segala hal yang ingin teman-teman utarakan.

Saya telah melakukannya dan ide bisa mengalir dengan cara ini. Selain itu, berdoa dalam tulisan, bisa mengalirkan ide😊

Tuesday, March 9, 2021

Suami Istri Bahagia


Kajian Online
☑️ *Suami Istri Bahagia*☑️
_Tumbuhkan Anak Cerdas Emosi_
🎙️ *dr. Aisah Dahlan*
🎥Live On ZOOM
📆09 Maret 2021

🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄

*PEMBUKAAN*

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا

"Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.""
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 74)

" _Bahagia harus penuh berkah Allah_ "


*DEFINISI BAHAGIA*

_Bahagia_ adalah suatu keadaan pikiran dan perasaan yg ditandai dengan keadaan kecukupan rasa syukir, senang krn bernagi, kepuasan, kenikmatan atau kegemburaan yg intens dan penuh berkah Allah

*BERKAH* allah adalah bertambahnya kebaikan dan langgeng nya kebaikan baik berupa pasangan ataupun anak2.

Adapting to the new normal yg perlu dijaga

☑️Jaga kebersihan
☑️Jaga kesehatan
☑️Jaga perasaan
☑️Jaga pikiran

Perasaan dan pikiran berhubungan dengan otak manusia ada otak besar kecil dan belahan kanan kiri diletakkan paling kanan ditubuh kita dilapisi dengan lapisan2 yg bgt banyak. 
Dan dihubungkan dengan _Nervous system_ (sistem saraf) yg bekerja seperti kabel listrik yg akan membawa pesan pergerakan atau sikap tergantung isi otak kita.

Perilaku kita tergantung isi otak kita, sehingga mau di isi kebaikan atau keburukan tergantung pada diri kita.

Jika suami istri ingin bahagia maka perbanyak lafadzkan asma Allah, _Bismillah_ istigfar dll karena pada saat kita mengucapkan kata tersebut maka sel2 diotak akan jalan dan mengalir keseluruh tubuh sehingga seluruh bagian tubuh akan saling berkomunikasi dan menimbulkan efek kebahagian.
Begitu pula dengan kalimat2 buruk dengan tekanan dibawah 200Hz dan diucapkan berulang2 diucapkan pun akan jalan di sel2 otak kita.


*KECEPATAN OTAK*

 Neuron sensorik 240km/jam
 Motorik 320km/jam
 
Didalam otak ada yg nama nya
 _kelenjar pituitery_  (hormon bahagia) tidak bisa keluar jika tidak distimulasi, bisa distimulasi dengan cara :
Menangkap sesuatu yg bahagia melalui indera yg kita miliki salah satu nya dengan ☺️senyuman, 
😂tertawa, 
🚶bergerak,  dan 
👩‍❤️‍👨sentuhan membelai/memeluk.

Bahagia itu pilihan Mau/Tidak
Bahagia juga suatu keputusan maka niatkan diri sendiri untuk bahagia.

Jika hormon bahagia dipaksa keluar dan tdk alami maka akan bahaya sehingga bukan bahagia yg keluar melainkan keburukan bagi tubuh.

*Hormon bahagia dan cinta*

🔸Endhorpins penghilang rasa sakit
🔸Oxytocin
🔸Dopamine
🔸Serotonin

*Kelenjar adrenal* yg Allah ciptakan utk manusia menjaga diri dan melakukan antisipasi. Namun Jika sering banyak mengeluh maka yang keluar kelenjar adrenal juga.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ  ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَا نْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ  ۖ فَا عْفُ عَنْهُمْ وَا سْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَ مْرِ  ۚ فَاِ ذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ  ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 159)

Otak emosi/ _otak mamalia_  *SISTEM LIMBIK*
Terletak ditengah otak, jika tidak hati2 maka otak ini akan menjadikan kita lebih rendah dr pd binatang. Sehingga perlu dikenali dan dikendalikan.
_Pre frontal cortex_ Tempat tersimpan nasehat, pengetahuan, pelajaran dan kisah2.


*LEVEL EMOSI*

Terbagi menjadi 2 energi dan memiliki inti pada masing2 sub nya yaitu:

*ENERGI NEGATIF*

_Nafs Lawwamah_
🔸Apatis 50Hz
🔸Sedih 75 Hz
🔸Takut 100 Hz

_Nafs Amarah_
🔸Rakus 125 Hz
🔸Marah 150 Hz
🔸Sombong 175 Hz

*ENERGI POSITIF*

_Nafs Muthmainnah_
🔸Semangat 200 Hz
🔸Menerima 350 Hz
🔸Damai 600 Hz
🔸Pencerahan 700-1000 Hz

Cara Meningkatkan kapasitas diri :
🔸Menggali kekuatan2 n anugerah pada diri
🔸Stop mengeluh karena yg membuat berat kehidupan adalah keluhan
🔸Mengerti watak dan bakat diri
🔸Perbanyak senyum karena senyum itu menular akibat reflek vibrasi dalam tubuh.

_Gelombang elektro magnetik anak sama dengan ibu, vibrasi gelombang membawa pesan pikiran dan perasaan ibu menular ke anak2_


🔆Kesempurnaan hanya milik Allah... kekurangan dan kealpaan dalam penulisan dan penyampaian milik saya pribadi...

Mohon Maaf Lahir Bathin🙏

Semangat Menuntut Ilmu✊

📝 By *Ita*

Wednesday, March 3, 2021

Bukan Perempuan Biasa

Bismillah


Memiliki lima mutiara, bukan hal mudah untuk dijalani. Begitu persepsi beberapa teman. Maka, mereka pun menganggapku sebagai seseorang yang tidak biasa. 

Padahal, aku sendiri memanglah seorang yang sangat biasa, tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Pandangan mereka terhadapku, bisa seperti itu, karena mereka belum terlalu paham dengan keluargaku.

Bisa membersamai lima mutiara, memang sesuatu yang luar biasa bagiku. Nikmat dan anugerah yang tiada terkira, yang telah dikaruniakan Allah kepadaku. Tetapi, yang lebih luar biasa lagi adalah seseorang yang sangat istimewa, yang membuatku bisa menjalankan peran ini dengan enjoy. 

Seseorang itu sangat hebat dan benar-benar bukan perempuan biasa. Superwoman, kami menyebutnya. Tubuh tuanya, tak menghalanginya untuk turut berperan membersamai dan membesarkan lima mutiara kami. Di balik tubuh kurusnya, tersimpan kekuatan yang tak tertandingi. Entah apa jadinya, bila tidak ada beliau. 

Ibu Sujiati, begitulah beliau dipanggil. Ibu mertua yang sangat memanjakan kami, anak, menantu, dan cucu-cucunya. Wajah keriputnya selalu terlihat khawatir, bila salah seorang dari kami, pulang terlambat. Bila hujan deras mengguyur bumi, sedang kami masih belum berada di sisinya, dengan setia, beliau menunggu di teras rumah dan membiarkan pagar terbuka. Sewaktu-waktu kami datang, tak perlu susah-payah membukanya.

Kedua tangannya begitu terampil menyajikan masakan kesukaan cucu-cucunya. Si sulung suka pisang goreng, dengan riang hati beliau siapkan. Kebetulan satu selera juga dengan beliau.

Mutiara kedua suka ayam bakar, tak perlu lama baginya untuk menyajikannya di meja makan. Jagoan pertamaku paling suka donat kentang buatan beliau. Begadang pun beliau lakukan demi sang cucu tercinta. 

Jagoan kedua suka karedok, dengan sigap beliau siapkan sayur-mayur dan bumbunya. Dan, sang jagoan pun, dengan gagahnya membantu mengulek bumbu. Salah satu aktivitas favoritnya ketika berada di dapur.

Giliran di bungsu, apa pun ia suka. Tak pilih-pilih makanan. Bahkan, pete pun oke untuk membangkitkan selera makannya. Tak beda jauh dengan superwoman kami.

Kini, perempuan luar biasa itu sedang disayang Allah. Diberi kesempatan oleh Allah untuk mengistirahatkan badan yang telah bertahun-tahun diforsir untuk menyenangkan banyak orang. Badan yang jarang tidur nyenyak. Mudah terjaga oleh suara aneh, sehingga rumah kami terhindar dari pencurian.

Selama ini, sakit bukan halangan untuk tetap memasak dan beraktivitas. Ketika diminta untuk istirahat saja, "Kalau diem malah tambah sakit. Badan jadi kaku," begitu jawabnya selalu. Tinggal kami yang cemas, khawatir terjadi sesuatu. Namun beliau tidak pernah bisa dicegah. 

Kini, Allah menyuruhnya istirahat, terbaring lemah di kasurnya. Mungkin hanya dengan begini, beliau tidak akan memaksa tubuhnya lagi untuk bekerja. 


Semoga Allah segera memberikan kesembuhan kepadamu, ibu yang hebat, superwoman kami. Syafakillah laa ba'sa thohuurun InsyaaAllah. Semoga sakit ini menjadi penggugur dosa-dosa, aamiin yaa rabbal'aalamiin.

Tuesday, March 2, 2021

Menumbuhkan Karakter

Bismillah

Siang itu, dua jagoan jajan di sebuah swalayan. Mereka baru keluar dari swalayan tersebut dan berhenti di depan kotak infaq sebuah masjid.

"Ini aja, Fid," ujar si kakak sambil mengulurkan uang sepuluh ribu. Melihat itu, adiknya mengantongi kembali uang dua ribu yang tadi akan dimasukkan ke kotak infaq. 

Adegan itu diceritakan oleh seorang sahabat yang hari itu juga berbelanja di tempat yang sama. Kata beliau, dua anak itu sempat berdiskusi beberapa saat, sebelum akhirnya memasukkan uang ke kotak infaq. 

Dua anak kecil, memutuskan sendiri, tanpa ada perintah dari orang lain untuk berinfaq, adalah sesuatu yang tidak biasa. Kesadaran itu tentu tidak terjadi dengan tiba-tiba. Butuh waktu dan perjuangan dari orang tua dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Membuat anak berprestasi dalam bidang tertentu, mungkin bisa diwujudkan dalam hitungan bulan atau tahun. Seperti yang dilakukan oleh para juara dengan mengkarantina diri dan fokus mempelajari dan berlatih dalam satu bidang tersebut.

Membentuk karakter atau akhlak seseorang, kadang perlu waktu bertahun-tahun. Itu pun harus dibiasakan dan diingatkan hampir setiap hari. Bahkan, kadang yang mendidik sudah tidak ada, karakter itu baru mulai terbentuk. Tidak beda jauh dengan dakwah yang ditempuh oleh para nabi dan rasul. 

Membiasakan akhlak yang baik, harus dimulai sejak anak masih dalam kandungan. Bahkan, bisa jadi, sebelum ijab qobul diucapkan. Seorang laki-laki harus mencari calon istri yang sholihah untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya kelak. Karena, tanaman yang baik, akan tumbuh dari bibit yang baik pula. Dari indukan yang berkualitas.

Sebagai orang tua, kita mungkin sering merasa lelah. Sudah diberitahu dan dinasihati berkali-kali, tapi kebiasaan baik itu belum melekat dalam diri anak. Hal ini yang juga sering membuat kita marah dan merasa tidak berhasil mendidik amanah dari Allah tersebut.

Padahal, kalau kita lihat sejarah. Nabi Nuh pun memiliki anak yang tidak mau taat dan patuh kepadanya dan kepada Allah. Itu sekaliber nabi. Apalagi kita yang hanya manusia biasa.

Tugas kita sebagai orang tua hanya berikhtiar dan berdoa. Setelah segala daya dan upaya telah dikerahkan semaksimal mungkin, doa pun telah dilangitkan di sepertiga malam terakhir, maka tawakal adalah akhir yang manis. 

Memasrahkan segala hasil hanya kepada Allah, entah itu manis atau pun pahit. Segala sesuatu pasti sudah Allah rencanakan. Kita manusia hanya menjalani.