Friday, February 26, 2016

Tazkiyatun Nafs | Cerminan Diri



بسمالله الرحمان الرحيم
Dalam buku Tazkiyatun Nafs, Imam Al Ghazali mengatakan bahwa perilaku orang atau masyarakat di sekitar  adalah cermin diri kita. Ini selaras dengan sabda Rasulullah tercinta, "Seorang mukmin adalah cermin bagi sesamanya. Bila melihat suatu aib pada saudaranya, maka ia memperbaikinya." (HR. Bukhari)
Sering kita merasa kesal dengan suatu perbuatan orang lain, bahkan mencemoohnya dengan kata-kata pedas yang tak pantas diucapkan oleh seorang mukmin. Menurut kita, orang itu naif dan jahil sekali, hingga melakukan sesuatu yang menyebalkan dalam pandangan subjektif kita. Sadarkah kita, bisa jadi, kita pun pernah atau sedang melakukan hal yang sama tanpa disadari?
Pepatah mengatakan, semut di seberang lautan kelihatan jelas, tapi gajah di pelupuk mata tak terlihat. Ajaib, bukan? Kesalahan sepele yang dilakukan orang lain, di mata kita nampak sebagai dosa besar. Tetapi kesalahan diri yang sebesar gajah, bahkan mungkin lebih besar lagi, tak kelihatan setitik pun. Itulah kita, manusia yang dikarunia Allah, akal yang sempurna.
Astaghfirullah...
Sudah saatnya kita muhasabah, introspeksi diri, menghitung-hitung kesalahan diri, menghisab diri sebelum dihisab, seperti kata Umar bin Khattab. Berapa banyak amal baik yang telah kita tunaikan, berapa banyak amal buruk yang sudah menghitamkan hati kita? Beruntunglah mereka yang selalu sibuk dengan kekurangan diri namun terus berpacu memperbaikinya. Merugilah mereka yang terlena dengan kelebihan dan kebaikan diri namun selalu mengungkit-ungkit dan menyebarluaskan kekurangan dan aib saudaranya.
Rasulullah sudah sangat jelas dalam memberikan tuntunan. Bila kita melihat aib saudara kita, itulah cerminan diri kita. Sangat mungkin, kita pun seperti itu. Solusinya? Kembali ke pesan Rasul yang mulia, bila melihat aib saudaramu, perbaikilah. Tegurlah, nasihatilah, jangan malah dibicarakan di belakang punggungngnya. Itu sama saja dengan ghibah. Menegur pun ada aturannya, tidak boleh di depan khalayak ramai, kalau bisa bicara empat mata. (Ini bukan acara tv, lho ya)
Tulisan ini sebagai teguran untuk diri pribadi yang masih belum bisa mengendalikan lidah, supaya bisa lebih sering muhasabah dan men-sholihkan diri. Kumohon bimbingan-Mu ya Robbi.
#One Day One Post
#Februari Membara
#20th Day

No comments: