Monday, March 4, 2024

Ngangeni

Bismillah


Menjadi ibu dari lima orang anak, adalah sesuatu yang luar biasa dan amazing. Namun, saya sadar sesadar-sadarnya, semua ini tidak akan dengan mudah saya lalui kalau tidak dibantu oleh ibu mertua. Beliau yang sangat luar biasa, membantu saya membesarkan kelima buah hati. 


Sebenarnya, terbersit rasa bersalah saat melibatkan beliau dalam keriuhan dan kerepotan ini. Tetapi, mungkin karena memang beliau orang yang tidak suka menganggur dan berdiam diri saja, maka saya pun terpaksa membiarkan beliau ikut repot. Yang penting beliau senang. Karena kalau diminta istirahat saja, beliau merasa tidak dianggap. Aduh 🤦


Alhamdulillah, dengan adanya lima buah hati kami, suasana rumah jadi ramai terus. Namun, itu tak berlangsung lama. Satu per satu, anak-anak harus belajar di pondok, menghafal Al-Qur'an. Maklum, kami, orang tuanya belum bisa mengajari sendiri. Jadi, ya, kami minta tolong ustadz ustadzah yang lebih berkompeten. 


Kini, kelimanya sedang belajar, tidak di rumah. Yang dua sedang kuliah di Jakarta dan Jatinangor, yang tiga masih di pondok. Tinggallah saya berdua dengan suami. Sepi, rumah ini, juga hati ini. Tapi demi kebaikan mereka, demi masa depan mereka, kami harus ikhlas. 


Dalam kesepian ini, sering terbayang saat-saat bersama mereka. Tak terasa, kenangan itu menciptakan rindu yang membiru, hingga menetes air mata. Ada terselip rasa bersalah, saat ingat, betapa kadang saya marah dan terlalu keras kepada mereka. Ingin rasanya berlari dan merengkuh mereka dalam pelukan.


Salah satu kenangan yang tak pernah terlupakan adalah saat kami jalan pagi keliling perumahan, lalu saya belanja sayuran dan anak-anak beli jajanan pasar. Lalu mereka bahu-membahu membawakan barang belanjaan.


Sampai di rumah, setelah makan jajanan tadi, kami pun bergerak ke dapur. Masak kolaborasi, deh. Ada yang menyiangi bayam, mengupas wortel dan jagung putren. Kadang mereka berebut memilih pekerjaan yang mereka sukai. Senang melihatnya. Walaupun, setelahnya, dapur jadi berantakan. Tak apa, bisa dirapikan. 


Kebersamaan itu yang penting. Mereka belajar memasak, belajar berbagi pekerjaan, belajar mengalah, belajar tanggung jawab dengan pekerjaannya, dan, serunya memasak bersama keluarga. 


Sebentar lagi Ramadhan tiba, berarti, sebentar lagi mereka pulang libur lebaran. Meskipun masih satu bulan lagi, rasanya seperti sudah di depan mata. Tak sabar untuk mengulang kembali kenangan indah itu. Dan, sekarang, mereka lah yang akan memasak, bukan belajar lagi. Mereka sudah harus diberi kepercayaan untuk membuat masakan sendiri. 


اللهم بارك لنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان 



No comments: