Thursday, February 22, 2024

Mengasah Diri

 Bismillaah

 

 

Tantangan dan Peluang Meningkatkan Literasi Sekolah

Oleh: Nindyah Widyastuti

 

Saya, Nindyah Widyastuti, adalah seorang guru di SDIT Al Hidayah, Lippo Cikarang, Bekasi atau Al Hidayah Islamic School (AHIS). AHIS memiliki perpustakaan yang sangat memadai karena memiliki koleksi buku yang cukup banyak dan ruangan yang nyaman, yang membuat para siswa betah berada di sana untuk membaca atau bermain permainan edukatif.

 

Walaupun fasilitas perpustakaan sudah sangat memadai, ditambah lagi dengan adanya pojok buku di setiap ruang kelas, ternyata tidak membuat para siswa otomatis suka membaca buku. Kurangnya minat baca dan menulis siswa, sangat dipengaruhi oleh adanya gawai yang sudah menjadi teman meraka sehari-hari sehingga membaca menjadi aktivitas yang kurang seru dan asyik.

 

Untuk mendorong siswa agar lebih melek literasi, selain melibatkan para guru, AHIS juga mengadakan festival literasi setiap enam bulan sekali. Aneka lomba yang berkaitan dengan literasi sudah diselenggarakan untuk menumbuhkan minat literasi siswa. Tetapi, animo siswa untuk berpartisipasi masih kurang, terutama siswa laki-laki.

 

Supaya para siswa lebih bersemangat dalam membaca dan menulis, maka kegiatan yang sudah berjalan perlu ditambah dengan beberapa program baru. Praktik baik yang bisa dilaksanakan misalnya reading challenge atau bedah buku. Semoga dengan kegiatan itu semakin menambah semangat siswa untuk suka membaca.   

 

*** 


Itu adalah artikel yang saya ajukan saat mendaftar GML (Guru Motivator Literasi). Bersaing dengan, katanya sekitar 7.000 peserta, alhamdulillah saya lolos. Dan, kabarnya lagi, akan diterbitkan menjadi buku antologi.


Namun, sayangnya saya tidak bisa melanjutkan program ini, meskipun sudah lolos seleksi. Hal ini karena program tersebut ternyata berbayar. 



Jadi, pada program GML ini, kami para guru mengajak siswa, rekan guru, dan kepala sekolah untuk menulis. Nanti, tulisan itu, akan dibukukan dan dilombakan. Nah, syarat naskah yang bisa dilombakan adalah yang bukunya diterbitkan. Masalahnya, diterbitkannya tidak hanya satu, tetapi sebanyak peserta yang ikut menulis dalam buku tersebut, buku yang akan dijadikan antologi.



Terus terang, berat bagi saya untuk melakukan itu. Apalagi untuk lomba yang berbayar, sekolah kami tidak pernah mau ikut, karena syubhat, bisa mengandung unsur judi. 



Tapi, saya tetap bersyukur karena sudah bisa lolos seleksi artikel. Ini bisa menjadi sarana untuk mengetahui seberapa kemampuan diri saya, sekaligus untuk mengasah diri. Juga untuk memotivasi diri agar kembali rutin menulis. Semoga Allah mudahkan. 🤲🏻

Monday, February 19, 2024

Saksi PKS



Bismillah

Pemilu 14 Februari 2024 sudah lewat, namun cerita di baliknya masih terus ramai dibicarakan hingga hari ini. Tentang kecurangan, money politics, penggelembungan suara, TPS fiktif, syukuran yang terlalu dini, dan lain-lain. Riuh jagat sosmed kita. 


Salah satu yang sedang trending topic saat ini adalah saksi PKS. PKS sedang dibanjiri apresiasi yang berasal dari para anggota KPPS dan warga masyarakat, juga testimoni dari para saksi. Baik saksi PKS maupun saksi dari partai lain. 


PKS adalah Partai Keadilan Sejahtera, yang dulu, waktu pertama kali didirikan bernama Partai Keadilan. Dulu, partai ini dikenal sebagai partainya para anggota rohis (rohani Islam) yang ada di kampus-kampus. Partainya para aktivis. Didirikan pada tahun 1998, tahun reformasi. Karena sempat tidak lolos treshhold, supaya bisa ikut menjadi peserta pemilu lagi, maka namanya ditambahi sejahtera.


Setiap pesta rakyat, alias Pemilu, PKS selalu menurunkan saksi di setiap TPS. Memang ada yang tidak ada saksi, karena tidak ada kader partai, atau karena lokasinya jauh di pelosok. Di Bekasi sendiri, ketersediaan saksi hampir 100%, dan sebagiannya adalah para simpatisan. Bahkan, ada yang non-muslim. Padahal PKS terkenal dengan sebutan Partai Dakwah. 


Salah seorang saksi non-muslim yang masih pemula, baru pertama kali menggunakan hak pilih, adalah seorang gadis dari Tambun, Bekasi. Dengan semangat, ia konsisten menjaga suara rakyat.


Selain dikenal dengan kesabarannya menjaga suara rakyat, saksi PKS terkenal dengan kekritisannya dalam penghitungan suara. Tak ada kesempatan untuk curang, deh, kalau ada saksi PKS. Kecuali dilakukan dengan diam-diam.


Saat ini saksi PKS sedang banyak dibicarakan di sosial media. Selain dari integritasnya, mereka juga termasuk saksi yang -bisa dibilang- paling makmur dan sejahtera. Makanannya dijamin, tidak bakal kelaparan. Ada snack, makan siang, bahkan sampai makan malam karena memang para saksi bekerja sampai malam, bahkan ada yang sampai keesokan harinya. MaasyaaAllah.


Dibalik ketersediaan ransum bagi para saksi tersebut, ada emak-emak PKS yang sibuk di dapur. Mereka adalah ibu-ibu RKI yang mendirikan Dapur RKI khusus untuk melayani para saksi. 


RKI singkatan dari Rumah Keluarga Indonesia, yang merupakan anak organisasi PKS, yang di dalamnya adalah para emak aktif, kreatif, dan gesit. Jadi, di balik sejahteranya para saksi tersebut, ada emak-emak RKI yang setia men-support.


Monday, February 12, 2024

Bukan Kekuatan Ibu

Bismillah

Obrolan sore itu. 
"Mi, aku mau kuliah," pinta anak kedua kami yang baru saja lulus MA.
"Boleh, mau di mana?" tanyaku. Meski dalam hati, bingung dan tidak tahu, dari mana biayanya.


Sejak itu, Azmi belajar dan ikut bimbingan belajar online, yang murah dan terjangkau. Itu pun pembayarannya bisa dicicil. Alhamdulillah.


Sebenarnya, deg-degan juga, saat ia ingin kuliah di universitas negeri. Apa bisa? Sedangkan sekolahnya saja, proses pembelajarannya tidak terlalu mementingkan aspek akademik. Bisa dikatakan, belajar sekadar formalitas untuk mendapatkan ijazah. Yang dipentingkan dan diunggulkan adalah hafalan Al-Qur'an. Jadi, modal akademiknya tak sesiap mereka yang dari sekolah umum atau pesantren yang sangat memperhatikan akademik.


Sejak itu, hanya doa yang bisa saya panjatkan kepada Allah. Alhamdulillaah, Allah izinkan saya pergi haji sehingga bisa memanjatkan doa di tempat-tempat yang mustajab, salah satunya di depan Al Multazam. Doa khusus untuk Azmi, semoga Allah izinkan untuk bisa kuliah di universitas negeri terbaik, di jurusan terbaik.


Mendekati ujian UTBK, semakin banyak dan semakin sering pula saya panjatkan doa ke hadirat Ilahi Rabbi. Pada waktu antara azan dan iqamah, pada saat sujud, pada saat puasa juga ketika berbuka. Tak ada hari yang terlewat tanpa mendoakannya. 


Hingga tiba saat hari ujian. Saya pun berpuasa pada hari itu, dengan keyakinan, doa orang yang berpuasa itu akan diijabah oleh Allah. Dan, saya pun ikut mengantarkannya tes di IPB. Ini sebagai bentuk kepedulian dan kesungguhan saya dalam mendukung cita-citanya. 



Hari-hari menunggu hasil ujian terasa berjalan lambat dan lama. Namun, bibir ini tak boleh kering dari doa untuknya. Penuh harap, saya memohon kepada Allah, Rabb semesta alam. Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu, termasuk gugurnya sebuah daun. 



Akhirnya, tibalah hari pengumuman. Tetapi belum ada kabar dari Azmi yang masih mengabdi di pondok. Saya pun lupa dan tidak sempat mengecek sendiri di website. Selang sehari, dia pun berkirim pesan mengabarkan bahwa ia lolos UTBK.


MaasyaaAllah, alhamdulillaah. Benar-benar karunia yang luar biasa yang Allah berikan kepada kami. Ketika kabar itu tersebar di antara teman-teman, ada yang berkomentar.
"Berkat doa orang tua, ini."


Saya pun meng-amini. Ya, salah satunya, saya yakin, karena Allah yang telah mengabulkan doa kami, dan menakdirkannya. Semua tidak akan terjadi tanpa kehendak-Nya. Di samping itu, saya juga yakin, ini karena Azmi sudah hafidz 30 juz. Jadi, salah satu berkah Al-Qur'an yang telah dijaganya, sehingga Allah melimpahkan keberkahan kepadanya. Alhamdulillaah.


Sebagai seorang ibu, saya tidak punya kekuatan apa pun. Tak seperti ibu-ibu yang lain. Ada yang kekuatannya pada masakannya. Ada yang kekuatannya bisa mengikat hati anaknya dengan kepandaiannya berbicara, dengan nasihat dan kisah-kisah. Dan kekuatan-kekuatan yang lainnya.


Saya tidak pandai memasak, sekadar bisa. Alhamdulillah anak-anak dan suami mau memakannya. Saya bukan orang yang pandai merangkai kata-kata sehingga bisa ngobrol asyik dengan anak-anak dan menjadi tempat curhat mereka. 


Saya hanya bisa berdoa. Itulah kekuatan yang saya miliki. Berdoa. Bila sekarang, banyak kenikmatan dan anugerah yang Allah berikan melalui anak-anak, itu bukan karena kekuatan saya. Tetapi karena Allah mendengarkan doa-doa saya dan mengabulkannya. 


Jadi, jangan remehkan doa. Tak boleh kita berkata, "Maaf ya, saya cuma bisa bantu doa." Doa itu kekuatan maha dahsyat. Jangan dibilang "cuma". Tanpa doa, mungkin saya dan kita semua, belum sampai ke titik sekarang ini. 

Saturday, February 10, 2024

Deliang dan Dunia Literasi Kita

 

Sumber: https://www.sinergimadura.com/regional/29011734998/biografi-deliang-al-farabi-penulis-cilik-yang-menginspirasi-tanggal-lahirumur-alamat-orang-tua-pendidikan-karir-karya-penghargaan-ig-tiktok

 

 

 Bismillah

Tulisan ini merupakan menulis artikel dari webinar membuat artikel populer sekaligus seleksi untuk ditampilkan di Radar Edukasi. Semoga lolos, aamiin.

 

 

DeLiang, yang memiliki nama lengkap Muhammad Deliang Al Farabi, adalah putra pertama pasangan Ario Muhammad, PhD. dan Ratih Anggraini, Ph.D.. Pada usianya yang baru menginjak 11 tahun, DeLiang telah menerbitkan 40  buku berbahasa Inggris dan beberapa di antaranya berada di Top 15 Amazone. Keren! Tak heran bila ia dijuluki anak ajaib. Di saat kebanyakan anak seusianya masih sibuk dengan game online daripada membaca buku, apalagi menulis buku, DeLiang sudah berpenghasilan dari buku yang ditulisnya. Bagaimana dengan anak-anak seusianya? Apakah mereka juga sudah menerbitkan -minimal satu- buku?

Ternyata, baru sedikit anak yang sudah menerbitkan bukunya sendiri. Jangankan menulis buku, membaca pun sangat jarang yang suka. Sebagian besar anak sekarang lebih suka bermain game online atau menjadi Youtuber daripada membaca buku dan menulis. Padahal membaca buku itu sangat banyak manfaatnya, seperti yang sudah dibuktikan oleh DeLiang.

Kemampuan menulis DeLiang berawal dari kegemarannya membaca banyak buku dan mengembangkan imajinasinya. Sejak kecil, orang tuanya sudah membiasakan budaya literasi di rumah mereka. Baca buku dan diskusi adalah menu sehari-hari mereka. Sehingga, kosakata DeLiang berkembang pesat, begitu pula daya imajinasinya. Itulah yang kelak menjadi modal untuk menulis buku.

Dari sini, jelas sekali bahwa kemampuan menulis seseorang sangat berkaitan erat dengan seberapa banyak buku yang dibacanya. Semakin banyak bacaan, maka akan semakin kaya kosakata yang dimilikinya, sehingga mudah untuk dituangkan ke dalam tulisan. Ditambah lagi dengan kebiasaan diskusi. Itu pun semakin memperkaya kosakata sekaligus mengasah daya pikir.

Menurut Ario Muhammad, ayah DeLiang, ada tiga skill paling fundamental yang harus diajarkan kepada anak, yaitu menulis, public speaking, dan negosiasi. Ketiga skill ini bisa dilatih mulai dari membaca. Mengapa? Dengan membaca banyak buku, secara tidak langsung, anak akan belajar dan mengasah kemampuannya dalam tiga keterampilan tersebut. Walaupun, tentu saja, harus ada yang memotivasi dan memfasilitasi. Siapa? Orang tua terutama, dan guru pada umumnya.

Alhamdulillaah, pada proses pembelajran saat ini, literasi sudah menjadi salah satu kegiatan utama di sekolah. Ada anjuran untuk membaca buku selama 15 menit setiap pagi, sebelum memulai pembelajaran. Hal ini menandakan bahwa pemerintah sudah memahami betapa pentingnya melek literasi. Bila semua sekolah menerapkan ini, tidak mustahil akan lahir DeLiang-DeLiang baru yang akan menyemarakkan jagat literasi Indonesia. Dan, ini akan berdampak pada kualitas pendidikan kita.

Lalu, bagaimana membaca bisa menjadi pemicu lahirnya skill menulis, public speaking, dan negosiasi? Mari kita cermati apa saja manfaat membaca. Menurut Siti Marliah dalam artikelnya yang berjudul “Manafaat Membaca Buku sebagai Jendela Ilmu dalam Kehidupan” yang diunggah di Gramedia Digital, manfaat membaca adalah sebagai berikut.

1.             Membaca dapat mencerahkan imajinasi sehingga menjadikan seseorang menjadi pribadi yang kreatif. Itulah yang terjadi pada DeLiang. Di usia yang masih belia, ia sudah menghasilkan karya yang begitu banyak. Kalau bukan karena seorang yang kreatif, maka akan sulit menuangkan gagasan dan ide-ide yang ada di kepala.

2.             Membaca dapat memberikan perspektif pada dunia sekitar sehingga orang yang suka membaca buku-buku bermutu, cara berpikir dan berbicaranya pun bermutu. Ia memilki ide-ide yang brilian, yang kadang-kadang di luar dugaan banyak orang. Pola pikirnya pun sistematis, tidak acak-acakan.

3.             Membaca dapat membangun kepercayaan diri. Karena banyak membaca buku, maka seseorang akan memiliki wawasan yang luas sehingga ia akan lebih percaya diri. Seperti seorang guru. Bayangkan bila seorang guru malas membaca. Tentu akan kesulitan menyampaikan ilmu kepada peserta didik. Karena sedikit wawasan dan ilmu yang dimilki, maka akan menimbulkan rasa minder dan tidak percaya diri. Berbeda dengan guru yang rajin membaca buku. Tentunya banyak wawasan yang ia miliki sehingga berangkat mengajar pun dengan rasa percaya diri yang tinggi. Rasa percaya diri ini juga menjadi modal utama seseorang untuk berbicara di depan umum atau public speaking.

4.             Membaca dapat membantu mental dan emosional seseorang tumbuh dengan baik. Membaca itu membijakkan pikir dan melembutkan rasa. Banyak membaca, akan membuat seseorang lebih dapat mengontrol emosi saat bicara, menata kata-kata yang akan ia ucapkan, berpikir dengan lebih bijaksana, dan bertutur kata dengan lembut dan penuh kesopanan. Orang yang jarang atau bahkan tidak pernah membaca buku, cara berkomunikasinya pun kurang tertata sehingga sulit dimengerti oleh orang lain. Manfaat ini menjadi modal dasar dalam bernegosiasi.

5.             Membaca dapat membantu meningkatkan kemampuan menulis. Hal ini sudah dibuktikan langsung oleh DeLiang. Dengan banyaknya buku yang ia baca, maka, mudah saja ia menuangkan apa yang ada dalam pikirannya menjadi sebuah buku yang bisa dinikmati oleh banyak orang, bahkan mendunia. Apakah orang yang tidak atau jarang membaca buku tidak bisa menulis? Bisa. Mereka juga bisa menulis. Namun, prosesnya mungkin tidak akan semudah seperti mereka yang memang terbiasa membaca buku. Bagi yang rajin membaca buku, ide menulis akan mudah mengalir, merangkai kata-kata pun akan terasa mudah karena sudah terbiasa membaca rangkaian kata-kata di buku-buku yang ia baca.

Begitu banyak manfaat membaca. Sayang sekali, masih banyak anak Indonesia yang belum menyukainya. Betapa majunya pendidikan di Indonesia bila generasi mudanya suka membaca dan menulis. Literasi akan maju dan Indonesia akan memiliki generasi yang cerdas dan kritis.

Oleh karena itu, perlu dukungan dari semua pihak, terutama orang tua dan guru. Orang tua harus membudayakan baca buku daripada “baca” handphone. Bagaimana caranya? Sediakan buku-buku bacaan di rumah. Bagaimana kalau anaknya tidak mau baca? Orang tua lah yang harus memulai membacakan buku untuk anaknya. Selain dapat meningkatkan minat baca pada anak, kegiatan ini juga dapat menguatkan bonding antara orang tua dan anak.

Guru pun harus membudayakan literasi, minimal dengan membiasakan baca buku selama 15 menit sebelum pembelajaran. Setelah membaca, bisa dilanjutkan dengan menceritakan Kembali apa yang telah dibaca. Bisa juga dengan menuliskannya agar anak-anak juga belajar menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Semoga dengan demikian, anak-anak akan lebih suka membaca, yang kemudian diharapkan, mampu menulis dan berkarya juga seperti DeLiang.