Wednesday, September 14, 2016

Inner Child

Bismillaah

Inner child. Kata ini saya dengar pertama kali dari Ibu Elly Risman, Psi. Menurut beliau inner child adalah sifat kekanak-kanakan yang terdapat pada seorang dewasa. Orang yang dilihat dari segi usia, postur tubuh, dan pola pikir sudah dewasa, ternyata dalam dirinya pasti ada inner child- nya. Mengapa? Sudah sunnatullah, sepertinya. Hukum alam.

Dulu, waktu remaja, saya sering melihat iklan di tivi yang mencerminkan inner child ini. Dalam iklan itu diperlihatkan beberapa tokoh dunia yang begitu menikmati permainan mereka, yang seperti anak kecil. Ada yang begitu gembira ketika bermain layang-layang, ada yang terlihat ceria saabermain ayunan, dan yang lainnya. Itu mungkin merupakan salah satu sisi positif inner child.

Namun, tak bisa dipungkiri bahwa inner child kadang tak layak ditampakkan ketika orang dewasa itu berhadapan dengan anak-anak, apalagi anaknya sendiri. Terutama saat emosi negatif sedang menguasai. Orang tua yang sedang marah kepada anaknya, seringkali tidak sadar telah menggunakan inner child- nya, sehingga hilang kontrol dan kedewasaannya. Berubah menjadi anak kecil, sehingga tak ada bedanya dengan anak yang sedang dimarahinya. Padahal dari segi usia, postur tubuh, dan pola pikir, jauh berbeda dengan anaknya.

Sifat kekanak-kanakan yang muncul saat marah, akan menghilangkan kecerdasan logika dan akal jernih seorang yang sudah dewasa. Menurut Ibu Elly, seharusnya ketika kita ingin menegur anak yang berbuat salah, kita singkirkan dulu inner child itu jauh-jauh. Kalau beliau menyarankan untuk membuangnya di suatu tempat khusus, sarung atau  black box, misalnya. Dengan gerakan tertentu, seperti seseorang yang mengusap dan  membuang keringat dari wajahnya. Gerakan itu hanya simbol saja. Karena kita tahu, sifat atau watak seseorang adalah abstrak, tak bisa dipegang apalagi dibuang.   

Setelah inner child tersimpan rapat dalam wadah yang aman, barulah kita, in sya Allah, bisa berkomunikasi dengan buah hati, dengan cara yang lebih baik dan lebih dewasa, tentunya. Bukan dengan emosi yang maaf, membabi buta, sehingga pesan yang ingin disampaikan tidak tercapai.

Tetapi, hal ini tidak mudah untuk dilakukan, memang. Perlu proses dan perjuangan yang tak kenal lelah. Demi menjadi orang tua yang amanah, karena telah dititipi buah hati oleh Allah, kita memang harus bekerja keras. Demi menciptakan generasi Rabbani yang berakhlak karimah, tentu sebagai orang tua, harus mampu mengaplikasikannya terlebih dahulu, sebelum menuntut anak kita untuk melakukannya.

Ya Allah bimbinglah kami agar bisa menjadi orang tua sholih/sholihah, yang mampu membimbing anak-anak kami menjadi sholih/sholihah pula. Aamiin ya robbal'alamiin.

#edisimengingatkandirisendiri
#menjadiorangtuaamanah

Sunday, September 11, 2016

Ucapan adalah Doa

Bismillaah

"Mba, tolong jahitin, ya," pintaku pada seorang teman yang pandai menjahit baju gamis.

"Buru-buru, nggak Mi? Soalnya lagi banyak lemburan," jawabnya.

"Nggak, nyantai aja. Sampai setahun juga nggak pa-pa," jawabku setengah bercanda.

Iya, bercanda dan sekadar basa-basi. Namun, ternyata ucapan itu benar-benar terjadi, bahkan melebihi yang aku candakan. Ya, sudah hampir 5 tahun, iya, lima tahun sejak percakapan itu, bajuku tak ada kabarnya. Entah memang belum jadi, atau teman itu lupa. Wallahu a'lam. Yang jelas, ucapanku betul-betul menjadi kenyataan, padahal hanya bermaksud untuk bercanda.

***

Sebagai makhluk sosial, pasti banyak hal yang harus dan perlu diucapkan untuk mengungkapkan keinginan dan kebutuhan kita. Untuk berkomunikasi dengan orang lain di sekitar kita, ucapan juga sangat diperlukan.

Dalam Islam, bertutur kata pun ada aturannya. Ucapan atau tutur kata bagaimana yang dicontohkan Rasulullah?
Menurut beliau shalallahu alaihi wasallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

" Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari)

Jelas sekali, bukan? Berkata yang baik atau diam. Kalau tidak bisa berucap yang baik dan bermutu, lebih baik kita tutup mulut saja. Karena risikonya berat, kalau ucapan kita tidak baik. Contohnya seperti pengalaman pribadiku itu. Tutur kata yang tidak dianggap serius, ternyata dicatat dan dikabulkan oleh Allah.

So, marilah kita berkata yang baik dan bermutu. Terutama kepada anak-anak. Orang tua sering merasa kesal dengan perilaku mereka, sehingga secara tidak sadar memberikan julukan yang tidak pantas. "Anak bodoh",  "anak bandel", "anak malas", dan lain-lain. Ucapan yang muncul karena emosi yang tidak terkendali itu, bisa menjadi kenyataan. Oleh karena itu, ketika marah, tetaplah berkata yang baik karena itu akan menjadi doa kita. Ganti saja umpatan itu dengan kalimat yang bermakna positif seperti "anak hebat", "anak rajin", "anak sholih", "anak baik", dan ungkapan lainnya yang menjadi harapan kita.

Tuesday, September 6, 2016

Bunga

Bismillaah

Pagi tadi, saya mengantikan rekan guru yang tidak masuk. Ketika diberitahu oleh Wakasek Kurikulum bahwa saya harus mengajar di kelas1, "Wow! Apakah saya bisa?" responku agak kaget.

Mengajar di kelas satu adalah 'sesuatu'. Modal utamanya adalah kesabaran dan ketekunan. Saya merasa kurang dalam kedua hal tersebut. Makanya hati sempat ragu, mampukah saya? Tapi, karena ini tugas, saya harus berusaha sekuat tenaga. Bismillaah

Setelah mendapat penjelasan tentang apa yang harus diajarkan hari ini, saya pun melangkah ke kelas tempat bertugas. Terlihat beberapa anak sedang bermain, dan sisanya sedang duduk melingkar di atas tikar plastik, menikmati makanan ringan mereka.

Saya pun bergabung dengan mereka yang duduk di lantai. Berusaha mengadakan pendekatan dan memancing perhatian mereka. Setelah tiba waktunya belajar, saya mengajak mereka duduk melingkar di lantai. Mulailah pelajaran hari ini tentang Birrul Walidain. Setelah menjelaskan materi, tibalah saat mengerjakan tugas. Ada tiga pekerjaan yang harus dilakukan. Pekerjaan pertama adalah bermain flash card. Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Semua siswa bisa berpartisipasi aktif. Aman.

Pekerjaan kedua adalah menempel kalimat-kalimat tentang birrul walidain dan durhaka kepada orang tua. Tugas siswa menggunting kalimat-kalimat tersebut, kemudian menempelkannya di kertas sesuai kolomnya. Di sinilah awal petualangan hari ini. Seorang siswi, sebut saja namanya Bunga, ingin dibantu oleh saya, bu gurunya.

"Bu guru, bantuin," rengeknya.

"Iya, bu guru bantu mengunting, ya," jawab saya sambil membantu siswa lain membaca kalimat-kalimat, karena sebagian besar memang belum lancar membaca. Terbayang, kan, betapa repotnya. Setiap anak minta di perhatikan dan dibantu.

"Aku udah gunting ini, bu guru yang nempel, ya?" pintanya dengan manja.

"Bunga yang menempel, dong. Kan, bu guru sudah mengguntingkan."

"Nggak mau!" serunya sambil beranjak pergi.

Karena masih banyak siswa yang memerlukan bantuan, saya abaikan saja kepergian Bunga. Sampai beberapa saat kemudian, ternyata dia tidak muncul juga, akhirnya saya keluar mencarinya. Dengan bujuk rayu, Bunga mau masuk kelas. Namun tidak mau menuntaskan pekerjaannya. Dia malah menganggu teman-temannya yang sedang fokus bekerja.

Semakin ditegur dan dinasihati, Bunga bukannya tenang, malah semakin 'menjadi'. Hiasan dinding dirobek, teman yang sedang duduk manis dipukul, paku  push pin dia ambil dan digunakan untuk menakut-nakuti temannya, barang-barang di loker dilempar-lempar, kerudung saya pun ditarik-tarik, dan tangan saya habis dicubitinya. Astaghfirullah. Bunga ...

Hati saya sempat kesal dan ingin marah. Dengan sekuat tenaga, saya tahan, meski kesabaran sepertinya hendak pergi dari diri ini. Melihat kekacauan itu, guru yang mengajar di kelompok sebelah berusaha ikut membantu menenangkan Bunga. Tapi juga tidak berhasil. Saat itulah beliau bercerita bahwa Bunga bersikap seperti itu karena memang kurang kasih sayang. Dia yatim piatu. Ya Allah...

Mendengar itu, mata saya langsung basah. Sekuat tenaga saya tahan agar tidak mengalir. Saya jadi ingat diri sendiri yang juga yatim piatu di usia SD, ingat adik yang waktu itu baru TK. Sayalah yang sering momong adik setelah bapak ibu tiada. Ini? Di sini? Bunga yang baru kelas satu SD, sudah yatim piatu? Ya Allah...

Hilang sudah kemarahan yang tadi sempat hinggap di dada, berubah menjadi iba. Saya dekati Bunga yang masih penuh amarah. Dengan lembut, saya elus-elus kepalanya.

"Bunga mau digendong bu guru?" entah mengapa tiba-tiba ingin sekali menggendong dan memeluknya. Tapi dia menggeleng.

"Bunga mau disuapi bu guru?" Menggeleng juga.

"Bunga mau makan sendiri?" Mengangguk! Alhamdulillah, langsung saja saya bimbing dia untuk duduk di kursi menyusul teman-temannya yang sudah makan lebih dulu. Dia mulai mengambil nadi, sayur, dan lauk. Karena khawatir anak-anak memerlukan bantuan, dan juga karena sudah hilang rasa lapar, saya hanya duduk sambil mengawasi para siswa.

"Bu guru nggak makan? Makan aja," kata Bunga membuat saya tak bisa menolaknya. Setelah itu, semua berjalan dengan lancar hingga mereka pulang. Alhamdulillah.
Tugas berat telah terselesaikan, meski dengan penuh perjuangan.

Bunga, semoga Allah selalu menjagamu dan menyayangimu, Nak. Maafkan bu guru belum bisa memberikan yang terbaik untukmu.

Monday, September 5, 2016

Syukurku

Bismillaah

Tiga tahun kurang empat puluh dua hari sudah aku mengajar di sini. Di sekolah yang luar biasa.

Pertama masuk ke sini, diri ini merasa minder dan sempat terlintas dalam pikiran, pantaskah aku?
Namun atas izin Allah aku bisa bertahan di sini hingga detik ini.

Saat ini, suasana dengan beberapa rekan kerja agak kurang harmonis. Hal ini berpengaruh pula dengan diriku. Rasa tak nyaman mulai mengusik ketenangan dalam mengajar dan belajar. Ingin rasanya meninggalkan tempat ini dan mencari pekerjaan di sekolah lain.

Beberapa teman dekat berusaha menghibur dan menahanku agar tetap di sini, karena bukan aku yang bersalah. Dan, sampai detik ini pun, kucoba untuk mengiyakan mereka. Meski kadang sedih dan sunyi merayapi hatiku.

Tapi memang aku harus tetap di sini. Karena sudah begitu banyak nikmat yang Allah berikan selama mengajar di sini. Di sini, tidak hanya gaji yang lebih dari cukup yang kurasakan, namun juga ilmu yang sangat luar biasa banyak dan bermanfaat. Tidak hanya ilmu dunia,  juga ilmu akhirat. Di sini, aku bisa belajar bahasa Arab dan tahsin tanpa keluar biaya sepeser pun. Di sini aku pun bisa semakin mengerti bagaimana menjadi guru yang baik dan profesional. Di sini pula aku bisa melaksanakan shalat dengan tepat waktu, berpuasa tanpa kepanasan dan kehausan karena semua kelas mempunyai alat pendingin ruangan.

Masyaallah, begitu banyak nikmat-Mu padaku ya Allah. Ampuni hamba belum pandai mensyukuri semua ini. Tolonglah hamba agar semakin taat kepada-Mu, semakin bersemangat dalam beribadah kepada-Mu.

#Selalu bersyukur
#Selalu bersabar
#Selalu tawakal 'alallah

Tuesday, August 23, 2016

Mengenali dan Mengatasi Kecanduan Anak pada Internet, Pornografi, dan Games online






Sumber: tommysyatriadi.blogspot.com





MENGENALI DAN MENGATASI KECANDUAN ANAK PADA INTERNET, PORNOGRAFI, DAN GAMES ONLINE


Pada hari Sabtu, 13 Agustus 2016 bertempat di Hotel Sahid, Lippo Cikarang, saya berkesempatan untuk menimba ilmu kepada Ibu Elly Risman, Psi. Seminar yang juga dihadiri oleh Bupati Bekasi, Ibu dr. Hj. Neneng Hassanah Yasin ini, berlangsung selama 4-5 jam dan dibagi ke dalam 3 session. Session pertama tentang Kekeliruan dalam Berkomunikasi, kedua tentang Pornografi, dan yang ketiga tentang Cara Mengatasi Anak yang Kecanduan Pronografi.


I.                Kekeliruan dalam Berkomunikasi

Secara garis besar, anak yang kecanduan pornografi berawal dari kurang harmonisnya hubungan anak dengan orang tuanya. Keharmonisan itu berkaitan dengan cara orang tua dalam berkomunikasi. Tanpa disadari, orang tua telah melakukan kesalahan dalam berkomunikasi sehari-hari. Kekeliruan itu adalah sebagai berikut:

1.      Berbicara secara tergesa-gesa
2.      Tidak mengenal diri sendiri dan anaknya
3.      Lupa bahwa setiap individu/anak adalah unik
4.      Kebutuhan dan kemauan anak berbeda dengan orang tua
Anak lebih suka bermain, sedangkan orang tua menginginkan agar anaknya belajar terus
5.      Tidak bisa membaca bahasa tubuh
6.      Tidak mendengarkan/memahami perasaaan
7.      Kurang mendengarkan secara aktif apa yang disampaikan anak
8.      Bicara dengan menggunakan 12 gaya populer, yaitu:
1)      Memerintah
2)      Menyalahkan
3)      Meremehkan
4)      Membandingkan
5)      Mencap/melabeli
6)      Mengancam
7)      Menasihati
-          Jangan menasihati ketika emosi sedang bermasalah, misalnya sedang sedih, kecewa, atau marah, karena tidak akan efektif
8)      Membohongi
9)      Menghibur, misalnya ketika anak jatuh, orang tua langsung berusaha menghibur dengan memberikan permen
10)  Mengkritik
11)  Menyindir
12)  Menganalisa


Kekeliruan dalam berkomunikasi itu bisa berakibat:
1.      Melemahkan konsep diri anak
2.      Anak menjadi diam atau melawan, menentang, tidak peduli, atau sulit diajak kerja sama
3.      Muncul berbagai emosi yang negatif
- -   Tidak bisa Berfikir Memilih dan Memutuskan (BMM) sendiri


II.                Pornografi

Secara sederhana, pornografi bisa diartikan dengan ketelanjangan. Sebagai umat Islam, kita sudah diperintahkan Allah untuk tidak melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat, seperti pornografi, dengan cara menundukkan pandangan. Perintah ini tercantum dalam Al Quran Surat An-Nur ayat 29-30. Secara agama, melihat pornografi adalah dilarang. Dilihat dari kacamata kesehatan, pornografi juga bisa merusak fisik dan mental kita. Oleh karena itu, kita harus bisa menghindarkan diri kita dan keluarga kita dari bahaya pornografi. 


Di sisi lain, pronografi sudah menjadi ladang bisnis yang sangat menguntungkan. Orang yang berkecimpung di dalamnya bisa meraup uang dalam jumlah besar, dalam waktu singkat. Tidak heran bila pornografi bisa ditemukan di mana-mana. Area yang rawan pornografi adalah situs internet dan HP, komik, games, film TV maupun bioskop, serta video clip. 


Selain karena bisnis pornografi ini sangat menguntungkan, ternyata mereka juga mempunyai maksud untuk merusak generasi muda kita. Apa tujuan mereka?
1.      Agar anak dan remaja kita mempunyai perpustakaan porno dalam otak mereka; mental model porno yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja
2.      Agar anak dan remaja kita mengalami kerusakan otak permanen (visual crack cocain/erototoksin), sehingga menimbulkan INCEST(melakukan seks dengan anggota keluarga sendiri). Kerusakan otak yang diakibatkan oleh kecanduan pornografi lebih parah daripada kerusakan yang diakibatkan oleh kecanduan narkoba. Padahal otak tersebut, terutama frontal cortex (otak bagian depan) berfungsi sebagai pemikir dan perencana.
 Sumber: Ibu Elly Risman, Psi.


3.      Sasaran tembak utama adalah agar anak kita menjadi pecandu pornografi seumur hidup. Dengan kata lain, menjadi pelanggan seumur hidup atau FUTURE MARKET.


Siapa sasaran bisnis ini? Siapa lagi kalau bukan anak-anak? Terutama anak laki-laki. Mengapa anak laki-laki? Karena mereka dominan dalam menggunakan otak kiri sehingga mudah fokus, hormon seksnya lebih banyak, dan alat kelaminnya di luar. Sasaran kedua adalah anak-anak yang belum baligh, kemudian mereka yang 3S (smart, sensitive, spiritual), dan BLAST (bored, lonely, angry/afraid, stress, tired). Pengaruh negatif mereka yang mengalami BLAST yaitu merokok, miras, narkoba, pornografi, oral sex, masturbasi, LGBT, dan seks bebas.



 Sumber: Ibu Elly Risman, Psi.


Ciri-ciri anak yang telah kecanduan pornografi:
1.      Mengurung diri dan menghabiskan waktu dengan games dan internet di dalam kamar
2.      Bila ditegur dan dibatasi dalam bermain gadget, akan marah, melawan, berkata kasar, dan keji
3.      Mulai impulsif, berbohong, jorok, dan mencuri
4.      Sulit berkonsentrasi
5.      Prestasi akademis menurun
6.      Jika bicara menghindari kontak mata
7.      Menyalahkan orang lain
8.      Bermain hanya dengan kelompok tertentu
9.      Hilang empati, apa yang diminta harus dipenuhi/diperoleh

III.             Cara Mengatasi Anak yang Kecanduan Pronografi
Di negara kita tercinta ini, belum ada tempat rehabilitasi atau terapis resmi dari pemerintah untuk menangani anak-anak yang kecanduan pornografi. Selain berkonsultasi kepada psikiater atau psikolog, akan lebih baik bila orang tua menjadi terapis untuk anaknya yang kecanduan. 


Langkah-langkah menjadi terapis untuk anak sendiri:
1.      1. Tenang
2.      2. Jangan panik
3.      3. Bermusyawarah (QS. Ali Imran: 159)
4.      4. Anak adalah amanah Allah yang bisa menjadi permata hati, ujian, atau musuh bagi orang tua (QS.   Al Maidah: 48, Al An’am: 165, dan At Taghabun:14)
5.     5. Takut kepada Allah jika meninggalkan keturunan yang dlaif
6.      6. Terima, maafkan, jangan marah, mohonkan ampunan Allah (QS. At Taghabun: 14), perbaiki
7.              komunikasi: turunkan frekuensi saat bicara, baca bahasa tubuh, dengarkan perasaan, bicara   dengan benar, baik, dan menyenangkan
8.      7. Kembalikan peran ayah
   Kurang berfungsinya peran ayah akan menimbulkan:
a.       Bagi anak laki-laki: nakal, agresif, sex bebas, narkoba
Bagi anak perempuan: depresi, sex bebas
b.      Gizi tidak seimbang


Langkah-langkah membantu anak:
1.      Syukur; dengan menempatkan masalah secara benar
2.      Sabar, karena yang dihadapi adalah kerusakan otak
3.      Sholat; mendekat dan meminta pertolongan Allah
4.      Shadaqah
5.      Baca al Quran (kitab suci bagi yang non muslim)
6.      Berbaik dengan diri sendiri
7.      Bantu anak telebih dulu


Pertanyaan yang diajukan saat ingin mengetahui apakah anak kecanduan pornografi atau tidak adalah:
1.      Kapan pertama kali melihat pornografi?
2.      Bagaimana caranya?
3.      Apa yang kamu rasakan?
4.      Apa yang kamu lakukan setelah melihat itu?
5.      Berapa lama kemudian kamu melihatnya lagi?
6.      Kapan terakhir kalinya?
7.      Sekarang apa yang kamu rasakan?
8.      Apakah kamu merasa perlu bantuan ayah/ibu?


Demikianlah hasil seminar yang bisa saya rekam, mohon maaf bila ada yang kurang jelas atau tidak lengkap. Apabila ada pembaca yang mau melengkapi, saya menerima dengan senang hati. Terima kasih sudah membaca. Mari kita lawan pornografi!

Wednesday, August 17, 2016

Foto


Bismillaah
Namanya Dini, bukan nama sebenarnya. Seorang siswi kelas 6 SD. Berjilbab, santun, tidak banyak bicara apalagi banyak tingkah seperti teman-temannya. Untuk ukuran anak SD, Dini terlihat lebih dewasa. Saat ini sedang menghafal Al Qur'an juz 28. Juz 30 dan 29 in sya Allah sudah ia kuasai dengan baik.
Tak biasanya, pagi itu wajahnya sendu. Matanya terlihat bengkak, seperti habis menangis. Kepalanya selalu tertunduk, seolah malu bila dilihat orang. Ada apa, Nak?
"Aku malu, Bu. Masa Si Rio edit fotoku, terus dipasang deket foto dia. Di tengahnya ada gambar 'love', Bu. Terus, ada kata-kata 'Gue dan lu adalah kita'. Aku malu, bu. Nanti kalau semua guru tahu, gimana? Nanti kalau ada yang bilang, "Masa anak ustadz, begitu?" Gimana, Bu?" ceritanya mengalir diiringi tetesan air matanya yang tak henti mengalir juga.
"Memangnya, Rio dapat foto kamu dari mana? Apa kamu pernah kirim foto ke dia", tanyaku berusaha menyelidiki.
"Nggak pernah Bu, demi Allah. Katanya dia dapat foto itu waktu kegiatan  camping dari grup WA orang tua. Padahal, itu fotonya juga bareng-bareng, aku nggak sendirian," jelasnya tetap sambil menangis.
Terlihat, betapa malunya Dini. Dia merasa harga dirinya telah dicoreng oleh temannya sendiri. Padahal, kalau dilihat foto hasil pengeditan itu tidak 'parah'. Tapi ternyata buat Dini, itu masalah besar karena menyangkut nama baik dirinya dan orang tuanya.
Dari kasus ini kita belajar, betapa luar biasa dampak yang bisa ditimbulkan dari perbuatan kita meng-upload foto ke dunia maya. Mungkin maksud kita hanya ingin berbagi kebahagiaan, atau sekadar memberitahukan kegiatan kita kepada teman-teman. Walaupun, ada juga yang memang ingin 'pamer'. Ini lho, saya sudah pernah ke Makkah, ke Dubai, ke London, dan lain-lain. Na'udzubillaahi min dzalik.
Namun, dunia maya adalah dunia yang tak kalah jahat, atau lebih ekstrimnya, tak kalah kejam dibandingkan dunia fana yang sebenarnya ini. Di sana ada kawan, namun juga ada lawan. Ada sahabat, tapi juga ada penjahat. So, kita pun harus lebih berhati-hati dalam bertindak dan berperilaku.
Foto, sejak zaman belum ada Internet, bisa digunakan untuk kebaikan maupun keburukan. Dengan foto kita bisa mengenal orang yang jauh, bahkan yang sudah meninggal. Dengannya pula kita bisa bernostalgia dengan masa-masa indah yang pernah kita alami, kebersamaan dengan orang-orang yang sekarang mungkin sudah saling menjauh karena tempat dan kesibukan.
Namun, foto pun bisa menjadi alat kejahatan bila berada di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Foto bisa menjadi alat seseorang untuk berbuat jahat kepada orang lain, misalnya sihir. Bayangkan, seseorang bisa terkena sihir hanya melalui sebuah foto.
Luar biasa bahaya foto. So, jangan biarkan foto kita diekspose dan dinikmati oleh orang lain dengan mudah. Teknologi sudah demikian canggihnya, sehingga bisa memungkinkan segala sesuatu untuk terjadi. Apalagi kalau Allah sudah berkehendak. "Kun!" Fa yakun.

Thursday, June 23, 2016

Ramadanku

Bismillaah

Alhamdulillah wa syukurillah, Allah masih memberi kesempatan kepadaku untuk bertemu dengan bulan Ramadan tahun ini. Ramadan yang sejuk karena hujan sering menghampiri, menyirami hari-hari panas terasa adem. Sungguh nikmat Allah yang sangat luar biasa. Meskipun di belahan bumi lain, sebagian saudara kita mendapatkan ujian dari Allah berupa bencana banjir maupun tanah longsor. Semoga Allah berikan kekuatan, kesabaran, dan pertolongan untuk mereka. Aamiin ya robbal'alamiin.

Ramadanku selalu terasa berbeda dari tahun ke tahun. Namun semua terasa nikmat dan berkesan meski situasi dan kondisinya tak sama.

Tahun ini, Ramadanku terasa lebih istimewa. Mengapa?
Pertama, karena liburan lebih cepat datang dan lebih panjang dari tahun kemarin, jadi waktu untuk memperbanyak ibadah seharusnya menjadi lebih banyak pula. Tapi, hingga di hari ke-18 ini, targetku belum tercapai. Sedih rasanya.
"Apa saja yang kau lakukan, Nin?"
Entahlah. Sepertinya kebanyakan tidur. Hadeuh ....

Kedua, di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, Allah menggerakkan kakiku untuk bisa melangkah ke masjid melaksanakan sholat Isya dan sholat Tarawih berjamaah, bersama anak-anak. Bahagia rasanya, bisa sholat 23 rakaat bersama imam yang hafidz Quran tanpa terasa capai.

Ketiga, dengan sholat di masjid, ternyata banyak hal yang bisa kulihat dan kurasa, juga kulakukan. Kalau di rumah, paling-paling hanya anak-anak yang sedikit mengganggu kekhusyukan. Itu pun akan tidak berlangsung lama. Dengan sedikit teguran, mereka akan sholat dengan tertib lagi. Khusyu pun terjaga kembali. Tapi di masjid? Tak semudah itu, kawan. Banyak hal yang mengusik kekhusyukan, walaupun sudah kucoba untuk mengabaikannya.

Dari baru masuk masjid, ada saja beberapa gadis remaja yang masih berbincang-bincang, padahal sholat Isya sudah dimulai. Ada juga yang malah asyik dengan gadget-nya. Astaghfirullah. Di kali lain, mereka sudah terlambat sholat, tapi masih cekikikan. Begitu sholat, mereka sholat sendiri dan mengejar rokaat yang tertinggal, baru mengikuti gerakan imam. Ya Allah ... sebegitu minimnyakah pengetahuan mereka tentang sholat berjamaah? Padahal mereka sudah baligh, dan belajar di sekolah Islam? PR berat untuk para dai, ini.

Tidak hanya itu. Begitu berdiri dalam shaf, seperti terjadi di kebanyakan masjid, jamaah perempuan khususnya, berdiri berdasarkan sajadah yang mereka gunakan sebagai alas. Alhasil, jarak antara satu jamaah dengan jamaah yang lain bisa sekitar setengah meter. Renggang sekali. Kadang antara satu sajadah dengan sajadah yang lain pun tidak rapat. Semakin jauhlah jarak terbentang.

Bagaimana dengan anak-anak? Sama juga seperti di masjid lain, di sini pun anak-anak bebas berekspresi. Begitu sholat Isya sempurna dilaksanakan, anak-anak pun bertebaran seperti kupu-kupu yang baru keluar dari peraduannya. Ada yang berlari kian kemari, ada yang berloncatan dari anak tangga, ada yang sekadar bercanda atau bermain gadget, namun ada juga yang tetap tertib mengikuti sholat Tarawih. Itulah anak-anak, dunia adalah bermain dan bermain.

Luar biasa! Hikmah apa yang kudapat?

Dulu, aku pernah mendengar ceramah ustadz yang mengatakan, berdakwah di masjid itu lebih mudah karena orang-orang yang mau ke masjid, pasti hatinya lebih siap untuk menerima. Dan mereka lebih mudah berubah. Betulkah?

Ternyata tak semudah itu. Yang ku alami, lisan ini tak boleh malas apalagi berhenti mengingatkan setiap hari, bahkan setiap kesempatan. Karena memang banyak saudara kita yang belum paham dan belum mengenal Islam dengan baik, meskipun mereka suka ke masjid. Dan, tidak semua suka diingatkan. Kadang, mereka malah pergi menghindar setelah ditegur. Maka, kesempatan untuk berdakwah pun berkurang. Salah ucap, justru membuat orang antipati dengan kita. Susah - susah gampang. Tapi kita harus dan terus berdakwah meski hanya dengan satu ayat. Meski harus mendapat tatapan sinis. Meski akan dijauhi.

Ya Allah mudahkanlah kami dalam memahami dan menjalankan syariat-Mu, dan dalam mengajak saudara-saudara kami kepada kebaikan. Aamiin ya robbal'alamiin.